"Membaca dan menimbang permohonan pihak penggugat Saudari Tyas Ambardhita Putri Hakim binti Muhammad Hakim usia 26 tahun terhadap pihak tergugat Saudara Hilman Syahreza bin Irwan Rasyid usia 29 tahun, maka dengan ini Pengadilan Agama Jakarta Selatan memutuskan: mengabulkan permohonan pihak tergugat tanpa syarat dan ketentuan khusus yang berlaku. Oleh karenanya, kami nyatakan saudari penggugat Tyas Ambardhita Putri Hakim binti Muhammad Hakim usia 26 tahun terhadap pihak tergugat Saudara Hilman Syahreza bin Irwan Rasyid usia 29 tahun dinyatakan resmi bercerai.” Tok tok tok, ketukan palu hakim mengakhiri pernikahan Dhita dengan Reza yang sudah dijalani selama 4 tahun.
Dhita berusaha untuk tegar, sekuat tenaga dia menahan air mata agar tidak jebol. Dia melirik Reza yang menunduk dengan ekor matanya. Terlihat senyum samar hadir di bibirnya. Pasti dia merasa lega kisah cinta itu berakhir. Lain halnya dengan Dhita yang harus menata hatinya dengan baik. Dhita berdiri dengan kaki goyah, dia melangkah untuk menyalami hakim. Om Irwan adik papanya sekaligus pengacara dalam kasus perceraian ini menggandengnya keluar ruang sidang. Mama dan papa memeluknya erat.
"Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya Dhit. Sabar, selalu ada pelangi setelah badai reda.” papa berbisik di telinganya. Dhita hanya bisa mengangguk lemah.
"Kamu masih punya kami Dhita, mama dan papa akan selalu membuatmu nyaman di rumah. Kita kembali ke Bandung ya. Kita berkumpul lagi bareng ade-ademu” mama tersenyum sambil mencium pipinya.
"Iya Ma.” Dhita menjawab dengan suara serak.
"Tidak usah menangis Dhit, laki-laki macam Reza tak pantas untuk ditangisi.” Om Irwan berkata sambil menstarter mobilnya.
"Kalau menangis bisa membuatmu lega, menangislah!” mama yang duduk di sebelah memeluk pundaknya.
Saat mobil Om Irwan mau meninggalkan halaman Pengadilan Agama, Dhita melihat Reza membukakan pintu mobil untuk kekasihnya, Tari. Senyum sumringah tak lepas dari kedua manusia tak tahu diri tersebut. Kebahagiaan terpancar jelas di sana. Sepertinya Tari sengaja datang menjemput Reza, mungkin mereka akan merayakan putusnya benang pernikahan Reza dan Tari.
***
Masih terbayang kali pertama berjumpa dengan Reza . Saat itu Dhita sedang berjalan terburu-buru menuju tempat pertemuan untuk peserta PPL. Dia berkali-kali melihat pergelangan tangan, hingga tidak menyadari dari arah berlawanan ada laki-laki yang sedang berjalan dengan kecepatan tinggi. Karena tidak fokus, akhirnya mereka bertabrakan. Beberapa buku yang Dhita bawa terjatuh.
"Maaf, saya tidak sengaja.” laki-laki tersebut berkata lembut dan tersenyum, dia membantu mengambil buku-buku Dhita yang berserakan.
"Tidak apa-apa, saya yang salah kok, berjalan sambil memelototi jam tangan.” Dhita membalas senyumnya.
"Peserta PPL ya?”
"Iya, kok tahu?”
"Soalnya saya baru lihat, kalau yang berkantor di sini saya kenal semua.”
"Oooohh.” Dhita hanya mampu ber-ooohhh.
"Mau ke tempat pertemuan kan?”
"Iya, kok tahu?”
"Ya tahu dong, anak PPL di hari pertama datang pasti ke tempat pertemuan dulu, mendengar penjelasan dari pihak perusahaan."
"O iya ya.” Dhita tersenyum kikuk.
"Saya juga tahu lho nama kamu, kamu pasti Tyas Ambardhita Putri Hakim. Benar kan?”
"Lho, kok tahu juga?” Dhita mengerutkan kening sambil menatap bola matanya, mengingat-ingat apa dia sudah pernah bertemu orang ini sebelumnya?
