Indonesia
NovelToon NovelToon

Hati Dingin Istriku

Bab 1

Perjalanan yang cukup melelahkan bagi laki - laki berparas tampan itu tiba dirumah sambil membawa tas kerja yang ia jinjing lalu masuk kedalam rumah dan melihat sekitarnya tidak ada orang yang menunggunya lagi di ruang tamu seperti biasanya kosong,

dengan langkah gontai laki - laki itu berjalan masuk kedalam kamarnya yang berada di lantai 2, membuka knop pintu dan melihat wanita cantik yang sudah tidur dengan tenang seperti tidak ada yang menggangu sama sekali. Laki - laki itu hanya bisa menghela nafas melihatnya dan berlalu masuk kedalam kamar mandi yang ada didalam kamarnya. 15 menit berlalu ia pun keluar kamar mandi dan ingin menaruh pakaian kotornya tak melihat kedepannya ada istrinya yang tiba-tiba berdiri dihadapannya. Pakaian kotornya pun diserahkan kepada istrinya, tapi istrinya hanya diam saja seraya mengambil pakaian kotor itu tak biasanya dia akan mengoceh panjang kali lebar.

"Lanjutkan tidurmu lagi, maaf menganggu tidurmu Luna" ucap Akbar. Luna hanya menggangguk tanpa sepatah kata lagi.

Akbar hanya bisa menghela nafasnya lagi. Biasanya satu kata itu berhasil menciptakan sebuah drama panjang dengan sendau gurau kini tak ada lagi senyuman itu.

"Sudah makan malam mas?" tanya Luna kepada suaminya.

"Tadi sudah dikantor saat meeting sekalian" Jawab Akbar

Istrinya mendengar jawaban dari suaminya pun hanya diam, Istrinya yang sudah nikahi selama 4 tahun itu melenggang kembali keatas tempat tidurnya.

Sudah seminggu ini Akbar tak mendengar keluh manja istrinya, bahkan ia tak lagi mendapat laporan dari sang ibu tentang aduan Luna atas sikap dinginnya. Rumah kini seketika hening ia begitu berbeda, seperti dua orang asing.

"Ada apa denganmu?" tanya Akbar

"Aku baik-baik saja" Jawab Luna dengan singkat.

"Bukan itu, sikapmu berubah? kenapa jadi berbeda begini?" kata Akbar

"Tidak ada yang aneh, masih seperti biasanya" kata Luna

Akbar menghela nafas panjang.

"Besok aku tidak akan pulang malam lagi" Ucap Akbar ke istrinya.

Luna hanya mengangguk seraya tak peduli apa yang diucapkan suaminya.

mereka berdua pun melanjutkan tidur malamnya dengan saling membelakangi satu sama lain. Akbar yang melihat istrinya menatap lama sulit diartikan.

- -

Esok paginya seperti biasa Luna akan bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan dan pakaian kerja Akbar, dilihat suaminya yang setia ditempat tidurnya hanya bisa menatap nanar sulit diartikan.

"Mas bangun sudah pagi" Ucap lirih Luna seolah suaminya tidak akan mendengar apa yang udah diucapkannya.

selang beberapa lama Akbar pun bangun dan meraba di sisi ranjangnya, istrinya kembali sudah bangun lebih dulu tak seperti biasanya yang akan membangunkannya dengan ocehan manjanya. Ia seperti merasa kehilangan hal yang sudah biasa dilakukan istrinya.

Seharusnya ia merasa senang ini yang diharapkan istrinya tak lagi merengek manja pagi dan membuat dirinya kesal dan marah akan sikap kekanakan istrinya itu. diamnya Luna saat ini harusnya membuat lega tapi kenapa Akbar semakin kesal.

Akbar yang sudah mandi dan memakai pakaian kerjanya sudah terlihat rapi dan lalu turun lantai bawah dan melihat kearah meja makan isrinya sudah duduk dengan manis disitu tanpa menghiraukan dirinya lagi.

"Ini buatmu pakailah, kamu bisa menghabiskan waktu untuk mengusir bosan." kata Akbar

Luna melihat debit card itu pasti isinya seperti biasa.

"Simpan saja, debit card yang ada di aku bulan lalu masih ada sisa banyak" ucap Luna.

