"Urusan proyek, gampang lah."
Hahaha
Tawa Agung langsung membahana mendengar ucapan Trio, calon besannya yang seorang pengusaha sukses. Tujuan utamanya menjodohkan putrinya, Ivy, dengan putra Trio memang untuk itu, melancarkan bisnis. Ia tak peduli dengan penolakan Ivy, baginya, bisnis hidupnya, segalanya.
Malam ini, keluarga Trio datang ke kediaman Agung untuk menentukan tanggal pernikahan antara Ivy dan Farid. Di ruang tamu luas dengan sofa mewah dan berbagai hidangan mahal, mereka berkumpul.
"Ivy nya mana, Om?" tanya Farid. Sejak ia dan keluarganya datang tadi, memang belum melihat Ivy sama sekali. Mereka sudah bertunangan sejak sebulan lalu, tapi untuk bertemu Ivy, bisa dibilang sangat susah, wanita itu selalu menolak. Dichat tak pernah dibalas, ditelepon, jangan ditanya, tak pernah diangkat.
"Ivy masih di kamar," sahut Agung. "Dandan," lanjutnya setengah berbisik pada Farid, menempelkan telapak tangan di dekat bibir.
Farid tersenyum mendengar itu, pun dengan kedua orang tuanya.
"Bi, panggil Ivy, suruh cepetan," ujar Agung pada pembantu yang datang membawa kue dan camilan lain meski sudah banyak sekali hidangan di atas meja. Belum lagi di meja makan, sudah disiapkan hidangan spesial untuk makan malam.
"Iya, Tuan," Bi Sarti mengangguk sopan. Setelah memindahkan hidangan dari nampan ke meja, wanita berusia kepala empat tersebut, pamit untuk memanggil Ivy. Namun ternyata, nona muda yang akan dia panggil, sudah lebih dulu keluar.
"Ah, ini dia Ivy," Agung tersenyum lebar, menyambut putrinya yang keluar dengan gaun biru yang sangat elegan. Gaun biru yang kemarin ia belikan dari butik ternama agar putrinya terlihat memukau malam ini.
"Vy," Farid langsung berdiri, tersenyum menyambut calon istrinya.
Alih-alih membalas sapaan Farid atau sekedar senyum, Ivy malah memutar kedua bola matanya jengah. Ia juga tak menyapa apalagi mencium tangan kedua orang tua Farid, justru melemparkan sesuatu ke atas meja yang langsung menarik perhatian semua orang.
"Ivy!" bentak Agung yang tak suka dengan sikap anaknya yang kurang sopan. Ia menatap Ivy tajam, memberi isyarat agar segera meminta maaf.
"Apa itu, testpack?" Safira, Ibu Farid mengernyit melihat benda yang dilempar Ivy ke atas meja. Sebagai wanita yang sudah dua kali hamil, tentu ia sudah familiar dengan benda itu. Ia bangkit, melangkah untuk mengambil benda di atas meja tersebut. Dan benar saja, itu adalah testpack. "Ka, kamu... hamil?" ia menatap Ivy setelah memastikan garis dua di testpack.
"Rid," Trio menatap putranya, membuang nafas berat sambil geleng-geleng. Ia tahu sepak terjang putranya, jadi tak terlalu heran.
Farid menggeleng pelan, "Bukan, bukan anak Farid," wajahnya seketika pias.
Mulut semua orang langsung menganga, dan tatapan otomatis terpusat pada Ivy, meminta penjelasan.
Agung, menjadi orang yang paling panik disini. Bangkit dari duduknya, menghampiri Ivy yang masih berdiri. "Kamu jangan bikin masalah," bisiknya penuh penekanan.
"Apa ini Ivy, tolong jelaskan pada kami?" tanya Safira, wajahnya tampak gelisah.
"Saya hamil, Tante," sahut Ivy sambil tersenyum, tak ada keraguan sedikitpun dalam nada bicaranya. "Tapi bukan anak Farid."
Tubuh Safira sampai oleng, hingga berpegangan pada lengan suaminya.
"Apa apan ini!" teriak Trio, nafasnya terlihat mulai naik turun.
Agung panik luar biasa, tubuhnya sampai gemetar.
"Hahaha."
