Indonesia
NovelToon NovelToon

Roller Costlove

1# Setan bernama Sion

Jaekawa, ia menatap lorong bersiramkan cahaya lampu neon dengan hati dan otak berisik. Lebih berisik dari suara sayup yang sempat terdengar dari salah satu ruangan saat pintu itu terbuka oleh penghuni di dalamnya.

Feeling-nya mengatakan kali ini salah, namun....entahlah, rasa cintanya yang besar menggusur langkah Jae kesini, berangkat dengan perasaan terpaksa dan ragu, tak menyurutkan ayunan langkahnya hingga tiba di salah satu pintu hitam dimana di dalam sana Sion Dewangga sang kekasih yang telah dipacarinya selama 2 tahun mengajaknya sing a song bersama teman-temannya dalam rangka ulang tahun salah satu sahabat dekat Sion.

Jae menghela nafasnya yang tak pernah menyangka jika perasaan ragu hadir kali ini.

"Sayang..." senyum itu melebar saat melihat Jae sudah datang.

...----------------...

"Lan, sore ikut ke Adam Vista, si bar'uk udah sewa buat 3 jam. Cari hiburan lah, biar ngga stress. Kerja teroooos jadi raja engga." Azul menepuk pundaknya yang sepertinya memberikan efek pegal itu semakin terasa. Benar, ia butuh hiburan.

"Sewa LC (lady companion) kagak?" tanya nya melewati work station nya hingga beberapa rekan kerja lelaki melongok, hanya dua huruf namun mampu membuat riuh isi otak dan ruangan.

Azul tertawa, "nih orang sekalinya berkoar kaya petasan banting. LC...LC...gue sewa yang punya tempatnya sekalian, biar bisa ngebor di depan Lo." Ujarnya sambil tersenyum dan menoleh pada si senior software engineering ini.

KKN 21

(Lengkara Savio) Guys, ada yang mau lewat ke jalan Sudirman ngga? Kasian Nja, beliin rujak cingur yang disana dong...bumil itu kalo ngga diturut, bumi gonjang-ganjing.

(Sultan Tri Alby) gue ada rencana sih, tapi tau begitu...ngga jadi lewat sana lah.

(Raindra Jovian)😂 bang ke emang. Ngapain Lo jawab kalo gitu.

(Aluna Senja) tolongin dong, gue lagi ngandung calon presiden deh kayanya. Bapaknya lagi ke Batam 😭😭 nangis sejadi-jadinya nih.

(Nagara Kertamaru) biar nanti aku nyuruh orangku, sayang.

(Nararya Zaltan) bapak mana, bapak? @T. Zioma Arlan. Anak pungut Lo mau rujak cingur, Lan.

(Sultan Tri Alby) oh iya ya, anak Maru--Senja kan anak Arlan juga.

(Arshaka Mandala) temen ku nyuk gue kapan move on nya kalo gitu? 😭

(Purwangga Mahadri) Lan, @T. Zioma Arlan abis ini Lo minta upah. Kalo anak Senja--Maru cewek Lo udah pesenin buat jadi istri. Itung-itung buat pengorbanan Lo selama ini.

(Lengkara Savio) jahat. Kalo Mahad isian otaknya ya cuma rugi dan untung aja sih emang.

(T. Zioma Arlan) gue mau dangdutan dulu. Orang Maru banyak lah, Nja...yang bener aja, Lo tinggal tunjuk. Atau OB di kantor Mahad kan bejibun. Ngga usah repot. Lagian baru kemaren gue bawain soto bareng abang-abangnya sekalian.

(Raras Nalula) 😂😂😂 Saravv emang ni orang. Senja ngidam soto dibawain sama abangnya.

(Livia Syua Tan) 😂 Arlan si penyelamat bumil KKN 21. Emang enak banget cowok disini, giliran udah tekdung, Arlan yang mesti nolong Menuhin ngidamnya ibu-ibu disini.

(Raindra Jovian) Temen gue 🥺 semoga jalur Lo masuk surga dipercepat bro, lewat jalur bumil.

(Aksara Jingga)😆

(Arshaka Mandala)😆

(Sultan Tri Alby) Lo disumpahin mati cepet tuh, Lan.

(Meidina Sastro) thanks a lot Arlan. 🥰

(Raras Nalula) makasih banyak Arlan 🥰

(Aluna Senja) Arlan😭 gue udah ngga mau rujak, maunya calon Tante anak gue dari Lo sekarang.

(T. Zioma Arlan) ntar gue cari di kobokan.

Arlan berjalan bersama Azul, dimana katanya....rekan kantor mereka yang berjumlah 4 orang akan terlambat.

