Langit di atas Kota Jianghai seakan terbelah. Guntur menggelegar, diikuti kilatan petir yang membelah kegelapan malam, menerangi gedung-gedung pencakar langit yang berdiri angkuh bak raksasa besi. Di bawah gemerlap lampu yang menyilaukan dari distrik pusat, tersembunyi lorong-lorong tikus yang becek dan bau, tempat di mana sampah masyarakat berjuang untuk sekadar bernapas.
Hujan turun bukan seperti air, melainkan seperti jarum es yang menusuk kulit.
Di depan sebuah kompleks apartemen mewah Golden Residence, seorang pemuda kurus berdiri mematung. Tubuhnya basah kuyup, menggigil hebat bukan hanya karena dingin, tapi karena ketakutan yang mencekik lehernya.
Ye Chen menatap layar ponselnya yang retak. Pukul 23.45.
"Sial... Sial! Kenapa kau belum pulang juga, Rou'er?" gumamnya. Suaranya bergetar, nyaris tertelan suara hujan.
Pikirannya melayang ke bangsal kelas tiga Rumah Sakit Rakyat. Di sana, ibunya sedang berjuang melawan maut. Dokter bajingan itu memberinya ultimatum "Siapkan 500.000 Yuan malam ini, atau kami cabut ventilatornya besok pagi."
Lima ratus ribu Yuan. Bagi orang-orang yang tinggal di gedung mewah di depannya ini, itu mungkin hanya harga sebotol wine atau tas bermerek. Tapi bagi Ye Chen, itu adalah nyawa satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Satu-satunya harapan Ye Chen adalah Lin Rou, kekasihnya selama tiga tahun. Uang tabungan hasil kerja keras Ye Chen sebagai kuli panggul dan pelayan restoran selama ini dititipkan pada wanita itu. Ye Chen percaya padanya. Dia bodoh, naif, dan terlalu mencintai wanita itu.
Brummm...
Suara deru mesin halus namun bertenaga memecah lamunan Ye Chen. Sepasang lampu LED tajam menyorot, menyilaukan mata. Sebuah mobil sport Porsche 911 berwarna merah darah meluncur pelan, membelah genangan air di jalan masuk apartemen.
Ye Chen menyipitkan mata. Ia mengenali plat nomor itu. Itu mobil yang sering dibicarakan Lin Rou dengan nada iri saat melihat majalah otomotif.
Mobil itu tidak langsung masuk ke basement. Kendaraan mewah itu berhenti tepat di area remang-remang, di bawah pohon besar yang sedikit terlindung dari lampu jalan, hanya beberapa meter dari tempat Ye Chen bersembunyi di balik pos satpam yang kosong.
Ye Chen hendak berlari menghampiri, mengira Lin Rou menumpang taksi online mewah atau semacamnya. Namun, langkah kakinya terhenti mendadak.
Mobil itu... berguncang.
Meski hujan deras, Ye Chen bisa melihat suspensi mobil mahal itu naik turun dengan irama yang teratur. Kaca film mobil itu gelap, tapi tidak cukup gelap untuk menyembunyikan siluet dua manusia di dalamnya.
Jantung Ye Chen berhenti berdetak sesaat. Darah di wajahnya surut, membuatnya pucat pasi.
Dia mengendap-endap mendekat, mengabaikan air hujan yang masuk ke dalam sepatunya yang sudah bolong. Telinganya ia pertajam, mencoba menangkap suara di balik deru hujan.
Dan suara itu terdengar. Suara yang menghancurkan dunianya.
Slurppp...
Suara sesuatu yang basah. Suara sesuatu yang dihisap dengan kuat dan rakus.
Blup... Blup...
Itu suara tenggorokan yang tersedak sesuatu yang besar, diikuti suara kecipak air liur yang menjijikkan. Ye Chen tahu suara apa itu. Dia laki-laki dewasa, dia tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam sana.
"Argghh... sialan, mulutmu pintar sekali..." suara berat seorang pria terdengar samar, penuh kepuasan.
Chuupp... Sluurppp...
"Mmmhh... nghhh..."