Tawa Agung, mendadak memecah ketegangan, hingga semua orang menatap ke arahnya. "Ivy, Ivy pasti sedang bercanda. Astaga, gak baik ini, Vy," merangkul pundak putrinya. "Ini orang tua loh, malah kamu prank kayak gini."
Farid bernafas lega, pun dengan kedua orang tuanya. Namun kelegaan itu tak berlangsung lama, saat Ivy menyingkirkan lengan Papanya dari pundak.
"Saya tidak sedang bercanda," Ivy tersenyum miring. "Saya memang hamil, tapi bukan dengan Farid," sekali lagi, ia tegaskan itu.
Wajah Trio seketika mengeras, kedua telapak tangannya terkepal kuat. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak disini. Bagaimana bisa, tunangan putranya hamil dengan laki-laki lain saat acara pernikahan sudah direncanakan.
"Apa maksud kamu?" tanya Farid dengan dada bergemuruh hebat, merasa dikhianati.
"Emang kurang jelas ya?" Ivy tersenyum simpul, kedua lengannya dilipat di dada. "Udahlah, kalian aja yang putuskan bagaimana selanjutnya. Permisi." Ia melenggang santai setelah membuat kekacauan.
"Kita, kita bisa bicarakan ini baik-baik," Agung berusaha membujuk Farid dan orang tuanya. "Farid, kamu cintakan sama Ivy? Se, semua pasti ada jalan keluarnya."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," ucap Trio lantang. "Perjodohan ini, BATAL!" teriaknya dengan mata menyala-nyala. "Ayo kita pulang!" menarik lengan istrinya.
"Tolong, tolong, jangan pulang dulu," Agung berusaha menghalangi mereka dengan menghadang jalannya. "Kita bisa bicarakan dengan baik-baik, kita cari solusinya bersama."
Farid tersenyum kecut. "Solusi apa, Om? Menggugurkan kandungan Ivy? Atau Om suruh saya menerima anak itu?" ia berdecak sambil geleng-geleng. "Saya tidak sudi menikah dengan wanita kotor sepertinya, apalagi menerima anaknya. Najis!"
Wajah Agung pias, tak tahu harus membujuk seperti apa lagi.
"Ayo Farid, kita pulang," Safira menarik lengan putranya, melangkah melewati Agung, berjalan menuju pintu utama.
"Oh iya," Trio membalikkan sebelum keluar. "Semua kerjasama yang sudah kita rencanakan, BATAL!"
Agung makin naik darah, selepas kepergian mereka, ia langsung menendang meja hingga apa yang ada di tasnya berantakan. Minuman tumpah, toples makanan ringan jatuh, dan kue-kue melompat dari piringnya.
Prang
Pyar
Belum puas membuat meja berantakan, ia melemparkan apapun yang ada disana, termasuk gelas dan piring. Ini hanya pemanasan, karena kemarahan yang sesungguhnya, baru akan dia luapkan sekarang.
"Ivy! Ivy!" teriaknya, berjalan menaiki tangga menuju kamar putrinya.
Brakk
Ia membuka lalu membanting daun pintu kamar Ivy. Dadanya bergemuruh hebat melihat Ivy duduk santai di depan meja rias, sedang menghapus make up seperti tak terjadi apa-apa. Dengan rahang mengeras dan kedua telapak tangan terkepal kuat, ia mendekati Ivy, menarik lengannya agar berdiri.
PLAK
Sebuah tamparan langsung ia layangkan pada pipi Putrinya. Pipi mulus yang putih tersebut, seketika menjadi merah dan terlihat jejak telapak tangan.
"Katakan yang sebenarnya pada Papa, apa kamu hamil?" dengan nafas memburu, Agung mencengkeram kedua bahu Ivy.
"Memang, yang tadi belum jelas?" Ivy tersenyum. Tak pernah ia sebahagia ini, telah berhasil membatalkan perjodohan sekaligus membuat Papanya malu. "Besok, kita bisa pastikan ke Dokter jika Papa tidak percaya."
"Siapa ayah dari janin itu?" Agung ganti mencengkeram rahang Ivy. Cengkeramannya makin kuat meski terlihat putrinya kesakitan.
"Aku tidak tahu," sahut Ivy dengan suara kurang jelas karena rahangnya dicengkeram.
