Pagi itu, aroma kopi Arabika yang pahit tapi menggoda tak mampu sepenuhnya menyamarkan bau khas kantor: kertas, tinta, dan sedikit debu dari furnitur lama. Ayana menghela napas, jemarinya lincah menata tumpukan dokumen di mejanya. Jam dinding menunjukkan pukul 07.45. Lima belas menit lagi, kantor ini akan ramai seperti pasar. Ia selalu datang lebih awal, memastikan semuanya siap sebelum kekacauan harian dimulai.
Kantor Megah Jaya. Nama yang menyimpan terlalu banyak kenangan untuknya. Di sinilah ia bertemu Adnan, suaminya yang telah tiada dua tahun lalu. Di sinilah pula ia kini berjuang, mempertahankan posisinya sebagai asisten manajer pemasaran, demi satu-satunya alasan terpenting dalam hidupnya: Arsy, putri kecilnya yang berumur lima tahun.
Menjadi janda muda dengan satu anak di tengah keluarga Adnan, keluarga pemilik Megah Jaya, bukanlah perkara mudah. Setiap langkahnya terasa diawasi, setiap senyumnya ditafsirkan. Ada simpati, ya. Tapi lebih banyak lagi pandangan penuh rasa ingin tahu, bahkan kadang menghakimi. Seolah statusnya sebagai janda adalah sebuah aib, atau paling tidak, beban yang harus ditanggung orang lain.
"Ayana, sudah datang? Rajin sekali," suara melengking Vina, rekan kerjanya di departemen yang sama, memecah keheningan. Vina, dengan riasan tebal dan tas bermerek, selalu tampil sempurna. Mereka seumuran, tapi Vina sudah menikah dengan pengusaha kaya, hidupnya tampak jauh lebih santai. Ayana hanya memaksakan senyum tipis.
"Harus, Mbak Vina. Banyak kerjaan." Ia tak ingin basa-basi. Vina punya kebiasaan mengulik kehidupan pribadi Ayana, menyamar sebagai bentuk perhatian, padahal Ayana tahu itu sekadar gosip.
"Oh ya, kudengar Pak Arfan pulang dari luar negeri kemarin. Langsung masuk kantor hari ini. Sepertinya akan ada rapat direksi mendadak," Vina berbisik, matanya melirik ke arah pintu ruang direktur utama, yang kebetulan adalah kakak ipar Ayana, Harsa.
Arfan. Nama itu sontak membuat jantung Ayana berdesir tipis. Paman Adnan, paman Harsa. Adik bungsu mertuanya, Bapak Wijaya. Pria itu jarang sekali berada di Indonesia. Ia adalah Direktur Pemasaran Internasional, sosok karismatik yang selalu menjadi magnet di setiap pertemuan keluarga atau perusahaan. Usianya mungkin sudah kepala empat, tapi pesonanya justru kian matang. Ayana selalu berusaha menjaga jarak, merasa sungkan dan canggung berinteraksi dengannya.
"Mungkin saja," jawab Ayana singkat, pura-pura fokus pada layar komputernya. Ia merasakan tatapan Vina masih mengawasinya, seolah mencari reaksi yang tak ingin ia tunjukkan. Sial, kenapa harus pagi ini Arfan kembali?
Suara riuh di lobi mulai terdengar. Para karyawan satu per satu memasuki area kerja mereka. Telepon di meja Ayana berdering. "Ya, Bu Harsa?" Ia menjepit gagang telepon di antara telinga dan bahu, tangannya masih mengetik.
"Ayana, tolong siapkan data presentasi proyek London yang terakhir. Taruh di meja Pak Harsa. Lima belas menit lagi rapat," suara Ibu Harsa, istri Harsa, yang juga manajer senior di perusahaan, terdengar instruktif. Ayana mengangguk, padahal tak ada yang melihatnya.
"Baik, Bu." Ia segera beranjak, mencari folder proyek yang dimaksud. Saat ia melewati koridor menuju ruang direksi, langkahnya terhenti. Dari balik pintu kaca ruang rapat, ia melihatnya. Arfan. Pria itu berdiri di samping Harsa, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang pas di tubuh tegapnya. Rambutnya yang sedikit beruban di pelipis menambah kesan berwibawa, namun senyum tipis di bibirnya menyimpan kesan playboy yang belum hilang sepenuhnya.
