Indonesia
NovelToon NovelToon

The Petals Bride

Terlambat ke Sekolah

^^^SEASON I^^^

Senin, hari yang sangat Ziyara benci, ia sangat malas dengan upacara bendera. Dengan malas ia pun bangun dan menuju kamar mandi yang berada di area dapur rumahnya, ia kemudian masuk ke kamar mandi dan mulai menyirami badannya dengan air yang terasa sangat sejuk pagi itu.

Tak sampai 10 menit Ziyara pun selesai dan segera memakai seragam putih abu-abunya kemudian langsung berangkat ke sekolah tanpa sarapan.

Di perjalan menuju halte, tiba tiba ia teringat jika HPnya tertinggal dan ia harus kembali lagi ke rumah untuk mengambilnya. Alhasil dia ketinggalan angkot dan berujung terkena hukuman karena terlambat.

“Kenapa terlambat?” Suara dingin menginterupsi telinga Ziyara.

Ziyara hanya diam dan menundukkan kepalanya, tapi sekali lagi suara dingin itu menyapa telinganya dengan sedikit bentakan. “Gak punya telinga kamu? Saya di depan kamu, bukan di bawah kaki kamu!"

Perlahan Ziyara mengangkat kepalanya dan langsung menatap mata guru yang membentaknya tadi. Mata mereka saling beradu tatap, dan jangan katakan bagaimana jantung gurunya itu.

“Ma—maaf Pak Evan, saya telat karena nungguin angkot,” jawab Ziyara yang sudah berlinangan air mata.

Ingin sekali rasanya Evan mendekap tubuh gadis yang sudah ia cap sendiri sebagai gadisnya ini, mengusap air mata yang sebentar lagi akan jatuh. Tapi ia harus menahannya dulu, nanti baru ia akan beraksi.

Evan memutuskan tatapannya pada Ziyara dan menyuruh muridnya untuk membersihkan halaman yang berada di belakang gudang. Ziyara yang tak terima pun memberanikan dirinya untuk protes.

“Yang lain bersihin halaman yang di depan sekolah, kok saya bersihin yang di belakang gudang, Pak?”

“Kenapa? Kok kamu yang ngatur?” gas si Evan.

“Saya takut Pak, di sana sepi, enggak ada orang yang pernah ke sana,” cicit Ziyara.

Memang ini tujuan Evan, ingin berduaan dengan gadisnya.

“Saya yang awasi kamu, sekarang ambil peralatannya dan langsung ke halaman belakang gudang, jangan banyak alasan,” titah Evan.

Ziyara segera pergi dari hadapan Evan dengan menghentak-hentakkan kakinya dan mulut yang komat-kamit.

Evan semakin gemas melihat tingkah Ziyara yang sangat lucu di matanya.

“Akhirnya, bisa berduaan juga sama kamu,” Evan membatin kegirangan dan memegang area pahanya yang entah kenapa selalu berdenyut jika melihat atau berada di dekat Ziyara.

Sudah 15 menit Ziyara asik menyapu dedaunan kering dengan perasaan takut, karena gudangnya terletak jauh di belakang area sekolah, mulutnya sibuk memaki Evan yang tak kunjung datang.

Karena terlalu asik memaki sang guru sambil menyapu sampah, ia sampai tak sadar jika di depannya terdapat lubang dan akhirnya kakinya pun terperosok ke dalam lubang itu.

“Ahhh ... shhh ... aduuh sakit banget!!”  Ziyara mengaduh kesakitan sambil mengangkat keluar kakinya dari lubang dengan suara isakan yang keluar dari mulutnya.

Evan yang baru datang dengan membawa minuman dingin pun terkejut melihat Ziyara yang terduduk dengan kaki lecet dan bengkak sambil menangis.

“Hey, kamu kenapa?” Tanya Evan khawatir.

“Bapak ke mana aja sih, katanya mau nemenin saya, saya dari tadi nungguin karena takut sampe-sampe kaki saya masuk ke lubang!” jawab Ziyara sesenggukan.

Evan yang tak tahan pun langsung mendekap tubuh Ziyara yang bergetar karena menangis, ia mengusap-usap punggung gadisnya dan mengecup pucuk kepala Ziyara.

