Indonesia
NovelToon NovelToon

Assalamualaikum, Pak KUA

Dighosting

“Bagaimana? Sudah ada kabar?”

Suara berat dari arah pintu, membuat gadis yang mengenakan baju pengantin, baju bodo modern berwarna maroon itu tersentak kecil.

Gadis itu menatap sang papa sambil menggeleng pelan. “Belum, ada Pa,” jawabnya dengan suara khawatir.

Sang papa menghela napasnya, melangkah masuk ke kamar sang putri dengah wajah berat dan menahan amarah yang sedari tadi dipendam.

“Ini sudah jam dua belas, Zahra. Sampai kapan kita akan menunggu? Para tamu sudah hadir. Tapi pria itu dan keluarganya belum datang juga,” kata sang papa bernama Sultan, mencoba meredam emosinya.

Zahra menunduk, menautkan kedua tangannya yang telah dihias hena dan nail art. Mata gadis itu berkaca-kaca menahan tangisnya.

“Pa, beri waktu sedikit lagi. Zahra yakin, Reza dan keluarganya pasti akan datang sebentar pagi,” ucap gadis itu memohon.

“Kau sudah mengatakan hal itu sejak 2 jam lalu Zahra. Dari awal Papa sudah tidak setuju dengan pria itu. Tapi kau tetap memaksa.” Suara Papa Sultan terdengar meninggi.

Zahra menatap sang Papa, gadis itu berdiri mencoba membalas ucapan sang papa. Tapi dering telfonnya menghentikan gadis itu.

Tertera, nama penelpon adalah Reza, sang kekasih hati.

Zahra kembali bersemangat, meski tadi harapannya hampir pupus. Hatinya langsung kembali melonjak. Ia dengan cepat mengambilnya.

“Pa, lihat! Reza telfon.” Zahra terburu-buru menekan tombol jawab dan mengaktifkan speaker.

“Halo, Reza kamu di mana? Aku dan semuanya sudah—”

Ucapan Zahra terhenti karena suara laki-laki itu memotong dengan tergesa-gesa.

“Maafkan aku, Ra. Aku gak bisa melanjutkan pernikahan ini.”

Deg!

Jantung Zahra berhenti berdetak seketika.

“Ha?! Apa maksudmu?”

“Aku mencintai Andini,” Reza melanjutkan ucapannya, “dan … Andini hamil anakku. Sekarang kami akan menikah.”

Duar!

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari petir yang membelah langit. Hati Zahra serasa diremas oleh tangan tak kasat mata.

Zahra menggeleng cepat, napasnya kacau. “T–tidak … kalian jangan bercanda. Ini gak lucu! Reza, kau calon suamiku! Andini sahabatku! Kalian … kalian jangan mencoba prank aku.”

Gadis itu masih mencoba menyangkalnya, meski dadanya bergemuruh hebat tapi ia tak ingin percaya.

“Ini bukan prank, Ra.” Suara Reza terdengar menyesal. “Maaf, aku memang akan menikahi Andini. Kata orang tuaku, dari awal kita udah gak cocok. Kuta beda suku Ra’.”

Mata Zahra memerah, menahan Isak tangisnya. “Tapi kenapa baru sekarang kau bilang? Kenapa tidak dari jauh-jauh hari? Apa kau tidak tahu apa akibatnya?!”

Baru saja Reza akan menjawab, terdengar suara seseorang menyahut dengan nada sinis.

“Eh, Zahra. Kudune kamu tahu diri. Seko awal kami ora setuju anak kami nikah karo kowe. Kowe kui suku Bugis. Ora cocok karo keluarga kami. Ngerti ora!”

Dari seberang telfon, Reza mencoba menegur sang ibu, “Bu, sudah to Bu—”

Sang Ibu langsung memotong dan berkata, " Lah, Opo iki salah? Bener to? Kudune dari awal kalian ki ora usah pacaran! Delok kae Andini, kae cocok lak jadi mantu Ibu, sama-sama Jowo. Harusne si Zahra iki tahu diri.”

Prak!

Ponsel di tangan Zahra terlepas dan jatuh ke lantai, tubuh gadis itu mematung, tak lama tubuhnya ikut terjatuh seolah tak memiliki tulang untuk menopang.

