Usianya 24 tahun, baru lulus dari universitas ternama sebagai ahli farmasi. Seharusnya ini jadi awal hidup baru. Tapi setelah ayahnya, Tuan Arun, meninggal setahun lalu, hidupnya berubah drastis. Ibu tiri yang dulu tersenyum manis mendadak mengusirnya, melemparkan semua barangnya keluar rumah tanpa rasa kasihan.
Dan kini, panti asuhan tempatnya tinggal sat diusir dari rumah pun tak bisa lagi menampungnya.
“Panti hanya untuk anak-anak, Nak … bukan untuk wanita dewasa,” ucap Ibu Panti sendu. Tidak ada yang salah, tapi tetap terasa menyakitkan.
Sore itu, Kinara menyusuri perumahan elit di pusat kota, mencoba mencari kontrakan murah, sesuatu yang mustahil di daerah semahal itu. Tapi harapan sering kali muncul di tempat yang salah.
Langkahnya terhenti ketika melihat tiga anak laki-laki mengerubungi seorang bocah kecil. Mereka mendorongnya, menertawakan kelemahannya.
Refleks, Kinara maju, “hei, Kalian ngapain?!”
Anak-anak itu terkejut dan mundur. Bocah yang dibully berkulit putih pucat, mata besar yang basah, rambut rapi menatap Kinara seperti baru melihat penyelamat.
Lalu suara itu menggema, “Mommy!”
Kinara membeku. “A-apa?”
Tapi bocah itu langsung menangis histeris.
“Mommy nggak mau Aska lagi, ya? Mommy mau buang Aska!” Suaranya memecah ketenangan sore.
Penduduk sekitar berhenti. Tatapan menghakimi mulai datang bertubi-tubi.
“Astaga … mau buang anak?”
“Kejam banget ibunya…”
“Cantik-cantik tapi begitu…”
Kinara hampir roboh. “Bukan! Aku bukan...”
Namun tangis Aska makin keras sampai telinganya berdenging. Kinara panik luar biasa.
“Hey, hey … jangan nangis, nanti orang-orang salah paham…”
Tiba-tiba bocah itu merapat dan berbisik cepat, “Kalau kakak cantik mau ngaku Mommy Aska … Aska diem.”
Kinara hampir melolong. “A-apa?!”
Tangisnya makin melengking. Akhirnya Kinara mengangkat tangan seperti menyerah pada takdir.
“Baik! Baik! Aku Mommy kamu! Sekarang diem, ya!”
Sekejap, tangis itu hilang. Aska mengedip manis, menyeka pipinya sendiri, lalu menggenggam tangan Kinara.
“Ayo pulang.”
“Pulang?! Pulang kemana?!”
Aska menoleh, pura-pura mau menangis lagi. Kinara menutup mulutnya buru-buru.
“Jangan nangis! Astaga … kamu itu ngerjain aku, ya?!”
Aska cekikikan, lalu dengan lantang menakut-nakuti anak-anak yang membullynya.
“Awas ya! Ini Mommy aku! Ibu tiri paling jahat, monster pemakan anak nakal!”
Tiga bocah itu langsung kabur ketakutan. Kinara memegangi pinggangnya, frustasi.
“Astaga … kamu itu kenapa sih?!”
Aska langsung memeluk pahanya.
“Mommy ikut Aska pulang … please…”
Sebentar saja, sesaat saja dan tapi tatapan polos itu merontokkan seluruh benteng pertahanan Kinara. Ia akhirnya mengangguk pasrah. Rumah yang mereka datangi bukan rumah tetapi itu seperti istana.
Gerbang besar terbuka otomatis, taman hijau terawat, dinding kaca tinggi, mobil-mobil mewah berderet. Pelayan berbaris menyambut kedatangan Aska.
“Tuan muda Aska!” seru seorang pelayan. “Kami sudah menghubungi Tuan Arman. Kami sangat khawatir...” Ucapan pelayan itu menggantung saat melihat sosok Kinara berdiri di sebelah Aksa.
Aska menunjuk Kinara.
“Mommy ikut masuk, ya. Kalau Mommy nggak masuk, Aska juga nggak mau masuk!”
Para pelayan serempak menatap Kinara seolah melihat makhluk dari planet lain.
