“HAH!!”
Seketika mata Nino terbuka. Pandangannya langsung melihat ke sekeliling. Tidak ada makhluk halus yang sedari tadi terus mengikuti dan mengejarnya. Pemuda itu sedikit tenang saat tahu apa yang dialami barusan hanyalah sebuah mimpi.
Sebuah ruang serba putih dengan bau disinfektan khas menyapa indra penciumannya. Ditambah lagi telinganya menangkap suara peralatan medis yang terletak tidak jauh darinya.
Di tangannya juga tertancap jarum infus. Tanpa harus bertanya, Nino tahu kalau dirinya berada di rumah sakit.
Di dekat ranjangnya berdiri seorang pria mengenakan jas snelli dengan masker menutupi wajahnya. Dokter itu mendekat saat tahu Nino sudah tersadar dari komanya.
“Nino, apa kamu baik-baik saja?” tanya sang dokter.
“Iya, dok. Saya kenapa?”
“Kamu mengalami kecelakaan motor. Apa kamu lupa?”
“Kecelakaan motor?”
Sejenak Nino berusaha mengingat apa yang terjadi padanya. Terakhir yang diingatnya dia tengah melaju di jalan raya dengan sepeda motornya. Sesaat kemudian dia merasakan benturan keras dan tubuhnya terpental ke aspal.
Tepat ketika matanya hendak menutup, dia melihat seorang wanita berada di dekat lokasi kecelakaan. Setelahnya pemuda itu tidak ingat apa-apa lagi.
“Apa yang kamu rasakan sekarang, Nino? Apa ada bagian tubuh mu yang terasa sakit?”
“Tidak ada, dok.”
“Bagaimana dengan kepalamu?”
“Tidak sakit juga, dok.”
“Baguslah. Kalau begitu kamu bisa ikut denganku sekarang.”
“Ke mana dok?”
“Ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi.”
Perlahan sang dokter melepas maskernya. Mata Nino membelalak ketika melihat wajah sang dokter dari mata ke bawah rata, tidak ada hidung dan mulut. Seketika Nino langsung berteriak kencang.
“AAAAAAAAA!!!!!”
“Dokter!! Dokter!!”
Weni, Ibu Nino yang sedang menunggui anaknya di ruang ICU langsung berteriak ketika melihat tubuh anaknya mengejang disusul dengan suara alat medis yang menandakan ada masalah dengan organ vital sang anak.
Bergegas seorang dokter dan dua orang suster memasuki ruang ICU. Sang dokter langsung menangani Nino yang masih kejang-kejang.
Kepanikan terlihat di wajah Weni. Wanita it uterus memanggil nama Nino sambil menangis. Suster segera meminta Weni meninggalkan ruangan. Dari balik kaca ruangan ICU, Weni terus mengawasi dokter yang masih menangani anaknya.
Kejang yang dialami Nino berhenti bertepatan dengan jantungnya yang berhenti berdetak. Sang dokter segera naik ke atas ranjang untuk melakukan RJP.
Suster segera mengambil defibrillator. Dengan cepat dia memasangkan bantalan ke tubuh Nino.
Dokter menghentikan RJP, kemudian turun dari ranjang. Ketika defibrillator dinyalakan, tubuh Nino terlonjak ke atas. Kedua jari dokter menempel di leher Nino, denyut nadi pemuda itu masih belum kembali.
“Epi!”
Sang dokter kembali naik ke atas ranjang. Kembali dokter tersebut memberikan kompresi pada Nino. Sementara salah satu suster menyiapkan defibrillator kembali dan satu lagi menyuntikkan epinephrine. Setelah siap, kembali Nino mendapat kejutan.
Berhubung detak jantung Nino masih belum kembali, dokter meminta suster menyuntikkan kembali epinephrine dan menaikkan volume defibrillator. Dan untuk ketiga kalinya dokter itu naik ke ranjang untuk melakukan RJP.
Di percobaan ketiga, barulah ketiganya bisa bernafas lega. Denyut nadi dan detak jantung Nino kembali. Pemuda itu akhirnya bisa keluar dari masa kritis. Weni yang melihat dari luar ruangan juga merasa lega, sang anak berhasil keluar dari maut.