Papa Sultan refleks menunduk meraih ponsel itu. Wajahnya merah padam, suara lamgsung meledak.

“Kau menipu putriku?! Kau mempermalukan keluarga kami?! Dasar tidak punya siri’! Bajingan kau!”

“Heh! Apa kau bilamg—”

Suara ibu dari Reza terdengar tenggelam. Lalu Reza hanya berkata pelan, “Maafkan aku, Om.”

Klik!

Lalu sambungan terputus.

Papa Sultan menggeram keras, dan langsung melemparkan ponsel itu ke dinding.

Prang!

“Dari awal Papa sudah bilang laki-laki itu bajingan!” seru Papa Sultan dengan wajah memerah.

Zahra tak bersuara. Air matanya pecah, mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Tubuhnya bergetar hebat.

Tak lama, suara langkah cepat masuk ke kamar.

“Ada apa ini?” Rani, ibu Zahra muncul dengan wajah panik. Saat melihat Zahra di lantai, tubuh suaminya tegang dan wajahnya memerah. Perasaannya langsung tidak enak.

“Apa yang terjadi? Kenapa Reza belum datang? Papa ngomong!” desak Rani pada sang suami.

Papa Sultan memejamkan mata lalu berkata pelan. “Pernikahan ini batal. Reza memilih wanita lain dan dia sudah menghamilinya.”

Tubuh Rani melemas. “Astaghfirullah … bagaimana bisa?” Ia hampir jatuh jika bukan karena tangan suaminya yang cepat menangkap.

Zahra hanya menangis di lantai, tak mampu berkata apa-apa.

*

*

Di bawah, keributan kecil mulai terjadi. Para tamu berbisik-bisik, wajah mereka nampak kesal dan resah.

“Kenapa lama sekali?”

“Apa terjadi sesuatu di jalan sama keluarga mempelai prinya?”

“Aduh ini memalukan sekali.”

Terlihat juga, empat gadis cantik sahabat Zahra juga mulai tampak gelisah.

“Si Reza kemana sih njir? Ini udah jam dua belas loh kasihan si Ara,” gerutu Anita.

Di dekatnya, seorang gadis berkulit kuning langsat, Iind terlihat terus bercermin di cermin kecil yang ia bawa, "Ternyata aku cantik juga yo, pakai baju bodoh. Beruntung banget biso due konco seko Sulawesi.”

Ayu mendengus. "Uduk bodoh, tapi bodo Iind. Huruf H ne gak ono."

Iind cemberut dan berkata, "Salah sitik doang kok."

"Guys-guys! Lihat tuh, pak penghulunya cakep banget. Kek aktor ya gak? Ih, gemes banget,” kata Salsa terus memandangi ke arah penghulu dengan mata berbinar terang.

Anita sendiri merasa kesal, melihat ketiga temannya justru sibuk dengan yang lain.

"Kalian denger gak sih? Itu kenapa Reza belum datang. Kasihan si Ara nunggu terus," sela Anita membuat ketiganya terdiam.

"Eh, iyo yo? Kok Reza belum dateng yo?" tanya Iind langsung celingukan.

"Opo jangan-jangan ono sesuatu lagi," kata Ayu.

Keempatnya saling pandang.

Di meja utama, seorang pria tampan, berusia dua puluh delapan tahunan duduk dengan wajah tenang. Namanya Althaf, penghulu muda yang akan memimpin akad. Namun teman petugas KUA di sampingnya mulai gelisah.

“Thaf, waktunya sudah lewat dari tadi ini. Jangan-jangan kabur lagi pengantinnya?” ujar Randi asal.

Althaf menoleh, wajahnya tetap datar. “Jangan asal bicara.”

Temannya langsung terdiam, lalu tak lama ia cengengesan. “Ya, maaf. Tapi kita sudah dari tadi nunggunya, loh. Mana laper lagi,” gerutunya kecil sambil memegangi perutnya.

Althaf hanya terdiam, pria itu memang sangat irit bicara. Dan Randi tahu hal itu.

Beberapa menit kemudian, Papa Sultan turun dengan wajah kusut. Ia langsung menghampiri Althaf.

“Thaf, boleh ikut Om sebentar?” tanyanya pelan, yang hanya dapat didengar oleh pemuda itu.