“Maaf ya, saya tadi di panggil sama kepala sekolah sebentar, terus beliin kamu minuman.”

Ziyara masih menangis dalam pelukan Evan, Evan pun semakin mengeratkan pelukannya pada Ziyara. “Udah ya, saya minta maaf.”

Ziyara langsung melepaskan dirinya dari pelukan Evan.

“Ma-maaf, Pak.”

“Maaf kenapa? Hm?” tanya Evan sambil menyelipkan rambut di belakang telinga Ziyara.

“Udah, Pak, nanti ada yang lihat.”

“kalau enggak ada yang lihat?”

“Hah?”

CUPPPPHHH!!!!

“Manis,” kata Evan sambil menjilat bibirnya sendiri.

Ziyara yang terkejut mendapati perlakuan Evan itu pun langsung ingin berdiri dan pergi dari sana, tapi ia melupakan kakinya yang sedang sakit.

“Awhhh.”

“Kamu ngapain tiba tiba berdiri? Udah tau kakinya sakit,” ujar Evan.

“Awas, enggak usah pegang-pegang!” marah Ziyara.

Evan tak mendengarkan Ziyara, ia tetap memegang pergelangan Ziyara.

“Kamu kenapa?”

“Bapak yang kenapa?”

“Loh, kok saya? Saya kenapa?”

“KENAPA BAPAK CIUM SAYA?” teriak Ziyara.

Ziyara semakin memberontak saat Evan memegang tangannya dan ingin memeluknya lagi.

“Hey, tenang Ziya,” tutur Evan mencoba menenangkan Ziyara sambil memeluk tubuhnya.

“Bapak jahat!” ucap Ziyara dengan tangan memukul dada Evan.

“Iya saya jahat, maaf lagi, ya.”

“Gak mau maafin, saya mau ke kelas.”

Evan melepaskan pelukannya pada Ziyara dan menangkup wajah Ziyara.

“Masih mau ke kelas dengan muka berantakan gini? Mata sembab, hidung merah, kaki juga luka sama bengkak, hm?” tanya Evan.

“Ini semua kan gara gara bapak, bapak bentak saya tadi pagi, terus biarin saya sendirian bersihin halaman gudang, kaki saya masuk ke lubang juga gara gara bapak, terus tadi bapak malah cium-cium saya!” omel Ziyara.

Evan tersenyum melihat Ziyara mengomel, tangannya terangkat untuk mencubit pipi chubby Ziyara.

“Kenapa gemes gini kalau ngomel?”

“Bapak ih, enggak usah pegang-pegang saya terus!"

“Ya, udah.”

Evan pergi meninggalkan Ziyara sendirian lagi di sana, baru beberapa langkah, ia mendengar isakan tangis yang keluar dari mulut gadisnya.

Evan berbalik lagi menuju ke arah Ziyara.

“Hiks ... Hiks!”

Ziyara menangis dengan wajah tertutup telapak tangan, tanpa aba-aba Evan langsung mengendong Ziyara ala bridal style.

“Aaaa! Bapak, kenapa saya di gendong? Turunin ih, nanti dilihatin orang Pak.”

“Diem Ziya, atau saya cium lagi bibir kamu yang manis itu.”

Ziyara langsung terdiam dan kembali menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya, ia takut menjadi bahan omongan semua murid dan guru-guru karena sekarang dia berada dalam gendongan guru paling hot di sekolah ini, tapi ia tidak mendengar apa pun , kenapa sunyi sekali batinnya.

Ternyata semua orang sedang melakukan proses belajar mengajar, tidak ada satu pun yang berada di luar kelas. Hanya beberapa menit saja tiba tiba tubuhnya seperti melayang dan merasakan seperti berbaring di atas kasur. Ziyara membuka matanya dan benar saja, ia memang berbaring di atas kasur yang berada di UKS.

“Enggak usah ngomong, enggak usah banyak nanya, saya obatin dulu kaki kamu.”

Ziyara hanya menurut, ia memperhatikan berapa telatennya Evan mengobati lukanya.

“Shh ... pelan, Pak, sakit kalau di pencet gitu!”

“Iyaa, Ziya.”

“Pak?”

“Pak?”

