Indonesia
NovelToon NovelToon

Menikahi Adik Ipar Bos

Alexander Wijaya

"Alex, aku ingin kamu menikahi adik iparku Vanessa."

Permintaan dari sang bos membuat pria berumur 30 tahun itu terbelalak. Dialah Alexander Wijaya, seorang pria lajang yang mengabdikan hidupnya kepada keluarga Lucian, hingga untuk mencari cinta sejati pun tidak ada waktu.

Sebenarnya bukan tidak ada waktu, melainkan masa lalu keluarganya yang buruk yang membuatnya menutup hati dan enggan menikah. Jangankan menikah menjalin hubungan saja tidak pernah, rasa trauma masih melekat di jiwanya.

"Tuan, apa kau gila? Aku harus menikahi Vanessa yang masih duduk di bangku SMA. Dia masih sekolah, ditambah dia sangat menyebalkan," geram Alex mengingat tingkah-tingkah Vanessa yang selalu membuatnya kesal.

Bahkan Alex memanggil gadis itu dengan sebutan kancil.

"Aku tahu Alex, cuman ini permintaan mertuaku kamu sendiri yang melakukannya."

Ya, semua ini karena insiden malam itu.

Malam di mana ketika ia harus pulang bekerja, yang seharusnya pergi menuju apartemen untuk merebahkan diri tetapi harus kembali bertugas karena permintaan dari istri bosnya Nyonya Sera.

Sang bos panik, karena sang adik seharusnya sudah pulang sekolah tetapi masih berkeliaran di luar pada malam hari tanpa ada kabar. Tentu, tingkahnya itu membuat ibu dan ayahnya panik, sehingga menghubungi Sera kakak tercintanya yang merupakan istri bosnya.

Dia meminta Alex untuk mencari Vanessa. Satu permintaan yang tidak bisa ia tolak.

"Alex, aku mohon kamu carikan Essa untukku. Sejak pagi berangkat sekolah dia belum pulang sampai malam ini, ibuku khawatir jadi tolong kamu cari dia, ya."

Alex hanya bisa membuang nafas berat ketika mendapat perintah itu, apalagi saat suara Darren terdengar dari seberang sana.

"Cepat carikan Vanessa itu perintah dariku."

Alex semakin menghela pelan nafasnya. "Iya, baik Nyonya, tapi apa ada satu tempat yang dikira adikmu kunjungi? Mungkin tempat yang biasa dikunjungi Essa, seperti taman, atau perpustakaan mungkin."

Namun, diantara keduanya tidak termasuk. Alex terbelalak ketika mendengar tujuan yang termungkin Vanessa kunjungi.

"Ibu bilang dia diajak temannya pergi ke Club."

"Club?" Kening Alex, mengerut. Gadis remaja seperti Vanessa bisa masuk ke Club, itu tidak mungkin. Kecuali ada seseorang yang mengajaknya, karena masuk ke tempat seperti itu tidaklah mudah, kecuali orang yang sering berkunjung ke sana dan sangat mengenal orang-orang di dalamnya.

"Baiklah, aku akan mencarinya jadi tunggu saja kabar dari saya. Kirimkan saja beberapa foto temannya yang mungkin selalu pergi bersamanya."

Alex menutup sambungan teleponnya, membuka pintu mobil lantas masuk ke dalam. Alex, duduk dibagian kemudi, membuka dasi yang mencekik lehernya seharian, membuka jas yang membuat tubuhnya sangat kepanasan sehingga ingin berendam di dalam bathtub.

Setelah melepas seluruh pakaian yang menyiksanya Alex, menekan bundaran setir yang sedari tadi menunggu ia kendalikan. Sambil membuka kancing kemeja atasnya tangan Alex terus memutar bundaran setir ke kiri dan kanan, hingga mobilnya melaju meninggalkan area perusahaan.

Dentingan ponsel membuyarkan fokusnya. Alex mengurangi sedikit kecepatan untuk mengintip pesan WhatsApp yang dikirimkan Sera. Ada dua foto gadis seusia Vanessa, Alex pun mengamatinya sebentar—ia mengenali sosok kedua gadis itu yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu.