Althaf mengangguk lalu langsung berdiri dan mengikuti ke ruang kerja.

*

*

Di ruangan kerja Papa Sultan, terlihat suasana sangat hening. Althaf duduk di depan Papa Sultan yang wajahnya terlihat menahan sesuatu.

Pasti ada sesuatu yang gak beres, pikir Althaf.

Papa Sultan menatap pemuda di depannya, ia berkali-kali menghela napas berat. “Thaf! Om boleh minta tolong padamu?”

Althaf duduk tegak, sopan. “Ada apa, Om? Kalau saya mampu, insyaallah saya bantu.”

Althaf memang tak bisa menolak. Papa Sultan adalah orang yang membiayai pendidikannya sejak SMA hingga S2. Orang yang ia hormati, bahkan ia anggap seperti ayah sendiri. Dan Althaf sendiri adalah anak dari sahabat Papa Sultan saat di kampung dulu.

Papa Sultan kembali menarik napas panjang sebelum berkata, “Tolong … jadilah pengantin pria untuk putriku.”

Deg!

Althaf membeku di tempatnya, untuk sesaat, ia pikir ia salah dengar.

“Om, maaf. Saya … saya gak salah denger kan?”

“Kau tidak salah dengar, Nak.” Mata Papa Sultan berkaca-kaca menahan emosi. “Ini soal siri’ (Harga diri). Putriku dipermalukan, calon suaminya menikah dengan sahabatnya sendiri. Bahkan wanita itu sudah hamil.”

Althaf mengatupkan rahang.

Sungguh, pemuda itu hanya datang sebagai penghulu dari pihak KUA. Eh, bagaimana mungkin berubah menjadi mempelai?

Althaf merasa sangat berat, tapi di sisi lain ia merasa berhutang budi pada pria paruh baya di depannya ini. Pria itu juga tahu, Papa Sultan sangat menjunjung soal kehormatan keluargamya.

Althaf dilanda dilema besar. Ia tak terlalu tahu bagaimana Zahra. Karena keduanya hanya bertemu sesekali itu pun tak pernah saling sapa.

Setelah sejenak terdiam. Dan berdoa dalam hati, Althaf mengangkat wajahnya lalu berkata, “Bismillah. Kalau ini memang takdirku. Insyaallah, aku siap, Om.”

Papa Sultan terlihat meneteskan air matanya. “Terima kasih, Nak. Om, benar-benar berterima kasih.”

Bukan tanpa alasan ia memilih pria itu. Papa Sultan tahu, Althaf pemuda yang sopan dan tentunya paham agama, cocok untuk putrinya.

*

Papa Sultan naik kembali ke kamar lantai dua dengan langkah berat. Dari ambang pintu, pemandangan itu membuat dadanya sesak.

Zahra duduk di lantai, menangis dalam pelukan ibunya. Make up yang tadinya sempurna kini belepotan oleh air mata. Bando emas di kepalanya sudah terlepas dan jatuh di samping ranjang. Baju bodo maroon itu tampak lecet karena tangan Zahra terus meremasnya.

Papa Sultan memejamkan mata sejenak sebelum melangkah masuk.

“Zahra!” panggilnya.

Papa Sultan berlutut perlahan sehingga sejajar dengan putrinya. Ia menghela napas panjang, menahan banyak hal dalam dadanya.

“Pernikahan ini tetap dilanjutkan.”

Zahra terpaku. Wajahnya perlahan menoleh ke arah papa, merasa tak percaya.

“Pa … apa maksud papa? Reza—”

“Kau tidak akan menikah dengan Reza.” Suara Papa Sultan datar dan dingin jika membahas pria itu. “Kau akan menikah dengan pria pilihan Papa.”

Dunia Zahra seolah berhenti berputar.

“A–apa?” suaranya bergetar.

Papa Sultan menatap Zahra dengan mata yang tak bisa ditawar. “Jangan membantah, Zahra. Cukup. Terakhir kali kau memilih sendiri hasilnya seperti ini. Papa tidak akan membiarkan kehormatan keluarga kita diinjak-injak lagi.”

Zahra menggeleng, air mata mengalir makin deras. “Tapi Pa, Zahra tidak kenal pria ituz siapa pun dia … Zahra tidak siap, Zahra—”

“Zahra.” Nada Papa Sultan naik sedikit. “Cukup.”

