Indonesia
NovelToon NovelToon

My Hot Kakak Ipar

Chapter 1 - Suara Malam Pertama

Semuanya berawal saat Firza, kakak lelakinya Rangga menikah. Sejak itu, Firza membawa sosok baru untuk tinggal di rumah. Yaitu istrinya, Dita Permata Sari.

Awalnya pernikahan mereka ditentang Yuli, sang ibu. Namun Firza bersikeras karena katanya dirinya sangat mencintai Dita dan mengancam akan pergi jauh jika tidak direstui.

Sosok ibu mana yang tega membiarkan anaknya pergi jauh. Itulah yang dilakukan Yuli. Dia terpaksa membuang egonya dan memutuskan merestui pernikahan Firza dan Dita. Pernikahan berlangsung cukup meriah, Yuli menggunakan uang tabungannya untuk semua itu.

Usai menikah, Yuli menyuruh Firza dan Dita tinggal bersama di rumah untuk sementara. Mengingat mereka masih tidak punya uang untuk membeli atau mengontrak rumah.

Firza sendiri bekerja sebagai polisi berpangkat briptu. Dia baru menjalani karirnya sebagai polisi selama tiga tahun. Sementara Dita, dia merupakan penyanyi dangdut biasa. Tidak heran Dita memiliki paras cantik, seksi dan menarik. Namun Dita sudah berjanji pada Firza kalau akan berhenti menjadi penyanyi dangdut setelah menikah, dan itu memang dilakukannya. Firza hanya memperbolehkannya menyanyi saat di acara kondangan di kampung saja.

Mungkin karena profesi itu pula, Yuli sempat tak merestui Dita menikah dengan Firza. Karena dalam pandangan masyarakat, penyanyi dangdut itu wanita murahan. Suka berpenampilan seksi dan bersikap tidak senonoh dipanggung, contohnya seperti menerima saweran.

Kini Rangga habis keluar kamar mandi. Saat itulah dia tak sengaja berpapasan dengan Dita. Perempuan itu baru keluar kamar. Mata Rangga terbelalak. Bagaimana tidak? Dia melihat Dita hanya mengenakan tank top dan celana pendek sepangkal paha sambil membawa handuk.

"Baru selesai mandi, Dek?" sapa Dita.

"Iya, Kak..." sahut Rangga tergagap.

Dita tersenyum dan segera masuk ke kamar mandi. Rangga langsung geleng-geleng kepala. Merasa tak habis pikir dengan gaya berpakaian Dita. "Pantesan Mama sempat ngga merestui," gumamnya sembari berjalan masuk ke kamar.

Rangga mengambil ponsel dan langsung telentang ke ranjang. Di sana dia menemukan pesan dari sahabatnya Junaidi dan Ifan. Kedua sahabatnya itu asyik meledeknya di grup chat.

Junaidi : Bang Firza baru selesai menikah kan? Wah... Siap-siap nggak bisa tidur nih Rangga pas malam pertama abangnya🤣🤣🤣

Ifan : Parah! Aku yakin suara desahan Kak Dita bakalan menggelegar sampai menembus dinding kamar Rangga. Hahaha...

Junaidi : Uh! Ah! Oh Yes, Baby! Teruskan! (Bacanya pakai nada mendesah) 🤣

Membaca percakapan itu, Rangga menggertakkan gigi. Dia mulai mengetik dan membalas.

Rangga : Sialan kalian! Aku yakin Bang Firza dan Kak Dita tahu diri kali. Mereka nggak akan berisik!

Junaidi : Ga! Orang pas keenakan gimana bisa nahan diri sih? Aku jamin nih ya, mereka bakalan berisik.

Ifan : Taruhan kayaknya seru nih🤪

Rangga : Udah ah! Aku mau tidur. Kalian aja sana yang taruhan.

Ifan : Tapi aku juga yakin kalau Bang Firza sama Kak Dita bakalan berisik, Ga. Rumahmu kan dindingnya kayu, itu nggak kedap suara. Aku yakin seratus persen 😂

Rangga memutar bola mata jengah. Dia memilih mengabaikan ejekan dua temannya dan membuka aplikasi game. Rangga mulai larut bermain game di ponselnya.

