Indonesia
NovelToon NovelToon

Suamiku Bukan Preman

Lepaskan Saya!

"Gimana sih Naura, masa gitu aja gak bisa+" bentak Jessica.

"Maaf Jes, tapi aku memang gak bisa. Aku harus kerja, aku gak mau Paman sama Bibiku marah kalau aku pergi dan bukannya kerja," ucap Naura.

"Dasar miskin, dikasih kerjaan malah gak mau. Yaudah, gue gak maksa kalau gitu, tapi awas aja ya, lo lihat apa yang bakal gue lakuin ke lo Naura," ucap Jessica lalu pergi.

"Huh, capek banget. Mau nyerah, tapi aku takut mati, ya kalau aku bunuh diri masuk surga kalau ternyata masuk neraka gimana," gumam Naura yang meratapi nasibnya lalu kembali melanjutkan perjalanannya ke salah satu rumah yang ada di kompleks tersebut.

Perempuan itu adalah Naura Dania, sehari-hari Naura bekerja sebagai tukang cuci borongan, Naura menawarkan jasanya kepada tetangganya. Selain itu, Naura jika tidak ada panggilan untuk mencuci baju maka Naura akan bekerja sebagai asisten rumah tangga. Meskipun Naura tinggal di daerah pedesaan, namun masih banyak yang memilih untuk mempekerjakan Naura daripada harus melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri .

Naura hanya tinggal bersama Paman Carlo dan Bibi Aulia serta Jessica anak dari Paman dan Bibinya, kedua orangtuanya sudah meninggal karena kebakaran 15 tahun lalu. Hidup Naura jauh dari kata bahagia, Naura harus bekerja keras untuk biaya hidupnya dan juga keluarga Paman dan Bibinya.

Naura sendiri hanya lulusan SMP, Paman dan Bibinya melarang Naura untuk melanjutkan pendidikannya karena mereka mengatakan tidak memiliki uang untuk menyekolahkan Naura.

Naura pernah mendapatkan beasiswa untuk masuk ke SMA, tapi Paman dan Bibinya tidak menerimanya hingga beasiswa itupun hangus.

Naura sudah berada di rumah Bu Terry, Naura melakukan pekerjaannya seperti biasa. "Kamu emang kalau kerja gak pernah mengecewakan ya Naura," ucap Bu Terry.

"Terima kasih, Bu. Saya juga berterima kasih sama Bu Terry karena sudah mau mempekerjakan saya," ucap Naura.

"Kamu tinggal masak aja, setelah itu kamu boleh pulang. Oh iya, ini uangnya," ucap Bu Terry.

"Terima kasih, Bu," ucap Naura dan diangguki Bu Terry.

Bu Terry pun pergi, Naura segera memasak seperti biasanya. Ketika masakannya sudah jadi, Naura pun segera menyajikannya di meja makan.

Ketika Naura ingin pergi, tiba-tiba Pak Danu, suami Bu Terry datang. "Kamu sudah masak?" tanya Pak Danu.

"Sudah, Pak," ucap Naura.

"Kamu mau pulang?" tanya Pak Danu.

"Iya, Pak. saya sudah mengerjakan semuanya, jadi saya mau pulang," ucap Naura.

Naura kira Pak Danu pergi ke meja makan sehingga Naura tidak melihat kearah Pak Danu, Naura mengambil tasnya dan ketika Naura hendak membuka pintu belakang, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Pak Danu dan betapa terkejut Naura ketika Pak Danu memeluknya.

Naura pun berusaha melepaskan pelukan tersebut, "Jangan sok suci kamu, Naura. saya yakin kamu pasti tertarik dengan tawaran saya ini," ucap Pak Danu.

"Pak, lepaskan saya!" ucap Naura yang memberontak sekuat tenaga.

"Saya akan bayar kamu 100 juta untuk satu malam, bagaimana?" tanya Pak Danu.

"Saya tidak mau, Pak. Pak Danu, lepaskan saya!" ucap Naura.

Ditengah usahanya untuk lepas dari Pak Danu, Bu Terry datang dan betapa terkejutnya ia melihat Pak Danu dan Naura yang berpelukan di dapur rumahnya.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Bu Terry dengan meninggikan suaranya.