Tatapan mereka bertemu. Hanya sepersekian detik, namun terasa seperti terperangkap dalam pusaran waktu yang melambat. Mata cokelat gelap Arfan menatapnya lurus, tidak kosong, tidak juga sekadar sapaan formal. Ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang terlalu dalam untuk diartikan. Sebuah kilatan yang membuat Ayana salah tingkah, bahkan merasa sedikit panas di pipinya.
Buruknya, Ayana tidak bisa langsung memutus kontak mata itu. Ada daya tarik aneh, seperti magnet tak kasat mata. Jantungnya berdebar, sedikit lebih cepat dari normal. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan, menunduk, dan mempercepat langkahnya, berpura-pura sangat sibuk.
Setibanya di meja Harsa, ia meletakkan folder dengan sedikit terburu-buru. Rasanya ingin segera kembali ke kubikelnya, jauh dari jangkauan tatapan yang barusan. Tapi belum sempat ia berbalik, pintu ruang rapat terbuka. Arfan keluar lebih dulu, disusul Harsa dan beberapa direksi lainnya.
"Ayana." Suara berat Arfan memanggil. Ayana menegang. Ia berbalik perlahan, berusaha memasang ekspresi profesional dan sopan. "Selamat pagi, Pak Arfan," sapanya, sedikit membungkuk.
Arfan mendekat. Aroma maskulin yang mewah dan elegan menyeruak, menguasai indra penciuman Ayana. Ia tak pernah se-dekat ini dengan Arfan sebelumnya. Pria itu memang sering hadir di acara keluarga, tapi Ayana selalu menjaga jarak, menyibukkan diri dengan Arsy atau membantu mertuanya. Kali ini, tak ada penghalang antara mereka.
"Sudah lama tidak bertemu. Kamu semakin cantik saja, Ayana," ucap Arfan, suaranya pelan, seolah hanya ditujukan untuk Ayana. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, bukan senyum sopan biasa, melainkan senyum yang membuat otot-otot di pipi Ayana terasa menegang. Di belakang Arfan, Harsa dan yang lain sudah berlalu menuju ruang rapat utama.
Pujian itu, begitu tiba-tiba dan tak terduga. Membuat Ayana membeku di tempat. Ia merasa risih sekaligus anehnya, tersanjung. Hatinya berdesir lagi, kali ini lebih kuat, lebih menghangatkan dari yang seharusnya. Pujian itu terdengar begitu tulus, namun mengandung implikasi yang membuatnya waspada. Ini tidak benar. Dia adalah paman dari mendiang suaminya. Dia... keluarga.
"Terima kasih, Pak Arfan. Saya... saya permisi dulu." Ayana mencoba berbalik, jantungnya berdebar kencang. Ia harus pergi, harus segera menjauh.
Namun, Arfan meraih pergelangan tangannya, lembut namun tegas. Sentuhan itu menyetrum. Hangat, kuat, dan penuh kejutan. Ayana terkesiap, matanya membulat. Ia menatap Arfan, yang kini menatapnya dengan intensitas yang lebih dalam lagi. Senyumnya sedikit menghilang, digantikan ekspresi serius yang entah mengapa, terasa lebih berbahaya.
"Tunggu sebentar, Ayana." Suaranya rendah, nyaris berbisik. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, setelah rapat ini. Berdua saja." Jemarinya membelai pelan kulit pergelangan tangan Ayana, sebuah sentuhan yang mengirimkan getaran tak karuan ke seluruh tubuhnya. Matanya memancarkan sesuatu yang bukan sekadar niat pekerjaan. Sesuatu yang terlarang, tapi terasa begitu... manis. Ayana mendapati dirinya tak mampu bergerak, terjebak dalam tatapan memabukkan itu, dan sentuhan yang baru saja melewati garis batas yang tak pernah ia sangka akan tergoyahkan.
Apa yang sebenarnya diinginkan Arfan? Dan kenapa Ayana merasa, jauh di lubuk hatinya, ada sebagian dirinya yang justru menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya?