"Ah... Aah! Ah!"

Tiba-tiba terdengar suara desahan dari kamar sebelah. Mata Rangga membulat sempurna. Terlebih suara erangan itu di ikut dengan getaran di dinding kayu kamarnya.

"Anjir!" umpat Rangga. Ternyata prediksi kedua temannya benar. Kakaknya dan kakak iparnya melakukan malam pertama dengan berisik.

Rangga sudah berusia 17 tahun. Dia berada di masa-masa penasaran. Masa saat dia sudah mengerti dan belajar hubungan orang dewasa. Rangga menenggak salivanya saat suara lenguhan Dita semakin intens. Sekujur tubuhnya meremang. Namun yang lebih parah, burung gagaknya juga ikut bereaksi.

"Nggak! Jangan!" keluh Rangga kesal. Aktifitas sang kakak di sebelah kamar, benar-benar membuatnya terpancing. Rangga yang tadinya kesal saat melihat Dita berpakaian minim, kini jadi membayangkan perempuan itu.

Chapter 2 - Di Sekolah

Lidah Rangga hanya bisa berdecak kesal saat menyadari aset pribadinya aktif. Ia terpaksa melakukan olahraga tangan sendiri malam itu. Rangga juga terpaksa memasang headset saat tidur, agar suara berisik malam pertama kakaknya tak terdengar lagi.

Keesokan harinya, mentari pagi menyapa dengan cerah. Sosok mengerikan berwajah sangar muncuk dari balik pintu kamar Rangga. Dia berkacak pinggang dan siap mengomel.

"RANGGA! BANGUN!" pekiknya. Dia tidak lain adalah Yuli, ibunya Rangga.

Namun meski sudah berteriak, Rangga masih tidur. Seolah teriakan sang ibu tidak mengancam. Ya bagaimana mau mendengar? Headset di telinga masih terpasang. Memperdengarkan alunan musik nan indah.

"Rangga!" karena kesal, Yuli membuka selimut sang putra. Betapa terkejutnya dia saat melihat celana Rangga basah. Karena itulah kasurnya juga ikut basah.

"RANGGAAA!" Kali ini suara pekikan Yuli nyaring sekali dan sukses membuat Rangga terbangun. Dia langsung melepas headsetnya.

"Eh, iya, Ma! Aku bangun!" kata Rangga.

"Pantas kesiangan tidurnya. Mimpi enak ya? Cuci sprei sendiri ya!" timpal Yuli.

Ketika mendengar ibunya bicara begitu, barulah Rangga sadar kalau celananya basah. "Astaga!" umpatnya dengan wajah memerah. Dia kembali menutup celananya dengan selimut.

"Anak Mama sudah dewasa ternyata. Cepat mandi sana! Nanti telat ke sekolahnya. Ini udah siang loh," kata Yuli seraya beranjak dari kamar putranya. Dia tersenyum tipis karena merasa lucu melihat Rangga malu. Namun sebagai orang tua, Yuli sadar kalau apa yang terjadi pada sang putra adalah hal normal.

...***...

Rangga baru memarkirkan motornya di parkiran. Dia baru tiba di sekolah. Sebuah tangan tiba-tiba merangkulnya.

"Gimana tadi malam? Kocok-kocokkan nggak? Bwahaha!" ujar pemilik tangan yang kini merangkul Rangga. Dia tidak lain adalah Junaidi. Tertawa keras bahkan saat Rangga belum bercerita.

"Ayo ceritain, Ga! Seheboh apa Bang Firza sama Kak Dita?" tanya Ifan. Dia cengengesan bersama Junaidi

"Brengsek emang kalian!" balas Rangga sambil menjitak kepala temannya secara bergantian. "Semalaman aku tidur pakai headset tahu nggak!" ungkapnya.

"Lah, kok kau malah marah. Harusnya senang dong. Kau menghadapi pengalaman dewasa secara gratis dan langsung. Kalau aku sih, malah aku nikmati suara surga itu. Jika perlu, aku menghayal aja sekalian," ucap Ifan.