"Apa maksudmu tidak tahu hah?" bentak Agung di depan wajah putrinya. Melepaskan cengkeramannya lalu mendorong Ivy hingga terhuyung ke belakang. "Katakan, siapa ayah dari janin itu?" menatap nyalang perut Ivy yang masih terlihat rata.
"Aku tidak tahu," jawaban Ivy masih sama. Tapi bukan jawaban itu yang membuat Agung kian jengkel, tapi ekspresi tak bersalahnya yang membuat ia makin naik darah dan akhirnya kembali menampar Ivy.
PLAK PLAK
Ivy menyentuh sudut bibirnya yang terasa perih. Ia tersenyum melihat darah segar di ujung telunjuknya.
"Katakan, siapa ayahnya!" teriak Agung, mengambil botol micelar water di atas meja rias, melemparnya ke cermin.
PYAR
Cermin rias Ivy seketika pecah, dan remahan kaca, memenuhi meja.
"Aku tidur dengan laki-laki yang tidak aku kenal di club, jadi aku tidak tahu siapa dia."
Mata Agung melotot. Jawaban Ivy membuatnya makin emosi. "DASAR MURAHAN!" Ia menarik rambut Ivy, melempar putrinya itu ke atas ranjang.
Ivy meringis, memegang perutnya. Semoga saja, anaknya baik-baik saja.
"Tak tahu diuntung!" Dengan mata melotot, Agung menunjuk Ivy. "Sudah bertunangan dengan laki-laki kaya, tapi tidur dengan orang tak dikenal. Wanita macam apa kamu? Dasar jalangg!" mengambil bantal, melempar ke wajah Ivy.
"Ya, aku jalangg," Ivy tersenyum, duduk di sisi ranjang. "Aku murahan, sama seperti para wanita-wanita yang selalu Papa bawa pulang itu."
"Kurang ajar!"
PLAK PLAK
Agung kembali menampar Ivy untuk kesekian kalinya.
"Kenapa Pah, tak terima?" Ivy tersenyum dengan air mata yang mulai menetes. "Memang seperti itu kan? Wanita-wanita yang selalu Papa bawa pulang, wanita yang selalu berganti setiap sebulan sekali, adalah wanita murahan, jalangg! Dan laki-laki yang mau dengan wanita murahan, berarti sama murahannya!"
"IVY!" telapak tangan Agung sudah berada di udara, namun teriakan seseorang menghentikannya.
"JANGAN, PAH! Cukup, hentikan!" Ivana berlari menghampiri adiknya. Tangisnya pecah, tubuhnya gemetar melihat wajah Ivy yang memerah, terlihat bekas telapak tangan di pipi, dari hidung dan bibirnya, juga keluar darah.
"Besok, kita gugurkan anak itu!" Agung membuang nafas kasar lalu keluar.
Sambil menangis, Ivana mengambil tisu, menyeka darah yang keluar dari sudut bibir dan hidung Ivy.
"Aku baik-baik aja," Ivy menertawakan kakaknya.
"Bodoh!" memukul pelan lengan Ivy, lalu memeluknya. Ia yang menangis sesenggukan disini, bukan Ivy yang habis dihajar. Hari ini, ia di suruh Papanya datang untuk ikut menyambut keluarga Farid, namun ia datang terlambat. Sampai rumah, langsung disambut ruang tamu yang berantakan, pecahan beling dimana-mana, dan terlihat Bi Sarti membereskan sambil menangis. Dari wanita itulah ia tahu apa yang terjadi. "Sekarang cerita sama Kakak, siapa yang menghamili kamu?"
Ivy menggeleng pelan, "Aku gak tahu."
"Ivy!" Ivana berdecak kesal. "Ini bukan saatnya untuk rahasia-rahasiaan. Cepat katakan!"
"Aku beneran gak tahu, Kak," Ivy masih memberikan jawaban yang sama. "Sudahlah, tidak penting siapa ayahnya, yang penting pernikahanku dengan Farid batal. Ayo kita rayakan!" ia naik ke atas ranjang, lonjak-lonjak sambil tertawa bahagia, bak seorang anak yang berada di wahana rumah balon.
Ivana makin terisak. Di surga, ibunya pasti menangis melihat ini.
Ivy membungkuk, menarik lengan Ivana. "Kak, ayo! Ayo kita rayakan keberhasilanku membatalkan pernikahan dan mempermalukan Papa. Aku puas, Kak. AKU PUAS!" teriaknya.