Zahra terdiam. Takut, sedih, marah, semuanya bercampur jadi satu yang kini mengguncangnya.

Rani memeluk bahu putrinya lebih erat. “Nak, dengarkan Mama dulu. Kita orang Bugis, Nak. Siri’ itu mahal. Harga diri bukan hal sepele. Kalau kejadian ini terdengar oleh para tamu, kita bisa hancur. Nama baik keluarga sedang dipertaruhkan. Mama tahu kau sakit, tapi tolong, Nak kuat sedikit saja.”

“Mama.” Zahra terisak, memegangi dada yang terasa sesak.

Rani mengusap wajah Zahra. “Percayalah, papa tidak akan memilihkan pria yang buruk. Papa hanya ingin yang terbaik untukmu.”

Zahra menunduk, bahunya bergetar. Ia merasa seluruh hidupnya berubah dalam hitungan menit. Namun ia tidak punya tenaga lagi untuk membantah. Dirinya kini benar-benar syok.

Papa Sultan bangkit perlahan. “MUA akan datang sebentar lagi untuk memperbaiki riasanmu.”

🍃🍃🍃

Halo, assalamualaikum teman-teman.

Kita ketemu lagi di karya author yang ke sebelas. Untuk tema ini, kita melipir dulu dari dunia perkotaan dan CEO, ya. 😁. Di novel kali ini, author bakal pakai bahasa daerah author sendiri yaitu dari Sulawesi Selatan. Tapi tenang, aja. Kalian tetap akan mengerti kok artinya. Selamat membaca teman-teman semoga terhibur.

Btw yang penasaran dengan pakaian yang dikenakan Zahra. 👇

Pengganti

“Saya terima nikah dan kawinnya Andi Alesha Azahra binti Andi Sultan

dengan seperangkat alat salat dan hafalan surah Al–Fath, tunai.”

Ucapan itu meluncur jelas dari bibir lelaki tampan bernama Althaf Zayn Yusuf, tangan kanannya menjabat erat tangan Papa Sultan.

Suara lantang para saksi menyahut.

“Sah! Sah!”

Gemuruh “sah” itu menggema memenuhi mansion, menggetarkan setiap sudut ruangan. Mata papa Sultan berkaca-kaca, ia mengucapkan hamdalah.

‘Semoga ini yang terbaik untuk putriku, ya Allah,’ batinnya.

Sementara itu, di deretan tamu, empat sahabat Zahra, Anita, Salsa, Iind, dan Ayu yang mengenakan baju bodo warna maroon hanya bisa saling pandang dengan wajah bingung luar biasa.

Anita mengerutkan dahi. “Loh, kok bukan si Reza?”

Salsa langsung membisik, menatap ke arah pelaminan dengan mata melebar. “Lho, ini Pak KUA kok malah jadi mempelai? Ini gimana ceritanya sih?”

Iind, dengan logat Jawanya yang khas, ikut mencondongkan tubuh. “Apa jangan-jangan ada sesuatu terjadi barusan? Aku nggak ngerti ini.”

Ayu berdiri setengah. “Cepat, kita liat Zahra. Jangan-jangan—”

Anita buru-buru menarik lengannya. “Eh, entar dulu! Jangan bikin heboh dulu ba, kita tunggu sedikit.”

Akhirnya Ayu dan lainnya diam.

Suasana di ruangan utama sudah berubah khidmat kembali saat Papa Sultan, Althaf, dan para tamu menunduk untuk doa.

Di lantai dua, kamar Zahra

Kamar pengantin itu telah dihias cantik dengan lamming (dekorasi adat Bugis). Namun di atas ranjang, duduk seorang pengantin wanita dengan tatapan kosong.

Dia adalah Zahara yang baru sah menjadi pengantin.

Masih mengenakan baju pengantin, wajahnya pucat. Ia mendengar ucapan “sah” tadi, namun jiwanya seolah tertinggal di tempat yang lain. Sakit, malu, bingung, semuanya bercampur jadi satu.

Pintu kamar diketuk pelan.

“Ara.” suara lembut Rani, ibunya, muncul. Ia masuk sambil tersenyum getir. “Nak, waktunya mappakasikarawa.”

Zahra hanya mengerjap lemah.