"Gila! Menghayal main sama Kak Dita maksudmu?" tebak Rangga.

"Iya. Hubungan panas dengan kakak ipar. Kayak di film yang lagi buming itu loh," sahut Ifan.

"Dih! Kau aja kali yang suka. Jangan didengerin, Ga. Fetish Ifan emang begitu. Dia suka nonton bokep yang seting main sama kakak ipar atau kakak tiri gitu. Jijik kali aku," imbuh Junaidi.

"Loh kok malah aku yang kena ejek. Kita kan satu tim loh tadi, Junaedi!" balas Ifan tak terima.

"Udah. Terima saja. Kau itu emang omes. Otak mes*m!" ledek Rangga. Dia lalu tertawa bersama Junaidi. Ketiganya berjalan menyusuri koridor bersama.

"Kayak kalian enggak," gerutu Ifan.

Bersamaan itu, mereka berhenti melangkah saat melihat anak kelas satu main basket. Ketiganya lalu bergabung dan meletakkan tas ke bangku panjang. Mereka bermain basket dadakan. Namun sayang itu tak berlangsung lama karena Nisa si ketua osis menegur. Para siswa kelas satu yang takut, langsung patuh. Berbeda dengan Rangga, Ifan dan Junaidi yang memilih tetap main.

"Kalian sebagai senior harusnya bisa jadi contoh. Ini malah menjerumuskan," omel Nisa seraya memperbaiki kerudungnya. Ia lalu sigap mengambil bola basket dan langsung membawanya pergi.

"Eh, Nisa! Hidup itu jangan terlalu bener! Dibawa santai aja loh," protes Rangga. Namun Nisa tak mendengarkan dan menjauh pergi.

"Sabar, Ga. Nanti malah jatuh cinta. Bahaya!" celetuk Junaidi.

"Hah? Jatuh cinta? Jijik banget aku suka sama cewek model Nisa." Rangga langsung membantah tegas.

"Makanya aku tadi bilang bahaya kan? Cewek kayak gitu bikin ribet," sahut Junaidi.

"Ayo ke kelas!" ajak Ifan sembari mengambil tas. Rangga dan Junaidi lantas menyusul.

Chapter 3 - Basah Kuyup

Kini Rangga dan kedua temannya sudah di kelas. Tahun ini dia berada di kelas tiga. Jadi tidak heran dia mulai berlagak berkuasa.

Muhammad Rangga Ramadhan, itulah nama panjang Rangga. Dia cukup populer di sekolah karena memiliki paras yang terbilang tampan dan merupakan anggota ekstrakulikuler pramuka. Ia tinggal di desa Sadewo, yang mana lokasinya berada cukup dekat pegunungan. Dimana mayoritas warganya kebanyakan bertani dan berkebun. Namun kebetulan ibunya Rangga bekerja sebagai bidan kampung. Sedangkan ayahnya sudah lama meninggal karena kesambar petir saat di ladang.

"Minggu ini jangan lupa ada acara kemah pramuka. Kau harus ikut kali ini, Ga!" kata Junaidi.

"Ck. Malas banget tahu sama acara begituan. Enak tidur di rumah. Di kasur. Lagian aku ikut pramuka juga karena dipaksa kau," sahut Rangga.

"Makanya kau harus ikut. Sekali ini aja, Ga. Kami berdua tanpamu itu nggak seru loh. Definisi pohon tanpa akar," kata Junaidi.

"Nanti aku pikirkan dulu."

"Kayak gitu aja mau dipikirkan dulu."

"Biarkan saja, Nai. Dia pengen di rumah terus karena kakak iparnya," sergah Ifan. Dia langsung kena geplak di kepala oleh Rangga. Sebagai teguran keras dari cowok itu. Namun Ifan hanya tertawa bersama Junaidi.

Tak lama kemudian guru yang mengajar masuk. Mereka segera duduk dan belajar. Di sekolah sendiri Rangga tergolong murid yang biasa saja. Tidak pintar, tapi juga tidak bodoh. Akan tetapi dia punya bakat di bidang olahraga dan seni.