"Gue pingin ken cing lah, lo duluan....room nomor 2...." ujarnya pada Arlan menyerahkan kresek berisi Vod-ka pada Arlan yang kemudian duluan berjalan dan mengokei dan masuk membuka room nomor yang disebutkan itu dengan wajah suntuk.

"Belas..."

Benar, diantara ruang temaram, layar besar, beberapa microphone dan sofa nyaman yang disiapkan membentuk later L ini Arlan langsung menjatuhkan badan. Mengecek kembali sebentar ponselnya dimana grup wa memang tak pernah benar-benar sepi. KKN 21 memang sudah seperti keluarga, iya...keluarga memang seringnya menyusahkan dan merepotkan kan? Saat ini drama ngidam Senja, Nalula dan Mei yang belakangan begitu merepotkannya.

Belum lagi kehebohan Shaka dan Vio yang mengasuh putri kecil mereka, Yara alias chewy.

Cukup lama ia menunggu, "Si Azul ken cing apa buang batu empedu? Lama amat..." ia melirik arlojinya, tak sabar ia segera membuka segel di bibir botol kaca itu dan meneguknya langsung, Azul dan dirinya sengaja membeli ini di luar yang nantinya akan disediakan Bian sang rekan pemilik hajat. Katanya biar puas.

Jae, feeling-nya ternyata tak salah. Ia terseok-seok pergi dari room dimana nyatanya para penghuni ini benar-benar melakukan pesta, dan ia sangat-sangat kecewa pada Sion.

Dengan perut yang terasa mulai diaduk-aduk ia berusaha keras keluar dengan beralibi ke toilet sebentar.

Hingga akhirnya....

Huwekkk....Ia benar-benar memuntahkan isian makan siangnya tadi, belum lagi bau minuman, Yap...ia benar-benar merasa hancur, Sion dengan teganya memaksa dan mencekokinya.

Ia tau apa yang masuk ke dalam mulutnya itu. Itu bukan cinta melainkan bodoh, Jae!!!

Jae merosot di kamar mandi tempat karaoke. Belum selesai dengan rasa perut yang bak diaduk-aduk itu, kini rasa kleyengan dan panas di wajahnya menyerang.

Apakah rasanya minuman keras itu, memang sekeras ini? Sebab....kini jantung Jae sudah bergetar, badannya merasakan perasaan yang entahlah----seperti ia membayangkan fantasi paling liar. Bayangan wajah Sion tadi membuatnya kecewa berat, dimana ia mengatakan sesuatu yang membuatnya syok.

Kita udah 2 taun pacaran, masa cuma ciuman doang...itu pun kamu sering nolak.

Gue mau ma king love...

Jae ! Jae ! Sayang!

Jae keluar dari kamar mandi dan dengan tenaga yang harus bergelut bersama semua rasa tak enak itu, ia bergegas kabur...

"Jae ! Sayang!"

Jae berlari, dan entahlah, kini badannya justru bergetar, aliran da rah ke organ in timnya mendadak begitu deras sehingga terasa....gatal? Geli?

Shittt! Jae ingin sekali menangis.

Ceklek...blugh!

Jae bersembunyi entah di ruang siapa dan dimana, yang jelas ia hanya ingin mengamankan dirinya dari Sion.

"Lo lama banget bang ke." Umpat Arlan.

Jae terhenyak mendengar suara seseorang dari sana. Dan kini ia ambruk tepat di bawah pintu membuat Arlan segera melihatnya, "Lo, LC?" senyum Arlan lebar melihat sosok gadis manis nan cantik dengan dress selutut berwarna nude disana.

"Please tolong gue...bisa kasih gue minum?" pinta Jae. Namun yang diberikan justru-----

Ia sadar, meski dalam pengaruh obat dan minuman. Begitupun lelaki yang sekarang ada di sampingnya memintanya memandu memilihkan lagu.

Tapi bukan begitu cara kerja obat si alan yang diberikan Sion. Sebab...mulut dan organ gerak motoriknya melenceng, tidak seirama, dahsyat sekali efek apa yang diberikan setan bernama Sion.

"Bang, bisa tolongin gue..." diantara sadar dan tidaknya, ia justru meraih kerah kemeja Arlan dan menempelkan bibir keduanya dengan paksa. Jae menangis, menangis di dalam hati. Karena kedua tangannya sudah menggera yangi Arlan.

"Gue minta air..." tangisnya pecah, "gue udah basah..." lirihnya, Arlan menyeringai memang minuman keras itu terlalu bang sat. Lampu temaram yang membuat suasana jadi syahdu, sofa nyaman, otak yang telah melanglang buana, dan gadis itu telah membebaskan dirinya dari kancing kemeja.