***
Keesokan harinya Nino membuka matanya. Dokter langsung memeriksa keadaan pemuda itu. Walau masih lemah dan belum bisa menggerakkan anggota tubuhnya, namun Nino sudah keluar dari masa kritis. Nino pun bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa.
Kedua orang tua Nino dan dua Kakaknya sudah berkumpul di ruang rawat salah satu rumah sakit swasta di kota Bandung.
Nino adalah anak bungsu dari pasangan Weni dan Rojali. Nino mempunyai satu kakak perempuan yang sudah berkeluarga, dan satu kakak laki-laki. Semua keluarganya tinggal di Depok. Sementara Nino merantau ke Bandung untuk kuliah.
“Ya Allah Nino, akhirnya kamu sadar juga, Nak. Kamu sudah bikin Mami takut.”
“No.. No.. Lo udah bikin babe jantungan, tahu kaga Lo?” sambung Rojali dengan logat Betawi yang kental.
Nino memang keturunan blasteran. Ayahnya orang Depok asli yang memiliki darah Betawi. Sementara Ibunya keturunan Janda alias Jawa Sunda. Dan Nino adalah hasil kolaborasi alias blasteran Jawa, Sunda dan Betawi.
Ibu Nino yang bernama Weni berkulit putih dan wajahnya juga cantik. Makanya Nino memanggil Ibunya dengan sebutan Mami.
Sementara Ayahnya, walau wajahnya lumayan ganteng, tapi karena logat Betawinya yang kental, membuat Nino memanggilnya dengan sebutan Babe.
“Maaf Mami, Babe.”
“Lo tuh kemarin sempat henti jantung, tahu nggak Lo? Hampir mati berdiri emak lo lihat dokter nyetrum Lo,” cerocos Rojali.
“Yang benar, Be?”
“Iye.”
“Lo kenapa bisa kecelakaan sih?” tanya Valen, Kakak kedua Nino. Mereka hanya berbeda dua tahun saja.
“Nggak tahu, Bang. Yang gue tahu, gue lagi bawa motor. Tiba-tiba ada yang nabrak gue terus gue mental gitu.”
“Yang nabrak Elo kabur kayaknya.”
“Oh iya, selain Nino, apa ada korban lain, Be?” tanya Nino penasaran.
Pasalnya dia terus teringat pada wanita yang ada di lokasi kecelakaan. Dia melihat wanita itu terbaring tidak jauh darinya dengan mata yang menatap ke arahnya.
“Kagak ade. Cuman Elo doang di sane. Lo bisa tanya temen Lo, si Asep.”
“Emangnya kenapa?” tanya Friska, Kakak pertama Nino.
“Pas sebelum Nino pingsan, Nino lihat ada perempuan ngga jauh dari Nino. Dia juga tergeletak di aspal. Kepalanya berdarah. Matanya lihat ke Nino kaya minta tolong gitu.”
Terang Nino pada Friska. Cara bicara Nino pada Friska memang lebih sopan. Selain jarak usia mereka yang cukup jauh, sebanyak delapan tahun. Friska juga cukup galak, jadi Nino sedikit segan padanya.
“Nggak ada perempuan. Menurut laporan polisi, cuma kamu yang ada di TKP. Di rekaman cctv juga nggak ada korban lain, cuma kamu aja. Mobil yang nabrak kamu langsung kabur. Kamu mimpi kali.”
“Masa sih? Tapi Nino yakin lihat perempuan itu.”
“Sudahlah, jangan dipikirkan. Yang penting kamu selamat. Kamu itu koma seminggu, dan sempat henti jantung. Tolong jangan buat Mami takut lagi.”
“Iya, Mami.”
Nino pun memilih tidak membahas perempuan misterius itu lagi. Walau dia yakin kalau perempuan itu nyata, namun semua keterangan yang diberikan Friska bertolak belakang.
“Mami mending balik ke penginapan. Istirahat, Mami kan sudah dari kemarin tidur di rumah sakit. Biar Valen aja yang jaga. Kak Friska temani Mami, Babe juga.”
