Indonesia
NovelToon NovelToon

Ketika Cadarku Harus Di Lepas

Episode 1 Kekacauan

Rumah Sakit.

Ruang operasi.

Suasana menegangkan berada di ruang operasi, dengan lampu operasi tepat berada mengarah pada bagian kepala pasien, suara mesin jantung terdengar membuat bulu kuduk berdiri. 3 Dokter menjalankan operasi tersebut ditemani beberapa suster.

"Periksa pendarahan pasien!" suara dingin terdengar dari Dokter memakai kacamata dan juga menutup mulutnya dengan masker.

"Dokter denyut jantungnya sudah normal," sahut Suster.

Dokter muda tersebut menganggukkan kepala, kemudian melanjutkan jalannya operasi.

"Alhamdulillah...." Dokter itu mengucap rasa syukur ketika gumpalan kecil berhasil diambil dari bagian otak pada pasien.

"Kondisi pasien normal," sahut Dokter seprofesinya membuat mereka mengangguk dan kemudian memerintahkan Suster untuk menjahit.

Akhirnya operasi itu berjalan dengan lancar, mereka mengucap syukur di dalam ruang operasi tersebut dan sementara di sisi lain terlihat wanita bercadar berjubah putih dengan seragam Dokter.

"Zahra!" Rekannya menegurnya membuat langkah wanita itu berhenti.

Dari tatapan matanya sudah menjelaskan betapa cantiknya wanita yang menutup wajahnya menggunakan cadar, kulitnya tampak putih bersih dengan pembawaan tenang dan teduh.

"Iya," jawab Zahra.

"Hmmm, jantungku sejak tadi tidak berhenti berdebar. Aku benar-benar takut melakukan kesalahan dan penilaian hari ini tidak lulus," ucapnya mengutarakan isi kebimbangan hatinya.

"Mutia, kamu tidak boleh berprasangka buruk, kita sudah melakukan yang terbaik dan sebagai Dokter coach di rumah sakit ini, kita sudah menjalankan aturan yang mereka berikan," ucap Zahra memberi pencerahan kepada temannya itu.

"Bagaimana aku tidak berpikir buruk jika, Dokter Naldy sangat galak, wajahnya tampak dingin, aku bahkan tidak berani menegurnya," keluh Mutia.

"Kamu tidak perlu menegur beliau, seperti yang aku katakan tadi kita hanya perlu berbicara seperlunya saja," sahut Zahra.

"Ya, sudahlah semoga hasilnya terbaik," ucap Mutia mencoba untuk senang mungkin.

"Zahra, bagaimana jika pulang dari rumah sakit nanti. Kita makan sebentar!" ajak Mutia.

"Aku tidak bisa, aku harus membantu mempersiapkan pernikahan saudaraku," jawab Zahra.

"Saudara kamu yang menikah, tetapi kamu yang repot," ucap Muthia.

"Itu hal biasa dalam bersaudara memang harus tolong menolong," jawab Zahra dengan santai, nada suaranya terdengar ikhlas saat menjalankan sesuatu pekerjaan membuatnya tidak pernah mengeluh.

****

Kediaman Zahra.

Rumah mewah dengan desain klasik Eropa dipenuhi banyak orang untuk mempersiapkan acara sakral yang akan diadakan di kediaman keluarga Zahra.

Zahra baru saja pulang ke rumahnya dijemput oleh sopir, Zahra melihat seorang wanita sekitar berusia 40 tahunan sedang sibuk memerintahkan orang-orang untuk mengatur segala dekorasi untuk pernikahan salah satu anggota keluarga di rumah itu.

"Assalamualaikum, Ma!" sapa Zahra.

"Walaikum salam," jawab wanita itu tampak cuek dengan melanjutkan obrolannya dengan salah satu pekerja.

"Zahra mau masuk dulu," ucap Zahra membuat wanita bernama Syakira menganggukkan kepala.

"Saya ingin bunga di sudut sana diganti warnanya menjadi warna putih, di bagian sana kamu atur ulang kembali!" titah Syakira.

"Baik Nyonya," jawab pekerja tersebut.