Suara lenguhan wanita. Suara yang sangat familiar. Itu suara Lin Rou. Suara yang sama yang biasa membisikkan kata 'aku mencintaimu' pada Ye Chen, kini sedang sibuk melayani batang kemaluan pria lain di dalam mobil sempit itu.
Kaki Ye Chen lemas. Lututnya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada tiang lampu agar tidak ambruk. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang merobek dadanya, mengeluarkan jantungnya, dan memerasnya hingga hancur.
"Bangsat..." desis Ye Chen. Air matanya bercampur dengan hujan. "Anjing kau, Lin Rou..."
Guncangan mobil semakin hebat.
Plak! Plak! Plak!
Suara daging beradu dengan daging terdengar berirama, semakin cepat dan semakin kasar.
"Ah! Ahh! Tuan Muda... Aaaahhh! Terus! Terusss!"
Desahan Lin Rou kini terdengar jelas, tidak lagi tertahan. Dia mendesah seperti pelacur murahan yang sedang mencapai puncak kenikmatan.
"Keluar! Aku mau keluar di dalam mulutmu, Jalang!"
Groooaaarrr!
Mobil itu berguncang hebat untuk terakhir kalinya, lalu diam. Hening. Hanya terdengar napas terengah-engah dari dalam sana.
Ye Chen merasa ingin muntah. Perutnya mual luar biasa. Bayangan bibir Lin Rou yang penuh dengan cairan pria lain membuatnya jijik setengah mati.
Klik.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pemuda tampan dengan setelan jas berantakan keluar sambil membetulkan ritsleting celananya. Wajahnya merah padam penuh kepuasan. Dia adalah Zhao Ming, Tuan Muda keluarga Zhao, musuh bebuyutan Ye Chen sejak masa kuliah. Pria yang selalu memandang Ye Chen seperti kotoran.
Zhao Ming meludah ke tanah, lalu menyalakan rokok dengan santai.
"Keluar, Rou'er. Sudah sampai," perintah Zhao Ming tanpa menoleh.
Dari pintu penumpang, Lin Rou keluar. Penampilannya berantakan. Rambutnya acak-acakan, lipstik merahnya belepotan di sekitar bibir dan pipi... tanda betapa liarnya aktivitas yang baru saja ia lakukan. Gaun ketatnya tersingkap hingga pangkal paha, memperlihatkan stoking hitam yang robek di beberapa bagian.
Wajahnya masih merah, matanya sayu. Sudut bibirnya masih basah oleh sisa-sisa cairan kental berwarna putih yang belum sempat ia bersihkan.
Ye Chen tidak tahan lagi.
"LIN ROU!"
Teriakan itu meledak dari tenggorokan Ye Chen, membelah suara hujan.
Lin Rou dan Zhao Ming tersentak kaget. Mereka menoleh ke arah kegelapan. Saat Ye Chen melangkah keluar ke bawah cahaya lampu, wajah Lin Rou yang tadinya sayu karena nafsu berubah menjadi pucat pasi karena kaget. Tapi, kekagetan itu hanya berlangsung sedetik, sebelum berubah menjadi tatapan dingin dan jijik.
"Ye Chen?" Lin Rou mendengus, seolah melihat tikus got yang nyasar. "Ngapain kau di sini? Mengintip? Dasar mesum menjijikkan."
Ye Chen gemetar. Tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. "Menjijikkan? Kau bilang aku menjijikkan? Kau baru saja... Kau baru saja mengisap..."
Kata-kata itu tersangkut di tenggorokan Ye Chen saat melihat noda putih di sudut bibir Lin Rou.
"Kenapa, Rou'er? Kenapa kau lakukan ini?" suara Ye Chen parau, penuh luka. "Ibuku sedang sekarat! Aku butuh uang tabungan kita! Uang yang kutitipkan padamu selama ini! Kau janji akan menyimpannya untuk masa depan kita!"
Zhao Ming tertawa terbahak-bahak. Dia menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke wajah Ye Chen yang basah kuyup.
"Hahaha! Masa depan? Masa depan apa yang bisa kau berikan padanya, Hah? Masa depan menjadi istri kuli?" Zhao Ming melangkah maju, lalu menendang perut Ye Chen dengan keras.