Beberapa detik kemudian, Althaf masuk didampingi Papa Sultan. Lelaki itu terlihat tenang, meski ada raut canggung di wajahnya melihat mempelai wanita yang bahkan tak menoleh. Beberapa keluarga juga ikut masuk sambil memegangi ponsel masing-masing.

Blitz kamera mulai berkedip, menandakan prosesi pertemuan pengantin di mulai.

Keempat sahabat Zahra juga ikut masuk. Mereka langsung menahan napas melihat sahabatnya hanya duduk diam seperti patung.

Ayu berbisik lirih, “Ara kasihan sekali.”

Salsa menatap Zahra cemas. “Pasti sesuatu telah terjadi.”

Papa Sultan kemudian memberi aba-aba lembut pada Althaf. “Ayo, Nak.”

Althaf mendekat, duduk perlahan di atas ranjang jarak mereka begitu dekat namun zahra tak bergeming.

Lelaki itu mengangkat tangan, pelan-pelan menyentuh ubun-ubun Zahra, membaca doa dengan suara lembut.

Selesai doa, Rani menyerahkan cincin. Ia memegang tangan putrinya agar terulur.

Rani mencoba tersenyum. “Ara, Nak ini cincinmu.”

Zahra hanya membiarkan tangannya digerakkan, matanya tetap kosong. Althaf pun menyematkan cincin itu dengan hati-hati, lalu menerima cincin untuk dirinya sendiri.

Begitu prosesi selesai, Papa Sultan memberi isyarat berikutnya.

“Ara, cium punggung tangan suamimu.”

Zahra tersentak sedikit, namun mengikuti. Ia menunduk dan mencium punggung tangan Althaf. Blitz kamera kembali menyala, diiringi tepuk tangan kecil para tamu.

Papa Sultan tersenyum lega, lalu berkata lagi, “Sekarang biar suamimu yang mencium keningmu.”

Zahra, yang pikirannya masih kacau, salah mengerti. Tanpa berpikir, ia meraih kepala Althaf dan mencium kening lelaki itu lebih dulu dengan cepat.

Semua orang membeku sejenak. Lalu sesaat kemudian.

“Ha! Ha! Ha! Ha! Ha!”

Tamu-tamu langsung heboh, beberapa menutup mulut menahan tawa.

Papa Sultan refleks menepuk keningnya.

“Zahra, Nak! Bukan begitu. Yang cium itu Althaf ke kamu, bukan kamu yang—ya Allah, ini anak.”

Zahra tersadar. Wajahnya langsung merah padam, telinganya panas, dan ia buru-buru menarik tangan.

Keempat sahabatnya langsung tertawa terbahak.

Anita, menepuk paha. “Masih shock pun, tetap ada tingkah ajaib si Ara.”

Ayu mengangguk heboh. “Buset, Zahra ganas yak!”

Iind manggut-manggut sambil terkekeh. “Emang dasarnya bocah gemblung yaa gitu. ”

Salsa menambahkan, terkekeh. “Minimal suasana mencair, ya kan?”

Zahra menunduk dalam-dalam, hampir ingin masuk ke kolong ranjang saking malunya.

Namun ketika ia perlahan mengangkat wajah, matanya tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Althaf.

Mereka sama-sama terdiam.

Althaf memandangnya dengan campuran canggung, teduh, dan entah apa itu. Ada kehangatan kecil yang belum pernah Zahra lihat darinya.

Zahra cepat-cepat membuang muka, jantungnya mulai berdetak aneh.

*

*

Malam harinya, malam yang harusnya menjadi malam hangat untuk kedua sepasang pengantin. Justru itu tak berlaku untuk Zahra dan Althaf.

Zahra duduk di ujung ranjang, memeluk bantal dengan wajah lelah. Di sisi lain, Althaf berdiri kikuk di dekat meja rias, sama sekali tidak tahu harus memulai dari mana.

Keheningan itu berlangsung lama. .

Hingga akhirnya Zahra, yang memang tidak tahan berada dalam suasana hening, menghela napas, lalu ia beranjak dari ranjang dan mengulurkan tangannya ke arah Althaf.

“Ini,” katanya singkat.

Althaf memandang tangan kecil itu dengan kening sedikit berkerut. “Apa?”