“Ya sudah, Mami, Babe dan Kak Friska pulang dulu ke penginapan. Besok Mami ke sini lagi.”
Weni mencium kening Nino sebelum meninggalkan anak bungsunya itu. Sepeninggal semua keluarganya, Valen menarik kursi di dekat ranjang adiknya.
“Bang, ini kamar kelas berapa?”
“Kelas dua. semuanya penuh. Di samping Elo, pasien Kakek-kakek, kayanya kondisinya udah payah banget. Depan Elo, yang satu Bapak-bapak, satu lagi seumuran Elo, tapi dia tulang lunak kayanya,” suara Valen terdengar pelan. Jangan sampai ucapannya terdengar oleh pasien yang lain.
“Bang, telponin si Asep dong. Suruh dia ke sini.”
Valen segera menghubungi Asep. Sahabat dekat Nino. Sejak masuk ke perguruan tinggi keduanya sudah akrab sampai sekarang. Saking dekatnya, teman-teman sekelasnya sering menyebut mereka duo cetet, Upin Ipin atau duo maut.
Begitu mendapat telepon dari Valen, Asep berjanji akan datang malam hari nanti.
***
Hari sudah mulai menggelap. Valen berpamitan pada Nino untuk keluar mencari makan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi Asep belum juga muncul.
Karena bosan, Nino memutuskan turun dari ranjang. Tubuhnya sudah mulai bisa digerakkan walau harus pelan-pelan.
Dengan tertatih Nino turun dari ranjang. Dilihatnya semua pasien yang satu ruangan dengannya sudah beristirahat di atas ranjang. Semuanya ada yang menunggui, kecuali dirinya karena Valen sedang mencari makan.
Selangkah demi selangkah Nino keluar dari kamar perawatan. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Walau baru pukul delapan, tapi suasana di lantai ini sudah sangat sepi. Hanya ada satu suster yang berjaga di nurse station.
Ketika Nino hampir sampai di dekat nurse station, kepala suster yang sedang menunduk langsung terangkat. Matanya langsung melihat pada Nino yang berjalan ke arahnya. Dengan cepat suster itu mendekati Nino.
“Mau kemana, A?”
“Mau jalan-jalan aja, Sus. Bosan di kamar terus.”
“Mau saya temani?”
Suster tersebut memandangi Nino tanpa berkedip. Tiba-tiba saja dari kedua matanya keluar darah. Bersamaan dengan keluarnya darah, salah satu matanya copot dan menggantung sampai ke dekat hidung.
“AAAAAAAA!!!”
Nino berteriak kencang. Saking kencangnya, dia yakin kalau suara teriakannya akan terdengar oleh seluruh penghuni kamar di lantai ini. Namun nyatanya, tidak ada seorang pun yang keluar untuk menolongnya.
Pemuda itu berusaha menjauh dari suster tersebut. Namun karena tubuhnya yang masih lemas, dia tidak bisa berjalan jauh. Bahkan Nino terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Dia melihat ke belakang.
Sekarang sang suster sudah dalam posisi merayap di lantai. Dia menjulurkan tangannya, mencoba meraih kaki Nino.
***
Hai.. Hai.. Aku datang dengan novel baru. Aku kangen bikin novel horor, tapi tetap ya ada komedinya. Karena kalau serius, aku ikutan takut juga😂
“AAAAA!!!”
“Nino.. Nino.. hudang! (bangun).”
Asep mengguncang-guncang tubuh sahabatnya yang tiba-tiba saja berteriak kencang saat sedang tidur. Teriakan Nino sampai membangunkan dan mengganggu pasien lainnya. Asep tampak tak enak hati. Dia terus membangunkan Nino, sampai akhirnya pemuda itu terbangun.
“Sep..” panggil Nino begitu membuka matanya.
“Ai maneh kunaon? Gogorowokan jiga nu gelo (lo kenapa? Teriak-teriak kaya orang gila).”
“Lo kenapa baru datang?” kesal Nino sambil memukul lengan sahabatnya.
“Lah kocak. Urang geus di dieu titatadi. Ngan maneh hees (gue udah di sini dari tadi. Cuma elonya molor).”