"Aku memberimu itu bulan lalu Luna!" Tegas Akbar

"Iya dan itu masih ada mas" ucap Luna

Akbar tak percaya sama sekali menatap heran dengan perubahan drastis istri manjanya itu. Istri yang selalu menyebalkan tingkahnya dimatanya, istri luar biasa manja dan boros, istri yang selalu memandang sesuatu hanya dengan uang, istri yang tidak ingin tersaingi oleh orang lain. Istri yang berhasil menumbuhkan rasa benci dan kesal dihati Akbar selama 4 tahun ini.

"Ambil saja debit card itu, kamu pakai apapun terserah." Ucap Luna seraya beranjak dan membawa piring kotor kedapur, kemudian membersihkannya.

Sekali lagi membuat Akbar terperangah dengan tingkah Luna saat ini sebelumnya istrinya tidak pernah memegang semua urusan rumah, Akbar sudah menyediakan asisten rumah tangga lebih dari dua dirumahnya. Merasa geram dengan sikap Luna, Akbar lalu mendekat dan menarik tangan istrinya sampai piring yang ia pegang jatuh kelantai. Tapi wajah Luna masih datar tanpa melihat ke arah Akbar.

"Ada apa denganmu, kamu sedang menyindirku?" ucap Akbar

Luna pun diam saja

"Ini bukan kamu, ngomong jangan seperti ini! ada apa?" ucap Akbar ke istrinya

"Aku tidak apa-apa mas, sudahlah berangkat ke kantor" jawab Luna sambil memalingkan wajah. genggaman tangan Akbar ditangannya membuat Luna meringis menahan sakit.

Biasanya Luna akan bergelayut manja ketika menghadapi sikap dingin dan marah Akbar, tapi kali ini ia hanya diam membisu. Membuat Akbar semakin jengah, kesal dan akhirnya pergi meninggalkan Luna begitu saja.

Piring  yang berserakan pun dibersihkan asisten rumah tangga, sementara ia langsung naik keatas dan masuk kedalam kamar, ia duduk menghadap jendela, menatap taman yang indah dari lantai dua. Tak terasa air matanya luruh.

Ia pikir Akbar mencintainya dan mensyukuri keadaan dirinya, 4 tahun merasa paling memiliki suaminya, 4 tahun menjadikan Akbar ada dalam jangkauannya dunianya ia begitu dimanjakan, ini menjadi kebanggaan luar biasa Luna untuk ditunjukkan pada teman-temannya.

Tapi..

Semua itu hanya semu, Akbar tak pernah sekalipun mencintai dirinya. Satu minggu yang lalu ia baru tahu dengan mesra dan penuh kelembutan, ia sampaikan rasa sayang pada Dita, karyawan dikantornya termasuk sahabat dekatnya wanita cantik dan sederhana.

"Aku mencintai kesederhanaanmu, Dita. Aku mencintai lembut dan hatimu, aku sungguh mencintai caramu bersikap. Sungguh aku sangat mencintaimu, sebuah perasaan yang tidak pernah aku dapatkan dari Luna. Aku masih bersedia, menyediakan diri untuk mencintaimu, tetaplah menetap di hatiku Dita sayang. Menatapmu adalah sebuah keteduhan."

Pesan itu Luna baca dengan hati yang sesak dan sedih, namun ia tak bisa marah pada sahabat suaminya itu, wanita itu tak secantik dirinya, tapi sudah merebut seluruh dunia Akbar sementara dunianya sendiri hancur lebur.

- -

{ Akbar, ini tidak benar apa yang kita lakukan! sebaik-baiknya wanita adalah istrimu, Luna.}

Satu baris kalimat balasan dari pesan Dita kepada Akbar membuat seketika tidak fokus pada pekerjaannya. Dita memang ia kagumi sejak masa kuliah dulu, jauh sebelum ia menikah dengan Luna. Gadis sederhana yang membuatnya terpukau, kepintarannya dibalut dengan kelembutaan hatinya yang sempurna, sosok yang begitu sempurna dimata Akbar.

Hingga satu langkah menggapai cinta Dita pupus, ketika Luna mendatanginya denga binar penuh cinta. Sebuah perasaan yang tidak bisa ditolak, satu kenyataan yang membuat Dita mundur perlahan.

Seketika lamunan Akbar berhenti, ketika satu hal ia sadari, ponselnya sepi. Biasanya dari mulai ia berangkat ke kantor, ponsel miliknya terus berbunyi, entah itu telepon atau deretan chat dari Luna.

{Aku nanti pulang lebih cepat enggak larut malam.} pesan Akbar

Akbar memancingnya dengan satu pesan

{Iya mas!}

Pria itu mengernyitkan dahi,benar-benar bukan Luna yang selama ini ia kenal.

