Langit Kota Jiangnan menangis malam itu. Hujan deras mengguyur tanpa henti, memukul-mukul kaca jendela bangsal rumah sakit nomor 404 dengan irama yang menyedihkan. Kilat sesekali menyambar, menerangi ruangan sempit yang berbau tajam disinfektan dan kematian.
Di atas ranjang besi yang dingin, seorang pemuda terbaring tak berdaya.
Namanya Shi Hao. Usianya baru menginjak tiga puluh tahun, usia di mana seorang pria seharusnya berada di puncak vitalitas dan ambisinya. Namun, sosok yang terbaring di sana lebih mirip mayat hidup. Tubuhnya hanya tinggal kulit pembalut tulang, wajahnya pucat pasi tanpa sepercik darah pun, dan matanya cekung dalam, kehilangan cahaya kehidupan.
Kanker darah stadium akhir.
Itulah vonis yang dijatuhkan dokter enam bulan lalu. Vonis yang menghancurkan sisa-sisa harapan dalam hidupnya yang sudah berantakan.
"Uhuk... uhuk..."
Shi Hao terbatuk pelan, setiap tarikan napas terasa seperti ada pecahan kaca yang menggesek paru-parunya. Ia menoleh perlahan, menatap nanar ke arah meja di samping tempat tidur.
Kosong. Tidak ada buket bunga, tidak ada keranjang buah, tidak ada kartu ucapan.
Seumur hidupnya, Shi Hao merasa ia telah melakukan segalanya dengan benar. Ia belajar dengan giat, bekerja lembur tanpa mengeluh, dan memperlakukan orang lain dengan tulus. Namun, apa yang ia dapatkan?
Rekan bisnis yang ia percaya sepenuh hati melarikan uang perusahaan dan menjadikannya kambing hitam utang piutang. Kekasih yang ia cintai selama lima tahun meninggalkannya begitu tahu ia jatuh miskin dan sakit-sakitan, memilih pergi bersama pria kaya yang lebih tua.
"Dunia ini... benar-benar tidak adil," bisik Shi Hao, suaranya parau dan lemah, nyaris tertelan suara hujan.
Air mata penyesalan menetes dari sudut matanya. Ia tidak takut mati. Ia hanya tidak rela. Ia tidak rela mati sebagai pecundang. Ia tidak rela hidupnya berakhir sia-sia tanpa meninggalkan jejak apa pun di dunia ini.
"Jika... jika ada kehidupan selanjutnya..."
Tangan kanannya yang gemetar perlahan meraba ke bawah bantal. Jari-jarinya yang kurus menggenggam sebuah benda dingin.
Sebuah liontin giok kuno.
Benda itu ia beli di pasar barang antik seminggu sebelum ia masuk rumah sakit, hanya karena ia merasa ada 'tarikan' aneh saat melihatnya. Giok itu kusam dan tampak tak berharga, namun memiliki ukiran yang sangat rumit: seekor Naga yang melingkar dan seekor Phoenix yang merentangkan sayap, keduanya seolah sedang menari dalam satu harmoni.
Shi Hao menggenggam giok itu erat-erat di dadanya, mencari sedikit kenyamanan di detik-detik terakhirnya.
Biiip... Biiip... Biiip...
Monitor detak jantung di sampingnya mulai berbunyi tidak beraturan. Ritmenya melambat. Rasa dingin yang menusuk tulang mulai merambat dari ujung kaki menuju ke dada.
Pandangan Shi Hao mulai mengabur. Kegelapan pekat perlahan turun, menelan cahaya lampu ruangan.
'Inikah rasanya mati? Dingin... Sepi...'
Jantungnya berdetak satu kali lagi dengan sangat berat. Lalu berhenti.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit—
Bunyi panjang yang memekakkan telinga memenuhi ruangan. Shi Hao telah tiada.
Namun, tepat pada saat nyawa meninggalkan raga, keajaiban terjadi.
Darah dari batuk Shi Hao yang menempel pada liontin giok itu tiba-tiba terserap masuk. Giok yang semula kusam itu bergetar hebat. Retakan-retakan halus muncul di permukaannya, memancarkan cahaya yang menyilaukan mata!
CRAK!
Giok itu pecah berkeping-keping.