Nino dan Asep memang datang dari suku berbeda. Nino yang keturunan Betawi, sementara Asep keturunan Sunda asli. Kedua orang tuanya asli orang Garut. Karenanya logat Sunda bicara Asep begitu kental ketika berbicara.
Biarpun mereka terkadang menggunakan bahasa yang berbeda, namun Nino bisa mengerti apa yang dibicarakan Asep. Hanya saja dia belum bisa berbicara Sunda seperti temannya.
“Gua barusan mimpi. Sumpah serem banget.”
“Mimpi apa?”
“Gue keluar dari kamar, terus ketemu suster. Tuh suster tiba-tiba aja dari matanya keluar darah terus mata yang satu copot, ngegantung sampai ke dekat hidung. Anjirr.. dia terus ngejar gue.”
“Jiirr.. bisa kencing di calana urang, hahaha..”
Asep menghentikan tawanya ketika melihat tatapan tajam dari salah satu penunggu pasien yang ada di kamar ini. Sadar kalau sudah mengganggu kenyamanan pasien lain, Asep mun menurunkan volume suaranya.
“Maneh naha bisa kecelakaan?”
“Ada mobil yang nabrak gue dari belakang. Sialan banget tuh orang, mana pake kabur lagi.”
“Geus lapor polisi?”
“Udah, Babe gue yang lapor. Mudah-mudahan ketemu tuh mobil yang nabrak gue. Gedeg banget gue. Eh tapi ada yang aneh pas kejadian kecelakaan.”
“Aneh naon?”
“Pas gue jatuh, gue lihat ada cewek di dekat gue. Dia juga telentang di aspal. Matanya lihat ke gue kaya orang butuh pertolongan gitu.
Tapi kata Babe ngga ada siapa-siapa di sana. Polisi bilang cuma ada gue aja di sana. Di rekaman cctv juga ngga ada tuh cewek. Kan aneh bet yak? Masa iya yang gue lihat setan?”
“Tong ngomong-ngomong jurig (setan), sieun aing (takut gue).”
Perbincangan keduanya terputus ketika Valen datang. Pria itu segera menarik kursi lain di dekat ranjang sang adik.
“Sep, nginep di sini?”
“Nggak tahu, Bang.”
“Udah nginep aja. Daripada Lo balik, udah malam juga. Tar diikutin kunti baru tahu rasa Lo.”
“Jirr.. ngajak ribut maneh?” kesal Asep.
Nino hanya tertawa saja melihat reaksi sahabatnya. Asep ini memang tergolong manusia penakut, sama seperti dirinya.
Namun mereka bukan takut pada manusia, tapi takut dengan makhluk lain yang hanya bisa dilihat tapi tidak bisa disentuh, alias makhluk astral.
Singkat cerita, akhirnya Asep memutuskan tidur di rumah sakit. Dia juga takut kalau harus pulang ke kost-annya. Waktu sudah pukul sepuluh malam.
Perjalanan menuju tempat kostnya cukup jauh dan harus melewati jalan yang kanan kirinya ditumbuhi pohon besar dan minim penerangan.
***
Setelah dua minggu dirawat di rumah sakit, akhirnya Nino diperbolehkan pulang. Pemuda itu memilih pulang ke Depok untuk memulihkan diri lebih dulu. Rencananya dia akan tinggal selama seminggu, baru kemudian kembali ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya.
Selama itu pula, Nino tidak mengalami gangguan lagi. Dia tidak pernah diganggu mimpi didatangi makhluk halus dan tentu saja membuatnya tenang. Pemuda itu menganggap kalau mimpi waktu itu hanya bunga tidur saja. Nino juga sudah melupakan wanita yang dilihatnya saat kecelakaan motor.
Setelah beristirahat selama seminggu, Nino bersiap untuk kembali ke Bandung. Pria itu memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam ranselnya.
“Be.. motor Nino gimana?”
“Motor Lo ringsek. Tapi tenang aje. Babe udah siapin motor baru buat Elo.”
“Asyik.”
Dalam pikiran Nino, sang Ayah akan membelikannya motor seperti yang digunakannya kemarin, hanya saja naik versi.
