Hujan gerimis membasahi jalan tanah yang becek. Dewanga berdiri di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar kayu yang mulai lapuk. Tangannya gemetar memegang kantong plastik berisi pisang dan kue—hadiah sederhana yang ia beli dengan uang hasil kerja seminggu sebagai kuli bangunan.
Usia delapan belas tahun, tapi wajahnya sudah menampakkan garis-garis lelah. Kulitnya gelap terbakar matahari, tangannya kasar penuh kapalan. Baju koko putih yang ia kenakan adalah satu-satunya baju bagus yang ia punya—sudah dicuci berkali-kali hingga warnanya agak keabuan.
Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantung yang berpacu kencang. Di dalam sana, ada Anis. Gadis yang sudah ia sukai sejak setahun lalu. Gadis yang selalu tersenyum padanya saat mereka bertemu di pasar. Gadis yang membuat hatinya berdebar setiap kali melintas di pikirannya.
"Bismillah," bisiknya pelan.
Dewanga mengetuk pintu dengan ragu. Ketukan pertama terlalu pelan, hampir tak terdengar. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras.
Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya—Ibu aiysah—muncul dengan wajah datar. Matanya memindai Dewanga dari atas ke bawah, dan dalam sekejap, Dewanga bisa melihat kekecewaan di sana.
"Ada perlu apa?" tanya wanita itu ketus.
"Selamat sore, Bu. Saya... saya Dewanga. Saya ingin bertemu dengan Bapak dan Ibu untuk... untuk membicarakan sesuatu yang penting." Suaranya bergetar, tapi ia berusaha terdengar mantap.
Ibu Aisyah tidak menjawab. Ia hanya menatap Dewanga lebih lama, lalu memanggil ke dalam rumah, "Pak! Ada orang!"
Bapak Aisyah muncul—pria tegap dengan kumis tebal dan pandangan tajam. Ia berdiri di ambang pintu, tidak mempersilakan Dewanga masuk.
"Iya, ada apa?" tanyanya dengan nada yang tidak ramah.
Dewanga menelan ludah. Tangannya semakin basah oleh keringat.
"Pak, Bu, saya datang dengan niat yang baik. Saya... saya ingin melamar Aisyah. Saya tahu saya masih muda, tapi saya serius. Saya akan bekerja keras untuk—"
"Berhenti." Bapak Anis mengangkat tangan, memotong kalimat Dewanga dengan tegas. "Kamu kerja apa?"
"Saya... saya kerja sebagai kuli bangunan, Pak. Kadang bantu-bantu di pasar juga."
"Kuli bangunan?" Bapak Aisyah mendengus, seolah mendengar lelucon yang tidak lucu. "Kamu pikir dengan kerja kayak gitu kamu bisa nafkahin anak saya? Kamu bisa kasih dia makan setiap hari? Bayar sekolah anak nanti? Beli baju layak?"
"Saya akan berusaha, Pak. Saya janji saya akan—"
"Janji?" Ibu Aisyah menyela dengan suara nyinyir. "Janji gak bisa buat kenyang, Nak. Apalagi kamu masih muda gini. Sekolah aja gak tamat, kan? Yatim lagi. Masa depan kamu apa?"
Kata-kata itu menusuk seperti pisau.
Dewanga terdiam. Bibirnya bergetar. Ia ingin membantah, ingin bilang bahwa ia punya mimpi, punya rencana. Tapi semua kata itu mentah di tenggorokan, tertahan oleh kenyataan yang keras.
"Pak, Bu, saya memang belum punya banyak sekarang. Tapi saya akan bekerja keras. Saya akan—"
"Sudah, sudah." Bapak Aisyah melangkah mundur, tangannya sudah di gagang pintu, siap menutupnya. "Anak saya sudah ada yang lamar. Orang yang punya pekerjaan tetap, rumah sendiri, masa depan jelas. Kamu masih muda, pikirin masa depan kamu sendiri dulu. Jangan mimpi yang muluk-muluk."
"Tapi Pak—"
BRAK!
Pintu ditutup tepat di hadapan wajah Dewanga.