"Tahu lah. Ayo, sudah terlambat, kok malah bengong?” laki-laki itu tersenyum melihat Dhita yang masih mematung.
"O iya.” Dhita terlonjak kaget sambil melihat pergelangan tangannya. Tanpa mengucapkan terimakasih karena laki-laki itu yang sudah membantu membereskan buku-bukunya, Dhita berjalan setengah berlari ke tempat tujuan semula, tempat pertemuan anggota PPL.
"Assalamualaikum” Dhita mengucapkan salam dengan bergetar.
"Waalaikum salam” terdengar suara teman-temannya menjawab.
"Waduh hari pertama sudah datang telat Dhit, untung belum ada perwakilan dari perusahaan yang datang.” Ryan teman sekelasnya berkata.
"Alhamdulillah, aku selamat. Aku kira dah mulai setengah jam yang lalu.” Dhita berkata sambil melangkah menuju kursi kosong di sebelah Ryan.
"Hari baik kamu Dhit.” Dion yang duduk di seberang Ryan berkata.
"Iya dong ini hari baikku, dinihari tadi juga kan tim jagoanku menang. Aku seneng banget.”
"Ooohhh kamu terlambat gegara nonton bola Dhit?” Farrel bertanya sambil geleng-geleng kepala.
"Yo i Rel.” Dhita menjawab tanpa dosa.
"Gila ya Dhit, cewek suka bola. Aku lebih baik digunakan istirahat tuh waktu, daripada dipakai nonton bola” Farrel cowok yang terkenal kutu buku itu berkata.
"Ya itu kamu, aku beda.” Dhita berkata sambil membuka salah satu buku yang tadi terjatuh.
"Assalamualaikum.” terdengar seseorang mengucapkan salam.
"Waalaikum salam” mereka menjawabnya serempak sambil melihat ke sumber suara.
"Gile itu kan cowok yang tadi bertabrakan denganku.” Dhita berkata dalam hati.
"Selamat pagi Ade-Ade, maaf saya terlambat.” laki-laki itu berkata sambil menduduki kursi kosong khusus untuk perwakilan perusahaan.
"Semalam saya begadang nonton bola, setelah Shalat Shubuh ketiduran. Bangun terlambat deh. Tahu sendiri kan kalau sudah terlambat bangun di Hari Senin?” dia terkekeh.
"Wah sama banget dengan Dhita Pak, dia juga hari ini kesiangan gegara semalam nonton bola. Bener kan Dhit?” Wira yang terkenal ember mengerling ke arah Dhita. Dhita hanya bisa senyum terpaksa menanggapi ocehan Wira.
"O ya? Dhita suka bola juga?”
"Iya Pak.”
"Club kesukaannya apa?”
"Barcelona.”
"Wah sama dong. Ntar kita share masalah bola di luar kerjaan ya.” Laki-laki yang ternyata bernama Reza itu berkata antusias. Dhita hanya menganggukkan kepala.
Sejak saat itu, Dhita menjadi dekat dengan Reza. Saat istirahat di kantor sering mereka makan bareng di kantin sambil ngobrol tentang bola, tentang club, transfer pemain, gaji, dll. Namun di sela-sela itu terkadang mereka juga ngobrol tentang keluarga dan hobby lain di luar bola. Hal itu terus berlangsung walaupun Dhita sudah tidak PPL lagi di perusahaan tempat Reza bekerja.
Seiring berjalannya waktu, mereka semakin dekat, dan tanpa mereka sadari benih-benih cinta itu tumbuh subur dengan sendirinya. Karena merasa banyak kecocokan, akhirnya mereka berkomitmen untuk menjalin suatu hubungan. Kedua orang tua juga tidak merasa keberatan dengan hubungan itu.
Setelah setahun dekat, akhirnya mereka memutuskan menikah, sesaat setelah Dhita wisuda. Hari itu Dhita merasakan kebahagiaan yang begitu sempurna. Berdiri di pelaminan dengan orang yang sangat dicintainya. Reza bukan hanya tampan, tapi juga mapan. Keluarga kedua belah pihak pun merasakan kebahagiaan yang sama.
