.
Ruang makan mewah keluarga Bramasta diselimuti cahaya senja yang keemasan, namun atmosfer di dalamnya terasa dingin dan tegang. Di meja makan yang panjang, Alexander Bramasta, seorang konglomerat bertangan dingin, meletakkan tabletnya dengan gerakan tegas. Di seberangnya, Eliza, istrinya yang lembut, tampak cemas. Di antara mereka, Amelia, putri mereka, hanya menatap kosong ke arah piringnya.
Sudah lama Alexander membiarkan Amelia, putrinya, menekuni bidang pertanian. Ia mengira, itu hanya fase yang akan berlalu seiring waktu. Namun, Amelia semakin serius dengan pilihannya, bahkan mengabaikan perintahnya untuk mulai belajar terjun ke perusahaan, dan Alexander merasa kesabarannya sudah mencapai batas. Saatnya mengembalikan Amelia ke jalan yang "benar," jalan yang sudah ia rancang untuk putrinya.
"Amelia," Alexander membuka percakapan dengan nada berat. "Papa sudah cukup bersabar membiarkan kamu kuliah di jurusan pertanian. Tapi, sekarang, saatnya kamu memikirkan masa depan yang lebih pasti. Mulai besok, kamu harus mau ikut belajar terjun di perusahaan!"
Amelia mengangkat kepalanya, tatapannya menantang. "Pa, aku sama sekali gak ada bakat di bidang bisnis. Aku gak tahu seluk beluk perusahaan."
“Itu karena kamu yang tidak mau belajar,” bentak Alexander. "Karena itu Papa minta kamu ikut ke perusahaan mulai besok. Titik!”
“Kenapa sih, Papa selalu maksa aku?" Amelia semakin tidak suka dengan sikap papanya yang menurutnya terlalu otoriter.
“Itu karena kamu anak Papa satu-satunya. Kalau bukan kamu, siapa yang akan meneruskan bisnis Papa? Lagipula itu semua juga untuk kamu nantinya.”
"Tapi tidak sekarang, Pa. Amel masih punya mimpi yang ingin Amel kejar!” Amelia berteriak frustasi. Kenapa sih, papanya tidak bisa mengerti dirinya sedikit saja? Dia itu mencintai alam bebas. Tidak ingin terkekang dengan tumpukan berkas.
Alexander mendengus. "Mimpi apa? Jadi petani? Omong kosong! Kamu putri Bramasta, pewaris kekayaan keluarga. Bukan petani!"
Elizabeth mencoba menenangkan suaminya. "Alexander, jangan terlalu keras pada Amelia. Dia hanya belum dewasa. Berikan dia sedikit waktu lagi."
"Cukup, Eliza!" Alexander membentak, membuat Elizabeth terdiam. "Berhenti memanjakan dan selalu memaklumi sikap putrimu. Yang aku lakukan ini juga demi masa depan Amelia. Dan aku sudah membuat keputusan."
Amelia mengerutkan kening. "Keputusan apa, Pa?"
Alexander menatap putrinya dengan tatapan yang tak terbantahkan. "Papa sudah mengatur pertemuanmu dengan Richard Handoyo, putra Tuan Handoyo, minggu depan."
Amelia terkejut. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu apa maksud dari pertemuan ini.
"Maksud Papa?" tanyanya, dengan suara tercekat. "Papa ingin mengatur perjodohan untuk Amel? Amel tidak mau. Amel masih ingin mengejar cita-cita Amel"
Alexander mengangguk mantap. "Ya. Itu salah satu cara jika kamu tidak mau terjun ke perusahaan. Papa ini semakin tua, dan Papa butuh penerus!”
"Tapi tidak dengan Richard Handoyo juga, Pa.” Amelia menggelengkan kepala.
Alexander menatap putrinya tajam. “Memangnya kenapa dengan Richard? Richard adalah pria yang tepat untukmu. Dia cerdas, ambisius, dan berasal dari keluarga terhormat. Pernikahan kalian akan memperkuat posisi bisnis keluarga kita."
"Dia itu bukan pria yang baik. Apa Papa tidak pernah mendengar berita di luar?” Amelia menatap ayahnya tak percaya.
“Itu hanya gosip. Semakin tinggi posisi seseorang, akan semakin banyak musuh yang ingin menjatuhkan. Dan perjodohan ini sudah kami sepakati. Dengan kamu menjadi menantu keluarga Handoyo, posisi keluarga kita akan semakin kuat.” Alexander tersenyum penuh kepuasan.