“Bapak?” panggil Ziyara lagi sedikit keras.

“Apa Ziyaaaa?”

“Bapak kenapa manggil nama saya Ziya?” tanya Ziyara.

“Kan mulut saya, suka suka saya lah, kenapa emangnya? Enggak suka di panggil Ziya? Atau mau di panggil Sayang?”

“Ih, apaan sih Bapak, enggak ada yang manggil saya Ziya kecuali bapak.”

PLUK!!!

Evan menyentil jidat Ziyara.

“Aduh, sakit tau Pak, bapak kenapa, sih?” tanya Ziyara.

Evan mendekatkan mulutnya ke telinga Ziyara dan membisikkan sesuatu.

“Saya suka sama kamu, Ziya.”

“Saya enggak bercanda,” sambung Evan.

Ziyara mendorong tubuh Evan dan menatap lekat wajah gurunya itu.

“Bapak gila, ya?”

“Tergila gila sama kamu!” jawab Evan dengan entengnya.

“Bapak udah punya istri kalau bapak lupa.”

“Saya enggak lupa, Ziya.”

Ziyara memiringkan badannya ke arah tembok dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

“Keluar Pak, saya mau istirahat. Makasih udah nolongin saya!” ucap Ziyara.

Evan mengusap rambut Ziyara dan mengecup pucuk kepalanya.

“I love you,” ucap Evan dan langsung pergi meninggalkan Ziyara.

Apartemen Pak Evan

Hari sudah menunjukkan pukul 3 sore, bel pulang sekolah sudah sejak tadi berbunyi. Ternyata Ziyara ketiduran cukup lama di UKS, ia segera bangun dan ingin mengambil tasnya yang berada di dalam kelas. Baru ingin bangun dan menuju ke kelas, tiba-tiba Evan masuk dengan tas miliknya yang sudah berada di tangan gurunya itu.

“Saya capek, enggak mau debat,” ucap Evan yang langsung menggendong Ziyara. “Saya antar pulang.”

Ziyara langsung membelitkan tangannya di leher Evan, ia pun tak ingin berdebat lagi dengan Evan. Evan merasakan nafas Ziyara yang berada di lehernya, ia mati-matian menahan gairahnya.

Setelah sampai di mobil, Evan membuka pintu dan meletakkan Ziyara di kursi depan, setelahnya Evan pun masuk dan memakaikan Ziyara seat belt.

Evan mencium aroma tubuh Ziyara yang membuat adiknya mengeras di bawah sana, tanpa aba-aba lagi, ia mencium bibir tipis Ziyara, menarik narik bibir gadisnya dan melahap lidah manis milik Ziyara.

Karena sudah terbawa suasana, Ziyara pun membalas ciuman dari Evan.

“Nhhhh.”

“Ssshhh ... Ahh,” desah Ziyara.

Ciuman Evan turun ke leher jenjang Ziyara, ia menghirup dalam dalam aroma leher Ziyara, dikecupnya, disantap dan digigit-gigit kecil leher putihnya itu.

“Mmhh, jangan di cupang Pak.”

Evan hanya mengangguk dan melanjutkan kegiatan menyantap leher Ziyara. Ziyara memeluk kepala Evan agar tetap berada di lehernya.

“Ehh ... udah Pak, saya mau pulang, saya harus kerja.”

Evan mengangkat leher Ziyara, mengusap leher gadisnya menggunakan jempolnya dan terakhir menyantap bibir Ziyara.

“Gak usah kerja, ya,” ucap Evan.

“Saya harus kerja Pak, kemarin saya udah di tagih sama wali kelas saya karena nunggak bayar uang bulanan.”

“Nanti saya yang bayarin semua uang sekolah kamu sampai selesai, termasuk kebutuhan pribadi kamu,” ujar Evan.

“Enggak, saya bukan tanggung jawab Bapak.”

“Kita nikah, biar kamu jadi tanggung jawab saya,” jawab Evan serius.

“Saya masih sekolah, Pak, masih punya cita cita yang harus saya gapai,” ketus Ziyara.

“Oke, jawab pertanyaan saya dengan jujur.”

“Iya.”

“Kamu suka enggak sama saya?” tanya Evan.

