Disebuah rumah sederhana, seorang gadis imut dan manis baru saja membuka kedua matanya. Aurora Felicia atau biasa dipanggil Cia. Gadis manis berusia 16 tahun yang kini duduk di bangku SMA kelas 11 di sebuah sekolah swasta.
"Eughhh.... Jam berapa ini" gumam Cia sambil melihat kearah jam dinding. Melihat jarum jam menunjukan pukul 05.30 pagi, Cia langsung terlonjak kaget.
"Ya ampun, kenapa aku bisa kesiangan" ucap Cia yang bergegas bangun dari tidurnya.
Dengan cepat, Cia berlari menuju kamar mandi. Tidak membutuhkan waktu lama, Cia sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Setelah siap, Cia bergegas ke dapur untuk membantu orang tuanya.
"Pagi ibuku tersayang. Maaf ya Cia telat bangunnya" ucapnya yang langsung memeluk sang ibu.
"Ehh ya ampun Cia, kebiasaan deh kamu bikin ibu kaget tahu gak" ucap Rini.
"Maaf Bu" ucap Cia sambil tersenyum.
"Yaudah, sekarang sebaiknya kamu duduk sana. Ibu lagi masak sarapan buat kamu. Tapi maaf ya, hari ini kita cuma sarapan pakai tahu goreng dan sambal aja".
"Juragan Seno belum bayar gaji ibu sama bapak" ucap Rini merasa bersalah karena tidak bisa menyediakan sarapan terbaik untuk Cia.
"Bu, gak papa. Ibu gak perlu minta maaf. Buat Cia, makanan apapun akan terasa istimewa karena ibu yang masak" ucap Cia.
Rini langsung tersenyum mendengar ucapan putrinya. Rini benar-benar merasa sangat bersyukur karena memiliki putri yang sangat mengerti keadaannya.
Rini dan suaminya Joko hanya seorang buruh tani di desa. Hidupnya yang sering kekurangan membuat Rini terkadang merasa sangat bersalah pada putrinya.
Sebagai orang tua, dirinya tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk putrinya.
"Maafin ibu ya Cia, karena belum bisa menjadi orang tua yang terbaik buat kamu" ucap Rini.
"Bu, kok bilang gitu si. Bagi Cia, Ibu dan bapak adalah orang tua terbaik di dunia" ucap Cia yang langsung memeluk sang ibu.
"Wahh ada apa ini, kok pagi-pagi udah pelukan kaya gini. Mana gak ajak-ajak bapak lagi" ucap Joko yang merasa bingung melihat istri dan anaknya yang sedang berpelukan.
"Ehh bapak, sini kita berpelukan bertiga" ajak Cia.
Joko sendiri langsung menurut, dirinya langsung ikut berpelukan bersama anak dan istrinya. Walaupun Joko sendiri tidak tahu kenapa mereka berpelukan.
"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Joko setelah selesai berpelukan.
"Gak papa pak, tadi kita cuma lagu pengin berpelukan aja" jawab Cia.
"Beneran gak ada apa-apa nih?" tanya Joko lagi.
"Iya beneran pak. Udah sebaiknya sekarang kita duduk, ibu udah selesai masaknya tuh. Ayo mulai aja sarapannya, aku udah laper nih" ucap Cia sambil tersenyum.
"Yaudah ayo ayo. Kasihan anak bapak udah kelaperan ya" ucap Joko.
Dengan menu yang sangat sederhana, Cia dan kedua orang tuanya sarapan dengan disertai canda dan tawa. Kehangatan sangat terasa di rumah kecil tersebut.
"Terima kasih tuhan, udah menghadirkan mereka di hidupku. Aku gak tahu kalau gak ada mereka berdua gimana nasib hidupku".
"Pokoknya aku harus belajar yang rajin biar bisa lulus dengan nilai terbaik. Setelah itu aku bisa cari kerja biar bisa menghasilkan uang yang banyak buat membantu ibu dan bapak".
"Kasihan mereka, selama ini banting tulang buat aku" batin Cia.
Selesai sarapan, Cia bergegas membereskan piring dan gelas yang baru saja dipakai.
"Udah Cia, biar ibu aja yang beresin. Lebih baik sekarang kamu berangkat. Ini udah jam berapa, nanti kamu telat loh" ucap Rini.
"Udah gak papa Bu, aku beresin ini dulu ya. Ini cuma sebentar aja kok. Lagian juga baru jam 06.30 masih ada 30 menit lagi sebelum bel masuk" ucap Cia.
"Ibu kamu benar Cia. Udah sebaiknya sekarang kamu berangkat ke sekolah aja. Nanti ini biar bapak sama ibu aja yang beresin" ucap Joko.
