Udara malam Milan seharusnya berbau aroma bunga magnolia dan espresso pekat, bukan campuran parfum mahal dan asap rokok yang mencekik. Namun, bau itulah yang menghampiri indera penciuman seorang gadis polos bernama Malika.
“Huh!” Malika menghela nafas sembari duduk di kursi belakang mobil sewaan milik pamannya.
Sementara gaun merah yang ia kenakan, terasa seperti belenggu di sekujur tubuhnya.
Bagaimana tidak, gaun itu hampir memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya.
Wajah yang biasanya polos tanpa make up dan sederhana kini dihiasi riasan tebal, mempertegas tulang pipi dan membuat matanya tampak jauh lebih besar dan menggoda.
Malika tahu, penampilan ini disiapkan untuk satu tujuan, menjualnya.
Di bangku supir, sang paman yang tersenyum lebar membayangkan berapa banyak uang yang akan dia terima malam ini.
“Kau lihat, Malika? Kau terlihat seperti seorang putri!” seru Jhon, menoleh ke belakan sekilas.
Malika menarik napas panjang dan berusaha mengendalikan air matanya agar tidak merusak eyeliner di kelopak matanya.
“Paman, Lika mohon batalkan saja,” bisik Malika dengan suara tercekat, lalu meraih lengan Jhon dengan tangan yang gemetar. “Lika mau bekerja apa saja. Mencuci piring, membersihkan rumah. Lika juga akan cari uang tambahan dan mengembalikan semua hutang Paman. Tapi jangan yang satu ini.”
Jhon menarik lengannya dengan kasar, membuat Malika tersentak dan kembali ke sandaran kursi. Senyum di wajahnya lenyap, digantikan kerutan kesal yang tajam.
“Cukup, Malika! Jangan egois!” bentak Jhon. “Ini bukan soal utang kecil. Ini tentang kebebasan Paman! Pria yang menunggumu di sana namanya tuan Angelo. Dia adalah kunci untuk menyelesaikan masalah kita semua.”
Nama itu terasa seperti lumpur menjijikkan di pendengaran Malika. Ia tahu persis siapa Tuan Angelo. Gadis itu pernah bertemu dengannya sekali saat datang ke rumahnya untuk menagih hutang.
“Dia jahat Paman,” ucap Malika lirih. Air mata pertamanya jatuh, meninggalkan jejak di bedak mahal di pipinya.
“Tapi dia yang memegang nasib kita!” Jhon mendesis kesal.
“Paman, Lika tidak–”
“Hentikan tangisan bodoh itu. Kau disana hanya untuk satu malam. Satu malam yang akan membuat Paman jadi kaya! Kau hanya perlu bersikap baik. Tersenyum. Lakukan apa yang dia perintahkan. Kau harus membuat dia terkesan. Kau harus membuat pelanggan tuan Angelo nanti tergila-gila padamu.”
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan megah. Tempat paling elit dan tersembunyi di distrik Milan, di mana orang-orang kaya bersembunyi untuk melakukan bisnis gelap.
Seorang pria besar berjas hitam membuka pintu mobil untuk Malika.
“Ingat kata Paman,” ucap Jhon dengan berbisik sembari memegang dagu Malika dengan jari-jari yang kasar. Memaksan gadis itu agar menatapnya. “Demi kita. Demi uang itu. Demi hidupmu.”
Malika hanya mengangguk. Ia melangkah keluar dari mobil, menyentuh trotoar yang terasa dingin.
Saat masuk ke dalam, Malika merasa seluruh mata tertuju padanya. Musik house yang menggelegar dari dalam klub terasa seperti denyutan palu di kepala Malika.
Area dansa penuh dengan orang-orang yang berpakaian sangat modis, menari dalam euforia yang tak terkendali. Di balik kemewahan itu, Malika bisa melihat wajah-wajah kosong dan tatapan penuh nafsu.
Jhon menariknya melewati kerumunan, menuju area private di lantai atas yang dijaga ketat.