Ziyara mengangguk, siapa sih yang enggak suka sama guru ganteng di sekolahnya, teman teman bahkan kakak kelasnya pun rata rata menyukai guru olahraganya ini.

“Kenapa suka sama saya?”

“Bapak ganteng, tapi sayang udah punya istri,” jawab Ziyara.

“Saya bisa ceraikan istri saya demi kamu.”

“Gak usah ngaco deh, Pak, ayo jalan. Nanti saya telat!” bentak Ziyara.

“Enggak usah kerja Ziya, kamu enggak dengar apa yang saya bilang tadi?”

“Bapak juga enggak dengar apa yang saya bilang? Saya masih sekolah dan punya cita cita yang harus di gapai, Bapaaak!!”

“Kalau gitu kita pacaran aja dulu, gimana?” paksa Evan.

Ziyara tertawa renyah melihat kelakuan Evan.

“Bapak kenapa, sih? Bapak udah punya istri loh, buk Sabina juga cantik banget,” gumam Ziyara, heran.

“Enggak usah bawa-bawa orang lain, jawab pertanyaan saya tadi, kalau kamu enggak mau nikah sekarang, kita pacaran dulu, ya?”

“Mmm saya pikir-pikir dulu ya, Pak?”

“Saya mau kamu jawab besok,” lagi-lagi Evan memaksa.

“Iya Bapak, ya udah ayo jalan.”

Evan mengemudikan mobilnya menuju rumah Ziyara.

Ziyara heran kenapa Evan bisa tau jalan ke rumahnya, padahal ia belum memberi tahukan pada Evan dimana alamat rumahnya.

“Bapak kok tahu rumah saya?”

“Saya tahu semuanya tentang kamu, Ziya,” jawab Evan.

“Bapak penguntit, ya?” tanya Ziyara tak santai.

“Apa salahnya menguntit orang yang kita sayang?”

Ziyara hanya diam mendengar kata yang keluar dari mulut Evan, ia hanya menganggap itu semua hanya bualan saja. Setelah beberapa saat, mereka pun sampai di rumah kecil Ziyara.

Baru turun dari mobil, Ziyara di kejutkan dengan barang-barangnya yang sudah berada di luar rumah dan tiba-tiba seorang wanita paruh baya keluar dari rumahnya dengan marah-marah.

“Sekarang kamu keluar dari kontrakkan saya Ziyara, kamu janji-janji terus tapi enggak pernah ditepati, sudah 3 bulan kamu nunggak uang kontrakkan!” marah wanita paruh baya tersebut.

Dengan kaki yang terseok-seok Ziyara berjalan ke arah wanita paruh baya itu dan bersimpuh memegang tangannya.

“Buk, saya mohon buk, kasih saya waktu, saya belum punya uang, kalau udah ada uangnya saya bayar semua buk,” jawab Ziyara sambil menangis.

Evan yang melihat itu pun langsung menghampiri Ziyara dan menarik tangannya.

“Bangun!!”

Evan mengeluarkan banyak sekali uang merah dan memberikannya kepada wanita paruh baya itu dan langsung menggendong Ziyara masuk ke dalam mobil.

“Kaki kamu masih sakit, enggak usah keluar mohon-mohon lagi, diam!"

Evan langsung menutup pintu mobil dengan kencang.

Evan mengambil semua barang-barang Ziyara dan memasukkannya ke dalam bagasi lalu ia dengan cepat mengemudikan mobilnya, meninggalkan rumah yang pernah Ziyara tempati.

“Pak, kita mau ke mana?” tanya Ziyara yang masih menangis sesenggukan.

“Apartemen.”

“Bapak!!!!" dengus Ziyara. “Saya bayar kontrakkan aja susah, ini Bapak mau nyari apartement untuk saya tinggal? Saya udah susah jangan di ditambah susah lagi pak, Bapak gila, ya?” teriaknya yang semakin menangis.

Evan menepikan mobilnya di pinggir jalan, ia menarik Ziyara ke dalam pelukannya. Mengusap-usap sayang punggung gadis kecil yang berada dalam pelukannya, sesekali ia kecup dahi Ziyara.

“Enggak capek apa nangis terus? Hm?" tanya Evan dengan lembut.

“Bapak yang bikin nangis terus.”