Alex berpikir kedua temannya itu yang membawa pengaruh buruk bagi Vanessa. Alex, mengirimkan foto tersebut kepada beberapa temannya yang sering pergi ke Club malam untuk bersenang-senang.

Dari sekian banyak teman, hanya satu yang membalas. Alex semakin menyipitkan kedua matanya, membaca pelan tulisan itu.

Aku pernah melihatnya, dia sering datang ke clubing Fall, mereka memang masih remaja tetapi jiwanya sudah dewasa. Remaja sekarang sudah dewasa sebelum waktunya, dan untuk si baju merah aku rasa dia pacar klienku, gila! dia memacari sugar Daddy. klienku usianya 40 tahun.

Sontak bola mata Alex, membulat seketika. Ternyata yang Alex dengar waktu itu benar. Kedua teman Vanessa, menyarankan Vanessa untuk mencari Om-Om untuk dipacari biar dapat uang jajan lebih. Akan tetapi, tidak mungkin seorang lelaki dewasa mau memberikan uang secara cuma-cuma jika tidak ada maksud lain, semacam memvaskannya.

Alex, semakin mempercepat laju mobilnya menuju Clubing Fall. Baginya Vanessa terlalu polos untuk diajak ke tempat seperti itu. Jangan sampai seorang pria melakukan hal buruk padanya, walaupun hubungannya tidak pernah baik dengan Essa, sebagai jiwa lelaki dewasa Alex, juga menganggap Essa seperti adiknya, yang tidak akan membiarkan Essa terjerumus.

Alex, segera turun dari mobil. Sebelum keluar ia membuka kacamata beningnya, memperlihatkan mata biru yang indah, Alex, terlihat tampan tanpa kacamata ditambah rambut yang kalis dibiarkan berantakan, biar terlihat seperti pria nakal lainnya.

Alex, langsung turun melangkah masuk ke dalam Club, ketika dihentikan kedua penjaga Alex hanya menatap datar, lalu memperlihatkan kartu VIPnya. Dengan begitu ia mudah memasuki tempat terlarang itu. Semua pengunjung mempunyai kartu akses masuk, tidak sembarang orang masuk kesana.

Lalu bagaimana dengan Alex?

Pria itu tidak pernah memasuki tempat terkutuk itu kecuali sesekali karena sebuah tugas khusus dari bosnya.

Alex, memasuki area Club yang semakin dalam semakin penuh dan riuh. Pencahayaan yang remang, membuat matanya harus setajam mungkin mencari sosok gadis kancilnya.

Dari jauh di sudut ruangan Darren melihat gadis remaja yang memakai seragam sekolah, walau kemeja atasnya sudah ditutup oleh switer. Alex melihat Vanessa seperti tidak nyaman, kedua pria yang berada di samping kiri dan kanannya terus menggangu, mencolek, hingga berani memepet gadis itu.

Alex, yang melihat itu sangat geram. Hingga ketika Essa hendak meminum segelas vodka langsung ditepis oleh Alex. Mata Vanessa membola seketika, ia terlihat tidak suka dengan kehadiran Alex.

"Om, ngapain di sini? Apa Om sedang mencari ani-ani, Oh Tuhan ... Om, seleramu buruk sekali."

Alex memutar bola matanya malas. Belum apa-apa Vanessa sudah ngajak ribut dirinya.

Namun, Alex tidak peduli ia langsung menarik Essa dari sana.

"Ayo pulang."

"Eh, Om tunggu! Jangan main tarik-tarik aja dong." Essa melepaskan tangan Alex. "Aku datang kesini dengan teman-temanku, aku akan pulang dengan mereka," tegas Essa.

"Essa, kau tidak tahu ini tempat apa? Tempat ini tidak cocok untuk usia sepertimu."

"Maksudnya?" Essa menatap tajam Alex, dengan kedua tangan yang dilipat di bawah dada.

"Essa, orang tua mu mencari, dan aku kesini atas perintah kakakmu. Aku akan mengantarkanmu pulang."

"Tidak!"