"Ada apa denganmu Luna?" tanya Akbar dalam hati.

Bab 2

Tok..tok..

"Hei, Akbar" Ucap Dita kepada Akbar yang sudah masuk didalam ruangannya.

Akbar yang mendengar ada yang memanggil lantas menengok kearah depannya ternyata sahabatnya Dita, perempuan yang sudah ada dalam hatinya sejak lama.

"Hei Dit, ada apa kemari?" tanya Akbar

"Ponselmu kenapa susah di hubungi, aku khawatir denganmu takut terjadi hal yang tidak diinginkan." Ucap Dita

Akbar pun langsung mengecek kembali ponselnya ternyata ada telepon dan pesan dari Dita yang belum diresponnya tadi.

"Ponselku mode diam tadi enggak tahu kalau dirimu hubungin aku" ucap Akbar.

mendengar jawaban dari Akbar, Dita pun mulai mendekat dan duduk diatas pangkuan Akbar sambil mengalungkan tangannya ke leher Akbar dengan posisi begitu intim.

"Aku rindu kamu, kapan hubungan kita akan berakhir happy." bisik Dita ke telingan Akbar begitu intim.

"Sabarlah, mungkin sebentar lagi. kamu tahu sendiri posisiku seperti apa saat ini." kata Akbar sambil memeluk perempuan yang ada dipangkuannya.

Hubungan mereka berdua bisa dikatakan begitu sangat dekat dan intim, Akbar menjalin hubungan tanpa sepengetahuan istrinya dan keluarganya jika diluar kantor mereka akan berlagak sebagai atasan dan bawahan tetapi jika sedang berdua mereka sepasang kekasih yang saling mencintai.

"Aku sudah enggak tahan dihubungan kita seperti ini lama-lama akbar, coba kamu pahami diposisiku" kata Dita mengeluh pada Akbar.

cup..

Akbar lalu hanya memeluk dan mengecup kening Dita

"Kembalilah ke ruanganmu, nanti sore pulang kerja kita jalan berdua" ucap Akbar

"Benarkah? di salah satu mall ada toko yang sedang mengeluarkan tas model terbaru nanti belikan itu ya." ucap manja Dita

"Iya nanti beli apapun yang kamu mau" jawab Akbar dengan santai.

Dita pun akhirnya kembali keruangannya dan meninggalkan Akbar seorang diri diruangan tersebut, Akbar hanya bisa menghela nafas pikirannya saat ini sungguh rumit disatu sisi sikap istrinya yang mulai berubah dan sisi lainnya hubungannya dengan DIta yang perlu kejelasan.

- -

"Apa hubungan ini sungguh dapat dipertahankan?" ucap Luna yang berada dibalkon kamarnya dengan melihat sekitar tamannya dari atas.

Luna sangat yakin hubungan suami istri yang mereka berdua jalanin selama ini sungguh amat sudah diambang kehancuran seolah tidak dapat dipertahankan kembali. Apalagi selama menjalani pernikahannya belum ada suara anak kecil menghiasi kehidupan rumah tangganya, Luna sendiri sudah memeriksa kesehatan dirinya dan hasilnya semuanya sehat tidak perlu ditakutkan akan tetapi tuntutan dari mertuanya yang ingin segera memilki cucu yang menambah beban pikirannya kembali.

"Aku perlu konsultasi dengan pengacaraku untuk mendapat solusi yang tepat atas semua masalah ini." ucap Luna

Luna pun bersiap diri sebelum malam tiba dan suaminya kembali pulang kerja, dirinya ingin ke kantor pengacaranya untuk konsultasi perihal masalah rumah tangganya.

"Saya keluar ada urusan, tolong beritahu ibu tidak usah mencari." Ucap Luna ke asisten rumah tangganya.

menaiki mobil mewah dan menyetir sendiri sudah hal biasa yang dilakukan Luna diposisi ini dirinya merasa bebas dan menjadi dirinya sendiri. berjalan melewati ramainya kota disiang hari sampailah disatu kantor pengacara yang cukup terkenal hanya dikalangan elit yang memakai jasanya.

"Pak Adam ada diruangannya?" tanya Luna di resepsionis

"Ada bu, langsung saja ke ruangannya." jawab resepsionis tersebut.

Luna melenggang masuk dengan anggun dan santai berjalan terus menuju ruangan sang pengacara yang dicarinya.

tok..tok..