“Saya mau bawa kamu ke apartement saya, kalau kamu tinggal di sana, itu jadi apartement kita,” ujar Evan.

Evan melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Ziyara, Ia kembali menjalankan mobilnya menuju apartemen.

Fokus dengan menyetirnya, Evan menoleh kekiri untuk melihat Ziyara yang hanya diam, tak terdengar lagi suara tangisan dan isakan, ternyata gadisnya tertidur.

Sesampainya di parkiran apartemen, Evan menggendong tubuh Ziyara dan pergi ke arah lift untuk menuju kamarnya.

Setelah sampai di kamarnya Evan membaringkan tubuh Ziyara di kasur, membuka seragam Ziyara dan hanya menyisakan tantop dan celana dalam saja. Evan memegang burungnya yang sudah sesak ingin keluar.

“Shh ... Oh!!” Evan meremas tombaknya dari luar celana.

Evan membuka baju dan celananya, sama seperti Ziyara, ia hanya menyisakan celana dalamnya saja.

Evan merangkak naik ke atas tubuh Ziyara dan menggesek tombaknya ke rahim Ziyara.

“Ah ... di gesek gini aja enak ... Ah!!”

Ziyara yang merasa terusik pun langsung bangun dan terkejut ketika melihat Evan Sudah berada di atas tubuhnya dengan bertelanjang dada, ia lebih terkejut ketika melihat Evan yang sedang menggesekkan sesuatu di atasnya.

Ziyara mendorong tubuh Evan, ia terkejut lagi ketika melihat kalau ia hanya mengenakan tanktop dan celana dalam saja.

“Bapak ngapain saya?” Tanya Ziyara sambil menutupi dadanya.

“Enggan ngapa-ngapain, Ziya.”

“Bohong.”

“Beneran, orang saya cuma gesek-gesekin titid aja!” jawab Evan jujur.

“Bapak ihh, jorok banget ngomong nya, terus kenapa Bapak gesek-gesekin itu Bapak ke ini saya?”

“Yang kotor lebih enak, saya tergoda lihat kamu,” ucap Evan yang memegang tombaknya.”

“Ohhhh.”

“Bapak kenapa?”

“Napsuh, mau kayak tadi,” jawab Evan dengan mata sayu. “Mau ya, gesek aja kok, hm.”

Ziyara hanya mengangguk, Evan dengan cepat mendekati Ziyara dan menyuruhnya berbaring kembali. Ia mulai menggesekkan tombaknya ke rahim Ziyara.

Istirahat Sejenak

“Ahh ... enak banget sayang. Ohhh.”

“Pegang itu boleh, ya?”

Ziyara yang sudah mulai ketularan pun mengiyakan permintaan Evan.

Evan mulai menjamah dada Ziyara yang cukup besar, karena kurang puas menyentuh dari luar, ia memasukkan tangannya ke dalam tanktop Ziyara.

“Mmh ... Bapak!"

“Kenapa Ziya? Enak?"

“Ahh ... Iyah.”

“Buka bajunya, ya?”

Lagi, Ziyara hanya mengangguk.

Evan melepaskan tanktop serta bra yang di pakai Ziyara.

Menangkup dada yang besar itu serta mencekalnya dengan gemas, menarik dan memilin kismis yang sudah mencuat.

“Ahh ... jangan ditarik-tarik, Pak.”

“Terus di apain?”

“Mhh, diisap.”

Dengan cepat Evan menundukkan kepalanya ke arah dada Ziyara, ia langsung memasukkan kismis yang sudah keras itu ke dalam mulutnya, di hisapnya pink kismis milik Ziyara lalu di tariknya menggunakan gigi.

Tombak yang di bawah semakin cepat menggesek rahim Ziyara.

“Ahh ... ahh ... jangan di tarik, Pak ... ahh!"

“Ohh. Saya enggak tahan Ziya, boleh saya masukin?”

“Enggak, enggak mau Pak ... gini ajah.”

“Buka celana dalamnya ya, saya janji enggak masukin, gesek sampai keluar aja.”

“Iyah.”

Evan pun membuka celananya dan celana dalam Ziyara.