Pak Danu yang kepergok pun lantas menuduh Naura yang sudah menggodanya.

"Ma, dia yang sudah menggoda Papa. dia yang menarik Papa dan memeluk Papa, Papa berusaha buat kepaskan dia, tapi dia tarik baju Papa dan Papa gak bisa lepas," ucap Pak Danu.

"Tidak, Bu. saya bersumpah, saya tidak melakukan seperti yang dituduhkan Pak Danu, Pak Danu yang memeluk saya, saya sudah berusaha untuk melepaskannya, Bu Terry harus percaya sama saya," ucap Naura.

"Jangan nuduh saya yang gak-gak ya, kamu yang sudah menggoda saya," ucap Pak Danu.

"Tidak, Bu. Pak Danu bohong, Pak Danu yang sudah memeluk saya bahkan menawarkan satu malam pada saya, tapi saya menolaknya," ucap Naura.

Plak...

"Jangan menuduh saya ya, saya cinta sama istri saya, jadi untuk apa saya mencari wanita lain apalagi kamu yang hanya seorang pembantu, saya yakin kamu mau menggoda saya supaya kamu bisa dapatin harta saya kan," ucap Pak Danu.

"Bu Terry jangan percaya sama Pak Danu, semua yang dikatakan Pak Danu bohong," ucap Naura.

Plak...

"Dasar jal*ng miskin! mulai sekarang kamu tidak usah kerja di rumah saya, saya kira kamu anak baik-baik ternyata kamu pelac*r. Kamu kerja disini supaya bisa mendekati suami saya, untung saja saya lihat tadi, kalau tidak pasti kamu sudah beraksi, saya akan bilang ke semua orang tentang sikap jal*ngmu ini supaya orang-orang tau siapa kamu sebenarnya biar suami mereka tidak kamu goda, sekarang pergi dari sini!" bentak Bu Terry.

"Bu, tolong jangan begitu. Saya masih butuh kerjaan, Bu. Kalau Bu Terry tidak percaya, Bu Terry bisa lihat cctv, saya bersumpah kalau saya tidak pernah menggoda Pak Danu, saya tidak pernah ada niatan buruk selama bekerja," ucap Naura.

"Saya tidak butuh itu, sekarang kamu pergi dari sini, dasar miskin," ucap Bu Tery lalu menyeret Naura dan mendorong Naura keluar rumahnya hingga Naura terjatuh.

Naura berusaha berdiri dengan kaki yang terluka karena terkena batu, "Saya difitnah, Bu. Bu Terry harus hati-hati sama Pak Danu," ucap Naura sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah Bu Terry.

"Aku harus kerja dimana lagi ini? aku yakin setelah ini namaku gak akan baik lagi disini, aku yakin setelah ini banyak yang gak suka sama aku hiks hiks," ucap Naura yang tidak bisa menahan tangisnya.

Naura pun pulang, baru saja Naura masuk kedalam rumah. Sebuah sandal mendarat tepat di kepalanya, "Kemana aja sih? lo lupa ya kalau lo belum masak," ucap jessica

"Aku capek Jessica, kamu masak sendiri aja. kamu kan masih punya tangan dan kaki yang lengkap," ucap Naura.

"Enak aja lo nyuruh gue masak, gue ini habis perawatan, bisa-bisa perawatan gue sia-sia kalau gue masak," ucap Jessica.

"Yaudah, kalau gitu kamu gak usah makan, aku capek, aku mau istirahat," ucap Naura.

Ketika Naura sudah melewati Jessica, tiba-tiba rambutnya ditarik dari belakang dan Bibi Aulia lah pelakunya, "Berani-beraninya kamu menolak perintah Jessica, kalau Jessica nyuruh masak ya masak," ucap Bibi Aulia.

"Naura capek, Bi. Naura butuh istirahat, Bibi aja yang masak untuk anak Bibi," ucap Naura.

"Makin kurang ajar ya anak satu ini," ucap Bibi Aulia lalu menarik rambut Naura dan membawanya ke dapur.

"Masak sekarang atau kupatahkan kakimu," ancam Bibi Aulia.

Akhirnya Naura pun pasrah saja, ia tau jika Bibi Aulia tidak pernah main-main dalam setiap ancamannya pada Naura.

.

.

.

Bersambung.....