“Mommy…?”
Kinara ingin lenyap dari muka bumi. Ia dibawa masuk ke ruang tamu megah dengan lampu kristal bergemerlap. Para pelayan berdiri mengelilinginya seperti penjaga keamanan mengawasi tahanan kelas A.
Kemudian di luar beberapa saat kemudian terdengar suara mobil. Semua pelayan langsung meluruskan tubuh, berbaris rapi, menunduk.
Pintu utama terbuka, seorang pria memasuki rumah dengan aura yang membuat udara berubah dingin. Rahang tegas, wajah tampan tanpa senyum, mata sedingin baja, namun ia duduk di atas kursi roda. Didampingi oleh asistennya, Rudi.
Dia Tuan Arman Pramudya. CEO muda, dikenal kejam dalam bisnis, dingin dalam kehidupan pribadi. Dan kini, tatapan membedah jiwanya jatuh tepat pada Kinara.
Aska berlari memeluk kaki kursi roda ayahnya. “Daddy! Ini Mommy baru Aska!”
Rudi membeku, para pelayan menahan napas. Kinara ingin kabur dari jendela. Namun Arman menatapnya tanpa kedip, tanpa suara, tanpa ekspresi namun cukup untuk membuat jantung Kinara hampir berhenti.
Keheningan yang menggantung terasa begitu tebal hingga Kinara bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Arman tetap menatapnya seperti sedang menganalisis ancaman, bukan seorang wanita muda yang bahkan tak tahu apa yang sedang terjadi.
Tanpa mengalihkan tatapannya dari Kinara, Arman berkata dingin,
“Rudi.”
Asistennya segera menunduk. “Ya, Tuan.”
“Tanyakan padanya … berapa jumlah uang yang dia butuhkan.”
Kinara membelalak, Rudi menelan ludah, menoleh dengan ragu ke arah Kinara.
“E… Nona. Tuan Arman ingin mengetahui … jumlah uang yang Anda harapkan.”
'Uang?' Kinara merasakan darahnya naik ke kepala. Ia berdiri dari sofa dengan kasar, membuat para pelayan serempak menegang.
“Maksudnya apa Anda tanya begitu?!”
Arman masih diam. Tatapannya tetap dingin, tak tergoyahkan sedikit pun. Kinara menunjuk Aska.
“Anak Bapak ini yang nyeret saya sampai ke sini! Bukan saya yang datang minta-minta uang!”
'Bapak? Apa saya setua itu?' kening Arman berkerut.
Pelayan langsung terkejut. Beberapa menutup mulut, beberapa menunduk, bahkan Rudi sempat memegang dadanya sendiri karena kaget. Kinara melanjutkan, suaranya meninggi tanpa bisa ia kendalikan.
“Saya nggak butuh uang Bapak! Saya bahkan nggak tahu ini rumah siapa sampai saya masuk! Aska yang terus paksa saya ikut! Jadi jangan beraninya nuduh saya seakan saya datang buat minta bayaran!”
Ruangan itu mendadak hening yang luar biasa mematikan. Para pelayan terpaku. Tak ada satu pun yang pernah mendengar seseorang berbicara seperti itu pada Arman Pramudya.
Seorang pelayan senior bahkan berbisik pelan,
“Ya Tuhan … ini pertama kalinya ada yang berani memaki Tuan Arman sejak kecelakaan itu…”
Arman tidak bergerak, tidak berkedip. Tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Tatapannya berubah bukan marah, bukan kesal tapi seperti seseorang yang menemukan puzzle baru yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Aska justru tersenyum lebar, bangga luar biasa.
“Daddy, Mommy berani ya? Keren sekali kan?”
Kinara hampir meraih anak itu dan menutup mulutnya.
Rudi menelan ludah. “Tuan … apakah saya harus...”
Arman mengangkat tangan sedikit, menghentikan kalimat itu. Ia akhirnya membuka suara, rendah dan datar.
“Wanita biasanya datang ke rumah ini untuk dua alasan,” ucapnya pelan, namun dinginnya menusuk tulang. “Uang … atau perhatian.”
Kinara mendengus kesal. “Kalau begitu saya bukan wanita biasanya.”