Tangan Rojali bergerak meminta Nino mengikutinya ketika mendengar suara motor berhenti di depan rumahnya.
“Noh.. motor baru lo,” tangan Rojali menunjuk sebuah motor bebek berwarna putih di bagian depannya.
Mata Nino langsung membelalak. Alih-alih naik versi, justru motornya sekarang malah turun kelas. Dulu motor yang dipakainya adalah motor sport.
“Buset, Babe kaga salah ngasih Nino motor begituan?”
“Sembarangan, Lo! Gitu-gitu juga motor legend. Tuh motor Babe beli tahun 2016, sampai sekarang masih bagus. Tarikannya masih kenceng. Mending Lo pake motor ini aja.”
“Ogah, mending Nino pake motor yang kemarin.”
“Motor Lo udah Babe jual. Pamali pake motor bekas kecelakaan. Anggap aja buang sial.”
“Ya tapi masa Nino pake motor ini sih, Be. Mana mau pulang ke Bandung. Kalau mogok tengah jalan gimana?”
“Kagak bakalan. Nih motor sehat, baru aja Babe bawa ke bengkel. Udah diservice, ganti oli, ganti ban, bensinnya juga full. Kagak ada apa-apa, percaya sama Babe.”
“Kalau percaya sama Babe, musyrik jadinya.”
“Elo tuh kalau dikasih tahu orang tua, jawab mulu. Badeg bener!”
Rojali hendak memukul anaknya, namun dengan cepat Nino berkelit. Alhasil adu mulut antara anak dan Bapak dimenangkan oleh Rojali. Dengan sangat amat terpaksa Nino menerima motor pemberian Rojali atau lebih tepatnya disebut motor warisan.
“Hati-hati di jalan, Nino.”
“Iye, Mami.”
“Baca doa sebelum pergi. Kalau capek, istirahat aja dulu.”
“Siap.”
“Lo mau lewat mana?”
“Ya paling lewat Puncak.”
“Sekarang kan Minggu, pasti macet. Mending Lo lewat Jonggol aja.”
“Iya dah, gimana nanti.”
Nino mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian. Setelah mengucapkan salam, pria itu segera menjalankan kendaraan roda duanya. Tak lupa dia mengucapkan doa sebelum tancap gas.
“Mami khawatir si Nino pulang naik motor. Apalagi dia habis kecelakaan.”
“Kagak nape-nape. Lo jangan mikir macem-macem. Berdoa aja buat anak Lo.”
Weni hanya menganggukkan kepalanya. Walau cemas, namun wanita itu tetap mencoba berpikir positif. Hanya doa yang bisa dia panjatkan agar anaknya selamat sampai di Bandung.
***
Setelah menempuh perjalanan selama lima jam lebih, akhirnya Nino tiba juga di kota Bandung. Waktu sudah sore ketika dia sampai. Pria itu langsung menuju daerah Surapati, di mana kost-annya berada.
Motor yang dikendarai Nino berbelok memasuki jalan Gagak kemudian berbelok memasuki sebuah rumah yang pintu pagarnya dibiarkan terbuka. Pemuda itu memarkirkan motor di parkiran, kemudian masuk ke dalam kost-an yang bentuknya seperti rumah sambil menenteng helmnya.
“No, udah sehat?” tanya salah satu penghuni kost.
“Alhamdulillah.”
Tanpa berlama-lama, Nino segera masuk ke dalam kost-an. Dia ingin segera beristirahat di kamarnya. Sebelum masuk ke kamarnya, dia melihat ke kamar di sebelahnya, yakni kamar Asep. Sepatu pemuda itu tidak ada, yang menandakan pemuda itu sedang tidak berada di kamarnya.
Tanpa berpikir panjang, Nino segera masuk ke kamarnya. Tidak ada yang berubah di dalam kamarnya. Kasur, meja belajar denga kursi dan lemari plastik menjadi penghuni tetap kamar kost-nya. Pria itu langsung merebahkan tubuh di atas kasur.