Di sofa kulit, duduk seorang pria paruh baya yang gemuk dengan wajah penuh keringat, Tuan Angelo. Sementara di sekelilingnya, ada tiga pria lain, semuanya mengenakan jas mahal, dan dua wanita muda yang berusaha keras untul menghiburnya.
“Tuan Angelo, ini keponakanku, Malika,” kata Jhon dengan suara ceria yang dibuat-buat.
Angelo langsung beralih menatap Malika. Bukan tatapan kagum, melainkan sebuah tatapan kepemilikan.
Jantung Malika mencelos. Rasa mual melanda perutnya. Dia merasa seperti sebuah benda, yang dipamerkan di etalase.
“Cantik sekali, Jhon,” desis Angelo, bibirnya yang tebal menyeringai. “Pantas kau bersikeras malam itu. Ternyata gadis ini sangat mempesona.”
Angelo memberi isyarat kepada Jhon untuk duduk, lalu mengulurkan tangan ke arah Malika.
“Kemarilah, gadis manis. Duduk di sampingku,” perintah Angelo dengan nada suara tak terbantahkan.
Malika terdiam. Tubuhnya kaku, kakinya seolah terpaku di tempat. Ia menatap Jhon, mencari sedikit pun pertolongan, namun Jhon hanya memberikan tatapan mengancam yang berarti, duduk atau kau dan Malika akan mati.
“Antar dia. Seseorang sudah menunggunya di sana,” titah Jhon.
Setelah puas memandangi gadis itu, Angelo menyuruh seorang wanita membawa Malika ke lantai atas.
Wanita itu mengangguk. Sebelum benar-benar pergi, Jhon mendekati Malika san membisikkan sesuatu padanya.
“Ingat kata-kata Paman? Jadilah gadis penurut!” peringat Jhon.
“Ya, Lika ingat Paman,” jawab gadis itu bergegas pergi bersama anak buah Angelo.
“Kamar 203?” gumam Alex lirih.
Setelah meminum wine, entah kenapa kepalanya terasa dihantam palu godam.
Alex mengedip pelan, mencoba memastikan kalau dirinya tidak salah lihat.
Tapi angka itu tetap sama. 203.
“Kenapa kepalaku berat sekali,” keluhnya sambil memijit pelipis.
Padahal hanya satu gelas wine yang ia minum saat mengobrol dengan Jimmy. Entah wine jenis apa yang diberikan pada Alex. Efeknya terasa seperti meminum tiga botol wine sekaligus.
Alex bahkan tidak menyadari kapan ia mulai sempoyongan. Yang ia ingat hanyalah suara bisikan Jimmy yang terdengar samar.
“Sialan! Paman Jimmy, awas kau!” makinya pelan seraya melepas dua kancing atas kemejanya. Panas yang menyengat tubuhnya benar-benar tidak masuk akal.
Setelah bersusah payah, Alex akhirnya berhasil membuka pintu kamar. Tidak dikunci, bagus. Ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan keamanan atau protokol.
Begitu melihat ranjang besar di depannya, Alex langsung menjatuhkan tubuhnya tanpa peduli ia masih mengenakan sepatu.
“Benar-benar hari yang panjang dan melelahkan,” gumamnya, sebelum kesadaran mulai hilang.
Akhirnya, mata dengan bola mata biru itu pun terpejam perlahan.
*
*
“203 apa 230, ya? Lika lupa.” Malika bertanya pada dirinya sendiri sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Gadis itu sudah berdiri di depan pintu kamar 203. Tempat dimana ia harus menemui om-om yang memesannya.
Malika terlihat seperti boneka pameran yang dipoles berlebihan. Makeup tebal, dengan lapisan glitter perak di kelopak mata, menutupi wajah aslinya.
“Lika benar-benar mirip badut,” gumamnya lirih sembari mengingat pantulan dirinya di cermin tadi.
Wanita berwajah galak yang tadi menyeretnya kemari sempat berpesan,
“Temani om-om itu sebentar dan jangan berpikir yang aneh-aneh. Hanya duduk dan tersenyum. Dia hanya ingin menghabiskan malam bersamamu. Jangan berbicara, kecuali diajak bicara. Dan yang paling penting, jangan kabur!”
