Malam itu terasa begitu mencekam. Awan gelap bergulung di langit, menghalangi setiap cahaya bulan dan bintang yang mencoba untuk menembusnya. Angin berhembus kasar, menggugurkan daun dan menggerakkan dahan-dahan pohon dengan liar. Seolah alam ikut murka, ikut menertawakan takdir pahit seorang lelaki yang hatinya baru saja dihancurkan.
Di taman belakang rumah orang tuanya, Farhan Bashir Akhtar berdiri mematung. Setelan pengantin yang masih melekat di tubuhnya kini hanya menjadi simbol kehinaan. Adilla, wanita yang seharusnya menjadi istrinya, menghilang tepat sebelum akad. Meninggalkannya dengan pertanyaan dan rasa malu yang tak terhingga.
Bisik-bisik tamu, tatapan sinis relasi bisnis, dan wajah kecewa kedua orang tuanya terus berputar di kepala Farhan. Semua yang terjadi hari ini terasa seperti penghinaan terbesar dalam hidupnya.
Farhan menatap langit yang kacau, berharap ada jawaban jatuh bersama angin. Tapi yang datang justru rasa sakit yang menyeruak hingga ke dadanya.
“ADILA!!!” teriak Farhan yang suaranya pecah dan penuh luka. Nafasnya terhenti-henti saat ia menunduk sementara kedua tangannya mengepal kuat.
“Kenapa, kenapa kau tega melakukan ini padaku, Adilla? Apa salahku hingga kau harus meninggalkanku dan mempermalukan ku dengan cara seperti ini?”
Air mata yang Farhan tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung. Ia mencintai Adilla dengan tulus, memberikan segalanya tanpa ragu. Namun balasannya? Ia justru mendapat penghinaan di hari yang seharusnya menjadi paling bahagia dalam hidupnya.
Cukup lama Farhan membiarkan dirinya hancur. Hingga saat air matanya mengering, tatapannya berubah kosong, dingin dan tak lagi sama.
“Rasa sakit ini akan selalu aku ingat,” bisiknya pelan, namun mengerikan. “Mulai sekarang, tidak ada lagi kata cinta, tidak ada perempuan yang berhak menyentuh hidupku lagi.”
Malam itu, Farhan mengubur sisi lembut dirinya. Ia memilih menjadi seseorang yang tidak bisa lagi disakiti.
Dan ia menepati janji itu.
Dalam waktu singkat, Farhan berubah menjadi CEO muda yang diperhitungkan dunia. Sukses, kaya dan tak mudah tersentuh dengan yang namanya perasaan. Namun semakin tinggi ia melangkah, semakin jelas kesepian yang ia abaikan. Kedua orang tuanya hanya bisa menatap putra mereka yang kini membangun tembok setinggi langit dan menolak setiap wanita yang mencoba mendekatinya.
Mereka takut, jika Farhan terus seperti ini, suatu saat ia akan benar-benar kehilangan hatinya sebagai seorang manusia dan selamanya hidup menyendiri. Kedua orang tua Farhan tidak mau kalau putra mereka hidup tanpa memiliki hati.
Malam ini, Farhan kembali pulang larut malam setelah seharian bekerja di perusahaannya, Akhtar Global corporation, perusahaan milik keluarganya yang bergerak di bidang properti dan real estate. Langkah kaki Farhan terdengar berat saat ia memasuki rumah megah keluarga Akhtar. Setelan jas hitam yang masih melekat pada tubuhnya tampak sedikit kusut, dan dasi yang melonggar di lehernya menjadi saksi kesibukan yang tak pernah Farhan tinggalkan.
Lampu-lampu kristal di ruang utama masih menyala terang. Rumah sebesar ini seolah tidak pernah benar-benar tidur. Namun meski kemewahan mengelilinginya, rasa dingin dan kesepian justru menyelimuti dinding-dindingnya. Farhan membuka kancing kerahnya sambil menghela napas panjang, ia hanya ingin segera naik ke kamar dan mengistirahatkan dirinya dari dunia yang menguras tenaganya.
Namun baru beberapa langkah saat Farhan menapaki anak tangga, suara berat yang sangat ia kenal menghentikan langkahnya.
“Farhan.”
Farhan memejamkan matanya sebentar. Suara itu bukan suara yang bisa ia tolak atau abaikan. Perlahan ia menoleh ke belakang dan di sanalah Farhan melihat ayahnya berdiri.