"Essa!" sentak Alex dengan tajam. Sedetik Essa, terdiam. Matanya terpaku menatap dekat wajah tampan Alex yang berbeda, apalagi ketika membentaknya Alex, terlihat lebih berkarisma.

Oh tidak, apa yang aku pikirkan, Essa menggeleng.

"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, menurutmu aku bukan gadis dewasa, kan jadi aku tidak boleh datang kesini. Cukup menganggap ku anak kecil, dan malam ini akan aku buktikan jika aku sudah dewasa."

Kening Alex mengerut.

Essa, berbalik matanya memindai sekeliling hingga jatuh pada seorang bartender yang membawa nampan berisi banyak gelas minuman. Demi membuktikan jika dirinya sudah dewasa, Essa berjalan ke arah bartender itu lalu mengambil segelas Vodka yang langsung diteguknya.

Sambil merem melek Essa, merasakan minuman itu untuk pertama kalinya. Sensasi aneh dan tidak bisa dijabarkan apa minuman itu enak atau buruk. Essa, meletakkan kembali gelas itu pada nampan, lantas berbalik ke arah Alex.

Sementara sang bartender, meringis karena minuman itu sudah dipesan khusus. Seseorang sudah memesannya dan yang paling parah minuman itu sudah dicampur dengan obat yang entah obat apa itu.

"Kamu lihat, kan aku meminum ah ...." Tiba-tiba Essa memegang kepalanya yang terasa pusing. Alex, langsung mendekat yang meraih tubuh kecil itu yang hendak terjatuh.

"Sudah aku bilang kau belum cukup dewasa Essa."

"Aduh, pusing." Essa meringis.

Alex, segera membawanya pergi dari tempat itu. Akan tetapi setibanya dalam mobil tingkahnya menjadi aneh. Essa, merasa tidak karuan, tidak nyaman, sambil bergerak ke samping kanan dan kiri.

Alex, mengabaikan yang tetap fokus pada jalanan. Namun, tiba-tiba tingkah Essa membuatnya terkejut, Essa melepas switernya, melepas kancing kemeja yang hampir saja seragam itu terlepas. Alex, segera menahan tangan Essa dengan tangan kirinya.

"Essa hentikan! Apa yang kamu lakukan?"

"Gerah, rasanya panas."

"Apa!"

Alex sudah pasti menebak apa yang terjadi kepada Essa. Minuman Essa mengandung obat perangsang. Alex, berdecak kesal yang langsung memacu lebih cepat mobilnya hingga tiba di depan sebuah kedai.

Kedai milik ibu dan ayah Essa, Alex membawa turun Essa, yang semakin meronta dan mengacau. Alex tidak bisa membiarkan gadis itu berjalan sehingga ia menggendongnya. Namun, setelah tiba di dalam Ane dan Joko tidak ada, Alex bingung apa yang harus dia lakukan pada Essa.

Alex pun membawa Essa ke dalam toilet, menyiramnya dengan air demi untuk menghilangkan rasa panas pada tubuhnya. Namun, Essa sudah diluar kendali, ia menarik tubuh Alex hingga menempel padanya, seketika tubuh Alex pun jadi basah.

Essa, menatap lekat wajah tampan Alex, masih setengah sadar, Essa berjinjit untuk menyetarakan tingginya, seketika tubuh Alex meremang, ia terpaku saat Essa mencium bibirnya. Dan disaat itulah kedua orang tua Essa datang hingga menimbulkan kesalahpahaman.

...----------------...

Apa kabar reader, selamat datang di karya author yang baru. Ini kisah Essa dan Alex, yang belum tahu awal cerita Alex dan Essa bisa kalian baca di novel aku yang berjudul Godaan Cinta Ibu Susu .

Jangan lupa kasih dukungan untuk karya aku yang baru ini, ya 🤗

Vanessa Aneth ( Menikah)

“Ibu, aku tidak mau!” tolak Vanessa dengan tegas, jika ia tidak mau ditikahkan dengan Alexander Wijaya. 