Ia berdiri di sana, terpaku. Kantong plastik berisi pisang dan kue masih tergenggam erat di tangannya yang gemetar.
Hujan turun lebih deras.
Air mata mengalir perlahan di pipi Dewanga, bercampur dengan tetesan hujan. Ia tidak bergerak, seolah tubuhnya kehilangan kekuatan.
Dari dalam rumah, ia mendengar suara Bapak Aisyah berbicara keras—mungkin pada Anis.
"Jangan pernah dekati anak itu lagi! Dia gak ada masa depannya! Miskin, kerja gak menentu, yatim lagi! Kamu mau sengsara seumur hidup?!"
Lalu suara tangis Aisyah yang tertahan.
Dewanga menutup matanya. Dadanya sesak. Ia ingin berteriak, tapi suaranya hilang.
Perlahan, ia berbalik. Kakinya melangkah gontai menjauhi rumah itu, meninggalkan kantong plastik di depan pintu—hadiah yang tak akan pernah diterima.
Hujan membasahi seluruh tubuhnya.
Di kejauhan, lampu-lampu rumah menyala hangat. Orang-orang berkumpul dengan keluarga mereka. Tertawa. Makan bersama.
Tapi Dewanga berjalan sendirian dalam gelap.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa mungkin, memang benar—ia tidak cukup untuk siapa pun.
#
Dewanga duduk di emperan sebuah warung tutup, memandangi gerimis yang masih membasahi jalanan. Tubuhnya basah kuyup, tapi ia tidak peduli. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah foto lusuh yang terlipat—foto keluarganya saat ia masih kecil.
Ayah, Ibu, dirinya yang masih bocah, dan Agung yang lebih muda.
Air mata kembali mengalir saat jari-jarinya menelusuri wajah ayahnya dalam foto itu.
***
**5 tahun yang lalu. Dewanga kelas 9 SMP.**
"Dewa! Dewa, ayo bangun! Bantu Ibu masak dulu sebelum sekolah!"
Suara itu membangunkan Dewanga dari tidur singkatnya. Ia mengucek mata, melirik jam dinding—pukul 03.30 dini hari.
Ia bangun dengan cepat, keluar dari kamar kecil yang ia bagi dengan Agung. Adiknya yang duduk di kelas 3 SD masih terlelap pulas.
Di dapur sempit, Rini sudah sibuk memotong sayuran. Di sampingnya, Pak Sentanu—ayah Dewanga—terbatuk-batuk keras sambil mengangkat panci besar berisi air untuk memasak nasi.
"Yah, istirahat dulu. Biar Dewa yang angkat," kata Dewanga cepat, mengambil alih panci dari tangan ayahnya.
"Gak apa-apa, Nak. Ayah masih kuat," jawab Pak Sentanu dengan suara serak, lalu terbatuk lagi—lebih keras, lebih lama.
Dewanga menatap ayahnya dengan dada sesak. Wajah Pak Sentanu yang dulunya tampan dan segar kini kurus kering. Tulang pipinya menonjol. Matanya cekung. Kulitnya pucat keabu-abuan.
Sudah delapan tahun.
Delapan tahun ayahnya menderita penyakit yang tidak pernah jelas apa namanya. Dokter puskesmas bilang paru-parunya bermasalah, ada yang bilang liver, ada yang bilang jantung lemah. Mereka tidak punya uang untuk periksa ke rumah sakit besar.
Yang pasti, setiap hari Pak Sentanu semakin kurus. Setiap hari batuknya semakin parah.
Tapi setiap hari, ia tetap bekerja.
***
Pukul 04.30 pagi, warung nasi sederhana mereka sudah siap.
Sebuah gerobak kayu beroda dengan terpal plastik sebagai atap. Nasi putih, sayur lodeh, tempe goreng, tahu goreng, telur dadar—menu sederhana untuk pekerja kasar yang mulai berangkat kerja pagi buta.
Pak Sentanu mendorong gerobak itu sendiri menuju emperan jalan raya, sekitar 500 meter dari rumah mereka. Dewanga membantu mendorong dari belakang, melihat punggung ayahnya yang membungkuk, tangannya yang gemetar memegang gagang gerobak.