Pak Ardhan Rasyid Akhtar. Pria berusia akhir lima puluhan itu masih terlihat gagah dan berkarisma, dengan postur tubuh tegap yang menunjukkan kedisiplinan yang terbentuk selama puluhan tahun saat memimpin perusahaan keluarganya.
"Ada yang ingin ayah omongin sama kamu." Ucap pak Ardhan sembari memberi isyarat dengan kepalanya agar anaknya itu mau mengikutinya. Ekspresinya sulit ditebak, namun ada sesuatu yang jelas terlihat dari sorot matanya, sebuah kekhawatiran.
“Ayah, aku lelah. Bisakah ayah mengatakan apa yang ayah ingin omongin itu besok pagi saja?” pinta Farhan sembari menghela napas berat.
"Kalau ayah bilang sekarang ya sekarang, cepat turun dan ikut ayah sebentar."
Mau tidak mau Farhan melangkah menuruni tangga, mengikuti ayahnya menuju ruang kerja yang berada di sisi timur lantai bawah rumah itu. Pintu kayu besar berwarna gelap terbuka dan memperlihatkan ruangan yang seolah mencerminkan siapa pemiliknya.
Ruangan itu terlihat luas dengan dinding-dinding yang dipenuhi rak buku. Sebuah meja kayu mahoni besar berdiri di tengah ruangan, dilapisi permukaan kaca dengan lampu meja bercahaya hangat di atasnya. Sementara karpet Persia mewah terhampar di tengah-tengah yang memberikan kesan klasik dan berkelas.
Di sisi ruangan terdapat jendela besar setinggi langit-langit yang menampilkan pemandangan luar di malam hari. Ayah Farhan berjalan pelan menuju jendela itu, berdiri tegak dengan kedua tangan di balik punggungnya. Ia tidak langsung berbicara. Ia tengah memikirkan kata-kata yang tepat agar tidak melukai anaknya lebih jauh.
Farhan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Diam dan menunggu. Meski mata dan tubuhnya terlihat lelah, ia tahu ayahnya tidak akan memanggilnya jika hanya ingin membahas hal sepele. Namun perbincangan apapun mengenai cinta atau hubungan, ia paling benci itu.
Angin malam dari celah jendela yang sedikit terbuka meniup tirai perlahan dan menambahkan suasana tegang yang sulit diabaikan. Setelah cukup lama berpikir, pak Ardhan akhirnya berbicara. Suaranya rendah namun terdengar jelas.
"Mau sampai kapan kau akan hidup seperti ini, Farhan? Ini sudah dua tahun dan ayah tidak mau melihat kamu hidup seperti ini." Ucap pak Ardhan yang membuat Farhan mengerutkan keningnya sedikit.
"Apa maksud ayah?"
Pak Ardhan tidak langsung berbalik. Matanya masih tertuju pada pemandangan di luar yang gelap, dingin namun tanpa kehangatan.
“Mau sampai kapan kau akan terus menyiksa dirimu sendiri seperti ini, nak?”
Farhan memalingkan wajahnya, seolah mencoba menyembunyikan kejengkelannya terhadap pertanyaan ayahnya.
“Aku tidak menyiksa diri, Ayah. Aku melakukan yang terbaik untuk perusahaan.” jawab Farhan yang membuat Pak Ardhan menghela napas berat.
“Tidak menyiksa diri kau bilang? Farhan, coba kau lihat dirimu sebentar nak. Kau bekerja seperti orang yang sedang berlari dikejar waktu. Berangkat sebelum matahari terbit dan pulang larut malam. Kau tidak memberi dirimu kesempatan untuk beristirahat dan menikmati kehidupan mu sendiri.”
Pak Ardhan kemudian berbalik. Sorot tajam namun perhatian tetap terpancar dari matanya saat ia tengah berbicara dengan putranya.
“Kau menolak setiap wanita yang mencoba mendekatimu, Farhan. Kau menutup pintu hatimu dan tidak membiarkan siapapun masuk.”
Farhan menatap ayahnya tanpa ekspresi.
“Aku tidak butuh wanita untuk bahagia, ayah. Aku bisa hidup tanpa mereka.”
“Tidak butuh wanita?” Pak Ardhan melangkah mendekat. “Atau tidak mau menerima kenyataan bahwa kau masih terluka?”