“Ibu, Ibu tidak kasihan, kah padaku. Aku ini masih sekolah, dan masih muda masih banyak  laki-laki di luaran sana yang mau menjadi pacarku. Tapi Ibu malah memintaku menikah dengan Om tua itu, oh … tidak Ibu.” 

“Ibu pernikahan yang aku impikan adalah pernikahan mewah bersama pria yang aku cinta. Jika aku mengadakan resepsi pernikahan bersama Om tua itu, apa kata temen-temanku Ibu.” 

“Tutup mulutmu dan berhenti bicara!” Sentak Ane yang sudah hilang kesabaran. “Itu salahmu sendiri, kamu pikir Ibu tidak melihat yang kalian lakukan? Lagi pula pernikahan ini tidak akan ada yang tahu kecuali keluarga saja, kalian bisa mengadakan resepsi setelah lulus nanti.” 

“Ibu, sudah berapa kali aku bilang aku tidak melakukannya.” Pembelaan yang tegas dan sama yang juga dilontarkan Alex ketika pria itu diminta menikahi adik ipar bosnya.

Namun, c1uman itu yang membawa mereka ke akhir yang seperti ini. Essa, membuang nafas berat sambil mengerucutkan bibirnya. Di depan gedung tinggi dengan papan nama Lucian Company, Essa jalan mondar-mandir menunggu kedatangan Alex pria yang akan menjadi suaminya jika itu terjadi.

Essa, sangat marah ketika mendengar dari ibunya jika Alex setuju menikah dengannya. Hingga akhirnya Essa ingin bicara langsung dengannya. 

“Ada apa kamu datang kemari, bocah.” Sontak bola mata Essa terbelalak ketika disebut bocah. 

“Hei, Om kau masih bilang aku bocah, sedangkan bocah ini akan menjadi istri mu dua hari lagi. Seharusnya Om marah dan membatalkannya tapi kenapa malah setuju!” 

“Tidak ada yang bisa aku lakukan.” Alex memutar bola matanya malas. Hembusan nafasnya terdengar lelah seakan berarti jika tidak ada yang bisa Alex lakukan selain menerimanya.

“Justru kita harus lakukan sesuatu. Ayo, kita temui Kak Darren, biar dia yang bicara pada ibuku.” 

“Percuma saja Essa,” tahan Alex, ketika Essa hendak menariknya ke dalam untuk menemui Darren. “Lebih baik kamu pulang karena tidak ada yang akan bisa kita lakukan selain kita menikah.” 

“Hei, kau!” 

Essa menunjuk Alex sangat geram, sedangkan Alex, ia terus memijit pelipisnya yang mulai berdenyut menghadapi bocah itu. Tidak akan bisa Alex bayangkan seperti apa hari-harinya nanti. 

Alex menarik telunjuk Essa, yang hampir menusuk matanya. “Kau ingin mempermalukan dirimu, kau tidak lihat sekelilingmu? Jika seperti ini semua orang akan tahu kita akan menikah.” 

Alex menurunkan tangan Essa, gadis itu memindai sekeliling yang tampak melihat kepadanya. Alex, langsung menarik Essa pergi dari sana.

“Masuk, aku akan mengantarmu pulang.” 

“Tidak! Pokoknya aku tidak mau menikah,” rengeknya seperti bocah SD. Alex mengerutkan keningnya menatap Essa dengan tatapan ngeri. 

“Ya, jika aku bisa lakukan aku juga tidak mau menikah denganmu bocah. Seharusnya aku menikahi wanita yang lebih dewasa,” gumam Alex, yang kembali memijat pelipisnya. 

***

Hari pernikahan sudah tiba, di mana hanya keluarga inti saja yang hadir. Dan pernikahan itu diadakan secara tertutup yang diadakan di kediaman keluarga Lucian. 

Essa terus cemberut, wajahnya sama sekali tidak berseri walau ketika sedang dirias. Gaun putih yang anggun melekat ditubuhnya, rambut yang dicepol menambah kesan dewasa dan elegan, Essa kini terlihat seperti gadis dewasa yang akan melepas masa lajangnya, tetapi dadanya yang datar membuat Essa, terus membenarkan atas gaunnya.