Ziyara menelan air ludahnya, melihat betapa besar dan panjangnya milik Evan. Evan mulai mendorong-dorongkan kepala tombaknya di rahim Ziyara.

“Ahh ... Bapak udah janji cuma gesek aja, jangan di masukin!”

“Enggak sayang, cuma gesek aja.”

“Ah ... Ziya, enak banget Ziya ... Aahh ... ahh!!”

“Ah, Bapak, jangan cepet-cepet pak, saya mau pipis.”

“Aahh ... aahhh ... aahhh ... pipis aja sayang.”

“Ahh ... ahh ... ahh saya pipis Pak, ahhhhhh.”

Evan mempercepat gesekannya karena ia ingin keluar.

“Aah ... aah, ah saya mau keluar Ziya, ohhh ... aaaaaaaahh.”

Evan menyemburkan benihnya di atas rahim Ziyara, dan menggesekkan kepala tombaknya di kismis Ziyara yang masih tegang.

“Anget Pak.”

Evan langsung menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Ziyara.

Ia memeluk erat tubuh gadisnya dengan melingkarkan kakinya di paha Ziyara.

“Capek?” tanya Evan

“Capek, Pak.”

“Gak mau makan dulu?”

“Enggak Bapak, saya capek,” jawab Ziyara.

“Saya mau kamu jawab sekarang Ziya.”

“Jawab apa, Pak?” tanya Ziyara

“Perasaan saya tadi siang.”

“Hmm, iya.”

“Iya, apa?” tanya Evan tak sabaran.

“Mau.”

“Mau apa Ziyaaaa? Yang jelas!” Evan gregetan.

“Saya mau jadi pacar Bapak,” ucap Ziya.

Evan langsung duduk dari baringnya.

“Kamu serius?”

“Iya Bapak, saya serius,” ucap Ziyara.

Evan memeluk Ziyara dan mengecup seluruh wajah muridnya yang baru saja menjadi kekasihnya.

“Tapi Pak, gimana kalau buk Sabina tahu?”

“Ya biarin aja?” jawab Evan asal.

“Bapak, kok gitu?”

“Gitu gimana? Udah lah, saya kan udah bilang jangan bahas orang lain kalau kita lagi berdua.”

“Iya-iya, maaf, Bapak.”

“Jangan panggil saya Bapak, Ziyara ... saya bukan Bapak kamu!” ucap Evan tak ingin di panggil Bapak.

“Huh, jadi saya harus panggil apa?”.

“Panggil saya Mas kalau di luar sekolah, dan jangan saya-saya lagi, aku kamu.”

Ziyara yang malas berdebat pun mengiyakan semua permintaan Evan.

“Iya, Mas, aku enggak manggil Bapak lagi.”

Evan mengecup ujung hidung Ziyara dan membawanya kedalam dekapan hangatnya lalu menuju alam mimpi.

“Mmm.”

Ziyara meregangkan otot-ototnya karena merasakan badannya yang sangat lelah, ia melihat ke arah sampingnya dan melihat guru olahraganya yang baru saja menjadi kekasihnya.

Ia memainkan hidung Bangir pacarnya menggunakan jari telunjuk, jarinya turun ke dagu kemudian turun lagi ke jakun Evan. Memainkan jakun itu turun naik.

“Jangan di mainin sayang,” ucap Evan dengan mata masih terpejam.

Tak mendengar kan kata-kata Evan, Ziyara malah menindih tubuh Evan dan menyusupkan kepalanya ke leher Evan, mencium dan mencibir leher kekasihnya. Lidah nakalnya mulai menyentuh daun telinga Evan.

“Ehmm, Sayang .. jangan nakal.”

“Aku cupang ya Mas lehernya!” ucap Ziyara

Ziyara mulai kembali menyantap leher Evan, meninggalkan warna ungu kemerahan di sana.

“Mmmhh ... punya Mas tegang lagi sayangh ... Ehmm.”

Ziyara pun merasakan sesuatu yang keras menyentuh bibir rahimnya.

Cepat-cepat ia turun dari tubuh Evan, dan ingin melarikan diri. Tapi tangan Evan dengan cepat menarik pergelangan tangannya hingga ia terjatuh lagi ke pelukan Evan.

