Kenanga mengendarai mobilnya menuju rumah sang mertua dengan senyum mengambang. Sebagai seorang menantu dia merasa sangat bahagia karena begitu dicintai dan disayangi layaknya anak sendiri. Selama ini kedua mertuanya memang memperlakukannya dengan begitu baik, bahkan membuat orang-orang sekitar Kenanga merasa iri.
Kebanyakan dari mereka selalu diperlakukan buruk oleh mertua mereka. Selayaknya mertua dan menantu pada umumnya, selalu saja ada perbedaan dan hingga membuat hubungan keluarga jadi tidak begitu baik.
Sudah dua puluh tahun Kenang menjadi seorang istri dari Bima Baskara. Selama itu pula dia selalu diperlakukan baik meski dirinya belum bisa memberikan kebahagiaan kepada suami dan mertuanya. Sampai saat ini Kenanga memang belum memiliki seorang anak dari rahimnya sendiri, tapi bagi suami dan mertuanya itu bukanlah masalah.
Di dalam keluarga itu juga sudah ada anak Bima dari pernikahan sebelumnya. Sebelum menikah dengan Kenanga, Bima memang sudah menikah dengan seorang wanita. Namun, pernikahan mereka akhirnya kandas. Kenanga juga mengenal wanita itu, hanya saja dia sama sekali tidak pernah membahasnya karena tidak ingin menimbulkan masalah.
Kenanga khawatir menyakiti hati sang suami. Bagaimanapun juga masa lalu bukanlah hal yang baik untuk kembali dibicarakan, pasti akan menimbulkan luka. Meskipun selama ini Bima selalu terlihat baik-baik saja, tapi sebagai seorang istri dia tahu hati sang suami pernah terluka oleh masalalu.
Mobil yang dikendarai Kenanga memasuki halaman rumah sang mertua. Wanita itu mengerutkan keningnya saat melihat keberadaan mobil sang suami di sana. Seharusnya saat ini Bima berada di kantor. Apalagi tadi pagi pria itu mengatakan jika ada meeting penting, tapi mengapa sekarang ada di sini.
Kenanga tidak mau berpikir terlalu banyak. Mungkin saja Bima ingin bertemu dengan ibunya atau mungkin ada sesuatu hal yang dibicarakan dengan keluarganya. Kalau soal pekerjaan, bukankah ayah mertuanya juga masih bekerja di perusahaan. Mereka pasti sudah bertemu di sana.
Kenanga menggelengkan kepalanya pelan, tidak ingin terlalu berpikir berlebihan. Dia pun memasuki rumah mertuanya yang kebetulan pintunya terbuka. Wanita itu melihat dua pembantu yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah.
Kenanga pun menyapa salah satunya dan bertanya, "Selamat siang, Bik? Mama ada?"
"Ada, Bu, di belakang tadi sama Pak Bima juga."
"Kalau papa sudah pergi ke kantor apa masih di rumah?"
"Bapak kebetulan ada di belakang juga, Bu."
"Kalau begitu saya ke belakang dulu. Oh ya, saya membawa makanan, saya taruh di meja makan nanti tolong diangetin ya saat mau makan siang," ujar Kenanga sambil menunjukkan rantang makanan yang dia bawa dari rumah.
"Iya, Bu. Saya lanjutkan pekerjaan dulu. Nanti saat jam makan siang akan saya siapkan."
"Iya, saya ke dalam dulu."
Kenanga pun berjalan ke belakang. Dia meletakkan rantang makanan di atas meja makan terlebih dahulu, barulah berjalan menuju tempat di mana kedua mertua dan suaminya berada.
Samar-samar Kenanga mendengar suara orang berbicara. Dia yakin jika itu kedua mertua dan suaminya. Namun, saat langkahnya cukup dekat, wanita itu menghentikan langkahnya. Kenanga dapat mendengar jika mereka tengah membicarakan dirinya.
Itu karena namanya disebut padahal dia tidak berada di sana. Yang lebih membuat Kenanga terkejut adalah isi dari percakapan mereka. Tubuhnya membeku, tidak percaya dengan apa yang dibicarakan oleh mereka.
"Sampai berapa lama kamu menyembunyikan semua ini dari Kenanga? Cepat atau lambat dia pasti akan tahu apa yang terjadi. Saat itu tiba dia pasti akan sangat terluka," ucap Rudi—ayah Bima.