“Ya, ampun Tante apa ini tidak akan melorot,” protesnya pada pihak WO. Seorang wanita yang merias dirinya pun tersenyum. 

“Tidak apa sayang, jika itu melorot di depan suamimu,” bisiknya yang menggoda. Essa nyengir, setelah mendengar kata-kata yang menjijikkan itu. Ia jadi lebih takut ketika harus berduaan dengan Alex nanti.

“Ih, kenapa semua orang berkata jorok pagi ini.” 

“Mungkin sekarang itu jorok bagimu, tapi nanti setelah kau merasakannya, kau akan terlena dan tidak berhenti memikirkannya.” 

“Hei! Berhenti mengatakan hal yang tidak berguna di depanku. Sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkan keperawananku selain kepada laki-laki yang aku cinta, jadi cepatlah selesaikan merias wajahku, aku ingin cepat-cepat ini berakhir.” 

Penata rias itu tersenyum dan kembali bicara. “Semua wanita berkata begitu dari awal, tapi tidak setelah malam pertama.” 

“Hei, berisik! Tidak akan ada malam pertama,” protes Essa, si penata rias pun melanjutkan riasannya lagi.

Sementara di kamar lain, Darren dan Maudy berada di kamar Alex, mereka menatap Alex penuh haru—laki-laki itu kini memakai tuxedo hitam yang diberi hiasan bunga di dalam sakunya, tidak lupa dasi kupu-kupu yang menghiasi bagian lehernya.

“Alex, Tante senang akhirnya kamu menikah. Hati Tante sudah tenang sekarang, karena keinginan papa mu akan segera terwujud.” 

“Tante yakin, aku harus menikah dengan Essa?” Alex berharap masih ada waktu untuk membatalkannya. 

“Kenapa Tante tidak yakin. Essa adiknya Sera, keluarganya baik sudah pasti dia juga baik.” 

“Tapi Tante ….”

“Kamu pasti bisa membuatnya lebih dewasa. Biar Essa belajar darimu bagaimana caranya hidup mandiri.” 

Selain untuk membuang rasa trauma Alex di masa lalunya, pernikahan itu juga berharap akan merubah sikap Essa yang manja. Karena Ane ingin Essa menjadi wanita yang mandiri, tidak nakal dan manja. 

Alex dan Essa kini saling berhadapan. Essa, hanya cemberut menatap calon suaminya dengan tatapan membunuh, sedangkan Alex dia bersikap biasa saja. Berusaha tersenyum menyambut para tamu yang datang. 

Janji suci yang telah Alex ucapkan beberapa menit yang lalu berlangsung secara hidmat kini Vanessa Aneth adalah istrinya, walau gadis itu belum menerimanya. 

Selama sesi pemotretan Essa, sama sekali tidak memasang wajah bahagianya. Hingga foto pernikahan mereka terlihat seperti dipaksakan, Essa yang cemberut sambil melirik Alex di sampingnya, sedangkan Alex memasang wajah datar tanpa senyuman. Entahlah, apa itu foto yang bagus untuk dipajang tetapi hanya foto itu yang dibilang sempurna diantara yang lain. 

“Essa, sekarang kamu sudah menjadi istri. Alex adalah suamimu, kamu harus menuruti apa katanya,” pesan Ane yang langsung dibantah oleh Essa.

“Tapi dia bukan orang tuaku yang harus aku turutin.” 

“Essa, tidak boleh begitu. Kamu juga harus melayaninya.” 

“Ibu aku bukan pembantu.” Mata Ane melotot, Essa langsung menaikan bawah bibirnya, “ Ibu bisakah aku tinggal di sini bersama ayah dan ibu. Aku tidak mau pergi dengan pria itu.” Tunjuk Essa pada Alex yang sedang berbicara dengan Darren dan Maudy. 

“Pria itu suamimu kamu harus ikut dengannya.” 

“Ibu, aku masih sekolah.” 

“Memangnya suamimu meminta kamu berhenti sekolah. Dia yang akan mengantarkanmu setiap paginya, dan mulai sekarang kamu tidak bisa lagi bolos.” 