Semoga Bab 1 ini memantik rasa penasaranmu akan kisah Ayana dan Paman Direktur yang misterius ini. Ikuti terus kelanjutannya!
Ayana menelan ludah, seluruh tubuhnya menegang di bawah tatapan Arfan yang intens.
Pikirannya kosong, hanya menyisakan getaran aneh dari sentuhan jemari pria itu yang masih terasa di pergelangan tangannya. Aroma maskulin Arfan mengisi paru-parunya, campur aduk dengan aroma kertas dan kopi di ruang rapat.
Sebuah deham dari Pak Danu, kepala divisi keuangan, menyadarkan mereka. Rapat harus segera dimulai. Arfan menarik tangannya, senyum tipis kembali merekah di bibirnya, namun matanya masih memancarkan janji tersirat yang membuat Ayana berdebar tak karuan.
Sepanjang rapat, Ayana berusaha mati-matian untuk fokus. Ia mempresentasikan laporan penjualan kuartal ini dengan data yang solid, menjawab pertanyaan dengan sigap, mencoba tampil profesional seperti biasanya.
Namun, sulit. Sesekali, matanya tak sengaja bertemu dengan mata Arfan. Pria itu duduk di ujung meja, menyimak setiap detail, sesekali mengangguk, namun tatapannya pada Ayana selalu lebih dalam dari sekadar apresiasi profesional.
Ada sesuatu yang tak terkatakan, sebuah magnet yang menarik Ayana, mengganggu konsentrasinya. Di sisi lain meja, Vina, rekan kerjanya di divisi pemasaran, tampak mengamati. Ayana bisa merasakan tatapan tajam Vina yang penuh selidik, seolah-olah Vina tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Ayana mencoba mengabaikannya. Ia mengingatkan dirinya sendiri tentang mendiang suaminya, tentang putrinya yang menunggu di rumah. Ia adalah Ayana, janda Almarhum Daniel, ibu dari Maya. Ia tidak bisa terhanyut oleh pesona semu Direktur Arfan, paman dari mendiang suaminya sendiri.
Rapat berakhir. Satu per satu peserta berdiri, merapikan berkas, dan berpamitan. Ruangan perlahan kosong, menyisakan Ayana yang masih membereskan laptopnya dengan gerakan lambat, dan Arfan yang tetap duduk di kursinya, seolah sengaja menunggu.
Jantung Ayana berdegup lebih kencang. Ini dia. Momen yang ia takutkan sekaligus ia nantikan.
Vina, yang terakhir keluar, berhenti di ambang pintu. Ia menoleh ke arah Ayana, lalu ke Arfan, dengan senyum tipis yang terasa dingin. “Jangan sampai kemalaman, Bu Ayana. Besok pagi masih ada evaluasi stok,” katanya, suaranya mengandung nada peringatan yang samar.
“Baik, Bu Vina. Terima kasih,” jawab Ayana, mencoba terdengar normal. Ia bisa merasakan aura permusuhan halus dari Vina. Rasanya Vina memang tidak menyukainya, atau mungkin, tidak menyukai kedekatan yang baru saja ia saksikan antara dirinya dan Arfan.
Vina akhirnya pergi, meninggalkan Ayana dan Arfan berdua dalam keheningan yang menyesakkan.
Arfan berdiri, berjalan pelan mengelilingi meja, mendekati Ayana. Gerakannya tenang, namun setiap langkahnya seolah menghisap udara di sekitar Ayana, membuatnya sulit bernapas. Ia berhenti tepat di samping Ayana, begitu dekat hingga Ayana bisa merasakan kehangatan tubuhnya.
“Sudah selesai?” Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan di telinga Ayana. Bulu kuduk Ayana merinding. “Bagus sekali presentasimu hari ini, Ayana. Selalu detail dan tepat sasaran.”
Ayana memaksakan diri tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak Arfan. Itu tugas saya.”
“Bukan hanya tugas, Ayana. Itu adalah bakat,” Arfan mengoreksi, suaranya lembut. “Daniel beruntung memilikimu. Dia tahu cara memilih orang yang tepat untuk menemaninya membangun perusahaan ini.”