Saat jam belajar berlangsung, Rangga dan Ifan tak bisa melewatkan kejahilan Junaidi. Ifan tampak selalu berusaha mengganggu Nanda, siswi paling cantik di kelas itu. Kebetulan Nanda duduk di depan Junaidi. Mereka sering bertengkar seperti kucing dan tikus, karena Junaidi yang sering bikin ulah.

Ketika bel istirahat berbunyi, Nanda tampak bergegas pergi. Namun Junaidi tak membiarkan. Tangan nakalnya sengaja mencubit bokongnya.

"Junai! Kau mau aku tampar, hah? Nakal banget sih!" omel Nanda.

"Ya udah. Ayo tampar aja. Aku nggak apa-apa," sahut Junaidi sambil cengengesan.

Buk!

Nanda melayangkan pukulan keras ke punggung Junaidi. Terdengar suara gedebuk dari pukulan itu. Nanda lalu beranjak keluar kelas dengan wajah cemberut.

Sedangkan Junaidi hanya tertawa sambil mengelus punggungnya. Saat dia menatap Rangga dan Ifan, dua temannya itu menatap dengan serius.

"Kalian kenapa?" tanya Junaidi.

"Kau suka ya sama Nanda?" tukas Rangga.

"Hampir tiap hari kau gangguin Nanda. Cubit bokongnya lah, colek dagunya lah. Jelas itu naksir namanya," imbuh Ifan.

"Enak aja! Aku cuman jahil doang. Lagian Nanda kayak suka gitu dijahilin. Kadang dia ketawa aja loh," jelas Junaidi.

"Cih. Alasan!" cibir Rangga.

"Beneran! Kalau suka, pasti udah bilang. Nggak bakalan dipendam kayak Ifan," ucap Junaidi.

"Aku terus yang disudutkan!" Ifan mencubit perut Junaidi. Temannya itu hanya bisa mengaduh.

Hari itu sekolah berlangsung seperti biasa. Namun mulai hari itu keadaan di rumah Rangga berubah, karena ada orang baru yang tinggal di sana.

Rangga baru saja pulang ke rumah. Ia menaikkan motornya ke teras, sebab kebetulan hari hujan. Rangga basah kuyup karena hujan.

Pintu depan terbuka. Sosok Dita menyambut kedatangan Rangga.

"Astaga, kau basah kuyup, Dek. Aku ambilkan handuk ya," kata Dita sembari berlari masuk ke rumah.

Rangga diam saja dan fokus melepas sepatunya yang juga basah. Ia berdecak kesal karena semuanya jadi basah.

Saat hendak masuk ke rumah, langkah Rangga terhenti karena Dita mendekat. Lalu menggosokkan handuk ke rambut Rangga. Jantung Rangga jadi berdebar aneh. Buru-buru dia merebut handuk dari Dita.

"Aku bisa handukan sendiri kok, Kak. Hehe..." ujarnya kikuk.

"Ya sudah. Keringkan dirimu, terus langsung mandi biar nggak sakit. Aku akan bikinkan teh hangat untukmu," kata Dita.

"Mama mana, Kak?" tanya Rangga sembari mengedarkan pandangan untuk mencari ibunya. Karena biasanya sang ibu sudah pulang saat dirinya pulang begini.

"Mama belum pulang," sahut Dita. Ekspresinya mendadak berubah jadi sedih. Tapi Rangga tak berani bertanya.

"Mungkin mama belum pulang karena di rumah ada aku," ungkap Dita.

"Mu-mungkin mama lagi banyak kerjaan, Kak. Dia kan bidan senior di kampung ini," sahut Rangga.

"Kau benar." Dita tersenyum lembut.

Rangga sempat terpana. Karena memang kakak iparnya itu memiliki wajah yang sangat cantik. Senyumannya begitu manis. Namun Rangga langsung menyadarkan diri. Dia sadar kalau dirinya tak pantas begitu. Buru-buru Rangga pergi ke kamar mandi untuk segera mandi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!