Air mata mulai mengalir di pipi Amelia. "Aku bukan barang dagangan, Pa! Aku punya hak untuk memilih dengan siapa aku ingin menikah!"
"Kamu adalah putriku, dan aku berhak menentukan masa depanmu," balas Alexander, dengan nada dingin. "Aku sudah memberikanmu kebebasan untuk memilih jurusan kuliahmu, meskipun itu pilihan yang bodoh. Tapi, untuk urusan pernikahan, kamu harus menuruti kemauan Papa."
"Aku tidak akan menuruti Papa!" Amelia berdiri dari kursinya, wajahnya merah padam karena marah. "Aku tidak akan menikah dengan Richard! Aku punya hak untuk menentukan hidupku sendiri. Apalagi kalau pilihan papa adalah Richard. Aku tidak mau mati karena makan hati."
Alexander menatap putrinya dengan tatapan tajam. "Kalau begitu, bersiaplah untuk menerima konsekuensinya."
"Konsekuensi apa?" tantang Amelia, air matanya terus mengalir.
"Kalau kamu menolak perjodohan ini, Papa akan mencabut semua fasilitas yang selama ini kamu nikmati. Mobil, kartu kredit, apartemen... semuanya akan Papa tarik!" ujar Alexander dengan nada dingin. Matanya menyorot tajam wajah putrinya yang tampak terpukul.
Amelia terdiam. Ia tahu bahwa ayahnya serius dengan ancamannya. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak bisa mengorbankan kebahagiaannya demi kekayaan dan status.
"Aku tidak peduli dengan semua itu," ucap Amelia, dengan suara bergetar namun penuh tekad. "Aku lebih baik tidak punya fasilitas apa-apa, daripada hidup dengan pria brengsek seperti Richard."
Alexander menghela napas panjang, tampak kecewa dengan keteguhan hati putrinya. "Kamu benar-benar keras kepala, Amelia. Kamu membuat Papa tidak punya pilihan lain."
"Apa maksud Papa?" tanya Amelia, hatinya tiba-tiba merasa cemas.
Alexander menatap Amelia dengan tatapan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Tatapan yang dingin, tanpa belas kasihan, dan penuh perhitungan.
"Kalau kamu menolak perjodohan ini," ucap Alexander, dengan nada datar, "Maka kamu bukan lagi putriku."
Amelia terkejut. Kata-kata ayahnya menghantamnya seperti petir. Ia tidak percaya ayahnya akan mengatakan hal itu kepadanya.
"Apa maksud Papa?" tanya Amelia, dengan suara bergetar.
"Mulai saat ini, kamu bukan lagi bagian dari keluarga Bramasta," jawab Alexander, dengan nada dingin. "Kamu tidak berhak atas nama keluarga, kekayaan, atau apa pun yang berhubungan dengan kami."
Air mata Amelia mengalir semakin deras. Ia merasa seperti dunianya runtuh di hadapannya. Ayahnya, orang yang seharusnya mencintainya tanpa syarat, telah mengusirnya dari kehidupannya.
"Papa... tega melakukan ini padaku?" lirih Amelia, dengan suara tercekat.
"Ini semua karena kesalahanmu sendiri," balas Alexander, tanpa sedikit pun menunjukkan penyesalan. "Kamu yang memilih untuk menentangku. Kamu yang memilih untuk menghancurkan masa depanmu."
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Alexander berbalik dan meninggalkan ruang makan. Eliza menatap putrinya dengan tatapan sedih.
"Alex, jangan lakukan ini…" ucap Eliza dengan suara bergetar, ia ikut berdiri bermaksud membujuk suaminya, namun langkahnya terhenti karena tatapan tajam Alexander dari ambang pintu.
Eliza terdiam, tahu bahwa ia tak bisa melakukan apa pun. Ia mendekati putrinya dan memberikan pelukan. “Sayang, jangan masukkan ke hati, ya. Papa pasti tidak bermaksud seperti itu. Papa hanya sedang emosi saja."
Amelia terisak dalam pelukan mamanya, air matanya terus mengalir. Ia merasa hatinya begitu hancur. Ayahnya bahkan tega memutus hubungan hanya demi menaikan pamor keluarga.
Amelia menghapus air matanya dan mengangkat wajahnya. “Richard itu bukan pria yang baik, Ma. Itulah kenapa aku menolak,” ucapnya. “Dari sekian banyak pria di Jakarta, kenapa harus Richard?”
.
...