Kamu Harus Menikah

Dua hari berlalu dan seperti yang Naura duga, jika orang-orang sudah tau tentang berita yang disebarkan Bu Terry. Karena berita itu juga, banyak yang tidak mau menggunakan jasa Naura bahkan saat ini Naura masih nganggur dan tidak mendapatkan uang sama sekali.

Naura harus mencari pekerjaan lain, seperti saat ini Naura berjalan ke pasar, ia mencari pekerjaan yang bisa dia lakukan disana, kedatangan Naura tentu saja menarik perhatian orang-orang disana dan ternyata disana juga ada Bu Terry.

"Bu terry, ini kan yang udah godain suaminya Bu Terry," ucap Bu Ani.

"Iya, Bu. Enaknya diapain ini," ucap Bu Siska.

"Masih berani nunjukin diri didepan saya ternyata," ucap Bu terry.

"Saya tidak pernah melakukan apa yang sudah dituduhkan Bu Terry itu, saya sudah bilang bukan kalau saya tidak pernah menggoda Pak Danu, saya sarankan Bu Terry untuk memeriksa cctv agar Bu Terry tau apa yang sebenarnya terjadi," ucap Naura.

"Halah, udah miskin gak mau ngaku," ucap Bu Siska.

"Udah kelamaan," ucap Bu Ani lalu menarik tangan Naura dan membawa ke samping pasar yang sepi.

Bu Ani mendorong Naura hingga Naura jatuh di tanah, "Saya menyesal sudah mempekerjakan kamu," ucap Bu Ani.

"Untung aja Bu Terry memergoki kamu yang sedang menggoda suaminya. jadi kita terselamatkan," ucap Bu Siska.

"Ini Bu Terry mau apain dia," ucap Bu Ani yang menarik rambut Naura hingga Naura mendongak menatap Bu Terry.

Tanpa belas kasihan sedikitpun, Bu Terry menampar Naura hingga sudut bibir Naura berdarah.

Naura sejak tadi sudha memberontak, tapi tiga lawan satu tentu saja tidak sepadan, tenaganya habis untuk memberontak sehingga ia tidak bisa membalasnya.

Hingga suara Mbah Husni membuat Bu terry berhenti memukul wajah Naura, "Kalian berhenti," ucap Mbah Husni dan menghampiri mereka.

Mbah Husni adalah salah satu tetua desa yang cukup berpengaruh disana, Mbah Husni sendiri terkenal sebagai tukang pijat didesa tersebut dan dia begitu disegani oleh warga sekitar.

Naura sendiri juga sering berkunjung ke rumah Mbah Husni untuk sekedar bercerita karena Naura tidak memiliki teman untuk meluapkan kesedihannya dan untung saja Mbah Husni mau menerimanya dan mau mendengarkan segala curhatan Naura.

"Mbah jangan ikut campur, ini urusan saya dan Naura," ucap Bu Terry.

"Kamu mau bunuh Naura? kalau kamu mau bunuh Naura, ini saya bawa pisau, cepat tusuk dia sampai dia meninggal," ucap Mbah Husni.

Bu Terry tidak berniat untuk membunuh Naura, karena terpojok, akhirnya Bu Terry, Bu Ani dan Bu Siska pergi meninggalkan Naura. Mbah Husni menghampiri Naura lalu membantu Naura berdiri, "Ayo ke rumah Mbah dulu, bersihkan wajah kamu," ucap Mbah Husni.

"Terima kasih, Mbah," ucap Naura.

Naura pun ikut Mbak Husni ke rumah sederhananya lalu Naura membersihkan wajahnya disana.

"Hidupmu sangat sial, sudah gak punya orangtua, rumahmu digadai sama Paman dan Bibimu terus keluarga Pamanmu juga memperlakukanmu dengan buruk, sekarang malah kamu dituduh menggoda suami orang sampai-sampai mereka gak mau pakai jasa kamu lagi sampai kamu jadi pengangguran. Mbah sarankan kamu merantau ke kota saja. Selama kamu tinggal disini, kamu tidak akan bisa bahagia," ucap Mbah Husni.

"Tapi, Naura cuma lulusan SMP Mbah, Naura gak yakin Naura bisa bertahan di kota," ucap Naura.