"Yah, biar Dewa yang dorong," kata Dewanga, suaranya bergetar.
"Gak usah. Kamu sekolah. Belajar yang bener. Ayah gak papa."
"Tapi Ayah—"
"Dewa." Pak Sentanu berhenti sejenak, menoleh pada anaknya dengan tatapan lembut tapi tegas. "Ayah masih bisa. Selama Ayah masih bisa, Ayah akan kerja. Demi kamu dan Agung. Biar kalian bisa sekolah. Biar kalian gak kayak Ayah."
Dewanga menunduk, menahan tangis.
Mereka sampai di emperan jalan raya. Langit masih gelap. Lampu jalan menerangi samar-samar.
Pak Sentanu mulai menyiapkan warung. Memasang terpal, menata piring-piring, menyalakan kompor gas kecil untuk menghangatkan makanan.
"Dewa, pulang sana. Sekolah jam 7 kan? Berangkat jam 6. Tidur lagi satu jam."
"Gak apa-apa, Yah. Dewa gak ngantuk."
"Bohong. Matamu udah merah. Pulang. Ayah bisa sendiri."
Dewanga tahu ia tidak boleh membantah. Ia mengangguk pelan, lalu berlari kembali ke rumah.
Dari kejauhan, ia menoleh. Melihat sosok ayahnya duduk sendirian di depan gerobak, terbatuk-batuk, memegang dadanya yang sakit, tapi tetap menyiapkan warung dengan tangan gemetar.
***
Siang hari, setelah warung tutup sekitar pukul 10 pagi, Pak Sentanu tidak istirahat.
Ia langsung pergi bekerja sebagai kuli bangunan.
Mengangkat semen. Mengaduk cor. Memikul batu bata. Tubuhnya yang sudah kurus dan sakit tetap dipaksa bekerja.
"Pak, istirahat dulu. Bapak kelihatan pucat," kata Pak Gunawan, mandor proyek, dengan nada khawatir.
"Gak papa, Pak. Saya masih kuat. Anak-anak saya masih sekolah. Saya harus kerja," jawab Pak Sentanu sambil tersenyum lemah.
Tapi di balik senyum itu, tubuhnya gemetar. Keringatnya bercucuran bukan karena panas, tapi karena demam yang ia sembunyikan.
Pak Gunawan hanya bisa menggeleng sedih. Ia tahu kondisi Pak Sentanu, tapi ia juga tahu kebanggaan seorang ayah yang tidak mau menyerah.
***
Malam hari, sekitar pukul 7 malam, Pak Sentanu kembali membuka warung nasi di emperan jalan raya yang sama.
Kali ini untuk pekerja malam, supir truk, pedagang pasar malam.
Rini menemaninya. Mereka berdua melayani pembeli dengan senyum, meski tubuh mereka sudah remuk.
Dewanga datang setelah belajar, membawa Agung. Mereka duduk di belakang gerobak, mengerjakan PR dengan lampu seadanya.
"Yah, Dewa bantuin jualan ya?" tawar Dewanga.
"Gak usah. Kamu kerjain PR. Besok ulangan kan?"
"Udah selesai, Yah."
Pak Sentanu tersenyum, mengusap kepala anaknya. "Anak Ayah pinter. Ayah bangga."
Dewanga tersenyum, tapi hatinya hancur.
Ia melihat ayahnya yang terus terbatuk, memegang dada, menahan sakit, tapi tetap tersenyum pada setiap pembeli.
***
Pukul 11 malam, warung tutup.
Pak Sentanu dan Rini mendorong gerobak kembali ke rumah. Dewanga dan Agung membantu.
Sampai di rumah, Pak Sentanu langsung ambruk di kasur tipis mereka.
"Yah! Ayah kenapa?!" Dewanga panik.
"Gak papa, Dewa. Ayah cuma capek. Tidur sebentar aja."
Rini menangis dalam diam, mengompres dahi suaminya yang panas.
Pak Sentanu hanya tidur satu jam—dari pukul 11 malam hingga tengah malam.
Lalu ia bangun lagi.
Membantu Rini memasak untuk warung besok pagi.
