Indonesia
NovelToon NovelToon

Between Love And Lies

Bab 1: Evelyn Valencia Ariesandy

"Ambilkan gaun hitamku yang baru saja datang dari Paris dua hari lalu. Aku akan memakainya di acara amal malam ini." Perintah seorang wanita cantik berambut panjang itu dengan arogan kepada pelayan wanitanya.

"Maaf, Nyonya! Tapi.... apa gaun itu tidak terlalu terbuka untuk acara formal seperti ini? Tuan mungkin akan marah jika anda tetap bersikeras untuk mengenakannya." Ucap seorang kepala pelayan wanita mengingatkan dirinya walau dengan penuh keraguan.

Wanita yang dipanggil dengan sebutan "Nyonya" itu lalu tersenyum sinis kearahnya. "Justru itu tujuanku. Jika dia marah, itu malah bagus. Setidaknya aku tahu bahwa suamiku tercinta masih memperhatikan istrinya yang malang ini. Bukankah begitu, Bibi Almira?" Tanyanya dengan nada penuh sindiran kearah kepala pelayan wanita yang ia panggil dengan nama Almira itu.

Bibi Almira hanya tertunduk diam dan tidak berani membantah lagi.

Pelayan tersebut membawakan gaun yang dimaksud kehadapan Evelyn yang sedang duduk di atas ranjangnya. Gaun malam berbahan satin hitam itu memiliki belahan tinggi di paha—menambah kesan dramatis dan sensual saat melangkah.

Bibi Almira terlihat cemas, melihat sikapnya hari ini. Namun ia tak bisa mencegahnya berbuat sesuka hati. Ia tahu betul bagaimana sikap wanita yang dibesarkan sendiri olehnya sejak masih bayi itu, keras kepala dan semaunya sendiri. Seakan segalanya harus berjalan sesuai dengan keinginannya.

Evelyn Valencia Ariesandy, nama wanita itu. Ia memiliki kecantikan yang membuat banyak wanita menjadi iri, kulit putih mulus, dan bentuk tubuh ideal yang cocok mengenakan gaun apapun.

Dua tahun yang lalu, karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua belah pihak keluarga, ia akhirnya menikah dengan seorang pengusaha ternama bernama Gavin Rafael Adhitama.

Presiden direktur dari perusahaan Natama group yang berpengaruh di Asia. Namun, tentu saja pernikahan itu bukanlah pernikahan yang harmonis. Karena tidak ada sedikitpun rasa cinta diantara keduanya.

Pernikahan ini murni terjadi karena perjodohan. Baik Evelyn maupun Gavin tentu punya kepentingan sendiri hingga akhirnya setuju untuk melakukan pernikahan yang hanya akan berlangsung selama tiga tahun saja.

Tentu saja mereka berdua tidak melibatkan pihak luar yaitu kedua keluarga besar, ketika membuat perjanjian pranikah beberapa hari sebelum pernikahan mereka berlangsung. Hal itu mungkin akan merusak semua rencana yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh keduanya.

Ada beberapa poin penting yang mereka cantumkan dalam perjanjian pranikah tersebut.

Pertama, tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing pihak.

Kedua, kedua belah pihak bebas berhubungan dengan siapapun yang mereka kehendaki. Tetapi tentu saja ada syarat khusus yang diajukan oleh Gavin untuk poin ini, yaitu Evelyn tidak boleh sampai hamil dan merusak nama baik Gavin sebagai suaminya. Untuk hal tersebut, Evelyn harus pandai-pandai mencari celah agar tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang kebiasaannya yang suka berpesta bersama teman-temannya di klub malam.

Ketiga, poin terakhir—mereka berdua sepakat untuk membagi beberapa harta setelah bercerai nanti, termasuk pembagian beberapa persen saham di perusahaan Gavin untuk Evelyn sebagai kompensasi setelah resmi bercerai darinya.

Itu bukanlah nominal uang yang sedikit. Mungkin cukup untuk menghidupi dirinya hingga tua nanti. Ia tidak akan kekurangan uang selama hidupnya, bahkan hingga ia memiliki keturunan nantinya.

Karena kesepakatan yang menguntungkan tersebut, Evelyn akhirnya setuju untuk menikah dengan Gavin. Sementara Gavin membutuhkan seorang istri untuk membentengi dirinya sendiri dari gangguan wanita-wanita tak tahu malu yang selalu mengejarnya.

Gavin hanya berkunjung setiap enam bulan sekali ke apartemennya. Itu pun hanya untuk menghadiri acara khusus seperti acara amal yang mereka adakan. Selebihnya keduanya larut dalam kesibukannya masing-masing di tempat terpisah. Gavin tinggal di rumahnya sendiri.

Hari ini Gavin akan kembali untuk menghadiri pesta amal. Ini adalah pesta terakhir yang akan mereka hadiri bersama-sama. Setelah itu, mereka akan segera bercerai enam bulan kemudian.