Dari pecahan itu, dua berkas cahaya melesat keluar. Satu berwarna Emas Murni yang agung, satu lagi berwarna Merah Darah yang membara. Cahaya itu berputar di udara, membentuk ilusi seekor Naga Emas dan Phoenix Api yang berukuran kecil namun memancarkan aura purba yang mengerikan.
Auman naga yang rendah dan pekikan phoenix yang tajam bergema, bukan di ruangan itu, tapi langsung di dimensi jiwa.
Cahaya itu menyelimuti tubuh kaku Shi Hao, lalu menarik gumpalan energi transparan dari dalamnya Jiwa Shi Hao.
"Takdir belum berakhir. Karma telah terbayar. Dari sekian banyak reinkarnasi yang aku lalui, akhirnya aku menemukanmu. Siklus dimulai kembali!"
Sebuah suara kuno yang tak terdengar telinga manusia bergema di kehampaan.
Ruang di atas ranjang rumah sakit itu terdistorsi, membentuk lubang hitam kecil yang berputar. Cahaya Naga dan Phoenix itu membawa jiwa Shi Hao, melesat masuk ke dalam lubang hitam, menembus batasan ruang dan waktu, meninggalkan dunia modern yang kejam menuju semesta yang jauh lebih luas, lebih buas, dan penuh keajaiban.
Di kamar 404, hujan masih turun deras, seolah mencuci jejak keberadaan seorang pemuda malang yang baru saja memulai legenda barunya.
Benua Tianwu, Wilayah Timur, Kekaisaran Angin.
Malam itu, langit di atas Kota Awan Putih wilayah kekuasaan Klan Zhu tampak begitu pekat. Bintang-bintang seolah bersembunyi ketakutan, dan bulan tertutup awan hitam tebal yang berarak tidak wajar.
Di halaman utama kediaman Klan Zhu, suasananya tegang, seakan udara sendiri telah membeku.
Ratusan pelita menyala, menerangi lorong-lorong panjang kediaman bangsawan kelas satu itu. Para pelayan berlarian membawa baskom air panas dan handuk bersih, keluar masuk sebuah paviliun mewah yang dijaga ketat oleh para prajurit elit.
Seorang pria gagah berdiri di depan pintu paviliun. Ia mengenakan jubah sutra biru tua dengan sulaman harimau perak di dadanya. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, namun saat ini, keningnya berkerut dalam kecemasan.
Ia adalah Zhu Hao, Patriark Klan Zhu saat ini, seorang ahli bela diri tingkat Core Formation yang disegani di seluruh kekaisaran. Namun malam ini, di hadapan pintu persalinan istrinya, ia hanyalah seorang suami dan calon ayah yang gelisah.
"Sudah empat jam..." gumam Zhu Hao, tangannya mengepal erat hingga buku-bukunya memutih. "Mengapa belum lahir juga?"
"Tenanglah, Patriark," seorang tetua berjanggut putih di sampingnya mencoba menenangkan. "Nyonya memiliki fisik yang kuat. Tuan Muda pasti akan lahir dengan selamat."
DUARRR!
Tiba-tiba, suara guntur yang memekakkan telinga meledak di langit, meski tidak ada tanda-tanda hujan.
Zhu Hao mendongak kaget. Matanya membelalak melihat pemandangan di atas.
Awan hitam yang pekat itu mulai berputar, membentuk pusaran raksasa tepat di atas atap paviliun persalinan. Di tengah pusaran itu, cahaya keemasan dan kemerahan mulai berpendar, semakin lama semakin terang, mengubah malam yang gelap menjadi seterang siang hari.
"Energi Spiritual Alam... sedang berkumpul?!" seru Tetua itu dengan suara gemetar. "Gila! Konsentrasi Qi macam apa ini?!"
Angin kencang mulai menderu, bukan angin biasa, melainkan badai energi murni yang tersedot dari segala penjuru, berpusat ke perut istri Zhu Hao di dalam kamar.
Di dimensi yang tak kasat mata, dua entitas agung yang membawa jiwa dari dunia lain akhirnya tiba.
ROAAARRR! KIIIIKKK!
Seluruh penduduk Kota Awan Putih, bahkan mereka yang berada ratusan mil jauhnya, mendengar suara itu. Suara yang membuat jiwa bergetar dalam ketakutan sekaligus kekaguman.