"Masuk.." ucap Adam

"Kau ternyata didalam Dam, aku memggangu gak nih.." kata Luna

"Enggak Lun, ini juga baru selesai meering dengan salah satu klienku." jawab Adam yang sedang menaruh berkasnya kemejanya.

"Ada angin apa datang kesini, gak biasanya kamu datang ketempatku." tanya Adam kembali pada Luna

"Aku ingin konsultasi masalah rumah tanggaku, ada waktu?." kata Luna

"Ada , bentar Luna" ucap kembali Adam

Adam pun menghubungi sekretarisnya kalau dirinya jangan diganggu dan batalkan meeting untuk selanjutnya.

"Ceritalah , masalah apa yang sedang dirimu hadapin saat ini" kata Adam yang sudah duduk dihadapan Luna

"Baik, jangan kamu potong apa yang kuceritakan semuanya. Kamu tahu sendiri pernikahanku udah berjalan 4 tahun lamanya tidak ada anak, awalnya pernikahan ini aku anggap baik-baik saja mas Akbar sangat memenuhi kebutuhanku semuanya dari materi dll. Mas Akbar tidak menuntut adanya anak akan tetapi mertuaku selalu menyindir perihal anak itu yang menjadi beban pikiranku. Bukan hanya itu saja ada lagi yang bikin aku akhirnya bimbang dengan pernikahan ini, seminggu yang lalu aku enggak sengaja membaca pesan diponsel mas Akbar dengan sahabatnya yang begitu intim. Awalnya ku kira pesan antar sesama sahabat ternyata isinya begitu romantis jikapun kamu tau isinya begitu menyayat hatiku  dari situ aku akhirnya mengerti kalau mas Akbar sebenarnya tidak pernah mencintai diriku. Mas Akbar dipernikahan ini hanya sebatas menghormati satu sama lain dan menerima karena tuntutan orang tuanya saja. Aku bingung langkah apa yang harus ku ambil selanjutnya Dam? hati kecilku masih mengatakan kalau diriku sangat mencintai suamiku." Ucap Luna dengan menitikkan air mata dan menutup wajah dengan kedua tangannya.

Tangan Adam sudah mengepal dengan kuat, mendengar keluh kesah sahabatnya ini sungguh ingin menghajar si brengsek Akbar, Laki-Laki yang bisa dikatakan beruntung bisa mendapatkan seorang Luna yang dari dulu sudah banyak incaran para pria dari kalangan elit manapun tetapi laki-laki yang dipilihnya jatuh ke Akbar.

"Sudah Luna, tenanglah dirimu seperti ini sungguh buatku ikut sedih melihatnya. Kamu itu cantik, pintar, laki-laki manapun bisa menjadi pilihanmu. Inilah yang dulu kukatakan dengan memilih Akbar menjadi suamimu akhirnya akan seperti ini kamu menjadi korbannya." ucap Adam sambil mengusap rambut Luna seolah memberi dukungan sahabatnya yang sedang bersedih.

"Aku harus bagaimana Dam, aku sungguh sangat mencintainya. aku meninggalkan hidupku yang dulu dengan keluar dari rumah keluargaku tapi hasil yang kudapat malah berakhir seperti ini" kata Luna

"Lebih baik kamu tenangkan dirimu dengan liburan keluar kota saja seperti biasa Luna, setelah pikiran tenang kamu akan tahu langkah terbaik apa yang bisa diambil dalam pernikahanmu." kata Adam kepada Luna

"Itu ide yang bagus juga, aku butuh refreshing saat ini. Baik aku akan meminta izin pada suamiku dulu kalau akan berpergian keluar kota 3 hari." jawab Luna

Luna pun mengambil ponselnya yang berada dalam tas dan mengirim pesan ke suaminya untuk meminta izin kalau dirinya akan keluar kota karena ada urusan dengan temannya.

{Mas, aku minta izin kalau nanti sore akan pergi keluar kota 3 hari dengan temanku ada urusan mendesak} pesan Luna

"Sudah ku kirim pesan ke mas Akbar, thank's ya dam sarannya. aku balik dulu kalau begitu mengurus kepergianku dan menyiapkan yang lain. tujuanku akan ke Bali nanti sore" ucap Luna pada Adam sambil berpamitan dirinya balik kerumahnya.

"Tenanglah Lun, nikmati waktu liburanmu. kabarin aku kalau sudah kembali." jawab Adam.