"Papa ini kenapa, sih? Takut sekali sama Kenanga. Memangnya kenapa kalau Kenanga tahu jika Bima menjalani kembali hubungan dengan Alicia? Diantara Bima dan Alicia sudah ada Davina, jadi Alicia lebih berhak atas Bima daripada Kenang," sela Sophia—ibu Bima—dengan suara ketus.
"Apa maksud Mama berkata seperti itu? Bagaimanapun juga Alicia dan Bima sudah bercerai dan sekarang Kenanga lah istri Bima."
"Tapi aku tidak pernah mencintai Kenanga, Pa. Papa tahu sendiri jika aku menikah dengan Kenanga itu karena terpaksa, demi perusahaan kita," sela Bima dengan frustasi.
"Itu kamu tahu alasannya. Kalau tidak ada Kenanga dan keluarganya, perusahaan kita akan bangkrut. Keluarga Kenanga memang berasal dari kampung, tapi harta yang mereka miliki lebih besar dari milik kita. Keluarga Kenanga punya perkebunan dan sawah yang luas. Semuanya dikerjakan para petani ahli hingga setiap kali panen menghasilkan puluhan juta rupiah, bahkan ratusan juta."
"Tapi tetap saja cinta tidak bisa dipaksakan, Pa. Mau berapa lama lagi aku harus bertahan dalam rumah tangga yang penuh keterpaksaan ini? Ini sudah dua puluh tahun. Sekarang Alicia juga sudah kembali. Aku ingin hidup bahagia di akhir hidupku dengan dia, bersama dengan anak kami juga. Davina juga ingin bersama dengan ibu kandungnya."
"Davina sudah bertemu dengan ibunya?"
"Iya, mereka sudah beberapa kali pergi bersama karena itu Davina ingin tinggal bersama dengan ibu kandungnya. Minggu kemarin Davina juga menginap di rumah ibunya."
Air mata Kenanga mengalir dengan deras. Ternyata kebahagiaan rumah tangga yang selama ini dia jalani hanyalah sebuah kebohongan. Kebaikan yang diberikan oleh suami dan kedua mertuanya hanyalah kepalsuan. Belum lagi anak sambungnya yang selama ini sudah dianggap seperti putrinya sendiri, ternyata di belakang sama saja seperti keluarga yang lain.
Kenanga teringat hari Minggu kemarin, Davina pamit pergi padanya dan mengatakan jika akan menginap di rumah temannya karena ada tugas kelompok. Saat itu Davina jelas tahu jika Kenanga sudah memesan restoran untuk makan bersama keluarga. Dia sudah memberitahu suami dan putrinya jauh-jauh hari agar tidak bertabrakan dengan jadwal mereka, tapi pada akhirnya Davina tetap pergi dengan alasan tugas.
Biasanya satu bulan sekali Kenanga dan keluarganya memang makan bersama di sebuah restoran mewah. Itu untuk mengeratkan hubungan keluarga, sesekali bersenang-senang juga agar tidak jenuh dengan kegiatan sehari-hari, tapi ternyata Davina malah pergi. Kenanga kira putrinya benar-benar memiliki tugas kelompok dengan temannya, tapi ternyata itu hanyalah sebuah kebohongan.
"Kalau Davina saja sudah menginginkan ibunya sebaiknya kamu katakan saja yang sejujurnya pada Kenanga, daripada dia harus hidup dalam kebohongan yang sudah kamu ciptakan," ujar Rudi dengan berat hati.
"Tidak bisa seperti itu dong, Pa. Perusahaan kita saat ini belum benar-benar kuat, bagaimana kalau Kenanga dan keluarganya menuntut kita dan meminta uangnya kembali," sela Sophia.
"Sudah seperti ini mau bagaimana lagi? Mama juga seorang wanita, tidakkah berpikir bagaimana perasa Kenanga sekarang?"
"Papa ini selalu saja membela Kenanga. Anak Papa itu Bima, jangan selalu membela wanita itu."
"Papa tidak membelanya, tapi mau sampai kapan rahasia ini akan terus ditutupi sementara Bima dan Davina ingin bersama Alicia?"
"Sampai perusahaan benar-benar kuat dan tidak membutuhkan bantuan dana lagi dari keluarga Kenanga," ujar Sophia dengan memandang ke depan.
Dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi hingga membuat perusahaan keluarganya goyah. Sophia tidak ingin hidup susah lagi seperti dulu. Sudah cukup usahanya selama ini hingga sampai di titik ini. Apa pun akan dia lakukan agar usaha keluarga lebih berkembang.
Meskipun dalam hati Sophia merasa bersalah pada Kenanga, tapi mau bagaimana lagi jika keadaan sudah memaksanya untuk mengambil jalan seperti ini. Semoga menantunya itu mau mengerti jika pada akhirnya semua terbongkar.
"Ma, bukankah perusahaan kita sudah kuat? Sudah tidak ada masalah lagi. Masalah dana juga sudah teratasi," ucap Bima.
"Tidak. Perusahaan kita masih perlu dukungan. Mama lebih mengerti daripada kamu."
"Benar apa yang dikatakan mamamu. Meskipun Papa tidak setuju dengan rencana ini, tapi mau bagaimana lagi ... keluarga Kenanga memang satu-satunya harapan kita. Apalagi bulan depan ada tender besar dan kamu harus memenangkannya. Kamu juga masih butuh dana untuk itu," ujar Rudi.
Bima memandang sang papa. Dia hampir lupa dengan tender tersebut. Kali ini Bima kembali harus menahan keinginannya untuk berpisah dengan Kenanga. Entah butuh berapa lama lagi dirinya harus menahan perasaannya.
Bima yakin tender yang akan dikerjakan kali ini pasti akan memakan waktu, mengingat seberapa besar tender tersebut. Apalagi saingan dalam bisnis kali ini perusahaan besar. Kalau dia tidak mendapatkan dana yang besar, sudah pasti akan kalah.
Bima menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Baiklah, kali ini aku akan mengalah, tapi setelah proyek ini selesai aku akan menceraikan Kenanga. Aku tidak bisa menunggu lagi."
"Berdoa saja semoga kamu memenangkan tender itu. Jika tidak sudah pasti kamu harus menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama dengan Kenanga. Itu hanya untuk membuat perusahaan lebih kuat lagi karena hanya proyek itu jalan satu-satunya untuk memperkuat perusahaan kita. Ingatlah jika nilai proyek itu tidak main-main. Jumlahnya sangat besar dan hasilnya pun juga luar biasa."
"Papa tenang saja, kali ini aku tidak akan mengecewakan Papa."
"Semoga saja."
Bima membulatkan tekadnya jika tender kali ini dirinya harus menang agar perusahaannya lebih kuat. Ini nantinya juga menjadi jalan bagi dirinya untuk berpisah dengan Kenanga. Tanpa Bima tahu jika rencananya mungkin tidak akan berjalan dengan lancar. Itu karena orang yang menjadi alasan di balik rencana itu telah mengetahui semuanya.
Dalam hati Kenanga berjanji tidak akan membiarkan sang suami menang tender kali ini. Awalnya tadi Kenanga masih ingin mempertahankan rumah tangganya, tapi mengingat jika keluarga ini tidak ada satu pun orang yang menginginkan keberadaannya di sini, maka dari itu dia lebih memilih pergi.
Namun, Kenanga tidak mungkin pergi begitu saja. Pasti keluarga Bima akan mempersulit dirinya karena itu dia butuh bukti kecurangan keluarga Bima serta perselingkuhan sang suami untuk gugatan cerainya nanti.
Sebelum keluarga itu mengetahui keberadaannya, Kenanga segera pergi dari sana. Dia pergi ke toilet yang tidak jauh dari dapur, hanya tempat itu yang bisa dijadikan alasannya untuk bersembunyi saat ini. Kenanga butuh rencana yang matang agar bisa bebas dari keluarga ini dan tidak lagi dibod*hi.
Sementara itu, Bima dan kedua orang tuanya kembali masuk dan berjalan menuju ruang makan. Di sana ada pembantu yang sudah mulai menyiapkan makanan di meja. Sophia merasa heran karena di meja cukup banyak makanan. Biasanya hanya Sophia sendiri yang makan saat siang hari, tapi kini ada suami dan anaknya, hanya saja tidak seharusnya sebanyak ini juga.
"Bibi masak lauknya banyak sekali?" tanya Sophia saat melihat hidangan di meja makan ada beberapa macam.
"Oh, yang itu dibawakan sama Bu Kenanga, Nyonya."
"Kenanga! Terus sekarang orangnya ada di mana?" tanya Sophia sambil melihat ke sekelilingnya.