Ya, begitulah Essa yang terlalu nakal. Hingga Ane, tidak sanggup lagi mendidiknya. Ane harap setelah menikah putrinya benar-benar akan berubah. 

“Ane, saatnya mereka pergi,” ujar Maudy kepda Ane agar melepas Essa. Essa terus cemberut dan merengek pada ibunya, Ane hanya bilang “Nanti Ibu dan Ayah akan berkunjung.” 

“Alex, Tante titip Essa padamu, jaga dia untuk Tante.” 

Alex hanya mengangguk, lalu meminta restu kepada Ane dengan cara mencium punggung tangan mertuanya itu. Alex, pun melakukan hal yang sama kepada Joko. Setelah itu masuk ke dalam mobil.

Essa, masih saja merengek ia tidak mau masuk hingga Ane harus memaksanya. Sera dan Darren hanya tersenyum melihat itu.

“Mama, Ati Eca mau pelgi mana?” Lio yang sudah berusia dua tahun kini sudah pasih bicara walau masih kurang jelas. 

“Ate Essa, di bawa sama Om Alex dong.” 

“Tinggal belcama kaya Mama dan Papa?” 

“Hmm …” Sera mengangguk. 

“Belalti pelut Ati Eca bental lagi membecal kaya Mama, ada dede bayi.”

 Lio menunjuk perut Sera, yang kini tengah mengandung lima bulan. Setelah menikah dengan Darren mereka sepakat untuk menunda dulu satu tahun, dan sekarang usia Lio sudah 2 tahun, Sera baru hamil.

Sera dan Darren pun tertawa. 

“Doakan saja semoga cepat nyusul,” ungkap Darren pada putranya. 

Kini mereka semua masuk ke dalam setelah mobil yang dinaiki Essa dan Alex melaju jauh. Mereka sama sekali tidak berbicara, baik Essa ataupun Alex tidak ada yang memulai.

...----------------...

Jangan lupa dukungan Alex dan Essa yang reader. LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAH

Tidak Ada Malam Pertama

Tidak Ada Malam Pertama 

Alex, mengerjapkan mata, memindai sekeliling kamar hingga bola matanya berputar menurun ketika sesuatu yang berat terasa di atas tubuhnya. Sedetik Alex, melenguh — Essa, menindihnya. 

Setelah perdebatan semalam, mereka tidur bersama juga dengan tubuh Essa yang masih mengenakan gaunnya. Alex, menengadah, tubuhnya pun kaku tidak bisa bergerak, ia menatap kosong langit-langit kamar yang tampak polos. Atap polos itu pun tiba-tiba terhiasi bayangan Essa dan dirinya semalam.

Setibanya di apartemen, Alex, sama sekali tidak membantu gadis itu menyeret kopernya. Sambil menggerutu ia menyeret benda itu ke dalam. 

“Suami macam apa kamu Om, tidak pengertian. Istri kecilmu ini dibiarkan menyeret kopernya sendiri,” oceh Vanessa. Alex, tidak peduli ia langsung menyalakan lampu dan melangkah menuju kamarnya. 

Setelah melepas tuxedonya Alex, kembali keluar dan berkata “Masuklah simpan kopermu di dalam.” 

Essa tidak membantah, gadis itu langsung menyeret kopernya. Namun, ketika tiba di dalam ia bertanya, “Apa ini kamarku? Lalu di mana kamarmu?” 

“Di mana?” Alex mengerutkan keningnya. “Ini kamarku juga, di sini hanya ada satu kamar.” 

“What!” Essa terbelalak. “No! Aku tidak mau satu kamar, apa tidak ada kamar lain di sini?” 

“Jika kau tidak mau silakan cari tempat tidur sesukamu. Tapi jangan pernah memintaku keluar dari kamar ini, karena kamar ini milikku.” Alex, dengan tegas. 