Karena kelelahan, Nino jatuh tertidur. Dia terbangun ketika mendengar ketukan di pintu. Suasana kamar sudah gelap, sepertinya dia tertidur cukup lama. Dia melihat jam di ponselnya, waktu menunjukkan pukul 18.10.
Kembali terdengar ketukan di pintu. Nino segera bangun dan membukakan pintu. Nampak Asep sudah berdiri di depannya.
“Iraha balik? (kapan pulang).”
“Tadi jam empat.”
Asep langsung masuk ke kamar Nino lalu mendaratkan bokongnya di sisi ranjang. Nino yang masih berada di dekat pintu bermaksud mendekati Asep. Namun langkahnya tertahan ketika ponsel di tangannya berdering.
Kening Nino mengernyit melihat nama sang pemanggil adalah Asep. Sementara yang memanggil sedang duduk di kasurnya.
“Sep.. Lo ngapain telepon gue?” tanya Nino bingung.
“Hape urang leungit euy. Angkat we (hape gue hilang. Angkat aja).”
Tanpa menaruh curiga, Nino langsung mengangkat panggilan dari Asep. Siapa tahu orang yang menelponnya menemukan ponsel temannya. Nino mencoba berpikir positif.
“Halo.”
“No, urang keur di jalan. Maneh geus dahar acan? Rek dipangmeulikeun naon? (No, gue lagi di jalan. Lo udah makan belum? Mau dibeliin apa?).”
***
Biar lebih hidup, percakapannya aku sengaja pakai bahasa Sunda walau ngga semua. Tapi tenang aja, ada terjemahannya kok.
Untuk sejenak Nino terpaku di tempatnya. Ponsel masih berada di telinganya, sementara matanya menatap Asep yang sedang duduk di sisi ranjang. Sahabatnya itu memandangi Nino dengan tatapan kosong.
Bergegas Nino mengambil kunci, menutup pintu kamar kemudian menguncinya dari luar. Pemuda itu segera berlari keluar dari rumah.
“Sep, Lo pulang langsung ke kost-an.”
“Moal meuli makan?”
“Ngga usah. Langsung balik sekarang!”
Nino langsung mengakhiri panggilan. Pemuda itu masih belum berani masuk ke dalam rumah. Dia menunggu Asep di parkiran. Nino berjalan mondar-mandir sambil terus memikirkan apa yang barusan terjadi.
Sepuluh menit berlalu, tapi Asep belum juga datang. Pemuda itu mulai ragu, apakah orang yang menelponnya tadi bukan Asep yang sebenarnya? Apa mungkin Asep yang di dalam kamar, sahabat yang sebenarnya?
Di tengah kebingungan, sebuah sepeda motor memasuki pekarangan rumah. Nino dapat bernafas lega ketika melihat Asep yang datang. Setelah memarkirkan motornya, Asep segera menghampiri Nino.
“Ada apa sih? Heboh pisan,” sembur Asep begitu di dekat Nino.
“Sep.. di kamar gue barusan ada Asep lain.”
“Hah? Kumaha maksudna? (gimana maksudnya?)” tanya Asep sambil menggaruk kepalanya.
“Tadi pas gue lagi tiduran, ada yang ngetuk pintu kamar gue. Pas gue buka, Elo yang nongol. Terus Elo masuk ke kamar, duduk di kasur gue. Terus Elo telepon gue.”
“Ah aing asa lieur kieu (gue jadi bingung gini).”
“Intinya Elo ada dua. yang satu di sini, satu lagi ada di kamar gue.”
“Serius?”
“Ikut gue.”
Nino menarik tangan Asep lalu masuk ke dalam rumah. Pemuda itu menarik nafas sejenak sebelum membuka kunci kamarnya. Pelan-pelan Nino membuka pintu. Begitu terbuka, ternyata di dalam kamarnya tidak ada siapa-siapa.
“Mana?” tanya Asep sambil masuk ke kamar.
“Sumpah, tadi ada. Mirip banget sama elo.”
“Ngigo. Ngimpi meureun.”
“Nggak mungkin! Itu beneran elo.”
“Nggeuslah, mending urang kaluar neangan dahar. Lapar urang (udahlah, mending kita keluar cari makan. Lapar gue).”