"Ya Allah, terimakasih atas anugerahmu ini. Aku bisa berdampingan dengan laki-laki yang aku cintai dan mencintaiku. Semoga pernikahan ini langgeng, sampai maut memisahkan kami." Doa Dhita dalam hati.
Dia menatap Reza laki-laki pilihannya tersebut, senyum tak pernah berhenti mengembang. Hari itu adalah yang saat bersejarah bagi kehidupannya, dunia seakan milik mereka berdua.
Setelah menikah, Dhita sempat menganggur, karena memang belum mau disibukkan dengan pekerjaan. Namun di bulan ketiga, dia diterima di sebuah perusahaan multi nasional yang bergerak di bidang ekspor impor. Karena pekerjaannya dinilai baik oleh atasan, dia bisa dengan mudah memiliki jabatan strategis di kantor. Hal inilah membuat pundi-pundi uang mereka bertambah terus. Apalagi dia merupakan affiliator andal.
Di tahun pertama pernikahan, mereka sudah memiliki rumah sendiri, rumah impian yang dibeli berdua. Mereka meninggalkan rumah lama Reza yang mungil, dan pindah ke rumah baru. Dhita juga sudah memiliki kendaraan sendiri, sehingga tidak perlu bergantung ke Reza. Di waktu senggang, mereka selalu mengunjungi tempat-tempat romantis berdua. Menonton pertandingan bola di Eropa juga pernah mereka lakukan.
Mereka merasakan indahnya mahligai rumah tangga sampai usia pernikahan ketiga. Karena memasuki tahun keempat, Bu Lastri_ibu mertua Dhita mulai mempertanyakan kesuburan rahimnya. Ada saja yang dipermasalahkan itu. Terlalu sibuk lah dengan pekerjaan, terlalu capek lah, atau kurang asupan nutrisi makanan.
"Dhit, kamu udah ngisi belum sih?” Bu Lastri mulai menginterogasiku saat mereka berkunjung ke rumahnya di awal bulan.
"Belum Bu.” Jawab Dhita sambil tersenyum.
"Periksa dong ke dokter, siapa tahu rahimmu kenapa-kenapa?”
"Iya Bu, nanti kalau ada waktu kami akan memeriksakan diri ke dokter.”
"Luangkan waktu, bukan kalau ada waktu!”
"Iya Bu. Soalnya susah meluangkan waktu bareng-bareng. Kadang saya ada luang, Mas Reza yang gak ada, begitu juga sebaliknya.”
"Gak usah sama Reza, dia sehat. Kami turunan orang yang banyak anak. Kamu aja tuh yang periksa. Kamu kan ada turunan mandul, nah itu tantemu, sampai usia lanjut gak memiliki anak, iya kan?” Bu Lastri berkata menyakitkan.
Dhita kaget mendengar kalimat tersebut. Dia melirik ke arah Reza yang duduk di sampingnya. Maksudnya meminta dukungan kalau periksa ke dokter itu harus berdua, bukan hanya dia saja. Karena menurutnya, belum tentu dia yang bermasalah dalam hal ini, bisa jadi Reza sendiri. Namun di luar dugaan, Reza malah pura-pura tak mendengar apa yang dikatakan ibunya, dan dia malah membahas masalah kerjaan.
Sebenarnya mereka tidak menunda-nunda memiliki momongan, namun kalau Allah belum memberikan kepercayaan kepada mereka, mau apalagi? Berdoa setiap saat, berusaha juga sudah mereka lakukan walaupun belum optimal. Selalu mengkonsumsi makanan yang bernutrisi tinggi dan minum jamu yang katanya bisa menambah kesuburan.
Biasanya berkunjung ke rumah mertuanya merupakan moment yang sangat menyenangkan bagi Dhita. Tiap bulan selalu ditunggu. Namun sejak saat itu, justru dia malas untuk berkunjung ke sana. Karena selalu saja Bu Lastri mengungkit-ungkit masalah anak. Mending kalau bahasanya halus, ini seringkali kasar dan menyakitkan.
"Kalau kamu gak mau periksa ke dokter dan bertahan dengan keputusanmu itu, Reza bisa mencari wanita lain. Laki-laki kan punya hak untuk beristri lebih dari satu.” lagi-lagi pada kunjungan bulan berikutnya Bu Lastri berkata yang membuat telinga dan hati panas.