"Kamu harus benar-benar mempersiapkan dekorasi yang sempurna, ingat putri saya menikah dengan seseorang luar biasa dan jangan membuat saya malu!" tegas Syakira.

"Baik Nyonya," ucap pekerja tersebut dengan menundukkan kepala dan kemudian langsung pergi setelah mendapat perintah.

Zahra memasuki kamarnya, dan membuka cadarnya. Wajah cantik terpancar dari sorotan matanya, wajahnya putih mulus bersih dan benar-benar teduh.

Zahra menghela nafas dan melangkah menuju jendela, membuka tirai sedikit melihat bagaimana aktivitas yang terjadi di pekarangan rumah yang luas itu.

"Kak Tasya akan menikah, tetapi sampai saat ini dia belum kembali? Bukankah seorang wanita yang menjadi calon pengantin harus tetap stand by di kediaman rumahnya,"

"Aku pernah beberapa kali membaca buku dengan kata-kata pamali calon pengantin baru meninggalkan rumah," gumam Zahra dengan menghela nafas dan kembali menutup gorden jendela kamar tersebut dengan kemudian menuju kamar mandi.

******

Mentari pagi begitu sangat indah, dengan cerahnya di pagi hari, kediaman rumah Zahra juga sama indahnya dengan pekarangan rumah didekorasi sedemikian rupa untuk mengadakan ijab kabul sakral ala out door.

Para tamu penting yang diundang dalam acara tersebut sudah mulai berdatangan karena satu jam lagi acara pernikahan akan dilaksanakan. Bahkan terdengar calon pengantin pria juga sudah tiba bersama keluarganya.

Sementara Zahra juga terlihat cantik berdiri di depan cermin dengan memperbaiki riasannya, setelah merasa cukup memoles sedikit make up pada wajahnya dan Zahra mengambil cadarnya kemudian memakainya.

Penampilannya sangat anggun menggunakan gamis berwarna biru muda senada dengan cadar itu. Setelah menyemprotkan parfum pada tubuhnya dan membuatnya kemudian langsung keluar dari kamar.

Zahra mengerutkan dahi saat menuruni anak tangga, seharusnya kedua orang tuanya dan orang-orang yang ada di ruang tamu itu berada di luar untuk menyambut para tamu, tetapi mereka berada di ruang tamu terlihat begitu panik dengan wajah-wajah menegangkan.

"Anak itu memang selalu membawa masalah, sudah tahu hari pernikahannya adalah hari ini dan bisa-bisanya belum kembali!" seorang pria berusia 50 tahun terlihat frustasi dengan memijat kepalanya.

"Mas, mungkin saja pesawat Tasya mengalami masalah," sahut Syakira.

"Jika dia sudah tahu akan menikah dan seharusnya seminggu sebelum pernikahan sudah berada di rumah ini dan bukan masih keluyuran liburan sana sini!" tegas Wildan benar-benar emosi.

"Ada apa ini?" gumam Zahra dengan penasaran.

"Ada-ada saja tingkahnya dan tidak pernah dewasa, apa harus mengadakan bridal shower di Luar Negeri. Bagaimana kita menghadapi keluarga Dokter Naldy jika semua kejadiannya seperti ini," ucap Wildan sejak tadi menekan suaranya.

"Syakira kamu hubungi lagi Tasya dan pastikan sekarang dia sudah berada di Indonesia atau di mana? jangan sampai tamu-tamu yang datang di acara pernikahan ini kecewa dan apalagi dengan keluarga besar dari tuan Sastra!" tegas Nyonya Karunia wanita berusia 60 tahun, sejak tadi juga tegang.

Syakira menjadi pelampiasan kemarahan suaminya dan juga Ibu mertuanya.

Ting.

Syakira mendapat notif pesan dan kemudian langsung melihatnya.

"Ma, aku tidak bisa melanjutkan pernikahanku, aku belum siap untuk menikah dengan Naldy. Maafkan aku," pesan yang baru saja diterima Shakira benar-benar membuatnya shock.

"Ada apa Syakira?" tanya Wildan melihat ekspresi wajah istrinya.

Shakira bahkan tidak mampu berkata-kata membuat Wildan langsung menarik ponsel istrinya dan semakin terkejut ketika melihat notif pesan dari putri mereka.