Akhirnya Nino mengikuti saran Asep. Pemuda itu keluar dari kamarnya seraya membawa helmnya.
***
Dua piring nasi goreng sudah tandas dimakan oleh Nino dan Asep. Untuk mengisi perut, keduanya memilih makan di warung nasi goreng yang ada di Tubagus Ismail.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi Nino masih enggan pulang ke kost-annya. Dia masih terbayang wajah Asep palsu.
Entah siapa yang sudah menyamar menjadi temannya. Yang pasti dia bukan manusia. Jika manusia, tidak mungkin tiba-tiba saja Asep palsu menghilang dari kamar.
“No, balik yuk.”
“Nantilah. Kita nongkrong dulu aja.”
“Nongkrong di mana?”
“Ke Dago lah. Nongkrong di tukang jagung bakar.”
“Hayu lah.”
Setelah membayar nasi goreng, Asep langsung menuju motornya. Nino sengaja menumpang di motor Asep. Dia masih terlalu capek harus mengendarai motornya sekembalinya dari Jakarta. Apalagi dia baru saja pulih dari kecelakaan yang dialaminya.
Asep mengendarai motornya menuju Dago bawah. Setelah melewati deretan bangunan, Asep menghentikan motornya di depan kedai jagung bakar yang dekat kantor bank pemerintah dan juga hotel. Ternyata di sana, ada teman-temannya juga tengah menongkrong. Keduanya segera bergabung.
Asik mengobrol sambil mengopi, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Keduanya pun memilih segera kembali ke kost-an.
Asep mengendarai motornya dengan kecepatan sedang sambil mengobrol. Sekarang motor Asep sudah memasuki jalanan yang cukup sepi dengan banyak pohon besar di kanan kiri.
Jantung Nino seakan berhenti berdetak ketika merasakan ada orang yang ikut duduk di belakangnya. Pemuda itu mencoba melihat dari sudut matanya.
Pelan-pelan dia menggerakkan kepalanya. walau tidak sampai memutar, Nino bisa melihat ada perempuan berbaju merah dengan rambut panjang duduk di belakangnya.
Sontak Nino langsung membacakan doa-doa di dalam hati. Dia sudah tidak menggubris lagi perkataan Asep. Pemuda itu benar-benar tengah dikuasai ketakutan. Jantung Nino seakan berhenti berdetak ketika pundaknya disentuh. Dengan cepat dia menepuk pundak Asep.
“Naon? (apa?).”
“Gantian, biar gue yang bawa motor.”
“Teu kudu lah (ngga usahlah).”
“Udah biar gue yang bawa.”
Karena Nino terus memaksa, akhirnya Asep menepikan motornya. Pria itu segera turun dari motor. Dengan cepat Nino maju ke depan dan Asep duduk di belakangnya. Tanpa menunggu lama, Nino langsung melajukan motornya.
Dari kaca spion Nino bisa melihat kalau makhluk itu masih ada di belakang Asep. Bulu kuduk Nino langsung berdiri ketika tanpa sengaja melihat wajah perempuan itu yang hancur dan penuh dengan darah. Buru-buru dia mengalihkan pandangan dari spion.
“Sep, Lo baik-baik aja kan?”
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Di belakang aman, kan?”
“Aman.”
“Nggak ada yang ngikut?”
Tentu saja Asep bingung mendengar pertanyaan Nino. Refleks pemuda itu menolehkan kepalanya ke belakang dan tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Sementara Nino masih bisa melihat sosok kunti berbaju merah masih duduk di belakang Asep.
“Sep, sorry yak.”
“Sorry kenapa?”
“Sorry aja, jadi gue yang bawa motor.”
“Santai aja. Kayak sama siapa aja.”
Perjalanan mendebarkan bagi Nino berakhir ketika motor yang dikendarainya sudah memasuki pekarangan rumah kost-an.
Dari spion, Nino sudah tidak melihat sosok itu lagi. Dia pun bisa bernafas lega. Sambil menenteng helm, keduanya memasuki rumah. Ketika Asep hendak masuk ke kamarnya, Nino menahannya.