Memotong sayuran. Menggoreng tempe. Menyiapkan bumbu.
Tubuhnya limbung. Tangannya gemetar. Keringatnya dingin.
Tapi ia tidak berhenti.
"Pak, istirahat. Biar saya yang masak sendiri," pinta Rini sambil menangis.
"Gak bisa, Bu. Kamu juga capek. Kita kerjain bareng, cepet selesai."
"Pak, kumohon..."
"Bu." Pak Sentanu menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. "Ini yang bisa Ayah lakukan buat anak-anak kita. Biar mereka sekolah. Biar mereka gak susah kayak kita. Biar mereka punya masa depan."
Rini memeluk suaminya, menangis tersedu-sedu.
Dewanga melihat dari celah pintu kamar. Ia menggigit bibir, menahan tangis, tapi air mata tetap mengalir.
***
**Pagi itu. Hari yang mengubah segalanya.**
Dewanga bangun pukul 3.30 seperti biasa.
Tapi kali ini, ayahnya tidak membangunkannya.
Ia keluar kamar, menuju dapur.
Di sana, Rini duduk di lantai, memeluk tubuh Pak Sentanu yang tergeletak lemah.
"IBU! AYAH KENAPA?!" Dewanga berteriak panik.
"Dewa... panggil tetangga... cepat... Ayah... Ayah gak bangun..." Suara Rini putus-putus di antara isak tangis.
Dewanga berlari keluar, membangunkan tetangga.
Mereka membawa Pak Sentanu ke puskesmas dengan dipapah oleh beberapa orang.
Tapi sudah terlambat.
Tubuh Pak Sentanu sudah terlalu lemah. Delapan tahun ia memaksakan diri bekerja siang malam tanpa istirahat, dengan penyakit berat yang terus menggerogoti tubuhnya.
Pukul 05.47 pagi, Pak Sentanu meninggal di ruang UGD puskesmas.
Kata-kata terakhirnya untuk Dewanga:
"Dewa... jaga adikmu... jaga Ibumu... Ayah... mohon maaf... gak bisa... kasih kalian hidup yang layak... tapi Ayah... udah... berusaha..."
Dan Pak Sentanu memejamkan mata untuk selamanya.
***
Dewanga kembali ke masa kini, masih duduk di emperan warung tutup, memegang foto ayahnya yang lusuh.
Air matanya mengalir deras.
"Ayah... maafin Dewa..." bisiknya parau. "Dewa... gak bisa bikin Ayah bangga... Dewa... masih gagal terus..."
Hujan deras mengguyur.
Dan Dewanga menangis sendirian dalam gelap—sama seperti malam ketika ayahnya meninggalkan dunia ini.
**[Bab 2 Selesai]**
*Dewanga membawa luka yang dalam—kehilangan sosok ayah yang bekerja hingga titik darah penghabisan. Trauma itu membentuknya menjadi seseorang yang takut gagal, yang ingin membuktikan diri, yang mencari penerimaan dengan cara apa pun. Bahkan jika itu berarti menikahi wanita yang salah.*
#
Tiga bulan setelah kematian ayahnya, Dewanga duduk di teras rumah sederhana mereka yang mulai terlihat semakin kumuh. Cat dinding mengelupas. Genteng bocor di beberapa tempat. Halaman depan dipenuhi rumput liar yang tak sempat dipotong.
Di tangannya, selembar kertas putih—surat tagihan SPP yang sudah tertunggak tiga bulan.
Ia menatap kertas itu dengan pandangan kosong. Dadanya sesak. Tenggorokannya tercekat.
Dari dalam rumah, terdengar suara Rini yang batuk-batuk—batuk kering yang sudah berlangsung berminggu-minggu. Ibunya tidak mau berobat. "Nanti sembuh sendiri, Dewa. Uangnya buat kalian sekolah aja," katanya selalu.
Dewanga menutup mata, menahan air mata yang sudah menggenang.
***
Sejak Pak Sentanu meninggal, segalanya runtuh.
Warung nasi yang menjadi sumber penghasilan utama keluarga mereka tidak lagi bisa berjalan. Rini mencoba melanjutkannya sendirian, tapi tubuhnya tidak sekuat dulu. Ia sering sakit. Sering terbatuk-batuk. Sering pusing hingga tidak bisa berdiri.