"Anak ini benar-benar!" Wildan langsung marah dan hampir saja membanting ponsel itu.

"Bisa-bisanya dia baru mengatakan belum siap menikah setelah semuanya dipersiapkan. Apa dia pikir pernikahan main-main," Wildan semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.

"Tasya tidak pernah dewasa dan selalu bertindak sesuka hatinya, jika ragu dalam pernikahan dan seharusnya tidak meminta kita untuk menikahkannya dengan kekasihnya," sahut Karunia juga terlihat marah.

"Ini semua juga gara-gara kamu Shakira," karunia langsung menyalahkan menantunya membuat Shakira mengerutkan dahi.

"Jika kamu tidak terlalu memiliki obsesi untuk menjadi besan dari keluarga itu, maka hal ini tidak akan terjadi dengan Tasya yang harus menikah secara cepat!" tegas Karunia.

"Sudahlah tidak ada gunanya saling menyalahkan, anak itu sudah membuat kesalahan besar dan sekarang kita yang harus menyelesaikan semua ini!" sahut Wildan.

"Apa yang akan kamu lakukan untuk menyelesaikan masalah ini hah! pengantin pria sudah ada di bawah, para tamu undangan sudah datang," ucap Karunia mengingatkan tidak ada solusi yang bisa diambil mereka.

Bersambung...

...Para pembaca setiaku. Aku berterima kasih kepada kalian yang terus mengikuti karya-karyaku....

...Alhamdulillah saya masih bisa membuat novel terbaru. Saya meminta dukungan kepada teman-teman semua untuk memberikan support sedikit banyaknya yang kalian berikan kepada saya membuat saya semakin semangat dan pasti kritik dan saran akan membangun karya ini....

...Saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya dan jangan lupa membaca bab 1 sampai bab akhir terima kasih....

Episode 2 Harus Menjadi Korban

Keluarga inti tuan Sastra sudah berada di ruang tamu beserta putra mereka Dokter Naldy, pria berusia 32 tahun yang berprofesi sebagai Dokter. Pria tampan berkacamata itu cukup kaget ketika mendengar calon istrinya ternyata tidak berada di kediaman keluarga itu.

"Ini sungguh mempermalukan keluarga kami. Apa-apaan semua ini? kami jauh-jauh datang dan bahkan sebagian keluarga kami datang dari Luar Negeri untuk menghadiri acara pernikahan ini dan ternyata calon pengantin wanitanya tidak ada, lalu dengan mudahnya kalian mengatakan untuk menunda pernikahan ini dengan memberi alasan yang tidak masuk akal kepada tamu undangan. Apa kalian ingin mempermainkan kami?" ucap Mila Ibu dari calon pengantin pria.

"Maaf Nyonya Mila, kami juga tidak menginginkan semua ini dan semua ini di luar dugaan kami," sahut Shakira sejak tadi mencoba untuk menjelaskan atas kekacauan akibat perbuatan Tasya.

"Bagaimana mungkin putra saya harus menikah dengan wanita yang belum siap untuk menikah dan justru menganggap pernikahan main-main," Mila benar-benar terlihat begitu kesal bahkan tersinggung karena telah dipermainkan.

"Maaf kalian tidak akan bisa menyelesaikan semua ini. Nama keluarga kami benar-benar dicoreng oleh keluarga ini karena kebodohan satu anak. Kalian akan menyuruh kami untuk pulang begitu saja dengan membawa malu dan besok pemberitaan akan tersebar di siaran media sosial bagaimana keluarga kami yang dipermalukan habis-habisan oleh keluarga ini," sahut Mila sejak tadi mengungkapkan rasa kekecewaannya.

"Naldy seharusnya kamu bisa berbicara serius dengan Tasya. Apakah pernikahan kalian dilanjutkan atau tidak, bukan malah tidak membahas dan hasilnya seperti ini," sahut Robby sebagai ayah yang juga tidak mendapatkan informasi apapun dari putranya.

"Aku juga tidak tahu jika kejadiannya seperti ini. Aku dan Tasya sudah membicarakannya sejak awal, kami sepakat untuk menikah dan aku bahkan meyakinkannya untuk pernikahan ini," sahut Naldy.