"Em yaudah deh. Kalau gitu Cia berangkat sekolah dulu ya" pamitnya sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
"Iya, kamu hati-hati ya. Lihat-lihat kalau mau nyebrang" ucap Rini.
"Iya Bu, tenang aja aku pasti hati-hati kok. Yaudah kalau gitu aku berangkat dulu ya" ucap Cia.
"Iya nak" ucap Joko dan Rini kompak.
Dengan wajah cerianya, Cia mulai mengayuh sepedanya menuju sekolah. Butuh 15 menit untuk Cia sampai di sekolah.
Disaat teman-teman sekolah Cia berangkat menggunakan sepeda motor, tanpa rasa malu dan gengsi Cia mengayuh sepeda kesayangannya itu menuju sekolah.
Walaupun di sekolah, Cia sering kali di ejek karena hanya dirinya yang berangkat sekolah menggunakan sepeda. Tapi Cia tidak pernah menanggapi ejekan teman-temannya.
Bagi Cia, ejekan teman-temannya adalah motivasi untuknya agar bisa menjadi orang yang sukses di kemudian hari.
Disebuah mansion yang sangat megah, terdapat seorang wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik sedang duduk di sebuah kamar sambil memegang baju bayi.
Wajahnya yang cantik terlihat basah oleh air mata yang sejak tadi terus keluar dari matanya.
"Hiks...hiks...".
"Kamu dimana princess. Mommy kangen sama kamu sayang".
"Maafin mommy sayang, karena gak bisa jagain kamu. Kalau kamu masih ada pasti sekarang kamu udah besar, umurmu sudah 16 tahun sayang" gumamnya dengan nada pilu.
Tanpa disadari, sejak tadi seorang pria paruh baya yang juga terlihat masih sangat gagah ikut meneteskan air matanya melihat kondisi istrinya.
Pria tersebut adalah James smith. Pemilik AFS group yang merupakan perusahaan terbesar yang ada di Indonesia.
Sambil menguatkan hatinya, James berjalan menghampiri sang istri.
"Sayang, kenapa kamu ada disini. Ini udah waktunya sarapan loh" ucap James sambil menahan air matanya agar tidak kembali menetes.
"Aku belum lapar mas. Jadi lebih baik aku duduk disini aja" ucap Aletta istri James.
Iya, Aletta smith adalah istri dari James. Aletta adalah wanita yang sangat James cintai.
"Jangan seperti ini sayang, kalau kamu telat sarapan bisa sakit loh. Sarapan dulu yuk, sedikit aja" bujuk James.
"Aku merindukan putri kita mas. Kapan kamu bisa menemukan keberadaanya. Sudah 15 tahun tapi kamu belum juga bisa menemukan putri kita mas" ucap Aletta sambil meneteskan air matanya.
"Maaf sayang. Aku benar-benar minta maaf. Tapi aku yakin, bisa menemukan putri kita. Sabar ya" ucap James sambil memeluk Aletta.
"Kapan itu terjadi mas. Aku udah sabar selama 15 tahun tapi apa, putri kita belum juga ditemukan".
"Bagaimana keadaan putri kita. Apa dia baik-baik aja. Apa dia aman di luar sana. Apa dia hidup dengan baik di luar sana" ucap Aletta mulai meninggikan suaranya.
"Tenang sayang jangan emosi seperti ini. Ingat kondisi tubuh kamu. Dokter bilang kamu gak boleh terlalu emosional kan. Itu bisa memperburuk kondisi kamu" ucap James mencoba terus menengkan istrinya.
"Gimana aku bisa tenang mas. Putri kita, putri kesayangan kita. Cucu perempuan satu-satunya di keluarga Smith".
"Sampai sekarang kita belum tahu gimana kabarnya" ucap Aletta.
James sendiri hanya bisa memeluk Aletta dengan erat. Dirinya benar-benar merasa sangat bersalah karena belum bisa menemukan keberadaan putri kesayangannya.
James dan Aletta memang mempunyai empat orang anak. Tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan.
Dimana anak perempuannya adalah anak yang sudah dinantikan oleh semua orang. Saat putrinya lahir, semua keluarganya merasa sangat bahagia.
Tapi sayang, kebahagiaan itu tiba-tiba bilang saat putrinya diculik 15 tahun yang lalu. Dimana saat itu putrinya masih berusia 1 tahun.
"Sayang dengerin aku, kamu harus sarapan ya. Aku janji akan lebih berusaha lagi mencari keberadaan putri kita".
"Aku pasti bisa segera menemukan keberadaanya. Bukan hanya kamu sayang, aku sebagai Daddy juga sangat ingin bertemu dengan putri kita".