Pria itu langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur, acara pernikahan yang berlangsung membuatnya lelah. Essa, mendelik tajam ke arahnya, lalu keluar sambil menjinjing bawah gaunnya. Matanya terus memindai sekeliling apartemen, yang tampak rapi jika hanya seorang lelaki yang mengurusnya. Alex, sepertinya lelaki yang paling bersih, sangat tahu tata letak yang aman, untuk setiap barangnya. Namun, tidak ada tempat untuk dijadikannya kamar, karena apartemen yang kecil dan penuh barang membuat ruangan sempit. 

“Ya, sudah aku tidur di sini saja.” Pikir Essa melihat lantai kosong depan televisi. Ia pun kembali ke kamar untuk meminta sesuatu. 

“Aku akan tidur di luar, tidak masalah,” katanya yang menatap Alex. “Tapi aku minta satu kasur lantai, atau karpet dan selimut juga bantal,” imbuhnya.

Alex, yang sedari tadi tidur kini membuka matanya, dengan tangan yang dilipat di atas perut ia melirik ke arah Essa yang berdiri diambang pintu. 

“Aku tidak punya semua itu.” 

“Apa!” Essa kembali terbelalak. “Apa kau tidak punya selimut satu saja? Kasur lantai atau karpet bulu kau tidak punya? Apa kau semiskin itu, kenapa semua tidak punya.” Essa dengan kesal. 

“Aku hidup sendiri, dan aku pikir tidak membutuhkannya,” jawab Alex enteng. “Aku tidak suka membuang-buang uang untuk barang yang tidak berguna,” sambungnya yang kembali memejamkan mata.

“Ck, sial sekali sih aku menikah denganmu!” Umpat Essa, lalu berjalan ke arah dapur, membuka lemari es lalu mengambil satu buah apel yang ada di dalamnya yang langsung melahapnya. 

Masih dengan emosi dan amarah yang meluap Essa, menghabiskan apelnya lalu melemparkan sisa buah itu ke dalam tong sampah. 

“Ok, aku akan tidur dengannya. Dia pikir aku takut, siapa yang menang dia yang berhak memiliki kamar itu.” Dendamnya kepada Alex.

Essa, memasuki kamar. Berdiam sebentar di depan pintu menatap Alex dengan tatapan membunuh. 

Kedua tangannya mengangkat tinggi bawah gaunnya lalu ia naik ke atas kasur menggeser Alex yang berbaring di sampingnya. Alex, membuka mata ketika merasa sesuatu menggeser tubuhnya, ia pun melirik dengan mata yang membola.

"Hei, apa-apaan kau ini."

"Minggir! Aku juga mau tidur di sini. Kau bilang hanya satu kamar, kan? Ya, sudah aku tidur di sini denganmu." Essa, terus memepet tubuh Alex, ia sengaja melakukan itu agar Alex mengalah.

"Essa, kau bisa diam tidak. Jika mau tidur ... tidur saja jangan seperti ini," umpat Alex ketika Essa menindih kakinya. Ditambah gaun pengantin yang mekar itu membuat Alex semakin gerah.

"Apa kau akan tidur memakai gaun ini?"

"Tentu, kenapa? Aku tidak masalah mau tidur pakai baju ondel-ondel pun. Jangan harap aku akan membuka gaun ini dan kamu akan melihat tubuhku. Tidak akan pernah."

"Terserah kau saja tapi jangan menindihku."

 Mereka terus saja berdebat merebutkan wilayah di atas kasur. Entah, siapa yang mengalah tahu-tahu pagi ini Essa, tertidur nyenyak di atas tubuh Alex.

Alex menghela nafas pelan, lantas mendorong tubuh mungil itu agar menjauh dari atas tubuhnya. Namun, bukannya menjauh Essa semakin mempererat pelukannya seolah Alex sebuah guling.

Alex, hanya diam ketika sesuatu yang hangat menggesek di bawah sana. Alex, memijat pelipisnya, tingkah Essa benar-benar membuatnya kesal.

"Huh, gadis ini benar-benar ... Essa, menjauhlah sebelum aku menerkammu."

"Apa di sini ada seekor singa? Siapa yang mau menerkammu." Essa, malah bergumam.