"Kamu hanya meyakinkan Tasya untuk menikah dengan kamu, tetapi kamu tidak mengetahui apakah dia punya niat untuk menikah atau tidak atau masih ingin bermain-main," sahut Mila.

Sebagai seorang ibu dia bukan hanya menyalahkan calon menantunya, tetapi putranya yang dewasa seharusnya bisa bersikap bijak. Bagaimana mungkin seorang pria membiarkan calon istrinya ke Luar Negeri di saat menjelang pernikahan mereka.

"Kami akan mengurus semua masalah ini dan akan memastikan nama keluarga Nyonya tidak akan terpengaruh," sahut Karunia.

"Dengan cara kalian mengatakan kepada orang-orang untuk pembatalan pernikahan ini, sudah menghancurkan nama keluarga kami," sahut Mila.

"Nyonya semua ini salah saya dan saya benar-benar minta maaf, apa yang harus kami lakukan agar masalah ini bisa diselesaikan bersama-sama dan tidak terjadi kesalahpahaman di antara keluarga kita," sahut Shakira.

Mata Mila melihat ke arah Zahra yang sejak tadi diam saja, ikut mendengarkan pembicaraan masalah keluarganya dengan tingkah saudara tirinya tidak hadir di acara pernikahannya.

"Naldy akan tetap menjalankan pernikahan hari ini dan itu menjadi jalan satu-satunya," jawab Mila.

"Jika Tasya ada di sini dan saya akan memaksanya untuk melanjutkan pernikahan, tetapi masalahnya Tasya tidak ada di sini," sahut Wildan.

"Tidak dengan Tasya, tetapi gadis ini!" ucap Mila.

Semua orang kaget dan melihat arah pandang Mila yang melihat ke arah Zahra. Zahra perlahan mengangkat kepalanya dan ternyata benar tujuan mata Mila melihat ke arahnya.

"Apa maksud Mama?" tanya Naldy.

"Tidak punya pilihan lain untuk gadis ini menggantikan saudaranya yang kekanak-kanakan itu di hari pernikahannya," ucap Mila.

"Mbak, bagaimana mungkin Zahra harus menggantikan Tasya dan sementara Tasya saling mencintai dengan Naldy," protes Shakira.

"Jika dia mencintai putra saya dengan sungguh-sungguh dan maka dia tidak akan membuat kekacauan seperti ini. Ini bukan masalah cinta lagi tetapi nama yang sudah dihancurkan dan harus diperbaiki," jawab Mila.

"Tante, tetapi saya....."

"Baiklah, jika memang calon pengantin wanitanya harus digantikan," sahut Karunia setuju begitu saja dan padahal Zahra ingin berbicara tetapi tidak jadi.

"Ma, ini tidak masuk akal!" Naldy sebagai pria yang akan menikah sudah sewajarnya untuk protes.

"Ini yang terbaik dan kamu menurut saja!" tegas Mila.

Tampaknya Mila adalah orang yang bijaksana dan bahkan suaminya tidak bisa membantah perkataannya, Shakira terlihat begitu semakin frustasi tidak menyangka jika putrinya akan digantikan menikah oleh anak dari suaminya.

Wildan juga tidak keberatan dan mungkin karena mereka tidak memiliki pilihan lain daripada harus mendapatkan masalah dari keluarga yang sangat terpandang. Naldy tidak bisa protes dengan memejamkan mata dan menghela nafas, tidak pernah dia sangka jika dia akan menikah dengan adik dari kekasihnya.

Naldy sudah berjabat tangan dengan penghulu yang duduk di depannya dengan meja berada di tengah.

Para saksi sudah berada di sekeliling mereka dan tamu undangan menyaksikan bagaimana proses ijab kabul tersebut termasuk keluarga dari Zahra dan juga keluarga besar Naldy.

..."Saya terima nikahnya Fariza putri Zahra bint Wildan Laksamana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 250 gram dibayar tunai,"...

..."Bagaimana Sakai Sah?"...

..."Sah!"...

..."Alhamdulillah!"...