"Lo mau ngapain?" tanya Arlan, "Lo minta air tapi..."

*Si alan. LC begini bikin gue*....awalnya ia sempat menolak, jatuhnya seperti ia yang mau di perko s44 cewek.

Sebab, *an jingg* ! Perempuan ini sudah bergerak turun menye sap miliknya.

Otaknya yang sudah kepentok itu justru terbuai dan menghasilkan reaksi tubuh yang di luar kendali.

.

.

.

.

Note : Welcome di cerita sederhanaku. Setelah susah keluar dari feel dan dunia latar istana 80an, akhirnya aku terdampar disini.

***Attention please*** !!!

Warning, ceritaku ini untuk usia diatas 17 tahun yang sudah bisa membedakan mana yang salah dan betul, bukan cerita anak Soleh, jadi segera stop jika kamu merasa mereka ini terlalu *kotor* menurut versimu. **kisah ini tidak cocok untuk para soft spoken dan para ukhti atau akhi** !!!!

Diambil yang baiknya saja dan buang yang jeleknya. Dan oh ya, jangan membebaniku dengan '*kenapa ngga kocak, ngakak atau somplak*' please itu mengganggu kinerja otakku....biarkan aku dengan pikiranku. Dan aku bukan penulis yang setia di satu genre atau pola pikir yang sama.

Yang cuma mau baca beberapa bab aja atau nabung bab...please mundur teratur. Jika sudah buka bab 1 maka lanjutkan....ingat!! Aku ngga pernah rugiin orang, maka jangan rugikan aku 😈😈 dengan hanya singgah tanpa melanjutkan.

Welcome to Arlan story....🥰🥰🤗

Salam dari para ku nyuk dan bede bah KKN 21.

.

.

.

2# Tak tau namanya

Keringat sudah menghasilkan butiran basah di permukaan kulit kedua insan yang sedang dimabuk gelora bira hi.

Menyatu menjadi thesahan dan erangan panjang yang menggema di setiap inci ruangan meski kemudian suara itu diserap oleh peredam sehingga tak sampai bocor keluar.

Dan saat gelombang itu datang....keduanya meledak bersama dalam hentakan yang semakin intens diberikan Arlan.

Jae sadar, begitupun Arlan. Namun keduanya ada dalam pengaruh zat adiktif, entah itu dalam bentuk minuman atau obat yang telah menyatu dengan aliran da rah. Begitu kan cara kerjanya, saat zat itu terserap, mengalir ke seluruh aliran da rah dan menyebar di dalam tubuh, memperlambat fungsi otak, mempengaruhi cara berfikir, penurunan koordinasi dan perubahan suasana hati, pengguna merasa seperti sedang berada di ambang batas mimpi, melupakan jika keduanya sedang berada di dunia nyata sekarang. Ada hormon, adrenalin dan libi do yang dibangkitkan bersamaan dengan itu.

Bahkan Jae tau, jika kini lelaki yang tak dikenalnya itu tengah kembali memompanya, tapi ia tidak berusaha untuk menghentikannya meskipun hati menjerit ingin, ia justru semakin menangis meminta untuk ditolong dari siksaan efek reaktif obat yang dipaksa masuk ke dalam tubuhnya itu, tubuhnya memberikan reaksi suka, candu dan ingin terus saat Arlan menekan lebih dalam.

Malu? Ia sudah tak punya tenaga lagi untuk merasa malu, toh tubuhnya telah diserahkan, seluruh incinya telah dija mah. Lemas sudah pasti, sebab kini ia hanya berselimutkan dress-nya sendiri tanpa memakainya, seperti tak memiliki daya lagi untuk sekedar bangkit.

Begitupun lelaki yang baru saja bergulat dengannya, kini ia duduk bersandar dan menengadah di kursi dengan mata terpejam setelah berhasil memakai kembali celananya.

Keduanya diam.

Ada buliran air bening yang menetes di ekor mata Jae. Ia masih berusaha untuk menguatkan diri untuk sekedar duduk, segera berpakaian kembali diantara rasa menyakitkan dan deritanya yang mulai mereda setelah sesuatu dituntaskan.

Cukup lama mereka berada di posisi itu sampai akhirnya ketukan di pintu memaksa keduanya untuk menajamkan pendengaran.

"Biar gue aja." Arlan mendadak membuka kelopak mata, mengusap wajahnya kasar dan menyambar kemeja yang teronggok di sofa lalu memakainya.

Jae menatap langit-langit ruangan yang gelap, satu-satunya cahaya disana adalah lampu berwarna-warni yang sudah di stel di ruangan dan layar televisi. Tak ada suara berisik penyanyi atau alunan musik yang diputar di layar sana seperti layaknya ruangan karaoke, sehingga kini otaknya begitu berisik merutuki diri sendiri, *ia sudah tak virgin lagi*.