Malika sebenarnya ingin melarikan diri dari sana sejauh mungkin. Tapi di belakangnya, ada dua lelaki bertubuh besar berjaga seperti tembok. Malika tidak punya pilihan selain pasrah.
Saat gadis itu ragu di depan pintu, dua pengawal Alex yang berjaga tak jauh dari sana menghampirinya.
“Nona, apa yang kau lakukan di sini? Kau dilarang masuk!” tegur salah satu pengawal dengan waspada.
“Tapi, Lika disuruh datang kemari karena mm yang ada di kamar itu sudah memesan Lika,” ucap Malika sambil menunjuk pintu.
Kedua pengawal Alexander saling berpandangan. Sejak kapan Tuan Muda mereka doyan dengan perempuan dari klub malam? Alexander Frederick terkenal memiliki selera yang sangat tinggi dan tidak suka keramaian seperti ini.
Namun, saat mereka mengingat betapa mabuknya Alex saat masuk tadi, mereka menduga, mungkin Alex memang butuh pelampiasan yang cepat dan tidak merepotkan untuk melepaskan lelahnya.
“Baiklah kau boleh masuk!” tak mau kena omel karena menghalangi Alex bersenang-senang, mereka mengijinkan Malika masuk.
Malika mendorong pintu yang sedikit terbuka itu, lalu melangkah dengan hati-hati.
“Lho, om-om nya mana?” gumam Malika sambil celingukan.
Tidak ada siapa-siapa di sofa. Tidak ada tanda-tanda pesta atau sesuatu yang ia bayangkan.
Lantas Malika memutuskan untuk mengintip ke kamar tidur utama. Disana, ia melihat seorang pria terbaring dengan posisi terlentang.
Malika mendekat, hingga jarak mereka kini hanya setengah meter. Malika tak menyangka jika pria itu terlihat jauh lebih muda dari yang ada dalam bayangannya selama ini. Dagu tegas, hidung mancung, bibir yang terlihat seksi, juga bekas luka samar di pelipis kirinya.
“Apa dia yang memesan Lika?” tanya Malika sembari menggigit bibirnya.
“Ah sudahlah. Yang penting Lika sudah disini sekarang. Pasti dia sudah membayar paman dengan uang banyak,” gumamnya seraya mengangguk-angguk kecil seolah meyakinkan diri sendiri bahwa misi selesai.
Malika berbalik dan berniat pergi sebelum pria itu bangun. Namun, baru setengah langkah ia berjalan, sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.
“E-eh?!” Malika menjerit kecil.
“Mau kemana kau?” ucap seseorang dengan suara serak.
Malika meneguk ludah lalu menoleh. Pria yang awalnya dia pikir sudah tidur kini membuka mata dan menatapnya dengan tatapan tajam yang seolah sedang mengulitinya hidup-hidup.
“Apa kau tuli? Aku tanya mau kemana!”
“Em.. mau pergi…” jawabnya tergagap.
Alexander menariknya, membuat tubuh gadis itu terseret hingga ke tepi ranjang.
“Apa kau makhluk halusinasi dari wine murahan yang diberikan paman Jimmy?” tanya pria itu sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mencoba mengusir rasa pusing di kepalanya.
Malika membeku. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan pria itu. “M–makhluk halu apa? Aku manusia beneran!”
Alexander mendengus. Ia menunduk untuk menatap wajah gadis itu agar lebih jelas.
“Dandanmu terlalu mencolok dan terlalu banyak glitter. Hanya makhluk halu jadi-jadian yang muncul dengan makeup setebal itu,” ucap Alex.
Mulut Malika menganga lebar. Apa ia tidak salah mendengar? Berani sekali pria ini berani menyebutnya makhluk halu jadi-jadian?
Alexander yang sudah setengah mabuk, tanpa pikir panjang melepaskan kemeja hitam yang sudah basah oleh keringat, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai.
Sebuah lukisan indah sekaligus mengerikan terpampang di dada atletisnya. Tato naga dari bahu hingga tulang rusuk seolah bergerak mengikuti naik-turunnya napas sang mafia muda itu.