Ivana menarik lengannya, menutup wajah dengan kedua telapak tangan, tangisnya makin pecah. Terlalu banyak luka yang ditimbulkan Papa mereka, sehingga bisa mempermalukannya, merupakan kebahagiaan tersendiri.
Setelah puas lonjak-lonjak, Ivy kembali duduk di ranjang, memeluk Kakaknya.
"Aww!" Ivana kelepasan meringis.
Ivy sontak melepas pelukannya. "Apa Mas Wahyu memukulimu lagi?"
Ivana buru-buru menggeleng sambil menyunggingkan senyum palsu.
"Jangan bohong!" Ivy tak percaya, tangannya berusaha menarik resleting gaun bagian belakang Ivana meski sudah dicegah. Mulutnya menganga lebar, matanya membulat melihat banyaknya luka di punggung Kakaknya, seperti bekas cambukan. "Bangsatt!
"Udahlah, aku udah terbiasa."
"Cerai, Kak. Bercerailah darinya. Persetan dengan ancamannya akan membatalkan seluruh kerjasama dengan perusahaan Papa. Biar Papa bangkrut sekalian!" Pernikahan Ivana dan Wahyu, adalah hasil perjodohan yang dibuat Agung.
Ivana tersenyum. "Papa lebih sayang uang daripada anaknya." Ia sudah pernah mengadukan soal kelakuan Wahyu pada Papanya, tapi bukannya ada di pihaknya, Papanya malah membela Wahyu, dan memintanya untuk menjadi istri yang lebih patuh. "Biarlah, mungkin setelah aku mati, Papa baru akan sadar."
"Enggak. Nyawamu terlalu berharga, Kak," Ivy menyeka air mata kakaknya.
"Sudahlah, jangan bahas Kakak. Kita bahas kandungan kamu. Siapa ayahnya Vy, laki-laki itu harus tanggung jawab."
Ivy menggeleng, "Dia gak salah, dan gak harus tanggung jawab. Aku malah harus berterimakasih padanya, karena telah memberiku anak," ia mengusap perut sambil tertawa cekikikan. "Ini jackpot kan, luar biasa. Dia sangat tampan, nanti anakku pasti akan setampan dia. Dan nanti, keluargaku gak hanya kamu, tapi juga anak ini. Membayangkan punya dua keluarga saja, aku sudah bahagia."
"Dasar gila!" Ivana mendorong kepala adiknya agar otaknya kembali normal. "Hamil di luar nikah itu berat, Vy. Kamu akan mendapatkan sanksi sosial berupa dikucilkan, digunjing. Belum lagi, anak itu juga butuh ayah."
"Kata siapa?" Ivy malah seperti menantang. "Buktinya, kita gak butuh ayah. Bahkan mungkin akan lebih bahagia jika kita tak pernah punya ayah."
Ivana menggeleng, "Jangan bilang seperti itu. Bagaimanapun, waktu kita kecil dulu, Papa pernah menjadi ayah yang baik untuk kita. Papa juga mencukupi kebutuhan hidup kita, memberikan tempat tinggal, dan pendidikan hingga perguruan tinggi."
Ivy tersenyum kecut. "Itu karena dia ingin menjual kita, makanya dimodalin dulu. Mana mau pengusaha kaya dengan perempuan jelek dan tak berpendidikan."
"Bagaimanapun, dia orang tua kita. Orang tua kita satu-satunya," Ivana merapikan rambut Ivy. "Buruan, cerita tentang laki-laki tampan itu?"
"Hah, laki-laki tampan? Siapa?" Ivy mengernyit bingung.
Ivana membuang nafas berat. "Tadi kamu bilang, ayah anak kamu sangat tampan. Dia pacar kamu?"
Ivy tersenyum sambil menggeleng. "Dia... someone from nowhere. Aku gak kenal dia."
"Hah!" Ivana melongo, ekspresinya seperti berkata 'are you sure?'
"Iya, aku gak kenal sama dia."
"Lalu gimana ceritanya kamu bisa hamil?" Ivana sungguh tak habis fikri.
"Aku random aja, milih cowok di club, lalu aku ajak tidur."
Ivana speechless, tak bisa berkaca-kata.
"Tapi ya gak random-random amatlah. Aku pilih yang ganteng, yang keliatan kayak cowok baik-baik."