Pandangan Jae semakin buram, selain karena rasa pening dan berputar di kepala yang masih tersisa, namun syarafff-syarafff matanya kian berkedut melelehkan air mata dimana itu telah memenuhi ruang hati yang sudah hancur.

Entah apa yang dikatakan Arlan, sebab kini ia telah kembali menutup pintu ruangan dan duduk di samping Jae lagi.

Gadis ini masih diam dalam tangisnya, sementara Arlan mengetuk-ngetuk jidatnya seperti tengah berusaha keras membawa kesadaran sepenuhnya sambil berpikir.

Jae tau, lelaki itu sangat berusaha keras untuk tersadar dari pengaruh alkohol sampai-sampai ia menjambak rambutnya sendiri lalu merogoh celana, terlebih mencapit lembaran uang biru dan merah, "tip, atau cost untuk mak ing love----"

"Gue bukan LC. Simpan itu..." Ia melirik Arlan dengan wajah kacau, tatapan getir dan kecewa, cukup menyedihkan. Jae menyimpan potret pahatan Tuhan yang sedetik lalu baru saja bergu mul dengannya dalam naf suu bira hi ini, siapa tau ia harus menghafal wajah lelaki ini jika seandainya keadaan ke depan memburuk atau tidak normal kembali.

Alis tebalnya mengernyit, wajahnya begitu clueless dengan ucapan Jae barusan, haruskah ia meminta maaf sekarang? Atau, Arlan *blank* harus mengatakan apa karena yang teringat olehnya adalah rintihan Jae saat sedang berburu nafas dan meraup kenikmatan dengannya tadi.

*Aw....gue masih virgin, pelan-pelan* !

*Tolongin gue....please*, *tuntaskan*.

Jae dengan wajah kakunya itu, jelas tak bisa menutupi rasa hancurnya....karena berkali-kali lelehan air matanya mengalir membasahi pipi.

"Gue ngga buang di dalam. Seharusnya....tapi," Arlan menyerahkan kartu namanya, "ini. Hubungi jika sesuatu terjadi. Mau gue antar pulang?"

Jae meraih lembaran tipis kecil itu dari tangan Arlan, "sorry. Dan ngga usah....semoga, urusan kita cukup sampai disini aja."

Dan Jae pun, masih bingung dengan kondisinya saat ini. Apa ia berhak marah? Apa ia berhak meminta pertanggung jawaban lelaki bernama Arlan ini? Entahlah, ia hanya ingin tidur, dan memikirkannya sendirian saja. Ia sudah kehilangan sesuatu yang paling dibanggakan oleh wanita....ia kotor, ia....bin4l...

Namun lelaki itu menahan Jae, hingga tak lama kemudian pintu diketuk kembali dan Arlan beranjak membawa beberapa botol air putih yang dibawa karyawan tempat karaoke.

"Minum yang banyak, Lo mau gue pesenin makan?" Arlan menyerahkan botol air mineral yang telah dibuka segel dan tutupnya.

Baik Arlan atau Jae, tak ada yang mau membahas lagi dengan apa yang sudah mereka lakukan saat ini. Mungkin menyesali apa yang diperbuat? Atau.....

Jae menggeleng, "gue ngga akan minta apapun jika tidak terjadi sesuatu, seperti...." ujar Jae pada Arlan, ia menggeleng kecewa sambil menghela nafasnya, "karena ini bukan hanya kesalahan lo tapi gue, gue yang masuk dan mengumpankan diri..." unjuknya di kartu nama Arlan, lalu memasukan itu ke dalam tas selempangnya.

Arlan masih diam, mencerna apa yang terjadi sambil terus meneguk air minum, ia juga sedikit menyiramkan pada wajahnya. Sebelum akhirnya Jae pamit undur diri, Arlan memaksa mengantar, tapi Jae menolak. Bahkan membentak lelaki itu.

"Santai neng...gue cuma mau menunjukan rasa tanggungjawab gue aja."

Jae memutuskan untuk ijin esoknya dari kampus, dengan alasan sakit.

Ia memang sakit, hatinya yang terlampau sakit saat ini. Membayangkan kejadian kemarin yang begitu membekas namun sangat ingin ia lupakan.

"Jae...makan dulu," ibu masuk ke dalam kamarnya, menemukan sang putri yang seharian ini tak bergairah sama sekali untuk beraktivitas bahkan sekedar keluar kamar.

Berkali-kali ibu menempelkan punggung tangannya di kening Jae, engga demam.