Penyebutan nama Daniel, mendiang suaminya, membuat Ayana sedikit tersentak. Rasa bersalah tiba-tiba mencubit hatinya. Ini paman suaminya. Pria ini adalah bagian dari keluarga yang telah menerima Ayana setelah kepergian Daniel.
“Terima kasih, Pak Arfan. Tapi, ada yang ingin Bapak bicarakan secara khusus?” Ayana mencoba mengalihkan, mengembalikan fokus ke ranah profesional. Ia harus menarik garis tegas.
Arfan terkekeh pelan, suaranya serak dan hangat. “Terburu-buru sekali, Sayang?”
Panggilan ‘Sayang’ itu bagaikan sengatan listrik. Mata Ayana membulat. Ia mengangkat kepala, menatap Arfan, mencari jejak canda di mata pria itu. Namun yang ia temukan hanyalah gairah yang membara, dan sesuatu yang lebih gelap, lebih posesif.
“Pak Arfan…” Suara Ayana tercekat. Ia mencoba menjauh, namun Arfan sudah memutar tubuhnya, menghadap langsung Ayana, menjebaknya di antara meja dan tubuhnya yang kekar.
“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja, Ayana,” bisik Arfan, suaranya berubah serius, namun intonasinya tak sedikit pun mengurangi intensitasnya. “Bagaimana kau dan Maya? Kalian punya semua yang dibutuhkan?”
Ayana mengangguk pelan, otaknya kesulitan memproses pertanyaan Arfan di tengah kedekatan yang memabukkan ini. “Kami baik-baik saja, Pak. Perusahaan sudah sangat membantu saya.”
“Aku tahu.” Arfan mengangkat tangannya, jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh pipi Ayana dengan sangat hati-hati, seolah takut pecah. Sentuhan itu ringan, namun membakar. “Tapi bantuan dari perusahaan itu… tidak cukup, kan? Sebagai paman Daniel, aku merasa punya tanggung jawab lebih.”
Jantung Ayana berdebar tak karuan. Ada yang salah dengan percakapan ini. Ini bukan lagi tentang pekerjaan, atau bahkan tanggung jawab keluarga. Ada intensitas yang berlebihan dalam sorot mata Arfan, dalam sentuhannya.
“Pak Arfan, saya…” Ayana mencoba protes, namun kata-katanya tertelan ketika ibu jari Arfan mengusap lembut tulang pipinya, lalu turun perlahan, menyusuri garis rahangnya yang tajam.
“Ayana…” Suara Arfan semakin rendah, nyaris tak terdengar. Matanya menatap bibir Ayana, lalu kembali ke matanya, seolah meminta izin. Ada keraguan singkat di sana, namun lebih banyak tekad.
“Aku tahu ini mungkin salah.” Ia mengakui, sebuah pengakuan yang membuat Ayana tersentak. “Tapi sejak Daniel pergi, dan kau datang ke perusahaan ini… aku tak bisa berhenti memikirkanmu.”
Pengakuan itu meledak seperti kembang api di dalam benak Ayana. Sebuah pengakuan terlarang, dari paman mendiang suaminya, kepada jandanya. Rasanya salah, sangat salah. Namun, entah kenapa, ada sebagian dirinya yang merasakan desiran aneh, sebuah kelegaan yang mengerikan.
“Aku… aku tidak mengerti, Pak Arfan,” Ayana tergagap, mencoba menyangkal perasaan yang perlahan merayap naik. Ia harus menolaknya. Ia harus menjauh.
Arfan menggeleng pelan, senyum tipis muncul lagi, kali ini lebih pahit. “Tidak perlu pura-pura tidak mengerti, Ayana. Tatapanmu… setiap kali mata kita bertemu, aku tahu kau merasakan hal yang sama.”
Ayana tersentak. Apakah sejelas itu? Apakah tatapan matanya selama ini telah mengkhianati pertahanan dirinya?
“Tidak. Itu tidak benar,” Ayana bersikeras, meskipun suaranya lebih seperti bisikan. Panas menjalar di wajahnya. Ia berusaha mendorong Arfan menjauh, namun tangan Arfan kini telah menangkup pipinya, menahan wajahnya dengan lembut namun tegas.