Arman menaikkan sedikit alisnya seolah itu sudah termasuk ekspresi keterkejutan terbesar yang bisa ia tunjukkan.
Ia menatap Rudi lagi.
“Bawa dia ke ruang kerja.”
Rudi membelalak. “Ke … ruang kerja, Tuan?”
Semua pelayan menoleh dengan ekspresi tidak percaya. Tidak ada wanita asing bahkan partner bisnis yang diizinkan masuk ruang kerja Arman sejak kecelakaan itu.
Arman kembali menatap Kinara.
“Kalau kau mengatakan kebenaran,” katanya dingin, “kau akan menjelaskannya langsung padaku. Tanpa drama anak kecil.”
Kinara menggertakkan gigi. Aska langsung memeluk kaki Kinara erat-erat.
“Mommy harus ikut! Daddy jangan marahin Mommy, ya!”
Arman menatap anaknya, untuk sesaat ada kilatan lembut namun hilang secepat embusan napas. Kinara menelan ludah, menatap kursi roda Arman, menatap tatapan dinginnya, pria itu bahkan tak pernah senyum sejak memasuki ruangan itu.
"Rudi,"
"Iya, Tuan."
Arman menatap Kinara tanpa berkedip, tubuhnya tegang meski ia hanya duduk di kursi roda. Ruangan itu terasa terlalu sempit, terlalu sunyi. Aksa duduk di samping Arman, tampak cemas, menggigit bibir sambil terus memandangi Kinara, seolah takut kehilangan wanita yang baru beberapa menit dikenalnya, namun sudah berhasil meredam semua amukannya.
“Aska, keluar dulu,” ucap Arman pelan namun tajam. Aksa langsung menggeleng cepat. “Nggak mau. Aku mau di sini sama Mommy Ki...”
“Rudi,” suara Arman berubah lebih dalam, “bawa dia keluar.”
Rudi mengangguk. Aksa langsung menegang. “Daddy, nggak mau! Aku...”
“Aksa.” Satu kata yang keluar dari mulut Arman, dingin dan datar membuat Aksa segera turun dari kursi. Aksa langsung diam. Mata mungilnya berkaca-kaca, lalu ia menunduk dan mengikuti langkah Rudi keluar dari ruangan. Setiap langkah kecil itu terdengar seperti pukulan di dada Arman namun ia tidak boleh goyah. Pintu tertutup, dan ruangan kembali tenggelam dalam keheningan.
Kini hanya ada Arman, Kinara dan ketegangan yang bisa memecah kapan saja. Arman memandangi Kinara lama. Wanita itu tampak gugup, namun tidak menghindar. Ada sesuatu dalam sorot mata Kinara yang mampu menjinakkan Aksa. Itu fakta, fakta yang membuat Arman memutuskan sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin ia lakukan.
“Duduk,” ujar Arman akhirnya.
Kinara menurut, tangannya saling menggenggam cemas di atas pangkuan.
“Kau tahu,” suara Arman lirih namun penuh tekanan, “Aksa tidak pernah setenang ini sebelumnya. Dia tidak pernah berhenti kabur. Tidak pernah berhenti … mencari sosok ibu.”
Kinara menunduk, membiarkan ucapan itu menyentuh sesuatu di dadanya. Arman melanjutkan, “Aku tidak punya pilihan lain.”
Mata Kinara terangkat. “Maksudnya?”
Arman mengunci tatapannya. “Menikahlah denganku.”
Kinara terhenyak, kursi di bawahnya nyaris bergeser. Napasnya tercekat seolah sesuatu menghantam dadanya.
“A—apa?” suaranya nyaris tidak terdengar.
Wajah Arman mengeras ketika melihat ekspresi keterkejutan itu. Detik itu juga, sorot matanya berubah dingin, tersinggung, pahit. Seolah Kinara baru saja menertawakan kenyataan bahwa ia terjebak di kursi roda atau rumor jahat yang beredar sejak kecelakaan itu.
Orang bilang ada bagian penting dari tubuhnya yang tak lagi berfungsi. Gosip itu menusuk harga dirinya tiap hari. Dan reaksi Kinara barusan menyayat lebih dalam.
“Aku tidak butuh simpati,” desis Arman. “Ini bukan pernikahan sungguhan.”