"Sakit apa sih, sebenernya. Mau ke dokter?" tanya ibu. Jae menggeleng, "cuma capek aja, bu. Pengen istirahat aja, badan rasanya lemes."

Lengkungan bibir ibu membuat Jae menatapnya meyakinkan.

"Ya udah makan, turun kalo gitu secape itu ya kuliah kamu?"

Jae mengangguk, "iya sebentar lagi aku turun."

Sepeninggal ibu yang keluar kamar, Jae menatap diri di depan cermin. Wajah pucatnya yang....ia menggeleng, apakah ia memang terlalu gampang dibodohi lelaki breng sek macam Sion atas nama cinta? Beberapa kali Sion menelfonnya dan ia blokir seketika.

"Gue sebodoh itu. Gue, apa keliatan murahan?" tanya nya bermonolog, sampai-sampai Sion memiliki niatan memakainya? Bukankah seharusnya jika sayang itu melindungi, bukan merusak?

"Breng sek." Umpat Jae menggeleng menangis. Ia lantas berdiri dari duduknya, menatap penampilan yang tampak feminim itu, semenjak bersama Sion ia lebih....girly, atas permintaan kekasihnya itu.

Ia menghapus air mata dengan kasar. Ia benar-benar hanya akan menangis hari ini....lelaki macam Sion, tidak patut ia tangisi lagi.

Jae turun dari kamar, dimana ibu, ayah, dan mas Janitra sudah hampir selesai makan.

"Mas, motor merah aku yang pake besok buat ke kampus."

Ibu tersedak, mas Janitra bahkan sudah menumpahkan sedikit minum pada dagunya, sementara ayah....

"Yakin?" ujar Janitra.

"Loh...loh, tumben, ada apa?"

Seminggu, dua minggu..Arlan menatap layar ponselnya. Setelah sore itu, tak ada yang berubah di hidupnya. Bahkan tak ada nomor asing yang mampir selain dari orang yang memperkenalkan diri sebagai leasing motor dan admin judol.

**KKN 21**

(**Raras Nalula**) *Jangan ada yang absen di acara 4 bulanan gue. Cukup di nikahan gue sama Zal, Jovi sama Alby absen*.

(***Raindra Jovian***) *Habis kawin terbitlah acara 4 bulanan, 7 bulanan terus lahiran dan aqiqah. 🤕*

(***T. Zioma Arlan***) *terus Lo maunya apa, Jov? Sunatan*?

(***Sultan Tri Alby***) *habis batik terbitlah kemeja Koko*.

(***Arshaka Mandala***) *udah paling bener pake sarung*....

(***Lengkara Savio***) *curhatan para bujang. Aslinya deh, selain dari Mahad, Lo bertiga masih jomblo ya? Mau gue promoin ngga? Beli 2 gratis 1*?

(***Aluna Senja***) *Lan*, @***T. Zioma Arlan***, *tante mana tante? 😩*

(***T. Zioma Arlan***) *Apa sih ini ampun....tante...tante...Lo yang kira-kira dong, Nja kalo ngidam, dipikir tinggal nyomot di gerobak gorengan. suruh Maru punya lagi, jangan jadi ke gue*.

(***Sultan Tri Alby***) *Maru punya tante, Senja auto anter Maru ke klinik khitan lagi. Selametan deh kita..yeeee*!

(***Livia Syua Tan***) *Heran deh, padahal nih trio KKN 21 cowok-cowok tajir, apa karena kalian pelit ya jadi cewek pada melipir? 😂*

(***Purwangga Mahadri***) *kurang amal. Kurang ganteng, kurang se-ons*.

(**Sultan Tri Alby**) *sorry, bukan pelit ya...harap bedakan antara pelit sama investasi bodong*.

(***Meidina Sastro***) *investasi bodong? 😳*

(***Arshaka Mandala***) *si an jing 😂 pacaran disamain sama investasi bodong*.

(***Raindra Jovian***) *betul 🫠 sakitnya 7 jaitan kalo ngga jadi jodoh. Abis dibeliin barang, terus dianggap teman...katanya kamu terlalu baik*.

(***T. Zioma Arlan***) *lah, mestinya kalo begitu sebelum nembak Lo begal dulu tuh cewek, Lo lece hin....dikasih cowok baik malah ditolak*.

(***Aksara Jingga***) *saravvv😄*

(**Purwangga Mahadri**) 😂😂😂

(***T. Zioma Arlan***) *Sorry, kalo bilang pelit itu jelas bukan gue ya....gue anak ganteng, soleh, rajin menabung, rajin sedekah*...

(***Raindra Jovian***)*rajin ngintipin orang mandi*.

(***Nararya Zaltan***) *rajin nilep duit proyek*

(***Sultan Tri Alby***) *rajin nontonin video bo kepp*..