Bugh!
"Ughh!" Ye Chen terbungkuk, memegangi perutnya. Dia belum makan seharian demi menghemat uang, dan tendangan itu rasanya seperti menghancurkan ususnya.
"Dengar baik-baik, Sampah," Zhao Ming menjambak rambut basah Ye Chen, memaksanya mendongak menatap Lin Rou. "Uangmu itu? Sudah habis. Dipakai Rou'er untuk beli tas Gucci minggu lalu. Iya kan, Sayang?"
Lin Rou berjalan mendekat, menggoyangkan pinggulnya yang sintal. Dia mengeluarkan tisu dari tasnya, membersihkan sisa cairan Zhao Ming di bibirnya dengan santai, lalu membuang tisu bekas itu tepat ke wajah Ye Chen.
"Benar," jawab Lin Rou dingin. "Ye Chen, sadarlah. Kau itu miskin. Kau tidak punya masa depan. Bersamamu hanya membuatku menderita. Kau lihat Tuan Muda Zhao? Mobilnya, jam tangannya, bahkan rasanya... semuanya jauh lebih jantan dan berkelas darimu."
"Kau... Kau wanita iblis..." Ye Chen meludahi sepatu hak tinggi Lin Rou.
Mata Lin Rou berkilat marah. "Berani kau meludahi sepatuku?! Ini edisi terbatas, Bangsat! Harganya lebih mahal dari nyawa ibumu!"
"Sayang, biar aku yang urus," potong Zhao Ming. Dia menjentikkan jarinya.
Dari balik bayangan, dua orang bodyguard bertubuh kekar muncul. Mereka mengenakan jas hitam dan kacamata hitam, meski hari sudah malam. Aura mereka mengerikan.
"Patahkan kakinya. Dan pastikan dia tidak bisa bicara lagi soal apa yang dia lihat malam ini," perintah Zhao Ming datar, seolah sedang menyuruh membuang sampah.
"Siap, Tuan Muda!"
Krak!
Tanpa basa-basi, sebuah pukulan keras menghantam rahang Ye Chen.
"Arrghh!"
Ye Chen terlempar ke aspal yang kasar. Belum sempat ia menarik napas, tendangan bertubi-tubi menghujani tubuhnya.
Bugh! Duagh! Brakk!
"Mati kau! Mati kau, Anjing miskin sialan!"
Setiap pukulan disertai makian dari para pengawal itu. Tulang rusuk Ye Chen berderak patah. Darah segar menyembur dari mulutnya, mewarnai genangan air hujan menjadi merah gelap.
Ye Chen mencoba melawan, mencoba mencakar, mencoba menggigit, tapi tenaganya tidak sebanding. Dia hanyalah pemuda biasa yang kurang gizi, melawan mesin pembunuh profesional.
Uhuk! Uhuk! Bluurhh...
Darah kental keluar dari mulutnya. Pandangannya mulai kabur. Rasa sakit yang tadi menyengat kini perlahan berubah menjadi kebas yang dingin.
Dari sudut matanya yang bengkak, dia melihat Zhao Ming sedang merangkul Lin Rou. Tangan pria itu meremas pantat Lin Rou dengan kasar, dan wanita itu... wanita itu tertawa.
"Aduh, Tuan Muda, jangan di sini... nanti dilihat orang," desah Lin Rou manja.
"Biar saja. Biar si sampah ini melihat, siapa yang pantas untuk memilikimu sebenarnya."
Zhao Ming mencium bibir Lin Rou dengan ganas di depan Ye Chen yang sekarat. Suara kecipak bibir mereka terdengar seperti ejekan terakhir bagi Ye Chen.
Mereka masuk ke dalam mobil.
Brummm!
Mobil merah itu melaju kencang, bannya sengaja melindas genangan lumpur tepat di samping kepala Ye Chen.
Srrrtt!
Air lumpur hitam bercampur kotoran jalanan menyiprat, menutupi wajah Ye Chen yang sudah babak belur.
Sunyi kembali menyelimuti gang itu. Hujan semakin deras, seolah ingin menghapus jejak kejahatan yang baru saja terjadi.