"Bukan gak mau, Bu. Saya siap kapan saja periksa. Masalahnya di Mas Reza, dia yang menolak terus. Ada aja alasannya.” Dhita mulai berani membela diri.
"Kan ibu sudah Bilang, gak usah sama Reza. Dia itu sehat, keturunan banyak anak. Gak mungkin dia bermasalah.”
"Tapi gak bisa gitu Bu. Kita belum tahu kan masalahnya di siapa? Maka jalan satu-satunya ya periksa ke dokter. Tapi harus dua-duanya, bukan hanya aku aja.” Dhita bertahan dengan pendiriannya.
"Ah kamu alasan aja, ngulur-ulur waktu.” Bu Lastri melangkah ke kamar dengan jengkel. Dia mengomel panjang pendek.
***
Dan bencana itu benar-benar terjadi dua bulan setelah kunjungan terakhir. Sore itu Dhita pulang agak cepat, karena setelah tugas luar ke klien, dia tidak kembali lagi ke kantor. Saat sedang merebahkan diri sambil buka-buka medsos, Bi Asih asisten rumah tangganya mengetuk pintu.
"Masuk aja Bi, gak dikunci kok.” Dhita menjawab ketukan Bi Asih.
"Ada apa Bi?” Dhita langsung bangkit dari tidurnya saat Bi Asih sudah masuk.
"Itu Non, ada ibunya Mas Reza.”
"Ibu Mas Reza?” Dhita mengerutkan kening.
"Iya Non, sama seorang wanita cantik.”
"Wanita cantik?” kening Dhita tambah berkerut.
"Iya Non, itu yang suka pake baju seksi dan super ketat.”
"Emang sebelumnya pernah ke sini?”
Sering, kan temannya Pak Reza, pas pertamakali ke sini, pakai rok segini.” Bi Asih meletakkan tangannya di atas lutut.
"Ya sudah, Bibi bikin minum saja, saya segera menemuinya.” Dita berkata sambil menyambar kembali kerudung yang baru beberapa saat dibuka.
Setelah memakai kembali kerudung dan merapikan baju yang agak kusut karena tadi sempat rebahan, dia keluar kamar. Dhita berjalan ke ruang tamu untuk menemui Bu Lastri. Terdengar suara wanita yang tertawa di sela-sela obrolan. Suara itu terdengar renyah dan manja. Mereka langsung berhenti ketika Dhita sampai di ruang tamu.
"Apa kabar, Bu?” Dhita meraih tangan Bu Lastri untuk salaman, kemudian cipika cipiki.
"Kabarku akan baik kalau mendengar kamu mengandung cucuku, Dhit.” Bu Lastri menjawab tanpa perasaan. Dhita hanya bisa menarik nafas panjang.
"O ya, kenalkan, ini Tari, teman SMAnya Reza.”
"Oooh teman Mas Reza ya?” Dhita tersenyum sambil mengulurkan tangan. Wanita itu menyambut uluran tangan Dhita. Matanya melihat dari atas sampai bawah, seperti menilai penampilannya.
"Rezanya belum pulang ya?” Tari bertanya tanpa menjawab pertanyaan Dhita.
"Belum, Mas Reza biasa pulang sore. Paling cepat sebelum Adzan Maghrib.” Dhita menjelaskan.
"Tapi Tante sudah bilang kan ke Reza kalau aku mau ke sini?” Tari berkata manja ke Bu Lastri
"Sudah, mungkin masih di jalan.”
"Kalau boleh tahu, ada perlu apa ya ke Mas Reza?” Dhita bertanya karena penasaran.
"Dhit, Tari ini adalah cinta pertama Reza. Reza pacaran sama Tari sejak masuk SMA sampai mereka keluar. Cinta mereka berakhir karena Tari melanjutkan kuliah ke luar negeri.” Bu Lastri diam sejenak, karena Bi Asih datang membawa minuman.
"Jadi, maksud ibu membawa Tari ke sini itu, mau merekatkan kembali tali kasih mereka yang sempat terputus.” Bu Lastri berkata enteng sekali. Sementara Dhita yang mendengarnya, merasa bagaikan ditimpa batu yang sangat besar.