Zahra menatapnya seakan pertanyaan itu sangat aneh. “Kita kenalan, dong. Masak suami istri enggak saling kenal?”

Baru kali itu Althaf tersenyum, walau kecil. Ia mendekat dan menjabat tangan Zahra. Genggamannya hangat.

“Althaf Zayn Yusuf.”

Zahra mengangguk pelan. “Zahra. Tapi, ya, itu kamu sudah tahu.”

Keheningan kembali menyelinap di antara mereka.

Beberapa detik berlalu sebelum Zahra memberanikan diri berbicara lagi. Suaranya datar, sedikit bergetar karena canggung, tapi ia berusaha terdengar tenang.

“Terima kasih sudah nyelamatin wajah keluargaku hari ini. Aku tahu ini berat buat kamu.” Ia menunduk, menatap ujung jarinya. “Aku memang menyedihkan, ya? Ditinggal nikah sama cowok yang aku sayang, diselingkuhi sahabat sendiri.”

Althaf tidak menimpali. Tatapannya terlihay iba meski wajahnya tetap dingin.

Zahra kembali bicara, kali ini suaranya lebih kecil, “Tapi kalau kamu mau cerai, enggak apa-apa. Serius. Kita juga enggak saling cinta. Aku enggak mau memaksa kamu bertahan.”

Althaf membuka mulut hendak menjawab, namun, Zahra tiba-tiba berbalik, berlari kecil ke ranjang, lalu langsung menyembunyikan diri di balik selimut, hanya menyisakan rambut cokelatnya.

“Aku ngantuk! Selamat tidur!” serunya tergesa, jelas sekali ingin mengakhiri pembicaraan.

Althaf tertegun. Ia mengira Zahra akan menangis, marah, atau setidaknya mengusirnya keluar kamar. Tapi tidak. Gadis itu malah mengajaknya berkenalan lalu kabur ke balik selimut seperti anak kecil yang salah tingkah.

Sebuah senyum kecil muncul di bibir Althaf tanpa ia sadari. ‘Gadis ini benar-benar unik.’

Althaf menggeleng pelan. Ia mengambil karpet bulu tebal yang sudah disiapkan di sudut ruangan, lalu membentangkannya di lantai. Setelah mengambil bantal cadangan, ia berbaring, menatap langit-langit kamar.

Sebelum memejamkan mata, Althaf sempat melirik ke arah Zahra yang masih bergelung di balik selimut.

Membalas Mantan

Pagi itu Zahra turun tangga dengan tergesa-gesa. Ia sudah mengenakan celana jeans biru, jaket kulit hitam, dan rambut cokelatnya dibiarkan tergerai. Tanpa menengok ke dalam rumah, ia langsung berseru dari depan pintu.

“Pa, Ma! Ara keluar dulu, ya!”

Di ruang makan, Papa Sultan, Mama Rani, dan Althaf yang sedang sarapan serempak menoleh.

Papa Sultan langsung mengerutkan kening. “Ara! Minta izin dulu sama suamimu. Ingat, kau sudah menikah.”

Langkah Zahra terhenti seketika. Ekspresi wajahnya berubah masam, seperti anak kecil yang baru ditegur. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan ke meja makan dengan langkah paling malas yang ia punya.

Ia berdiri tepat di depan Althaf, memegangi strap tasnya, lalu berkata dengan santai, “Pak KUA, aku pergi dulu, ya. Assalamualaikum, Pak KUA.”

Papa Sultan memukul ringan meja. “Ara! Dia itu suamimu. Bukan Pak KUA. Ganti panggilannya.”

Zahra memutar bola matanya, kesal setengah mati. Namun sebelum ia membalas, Althaf yang sejak tadi hanya diam menatapnya, akhirnya berbicara.

“Tidak apa-apa, Pa. Wa’alaikumussalam. Pergilah!”

Zahra langsung menepuk tangan, bahagia bukan main. “Nah! Dengar, kan? Althaf aja enggak marah, kok, Pah!”

Papa Sultan hanya menggeleng pasrah.

“Ya sudah tapi cium tangan suamimu dulu sebelum pergi.”

Zahra langsung mencebik. “Memangnya harus?”

Papa Sultan menatapnya serius. “Ya iyalah. Sekarang tanggung jawab Papa sudah berpindah ke Althaf.”