Ye Chen terbaring sendirian. Dia tidak bisa lagi menggerakkan jari-jarinya. Napasnya pendek-pendek, tersendat oleh darah yang memenuhi paru-parunya.
Dingin.
Sangat dingin.
'Apakah aku akan mati seperti ini? Mati seperti anjing liar di pinggir jalan?'
Bayangan ibunya di rumah sakit melintas di benaknya. Ibunya yang rela bekerja mencuci baju tetangga demi menyekolahkannya. Ibunya yang kini sedang menunggu uang operasi yang tidak akan pernah datang.
Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam jiwanya lebih keras daripada pukulan bodyguard tadi.
'Maafkan aku, Bu... Anakmu ini tidak berguna. Anakmu ini sampah...'
Lalu, rasa bersalah itu perlahan berubah bentuk. Menjadi sesuatu yang lebih gelap. Lebih panas.
Kebencian.
Dia membenci Zhao Ming. Dia membenci Lin Rou. Dia membenci dunia yang hanya memihak pada orang kaya. Dia membenci tuhan yang membiarkan orang jahat hidup mewah sementara orang baik mati kelaparan.
'Jika ada kehidupan selanjutnya... aku tidak ingin jadi orang baik,' batin Ye Chen, darah menetes dari sudut matanya. 'Aku ingin jadi iblis. Aku ingin jadi penjahat. Aku ingin menginjak kepala mereka, memperkosa harga diri mereka, membuat mereka memohon kematian!'
'Aku ingin KEKUASAAN! AKU INGIN KEKAYAAN! AKU INGIN SEGALANYA!'
Teriakan batinnya begitu kuat, begitu putus asa, hingga seolah menembus batas dimensi.
Saat kesadaran Ye Chen tinggal selapis tipis, saat malaikat maut sepertinya sudah berdiri di sampingnya, sebuah anomali terjadi.
Waktu seakan berhenti. Butiran hujan yang jatuh berhenti di udara.
Suara dengungan aneh terdengar di dalam kepala Ye Chen. Bukan suara manusia, melainkan suara mekanik yang dingin, tanpa emosi, namun terdengar agung bak titah kaisar langit.
Tiiing!
[Mendeteksi gelombang kebencian tingkat Ekstrim.]
[Mendeteksi hasrat seksual yang terpendam dan keinginan dominasi yang meluap.]
[Syarat terpenuhi.]
Sebuah layar hologram berwarna biru cerah muncul tepat di depan wajah Ye Chen, melayang di udara, tidak tersentuh oleh hujan maupun darah.
[Sistem 'Supreme Wealth & Dual Cultivation' (Kekayaan Mutlak & Kultivasi Ganda) sedang diunduh...]
[10%... 30%... 80%... 100%.]
[Instalasi Selesai.]
[Selamat Datang, Host Ye Chen.]
[Status Host saat ini: Sekarat, Rusuk Patah, Pendarahan Internal, Hati Hancur.]
[Melakukan Perbaikan Darurat...]
Hangat.
Tiba-tiba saja, hawa hangat mengalir dari ulu hatinya. Rasanya seperti berendam di air panas setelah seharian kedinginan. Rasa sakit di dadanya perlahan menghilang. Tulang-tulang yang patah bergeser kembali ke tempatnya dengan suara kretek yang mengerikan namun melegakan.
Kretek... Krek...
Ye Chen membelalakkan matanya. Dia bisa merasakan kekuatan baru membanjiri pembuluh darahnya. Jantungnya berdetak kuat, memompa darah yang terasa lebih panas, lebih liar.
Layar di depannya berubah tulisan.
[Perbaikan Selesai.]
[Hadiah Pemula (Newbie Pack) Telah Dibuka:]
[1. Black Card 'Infinite' (Saldo Tak Terbatas - Mata Uang Dunia Fana tidak lagi memiliki arti bagi Anda).]
[2. Tubuh Yang Naga Surgawi (Stamina Seksual Tak Terbatas, Pesona Inkubus, dan Kekuatan Fisik Tahap Awal).]
[3. Mata Kebenaran (Dapat melihat statistik, kelemahan, dan tingkat 'kelayakan' wanita).]