"Gak ada cowok baik-baik clubbing!" Ivana langsung mematahkan statemen adiknya. "Sama halnya kayak, gak ada wanita baik-baik yang mau sama suami orang."
"Jangan ngomong gitu, nanti kamu lagi yang tiba-tiba mau sama suami orang. Hahahha," tawa Ivy pecah.
"Kamu beneran, gak tahu sama sekali soal laki-laki itu? Sesimpel, namanya mungkin?"
Namanya Yasa, Ivy tersenyum, teringat kejadian 3 bulan lalu.
Flashback
"Lo kenapa sih?" tanya Firman, teman Ivy sekaligus bartender di salah satu club malam yang cukup terkenal. Ia meletakkan segelas minuman ke atas meja bar, tepat di depan Ivy duduk.
Ivy tak menjawab, malah meneguk sedikit minumannya. "Pahit," ia memperhatikan isi gelas tersebut. "Sepahit hidup gue," lanjutnya sambil cekikikan.
"Lo kenapa sih, bukannya perjodohan lo sama Candra udah dibatalin ya, gara-gara lo bikin dia ilfeel?" Firman tertawa cekikikan kalau ingat cerita Ivy bagaimana dia membuat calon suaminya sampai membatalkan perjodohan.
"Hilang satu tumbuh seribu," Ivy tersenyum getir. "Candra hilang, muncullah Farid."
Firman mengerutkan kening. "Dijodohin lagi?"
Ivy mengangguk. "Gini banget sih nasib gue, Fir. Hidup gue, kayak bukan gue yang punya tahu gak. Keputusan apapun, harus bokap yang ambil. Mau itu kuliah, kerja, sampai jodoh."
"Lo gak suka sama Farid?"
"Gimana mau suka, sepak terjangnya wow banget," Ivy kembali meneguk minumannya. "Track record nya panjang. Mantanya ratusan, bahkan ada beberapa yang katanya hamil, tapi di suruh aborsi."
"Kan itu cuma katanya, Vy."
"Tumben vibes lo positif," cibir Ivy.
"Emang lo udah pastikan?"
"Teman gue mantannya."
"Ya udah sih, pakai trik lama aja, bikin dia ilfeel."
"Percuma, nanti pasti juga bakalan terbit yang baru. Kaya kata gue, hilang satu tumbuh seribu. Ibarat dagangan, gak laku sama yang ini, ditawarkan ke yang lain," Ivy tertawa getir. "Gini banget nasib gue. Lo ada cara gak, supaya gue ini, gak dijodohin lagi selamanya?"
"Kalo kata lo, lo itu dagangan, artinya kudu expired dulu biar gak laku."
"Parah lo, lo mau nyuruh gue bundir gitu?" Ivy mendelik kesal. "Gue masih pengen hidup kali. Enak aja disuruh expired."
"Expired bukan berarti mati bego! Ya misal, siram tuh muka pakai air keras, biar gak ada yang mau. Salah sendiri cantik, ya laris manis dagangannya," Firman terkekeh pelan.
Ivy nyengir, nyesel minta saran pada Firman. Ya siapa yang mau merusak wajah, rugi besar kali.
Obrolan mereka terjeda karena Firman harus membuatkan minuman untuk customer.
"Eh, gue kok gak pernah liat Daniar, gak pernah main kesini lagi dia?" tanya Ivy setelah Firman beres dengan kerjaannya.
Firman mencondongkan wajah ke arah Ivy, bicara di dekat telinga. "Dia hamil."
"Hah! Hamil?" teriak Ivy.
Buru-buru Firman meletakkan telunjuk di depan bibir. "Jangan kenceng-kenceng," celingukan, takut ada yang kenal Daniar dan denger gosip itu.
"Terus, tetep kerja?"
Firman menggeleng, "Dipecat. Ya kali LC perutnya belendung, gak lakulah."
Mata Ivy tiba-tiba berbinar, ia seperti tak sengaja mendapatkan solusi. "Fir, apa gue hamil aja ya, biar gak laku, gak ada yang mau sama gue. Gak mungkin ada kan, ada keluarga kaya raya, yang mau nikahin anaknya sama perempuan yang punya anak di luar nikah."
"Sarap lo!" Firman memiringkan telunjuk di kening.