“Sep, tidur sama gue yak.”
“Dih ogah banget.”
“Gue takut. Gimana kalau kloningan elo nongol lagi.”
“Halu itu.”
“Beneran atau nggak, mending kita tidur satu kamar aja. Kalau dia datengin elo sambil nyamar jadi gue, gimana?”
“Maneh mah nyingsieunan wae (elo mah nakutin aja).”
“Udah tidur di kamar gue. Angkut kasur Lo ke kamar.”
“Kela, urang ka kamar mandi heula.”
Sama seperti Asep, Nino pun segera ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Kemudian dia membantu Asep menggotong kasur ke kamarnya. Kasur diletakkan di lantai, dekat ranjang Nino. Setelah mengunci pintu, keduanya langsung duduk di atas kasur.
“Sep, gue mau pengakuan dosa ya.”
“Dosa apaan?”
“Sebenarnya pas gue minta gantian nyetir motor, ada yang ikut duduk di belakang gue.”
“Nu bener?” tubuh Asep langsung beringsut mendekati ranjang.
“Asli. Penampakannya cewek, kayak kunti gitu. Pake baju merah, terus mukanya hancur dan berdarah-darah.”
“Nu bener?” Asep semakin takut.
“Beneran. Dan pas gue pindah ke depan, dia masih duduk di belakang elo. Emang lo nggak ngerasain yang aneh gitu?”
“Nya tadi sih emang hawa teh kadang panas, kadang tiis. Naha maneh jadi bisa ningali nu kitu patut? (kenapa Lo jadi bisa lihat yang kaya gitu?).”
“Sejak gue kecelakaan. Begitu bangun dari koma, tiba-tiba aja gue bisa lihat yang begituan.”
“Ngeri pisan euy.”
“Asli takut bet gue.”
“Ayeuna aya keneh kuntina? (sekarang masih ada kuntinya?).”
“Udah kagak ada.”
“Alhamdulillah. Mending sare lah ayeuna (mending tidur sekarang).”
Keduanya segera membaringkan tubuh di kasur masing-masing. Demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, Nino memilih tidak mematikan lampu, seperti kebiasaannya saat tidur. Dikarenakan lelah, keduanya langsung jatuh tertidur.
***
Malam pun berlalu dengan aman. Mereka bangun ketika adzan shubuh berkumandang. Keduanya pun bergegas menuju mushola yang jaraknya tidak jauh dari kost-an.
Usai menunaikan shalat shubuh berjamaah, keduanya kembali ke kost-an. Asep mengembalikan kembali kasur ke kamarnya. Kemudian keduanya bersiap untuk berangkat ke kampus. Hari ini mereka ada kuliah pagi.
Sebelum masuk ke kelas, mereka sarapan lebih dulu di kantin kampus. Sambil menikmati sarapan, Asep mengatakan tugas apa saja yang harus dikerjakan selama Nino absen kuliah. Bahkan pemuda itu sudah merangkum semua mata kuliah untuk sang sahabat.
Tepat pukul tujuh lebih sepuluh menit, mereka memulai perkuliahan pertama. Satu per satu kelas B jurusan komunikasi memasuki ruangan. Nino mengambil kursi di bagian tengah dan Asep berada di depannya.
Ketika tengah mengeluarkan buku miliknya, tanpa sengaja mata Nino melihat ke kursi yang ada di bagian belakang, tepatnya di bagian sudut.
Di kursi itu duduk seorang mahasiswi. Mahasiswi itu berambut panjang, mengenakan blouse warna merah dan rok panjang warna hitam.
Cukup lama Nino memperhatikan, setahunya dia tidak pernah memiliki teman sekelas yang seperti gadis itu. Karena penasaran, dia bertanya pada Asep.
“Sep, di kelas kita ada mahasiswi baru yak?”
“Euweuh (ngga ada).”
“Itu yang di belakang, pojok kiri siapa?”
Refleks Asep menolehkan kepalanya ke arah kiri.
“Mana?” tanya Asep bingung.
***
Sue bener si Nino, malah jadiin Asep tameng Kunti🤣
Ini penampakan Nino versi ku
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!