Ye Chen perlahan bangkit duduk. Dia menatap tangannya. Luka-luka lecet akibat aspal sudah hilang tanpa bekas. Kulitnya yang dulu kusam kini terlihat lebih bersih, bahkan di bawah remang malam.
Dia meraba saku celananya yang robek. Di sana, terselip sebuah kartu hitam metalik yang terasa dingin namun berat. Kartu itu memiliki ukiran naga emas yang seolah hidup.
Ye Chen tertawa. Awalnya pelan, lalu makin keras.
"Hahaha... HAHAHAHA!"
Tawanya menggema di gang sempit itu, terdengar gila dan mengerikan. Dia menengadah menatap langit yang masih menangis.
"Lin Rou... Zhao Ming... Kalian pikir kalian sudah menang?"
Ye Chen berdiri tegak. Dia merasakan sesuatu yang berbeda di antara kedua kakinya. Rasa percaya diri yang membuncah, dorongan kejantanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dia bukan lagi Ye Chen si kuli panggul.
Dia menjilat bibirnya yang kini sudah sembuh. Matanya berkilat dengan cahaya predator.
"Tunggu saja. Aku akan membuat kalian membayar..."
Ye Chen menyeringai, membayangkan wajah Lin Rou yang sombong tadi.
'Dan kau, Lin Rou... Aku akan memastikan kau berlutut, memohon dengan air mata darah agar aku mau memakai mulut kotormu itu lagi. Tapi saat itu terjadi, kau bahkan tidak akan layak menjadi budakku.'
Ye Chen berbalik, melangkah keluar dari gang kumuh itu. Hujan masih turun, tapi air itu seolah enggan menyentuh tubuhnya, seakan alam semesta pun kini takut padanya.
Malam ini, seekor naga telah bangkit di Jianghai. Dan dia sangat, sangat lapar.
Hujan mulai reda, menyisakan gerimis tipis yang membasahi aspal Kota Jianghai. Di depan kaca etalase sebuah toko roti yang sudah tutup, Ye Chen berdiri mematung.
Dia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca yang buram itu.
Apakah itu benar-benar dia?
Pemuda di pantulan kaca itu memang mengenakan pakaian lusuh yang sama... kaos oblong sobek dan celana jeans murah yang penuh lumpur... tapi aura yang dipancarkannya benar-benar berbeda.
Tubuhnya yang dulu kurus kerempeng karena kurang gizi kini tegap dan padat. Di balik kaosnya yang basah, otot-otot dada dan perut tercetak jelas bak pahatan patung Yunani. Bahunya lebih lebar, memberikan kesan dominan yang alami. Wajahnya yang dulu kusam dan berminyak kini bersih, rahangnya tegas, dan kulitnya memancarkan kilau sehat seolah-olah dia baru saja menghabiskan jutaan yuan untuk perawatan kulit di salon terbaik.
Namun, perubahan yang paling mencolok ada pada matanya.
Mata itu gelap, dalam, dan tajam seperti mata elang. Ada kilatan predator di sana. Kilatan seseorang yang tidak akan pernah menundukkan kepalanya lagi.
'Sial... Aku jadi tampan sekali,' batin Ye Chen narsis, sambil menyisir rambut basahnya ke belakang.
Tiba-tiba, rasa panas aneh menjalar di selangkangannya. Bukan rasa sakit, melainkan desakan energi yang luar biasa kuat.
Dug-dug!
Jantungnya berpacu. Ye Chen melirik ke bawah dan matanya melotot.
'Woy! Apa-apaan ini?!'
Di balik celana jeans-nya yang ketat, ada "monster" yang sedang tertidur namun tetap terlihat menonjol dengan jelas. Ukurannya... jauh, jauh lebih besar dari sebelumnya.
Ting!
Suara notifikasi Sistem kembali bergema di kepalanya.
[Info Host: Efek 'Tubuh Naga Surgawi' (Heavenly Dragon Body) Tahap Awal.]