(***Raras Nalula***)*😆*

(***Meidina Sastro)😳***

(***Aluna Senja***) *Rajin pangkal pandai*. *Uhhh, kurang rajin apa om nya anak gue*.

Arlan menaruh ponselnya, pikirannya sudah dipenuhi oleh setiap potongan moment sore itu, moment yang tak akan bisa ia lupakan. Wajah cantik yang menthesah di bawah kungkungannya, di bawah kendali dan kuasanya.

Bahkan ia tak tau siapa nama gadis itu.

.

.

.

.

3# KKN TEMATIK

Jaekawa, jika tak ingat dengan rasa malu, keluarga, lalu KKN tematik yang siap ia lakukan beberapa minggu ke depan, mungkin sudah ia laporkan Sion pada pihak berwajib.

Dan kejadian menggemparkan kantin 2 minggu lalu masih hangat-hangatnya diperbincangkan oleh para mahasiswa di UNJANA yang kebetulan di saat bersamaan ada di kantin, lalu kabar ini menyebar luas bak virus.

Byurr!

Jae sudah menyiramkan jus ke kepala Sion, dimana lelaki itu tengah berada bersama teman-temannya. Awalnya Sion tersenyum melihat kedatangan Jae, merentangkan kedua tangannya menyambut gadis di dalam balutan jaket kulitnya kini, tidak seperti biasanya yang akan nampak feminim.

Namun....wajahnya tak bisa lebih murka lagi saat Jae melakukan hal mengejutkan itu.

"Kita putus, akhirnya gue tau Lo cowok breng sek yang pernah gue kenal."

"Shittt! Jae!!" teriaknya diantara rasa syok dan badan dilumuri jus alpukat miliknya. Bahkan teman-temannya turut terkejut dan langsung terjengkat bangkit.

"Jae! Apa-apaan kamu?!" ia beranjak mengejar Jae.

Mendadak kantin riuh, mereka hanya menonton, bahkan beberapanya memilih merekam itu. Jaman sekarang, orang-orang tuh kalo ada yang berantem justru direkam bukan dipisahin.

"Apa perlu gue buka aib Lo ini. Sion, Lo ngga tau seberapa kecewanya gue sama Lo..." tunjuk Jae jelas dengan wajah muak dan kecewanya menunjuk-nunjuk dada Sion.

"Ck. Elah...Jae, ngga usah muna ngga usah kampungan lah, jaman sekarang tuh..." ia berujar dengan enteng dan seperti itu bukan hal besar.

"Kampungan. Gue emang kampungan, Sion." Tukas Jae menatap nanar.

Sion menyeringai tersenyum miring, "terus Lo kemana waktu kemarin? Lampiasin itu sama siapa?" tanya nya begitu membuat hati Jae teriris, cowok sin ting.

"Breng sek. Lo emang an jing, Sion." Umpat Jae, tangannya sudah mengepal dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia baru akan melayangkan tamparannya namun Sion berhasil menahan itu.

"Jawab gue Jae," ia menarik tangan Jae hingga mereka tak memiliki jarak lagi. Mereka beradu tatap dengan sorot muak.

"Ngga ada. Gue balik." bohongnya membentak, segera menepis tangan Sion yang masih menatapnya tak percaya. Ia bergegas berbalik.

"Silahkan Lo pergi. Gue masih bisa cari yang lain yang ngga kampungan kaya Lo...Lo pikir dengan Lo yang balik begini lagi, bikin gue terpesona lagi? Ngga Jae..." ucapnya tak mengurungkan niat Jae untuk terus berjalan lurus.

"Gue ngga butuh cowok, apalagi cowok sampah kaya lo." Lirihnya bergumam.

Kini Jae menatap kertas yang tertempel di papan informasi. Mencari namanya diantara kelompok kerja nyata tematik yang akan digelar selama kurang lebih sebulan ke depan.

...***Kelompok 30 KKN Tematik***...

...***Kampus UNJANA***...

Salsabilla Eriawan, Fakultas Pendidikan~ Statistik MIPA

Sesilia Gunawan, Fakultas Psikologi ~ Psikologi klinis

Jaekawa Ayu, Fakultas Teknik~ Teknik Mesin

Andara Tatiana, Fakultas Seni Rupa ~ Desain Grafis

Bianca Yasmina, Fakultas Ekonomi Bisnis ~ Bisnis Digital

Maharani Savina, FISIP~ Ilmu Komunikasi

Ia mengenal seseorang di kelompoknya, Bianca yang kebetulan dulu pernah bertemu sebab Sion dan Fahrizal berteman, beberapa kali mereka bertemu di acara kumpul-kumpul circle Sion.