"Hah ... bukannya tadi nyusulin ke belakang? Tadi saya lihat Bu Kenanga ke sana."
Sophia terkejut mendengarnya, begitu juga dengan suami dan anaknya. Mereka bertiga saling berpandangan, seolah mengatakan kekhawatiran yang sama-sama mereka rasakan.
"Kapan Kenanga datang?" tanya Sophia lagi, kali ini dengan suara bergetar, menunjukkan perasaannya saat ini.
"Sudah cukup lama, Nyonya. Sekitar satu jam yang lalu."
"Sekarang Kenanga ada di mana?"
"Itu dia yang saya tidak tahu. Saya pikir Bu Kenanga lagi ngobrol sama Tuan dan Nyonya di belakang."
Sofia mendekat ke arah sang suami dan berkata dengan pelan. "Pa, apa Kenanga mendengar pembicaraan kita tadi dan dia pergi begitu saja? Bagaimana dong, Pa?"
"Papa juga tidak tahu."
Bima hanya terdiam, dia pun juga sama khawatirnya dengan kedua orang tuanya. Kalau Kenanga benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan, sudah pasti kehidupannya ke depan akan sangat sulit. Belum lagi ada beberapa orang yang memandang keluarga mereka dengan sebelah mata dan menganggap sebagai benalu.
"Bima kenapa kamu diam saja? Cari cara dong! Paling tidak kamu hubungi Kenanga dan tanyakan dia ada di mana," ujar Sophia dengan kesal karena Bima lamban sekali tanggapannya.
"I–iya, Ma," jawab Bima dengan tergagap.
Pria itu pun mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi nomor Kenanga. Mereka dibuat terkejut saat mendengar suara dering ponsel berada di rumah tersebut. Meskipun volumenya tidak keras, tapi cukup terdengar di telinga semua orang yang ada di sana. Hingga tatapan mereka tertuju pada sebuah tas yang berada di atas meja di dekat dapur.
Kenanga tadi memang sempat meletakkan tasnya di sana. Dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan jadilah meletakkan tas sembarangan begitu saja. Ternyata memang benar bisa menyelamatkan dirinya.
"Bukannya ini tas Kenanga? Terus orangnya ada di mana kok tasnya ada di sini?"
Disaat bersamaan pintu toilet di samping dapur pun terbuka. Terlihat Kenanga keluar dari sana dengan keringat bercucuran. Lebih tepatnya itu hanyalah air yang sengaja dua cipratkan ke arah wajahnya. Wajah Kenanga juga dibuat semenderita mungkin.
"Kenanga, kamu di situ ngapain?" tanya Sofia dengan tubuh kaku.
Jika Kenanga tadi tidak mendengar pembicaraan mereka, sudah pasti saat ini wanita itu akan khawatir dengan keadaan mertuanya, tapi sekarang tidak. Dalam hati dia tersenyum sinis. Mertuanya benar-benar pintar sekali menutupi sebuah pembohongan. Seharusnya mereka jadi artis aja kenapa memilih jadi seorang pengusaha.
"Mama ini aneh-aneh saja pertanyaannya. Aku 'kan dari toilet, tentu saja aku habis buang air. Tadi perutku tiba-tiba mules waktu aku mau pergi ke belakang nemuin Mama, jadinya aku masuk ke toilet di sini saja karena lebih dekat, daripada jauh pergi ke kamar. Sudah nggak tahan juga," jawab Kenanga sambil tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Benar kamu sejak tadi ada di toilet? Kamu tidak sempat ke belakang?" tanya Sophia yang khawatir karena tidak ingin rencananya hancur berantakan. Dia khawatir jika Kenanga berbohong.
"Tentu saja, Ma. Memangnya kenapa, sih? Mama terlihat ketakutan begitu. Apa ada rahasia yang aku tidak boleh tahu?" tanya Kenanga dengan memperhatikan wajah sang mertua. Dia ingin melihat ekspresi wajah mertuanya terlihat begitu khawatir.
"Bukan begitu. Mama hanya ... sudahlah, ini sudah waktunya makan siang. Ayo, kita makan! Sebentar lagi papamu dan suamimu juga harus kembali ke kantor."
Sophia sengaja mengalihkan pembicaraan agar Kenanga tidak lagi bertanya. Dia takut jika nanti dirinya akan salah bicara dan membuat menantunya itu curiga. Setelah diperhatikan dengan saksama, Kenanga juga sepertinya memang tidak tahu apa-apa mengenai pembicaraan yang tadi di belakang bersama suami dan anaknya.