“Dengar, Ayana,” bisik Arfan, mencondongkan tubuhnya semakin dekat. Hidungnya nyaris menyentuh hidung Ayana. Napasnya hangat, membelai kulit Ayana. “Aku tahu kau wanita terhormat, istri dari keponakanku. Tapi takdir kadang punya rencana yang lebih rumit.”
“Aku melihat kesepian di matamu,” lanjut Arfan, suaranya menghipnotis. “Aku melihat beban yang kau pikul sendiri. Dan aku melihat gairah yang kau kubur dalam-dalam.”
Ayana memejamkan mata, memohon agar kata-kata itu berhenti, memohon agar dirinya bisa menghilang. Gairah yang ia kubur dalam-dalam… bagaimana Arfan bisa melihatnya?
“Buka matamu, Ayana,” perintah Arfan, lembut namun mutlak. Ayana menurut, matanya terbuka perlahan, langsung bertemu dengan tatapan Arfan yang membakar.
“Aku bisa memberimu apa yang tidak bisa diberikan Daniel lagi. Apa yang kau butuhkan sebagai seorang wanita,” bisik Arfan, jempolnya mengusap sudut bibir Ayana. Sebuah isyarat yang begitu vulgar, namun entah mengapa, Ayana tak mampu menolak.
Napas Ayana tercekat. Seluruh logikanya berteriak bahaya, namun tubuhnya, jiwanya yang kesepian, merespons sentuhan dan kata-kata Arfan dengan cara yang mengerikan, cara yang memabukkan.
“Jangan terlalu cepat menolak, Ayana,” Arfan melanjutkan, suaranya melunak, namun matanya semakin dalam. “Biarkan aku menunjukkan padamu… betapa manisnya dosa yang bisa kita rasakan bersama.”
Arfan memiringkan kepalanya, matanya terkunci pada bibir Ayana, dan Ayana tahu. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia harus mendorongnya. Ia harus berteriak. Tapi bibirnya terasa terkunci, jantungnya berpacu gila, dan ada sesuatu dalam dirinya yang secara tak sadar, menginginkan sentuhan itu.
Ia bisa merasakan napas Arfan di bibirnya. Selangkah lagi. Satu dorongan kecil, dan ia akan aman. Tapi tubuhnya menolak bergerak. Dan saat Arfan menutup jarak itu, Ayana tidak melawan, bahkan ketika bibir pria itu menyentuh bibirnya, lembut, lalu perlahan menekan, menuntut lebih.
Bibir Arfan menempel. Lembut di awal, seperti penjajakan yang hati-hati, lalu perlahan menekan, menuntut lebih. Ayana tidak melawan. Bahkan ketika lidah Arfan dengan lembut menyentuh bibirnya, meminta akses, tubuh Ayana menegang, tapi benaknya seolah lumpuh. Ini salah. Sangat salah. Namun, detak jantungnya yang bergemuruh di telinga, panas yang menyebar dari bibir ke seluruh tubuhnya, berkata lain.
Ia merasakan Arfan memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman itu. Tangannya bergerak, salah satunya naik untuk menangkup pipi Ayana, ibu jarinya membelai lembut kulit di bawah matanya. Sensasi itu, sentuhan maskulin yang asing namun terasa begitu pas, membuat Ayana memejamkan mata. Ia mencium aroma maskulin Arfan, perpaduan kopi, mint, dan wewangian mahal yang memabukkan.
Napanya memburu, seiring Arfan semakin berani. Ciuman itu menjadi lebih intens, lebih dalam, mengikis sedikit demi sedikit pertahanan yang Ayana bangun selama bertahun-tahun. Ia bahkan tak sadar kapan tangannya sendiri terangkat, mencengkeram erat kemeja linen Arfan di bahu, seolah mencari pegangan, atau justru menarik pria itu lebih dekat.