Kinara membeku.
“Kontrak,” ujar Arman tegas. “Demi Aksa, kau berada di rumah ini sebagai istriku sampai dia cukup besar memahami keadaan. Setelah itu kau bebas pergi.”
Kinara membuka mulut, tetapi Arman melanjutkan tanpa memberi celah.
“Aku akan membayar sesuai yang kau inginkan, berapa pun itu!”
“Kita tidur terpisah,” lanjutnya, suaranya seperti baja dingin. “Aku hanya butuh kau di sini, untuknya bukan untukku.”
Kinara menatap pria itu lama. Detik ini, dunia mereka terasa terjebak antara keputusasaan dan harapan samar. Setelah beberapa saat, dia mengangguk.
“Iya … aku setuju.”
Tanpa dia sadari, raut wajahnya memancarkan sesuatu yang seperti kelegaan. Ada kegembiraan kecil, sesaat saja yang muncul karena ia memang membutuhkan tempat untuk tinggal. Butuh stabilitas dan menjadi ibu tiri dan ia pikir itu hanya pekerjaan.
Arman melihat perubahan itu. Melihat senyum kecil yang muncul tanpa bisa ditutupi. Dan seluruh tubuhnya menegang dan dalam hati, ia bergumam dingin,
'Benar kan … semua perempuan sama saja. Pada akhirnya, yang mereka cari hanya uang. Bukan aku, bukan Aksa, dan hanya … apa yang bisa ku berikan.'
Tatapan Arman meredup, namun suaranya tetap datar saat ia berkata,
“Baik, kontrak kita dimulai hari ini.”
Dan seketika, Kinara sadar hidupnya baru saja masuk ke dalam badai yang tidak akan pernah sama lagi.
Arman menekan tombol interkom di meja kerjanya. Suaranya datar, tanpa nada ragu sedikit pun.
“Rudi, masuk!”
Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Rudi melangkah masuk. Wajahnya kaku ia tahu, setiap kali dipanggil Arman di ruangan kerja, pasti ada perintah penting.
“Ya, Tuan Arman?”
Arman tidak menjawab. Ia hanya mendorong berkas-berkas di mejanya ke samping, menciptakan ruang kosong, seolah ruangan itu harus bersih sebelum keputusan besar diumumkan.
“Kami akan menikah,” ucap Arman tiba-tiba.
Rudi terangkat setengah langkah, nyaris tersandung udara. Pandangannya bergantian antara Arman dan Kinara yang duduk di sofa.
“Me … menikah, Tuan?”
“Ya.” Arman mendengkus pelan. “Segera urus semuanya. Daftar pernikahan, jadwal kantor catatan sipil, dan buatkan surat kontraknya.”
Nada itu dingin, keras, sebuah keputusan final yang tidak memberi ruang untuk diskusi.
Rudi menelan ludah. “Tuan … maaf, tapi...”
“Rudi.” Arman memotong tanpa melihat ke arah asistennya. “Ini semua demi Aksa.”
Hening menggantung. Di luar dugaan, kalimat itu melunak. Ada beban berat yang menggulung di dada Arman setiap kali berbicara tentang anak itu beban yang hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Namun sebelum Rudi sempat menjawab, terdengar suara kecil. Nyaring memecah ketegangan di dalam ruangan itu. Bunyi engsel pintu berderit halus.
Semua kepala menoleh. Aksa berdiri di sana separuh tubuhnya bersembunyi di balik pintu, pipinya menempel pada kayu, mata bulatnya berbinar-binar. Ia sudah mengintip sejak tadi, mendengarkan setiap kata tentang pernikahan.
Begitu mendengar demi Aksa, bocah itu langsung berlari kecil, menghampiri Kinara seperti anak ayam yang menemukan induknya.
“Mommy! Mommy!” Aksa memeluk kaki Kinara erat, wajah mungilnya berseri-seri, tanpa menyadari betapa rumitnya keputusan yang baru saja dibuat orang dewasa di ruangan itu.
Kinara hanya bisa membalas dengan senyum kecut antara geli, khawatir, dan tak percaya.
'Astaga … tidak ada yang tahu apa yang anak ini pikirkan dan senakal apa dia?' pikirnya sambil mengelus kepala Aksa.