Dari dalam pusaran awan, ilusi seekor Naga Emas raksasa yang panjangnya ribuan meter menampakkan diri, sisiknya berkilau memancarkan aura kedaulatan mutlak. Di sampingnya, seekor Phoenix Api mengepakkan sayap, menyebarkan hujan bunga api yang indah namun tidak membakar.
"Fenomena Surgawi..." Zhu Hao ternganga, kakinya lemas. "Naga dan Phoenix Mempersembahkan Berkah! Legenda itu nyata!"
Kedua makhluk mitologi itu menukik tajam ke bawah, menembus atap paviliun tanpa merusaknya, dan melebur menjadi dua bola cahaya yang langsung menghunjam ke dalam rahim sang ibu.
Di dalam kamar, jeritan kesakitan istri Zhu Hao mencapai puncaknya, lalu berhenti mendadak.
Hening sejenak.
Lalu...
"OEEE! OEEE! OEEE!"
Tangisan bayi yang nyaring dan bertenaga meledak, memecah kesunyian malam. Bersamaan dengan tangisan itu, gelombang kejut energi spiritual menyapu keluar dari kamar, membuat para prajurit di halaman terdorong mundur beberapa langkah. Pohon-pohon di taman seketika berbunga, dan kolam ikan bersinar terang.
Pintu kamar terbuka kasar. Seorang tabib wanita tua keluar dengan wajah pucat karena syok, namun matanya basah oleh air mata bahagia.
"Patriark! Selamat! Selamat!" teriaknya dengan suara serak. "Tuan Muda telah lahir! Laki-laki! Tuan Muda baik-baik saja!"
Zhu Hao tidak menunggu sedetik pun. Dengan gerakan secepat kilat, ia menerobos masuk ke dalam kamar.
Aroma darah dan obat-obatan memenuhi udara, namun ada aroma lain yang lebih dominan aroma harum seperti kayu cendana yang terbakar, aroma tubuh bayinya.
Istrinya, Lin Rou, terbaring lemah di ranjang dengan wajah penuh keringat, namun senyum lembut terukir di bibirnya. Di pelukannya, terbungkus kain sutra kuning, sesosok bayi mungil sedang menggeliat.
Zhu Hao mendekat dengan langkah hati-hati, seolah takut langkah kakinya akan menyakiti makhluk kecil itu. Ia menatap putranya.
Bayi itu sudah berhenti menangis. Kulitnya putih bersih, sehalus porselen, memancarkan cahaya samar. Yang paling mengejutkan adalah matanya.
Mata bayi itu sudah terbuka. Hitam, dalam, dan jernih bagaikan langit malam berbintang. Tidak ada kekeruhan atau kebingungan seperti bayi pada umumnya. Bayi itu menatap Zhu Hao balik, seolah sedang menilai.
Di dalam tubuh mungil itu, jiwa Shi Hao sedang berusaha memproses realitas barunya.
'Sakit sekali... rasanya seperti dipaksa masuk ke dalam kotak sempit,' batin Shi Hao, mencoba menggerakkan tangannya yang kini mungil dan gemuk.
Ia melihat pria raksasa di depannya ayah barunya dan merasakan ikatan darah yang hangat. Ia juga merasakan aliran energi aneh yang mengalir deras di pembuluh darahnya yang baru, energi yang jauh lebih kuat daripada tubuh manusianya di kehidupan sebelumnya.
'Jadi ini bukan mimpi? Aku benar-benar bereinkarnasi?'
Shi Hao mencoba berbicara, ingin bertanya 'Siapa kalian?', tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah
"Auu... baaa..."
Zhu Hao tertawa lepas, air mata bahagia mengalir di pipi gagahnya. Ia mengulurkan jari telunjuknya, dan tangan mungil Shi Hao secara refleks menggenggamnya erat. Cengkeraman bayi itu ternyata sangat kuat!
"Kuat! Dia sangat kuat!" Zhu Hao berseru bangga. Ia menoleh pada istrinya. "Rou'er, lihatlah anak kita. Langit memberkatinya dengan Fenomena Naga dan Phoenix. Dia ditakdirkan menjadi naga di antara manusia!"
"Siapa namanya, Suamiku?" tanya Lin Rou lemah.
Zhu Hao menatap mata cerdas putranya, lalu teringat pada cahaya menyilaukan yang membelah langit malam tadi.
"Hao," ucap Zhu Hao tegas. "Zhu Shi Hao. Biar dia menjadi agung dan luas seperti langit (Hao)."