Amelia menghapus air matanya dan mengangkat wajahnya. “Richard itu bukan pria yang baik, Ma. Itulah kenapa aku menolak,” ucapnya. “Dari sekian banyak pria di Jakarta, kenapa harus Richard?”
Eliza menghela napas. “Mama percaya sama kamu, Sayang. Tapi kamu juga tahu bagaimana papamu. Sekali dia menginginkan sesuatu, dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.” Eliza membelai rambut putrinya dengan lembut. “Sebaiknya kamu istirahat. Mama yakin, semua ini akan baik-baik saja.”
Amelia mengangguk lemah. Setelah memeluk ibunya sekali lagi, ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Begitu pintu kamarnya tertutup, air mata Amelia kembali tumpah. Ia menjatuhkan diri di ranjang, berbaring tengkurap dan membenamkan wajahnya pada guling, terisak sejadi-jadinya.
Bukan maksudnya menentang papanya, tapi dia memang sama sekali tidak menyukai dunia bisnis yang menurutnya terlalu banyak intrik dan persaingan tidak sehat. Hanya orang yang benar-benar tangguh yang akan mampu tetap berdiri tegak. Lebih dari itu, dia memang menyukai dunia tanaman dan alam bebas.
Sedangkan menikah dengan Richard, itu adalah hal yang tak pernah terlintas dalam benaknya, bahkan dalam mimpi terburuknya sekalipun. Jika pun harus menikah, dia ingin menikah dengan pria yang menjadikan wanita sebagai makhluk paling terhormat. Pria yang mampu menjaga diri dan menjadikan istri sebagai wanita satu-satunya.
Seperti papanya, Amelia menjadikan papanya sebagai tokoh idola. Pria yang tak pernah melirik wanita manapun selain mamanya. Tapi, kenapa papanya tak bisa mengerti dengan keinginannya?
Siapa yang tidak mengenal Richard Handoyo. Seorang CEO muda berbakat, putra konglomerat kaya raya, Bambang Handoyo. Wajahnya yang dikenal banyak orang karena sering berseliweran di media bisnis. Pria tampan dengan harta yang mungkin tak kan habis dimakan sampai tujuh turunan. Itu memang benar. Itu kenyataan. Namun, di balik semua keunggulannya, pria itu memiliki sisi yang sangat kelam.
Richard adalah seorang playboy kelas kakap, gemar bergonta-ganti wanita, dan sering terlibat skandal. Awalnya, Amelia juga hanya menganggap itu sebagai gosip murahan, tapi kemudian, ia tanpa sengaja melihat itu dengan mata kepalanya sendiri.
Sebulan yang lalu, saat menghadiri sebuah pesta ulang tahun temannya di sebuah kafe besar, Amelia tak sengaja melihat Richard di sebuah sudut ruangan. Ia tidak sendiri. Richard sedang bermesraan dengan dua orang wanita sekaligus. Amelia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Richard mencumbui dua wanita itu bergantian dengan penuh nafsu, seolah tidak ada orang lain di sekitar mereka.
Mengingat kejadian itu, Amelia bergidik ngeri. Ia tidak bisa membayangkan dirinya menikah dengan pria seperti itu. Pria yang tidak setia, tidak menghargai wanita, dan hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri.
Dan itu bukan untuk pertama kalinya Amelia melihat itu. Sebelumnya ketika dia sedang ada tugas kampus yang mengharuskan ia menginap di kota lain, ia juga pernah tanpa sengaja melihat Richard check in di hotel bersama dengan dua wanita berbeda.
"Aku tidak mau menikah dengan pria model buaya rawa seperti dia," bisik Amelia, di sela tangisnya. "Aku tidak mau mati muda karena ngenes."
"Tapi, apa yang harus kulakukan?" gumam Amelia, putus asa. "Bagaimana caranya aku bisa menghindari perjodohan ini?”
“Aku harus mencari bukti tentang Richard," gumamnya seraya menghapus air matanya. “Papa tidak akan percaya jika tidak ada bukti."
Amelia segera bangkit dari ranjang dan berjalan menuju meja belajarnya. Ia menyalakan laptopnya dan mulai mencari informasi tentang Richard Handoyo.
Laptop menyala, jemari Amelia menari dengan lincah di atas keyboard. Gadis itu menelan ludahnya kasar. Semakin banyak informasi yang ia temukan, semakin ketakutan ia dibuatnya. Artikel-artikel tentang Richard yang gemar bermain perempuan, bermunculan di berbagai situs online. Ada juga beberapa foto yang menunjukkan Richard sedang berpesta liar dan bermesraan dengan wanita-wanita berbeda.