"Kalau gitu menikahlah dengan anaknya juragan Haris," ucap Mbah Husni.

"Mbah, Naura gak mau, Gio udah menikah empat kali dan semua istrinya menceraikan dia karena kdrt dan juga selingkuh," ucap Naura.

"Terus kamu mau gimana? sekarang nama kamu udah buruk diluaran sana, kamu dicap sebagai pelc*r karena sudah menggoda suaminya Terry, kamu tau kan kalau keluarga Terry itu sangat berpengaruh di desa ini," ucap Mbah Husni.

"Mbah punya cara buat Naura, selain merantau?" tanya Naura.

"Kamu harus menikah," ucap Mbah Husni.

"Tidak bisa Mbah, Naura tidak punya pasangan dan Naura tidak mau menikah dengan Gio," ucap Naura.

"Kalau begitu tudak ada cara lain, jadi kamu nikmati saja resikonya, orang-orang tidak akan diam saja jika kamu masih ada disini apalagi kamu belum menikah," ucap Mbah Husni.

"Naura bingung Mbah," ucap Naura.

"Yasudah, kamu bunuh diri saja dan ikuti kedua orangtua kamu," ucap Mbah Husni.

"Mbah," tegur Naura.

"Mbah ini ngasih saran, kalau kamu gak mau yaudah artinya kamu masih waras," ucap Mbah Husni.

Naura pun memilih diam dan tidak menanggapi perkataan Mbah Husni. Naura sudha terbiasa akan perkataan ceplas ceplos Mbah Husni, meskipun terkesan kasar, tapi Mbah Husni mengerti perasaan Naura dan sering memberikan semangat serta saran yang kadang Naura pun mengikutinya kecuali saran untuk bunuh diri.

Ketika Naura tengah melamun tiba-tiba Mbah Husni menarik Naura dan membuka baju belakang Naura hingga memperlihatkan luka pada punggung Naura.

"Apa Bibimu memukulmu lagi?" tanya Mbah Husni.

"Ya begitu Mbah, tubuh Naura udah mati rasa, Naura udah gak bisa merasakan lagi rasa sakit karena terlalu sering dipukul sama Paman dan Bibi ditambah Jessica yang seenaknya sama Naura," ucap Naura.

"Mbah kan sudah menyuruhmu untuk melawannya, kenapa masih diam aja sih. Kamu mau tubuhmu hancur karena mereka?" omel Mbah Husni.

"Naura udah melawannya Mbah, tapi tenaga Naura kalah. Semakin Naura melawan maka semakin keras pukulan mereka, ini aja tangan Naura yang patah kemarin baru sembuh, jadi Naura gak mau cari gara-gara apalagi sampai melawan mereka," ucap Naura.

"Mbah kasihan denganmu, tapi Mbah tidak bisa berbuat apa-apa, Mbah tidak punya kuasa untuk membelamu. Kamu harus mengandalkan dirimu," ucap Mbah Husni.

"Iya, Mbah. Dengan Mbah sudah mau mendengarkan segala curhatan Naura itu saja sudah membuat Naura berterima kasih," ucap Naura.

Setelah dari rumah Mbah Husni, Naura pun terpaksa kembali ke rumahnya. Selama perjalanan menuju rumahnya, semua orang menatap tidak suka pada Naura.

Dan sesampainya di rumah, Naura masuk kedalam dengan penuh hati-hati karena takut Bibi Aulia marah.

Sayangnya, Naura harus bertemu dengan Bibi Aulia, Bibi Aulia menghampiri Naura yang baru saja masuk kedalam rumah.

Plak...

"Dasar pelc*r! gara-gara kau sekarang kita di gosipkan yang tidak-tidak sama tetangga," ucap Bibi Aulia dan menampar Naura.

"Naura tidak melakukannya, Bi. Semua itu tidak benar, Bu Terry menuduh Naura," ucap Naura.

"Halah, kamu aja yang emang gak bener jadi orang," ucap Bibi Aulia.

"Mau sebanyak apapun Naura menjelaskan semuanya sama Bibi juga percuma karena Bibi gak akan percaya sama Naura," ucap Naura.

"Itu kamu tau, pokoknya kamu harus segera dapat kerjaan, Bibi gak mau tau ya, uang buat bayar cicilan di bank harus kamu bayar," ucap Bibi Aulia.