"Jaheee!" pekik seseorang dari belakang, menggema dan cukup membuat kuping berdenging.

Gadis centil itu, sembari tersenyum lebar berlari kecil ke arah Jae, "kita sekelompok ya? Jahe...Jahe...by the way, gue mau tanya, kejadian kemaren. Sorry, Lo sama Sion?" wajahnya begitu penasaran, "kenapa? Sayang banget."

Namun kemudian sejurus kemudian Bianca berdecak paham, "tapi emang gue kalo jadi Lo juga bakalan begitu juga, sih...anak-anak emang bilang kalo Sion punya pacar selain Lo." Kini tanpa aba-aba, gadis FEB itu sudah melingkarkan tangannya di lengan Jae.

Sementara Jae, ia hanya bisa diam, selain dari ia yang tak seheboh dan seenergik Bianca, ia juga malas membahas Sion.

"Eh, udah tau sama anggota kelompok kita belum?" nah lihat kan?! Bedanya ia dan Bianca, yang mudah sekali membanting setir topik pembicaraan dari sana ke sono.

"Belum."

"Sini gue bisikin nomornya. Ketemuan yuk!" ajaknya dengan wajah merengek.

Dari kesemua 6 anggota kelompok KKN tematik 30, mereka ini adalah perempuan. Memang di tahun ini, tidak terlalu banyak mahasiswa yang mengikuti KKN Tematik, terkhusus tak banyak yang lolos persyaratan untuk melakukan KKN Tematik.

Dan disinilah mereka, berkat Bianca keenamnya ini bisa berkumpul.

"Girls! Thanks ya udah nyempetin waktu, atau emang wajib sih sebenernya..." oceh Bianca menatap satu persatu anggota kelompok 30 yang kini sudah berkumpul di kantin.

"Oke. So...kita cuma berenam kan?" tanya Andara, si mahasiswi yang penampilannya ini paling unik, ciri khas anak seni ya gitu sedikit urakan dan nyentrik dengan gelang handmade yang bejibun di pergelangan tangan, juga tabung kertas yang selalu di sampirkan di bahu. Wajahnya ramah, namun terkadang menatap misterius.

Dan kini mata Jae beralih pada gadis berkacamata bernama Salsabilla, ia sejak tadi menyedot jus strawberry miliknya tak begitu menanggapi ocehan berisik Bianca yang memang selalu meledak-ledak macam petasan banting.

"Oh ya, gue Salsa by the way, Statistik MIPA..." senyumnya lebar, namun sejurus kemudian kembali kaku.

Lalu beralih pada seorang gadis berambut blonde nan dikepang Elsa-nya yang terlihat nyaman dengan headset di sebelah telinganya seolah tak peduli dengan dunia dan lebih sibuk mengangguk-angguk menikmati lagu sambil sesekali menggumam bernyanyi, "gue Maharani, FISIP."

Dan wajah yang paling ramah di meja itu kini tersenyum tulus, "aku Sesil, anak psikologi..." wajah-wajah yang seperti siap menampung masalah orang se-Indonesia.

"Gue Jaekawa, Teknik mesin..." ia menyalami mereka satu persatu.

"Gue bikinin grup ya?" tanya Bianca yang sat set, beberapa detik kemudian.

Srikandi 30

Bianca invited Jae

Bianca invited Salsa

Bianca invited Sesil

Bianca invited Andara

Bianca invited Maharani

"Jadi, apa sudah ada yang tau dimana kita akan ditempatkan nantinya?" tanya Salsa mendorong letak kacamatanya dan membuat posisi tegak di kursi.

"Masih banyak pilihan tempat yang disiapkan pihak kampus. Kayanya belum ada kelompok yang menentukan juga..." ujar Jae diangguki Maharani.

"Kalo ngga salah nih," suara lembut dan ramah Sesil itu terasa empuk di telinga, "ada Widya Mukti, Cikalong. Ada Mandala Jaya, perbatasan Bandung Utara...Ada---"

"Op..op, tunggu deh. Widya Mukti itu yang tahun berapa pernah dijadiin tempat KKN kampus sini juga kan? Kabarnya jadi kelompok paling sukses?" tanya Andara si anak mading kampus, nama Andara juga ada di organisasi kampus, jadi wajar saja ia yang paling tau dengan informasi informasi begini.

"Oh ya?" tanya Jae, "sesukses apa?"

Kini Maharani sudah menarik headset miliknya, sepertinya pembahasan ini mulai menarik.

"Gue sih taunya dari Bang Dimas, kelompok berapa ya gue lupa, berhasil bikin program kerja yang sampe bawa perubahan signifikan buat desa Widya Mukti meskipun ngga sebentar, bahkan sampai saat ini loh..."