Mendengar nama itu, bayi Shi Hao tersenyum kecil. Nama yang sama. Takdir yang baru.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Shi Hao yang memiliki indra jiwa orang dewasa tiba-tiba merasakan hawa dingin yang menusuk. Bukan dari angin, tapi dari niat membunuh.
Telinganya yang kini diperkuat energi spiritual menangkap suara gesekan halus di atas genteng. Sangat pelan, hampir tak terdengar, tapi ada di sana.
'Ada tamu tak diundang,' batin Shi Hao, matanya menyipit waspada. 'Baru saja lahir, sudah ada yang ingin aku mati?'
Di dalam kamar yang hangat, Zhu Hao masih terbuai dalam kebahagiaan. Jari telunjuknya yang kasar karena sering memegang pedang kini dengan lembut menyentuh pipi gembil putranya.
"Lihat matanya, Rou'er. Dia menatapku terus. Dia pasti tahu aku ayahnya," ucap Zhu Hao sambil terkekeh bangga.
Lin Rou tersenyum lemah, menyandarkan kepalanya di bantal. "Dia sangat tenang. Tidak menangis sama sekali setelah lahir."
Namun, di balik wajah tenang itu, pikiran Shi Hao sedang berteriak panik.
'Ayah bodoh! Jangan main-main dengan pipiku! Ada pembunuh di atas kepala kita!'
Shi Hao bisa merasakan hawa dingin itu semakin mendekat. Niat membunuh itu tajam seperti jarum, terfokus lurus ke arah jantungnya. Masalahnya, tubuh bayinya ini sangat tidak berguna. Lehernya belum kuat tegak, tangannya tak bisa memegang senjata, dan suaranya hanya bisa mengeluarkan gumaman tak jelas.
Jika dia menangis keras, ayahnya mungkin hanya akan mengira dia lapar atau pipis, dan si pembunuh akan memanfaatkan kelengahan itu untuk menyerang.
'Aku harus memberinya peringatan yang tak bisa diabaikan!'
Mata bayi Shi Hao berkilat. Saat jari telunjuk Zhu Hao kembali menyentuh bibirnya untuk menggoda, Shi Hao membuka mulut kecilnya lebar-lebar.
HAP!
Shi Hao menggigit jari ayahnya sekuat tenaga! Meskipun belum punya gigi, gusi bayi yang keras ditambah tenaga Qi bawaan lahir membuat gigitan itu menyakitkan.
"Aduh!" Zhu Hao tersentak kaget, refleks menarik tangannya. "Anak nakal, kau—"
Namun, Zhu Hao terdiam. Ia melihat putranya tidak sedang main-main. Bayi itu tidak tertawa. Wajah mungil itu menoleh kaku ke satu arah ke sudut langit-langit kamar yang gelap di atas lemari dan matanya melotot tajam dengan ekspresi yang... buas.
Zhu Hao adalah seorang ahli bela diri berpengalaman. Insting bertarungnya yang sempat tumpul karena kebahagiaan mendadak kembali tajam melihat tingkah aneh putranya. Ia mengikuti arah pandangan Shi Hao.
Di sudut gelap itu, sepasang mata dingin tiba-tiba terbuka.
"Ketahuan?!"
Suara serak terdengar. Penyamaran terbongkar, si pembunuh tidak lagi menyembunyikan diri.
Sreeet!
Bayangan hitam melesat turun dari langit-langit seperti kelelawar raksasa. Kecepatannya mengerikan. Sebuah belati berlumur racun hijau menyala mengincar leher bayi Shi Hao yang masih ada di gendongan ibunya.
"BERANI!!!"
Raungan Zhu Hao menggelegar seperti petir.
Waktu seolah melambat. Jarak belati itu hanya tinggal satu meter dari wajah Shi Hao. Shi Hao bisa mencium bau amis darah dari senjata itu. Ia menatap lekat-lekat mata si pembunuh tanpa berkedip sedikit pun.
Si pembunuh, seorang pria bertopeng hitam, sempat tertegun sepersekian detik. 'Bayi ini... kenapa dia tidak menangis? Kenapa tatapannya seperti monster tua yang meremehkanku?'
Keraguan sepersekian detik itu fatal.