Amelia menutup laptopnya dengan kasar. Ia merasa mual dan jijik. Ia tidak bisa membayangkan dirinya disentuh oleh pria seperti itu.
“Aku harus menunjukkan semua ini pada Papa," gumamnya.
Amelia segera berdiri dan membawa laptopnya keluar dari kamar. Ia ingat tadi ayahnya masuk ke ruang kerja setelah memarahi dirinya.
Tok tok tok…..
Amelia mengetuk pintu hati-hati.
“Pa, ini Amel. Boleh Amel masuk, Pa?" Amel menunggu dengan penuh semangat. Setelah ini, papanya pasti akan membatalkan perjodohan itu.
"Masuk!”
Terdengar seruan dari dalam, Amel segera membuka pintu, dan masuk dengan tergesa.
“Papa tahu kamu pasti akan menuruti keinginan Papa.”
Tak disangka oleh Amelia, kalimat itulah yang pertama kali ia dengar dari mulut papanya. Tapi, ia tak kan menyerah. Papanya hanya butuh bukti.
"Amel ingin Papa melihat ini!” Amelia menyalakan laptopnya lalu memutar kembali informasi yang tadi ia dapatkan dan mengarahkan layarnya pada sang Papa.
“Ini alasan kenapa aku menolak perjodohan ini," ucap Amelia menatap wajah ayahnya penuh harap.
“Lalu?"
Pertanyaan dari papanya membuat Amelia mengerutkan kening. Apa papanya tidak bisa melihat semua itu?
“Papa bisa melihat sendiri. Richard bukan pria yang baik. Apa Papa tega dan rela menjodohkan aku dengan pria seperti dia?”
Alexander menatap datar wajah putrinya. "Sudah Papa bilang itu hanya rumor. Pebisnis seperti Richard pasti banyak saingan yang ingin menjatuhkan."
Amelia mundur dan menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan papanya. Papanya seorang yang telah bertahun-tahun malang melintang di dunia bisnis. Apakah hal seperti itu pun, antara fakta dan rumor, apakah tidak bisa membedakan?
“Bukti ada di depan mata, dan Papa tidak percaya?" tanya Amelia lirih. Suaranya terdengar bergetar akibat menahan rasa sesak di dada.
“Keputusan papa sudah bulat. Jika kamu tidak mau terjun ke perusahaan, satu-satunya pilihan adalah kamu menikah dengan Richard. Dan Papa tidak suka dibantah!" ucap Alexander tegas. Suaranya terdengar dingin tak terbantah. Matanya yang hitam legam menyorot tajam.
Amelia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tidak percaya papanya akan setega itu. Bahkan setelah dirinya menunjukkan begitu banyak bukti? Demi apa? Apakah papanya buta? Ataukah papanya terlibat sesuatu dengan tuan Handoyo? Tidak! Dia tidak mau dijadikan tumbal.
Amelia kembali mendekat untuk menutup laptopnya. “Baik!" ucap Amelia datar. “Jika Papa punya keputusan, maka Amel juga punya keputusan. Ini adalah hidup Amel. Amel tidak mau jadi korban keegoisan dan ambisi Papa. Amelia tetap menolak perjodohan ini!" Amelia menjawab tegas. Tekadnya sudah bulat.
"Dan kamu harus menerima konsekuensi dari keputusanmu yang bodoh!”
Kedua mata saling beradu. Rahang Alexander terlihat mengeras. Dan Amelia tidak peduli dengan kemarahan papanya. Ia sudah memutuskan.
"Apa? Apakah Papa akan mencabut semua fasilitas?” tanya Amelia datar. “Silakan! Amel memilih hidup tanpa harta daripada hidup bersama baj^ingan seperti Richard."
Alexander mengangguk. "Kamu terlalu keras kepala. Mulai sekarang cari jalan hidupmu sendiri! Papa tantang kamu untuk hidup tanpa harta dan nama Bramasta!”
Amelia mengangguk meski hatinya terluka. Itu… bukankah itu artinya dia diusir?
“Oke!" Amelia kembali mengangguk. Menahan agar air mata tak lagi keluar. "Amel terima tantangan Papa. Amel akan buktikan Amel akan tetap berdiri tanpa semua itu.”
Amel mundur dua langkah, lalu membungkukkan badan sebagai penghormatan, lalu kembali berdiri tegak dengan sorot mata teguh tanpa keraguan.