Naldy memejamkan mata, sungguh tidak percaya bahwa dia akan menikah dengan gadis yang tidak terlalu dia kenal, dia hanya mengetahui bahwa gadis itu adalah adik dari kekasihnya dan gadis itu juga menjadi Dokter coach di rumah sakit.

Walau Naldy sudah menjalin hubungan beberapa tahun dengan Tasya, tetapi Naldy tidak terlalu akrab dengan Zahra dan bahkan di rumah sakit mereka hanya bertegur sapa selayaknya sebagai bimbingan dan juga murid.

Tidak ada hal spesial di antara mereka berdua dan wajar saja jika pernikahan ini sangat mengejutkan bukan hanya untuk Naldy tetapi Zahra.

Ketika proses ijab kabul di laksanakan, Zahra tadi sudah berganti pakaian dengan gaun pengantin syar'i dengan sangat cantik berwarna putih senada dengan hijabnya. Zahra terlihat begitu anggun dengan wajahnya yang tetap tertutupi cadar tersebut.

Zahra berjalan didampingi dua orang wanita menghampiri suaminya dengan Naldy harus profesional dalam acara pernikahan tersebut dan apalagi banyak tamu-tamu penting.

Nadya berdiri menyambut calon istrinya dan ketika mereka berdua saling berhadapan terlihat jelas bahwa Zahra sangat gugup sejak tadi menunduk.

Penghulu memberi arahan untuk Zahra mencium punggung tangan suaminya untuk yang pertama kali, hal itu membuat Zahra gugup dengan tangan bergetar untuk yang pertama kali bersentuhan dengan laki-laki. Naldy juga mencium lembut kening Zahra. Semua dia lakukan secara profesional.

Acara pernikahan itu dilanjutkan dengan tukar cincin dan kemudian foto bersama.

"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa semuanya terlalu cepat dan hamba harus menjadi pengganti untuk menjadi istri laki-laki di depan hamba ini?"

"Apa ini adil untuk hamba," batin Zahra tidak menyangka jika nasibnya akan berakhir dalam pernikahan.

Usianya baru 22 tahun dan juga sedang berusaha dalam karir kedokterannya, tetapi sekarang dia sudah menjadi istri dari seorang pria yang tidak dia sukai dan apalagi pria itu seharusnya menikah dengan kakaknya.

"Tasya, kamu benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya kamu melakukan semua ini dan aku harus menikah dengan wanita lain? Apa yang ada di pikiran kamu Tasya," batin Naldy, sejak tadi begitu kesal.

Sama dengan Shakira yang juga tidak menyukai pernikahan tersebut dengan wajahnya tampak sinis melihat pasangan pengantin baru itu tetapi keluarga Naldy mungkin cukup merasa lega karena akhirnya mereka tidak malu.

Semua keputusan memang diambil dengan cepat dan bahkan tidak membiarkan Zahra untuk menolak permintaan itu.

Bersambung....

...Para pembaca setiaku. Aku berterima kasih kepada kalian yang terus mengikuti karya-karyaku....

...Alhamdulillah saya masih bisa membuat novel terbaru. Saya meminta dukungan kepada teman-teman semua untuk memberikan support sedikit banyaknya yang kalian berikan kepada saya membuat saya semakin semangat dan pasti kritik dan saran akan membangun karya ini....

...Saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya dan jangan lupa membaca bab 1 sampai bab akhir terima kasih....

Episode 3 Tidak Di Terima

Zahra berada di kamarnya memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper, setelah menikah memang dia akan dibawa ke kediaman suaminya.

Tetapi Zahra tidak mempersiapkan apapun dan setelah acara pernikahan itu barulah dia menyiapkan pakaiannya setelah mendapat perintah.

"Ini hanya untuk sementara!" Zahra menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara dan ternyata itu tak lain adalah Syakira yang berdiri di depan pintu dengan kedua tangannya dilipat di dada.

"Setelah Tasya pulang dia akan kembali bersama Dokter Naldy," ucap Syakira mengingatkan Zahra.

"Kenapa harus memaksa Zahra untuk menikah dengan Dokter Naldy, jika akhirnya juga ada perpisahan," sahut Zahra.