Dada Farhan terasa mengeras. Namun ia menahan diri untuk tidak menunjukkan reaksi apapun. Ayahnya menatapnya lama, kemudian kembali berbicara yang kali ini mencoba untuk memahaminya, seperti sedang merawat luka di hatinya yang sudah sangat parah.
“Kau pikir Ayah dan Mamamu tidak melihat betapa menderitanya kamu, Farhan? Kau pikir kami tidak merasakan bagaimana kau membiarkan dirimu terjebak dalam masa lalu yang menyakitkan?”
Farhan mengalihkan pandangannya dari ayahnya. Rahangnya mengeras.
“Ayah tahu perasaanmu waktu itu, saat Adilla pergi.” Suara ayahnya sedikit menurun, namun tidak kehilangan ketegasan. “Tapi, sampai kapan kau mau hidup dalam penjara yang kau buat sendiri, nak?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan menusuk. Membuat Farhan mengepalkan tangannya.
"Kalau ayah sudah tahu jawabannya lantas kenapa ayah masih membicarakan hal ini kepadaku?" Sahut Farhan yang membuat pak
Ardhan mengangkat alisnya.
“Benarkah? Kau sungguh akan hidup seperti ini selamanya? Menutup pintu hatimu untuk orang lain dan membiarkan dirimu terjebak dalam masa lalu?”
“Aku sudah berulang kali bilang, ayah. Aku tidak butuh orang lain dalam hidupku. Aku tidak akan membiarkan seorang wanita pun masuk lagi ke dalam kehidupanku. Tidak setelah kejadian itu.” ucap Farhan sembari menatap ayahnya dengan sorot dingin. Nada suaranya tajam, tidak bergetar dan tanpa ragu sedikitpun.
Namun di balik ketegasan itu, ada luka besar yang masih menganga. Pak Ardhan merapatkan bibirnya. Kesedihan tersembunyi jelas terlihat pada wajahnya. Ia melangkah lebih dekat lagi, kini hanya berjarak satu langkah dari putranya.
“Anakku, biar ayah kasih tahu kamu sedikit kalau hidup bukan hanya tentang bekerja, mengumpulkan kekayaan, atau menutup luka dengan prestasi. Manusia itu perlu dicintai dan perlu mencintai.” pak Ardhan berhenti sejenak untuk menatap Farhan dalam dalam.
“Apa kau kira Ayah tidak pernah merasakan kehilangan? Apa kau kira Ayah belum pernah merasakan terluka?”
Farhan terdiam.
Namun pak Ardhan tidak ingin mengungkit masa lalunya lebih jauh. Ia tahu ini bukan tentang dirinya. Ini tentang anaknya yang selama dua tahun ini mencoba terlihat kuat padahal jiwanya hancur.
“Kau berhak bahagia, Nak. Jangan hukum dirimu atas kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.” katanya pelan.
Farhan menutup matanya sesaat, memendam semua emosi yang mencoba merayap keluar. Ia menolak terlihat rapuh bahkan di hadapan ayahnya sendiri. Ketika ia membuka matanya lagi, hanya ada kebekuan di sana.
“Aku sudah pernah memberikan semuanya pada seseorang, ayah. Dan ayah tahu bagaimana akhirnya,” ucap Farhan dingin. “Jadi, berhenti berharap aku akan berubah. Aku sudah mati rasa pada yang namanya cinta.”
Suasana hening kembali menyelimuti ruangan. Begitu tebal dan menyakitkan. Pak Ardhan mengusap wajahnya perlahan, lelaki yang terbiasa mengendalikan ribuan karyawan itu kini terlihat kalah di hadapan anaknya sendiri.
“Ayah cuma takut kalau suatu saat, saat usia Ayah dan ibumu semakin tua, kau akan benar-benar sendirian di dunia ini, nak.” ucap pak Ardhan pelan dan membuat Farhan mengerang dalam hati. Ia sangat membenci arah percakapan ini.
"Tolong jangan buat dirimu menderita seperti ini nak. Ayah benar benar tidak tahan melihatmu seperti ini." Ucap pak Ardhan dengan lirih.
"Aku tidak bisa, ayah. Dan tolong jangan minta Farhan untuk meruntuhkan tembok yang sudah Farhan bangun selama dua tahun ini." Ujar Farhan dengan jujur dari hatinya yang paling dalam.