"Maafin aku ya sayang, karena aku gak bisa menjaga putri kita dengan baik sehingga semua ini terjadi" ucap James.
Sedangkan di salah satu kamar, terdapat seorang pemuda yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.
Dengan penampilan yang sedikit kurang rapi pemuda tersebut sedang duduk di balkon kamarnya sambil menghisap rokok.
Pemuda tersebut adalah Reynand Smith. Putra ketiga James dan juga Aletta. Reynand masih berusia 18 tahun, saat ini dirinya masih berstatus pelajar kelas 12 di sekolah milik keluarganya.
Melihat jam di tangannya menunjukan pukul 07.00 pagi, Reynand langsung mematikan rokoknya dan bergegas berangkat ke sekolah.
Sampai di meja makan wajah dingin Reynand langsung berubah sendu melihat meja makan yang kosong.
"Huft.... Seperti biasa sepi" gumam Reynand.
Kepala maid yang melihat Reynand melewati meja makan langsung memanggilnya.
"Tuan muda, sarapan dulu" panggil Bi Ratih yang merupakan kepala maid di mansion keluarga Smith.
"Enggak bi, aku mau langsung berangkat aja" ucap Reynand.
"Tapi tuan muda...".
Belum sempat Bi Ratih melanjutkan ucapannya, Reynand sudah berjalan keluar mansion.
"Kasihan tuan muda, selama ini dia kurang kasih sayang. Nyonya Aletta masih terus bersedih karena kehilangan putrinya".
"Bahkan mansion ini pun semakin terasa sepi setelah kedua kakak tuan muda juga jarang pulang" ucap bi Ratih.
Di luar, Reynand langsung menyalakan mesin motornya. Dengan kecepatan tinggi, Reynand melajukan motor kesayangannya menuju sekolah.
Sampai di sekolah, Cia langsung memarkirkan sepedanya. Saat akan berjalan menuju kelas, tanpa sengaja Cia bertemu dengan sahabatnya.
"Cia" panggil Mia.
Mia, adalah sahabat satu-satunya yang Cia miliki. Disaat semua teman-teman sekolahnya tidak ada yang mau berteman dengannya, hanya Mia lah yang mau berteman dengannya.
"Eh Mia" ucap Cia.
"Ayo ke kelas bersama. Oh iya, aku dengar-dengar dokter yang akan melakukan penyuluhan hari ini ganteng loh. Aku jadi gak sabar pengin cepat-cepat bertemu sama dokter itu" ucap Mia dengan antusias.
"Ya ampun kamu tuh ya, pagi-pagi udah gosip aja" ucap Cia sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya.
"Ihh ini tuh bukan gosip tahu. Lihat aja, kamu pasti akan terpesona saat lihat dokter ganteng itu nanti" ucap Mia.
"Udah udah gak usah bahas dokter yang katanya ganteng itu. Lebih baik sekarang kita ke kelas aja. Nanti keburu bel masuk" ucap Cia.
"Loh kok ke kelas si. Kita kan disuruh kumpul di aula sekolah. Semalam Bu indah kasih tahu di grup kelas" ucap Mia.
"Oh gitu, yaudah ayo kita ke aula sekolah" ajak Cia.
Cia sendiri tidak memiliki ponsel, karena itu jika ada pengumuman atau berita apapun dirinya selalu ketinggalan.
Biasanya Mia lah yang memberitahunya jika ada pemberitahuan dari wali kelas. Cia sendiri tidak pernah memaksa kedua orang tuanya untuk membelikan ponsel. Karena Cia sendiri tahu bagaimana kondisi ekonomi keluarganya.
"Ayo" ucap Mia.
Cia dan Mia berjalan menuju aula sekolah. Sampai di aula sekolah sudah banyak murid yang berkumpul.
"Wahh udah ramai ternyata. Ayo Cia kita duduk di sana aja" ajak Mia yang langsung menarik tangan Cia.
"Ehh iya tunggu, pelan-pelan Mia" ucap Cia.
"Hehehe maaf, aku takut keduluan murid lain soalnya" ucap Mia.
Baru saja Cia dan Mia duduk, tiba-tiba seorang pemuda duduk di sebelah Cia.
"Hai Cia" sapa Rendy sambil tersenyum.
"Ehh hai kak" ucap Cia merasa sedikit takut.
Rendy adalah murid populer di sekolah. Wajah Rendy yang tampan membuat banyak murid perempuan yang mengejarnya. Selain itu, Rendy juga merupakan ketua OSIS.
Tapi selama ini Rendy tidak pernah menanggapi murid-murid yang mencoba mendekatinya. Bahkan Rendy juga selalu bersikap dingin dan cuek.
Hanya pada Cia lah Rendy bersikap lembut dan mau berbicara.