Gerobak warung yang biasa diparkir di emperan jalan raya kini tergeletak begitu saja di samping rumah, terpal plastiknya robek, rodanya berkarat.
"Ibu sudah coba, Dewa. Tapi Ibu gak kuat. Maafin Ibu..." Rini menangis saat mengakui kegagalannya di hadapan anak sulungnya.
Dewanga tidak bisa menyalahkan ibunya. Ia melihat sendiri bagaimana Rini berjuang—bangun pagi, memasak, mendorong gerobak sendirian, melayani pembeli dengan tubuh yang gemetar. Tapi semuanya sia-sia.
Pembeli mulai berkurang. Banyak yang beralih ke warung lain yang lebih lengkap, lebih bersih. Penghasilan warung anjlok drastis. Utang mulai menumpuk—utang bahan makanan ke pedagang sayur, utang gas ke toko, utang uang sekolah anak-anak.
Dan yang paling menyakitkan: usaha peninggalan ayahnya yang dibangun dengan darah dan keringat selama bertahun-tahun... bangkrut.
Gerobak dijual murah untuk bayar sebagian utang. Peralatan masak dijual. Bahkan lemari kayu tua di rumah mereka ikut dijual.
Tapi semua itu masih belum cukup.
***
Dewanga masuk ke dalam rumah. Rini sedang duduk di dapur, menatap kosong kompor gas yang sudah habis isinya. Di depannya, hanya ada sebutir bawang merah dan segenggam beras yang tersisa.
"Bu..." Dewanga duduk di sebelah ibunya.
Rini menoleh, berusaha tersenyum. Tapi senyum itu rapuh, penuh kepedihan.
"Dewa, kamu udah makan?" tanya Rini dengan suara serak.
"Udah, Bu. Di sekolah tadi." Dewanga berbohong. Ia tidak makan sejak kemarin sore. Perutnya keroncongan, tapi ia tidak mau membuat ibunya sedih.
"Syukurlah..." Rini menghela napas lega.
Hening.
Dewanga merogoh saku, mengeluarkan surat tagihan SPP. Ia meletakkannya di lantai, di antara dirinya dan ibunya.
Rini menatap surat itu. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
"Dewa... Ibu..." Suara Rini pecah. "Ibu gak punya uang, Nak. Ibu gak bisa bayar ini..."
"Ibu, gak apa-apa." Dewanga berusaha terdengar tegar, meski hatinya hancur. "Dewa bisa kerja. Dewa cari uang sendiri."
"Tapi sekolah kamu—"
"Sekolah bisa nanti, Bu. Sekarang yang penting kita makan dulu. Agung masih kecil, dia harus sekolah. Dewa udah kelas 2 SMA, udah gede. Dewa bisa kerja."
"Dewa..." Rini menangis. Ia meraih tangan anaknya, mencengkramnya erat. "Maafin Ibu, Nak. Maafin Ibu gak bisa kasih kalian kehidupan yang layak. Maafin Ibu gak sekuat Ayah kalian..."
Dewanga memeluk ibunya. Menangis dalam diam.
"Ibu udah kuat, Bu. Ibu udah berjuang. Sekarang giliran Dewa yang berjuang."
***
Keesokan harinya, Dewanga pergi ke sekolah untuk mengurus surat pindah.
Tidak ada surat pindah yang sebenarnya. Ia hanya bilang pada guru BK bahwa ia harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi.
"Dewa, kamu anak yang pintar. Sayang banget kalau kamu berhenti sekolah sekarang. Sebentar lagi kamu kelas 3, tinggal satu tahun lagi lulus," kata Bu Retno, guru BK-nya, dengan nada sedih.
"Ibu, saya gak punya pilihan. Ibu saya sakit. Adik saya masih SD. Kalau saya gak kerja, kami gak makan."
Bu Retno terdiam. Ia tahu kondisi ekonomi Dewanga. Ia tahu perjuangan anak itu.