Pak Ardhan memejamkan matanya sejenak, seperti menahan sesuatu yang ingin ia katakan. Ia melangkah mundur, tangannya menggenggam pinggiran meja untuk menjaga keseimbangannya, seolah kalimat itu lebih menyakitkan dari pukulan mana pun.
Sungguh, tak ada yang lebih menyiksa bagi seorang ayah selain menyadari bahwa ia tak bisa mengobati luka di hati putranya sendiri.
Namun ia tidak akan menyerah. Ia akan berusaha untuk meruntuhkan tembok yang sudah mengurung perasaan putranya sejak lama.
“Jika itu yang menjadi pilihanmu, maka Ayah yang akan membuat keputusan untukmu.” kata pak Ardhan pada akhirnya, suaranya kembali tenang namun menyimpan tekad yang kuat dan membuat Farhan mengerutkan alisnya karena bingung dan mulai merasa tidak nyaman.
“Apa maksud Ayah?” tanyanya.
Pak Ardhan mengangkat wajahnya untuk menatap Farhan dengan ketegasan yang belum pernah ia tunjukkan dalam percakapan ini.
“Ayah tidak bisa membiarkan mu hidup seperti ini terus. Kau butuh seseorang dalam hidupmu baik kau mau atau tidak.”
Farhan langsung tegang. Nada suaranya mendingin beberapa derajat lebih tajam.
“Ayah jangan lakukan sesuatu yang membuatku kecewa kepada ayah.” ucap Farhan pada ayahnya namun terlambat, karena ayahnya itu sudah memutuskan sesuatu untuknya.
“Ayah akan mencarikan seseorang yang bisa menuntun mu kembali menjadi manusia yang punya hati. Seseorang yang akan Ayah pilih sebagai istrimu.” ujar pak Ardhan dengan mantap.
Farhan terpaku, matanya membulat sementara rahangnya mengeras.
“Tidak, ayah tidak bisa melakukan ini padaku.” tolak Farhan dengan tegas namun sedikit mengancam.
Pak Ardhan tidak terkejut dengan respon itu. Ia sudah menduganya. Ia justru tersenyum tipis, senyum yang menandakan ia sudah jauh lebih siap menghadapi penolakan itu dibandingkan Farhan yang menolak keputusannya itu.
“Kau adalah satu satunya anak ayah, nak. Dan Ayah tidak akan tinggal diam melihatmu hancur seperti ini.” kata pak Ardhan dengan penuh cinta seorang ayah.
Farhan melangkah maju, emosi yang ia tekan mulai menyeruak.
“Ayah pikir seorang wanita akan memperbaiki hidupku? Mereka justru penyebab semuanya.” ujar Farhan yang membuat pak Ardhan menggeleng.
“Tidak semua wanita akan bersikap seperti itu nak."
Farhan terdiam. Ada kemarahan dan juga kebencian yang terlihat di matanya tapi yang paling kuat adalah rasa takut akan kembali terluka. Membuat ayahnya berjalan menghampirinya dan menepuk lembut bahunya. Tepukan yang hangat itu justru membuat Farhan merasa lebih terpojok daripada ditenangkan.
“Sudah menjadi kodrat manusia untuk hidup berpasang pasangan nak, dan kau tidak bisa menghindar dari kodrat yang diatur tuhan untuk semua hambanya. Ayah akan memperjuangkan kebahagiaanmu meski kau menolaknya.” ucap pak Ardhan dengan hati hati dan membuat Farhan menatap ayahnya dengan campuran frustasi dan ketidakpercayaan.
“Aku sudah bilang aku tidak ingin—”
“Dan Ayah sudah memutuskan,” potong pak Ardhan dengan tegas.
Untuk pertama kalinya, Farhan merasa kendali hidupnya benar-benar terancam. Ia ingin membantah, ingin memberontak, namun semua kata-kata itu terhenti di tenggorokannya.
Pak Ardhan melangkah kembali ke arah jendela, menatap malam yang masih kelam.
"Ayah percaya bahwa akan ada perempuan di luar sana yang bisa mengobati luka di hatimu nak. Dan ayah akan menemukan wanita itu untuk menjadi pendamping hidupmu."
Farhan terdiam dan membeku. Kata-kata ayahnya menggantung di udara, menjadi ancaman yang tidak bisa ia lawan bahkan dengan segala kekuasaan yang ia miliki sebagai CEO.