“Terima kasih sudah memberi kehidupan pada Amelia selama ini. Maaf, tidak bisa membalas semua budi baik itu. Amel akan pergi. Mulai saat ini saya hanya Amelia, tanpa Bramasta.”
Amelia membalikkan badan lalu keluar dari ruang kerja papanya. Dadanya terasa sesak, tapi dia tak memiliki pilihan. Yang tidak Amelia sadari adalah, di bawah meja, dua tangan papanya terkepal erat.
…
Amelia keluar dari ruang kerja papanya dan terkejut mendapati mamanya, Eliza, berdiri di depan pintu, dengan wajah cemas. Mungkin mamanya sengaja menunggu atau bahkan mendengarkan pembicaraan antara dirinya dengan papanya.
Amelia berusaha tersenyum meski hatinya hancur. Ia tahu, mamanya pasti sangat sedih dengan pertengkaran mereka. Tanpa berkata apa-apa, Amelia berjalan menuju kamarnya, berusaha menghapus air mata yang tak lagi bisa ditahan.
Eliza segera mengikuti putrinya. "Amelia…" panggil Eliza lirih. "Papamu hanya sedang emosi, Sayang. Jangan pergi dari rumah. Tunggu Papa tenang kembali, nanti kita bisa bicara lagi."
Amelia menggelengkan kepalanya dengan keras. "Itu tidak akan ada gunanya, Ma," ucap Amelia, dengan suara bergetar. "Papa sudah membuat keputusan. Dan keputusan Papa bukanlah sesuatu yang bisa diubah."
Amelia meletakkan laptopnya di atas kasur, kemudian membuka pintu walk-in closet dan mengeluarkan sebuah koper berukuran sedang. Ia mulai membereskan baju-bajunya, memilih hanya beberapa potong yang benar-benar ia butuhkan. Pakaian-pakaian mewahnya, gaun-gaun cantiknya, semuanya ia tinggalkan.
"Amelia, apa yang kamu lakukan?" tanya Eliza, panik. "Jangan bertindak gegabah, Sayang. Pikirkan baik-baik."
Amelia tidak menjawab. Ia terus memasukkan baju-bajunya ke dalam koper dengan gerakan cepat dan cekatan.
"Amelia, mama mohon…" Eliza berusaha meraih tangan putrinya, namun Amelia menghindar.
"Maafkan aku, Ma," ucap Amelia, dengan air mata yang terus mengalir. "Aku harus pergi. Aku tidak bisa tinggal di sini lagi."
Setelah selesai membereskan pakaian, Amelia meraih tas selempangnya dan memasukkan ponselnya, dan beberapa barang penting lainnya. Amelia mengambil dompetnya, mengeluarkan beberapa kartu berwarna hitam yang pernah diberikan oleh papanya dan meletakkannya di atas meja rias. Ia hanya menyisakan satu ATM yang merupakan hasil tabungannya sendiri.
“Sayang, kenapa kartunya ditinggal? Bagaimana kamu hidup di luar nanti jika tanpa kartu?" Eliza terlihat cemas melihat apa yang Amelia lakukan. Apalagi saat melihat Amelia juga meletakkan kunci mobil dan kunci apartemennya.
Amelia menggeleng. "Aku tidak akan membawa kartu ini, Ma," ucapnya. "Aku bawa pun percuma. Papa pasti akan membekukannya.”
Eliza menghapus air matanya. Anak dan suaminya sama-sama keras kepala. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Eliza menatap putrinya dengan tatapan tak percaya. "Amel, jadi kamu akan benar-benar meninggalkan Mama?"
Amelia mengangguk mantap. "Maafkan Amel, Ma. Tapi ini adalah keputusan yang terbaik untukku, juga untuk Papa."
Ia menutup kopernya, meraih tas selempangnya, dan berbalik menghadap ibunya.
"Ma, aku pergi," ucap Amelia, dengan senyum yang dipaksakan. Ia menyeret kopernya menuju pintu kamarnya. Eliza berusaha mencegahnya.
"Tunggu sebentar, Sayang," cegah Eliza, dengan nada cemas. "Kamu mau tinggal di mana? Bagaimana caranya Mama bisa menemui mu? "
Amelia menggelengkan kepalanya. "Aku juga belum tahu, Ma. Tapi nanti aku akan mengabari Mama kalau aku sudah mendapatkan tempat tinggal," ucap Amelia, berusaha menenangkan ibunya.