[Deskripsi: Naga adalah penguasa segalanya, termasuk dalam hal reproduksi. 'Aset' Anda telah ditingkatkan ke level maksimal manusia. Stamina Anda tidak terbatas. Cairan tubuh Anda (Yang Essence) sekarang memiliki efek penyembuhan dan peningkat kultivasi bagi wanita.]
[Peringatan: Tubuh ini membutuhkan penyaluran hasrat secara berkala, atau Anda akan meledak karena kelebihan energi Yang.]
Ye Chen menelan ludah. "Penyaluran hasrat? Maksudnya aku harus..."
Pikirannya melayang pada Lin Rou. Dulu, dia selalu menjaga Lin Rou, tidak pernah memaksanya melakukan hubungan intim karena ingin menjaganya sampai menikah. Dan apa balasannya? Wanita itu malah memberikan tubuhnya pada Zhao Ming di dalam mobil sempit.
'Persetan dengan menjadi pria baik-baik. Mulai sekarang, aku akan menggunakan "senjata" ini untuk menaklukkan mereka semua.'
Tapi sebelum dia bisa memikirkan wanita, realita menghantamnya kembali.
Ibu.
Dia melirik jam tangan digital murahnya yang retak. 00:15. Batas waktu pembayaran rumah sakit tinggal beberapa jam lagi sebelum pagi.
"Taksi!"
Ye Chen melambaikan tangan pada sebuah taksi biru yang lewat.
Ciiitt!
Taksi itu berhenti. Sopirnya, seorang bapak tua berkumis, melongok keluar dengan wajah masam saat melihat penampilan Ye Chen yang berantakan.
"Woy, gembel! Kau punya uang ti..."
Kalimat sopir itu terhenti saat Ye Chen menatapnya. Tatapan dingin dari "Mata Kebenaran" membuat bulu kuduk sopir itu berdiri. Rasanya seperti ditatap oleh harimau yang lapar.
"Rumah Sakit Rakyat Jianghai. Cepat," perintah Ye Chen singkat. Suaranya rendah tapi penuh wibawa.
Sopir itu menelan ludah, keberaniannya menciut seketika. "Ba-baik, Tuan. Silakan masuk."
Ye Chen masuk ke kursi belakang. Interior taksi itu bau rokok dan keringat, tapi Ye Chen tidak peduli. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan kartu hitam misterius pemberian sistem tadi.
'Saldo tak terbatas... Benarkah?'
Dia mengeluarkan ponsel bututnya, mencoba membuka aplikasi Mobile Banking. Jaringannya lemot setengah mati.
Loading... Loading...
'Ayolah, rongsokan!' umpat Ye Chen sambil memukul ponselnya.
Akhirnya, layar aplikasi terbuka. Mata Ye Chen tertuju pada kolom saldo.
Saldo Rekening: Rp 1.500
Ye Chen menghela napas dengan kecewa. Ternyata kartu hitam ini tidak terhubung langsung ke rekening bank lamanya. Dia harus menggeseknya atau mentransfernya.
"Sistem, bagaimana cara aku pakai uang ini?" tanyanya dalam hati.
[Host cukup menempelkan Black Card ke ponsel. Sistem akan secara otomatis memanipulasi data perbankan global untuk mengisi saldo Anda sesuai keinginan.]
Ye Chen menempelkan kartu hitam itu ke belakang ponselnya.
Bzzzt!
Ponselnya bergetar hebat. Layarnya berkedip-kedip menampilkan kode biner hijau seperti di film Hacker.
Ding!
[Notifikasi SMS: Transfer Masuk sebesar 10.000.000.000 Yuan (Sepuluh Miliar Yuan) berhasil.]
"UHUK!"
Ye Chen tersedak air liurnya sendiri. Matanya hampir lompat keluar.
Sepuluh... Miliar?
Itu setara dengan 20 Triliun Rupiah! Dan itu baru percobaan?
'Gila... Ini gila! Aku bisa membeli seluruh kelurahan tempat tinggalku dengan uang receh ini!'
Jantung Ye Chen berdegup kencang, campuran antara euforia dan rasa tidak percaya. Selama ini dia bekerja banting tulang hanya untuk upah 100 Yuan sehari. Sekarang? Angka di ponselnya begitu panjang sampai tidak muat di layar.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!