.

.

.

Bersambung.....

Menikah?

"Yang hutang Paman sama Bibi, tapi yang bayar hutang Naura. Mana hutangnya pakai sertifikat rumah Ayah sama Ibu lagi," sindir Naura yang sudah muak dengan keluarga Bibi Aulia.

"Kamu lupa kalau Paman dan Bibimu ini yang menjadi walimu setelah orangtuamu meninggal," ucap Bibi aulia.

"Hahaha, wali? wali apa? wali kelas? Paman sama Bibi itu harusnya menjadi peran pengganti Ayah dan Ibu untuk aku, tapi kalian justru jadikan aku layaknya pembantu, kalian larang aku buat lanjutin sekolah dan kalian nyuruh aku kerja, buat apa? Ya buat biayain hidup kalian. Kalian yang hidup enak, kenapa aku yang harus susah payah kerja mana aku harus bayar sertifikat rumah yang kalian jaminkan ke bank," ucap Naura yang mengeluarkan segala unek-uneknya.

"Kurang ajar!" bentak Bibi Aulia.

Bibi Aulia yang sudah terpancing emosinya langsung menarik rambut Naura, Naira yang tidak terima pun ikut menarik rambut Bibi Aulia hingga akhirnya mereka saling menarik rambut satu sama lain.

Ditengah suasana yang tegang itu, tiba-tiba Jessica datang dan betapa terkejutnya melihat apa yang terjadi di ruang tamu. "Mama!" teriak Jessica.

Jessica mengambil botol kaca bekas alkoh*l yang diminum Paman Carlo, Jessica memukul botol tersebut tepat pada kepala Naura hingga Naura terkejut dan melepaskan cengkeraman tangannya di rambut Bibi aulia dan tak lama setelah itu, Naura pun kehilangan kesadaran.

"Bagus Jessica," ucap Bibi Aulia.

"Kenapa dia tiba-tiba melawan Mama gitu?" tanya Jessica.

"Dia harus dikasih pelajaran Jessica, Mama gak terima ya karena dia udah narik rambut Mama, mana sakit lagi " ucap Bibi Aulia.

"Mama mau apain dia emangnya?" tanya Jessica.

"Kita sekap dia di gudang," ucap Bibi Aulia.

"Mama yakin?" tanya Jessica.

"Yakin, biar dia kapok dan gak melawan lagi," ucap Bibi Aulia dan diangguki Jessica.

Bibi Aulia dan Jessica pun menyeret tubuh Naura dan memasukkannya kedalam gudang sempit tempat penyimpanan barang yang tidak terpakai, Bibi Aulia mengikat tangan Naura di belakang dan juga mengikat kaki Naura lalu Bibi Aulia juga menutup mulut Naura.

"Rasain kamu, ini akibatnya jika kamu berulah lagi ya," ucap Bibi Aulia.

Bibi Aulia dan Jessica pun keluar dari gudang, namun baru saja keluar, Bibi Aulia masuk kembali lalu dan menyiram air bekas cucian piring ke Naura. "Nikmati hari-harimu di gudang yang sesak ini," ucap Bibi Aulia lalu pergi.

"Tuhan, aku capek. Aku mau bebas, panggil aku sekarang, matikan aku saja Tuhan, aku mau ketemu Ayah sama Ibu. Aku gak mau disini, aku kalah, aku menyerah dengan hidupku, aku gak akan menang melawan tiga orang itu, aku sendirian, aku gak punya siapa-siapa lagi hiks hiks," ucap Naura yang begitu memilukan.

Di luar gudang, Jessica dan Bibi Aulia tertawa penuh kemenangan, "Berani-beraninya dia melawan, ini akibatnya karena dia sudah membuat Mama marah," ucap Bibi Aulia.

"Tapi, Ma. Kayaknya kita harus buat dia lebih menderita deh, kalau bisa dia harus segera menikah," ucap Jessica.

"Menikah? gak ya, dia gak boleh menikah, kalau dia menikah nanti dia bahagia lagi," ucap Bibi Aulia.

"Makanya kita cari suami yang miskin biar mereka setara," ucap Jessica.

"Gak, pokoknya Mama gak mau Naura menikah," ucap Bibi aulia.