"Kamu kenapa, kok kaya takut gitu si?" tanya Rendy.
"Ehh gak papa kak" bohong Cia.
Sebenarnya Cia memang takut jika berbicara dengan Rendy. Karena banyak murid-murid wanita yang akan menatapnya dengan tatapan benci kalau mereka melihat idola mereka berbicara dengan dirinya.
"Beneran gak papa. Tapi kenapa aku merasa kamu terus menghindar dari aku. Kamu gak pernah natap aku kalau kita lagi bicara".
"Apa ada yang ngancam kamu?".
"Cerita sama aku" ucap Rendy.
"Enggak ada kak. Udah aku beneran gak papa kok" ucap Cia.
"Hufttt....".
"Yaudah deh kalau kamu gak mau cerita. Kalau gitu aku mau lanjut mempersiapkan acara ini dulu ya" pamit Rendy.
"Iya kak silahkan" ucap Cia.
Rendy sendiri sebenarnya tidak ingin beranjak dari tempat duduknya. Dia ingin tetap duduk di sebelah Cia. Tapi sebagai ketua OSIS banyak hal yang harus dia persiapkan.
Setelah Rendy pergi, Cia langsung menghela nafas lega.
"Huft.... Akhirnya" gumam Cia.
Mia yang sejak tadi hanya menyimak percakapan Cia dan Rendy langsung menepuk pundak sahabatnya itu.
"Cia, aku tahu kamu takut kalau sampai Susan dan teman-temannya lihat kamu lagi ngobrol sama kak Rendy kan. Makannya tadi wajah kamu kelihatan gelisah gitu" ucap Mia.
"Iya, aku cuma gak mau aja nambah masalah. Apalagi berurusan sama Susan. Kamu tahu kan gimana sifat dia" ucap Cia.
Susan adalah salah satu dari sekian banyak murid wanita yang menyukai Rendy. Selama ini Susan bersama kedua temannya yaitu Tania dan Mila selalu saja membully para murid yang mencoba mendekati Rendy.
Susan sendiri memiliki sebuah geng bernama the queen. Geng mereka banyak ditakuti para murid karena mereka tahu Susan adalah anak dari kepala sekolah.
Jadi selama ini tidak ada yang berani berurusan dengan Susan dan gengnya itu.
"Iya si, dia itu selalu aja sok berkuasa di sekolah ini. Aku tuh sebel banget tahu kalau lihat dia sama gengnya itu" ucap Mia.
"Shuttt....".
"Jangan bilang kaya gitu, gimana kalau ada yang denger" ucap Cia sambil melihat sekitar untuk memastikan tidak ada Susan dan gengnya itu.
"Oh iya lupa. Abisnya aku kesel banget sama nenek lampir itu. Dia itu selalu aja berlaku seenaknya" ucap Mia meluapkan kekesalannya.
"Sabar, sabar. Ingat, sebentar lagi kamu mau ketemu sama dokter yang kamu bilang ganteng itu kan".
"Jadi udah gak usah marah-marah gitu. Nanti cantiknya ilang loh" ucap Cia.
"Hufttt....".
"Iya kamu benar. Tapi tetap aja Susan itu nyebelin tahu gak" ucap Mia.
Tidak lama, orang yang Cia dan Mia bicarakan datang. Siapa lagi kalau bukan Susan dan kedua temannya.
Seperti biasa, dengan sombongnya Susan mengusir murid yang sudah duduk sejak tadi di posisi depan.
"Minggir" usir Tania.
"Iya ih, minggir minggir. Kita mau duduk tahu" usir Mila.
Dengan patuh, murid tersebut langsung beranjak dari duduknya. Dia tidak ingin berurusan dengan Susan dan juga gengnya.
"Nah gitu dong tahu diri. Tempat duduk ini tuh khusus buat geng the queen" ucap Tania.
Di bangku belakang, Mia yang melihat kejadian tersebut merasa sangat kesal.
"Astaga mereka tuh ya emang nyebelin banget tahu gak. Suka banget bersikap seenaknya gitu".
"Padahal baru aja kita membicarakan mereka. Eh orangnya udah langsung muncul aja" ucap Mia.
"Ehh udah gak usah ikut campur. Nanti yang ada kita kena masalah sama mereka. Emangnya kamu mau" ucap Cia.
"Gak mau si, tapi aku kesel aja lihat kelakuan sok mereka Cia" ucap Mia.
"Udahlah, sebaiknya kita hindari bermasalah sama mereka. Kamu tahu sendiri kan mereka siapa" ucap Cia.
"Iya si kamu benar. Nanti yang ada kita di keluarin dari sekolah lagi" ucap Mia.
"Nah itu, makanya udah diam aja" ucap Cia.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!