Alex, sudah tidak tahan yang pada akhirnya ia mendorong paksa tubuh mungil itu hingga terlempar ke bawah lantai.

"Aww!" Essa, meringis tetapi matanya masih terpejam.

Alex, segera turun dari kasur sebelum benda pusakanya mengamuk. Pria mana yang bisa tahan, jika tidur bersama wanita apalagi ini pengalaman pertamanya, dan itu membuat kepalanya berdenyut.

Alex, langsung mengguyur tubuhnya di bawah shower, sesuatu yang hangat dan berdenyut perlahan hilang, pusakanya sudah tenang karena didinginkan air shower.

***

"MMM .... Di mana aku."

Essa menggeliat, sambil merentangkan kedua tangannya. Ia memindai sekeliling kamar yang tampak asing, lantas bergumam.

"Di mana ini, ini bukan kamarku. Ibu ... Ibu kita ada di ...." Seketika matanya membola, Essa terpaku mengingat kejadian semalam.

"Tidak, semalam aku ...." Essa, menyentuh tubuhnya untuk memeriksa apa dia sedang full naked, tapi ternyata gaunnya masih menempel pada tubuh. Essa, pun bernafas lega.

"Kau sudah bangun?" tanya Alex tiba-tiba, Essa langsung menoleh. Ternyata Alex sudah berdiri di ambang pintu.

"Cepat bersihkan dirimu, dan gantilah pakaianmu. Aku simpan handukmu di atas nakas," ujar Alex, lalu kembali ke dapur.

Essa, mengintip sebentar apa yang dilakukan Alex, ternyata pria itu sedang memasak untuk sarapan. Setelah itu Essa, berjalan memasuki kamar mandi tapi sebelum itu ia mengunci rapat kamarnya.

***

"Om, tidak adakah lemari untukku?" teriak Essa dalam kamar. Ia ingin memindahkan baju-bajunya tetapi penuh oleh pakaian Alex.

"Oh my god, Om ini benar-benar miskin, pakaiannya saja hanya sedikit, dasar pria hemat," ejeknya menatap jengkel pada pakaian formal milik suaminya.

"Aish ... pakaiannya tidak bergaya sama sekali. Semua model sama, apa dia tidak tahu trend." Essa terus mengobrak-abrik pakaian Alex.

"Berhenti mengkritik pakaianku Essa!" Akhirnya suara bariton itu terdengar. Essa langsung menoleh.

"Hei, Om di mana aku menyimpan pakaianku. Kau membawaku kemari tapi tidak menyiapkan fasilitas untukku."

"Dengar Essa, aku akan membelinya nanti, sekarang keluarlah untuk sarapan."

"Ok."

Essa, menutup lemari lalu berjalan keluar dari kamar. Alex, membuang nafas berat sambil menatap punggung Essa, yang berjalan ke arah meja makan. Hari-hari yang penuh ketenangan kini ambyar setelah kedatangan istri kecilnya.

"Om, apa ini? Mmm ... ini enak, setidaknya di sini aku tidak sarapan telor ceplok lagi. Aku bosan, ternyata kamu pandai memasak juga Om."

"Oh Tuhan, gadis ini cerewet sekali," gumam Alex, lantas berjalan ke arah meja makan.

Mereka duduk saling berhadapan, Alex hanya diam selama sarapannya. Pria itu tidak bicara sepatah kata pun, tapi Essa, gadis itu terus mengoceh mengomentari masakannya, interior rumahnya, dan kembali membahas pakaiannya.

Lalu, Essa menanyakan tentang semalam. Apa mereka hanya tidur saja atau melakukan hal lain.

"Om, semalam kau tidak melakukan apapun, kan?" Tatapnya penuh curiga.

Alex, menghentikan sarapannya, menyimpan sendok dan garpunya lantas menatap intens ke arah Essa. Alex, memajukan tubuhnya agar mendekat kepada Essa, hingga membuat gadis itu sedikit mundur.

Alex, berkata "Jika semalam terjadi sesuatu apa itu salah? Bukankah kita suami istri."

Jantung Essa, berdetak lebih cepat. Matanya terbelalak.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!