Alis Jae naik sebelah, "oh...siapa kordesnya dulu?"

Andara menggidikan bahunya, "lupa."

"Warganya tuh katanya bisa menciptakan lapangan kerja sendiri."

Jae kembali mengangguk-angguk, "oh ya? Pendidikan warganya?"

"Standar sih yang gue tau. Tapi buat apa sih, kan mereka juga udah maju, udah makmur..." gidik Andara lagi.

"Justru itu kelemahannya kali ya, proker mereka boleh berhasil tapi mereka melupakan kalo pendidikan, sumber daya manusia yang mumpuni itu penting." Maharani mengangguk seolah menemukan tema projek mereka.

Jae menarik senyumannya, "gue ambil Widya Mukti."

"Oke vote...vote..." Bianca menggoyangkan tangannya di depan.

"Bentar deh, Widya Mukti tuh dimana sih?"

Lantas Sesil membuka ponselnya, mencari google map dan mengklik google earth. Lalu menaruh ponselnya di tengah-tengah meja, "disini guys."

"Ya ampun!" Bianca menutup mulutnya syok matanya membeliak seperti baru saja menelan lalat, "yang bener aja Jae."

"Ini tuh masih Bandung, kan? Kok Bandung ada yang begininya sih? Sampai ke pojok-pojok begini?" tanya Salsa masih terheran-heran tak percaya.

"Tapi bisa lewat tol kan?" tanya Maharani.

Andara mengangguk sementara Sesil masih menggeser-geser layar ponsel miliknya itu, "udah deh Sesil...mau Lo geser-geser letak Widya Mukti ngga akan langsung pindah ke Jakarta." Oceh Bianca.

"Tapi setau gue jalannya udah bagus kok, gosipnya alamnya masih bagus loh, asli deh persis kita lagi vacation kali ya?" Andara dengan mata berbinar nya menatap kawannya satu persatu.

"Gue ikut deh." Maharani mengunjukan tangannya, untuk kemudian Salsa ikut mengangkat tangan juga, "gue juga."

Sisanya, setelah mereka semua mengangkat tangan, hanya tinggal Bianca saja yang belum ia justru menunjukan wajah menyedihkannya, "Bi?" tanya Jae.

"Apa suara gue masih dibutuhkan setelah 5 orang mengangkat tangan? Pengen gue colok aja rasanya kalian...."

Mereka tertawa renyah, dengan Sesil menepuk-nepuk punggung Bianca, "sabar...anggap aja kita liburan ke alam."

"Hubungan LDR itu sesekali diperlukan, Bi..." ujar Jae ia seolah paham apa yang menjadi beban Bianca.

"Kalo gitu gue hubungin pak Sulaeman ya...kalo kita mau coba ambil Widya Mukti...kapan mau survey?" tanya Jae yang mulai menscroll ponsel mencari nomor dosen pembimbing lapangan mereka.

...KKN 30...

...Jaekawa Ayu ~ Koordinator desa...

...Salsabilla Eriawan ~ Sekertaris...

...Bianca Yasmina ~ Bendahara...

...Sesilia Gunawan ~ Humas...

...Andara Tatiana ~ Publikasi & dokumentasi...

...Maharani Savina ~ Logistik & konsumsi...

Jingga baru saja bertelfon ria dengan pak Agus.

"Kenapa sayang?" tanya Mei.

Jingga menggeleng, "engga, pak Agus bilang Widya Mukti mau kedatangan mahasiswa KKN lagi, katanya sih dari UNJANA juga..."

Mei menarik alisnya, "oh ya? Wahh...berasa jadi nostalgia dong. Jadi pengen balik lagi..." kekehnya. Jingga mengusap perut Mei yang telah membesar itu, "Widya Mukti udah jadi rumah kedua KKN 21. Bukan sekedar yg tempat KKN 21 doang...kapanpun kamu mau balik, tinggal balik aja."

"Beda vibesnya," colek Mei di hidung Jingga.

KKN 21

(Medina Sastro) Guys Widya Mukti mau kedatangan mahasiswa KKN lagi loh, dari UNJANA

(Lengkara Savio) mauuu🥹

(Raras Nalula) wah aslinya? Pengen juga balik lagi...🤗

(Aluna Senja) asliii?!!! Oh my God, ikutan ahhh!

(Raindra Jovian) jangan!!! Nanti kelompoknya Lo kasih empedu ikan. Auto balik kampus tinggal nama.

(Purwangga Mahadri)😂 si Alby trauma seumur hidup.

(Livia Syua Tan) Mendaftarkan diri ☝️

.

.

.

.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!