“Mau kemana, hm? Udah bikin Mas kepingin, terus mau kabur?”

“Eng—enggak kok, aku mau ke kamar mandi,” ucap Ziyara terbata.

Evan membawa tangan Ziyara ke tombaknya yang sudah berdiri tegak, Ziyara merasakan hangatnya batang itu.

“Elusin sayang!”

Ziyara menyentuh tombak panjang itu, menguyel pelan dan kemudian ia urut turun naik dengan perlahan. Jempolnya mulai memainkan kepala yang sudah licin, sesekali ia remas kuat karena gemas.

Evan memainkan dada Ziyara, menarik kismis yang belum tegak sempurna, menguyel daging yang sudah banyak bercak merah karena hisapannya tadi siang.

“Ahh ... enak banget tangan kamu Sayang. Ohhh.”

“Di jepit sama ini lebih enak pasti,” ujar Evan dengan tangan menguyel rahim Ziyara.

“Mas ih, main remes aja.”

“Gemes Dek lihat tembem kamu, boleh ya, Mas masukin ke situ?” tanya Evan penuh harap.

“Enggak, Mas.”

“Tapi Mas enggak tahan sayang.”

“Aku mainin aja sampai keluar, ya,” ujar Ziyara.

“Emud sayang, masukin ke mulut kamu ... Ohh.”

“Tapi aku enggak pernah Mas, enggak tahu caranya, punya Mas juga panjang sama besar banget.”

“Cicip dulu sayang ujung nya, mainin pake lidah kamu, terus naik turunin aja, habis itu baru di masukin semuanya dalam mulut kamu,” tukas Evan mengajari Ziyara.

Ziyara pun mulai mengikuti intrupsi demi intrupsi dari Evan, Evan yang merasa Ziyara cepat belajar pun merasakan kenikmatannya. Ia mendongakkan kepalanya ke atas dan memejamkan matanya.

“Ahh ... Shhh ... anget banget Ziya mulut kamu ... terus sayang.”

Evan menghentakkan pinggulnya ke atas agar tombaknya masuk sempurna ke dalam mulut Ziyara.

GLOK!! GLOK!! GLOK!!

“Uhhh .. mulut aja enak ... apa lagi itu kamu sayang ... Ohh.”

“Cepetin sayaang ... Mas mau keluar ... Ahh ... Ahh ... Ahh.”

GLOK!! GLOK!! GLOK!!

GLOK!! GLOK!! GLOK!!

“Mas keluar sayang, Mas keluar ... Aaaahhh.”

Benih Evan sampai meluber di area mulut Ziyara.

“Telan sayang,” titah Evan.

“Hueek, enggak enak Mas!”

Evan mengambil tisu dan membersihkan mulut kekasihnya.

“Lepehin kalau enggak enak.”

“Mas marah?” tanya Ziyara.

“Hm? Marah kenapa sayang?"

“Aku enggak telan itu, Mas”

“Haha kenapa harus marah? Mas enggak marah kok,” jawab Evan dan mengecup pipi Ziyara.

“Kamu mau gantian di enakin?” tanya Evan.

“Di enakin gimana, Mas?”

“Kayak Mas tadi,” jawab Evan.

“Emang di apain, Mas?”

Tangan Evan langsung menyentuh rahim Ziyara, jarinya mengelus naik turun bibir rahimnya, menekan-nekan kacang saraf kekasihnya. Jari jailnya menarik-narik rambut yang belum terlalu lebat.

“Mmhhh ... Mas ... itu aku di apain ... jangan ditarik-tarik bulunya Mas. Ohh.”

“Ini namanya Micky sayang, coba bilang!”

Ziyara menggelengkan kepalanya tanda ia tak mau menyebutkan nama itu karena malu, Evan yang melihat penolakan dari Ziyara pun langsung memasukkan satu jarinya kedalam rahim Ziyara dan langsung menggerakkannya dengan cepat.

“Ahh ... Ahh ... Ahh.”

“Bilang sayang, apa namanya.”

“Ahhh iya, Mas ... iyah ... namanya Micky, ahhh.”

Evan memperlambat permainannya di dalam rahim Ziyara, ia mengeluarkan jarinya kemudian mengelus dan menarik pelan kacang saraf pacarnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!