Malika yang sejak tadi berdiri kaku, kini benar-benar terpaku. Matanya membelalak dan bibirnya menganga lebar.
“Astaga!” Gadis itu buru-buru memalingkan wajah sambil menutup mata dengan kedua tangan, tetapi gambaran siluet tubuh berotot yang dipahat sempurna itu sudah tercetak di dalam ingatannya.
“Apa itu roti sobek?” batin Malika dengan panik. Ini pertama kalinya Malika melihat tubuh polos seorang pria.
“Kenapa diam saja, makhluk jadi-jadian?!” bentak Alex. Tatapannya berubah tajam. “Apa kau jadi bisu sekarang?”
“Jangan panggil aku makhluk jadi-jadian! Sudah kukatakan, kalau aku ini manusia!” bentak Malika dengan suara gemetar dan wajah memerah hingga ke telinga. “Aku berdandan seperti ini juga karena dipaksa!”
Alex tidak peduli dengan pembelaan gadis itu. Ia merengkuh pinggang Malika dan menariknya mendekat. Hingga jarak wajah mereka tinggal beberapa inci.
“Aku tanya sekali lagi, siapa yang menyuruhmu masuk?” tanya Alex, suaranya berubah dingin. Seperti boss yang menginterogasi bawahan.
“S–seorang wanita berpesan kalau aku harus menemani seseorang di kamar 230,” jawab Malika dengan terbata.
230? Alex memukul kepalanya sendiri. Bukankah ini kamar 203?
“Dia juga bilang, aku hanya perlu duduk dan tersenyum padamu, Om. Tidak lebih,” ujar Malika.
Alex berkedip beberapa kali, mencoba memproses ucapan gadis itu.
“Om?” Ia menatap Malika dengan wajah datar. Bagaimana bisa gadis ini memanggilnya om?
“Iya. Om om.”
“Apa aku terlihat tua bagimu?” tanya Alex.
“T-tidak!” seru Malika. “Hanya, ya, cukup tua untuk dipanggil Om.”
Beberapa detik kemudian, Malika merutuki mulutnya yang tidak bisa disaring.
Alexander mendengus. Harga diri yang jauh lebih mahal dari jet pribadinya, langsung tercabik-cabik. Alex menyapu tubuh Malika dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Nama,” ucapnya dingin.
Malika terdiam.
“Aku bertanya namamu makhluk aneh!” ulang Alex dengan meninggikan suara.
Malika cemberut. Kenapa pria ini selalu memanggilnya begitu?
Jujur sana dandanannya ini memang sangat mencolok. Eyeshadow tebal, lipstik merah menyala, dan dress pendek pinjaman. Tapi bukan berarti dia alien kan?
“Mau jawab atau aku lempar kau ke sungai supaya disantap buaya?” ancam Alex.
“Lucy! Namaku Lucy!” jawab Malika spontan. Ia sengaja tak mengatakan nama aslinya pada pria ini.
“Pekerjaan.”
“E-eh, aku?” Malika menunjuk dirinya sendiri.
“Memangnya ada siapa lagi di sini selain kau?!” Alex mulai terpancing emosi bicara dengan gadis yang terlalu polos tapi nampak bodoh ini.
“Pekerjaanku menyapu, mengepel lantai, cuci piring dan—”
“Cukup!” potong Alex cepat sembari menggelengkan kepalanya. “Aku menanyakan pekerjaanmu di klub ini, bukan sedang menginterogasi tukang kebersihan.”
Malika manyun, hatinya kesal karena lagi-lagi dihina.
“Kau tampak seperti anak ayam yang kehilangan induknya,” lanjut Alex sambil memijat pelipisnya. “Kebohonganmu, sekitar tujuh puluh persen. Sisanya panik dan loading lama!”
“Hah? Memang ada hitungannya segala?”
“Tentu saja ada!” Alex tiba-tiba melepaskan pegangannya di pinggang Malika, lalu duduk di sofa besar dan menepuk pahanya. “Kemari, makhluk jadi-jadian. Duduk di pangkuanku.”