Luna pun kembali kerumah dan menyiapkan keperluan liburannya nanti sore, dirinya hanya perlu membawa beberapa pakaian saja.

- -

dddrrtt...ddrrtt..

"Apa ini? tiba-tiba Luna meminta izin keluar kota" Ucap Akbar

Ponsel Akbar yang bergetar dimeja dan muncul notifikasi pesan dari istrinya hanya mengerit dahi isi pesan ponselnya.

Bab 3

Suasana malam bandara Bali yang cukup ramai dengan para traveller, terlihat seorang wanita cantik dengan memakai kacamata hitam berjalan santai dengan membawa koper disalah satu tangannya dirinya berjalan menuju lobby bandara tersebut dan menunggu jemputan dari phak hotel yang akan di tempatin selama 3 hari kedepan. Saat menunggu mobil jemputan berdirilah pria tinggi,tampan, stylist pakaian yang terlihat seperti traveller disamping cewek tersebut.

Luna Hanya melihat sekilas pria yang berada disampingnya, dengan menurunkan kacamata posisi separuh kebawah miliknya.

"Tampannya bule itu garis wajahnya yang tegas dan otot-ototnya apa itu beneran terlihat gagah. hussh, Luna disini posisimu liburan jangan mikirin pria lain." gumam dalam hati Luna sambil melihat pria disampingnya.

Merasa dirinya diperhatikan wanita yang berada disampingnya, Edward Abraham betul nama pria berparas tampan berkebangsaan jerman yang sedang liburan menjernihkan pikirannya itu sedang patah hati pengkhianatan mantan kekasihnya selingkuh.

"Cewek enggak jelas." ucap Edward yang melihat kearah Luna.

Mobil jemputan dari pihak hotel berhenti tepat dihadapan mereka berdua, tak kala kaget ternyata hotel yang dituju tempat yang sama dipesan Luna dan Edward.

"Apa benar tuan ini namanya Edward dan nona ini namanya Luna?" tanya sopir kepada Luna dan Edward yang berdiri berdampingan.

"Ya, itu benar nama saya." jawab Luna

"Ya, itu saya." jawab Edward

"Mari tuan dan nona silahkan masuk kedalam mobil, kebetulan tuan dan nona memesan hotel yang sama dan dijam kedatangan yang sama." ucap sopir tersebut.

Luna dan Edward masuk kedalam, mobil pun menjauh dari area bandara dan menuju hotel yang letaknya tak cukup jauh kurang lebih setengah jam perjalanan. Saat tiba dihotel mereka chek in diresepsionis dan lagi-lagi kamar yang dipesan mereka berdua saling bersebelahan. Luna dan Edward berjalan masuk kedalam lift hotel menuju kamar masing-masing.

Hari ini yang dirasa Luna itu sangat menghabiskan tenaga dan pikiran. Luna pun merilekskan diri dengan berendam dikamar mandi sejenak dan pergi tidur lebih cepat dari biasanya.

"Sangat melelahkan, semoga besok tidak menjadi hari yang menyebalkan." ucap Luna sambil memejamkan matanya.

- -

Cahaya matahari menyambut hari yang baru, mengawali pagi yang mencerahkan dengan menikmati pemandangan yang menyegarkan disekitar hotel yang ditempati Luna.

"Sungguh indahnya pemandangan ini, enggak sia-sia aku nginap disini." Ucap Luna sambil melihat pemandangan luar yang berada di balkon kamarnya.

"Hari ini tidak boleh menghabiskan waktu dikamar lebih baik diriku mengeksplor wisata deket sini." gumam Luna yang memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menghabiskan harinya.

Luna pun bersiap-siap untuk menghabiskan harinya dengan berpakaian santai memakai dress terusan selutut warna merah muda motif bunga dengan atasan tanpa lengan terbuka lalu memakai topi pantai dan make up tipis yang terlihat sangat cantik melihat tampilan seolah dirinya baik-baik saja tanpa beban pikiran yang ada. Luna yang sudah selesai bersiap pun keluar dari kamarnya saat tepat sudah didepan kamarnya mata nya secara tak langsung menatap pria yang ada dihadapan.

deg..

Seperti ada getaran lain pada dirinya tapi ia hanya tak terlalu memikirkannya dan pria semalam yang sama itupun ternyata keluar dari kamarnya dengan tampilan yang terlihat sangat tampan yang hanya memakai celana selutut dan kaos putih.