"Maksud Ibu?” Dhita bertanya dengan dada turun naik, menahan emosi.
"Ya, seperti yang sering ibu bilang, kalau kamu tak memiliki anak, Reza bisa mencari wanita lain. Dia berhak memilih yang terbaik, wanita subur yang dapat memberikan keturunan. Ingat Dhit, keluarga kami harus memiliki keturunan untuk mewarisi semua kekayaan.”
"Tapi kenapa tiba-tiba Bu?, belum tentu juga saya mandul kan?”
"Gak tiba-tiba, saya sudah bicara sama Reza, dan dia setuju.”
"Apa? Mas Reza setuju untuk menikah lagi?”
"Ya. Siapa sih laki-laki yang gak tergoda dengan Tari? Selain cantik, pintar, dia juga berasal dari keluarga yang kaya. Apalagi diantara mereka pernah punya cerita, gampang sekali menumbuhkan benih-benih cinta itu. Iya kan Tari?” ibunya Reza melirik ke arah Tari.
"Iya Tan, pastinya. Lagian kita tak pernah ada bahasa putus lho, kita terpisah karena keadaan.” Tari berkata manja.
"Tapi Mbak Tari harus sadar, Mas Reza sekarang bukan Mas Reza dulu, dia sudah memiliki istri." Dhita berkata sambil menatapnya tajam.
"Iya tahu, aku gak apa-apa lho kalau dijadikan yang kedua oleh Reza. Yang penting kami bisa bersatu kembali.” katanya enteng.
"Tuh Dhit, Tari juga menerima dijadikan yang kedua, tinggal kamu yang harus legowo.”
"Mana ada wanita yang legowo cintanya dibagi Bu?” Dhita berkata ketus.
"Ya harus legowo lah, kamu itu gak sadar diri dengan kekuranganmu kalo kamu gak legowo.” Bu Lastri menjawab menyakitkan.
"Emang kekuranganku apa Bu? Walaupun aku wanita karier, tapi aku tidak pernah lupa akan kewajiban berbakti pada suami. Suami selalu aku ladeni dengan baik. Sebelum pergi ke kantor aku selalu membuatkan kopi dan sarapan, begitu juga pulang kerja, aku selalu berusaha menyiapkan semua keperluan Mas Reza. Bahkan aku terjun langsung ke dapur untuk membuat makan malam.”
"Kamu masih nanya kekuranganmu apa? Kamu mandul Dhit, tidak bisa memberikan keturunan pada Reza, penerus keluarga kami.”
"Ibu sudah memvonis aku mandul, sementara aku belum pernah ke dokter untuk diperiksa keadaan rahimku bagaimana?”
"Udahlah Dhit terima aja takdirmu itu yang tidak bisa memberikan keturunan kepada Reza.” Tetiba Tari ikut nimbrung.
"Nah itu yang betul.” Bu Lastri berkata dengan semangat, dia menatap Tari penuh rasa sayang
Baru saja Dhita akan membantah perkataan Tari, terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. Dhita bangkit, karena dia yakin itu mobil suaminya. Tujuannya mau menyambut dan bertanya banyak hal tentang Tari, yang menurut ibu mertuanya setuju untuk menikah kembali. Namun belum juga Dhita meraih gagang pintu keluar, Bu Lastri sudah mendahuluinya.
"Biar ibu aja yang menyambutnya.” Katanya sambil mengibaskan tangan Dhita yang hampir meraih gagang pintu. Dhita hanya bisa pasrah, walaupun dadanya terasa sesak.
Dhita mengikuti Bu Lastri berjalan ke halaman untuk menyambut Reza yang baru saja memarkirkan mobilnya. Terlihat Reza keluar dari mobil dengan senyum sumringah. Reza terlihat mencium punggung telapak tangan Bu Lastri dan memeluknya.
"Kok telat Za?”
"Biasalah Bu, di jalan banyak halangannya.” Reza berkata sambil melepaskan pelukannya.
"Sayang, kok jam segini sudah di rumah?” Reza sedikit terkejut melihat keberadaan Dhita.
"Iya tadi pulang ketemu klien gak ke kantor lagi.” Dhita berkata sambil meraih telapak tangan suaminya, dia menciumnya takzim.