Ivy mengedarkan pandangan sambil senyum-senyum. Kali aja nemu cowok ganteng yang bisa ngasih di benih exclusive. Malam ini sangat ramai, sepertinya dunia sedang berpihak padanya, jadi pilihannya banyak. "Tumben rame banget hari ini?"
"Ada yang ulang tahun."
"Pantesan," Ivy manggut-manggut. Ia terus mengedarkan pandangan, sampai akhirnya matanya menangkap sosok yang duduk di sofa pojok, sendirian. Matanya menyipit, memfokuskan pandangan pada cowok yang dari gerak geriknya seperti kurang nyaman. "Gue kok gak pernah lihat dia ya?" menunjuk ke laki-laki itu.
"Gue juga baru ngeliat dia malam ini," ujar Firman yang juga ikut memperhatikan. "Kayaknya temannya yang ultah deh, pasti gak enak aja nolak undangan."
Ivy menghabiskan minumannya, lalu berdiri. "Coba gue deketin dia."
"Vy, lo jangan aneh-aneh," Firman hendak menarik lengan Ivy, namun tak sampai karena selain terhalang meja, cewek itu juga sudah lebih dulu melangkah. "Astaga, semoga aja cewek itu masih waras."
Di tengah hingar bingar club, Ivy dengan percaya dirinya, mendekati cowok yang duduk sendirian di meja pojok. Dari gesturnya, tampak kurang nyaman, tapi entahlah. Ia perkirakan, usianya awal 20 an, semoga saja benar. Dan yang paling penting, semoga bukan suami orang, karena jika itu benar, ia akan langsung say goodbye. Semakin dekat jarak, semakin terlihat, jika cowok itu ternyata jauh lebih tampan.
"Boleh duduk?" tanya Ivy, menyunggingkan senyum termanisnya.
"Hah!"
"Boleh duduk?" ulang Ivy lebih keras, sedikit mencondongkan badan ke arah cowok tersebut.
"Silakan," sahut cowok tersebut dengan ekspresi yang ternyata, dua kali lipat lebih tidak nyaman.
"Ivy," Ivy memperkenalkan diri, mengulurkan tangan sebelum akhirnya menjatuhkan bobot tubuhnya ke sebuah kursi yang ada di depan cowok itu.
"Yasa," balas cowok itu, menerima uluran tangan Ivy. Ia terlihat grogi, mengambil air mineral di atas meja, lalu meneguknya.
Ivy tersenyum kecut, membuang pandangan ke arah lain demi ekspresi menahan tawanya tak terlihat. Bagaimana tidak, ia seperti melihat spesies langka, tak hanya gestur dan ekspresinya yang terlihat grogi berhadapan dengan perempuan, minumnya juga air mineral. Nih cowok kayaknya tersesat deh, pikirnya dalam hati. "Em.. sendirian aja?" basa basi itu perlu, meski sejujurnya ia kurang suka. Apalagi mendekati cowok seperti ini, itu jelas bukan dia.
"Enggak. Tuh," Yasa menoleh, menunjuk teman-temannya yang asyik di dance floor.
Jadi tebakan Firman benar, Yasa adalah salah satu undangan dari cewek yang merayakan ultah di club tersebut.
"Kenapa gak gabung?"
"Gak bisa joget," Yasa tersenyum, menyentuh bibirnya dengan jemari.
Alamak, Ivy sampai terdiam beberapa saat, memuji dalam hati, betapa tampan Yasa saat tersenyum. Tak hanya bikin diabetes, tapi juga bikin melting. "Tinggal gerak aja, bebas."
"Tetep aja, kalau gak biasa, rasanya kayak gimana gitu. Lo sendiri, kenapa gak ke dance floor?"
"Em...." Ivy menyelipkan rambut ke belakang telinga, tersenyum malu-malu. "Gak bisa juga. Hahaha," tertawa garing.
"Tinggal gerak aja, bebas."
Dari tawa garing, berubah jadi tawa lepas saat Yasa mengulang kalimatnya. Demikian pun dengan Yasa, cowok itu juga tertawa, raut wajah yang tadinya tegang, sedikit demi sedikit mencair.
"Yasa... " panggil seorang cewek yang sejak tadi memperhatikan, datang mendekat, menatap Ivy sengit. "Ayo kesana!" menarik tangan Yasa.