Zahra menghela napas berat, seolah bebannya seberat dunia. Namun akhirnya ia mengulurkan tangan, lalu mencium punggung tangan Althaf dengan malas-malas.

Mama Rani tidak bisa menahan diri untuk menggoda. “Jangan cium kening lagi, ya.”

Zahra sontak memerah. “Maa!”

Tawa kecil langsung terdengar dari semua yang menyaksikan. Zahra buru-buru menarik tasnya.

“Aku pergi dulu!” serunya sebelum berlari keluar rumah, hampir tersandung karpet.

Pintu tertutup, menyisakan gelak tawa kecil dari Papa dan Mama, serta senyum kecol di sudut bibir Althaf.

*

*

Brak!

Sebuah meja berguncang hebat.

“Apa?!”

Suara keempat sahabat Zahra, menggema di seluruh kafe anak muda itu, membuat beberapa pengunjung menoleh penasaran.

Zahra hanya bisa menutup wajahnya, malu sekaligus pasrah telah menceritakan drama pernikahan darurat yang dialaminya kemarin.

Anita mengepalkan kedua tangannya, wajahnya merah padam. “Kurang ajar banget tuh Reza sama Andini! Pengen kujedotin kepala mereka ke tembok, biar benjiol sekalian!”

Ayu langsung mengangguk keras. “Bener! Bikin gedek! Itu juga orang tuanya Reza kolot banget. Emang apa salahnya beda suku? Selama enggak beda keyakinan, ya sah-sah aja. Banyak kok yang beda suku sampai akhir hayat tetap bahagia.”

Ia menunjuk dirinya sendiri. “Kakakku sama kakak iparku aja beda suku, tetap langgeng tuh!”

Iind ikut menyamber, suaranya meninggi.

“Aku dari awal udah curiga sama dua orang itu! Dan ternyata apa? Mereka selingkuh! Teman laknat! Mana mereka mutusin saat hari akad lagi, ih geram.”

Semua mengangguk penuh emosi.

Salsa, yang paling kalem, justru menggenggam tangan Zahra dengan lembut. “Tapi kamu harusnya bersyukur, Ra. Allah tunjukin sebelum kalian nikah. Dan untungnya kamu nikah sama Pak KUA yang cakep itu, bukan si Reza.”

Zahra mencebik. “Cakep sih tapi tetep aja kaget, Salsa.”

Anita mencondongkan tubuh, menatap Zahra tajam. “Terus kamu mau diem aja? Mereka udah bikin kamu malu, loh!”

Yang lain serempak mengangguk, langsung mengompori.

Salsa menunjuk Zahra kuat-kuat. “Ara … masa anak Badung, si pembuat onar waktu SMA dan kampus cuma diem disakitin?”

Iind langsung mengangkat tangan seperti orator. “Ra, kami yo setuju kalo kamu kasih balasan ke mereka. Karma itu lama. Kita kasih karma instan aja sekalian!”

Ayu menggebrak meja kecil mereka sambil mengangguk cepat. “Setuju! Setuju banget! Ara harus move dan kasih pelajaran!”

Zahra terdiam beberapa detik. Matanya sempat meredup, luka semalam masih jelas terasa. Lalu bibirnya membuka, “Ya … enggak mungkin lah aku enggak kasih mereka pelajaran.”

Tiba-tiba matanya berkilat penuh dendam, seperti mode gangster aktif.

Ia baru mau bicara lagi ketika Anita tiba-tiba menatap ke arah sekelompok anak SMA di meja sebelah.

Anak-anak itu sedang menonton drama Korea The Penthouse 2 di laptop.

Mata Anita langsung berbinar terang, seperti menemukan wahyu dari langit. “Guys! Aku punya ide!”

Semua menoleh dengan cepat. “Apa?”

Anita menunjuk layar laptop itu dramatis.

“The Penthouse 2.”

Satu detik hening.

Kelimanya saling pandang seperti pasukan mafia yang baru mendapat misi rahasia.

Dan kemudian lima gadis itu tersenyum menyeringai muncul bersamaan.

Iind berdiri sambil menenteng tasnya, penuh semangat bagai jenderal perang. “Ra! Siapkan helikopter! Kita berangkat sekarang!”

Zahra memelototkan mata.