Tubuh Zhu Hao meledak dengan aura biru terang. Ia tidak sempat mengambil pedangnya. Dengan tangan kosong, ia menghantam udara di depannya.
"Teknik Tinju Guntur Hantaman Kilat!"
DUARRR!
Tinju Zhu Hao beradu dengan belati si pembunuh. Gelombang kejut meledak di dalam kamar sempit itu. Perabotan kayu hancur berkeping-keping. Jendela pecah berantakan.
Zhu Hao sengaja menahan sebagian besar dampak ledakan dengan tubuhnya sendiri agar tidak melukai istri dan anaknya di belakang.
"Ugh!" Si pembunuh terpental menabrak dinding hingga retak. Darah segar menyembur dari mulutnya. Lengan kanannya yang memegang belati terpelintir dalam sudut yang mengerikan. Tulangnya hancur total terkena tinju Zhu Hao yang dilapisi Qi Guntur.
"Siapa yang mengirimmu?!" Zhu Hao berdiri tegak melindungi ranjang, auranya mengerikan seperti dewa perang yang marah. Bahu kirinya tergores sedikit oleh ujung belati, meneteskan darah hitam racun!
Namun Zhu Hao tidak peduli. Ia menotok titik akupunturnya sendiri untuk menyegel aliran darah, lalu melangkah maju dengan niat membunuh yang meluap-luap.
Si pembunuh terbatuk darah, matanya penuh ketakutan. Bukan takut pada Zhu Hao, tapi pada bayi yang ada di ranjang itu. Bayi yang baru saja menyelamatkan nyawanya sendiri dengan sebuah gigitan peringatan.
"Klan Zhu... melahirkan monster..." desis pembunuh itu.
Menyadari misi gagal total dan lengannya hancur, si pembunuh menggigit kapsul di dalam mulutnya. Bukan racun bunuh diri, tapi pil peledak asap.
BOOF!
Asap merah tebal memenuhi ruangan.
"Jangan harap lari!" Zhu Hao mengibaskan tangannya, menciptakan angin puyuh untuk mengusir asap.
Namun, saat asap menipis, jendela sudah terbuka lebar. Jejak darah terlihat di bingkai jendela, mengarah ke kegelapan malam.
Para penjaga Klan Zhu baru saja berhamburan masuk dengan senjata terhunus. "Patriark! Apa yang terjadi?!"
"Sampah! Kalian semua sampah!" bentak Zhu Hao, wajahnya merah padam menahan amarah. "Seorang pembunuh masuk ke kamar bersalin dan kalian tidak tahu?!"
Para penjaga berlutut gemetar, wajah mereka pucat pasi.
Zhu Hao menarik napas panjang, menenangkan dirinya. Ia berbalik menatap istri dan anaknya. Lin Rou memeluk Shi Hao erat-erat, tubuhnya gemetar ketakutan.
Tapi Shi Hao?
Bayi itu tampak bosan. Ia bahkan menguap kecil, seolah pertarungan barusan hanyalah hiburan ringan sebelum tidur.
Zhu Hao mendekat, menatap putranya dengan pandangan baru. Pandangan yang penuh rasa hormat, bukan sekadar kasih sayang orang tua.
"Rou'er," bisik Zhu Hao pelan. "Kau lihat tadi? Dia menggigitku. Dia memberi isyarat."
Lin Rou mengangguk pelan, masih syok. "Dia... dia menyelamatkan kita."
Zhu Hao mengusap kepala kecil Shi Hao. "Anakku, kau baru lahir tapi sudah menghadapi maut. Dunia ini kejam, Nak. Tapi jangan khawatir..."
Zhu Hao menatap ke arah jendela yang pecah, matanya berkilat dingin menatap arah ibukota musuh.
"...Ayah akan membakar dunia ini jika ada yang berani menyentuhmu lagi."
Shi Hao menutup matanya, merasa lelah. Tubuh bayi ini benar-benar boros energi.
'Bagus, Ayah Tua. Kau bisa diandalkan,' batin Shi Hao sebelum kesadarannya hanyut ke alam mimpi. 'Sekarang biarkan aku tidur. Besok... aku harus mulai mencari cara untuk berkultivasi.'
Malam itu, Klan Zhu tidak tidur. Perburuan besar-besaran dimulai. Namun bagi Shi Hao, ini hanyalah langkah pertama yang sepele dalam perjalanannya kembali ke puncak.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!