Rudi dan Bima pun saling pandang dan akhirnya duduk di meja makan. Meski keduanya masih sangat penasaran apakah Kenanga mendengar pembicaraan mereka tadi atau tidak, tapi tidak ingin memperpanjang masalah ini juga.
Dalam hati Kenang ingin sekali pergi meninggalkan rumah mertua ini. Namun, itu hanya akan membuat kedua mertuanya curiga jadi, lebih baik bertahan sebentar. Dia pun terpaksa ikut duduk dan menikmati makan siang bersama keluarga itu. Padahal tadi masakannya terasa enak saat dicicipi, tapi sekarang kenapa jadi hambar begini.
Sepanjang makan Kenanga sama sekali tidak mengatakan apa pun. Hanya terdengar suara Rudi dan Bima yang membahas mengenai pekerjaan di kantor. Kenanga tahu itu hanyalah alibi untuk membuatnya tidak curiga mengenai keberadaan sang suami di rumah ini. Namun, sayang sekali dirinya telah mengetahui semuanya.
"Kenanga, kenapa kamu diam saja dari tadi? Apa masakannya kurang enak atau kamu mau makan sesuatu yang lain,biar bibi yang buatkan," tanya Sophia membuat Kenanga menatap mertuanya itu.
"Tidak perlu, Ma. Aku hanya lagi diet saja, jadi aku mengurangi porsi makanku."
"Tubuh kamu ini sudah proporsional, jadi tidak usah diet-diet seperti orang di luar sana."
"Tidak bisa begitu dong, Ma. Meskipun sekarang aku sudah proporsional, tapi tetap saja aku harus selalu terlihat cantik dan seksi agar suamiku tidak tertarik dengan wanita lain. Apalagi sampai harus kembali ke masa lalu."
"Uhukk ... Uhuk ...."
Bima terbatuk akibat tersedak makanannya yang belum tertelan dengan sempurna. Apa yang diucapkan Kenanga sungguh membuatnya terkejut. Bagaimana bisa istrinya itu berkata demikian. Dia jadi curiga apakah tadi Kenanga mendengar pembicaraannya atau tidak.
"Kamu kenapa sih, Mas? Makan sampai tersedak begitu. Makanya hati-hati, aku tahu kamu sedang buru-buru untuk kembali ke kantor, tapi tetap pelan-pelan saja nelannya. Lagi pula masih ada waktu," ujar Kenanga yang seolah tidak terjadi apa-apa. Ucapannya tadi juga dianggap seperti angin lalu.
"Kamu yang membuatku terkejut. Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?" ujar Bima sambil mencoba meredakan batuk yang terasa begitu sakit di dadanya.
"Berkata seperti apa, Mas? Aku hanya asal bicara tadi, kenapa kamu menganggapnya begitu serius? Apa kamu berniat untuk mencari wanita lain?"
"Tentu saja tidak!"
"Nah, itu kamu tahu jawabannya. Lagi pula selama ini 'kan rumah tangga kita baik-baik saja. Aku sebagai seorang istri tentu ingin mempertahankan rumah tangga ini. Semoga seterusnya kita selalu bahagia. Wajar jika aku punya impian seperti itu 'kan? Kamu saja yang aneh, tiba-tiba saja tersedak sampai terbatuk begitu."
Bima mendengus kesal. Namun, dia tidak bisa berkata apa-apa. Mereka semua pun melanjutkan makan siangnya. Meskipun sudah tidak berselera untuk melanjutkan makan siang ini, tapi tetap saja mereka menghabiskan makanan yang tersedia
Setelah itu, Rudi dan Bima kembali ke perusahaan dengan mengendarai mobil masing-masing. Kenanga sendiri pamit untuk pulang. Sophia sempat melarang karena dia masih ingin berbincang dengan menantunya itu, tapi Kenanga tidak ingin berlama-lama di sana.
Wanita itu pun beralasan jika sudah ada janji dengan temannya padahal hari ini Kenanga tidak memiliki janji atau kegiatan apa pun. Kenanga mengemudikan mobilnya dengan pelan, memikirkan apa saja yang terjadi tadi di rumah sang mertua. Dia sudah berusaha untuk melupakan apa yang terjadi tadi untuk sementara, tapi tetap saja rasa sakit di hatinya begitu perih.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!