"Ma, dia harus menikah karena kalau gak nanti Kak Dimas bakal deketin dia tau," ucap Jessica.

"Dimas? masa Dimas mau deketin si jelek Naura," ucap Bibi Aulia.

"Iya, Ma. Malanya Mama hatus buat Naura menikah sama siapa gitu, Mama cari tukang bangunan atau gelandangan gitu, Mama paksa Naura buat menikah," ucap Jessica.

Dimas adalah Kakak kelasnya, Jessica sangat menyukai Dimas, sayangnya Jessica mendengar jika Dimas menyukai Naura bahkan Dimas yang saat ini bekerja di luar kota akan kembali dan melamar Naura.

Jessica yang mendengar hal tersebut pun marah, ia sudah menunggu kedatangan Dimas selama tiga tahun dan ketika Dimas akan pulang ke desa justru Dimas akan melamar Naura.

"Emangnya Ibunya Dimas mau Dimas menikah sama Naura, kamu tau sendiri gimana Ibunya Dimas, dia juragan di desa ini," ucap Bibi Aulia.

"Kalaupun Ibunya Kak Dimas gak setuju, tapi Kak Dimas tetap nekat gimana coba, Ma," ucap Jessica.

"Kita hatus cari cara supaya Naura menikah," ucap Bibi Aulia.

"Mama jodohin dia sama siapa gitu, ya pokoknya cowoknya miskin biar dia juga bisa kita suruh-suruh," ucap Jessica.

"Mama gak bisa jodohin dia," ucap Bibi Aulia.

"Kenapa?" tanya Jessica.

"Kalau Mama jodohin Naura, bisa-bisa para tetangga bakal gosipin Mama yang gak-gak, nama Mama ini udah mulai buruk gara-gara Naura yang godain suaminya Bu Terry," ucap Bibi Aulia.

"Oh gosip itu, pas banget Ma dnegan gosip tentang Naura ini mama bisa jodohin Naura," ucap Jessica.

"Gak bisa, nanti Mama dikira maksa Naura buat nikah buat nutupin gosip ini, kamu tau sendiri gimana para tetangga kalau ada orang yang jodohin anggota keluarganya pasti pada heboh dan gosipin yang gak-gak, itu mereka yang gak ada masalah. Lah kalau Naura ya beda cerita apalagi sekarang Naura jadi perbincangan hangat di desa, pokoknya Mama gak akan jodohin Naura, Mama akan cari cara supaya Naura cepat nikah, tapi gak menyangkut pautkan Mama," ucap Bibi Aulia.

"Terus gimana dong, Ma?" tanya Jessica.

"Mama juga gak tau, makanya kita harus cari cara," ucap Bibi Aulia.

"Pokoknya Naura harus segera menikah, soalnya bulan depan Kak Dimas pulang," ucap Jessica.

"Makanya kamu juga cari cara," ucap Bibi Aulia.

Setelah memikirkan segala cara, Jessica dan Bibi Aulia tetap tidak menemukan cara yang tepat untuk menikahkan Naura.

"Gimana ini, Ma?" tanya Jessica yang merasa cemas.

"Kamu tenang dulu, sekarang pikirkan cara lain pke, besok kita harus ada cara supaya Naura cepat menikah," ucap Bibi Aulia dan diangguki Jessica.

Berbeda dengan Jessica dan Bibi Aulia yang tengah memikirkan cara agar Naura segera menikah, didalam gudang yang pengap, gelap dan sempit itu, Naura menangis. Rasa sakit pada lukanya belum sembuh, tapi Bibi Aulia sudah menambahkan luka lainnya, dengan tenaga yang tersisa itu Naura melangkah kearah cahaya dari jendela kecil yang ada ditembok atas.

Naura melihat luka-lukanya, "Padahal kemarin udah mulai pudar, tapi sekarang memar lagi. Aku belum menikah, tapi tubuhku udah banyak lukanya gini, gimana nanti kalau aku nikah dan suamiku lihat tubuhku yang luka-luka kayak gini, pasti dia kecewa dan menyesal nikah sama aku yang penyakitan ini, mungkin dia bakal langsung ceraikan aku hari itu juga," gumam Naura yang meratapi nasibnya.

.

.

.

Bersambung.....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!