“Helikopter dari mana, goblok?”

Iind mengibaskan tangan. “Bapakmu kan orkay! Ya mintalah! Yang penting kita otw! Kebetulan mereka lagi ngunduh mantu di rumahnya Reza.” Sambil memperlihatkan ponselnya, status Andini beberapa waktu lalu.

Tangan Zahra mengepal kuat, Andini bahkan tidak merasa bersalah sama sekali mengupload foto pernikahan yNg habis rebutan itu.

“Aku juga pengen kasih hadiah untuk mereka,” kata Zahra semakin semangat membara.

Lima perempuan itu berdiri bersamaan.

Anita menepuk bahu Zahra. “Ayo, Ra. Mari kita ajarkan bagaimana rasanya menyakiti orang yang salah.”

Zahra mengangkat dagu, matanya menyipit penuh tekad. “Ayo.”

*

*

Di acara ngunduh mantu yang meriah itu, deretan kursi tamu tersusun rapi di halaman rumah keluarga Reza. Tenda terbentang luas.

Hiasan janur kuning melengkung di gerbang masuk, dan aroma masakan tradisional tercium dari dapur.

Musik gamelan pelan mengisi udara, membuat suasana terlihat anggun sekaligus hangat.

Di antara keramaian itu, Mirna, ibu Reza, tampak mondar-mandir dengan senyum lebar. Ia mengenakan kebaya hijau lengkap dengan selendang emas, berjalan menyambut setiap tamu yang datang.

Seorang ibu paruh baya menghampirinya sambil menepuk lengan Mirna ringan.

“Ya ampun, Jeng Mirna,” katanya dengan nada penuh rasa penasaran. “Menantunya kok beda yo, dengan yang kemarin kami lihat? Yang kemarin itu sopo namanya? Zahra, yo?”

Senyum Mirna kaku sesaat, sebelum ia mengibaskan tangannya anggun.

“Ah, yang itu,” ujarnya meremehkan. “Ora cocok. Kalian tahu sendiri to, beda suku. Dia tidak paham adat istiadat keluarga kita, sama sekali.”

Tamu itu mengangguk-angguk seolah mengerti. Dua ibu lain yang berdiri di sekitar mereka ikut mendekat, menyimak dengan penuh minat.

Mirna melanjutkan dengan nada sok tahu, “Lagipula, kalau dipaksakan, paling juga ujung-ujunge yo cerai. Itu wes sering terjadi. Nenek-nenek kita dari dulu yo bilang ngono.”

Salah satu temannya langsung menimpali, “Benar juga yo, Jeng. Memang lebih baik mencari menantu yang sejalan pemikiran dan budaya kita.”

Yang lain ikut menyahut, “Iyo, Mirna sudah mengambil keputusan sik tepat. Toh, saiki delok Reza terlihat lebih cocok sekali karo Andini.”

Mirna tersenyum semakin lebar. Ada kesombongan dalam sorot matanya. “Pas banget gawe Reza.” katanya bangga. "Andini itu anak baik, sopan karo ngerti carane menghormati keluarga. Tepat sekali untuk Reza."

Mereka semua tertawa kecil, suara yang terdengar lebih seperti sindiran terselubung daripada candaan tulus. Mirna menengok ke arah pelaminan, di mana Reza dan Andini sedang berfoto dengan para tamu.

Tatapannya berbinar puas, seolah semua berjalan persis seperti yang ia rencanakan.

Acara foto bersama baru saja dimulai. Reza dan Andini berdiri di pelaminan dengan senyum bahagia, sementara para tamu berbaris menunggu giliran. Di tengah suasana yang ramai itu, tiba-tiba terdengar suara berdengung dari kejauhan.

Awalnya terdengar pelan, lalu semakin keras dan suaranya semakin dekat.

Beberapa tamu menoleh ke langit. Seorang bapak-bapak memicingkan mata. “Eh … itu suara apa, ya?”

Suara baling-baling helikopter makin jelas terdengar, menggulung udara kering musim kemarau. Debu dan pasir mulai beterbangan, membuat beberapa ibu-ibu menutup wajah dengan selendang.

Mirna yang tadinya tersenyum manis langsung mengerutkan kening. “Loh … loh … apa ini?” serunya panik ketika selendang emasnya ikut berkibar liar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!