"Kau lagi..Kau lagi." ucap Luna pada Edward

"Cewek gak jelas lihat itu matamu sampai keluar menatapku." ucap Edward yang menyindir Luna.

"Hissh, ingin mengawali hari menyenangkan malah tetiban sial begini lihat pria ini." Jawab Luna dengan malas.

"Cewek aneh." kata Edward dan berlalu meninggalkan Luna sendiri diam.

Lainnya hal pula yang dilakukan Akbar suami Luna yang ditinggalkan istrinya liburan sedangkan dirinya sendiri mulai merasa hampa dengan keadaannya. Akbar yang bangun diranjangnya hanya melihat kesampingnya tak ada lagi istrinya dipagi ini tangannya hanya mengelus sisi ranjangnya yang kosong.

Flashback..

{Mas, aku minta izin kalau nanti sore akan pergi keluar kota 3 hari dengan temanku ada urusan mendesak} pesan Luna

Pesan yang dikirim istrinya membuat Akbar mengerit dahi dirinya heran yang dilakukan istrinya mendadak. pikirannya mulai sedikit terganggu dengan istrinya Akbar pun konfirmasi dengan teman Luna yang ia pun kenal.

drrt.drrt..

"Halo, Adam ini aku suami Luna." Kata Akbar ke Adam

"Ah iya, ada apa telpon sore begini." jawab Adam

"Apa dirimu tahu kalau Luna liburan keluar kota apa dia kasih tahu dimana dirinya?" tanya Akbar

"Luna keluar kota, tidak ada info apapun darinya justru ini aku baru tahu darimu Akbar." Jawab Adam dengan pura-pura padahal ia tahu jelas kemana perginya Luna.

"Begitu ya, oke dam kututup dulu telponnya." Jawab Akbar dengan perasaan dan pikiran sedikit terganggu.

"Ini belum seberapa Akbar kita lihat saja nanti, sudah bikin sahabat cantikku sedih. Tau rasa dirimu tanpa ada istrimu yang mulai tak perhatian lagi." Ucap Adam sambil memegang ponselnya yang baru saja dimatikan Akbar.

"Kemana kamu lun, di hubungin ponsel diluar jangkauan." gumam Akbar memikirkan istrinya entah kemana.

Flashback Off.

"Apa yang sedang dilakukan Luna sekarang?" gumam Akbar diatas ranjang sambil melihat sisi ranjang kosong disampingnya.

Akbar hanya menghela nafas dan dirinya bersiap ke kantor ada meeting yang harus dihadiri pagi ini.

Luna yang terdiam didepan kamar tersadar ngapain dirinya begini gara-gara pria itu, dirinya turun dan berjalan kearah restoran hotel jam pagi diawali sarapan terlebih dahulu. Posisi meja yang berada di area outdoor restoran itu menghadap pemandangan arah tepi pantai sarapan Luna yang di ada mejanya hanya berisi sepiring isi omellet dan kentang lalu segelas susu.

"Sungguh nikmatnya pagi ini, pemandangan yang terasa sejuk sekali suasana sangat bagus sekali disini." Ucap Luna melihat arah tepi pantai.

Klik..

Bunyi camera ponsel Luna memotret momen dirinya berada disitu, satu posting terbaru muncul diberanda social medianya dengan caption "Awali dengan senyuman tanpa kebohongan" caption tersebut sangat menggambarkan dirinya saat ini.

ting..

Bunyi ponsel Akbar muncul notifikasi istrinya mengupload satu posting terbaru, secara tak sadar kapan dirinya mulai mengikuti jejak social media milik istrinya.

"Cantik.." Ucap Akbar melihat foto terbaru Luna.

"Dimana ini, pantai itu terlihat tak asing. ini kan.. Luna ada di Bali." gumam Akbar melihat foto istrinya sangat detail.

Akbar langsung menghubungi asistennya untuk segera memesan tiket untuknya dengan tujuan ke Bali Ia ingin segera menyusul istrinya saat ini.

"Kevin, tolong segera pesankan tiket tujuan ke Bali jangan kau beritau siapapun tentang ini." Ucap via telpon Akbar ke Kevin asisten kepercayaannya.

"Baik pak, segera saya pesankan." Jawab Kevin

"Akan kususul dirimu Luna, saat ini dirinya ingin memastikan sesuatu yang jelas dari semalam mengganggu pikiran dan perasaannya." gumam Akbar yang berdiri menghadap luar jendela di ruangan kantornya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!