"Gak apa-apa. Malah lebih baik ada Dhita di antara kita, biar gak usah ngumpet-ngumpet lagi.”
"Maksudnya apa Bu? Tolong jelaskan Mas, ada apa ini?”
"Kita bicara di dalam aja.” Reza berkata sambil menarik nafas panjang.
"Rezaaaa, kamu tambah ganteng aja.” Tari langsung bangkit dari duduknya saat mereka masuk ke ruang tamu. Tanpa ada rasa sungkan karena ada Dhita istrinya di situ, Tari memeluk erat Reza. Reza terlihat gelagapan mendapatkan perlakuan seperti itu. Dia berusaha mendorong tubuh Tari yang dibalut pakaian serba ketat dan minim.
"Tolong jaga sikap Mbak, aku istri sahnya.” Dhita berkata sambil menatap muka Tari yang masih tersenyum sumringah karena bertemu Reza.
"Sudah-sudah, kita bahas masalah pernikahan Reza dan Tari saja. Gak usah bahas yang lain-lain.” Bu Lastri menatap Dhita, Reza, dan Tari bergantian.
"Kok bahas masalah pernikahan Mas Reza dan Tari Bu? aku juga belum tentu mengizinkan Mas Reza nikah lagi.” Dhita berkata sambil menatap tajam mertuanya.
"Kalau gak mengizinkan, lebih baik kamu mundur saja!” Bu Lastri memberikan ultimatum.
"Mas katakan, apakah benar kamu setuju menikah lagi dengan mantan pacarmu itu?”
Terlihat Reza menarik nafas panjang, dia menatap Dhita, Bu Lastri, dan terakhir Tari. Lalu dia menunduk, dan terdengar suaranya lirih. "Maafkan aku, Sayang!”
Memang hanya itu kata yang keluar dari bibir Reza, namun akibatnya sangat dahsyat. Dhita berteriak kalap, dia melemparkan bantal kursi dari genggamannya.
"Kamu jahat Mas, apa salahku hah? Hingga kamu tega menduakanku dengan wanita ini?”
Dhita berlari ke kamar. Dia tidak menyangka suaminya tega menyakitinya. Padahal semua hal yang dituduhkan ibu mertuanya belum terbukti. Dan yang membuat dia kecewa juga, Reza sama sekali tidak membelanya saat ibunya menuduh bahwa dia mandul.
"Sayang, maafkan aku, aku terpaksa menyetujui permintaan ibu.” Reza menghampiri Dhita yang masih telungkup di atas tempat tidur.
"Seharusnya kamu bisa menjelaskan ke ibu, kalau kita belum sempat periksa. Lagian belum tentu juga aku yang bermasalah Mas, bisa jadi masalahnya ada di kamu.”
"Mana bisa ibu mengerti, Sayang. Kan kamu tahu sendiri gimana keras kepalanya ibu.”
"Tapi tetap kamu salah, Mas. Seharusnya kamu menolak menikahi wanita itu.”
"Gak bisa, Sayang.”
"Gak bisa?” Dhita langsung bangkit dari tidurnya, dia menatap Reza dengan dada turun naik.
"Ya gak bisa, kalau ibu sudah menentukan A, aku bisa apa?”
"Walaupun itu menyakiti istrimu sendiri, Mas?”
"Maafkan aku, Sayang!”
"Atau jangan-jangan kamu malah senang ya, dapat menikahi wanita seksi itu?”
"Tidak begitu, Sayang.”
"Jujur sama aku Mas, sebelum dia ke sini, berapa kali kamu bertemu dengannya?” Terlihat Reza menunduk, dia tidak berani menatap Dhita yang saat itu sangat berapi-api.
"Jawab yang jujur, Mas!”
"Dalam 3 bulan ini hampir setiap hari, karena perusahaannya ada kerjasama dengan perusahaanku.”
"Oohhh pantas saja akhir-akhir ini kamu tugas luar terus, ternyata karena ada dia. Aku tahu sekarang, kamu mau menikahi dia bukan karena dipaksa ibu, tapi memang keinginan sendiri, ya kan?”
"Gak gitu, Sayang.”