"Tunggu sebentar. Di luar sangat dingin, Mama akan ambilkan baju hangat untukmu," ucap Eliza, dengan nada khawatir. Tanpa menunggu jawaban Amelia, Eliza berlari menuju kamarnya.
Amelia terdiam sejenak, menatap punggung ibunya yang menjauh. Hatinya terasa perih melihat kekhawatiran di wajah ibunya. Ia tahu, ia telah membuat ibunya sedih. Tapi ia juga tidak punya pilihan lain.
Amelia melanjutkan langkahnya, menyeret kopernya hingga kakinya sampai di ruang tengah. Langkahnya terhenti ketika Eliza kembali, membawa sebuah jaket tebal dan sebuah selendang berwarna lembut.
Eliza memakaikan jaket di tubuh Amelia dengan gerakan sayang. "Pakai ini, Sayang. Di luar pasti dingin sekali." Amelia mengangguk, sesayang itu mamanya padanya. Dia pasti akan merindukan mamanya nanti.
“Oh iya, ini selendang Mama. Jaga selendang ini baik-baik, ya. Jangan sampai hilang." Eliza kemudian mengambil koper dari tangan Amelia dan membukanya. Dengan hati-hati, ia menyimpan selendang itu di dalam koper, lalu menutupnya kembali.
"Berjanjilah untuk mengabari Mama jika kamu sudah mendapatkan tempat tinggal," ucap Eliza, dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Amelia mengangguk, tak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa memeluk ibunya erat-erat.
Setelah beberapa saat berpelukan, Amelia melepaskan pelukannya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia mencari sosok ayahnya, namun ia tidak melihatnya di sana.
Amelia memejamkan matanya, merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya. Ayahnya, orang yang seharusnya mencintainya tanpa syarat, kini seolah-olah tidak peduli padanya.
Amelia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka matanya kembali. Ia sudah memutuskan. Ia harus pergi.
Ia meraih kopernya, bersiap untuk melangkah keluar dari rumah itu, namun kemudian ia mengurungkan niatnya. Ia meletakkan kembali kopernya di lantai dan berjalan menuju ruang kerja ayahnya.
Amelia berdiri sejenak di depan pintu ruang kerja ayahnya, memejamkan matanya, dan menarik napas dalam-dalam.
"Papa…" ucapnya, dengan suara lirih namun jelas. "Amelia pergi. Terima kasih untuk semua yang Papa berikan pada Amelia selama ini. Dan sampai kapan pun, bagi Amelia, Papa adalah Papa terbaik di dunia."
Tidak ada satu jawaban pun terdengar dari dalam ruang kerja itu. Namun, Amelia tahu, di dalam sana, ayahnya mendengar suaranya.
Amelia menghapus air matanya sekali lagi, lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu.
"Sampai jumpa, Papa," ucapnya dalam hati, dengan air mata yang kembali mengalir.
Sementara itu, tanpa Amelia tahu, di balik pintu ruang kerjanya, Tuan Alexander Bramasta menyandarkan punggungnya di pintu yang kokoh itu. Mulutnya tertutup rapat. Namun, pipinya tampak basah.
Di depan gerbang rumah mewah itu, Amelia berdiri di samping mobil taksi yang baru saja datang menjemputnya. Langit sore telah berubah menjadi malam yang pekat tanpa bintang. Sepekat hati Amelia saat ini.
Amelia mengangkat wajahnya ke atas, menatap ke arah jendela ruang kerja papanya. Berharap di sana papanya sedang berdiri menatap melepas kepergiannya. Namun, apa yang ia tunggu sama sekali tak muncul. Jendela ruang kerja itu tampak gelap dengan gorden yang tertutup rapat. Papanya benar-benar tak lagi peduli padanya.
Amelia menarik nafas dalam-dalam kemudian masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu. “Sampai jumpa, Mama,” ucapnya sebelum menutup pintu mobil.
Perlahan mobil melaju dan semakin semakin lama semakin tak terlihat, meninggalkan Eliza yang melambaikan tangan dengan air mata berderai.
Sementara itu, di dalam ruang kerja yang terlihat gelap karena lampu yang sengaja tak dinyalakan oleh pemiliknya. Alexander Bramasta, pria paruh baya itu tengah berdiri di balik gorden yang tertutup rapat, matanya menatap kosong ke bawah. Jalanan yang berada di depan gerbang rumah mewahnya. Mobil berwarna biru muda itu telah berlalu. Membawa pergi kesayangannya, AMELIA.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!