"Apa maksud kamu? Kamu pikir pernikahan tadi untuk selamanya. Keluarga Dokter Naldy tidak punya pilihan lain selain menggantikan pengantin wanitanya dan itu artinya ketika Tasya sudah kembali, maka Tasya akan kembali bersama dengan Naldy!" tegas Syakira.

"Jadi jangan terlalu berharap apapun Zahra, ingat kamu hanya sebagai pengganti dan jangan berani-beraninya kamu menyentuh Naldy," ucap Syakira menegaskan membuat Zahra hanya terdiam.

Seolah-olah dirinya benar-benar hanya dijadikan tumbal oleh keluarganya untuk menggantikan pengantin yang menganggap pernikahan tidak berarti apa-apa.

****

Kediaman Naldy.

Akhirnya Zahra dibawa oleh keluarga Naldy kediaman istana dua kali lipat lebih mewah daripada istana rumah Zahra. Di dalam mobil Zahra dan Naldy hanya diam saja tidak ada obrolan di antara mereka berdua.

Zahra bahkan saat ini sudah berada di dalam kamar suaminya yang sebelumnya diantarkan oleh asisten rumah tangga. Layaknya kamar pengantin pada umumnya, aromanya saja sudah berbeda dengan aroma sangat romantis, suasana lampu di kamar itu juga tampak redup dengan banyaknya kelopak mawar berada di atas tempat tidur.

Zahra kesulitan menelan ludah saat berdiri pada tempatnya dan melihat di sekitarnya, kamar itu layaknya kamar pria pada umumnya, tidak terlalu banyak perabotan di dalam kamar tersebut, hanya ada sofa di depan televisi dan juga di sudut jendela dan juga adanya teras yang sedikit cukup luas.

"Kemarin aku masih mendapat teguran dari Dokter Naldy dan sekarang aku sudah menjadi istrinya, ini benar-benar sangat aneh, tidak ada yang tahu kejadian beberapa jam ke depannya," gumam Zahra dengan menghela nafas.

Krekkk.

Zahra membalikkan tubuhnya ketika pintu kamar dibuka dan ternyata ibu mertuanya.

"Kamu akan tetap berpenampilan seperti ini di saat suami kamu datang?" tanya Mila membuat Zahra mengerutkan dahi.

"Maksud Tante?" tanya Zahra.

Mila melangkah mendekati Zahra dan langsung membuka cadar Zahra membuat Zahra kaget.

"Saya tidak pernah membayangkan di dalam hidup saya, bisa mempunyai besan dengan anak-anak yang sangat bodoh, yang satu meninggalkan acara pernikahannya dan satu lagi tidak tahu bagaimana menjalankan pernikahannya," ucap Mila.

Sejak awal Mila memang berbicara apa adanya, tidak ada manisnya sebagai ibu mertua dan jelas hal itu membuat Zahra takut dengan kesulitan menelan saliva.

"Putra saya mengeluarkan banyak waktu untuk mempersiapkan acara pernikahan itu, dan kamu harus menggantikannya, tetapi bukan berarti hanya menggantikan, kamu sudah menjadi istrinya dan tidak seharusnya membungkus tubuh kamu di depannya seperti ini," ucap Mila.

"Tante, saya tidak pernah melepas cadar di depan laki-laki," ucap Zahra dengan gugup.

"Laki-laki yang kamu katakan adalah suami kamu saat ini, jangan membuat saya semakin kesal dengan melihat kamu kampungan seperti ini, saya sudah cukup kesal diperlakukan oleh keluarga kamu!" tegas Mila.

Zahra hanya terdiam dengan menunduk.

"Masuklah!" Mila mengarahkan kepalanya ke arah pintu dan ternyata ada pelayan wanita yang datang dengan membawa lipatan pakaian.

"Ganti pakaian kamu dan lakukan tugas kamu sebagai istri! saya tidak harus mengajari kamu bagaimana caranya," ucap Mila.

Mata Zahra melotot, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal itu dan sementara dia tidak dekat dengan Naldy dan terlebih lagi dia sudah mendapat peringatan dari ibu tirinya untuk tidak melakukan hubungan bersama dengan Naldy. Karena posisinya saat ini hanyalah sebagai pengganti.