Di luar sana, angin kembali berhembus, menggerakkan tirai yang menari perlahan. Seolah malam ikut menertawakan masa depan Farhan yang baru saja berubah arah tanpa ia kehendaki.
Pintu kamar Farhan terbanting keras di belakangnya, nyaris memantul kembali karena tekanan yang ia lepaskan. Dadanya naik turun oleh amarah yang masih membara, suara dari percakapan terakhir dengan ayahnya terus menggema, seolah menampar kesadarannya berulang kali.
Bagaimana bisa ayahnya mengambil keputusan sepihak seperti itu?
Farhan meraih simpul dasinya dengan kasar, menariknya hingga hampir merobek kerah kemejanya. Dasi itu terlepas dan Farhan hempaskan begitu saja ke lantai marmer. Kedua tangannya mengepal, rahangnya mengeras, dan tatapan matanya seperti pisau tajam yang siap menusuk siapa pun yang berani mendekat.
“Ayah tidak punya hak mengatur hidupku.” gumam Farhan dengan geram.
Ia berjalan ke arah lemari tinggi yang terbuat dari kayu mahoni. Dengan gerakan tergesa-gesa dan penuh emosi, ia membuka salah satu laci bagian dalam. Di sanalah sebuah bingkai foto tersimpan rapi, seolah-olah menjadi luka yang dibiarkan tetap menganga. Foto yang sudah dua tahun tidak Farhan sentuh namun tidak pernah sanggup ia buang.
Adilla.
Nama itu saja sudah cukup menjadi racun bagi seluruh tubuh Farhan.
Ia menatap foto itu dalam waktu lama. Wanita itu tersenyum di sana, seolah tidak pernah melakukan kesalahan. Seolah tidak pernah menghancurkan harapan, harga diri, dan seluruh kehormatannya dalam satu malam paling memalukan dalam hidupnya.
Farhan menghela napas panjang, tatapannya berubah. Dari sendu menjadi kebencian yang murni.
“Kau, karena kau aku kehilangan kemampuanku untuk percaya.” gumam Farhan dengan suaranya yang rendah tapi dipenuhi racun.
Kepalanya sedikit menunduk, tetapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum getir.
“Dan sekarang Ayah pikir wanita lain bisa memperbaiki hidupku?” tanyanya sambil terkekeh pelan. Tawa yang terdengar seperti ejekan untuk dirinya sendiri.
“Tidak akan ada satu pun yang bisa menembus dinding yang sudah ku bangun.”
Nadanya dingin, beku dan mematikan.
Tangannya perlahan meremas foto itu. Awalnya pelan namun makin lama ia menggenggam semakin erat hingga kertas foto itu membentuk bentuk yang tak lagi terlihat seperti kenangan. Dan lebih terlihat seperti sampah yang tak berarti.
“Kalian semua sama, Kalian hanya tahu cara menghancurkan dan tidak bisa menghargai perasaan seseorang yang benar benar tulus mencintai kalian.”
Dengan satu embusan napas berat, Farhan melemparkan foto itu ke lantai dan menginjak-injaknya tanpa belas kasihan. Jika ayahnya ingin memaksakan kehendak, maka Farhan telah memutuskan satu hal: Ia akan memastikan bahwa siapapun wanita yang dinikahinya nanti tidak akan mampu menyentuh hatinya walau sedikit pun.
Malam itu, Farhan memandang bayangannya di cermin besar yang tergantung di dinding. Bayangan seorang pria yang sudah terlalu hancur untuk disembuhkan
“Aku tidak akan mencintai siapapun lagi,” katanya pada refleksi dirinya.
“Tidak peduli siapapun yang Ayah pilih, ia tidak akan pernah mendapatkan hatiku.”
Keesokan paginya, suasana pagi di rumah keluarga Akhtar biasanya terasa hangat dan tenang. Namun bagi Pak Ardhan, pagi ini terasa berbeda. Ada ketegangan yang terasa pada setiap langkahnya. Pak Ardhan sudah berniat sejak semalam. Bahwa ia akan mengunjungi sahabat baiknya untuk menjodohkan Farhan dengan putrinya.
Setelah menghabiskan beberapa jam di perjalanan, akhirnya mobil Mercedes Benz hitam yang dikendarai oleh pak Ardhan tiba di depan pintu gerbang yang bertuliskan Pondok Pesantren Darul Qur’an Al-Majid, yang tak lain dan tak bukan adalah pondok pesantren milik sahabat baiknya.