“Tidak mau! Aku mau pulang!”
“Kubilang duduk!” itu adalah kalimat perintah yang dingin dan mutlak itu membuat bulu kuduk Malika berdiri.
Dengan wajah pasrah, Malika duduk di pangkuan Alex. Ia berusaha menjaga jarak sejauh mungkin, seolah ada dinding tak kasatmata di antara mereka. Namun, Alex langsung mencengkeram pinggang rampingnya. Seolah tidak rela gadis itu kabur.
“Paman Jimmy, akan kubuat kau menyesal. Memberi wine murahan pada otak seharga jutaan dolar,” lirih Alex dengan napas naik turun.
“Otak? Benarkah harganya semahal itu?” tanya Malika dengan mata terbuka lebar.
“Dalam beberapa kasus, iya. Bahkan lebih mahal dari harga tubuhmu,” sahut Alex sembari memutar bola mata malas.
Malika menggerutu pelan. Ia merasa diremehkan, tapi terlalu takut untuk membalas.
Tanpa peringatan, Alex menyandarkan kepala pada bahu Malika. Aroma tubuh Malika yang harum bunga wildflower bercampur parfum murahan entah mengapa terasa menenangkan.
“Berat! Awas!” seru Malika dengan wajah panik sembari berusaha mendorong kepala Alex.
“Diamlah sebentar. Kepalaku berputar-putar,” gumamnya lemah.
“A–apa?”
“Kalau kau berani kabur dari sini tanpa izin dariku, aku akan mencarimu. Dan mempermalukanmu di depan semua orang di klub.” Alex mendongak dan menatap tajam Malika.
“Maksudnya?”
“Aku akan membuatmu melepaskan semua pakaianmu dan memaksamu berlari di depan pengunjung pria.” seringai tipis terukir dari sudut bibir Alex.
Malika langsung diam. Sorot mata tajam berwarna biru itu benar-benar membuat Malika seperti tersihir, lumpuh tak berkutik.
“Baiklah, aku akan duduk diam dan tidak ke mana-mana,” ucap Malika akhirnya. Jauh dalam hatinya, ia terus mengumpat sikap pria pemaksa ini.
“Bagus.” Alex kembali memejamkan mata. “Sampai aku bangun, tetap di sini.”
Aroma Malika membuat Alex merasa sedikit tenang. Ia merasa lebih nyaman berpegangan pada gadis asing yang mencolok ini, daripada bersama tunangannya sendiri.
Dan dalam hitungan detik, terdengar suara dengkuran halus. Alex tertertidur.
“Lika harus kabur sekarang.” Malika perlahan menggeser lengan Alex yang mencengkeram pinggangnya.
Sulit, tetapi setelah berjuang beberapa detik, ia berhasil berdiri. Malika berjalan mengendap-endap menuju pintu.
Sebelum ia sempat memegang gagang pintu, tarikan yang cukup kuat menyeretnya kembali. Alex, yang masih setengah sadar, menahan pinggangnya dan menjatuhkan Malika ke atas ranjang.
Gadis itu terjatuh dengan posisi membelakanginya. Punggungnya terpampang jelas, gaun tipisnya tersingkap sedikit ke atas.
Tatapan Alex mengeras ketika melihat sebuah tanda hitam kecil di punggung kiri Malika. Bentuknya seperti kupu-kupu kecil yang sangat indah dan membuat Alex terpaku untuk sesaat.
“Tunggu?” Alex mendekat, meneliti tanda itu. “Apa ini? Jelek sekali.”
Bugh!
“Argh!” Alexander langsung berguling sambil memegang aset berharganya yang baru saja ditendang telak oleh Malika.
Malika beranjak dari sana, jantungnya hampir meloncat keluar, lalu lari sekencang mungkin tanpa menoleh.
Nafasnya tersengal, tapi adrenalin membuat kakinya bergerak lebih cepat dari logika.
“Lari Lika, lari!!!” seru gadis itu pada dirinya sendiri, meninggalkan Alexander yang kini meringis kesakitan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!