"Lo aja deh," tolak Yasa, menarik tangannya hingga lepas dari genggaman Viola. "Kepala gue pusiing, gak lucu kan, kalau tiba-tiba oleng di dance floor lalu jatuh," ia tersenyum, membayangkan kejadian yang akan bikin ia malu.
"Makanya minum, biar gak pusing kepala lo," Viola mengambil gelas berisi minuman berwarna agak kuning, menyerahkan pada Yasa. "Alkoholnya cuma dikit, gak bakal bikin mabuk, cuma biar gak pusing aja karena suara keras dan sorot lampu."
"Enggak!" tolak Yasa, menerima minuman tersebut lalu meletakkan kembali ke atas meja. "Tuh, di panggil genk lo, sana deh buruan!" mendorong Viola agar kembali ke dance floor.
"Sama elo," rengek Viola, kembali menarik tangan Yasa.
"Udah, sana," Yasa kembali mendorong punggung Vio.
"Dia siapa sih?" Bukannya pergi, Vio malah memperhatikan Ivy, menatap tidak suka.
"Ivy," Ivy memperkenalkan diri, mengulurkan tangan ke arah Viola.
"Gak penting siapa lo," ujar Vio sengit. "Yang penting, gak usah gangguin Yasa."
Ivy hanya manggut-manggut pelan, menarik kembali lengannya yang nganggur.
Viola masih berusaha membujuk Yasa, tapi tetap gagal, sampai akhirnya ia nyerah, dengan berat hati kembali ke dance floor bersama teman-temannya. Dia sebagai yang punya acara, gak mungkin malah duduk berduaan disini bersama Yasa.
"Pacar lo?" ta
"Bukan," Yasa menggeleng. "Gue gak punya pacar."
"Baru putus?"
Yasa menggeleng, "Gak pernah pacaran."
"Jangan-jangan, udah nikah?"
"Hahaha, belumlah."
"Syukur deh."
"Hah, syukur, maksudnya?" Yasa mengernyit bingung.
"Hah!" Ivy panik saat sadar sudah keceplosan. "Eng, enggak. Mak, maksud gue, ya bagus kalau belum nikah. Kalau udah nikah, jauh-jauh deh dari tempat kayak gini. Gitu maksud gue," tersenyum absurd.
"Oh... " Yasa manggut-manggut.
Ivy mengusap dada, bernafa lega karena Yasa tidak curiga. "Kerja, kuliah?"
"Kuliah," jawab Yasa sambil memijit kepalanya yang pusing. Benar kata Vio, dentuman musik yang keras, lampu sorot yang menyilaukan, serta aroma alkohol, bikin kepalanya nyut-nyutan.
"Kamu gak minum alkohol?"
Yasa menggeleng. "Emang kalau ditempat kayak gini, musti minum ya?"
"Ya enggak juga sih, tapi seperti kata teman lo, kalau gak minum pasti pusing."
"Lha terus, kalau mabuk apa gak tambah pusing?" Yasa geleng-geleng, berusaha mematahkan keyakinan para kaum clubbing.
"Em... apa ini pertama kalinya lo masuk club?"
"Kelihatan ya?" Yasa tersenyum, mengusap tengkuknya. "Apa dari body language gue, kelihatan? Gue kayak norak gitu ya?"
"Hahaha," Ivy langsung ngakak. "Ya... sejujurnya iya sih, lo kelihatan gak nyaman."
Ganteng, berondong, bukan suami orang, gak punya pacar, gak minum alkohol, pertama kali masuk club malam. Sumpah, se green flag itu cowok di depannya. Tapi... Ivy justru dilema, satu sisi ingin sekali mendapatkan Yasa malam ini, tapi satu sisi lagi, ada rasa kasihan, apa iya, ia tega menjebak cowok se green flag Yasa?
"Mikirin apa?"
"Hah!" Ivy langsung gelagapan. Ah, sepertinya ia terlalu lama melamun, sampai kepergok Yasa. "Eng, enggak kok, cuma heran aja, cowok baik-baik kayak lo, kok sampai tersesat disini."
Yasa langsung ngakak dikata tersesat. "Ceritanya panjang."
"Tapi intinya, lo gk bisa nolak ajakan temankan?" tebak Ivy to the point.