Dari kursi rodanya, Arman memperhatikan adegan itu. Fealnya mencengkram kursi.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama rumah itu dipenuhi suara tawa kecil yang tidak berasal dari luka.
Dan untuk pertama kalinya pula, Arman memutuskan sesuatu bukan demi dirinya,
tetapi demi bocah yang kini tersenyum dalam pelukan wanita asing itu.
Keesokan paginya.
Langit masih berwarna abu-abu ketika pintu gedung catatan sipil itu terbuka. Udara pagi yang dingin menyambut tiga orang yang keluar dari dalam, Rudi yang mendorong kursi roda, Arman dengan setelan hitam rapi, dan Kinara yang berjalan di samping mereka sambil menggenggam sebuah buku kecil warna merah marun.
Buku nikah, masih baru, masih berbau tinta, tapi rasanya seperti beban seberat gunung di tangan Kinara. Sementara bagi Arman, buku itu hanyalah kertas legal.
Rudi menyerahkan buku nikah milik Arman ke pangkuannya.
“Semua sudah lengkap, Tuan.”
Arman mengangguk datar. Tidak ada ekspresi bahagia, tidak ada senyum pengantin, tidak ada genggaman tangan. Hanya tatapan dingin yang tajam, menusuk, dan menghitung napas siapa pun yang berada di dekatnya.
Ia menoleh pada Kinara.
“Mulai sekarang,” katanya pelan, tapi tegas seperti palu hakim, “kau adalah pengasuh Aksa.”
Langkah Kinara terhenti.
Arman melanjutkan, “Tugasmu sederhana. Urus dia, perhatikan dia. Jangan bertindak di luar batas, kau bukan...”
Kinara memutar badan, menatap Arman tajam, suaranya meninggi.
“Stop.”
Rudi sampai tersentak. Kinara menggenggam buku nikah itu lebih erat.
“Jangan sebut aku pengasuh.”
Arman menaikkan satu alis. “Itu kenyataannya.”
“Tidak.” Kinara melangkah mendekat, berdiri tepat di depan pria itu, mata bertemu mata satu penuh api, satu dingin membeku.
“Aku istrimu, Tu-an Arman. Dan aku ibu tiri Aksa, suka atau tidak suka. Pernikahan ini sah. Namaku tertera di buku itu. Aku tidak akan berpura-pura jadi babysitter.”
Arman menahan napas sejenak. Tidak ada wanita yang berani membantahnya sedekat ini sejak kecelakaan itu, tatapannya mengeras.
“Ini kontrak.”
“Kontrak atau bukan, statusku tetap istrimu.” Kinara mencondongkan tubuh sedikit, kedua alisnya terangkat menantang.
“Dan aku akan mencintai Aksa … ya, terserah Anda mau ngomong apa.”
Rudi terpaku, burung-burung di atas bahkan seperti berhenti berkicau. Arman menyipitkan mata, jelas tidak suka.
“Kau...”
“Suka atau tidak,” Kinara memotong cepat, “aku bukan robot yang menjalankan daftar tugasmu. Aku akan memeluk dia kalau dia menangis. Aku akan memarahinya kalau dia nakal. Aku akan bersikap seperti ibu, bukan babysitter yang bisa kamu pecat kalau kamu sedang tidak suka.”
Arman terdiam, hanya rahangnya yang mengeras.
Angin pagi menerbangkan ujung rambut Kinara. Wanita itu berdiri tegak, tidak mundur, tidak gentar meski sedang berhadapan dengan CEO yang terkenal tak tersentuh siapa pun.
Akhirnya, Arman hanya mengerutkan keningnya dan berpaling.
“Rudi, ayo pulang!”
Bahunya tegang, nadanya dingin, tapi di matanya ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak ia akui, keterkejutan dan sedikit kekesalan dan entah kenapa di situ ada ketertarikan.
Sementara Kinara mengikuti di belakang, memegang buku nikahnya. Dengan langkah yang mantap, dengan hati yang belum gentar sedikit pun.
Mereka baru saja hendak menuju mobil ketika sebuah sedan mewah menghentak rem tepat di depan pintu gedung catatan sipil. Pintu terbuka cepat, dan dari dalam keluar seorang pria muda berjas rapi bersama seorang perempuan cantik dengan make-up tebal.