Pagi hari membuat suasana pondok pesantren itu terasa lebih hidup. Anak-anak kecil berlari menuju kelas, suara hafalan ayat suci Al Quran hampir terdengar di setiap sudut, dan aroma rumput basah bercampur dengan bau buku-buku baru dari rak perpustakaan yang terbuka.
Saat masuk ke dalam, pak Ardhan bisa melihat bagaimana bangunan pesantren itu yang terlihat bersih dan terawat. Dinding berwarna putih krem dengan aksen hijau tua, pepohonan rindang di kanan kiri, dan jalan setapak kecil dari batu alam yang mengarah ke sebuah masjid utama di tengah lingkungan pesantren.
Hilir hilir angin membawa lantunan ayat suci Qur’an yang begitu syahdu. Ada ketentraman yang menyentuh hati di tempat ini, ketenangan yang sudah lama hilang dari hidup putranya. Pak Ardhan melangkah, lalu seorang ustadz menyapanya sebelum membimbingnya menuju ruang tamu khusus tamu kehormatan. Namun langkah Pak Ardhan terhenti di depan sebuah aula kecil yang pintunya sedikit terbuka.
Dari celah pintu itu, ia bisa melihat seorang wanita tengah berdiri di depan puluhan santriwati yang duduk rapi bersila.
Wanita itu terlihat begitu sederhana tapi mencuri perhatiannya dalam sekejap. Kerudungnya jatuh menutupi dada dengan rapi, warnanya hijau daun yang lembut dan kontras dengan gamis krem panjang yang ia kenakan. Tidak ada make up berlebihan, tidak ada perhiasan yang mencolok. Tapi justru kesederhanaan itu yang membuat aura kecantikannya begitu nyata.
Wajahnya terlihat bersih dan teduh. Alisnya terbentuk alami, matanya besar dan jernih seperti air yang memantulkan ketenangan sore hari di pesantren ini. Saat ia tersenyum kepada para santriwati, senyuman itu terasa tulus dan hangat seperti menghapus segala lelah yang mengendap di dalam hati.
Suara lembutnya mengalun saat membaca ayat suci Al-Qur’an dengan pelafalan yang begitu merdu.
“Innallāha ma’aṣ-ṣābirīn, Sesungguhnya, Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Ketika ia menjelaskan artinya, suaranya tidak sekadar mengajar tetapi seperti membelai hati setiap orang yang mendengarnya.
“Kalau kita terluka, itu bukan karena Allah ingin kita menyerah,” ucapnya, matanya melirik santriwati kecil yang menatapnya dengan kagum.
“Allah hanya ingin kita belajar bahwa sabar bukan berarti diam, tapi tetap percaya meski semuanya terasa berat.”
Pak Ardhan terpaku. Begitu terpaku sampai ia lupa menarik napas untuk sesaat. Ada sesuatu dalam diri wanita itu, kelembutan hatinya saat mengajar semua santriwati itu, kecantikan yang tidak dibuat-buat, serta kecerdasan yang tidak membuatnya menyombongkan diri. Semua berpadu begitu alami, seolah ia diciptakan untuk memberi keteduhan bagi siapa pun yang dekat dengannya.
Dan tanpa pak Ardhan sadari, hatinya mulai berbicara:
“Farhan, kalau saja kau melihat perempuan ini. Kau pasti akan tahu bahwa tidak semua wanita itu tega menyakiti hati laki laki.”
Kinara membungkuk sedikit sambil mengusap kepala santriwati yang menangis pelan karena salah membaca ayat suci Alquran. Ia tersenyum, senyum yang bisa membuat siapa pun merasa tidak sendirian di dunia ini.
“Tidak apa-apa, sayang. Kita belajar pelan-pelan. Allah selalu lihat usaha kita, bukan hasil.”
Seketika dada Pak Ardhan terasa hangat.
Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti ini bahkan di rumahnya sendiri. Wanita itu kemudian menutup mushaf Alquran ditangannya saat bel pertanda jam pelajaran telah berakhir, berbunyi. Ia lalu menepuk pelan bahu santriwati di hadapannya yang ingin mencium tangannya sebelum keluar dari aula. Dan saat itu pula mata mereka bertemu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!