Pikirannya berteriak tentang mendiang suaminya, tentang anaknya, tentang rasa malu dan dosa. Tapi sensasi itu, rasa takut dan gairah yang campur aduk, terlalu kuat. Arfan menarik diri sedikit, hanya cukup untuk memberi Ayana ruang bernapas, tapi tatapan matanya tetap mengunci, seolah menelanjangi jiwanya. Nafasnya memburu, bibirnya bengkak dan merah.
“Manis sekali,” bisik Arfan, suaranya serak, matanya berkilat penuh kemenangan. Ibu jarinya mengusap sudut bibir Ayana, membersihkan sedikit saliva yang tertinggal. Gerakan kecil itu, begitu intim, membuat pipi Ayana memanas. Ia merasa seperti baru saja terbangun dari mimpi buruk yang indah, atau justru mimpi indah yang akan menjadi malapetaka.
Ayana mendorong Arfan, kali ini dengan tenaga yang nyata. Arfan membiarkannya, mundur beberapa langkah, seringai kecil terukir di bibirnya. “Saya… saya harus pergi,” kata Ayana, suaranya gemetar, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan buru-buru meraih tasnya.
“Hati-hati di jalan, Ayana,” ucap Arfan, nadanya begitu santai, seolah ciuman barusan hanyalah obrolan ringan. Kontras sekali dengan badai di dalam diri Ayana. Ia tak berani menatap Arfan lagi, buru-buru meninggalkan ruangan itu, jantungnya masih berdebar kencang.
Sepanjang perjalanan pulang, bayangan bibir Arfan, sentuhannya, dan bisikannya terus berputar di benaknya. Rasa bersalah menghimpitnya. Bagaimana bisa ia, seorang janda yang seharusnya menjaga nama baik mendiang suaminya, membiarkan hal itu terjadi? Apa yang akan dikatakan putranya jika tahu?
Sesampainya di rumah, Ayana langsung masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air dingin, berharap bisa menghapus jejak Arfan, jejak dosa yang terasa begitu manis itu. Namun, aroma Arfan seolah melekat di kulitnya, di pori-porinya. Setiap sentuhan air dingin justru memperjelas ingatan tentang panasnya bibir pria itu.
Pagi berikutnya di kantor, Ayana berusaha keras bersikap normal. Ia mengenakan blouse berlengan panjang, rok pensil, dan sepatu hak yang membuatnya terlihat profesional. Matanya sesekali melirik ke arah ruangan Arfan, yang tertutup. Ia berharap tidak bertemu pria itu, setidaknya untuk hari ini. Wajahnya terasa panas hanya membayangkan tatapan mata Arfan yang penuh arti.
Saat ia sibuk menata berkas di mejanya, pintu ruangan Arfan terbuka. Jantung Ayana mencelos. Arfan keluar, mengenakan setelan jas abu-abu gelap, rambutnya tertata rapi. Ia tampak… lebih tampan dari biasanya. Dan lebih berbahaya. Mata mereka bertemu sebentar, dan seringai tipis muncul di bibir Arfan. Ayana segera mengalihkan pandangan, berpura-pura sangat sibuk.
“Ayana, bisa ke ruangan saya sebentar?” suara Arfan terdengar profesional, namun entah mengapa Ayana merasa ada nada lain di sana, nada yang hanya bisa ia tangkap. Ayana mengangguk kaku, berusaha keras agar kakinya tidak gemetar saat berjalan menuju ruangan Arfan.
Di dalam ruangan, Arfan sudah duduk di balik meja kerjanya. Ruangan ini, yang kemarin menjadi saksi bisu kejatuhannya, kini terasa lebih sesak. Ayana berdiri kaku di depan meja, menghindari tatapan Arfan.
“Saya punya proyek baru yang cukup besar,” Arfan memulai, suaranya tenang. “Proyek merger dengan perusahaan properti dari Singapura. Saya ingin kamu yang menangani ini bersama saya.”
Ayana terkejut. “Saya, Pak?” Ia hanya seorang manajer junior, biasanya menangani hal-hal kecil. Proyek merger sebesar itu biasanya ditangani oleh tim senior, atau langsung oleh Vina sebagai Direktur Keuangan.
“Ya, kamu. Saya butuh seseorang yang detail, punya etos kerja tinggi, dan bisa dipercaya,” jawab Arfan, matanya kini menatap Ayana lurus, menembus. “Dan saya percaya kamu punya semua itu.”