"Tante Maaf, saya tidak siap melakukan hal itu," ucapnya dengan jujur.

"Kamu wanita yang dibekali dengan ilmu agama yang tinggi dan seharusnya kamu tahu apa tugas istri, Zahra saya sudah mengatakan jangan membuat saya kesal!" tegas Mila.

"Bantu dia untuk bersiap-siap!" titah Mila pada pelayan tersebut membuat pelayan itu mengganggukan kepala dan kemudian membawa Zahra untuk menuju kamar mandi dan terlihat Zahra sangat panik.

Setelah berganti pakaian yang baru saja diberikan Ibu mertuanya, Zahra cukup gugup duduk di pinggir ranjang dengan jari-jarinya saling memencet sejak tadi.

Zahra menggunakan piyama berwarna hitam dengan rambutnya yang digerai panjang, piyama tersebut cukup mencolok dan sangat tipis memperlihatkan bagian tubuhnya. Zahra benar-benar sangat gugup dengan kesulitan menelan ludahnya.

Jantungnya semakin berdebar dengan kencang ketika pintu kamar itu dibuka dan sesuai dugaan jika akhirnya Naldy memasuki kamar tersebut.

Zahra langsung menunduk.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Naldy dengan nada suara dingin membuat Zahra mengangkat kepalanya.

"Sa- sa...."

"Jangan berharap apapun dalam pernikahan ini, kamu hanya pengganti dan percuma kamu berpenampilan seperti ini di hadapan saya, Saya tidak akan menyentuh kamu, mau kamu telanjang sekali," belum sempat berbicara dan Zahra sudah mendapat kata-kata pedas dari pria yang baru saja menikah dengannya itu.

"Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran kamu sampai kamu menerima tawaran untuk menggantikan Tasya di hari pernikahan saya. Apa kamu tidak bisa protes, apa kamu terlalu murahan sampai harus menikah begitu saja?" Naldy ternyata menyalahkan keputusannya.

Mungkin karena saat Zahra diminta untuk menggantikan Tasya tidak ada protes dari Zahra, bukan karena tidak ingin protes tetapi tidak ada kesempatan untuk membuatnya berbicara.

Padahal di saat dia diperintahkan untuk berganti pakaian gaun pengantin, dia juga sudah mencoba untuk berbicara dengan ayahnya dan tetap saja pernikahan itu tidak bisa dihentikan.

"Tetapi sudahlah, semua sudah terlanjur dan jangan kamu pikir karena kamu menyelamatkan keluarga saya dari rasa malu akibat perbuatan dari saudara kamu dan saya harus berterima kasih kepada kamu. Bukan menikah dengan kamu yang saya inginkan, jadi jangan pernah berharap apapun kepada saya!" tegas Naldy benar-benar tidak memberi kesempatan kepada Zahra untuk mengungkapkan isi hatinya saat ini yang juga memiliki protes yang sangat banyak.

"Di rumah sakit atau di manapun ketika bertemu dengan saya, bersikap biasa saja dan anggap tidak mengenal saya! jangan pernah mencampuri urusan saya,"

"Saya sebenarnya sangat muak berada di kamar ini dengan orang baru yang harus ada di sini, tetapi apa boleh buat. Kamu bisa tidur di kamar ini tetapi bukan berarti satu ranjang dengan saya!" tegas Naldy.

"Saya tegaskan untuk pertama dan terakhir kalinya, jangan berharap dalam pernikahan dan saya tidak akan menyentuh kamu!" tegas Naldy.

Air mata Zahra jatuh ketika mendapat kata-kata pedas dari suaminya, seolah-olah semua kejadian ini adalah salahnya, padahal dia juga hanya korban yang ingin membantu keluarganya.

Naldy tidak mengatakan apa-apa lagi dan kemudian langsung pergi. Zahra menyeka air matanya.

"Mengapa semua harus seperti ini? mengapa aku yang di pojokan dan diserang habis-habisan?"

"Ada apa ini ya Allah?"

"Mengapa seperti ini?"

"Mengapa ya Allah?" Zahra benar-benar tidak menyangka jika hidupnya akan berakhir seperti ini.

Bersambung.....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!