"Aku yakin begitu. Baiklah, kalau kamu tetap mau menikahi wanita itu, lepaskan saja aku. Aku tidak sudi diduakan.”
"Sayang, kamu jangan gitu dong. Aku masih mencintai kamu.”
"Kalau itu pilihanmu, bagus. Toh keberadaan kamu juga sudah tidak ada gunanya di samping Reza.” Tetiba Bu Lastri masuk ke dalam kamar.
"Sudah lah Za, talak aja istrimu itu. Buat apa dipertahankan? Toh dia yang memilih mundur.”
"Tapi Bu … “ Reza menatap ibunya.
"Jangan mengemis cinta Za, masih banyak wanita yang mau padamu. Kamu kan tampan dan mapan, mudah sekali menjerat wanita cantik yang selevel denganmu. Liat tuh Tari, dia wanita berpendidikan yang pantas mendampingimu. Selain cantik, dia juga keturunan keluarga yang subur.” Bu Lastri menatap Reza yang tertunduk lesu.
"Sudahlah Za, lepaskan Dhita demi Tari!” Bu Lastri balik badan dan keluar dari kamar.
"Mas, aku memilih mundur. Aku gak mau dimadu. Aku akan memilih pengacara untuk mengurus perceraian kita.”
"Sayang, kamu sadar apa yang kamu katakan?”
"Sadar sesadar-sadarnya, Mas. Sekarang, silahkan Mas keluar dari rumah ini, karena selama ini aku yang membayar cicilannya. Uang yang Mas berikan untuk DP rumah ini, nanti akan aku kembalikan.”
"Sayang, kamu jangan terbawa emosi. Pikirkan perjuangan kita selama ini!”
"Mas jangan naif, Mas kan sudah tahu apa konsekuensinya apabila diantara kita ada yang selingkuh? Jadi biarkan aku mengalah. Aku akan pergi dari kehidupanmu.”
"Ok, kalau itu memang maumu. Moga kamu gak akan menyesal mengambil keputusan itu.”
"Aku akan lebih menyesal bertahan dengan laki-laki pengkhianat.” Dhita menatap laki-laki di depannya.
Setelah itu Reza terlihat membereskan baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam koper. Dia keluar kamar tanpa menoleh lagi pada Dhita. Reza membanting pintu kamar dengan keras. Tidak lama kemudian terdengar suara mobil meninggalkan halaman.
Sepeninggal Reza, Dhita masih menelungkupkan wajahnya ke bantal. Dia menangis tanpa henti. Tak ada ada angin tak ada hujan, badai itu tiba-tiba datang memporakporandakan ikatan suci pernikahannya.
"Non, sudah hampir Isya, sudah shalat belum?” terdengar suara pintu diketuk.
"Masuk aja Bi!”
"Sudah hampir Isya Non.” Bi Asih melongokkan kepalanya.
"Saya lagi gak shalat Bi.”
"Ooh, kalau gitu makan malam dulu yuk!, ini bibi sudah bikin sup jagung kesukaan Non.”
"Saya belum lapar, Bi.”
"Ayolah Non, jangan biarkan perut Non kosong!”
"O ya Bi, tadi Bibi bilang kalau teman Mas Reza yang tadi itu, pernah ke rumah ini sebelumnya?”
"Oh sering Non, kalau Non dinas luar atau pas Non ke Bandung karena mama Non operasi usus buntu, pasti Pak Reza bawa wanita itu. Malah pernah dibawa nginep di rumah ini.”
"Apa? Nginep?”
"Iya Non. Maafkan bibi ya Non, bibi gak berani bilang ke Non, karena Pak Reza mengancam akan memecat saya, kalau saya melaporkan hal itu ke Non.”
"Waktu nginep suka tidur di mana Bi?”
"Ya di kamar ini Non, bahkan pernah pakai baju tidur Non Dhita.”
"Astaghfirullāhal Adzīm”
"Sebaiknya laki-laki macam Pak Reza itu tinggalkan saja Non. Gak usah dipertahankan!"
"Iya benar Bi, saya memang akan menggugat cerai. Apalagi tahu kelakuan Mas Reza di belakang saya seperti itu.”
"Ya sudah, sekarang Non makan dulu!”
"Baiklah Bi, tapi temenin ya?”
"Iya Non.”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!