Kinara membeku, dia melihat pria itu, dia Rayyan, mantan kekasih yang dulu ia cintai sepenuh hati sebelum dia menusuk dari belakang.
Dan perempuan di sampingnya, dia Mimi, saudara tiri Kinara yang mengusirnya dari rumah setelah ayah Kinara meninggal.
Dunia terasa mengecil, Rayyan melihat Kinara lalu melirik buku nikah di tangannya dan tatapan jijik langsung muncul di wajahnya.
“Oh,” ujarnya sinis, “jadi begini caramu bangkit setelah putus dari aku, Kinara? Cari pria lumpuh, biar bisa kau manfaatkan uangnya?”
Mimi menyikut lengan Rayyan sambil tertawa geli.
“Pantasan hilang dari rumah. Ternyata kamu jual diri dalam bentuk baru, ya. Pria lumpuh kaya raya? Wah, Kinara, aku harus akui … demi uang kamu bisa apa aja.”
Rudi melihat Kinara dengan wajah tegang, menunggu dia marah, atau menangis, atau lari. Arman tidak bereaksi, tatapannya kosong, datar, tapi rahangnya mengeras. Kinara menghela napas, lalu mengangkat dagu.
“Yang penting,” katanya lantang, “suami aku yang sekarang kaya raya banyak uang.”
Rayyan langsung berhenti tertawa. Kinara mendekat setengah langkah, senyum tipis terbentuk di bibirnya.
“Dan kamu, Rayyan? Pria miskin yang hidupnya cuma bisa numpang sama perempuan. Mau ngomong apa tentang aku?”
Wajah Rayyan memerah. Mimi ternganga, tidak menyangka Kinara bisa sepedas itu.
Rayyan melangkah maju, membentak, “Kau akan menyesal, Kinara! Karena mulai hari ini, aku resmi bekerja sama dengan perusahaan besar, Mission Bar! Perusahaan yang akan membuatku jauh lebih tinggi dari posisimu!”
Rudi memutar kepala pelan ke arah Arman. Wajah sang CEO tidak berubah, hanya satu hal yang terlihat, kening Arman berkerut. Mission Bar, perusahaan itu adalah miliknya. Tapi Arman tetap diam, tidak ada kebutuhan untuk menjelaskan apa pun kepada orang asing. Tidak ada kebutuhan untuk membalas. Arman Pramudya tidak menurunkan levelnya. Kinara, tanpa mengetahui hal itu, justru tertawa ringan.
“Oh?” Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Baguslah, tapi jangan lupa … dari dulu kamu cuma bisa masuk perusahaan kalau dibopong orang lain.”
Rayyan benar-benar hendak meledak. Namun sebelum ia sempat mendekat lebih jauh Kinara bergerak cepat. Ia berdiri di samping kursi roda Arman, memegang sisi sandarannya lalu berkata dengan suara manis penuh penghinaan,
“Ayo pulang, suamiku.”
Ia menatap Rayyan dan Mimi sekilas.
“Jangan pedulikan orang gila.”
Rudi hampir tersenyum, dan benar-benar hampir tersenyum melihat sikap berani Kinara melawan mantan kekasih dan saudara tiri.
Rayyan membeku, Mimi mendengus kasar, wajahnya memerah seperti tomat busuk. Kinara masuk ke dalam mobil dengan elegan, seolah dua orang itu bukan siapa-siapa dalam hidupnya. Rudi mendorong kursi roda Arman masuk, menutup pintu dengan halus.
Rayyan masih berteriak-teriak di luar, tapi suara itu memudar begitu mobil mulai bergerak.
Di dalam mobil, hening dan terasa sangat hening. Kinara memandang lurus ke depan, tapi bisa merasakan tatapan Arman yang menusuk dari sampingnya.
Tatapan yang sulit dibaca, tatapan yang entah menghargai keberaniannya atau justru sedang menilai kebodohannya.
Namun, hari itu, di depan mantan kekasih dan adik tirinya, Kinara akhirnya merasakan sesuatu yang sudah lama hilang.
'Wanita ini sulit ditebak, dia menangis?' batin Arman saat melihat Kinara diam-diam menyeka sisi kedua matanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!