"Kalau ada yang bisa Ibu bantu—"
"Sudah cukup, Bu. Terima kasih sudah ngajarin saya selama ini." Dewanga membungkuk hormat, lalu berbalik pergi.
Ia berjalan keluar dari gerbang sekolah untuk terakhir kalinya.
Teman-temannya melambaikan tangan dari kejauhan. Beberapa ada yang menangis—mereka tahu Dewanga tidak akan kembali lagi.
Dewanga tidak menoleh. Ia terus berjalan, meski air matanya mengalir deras.
***
Sore itu, Dewanga pergi ke proyek bangunan tempat ayahnya dulu bekerja.
Pak Gunawan, mandor proyek, masih mengingatnya.
"Dewa? Kamu udah gede ya, Nak. Gimana kabar Ibu?" tanya Pak Gunawan.
"Ibu baik, Pak. Pak, saya... saya mau nanya. Apakah saya bisa kerja di sini? Jadi kuli bangunan. Seperti Ayah dulu."
Pak Gunawan terdiam. Ia menatap Dewanga—anak muda berusia 17 tahun, tubuhnya kurus, wajahnya pucat, tapi matanya penuh tekad.
"Dewa, kamu masih sekolah kan?"
"Udah gak, Pak. Saya berhenti. Saya harus cari uang."
Pak Gunawan menghela napas panjang. Ia ingat Pak Sentanu. Ia ingat bagaimana pria itu bekerja keras hingga titik darah penghabisan demi anak-anaknya.
"Baiklah. Kamu bisa mulai besok. Tapi inget, kerja di sini berat. Kamu yakin kuat?"
"Saya kuat, Pak. Saya anak Pak Sentanu. Saya harus kuat."
Pak Gunawan tersenyum sedih. Ia menepuk bahu Dewanga.
"Iya. Kamu memang anak Pak Sentanu."
***
Malam itu, Dewanga pulang dengan langkah gontai.
Ia duduk di teras, menatap langit yang gelap. Bintang-bintang bersinar samar.
"Ayah..." bisiknya pelan. "Dewa janji. Dewa akan jaga Ibu dan Agung. Dewa akan kerja keras kayak Ayah. Dewa gak akan menyerah."
Angin malam berhembus dingin.
Dari dalam rumah, terdengar Agung yang tertawa kecil—adiknya sedang menggambar sesuatu dengan pensil tumpul dan kertas bekas.
Dewanga tersenyum pahit.
"Agung harus sekolah. Agung harus jadi orang penting. Salah satu dari kami harus berhasil."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Dewanga tidur dengan sedikit tenang—karena ia sudah memutuskan untuk menjadi tulang punggung keluarganya.
Sekalipun itu berarti mengorbankan masa depannya sendiri.
***
**Esok paginya.**
Dewanga bangun subuh. Ia memakai celana panjang lusuh dan kaos oblong yang sudah pudar warnanya.
Rini melihat anaknya bersiap-siap. "Dewa mau kemana?"
"Kerja, Bu. Jadi kuli bangunan."
Rini menangis. "Dewa... kamu masih muda, Nak..."
"Ayah dulu juga muda, Bu. Tapi Ayah kerja keras buat kita. Sekarang giliran Dewa."
Dewanga memeluk ibunya sebentar, lalu pergi.
Ia berjalan di jalanan yang masih sepi. Matahari belum terbit sepenuhnya. Embun pagi membasahi jalanan.
Di tangannya, tas kresek berisi botol minum dan sebungkus nasi sisa semalam.
Dan di hatinya, sebuah janji yang tidak akan pernah ia ingkari:
**"Aku akan bertahan. Aku akan bekerja. Aku akan hidup. Demi Ibu. Demi Agung. Demi Ayah yang sudah tiada."**
---
**[Bab 3 Selesai]**
*Dewanga kehilangan masa remajanya. Kehilangan kesempatan menyelesaikan sekolah. Kehilangan mimpi-mimpinya. Tapi ia memilih bertahan—karena itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Dan pilihan ini akan membentuk dirinya menjadi seorang pria yang terlalu cepat dewasa, terlalu cepat lelah, dan terlalu putus asa untuk diterima oleh siapa pun.*
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!