"Yup," Yasa mengangguk. Ia kembali memijat kepala yang terasa semakin berat. Membuka tutup air mineral, meneguk isinya sampai tandas.
"Mau lagi? Aku bisa pesenin?" tawar Ivy yang melihat Yasa seperti masih haus.
"Enggak, gak usah. Oh iya, lo sendirian?"
Ivy menggeleng, tapi sedetik kemudian mengangguk, sampai-sampai membuat Yasa bingung.
"Maksudnya, gue kesini sendiri, tapi disini ada temen gue. Tuh," menunjuk ke arah Firman yang sedang melayani pelanggan. "Oh iya, kalau lo mau, gue bisa pesenin minuman ke temen gue yang kadar alkoholnya zero."
"Biar gak minum air mineral gitu?" Yasa terkekeh, mengangkat botol kosong air mineral. "Apa segitu malu-maluinnya ya, minum air mineral di club malam?"
"Ya gak gitu juga sih, tapi... " Haduh, ia jadi bingung, gimana cara dapetin Yasa kalau mabuk saja, cowok itu gak mau. Ya kali dia langsung bilang minta benihnya, pengen dihamilin, yang ada harga dirinya tersungkur hingga ke lapisan bumi paling dalam. Ia menatap Firman, berharap cowok itu menatapnya dan memberi solusi. "Eh bentar ya, gue ambil minuman dulu, tadi gua tinggal di meja bar," ia beranjak, buru-buru ke tempat Firman. Sesekali kembali menoleh pada Yasa, takut cowok green flag itu, di samber garong lain.
"Kok balik lagi?" tanya Firman, tersenyum mengejek. "Nyali lo gak segede itu Vy, pasti lo berubah fikiran kan?"
Ivy menggeleng cepat. "Justru gue balik kesini, buat minta bantuan lo. Bantu gue cari cara untuk bisa tidur dengan cowok itu malam ini."
Mata Firman membulat sempurna, beberapa saat kemudian, menggeleng cepat.
"Ayolah Fir, please bantu gue," rengek Ivy. "Gua harus hamil Fir. Semesta sudah merestui gue dengan mengirim cowok se green flag Yasa tersesat di club."
Firman auto ngakak, "Green flag? Gak ada cowok green flag main ke club?"
"Dia cuma sedang tersesat, Fir."
Firman menghela nafas panjang. "Terus, cowok green flag, mau lo jebak? Stress lo! Jangan merusak masa depan anak orang, Vy!"
"Siapa yang mau merusak? Gue gak bakal minta tanggung jawab kok. Gue gak akan nikah seumur hidup. Buat apa nikah, bikin sengsara, bikin menderita. Gue cuma mau hidup sama anak gue. Fir, please... " Ivy terus membujuk, sampai Firman memijat kepalanya, pusing.
"Ya udah, gue bikinin minuman biar dia mabuk, terus selanjutnya, lo urus sendiri," Firman mulai meracik minuman.
"Dia gak mau minum alkohol, Fir, cari cara lain."
"Astaga!" Firman berdecak kesal, membuang nafas kasar. "Ya udah, lo rayu aja. Cowok mana sih, yang gak mau diajak check in. Gak ada kucing yang nolak ikan asin."
"Yang ada, dia malah ilfeel kalau gue rayu. Selain itu, gue juga mana bisa ngerayu, bukan keahlian gue, Fir."
Firman memelototi Ivy, giginya bergemelatuk, kedua telapak tangan di depan wajah cewek itu, pengen nyakar-nyakar rasanya. Yang punya ide siapa, yang di suruh mikir siapa?
"Fir, lo ada obat buat bikin cowok tuing gak?"
"Tuing? Apaan?" Firman mengernyit bingung.
"Yaelah, pura-pura gak faham pula. Obat perang sang bego!"
"Enggak, enggak, gue gak ada yang gituan," Firman menggeleng cepat.
"Ayolah Fir, please. Gue yakin, di tempat kayak gini, banyak yang nyari obat kuat."
"Heh!" Firman langsung mendelik, menepuk kepala Ivy. "Lo pikir disini tempat pros ti tu si, sampai nyari obat kuat? Udah, gue bikinin minuman yang bikin dia mabuk aja, trus selanjutnya, lo yang urusin."
"Bikin mabuk, sekaligus bikin melecutkan gairahh dia, Fir. Please... "
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!