Percaya, atau punya motif lain? Ayana menelan ludah. Ini adalah kesempatan besar untuk kariernya, tapi juga berarti harus bekerja sangat dekat dengan Arfan. Sangat dekat, terlalu dekat. Bahaya yang terasa begitu manis.
“Tapi… bukankah biasanya proyek sebesar ini ditangani oleh Bu Vina, atau tim senior?” Ayana mencoba mengelak, mencari alasan. Ia tidak siap untuk berada di pusaran Arfan lagi, terutama setelah kejadian kemarin.
Arfan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, senyum tipis masih melekat di bibirnya. “Vina sedang sibuk dengan proyek internal lain. Dan saya pribadi merasa kamu lebih cocok. Kita akan mulai besok, dan ini akan butuh banyak waktu lembur. Mungkin sampai larut malam.”
Kalimat terakhirnya diucapkan dengan penekanan yang Ayana rasakan hingga ke tulang. Larut malam. Berdua saja. Di kantor yang sepi. Arfan sengaja melakukan ini. Ia menciptakan jebakan, sebuah skenario yang mustahil dihindari Ayana tanpa terlihat tidak profesional. Ini bukan hanya tentang pekerjaan, ini adalah undangan. Undangan untuk kembali mencicipi dosa yang memabukkan.
“Jadi?” Arfan mengangkat alisnya, menunggunya menjawab. Ada tantangan di matanya, sebuah janji tersirat yang membuat perut Ayana melilit. Menolak berarti menutup pintu pada kesempatan emas karier, tapi menerima berarti membuka pintu lebar-lebar untuk godaan yang semakin nyata. Ia terperangkap. Arfan berhasil menjeratnya.
Ayana menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat. “Baik, Pak,” jawabnya pelan, seperti baru saja menandatangani kontrak dengan iblis.
Senyum Arfan semakin lebar. “Bagus. Saya sudah siapkan ruang kerja khusus untuk kita berdua di lantai ini. Lebih nyaman, dan privasi lebih terjaga. Kita bisa mulai rapat pertama sore ini di sana.”
Ruang kerja khusus? Privasi lebih terjaga? Ayana merasa seluruh darahnya berdesir dingin. Pria ini bergerak cepat, lebih cepat dari yang ia duga. Pria ini tidak main-main. Ia tidak hanya menginginkannya, tapi juga bertekad mendapatkannya. Dan kini, ia tak bisa lari kemana-mana. Ia sudah ada di dalam sarang singa, dan singa itu baru saja menutup rapat pintunya. Sebuah bayangan melintas di benaknya, sosok Vina yang kejam, yang seolah mengawasinya dari jauh. Ayana tahu, jika Vina tahu tentang ini, hidupnya akan berakhir. Tapi, bagaimana caranya ia bisa menolak pesona Arfan yang berbahaya itu?
“Siapkan materi presentasi awal untuk pukul empat nanti, Ayana,” kata Arfan, suaranya kini terdengar begitu lembut, namun penuh otoritas. “Dan jangan lupa, panggil saya Arfan di luar jam kerja. Kita ‘kan akan sering bertemu.”
Ayana hanya bisa mengangguk, lidahnya kelu. Jantungnya bergemuruh. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan dalam skenario yang sudah direncanakan begitu matang ini? Ia tahu ia sudah melangkah terlalu jauh. Dan mungkin, justru ia sendirilah yang menginginkannya.
Saat Ayana keluar dari ruangan Arfan, ia melihat Vina berdiri di dekat dispenser air, menatapnya dengan tatapan tajam dan curiga. Mata Vina seolah menembus, mencoba membaca apa yang baru saja terjadi di dalam sana. Ayana merasa hawa dingin menjalari tulang punggungnya. Perangkap Arfan, dan kini tatapan tajam Vina. Ia benar-benar dalam masalah besar. Malam ini, ia harus lembur dengan Arfan. Berdua. Di ruangan ‘pribadi’ mereka. Ayana tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya tahu, ia tidak punya pilihan. Ia harus masuk ke dalam perangkap itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!