Evelyn ingin membuat sedikit perubahan untuk merayakannya. Dengan memakai pakaian yang sesuai dengan jati dirinya yang sebenarnya. Tidak ada lagi Evelyn yang sopan dan elegan. Yang ada hanyalah Evelyn yang glamor dan juga seksi.

"Kemarikan gaun itu!" perintahnya kepada pelayan.

"Baik, Nyonya!" ucap pelayan tersebut dengan patuh.

Bibi Almira tampak was-was melihatnya. "Apa anda yakin akan mengenakan gaun itu, Nyonya?" tanya sekali lagi untuk memastikan.

"Iya, Bibi! Aku sangat yakin." Evelyn tampak yakin dengan ucapannya.

Evelyn beranjak dari ranjangnya, berdiri di depan sebuah cermin panjang yang berdiri tegak di kamarnya. Menampilkan pantulan seluruh tubuhnya dengan gaun tersebut — penuh percaya diri.

Gaun ini memang cukup terbuka, tapi apa salahnya? Selama dua tahun ini aku selalu menjadi istri "sempurna" untuk Gavin. Malam ini aku ingin ia melihatku sebagai Evelyn—bukan lagi istri sang Presdir ternama.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Ketika para perias sedang mendandani dirinya, Evelyn tiba-tiba merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya. Sesuatu yang sepertinya memaksa untuk keluar. Namun ia terlihat berusaha untuk menahannya.

Kenapa perutku tiba-tiba terasa mual? Apa pengaruh alkohol itu masih ada? Batinnya seketika bertanya-tanya.

Ia teringat jika semalaman ia berpesta bersama teman-temannya di klub malam hingga pagi hari. Ia bahkan pulang ke apartemen dalam keadaan tak sadarkan diri karena mabuk berat. Ia dijemput oleh bibi Almira dan juga supirnya.

Untung saja acara amal tersebut diadakan pada sore harinya. Sehingga ia masih sempat untuk istirahat. Namun sepertinya ia belum sepenuhnya pulih karena tiba-tiba saja perutnya terasa mual sekali.

"Hmm.. Sebentar!" ia tampak menahan mulutnya dan segera berlari ke dalam kamar mandi.

Bibi Almira tampak cemas dan segera menyusulnya ke dalam kamar mandi untuk melihat bagaimana kondisinya.

"Nyonya! Apa kau baik-baik saja?" ia tampak cemas lalu berlari keluar untuk mengambil segelas air minum untuknya.

Hoekk... hoekk... hoekk ....

Ia terus saja muntah. Rasanya begitu melelahkan. Seakan energi tubuhnya seketika terkuras. Akhirnya ia berhenti muntah.

Bibi Almira muncul dengan segelas air hangat. Ia lalu meminumkannya pada Evelyn.

"Cukup, Bi!" pintanya pada wanita paruh baya itu.

"Anda sudah merasa lebih baik, Nyonya?" ia tampak cemas.

"Iya." jawabnya.

"Apa anda ingin beristirahat sejenak? Kita masih punya waktu satu jam untuk beristirahat." Bibi Almira memberi penawaran padanya.

Evelyn tampak berpikir sejenak. "Hmm... Baiklah! Aku akan tidur sebentar." ia menyetujuinya.

Bibi Almira merangkul pundaknya dan memapahnya hingga ke atas ranjang. Evelyn merebahkan tubuhnya sejenak. Bibi Almira menutupi tubuhnya dengan selimut.

Wanita itu benar-benar mencemaskannya. Iya, sejak Evelyn kecil — wanita itulah yang merawatnya hingga ia dewasa. Ia adalah pengasuhnya. Bibi Almira di bawa ke sini untuk membantu Evelyn. Ia sudah menganggap Evelyn seperti putrinya sendiri.

Dan hanya bibi Almira, satu-satunya orang yang tahu jika pernikahannya ini adalah pernikahan kontrak. Ia mengunci mulutnya rapat-rapat sesuai dengan permintaan Evelyn.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Evelyn sudah tampak cantik dengan gaun hitamnya yang nampak seksi. Ia mungkin saja akan menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya. Tentu saja selain suaminya.

Ia tampak duduk manis di atas sofa ruang tengah sembari menunggu kedatangan suaminya. Mereka selalu pergi bersama-sama ke acara tersebut.

Sembari menunggu, ia tampak memainkan ponsel ditangannya. Ada beberapa pesan masuk dari teman-temannya.

Mereka mengajaknya untuk kembali berpesta nanti malam.

Aku mungkin akan sedikit terlambat. Jadi pastikan untuk menyisakan minuman untukku! Dan seperti biasa, masukkan tagihannya ke dalam bill-ku. 😉

Ia membalas pesan itu dengan segera lalu memasukkan ponsel itu kedalam tasnya.

"Dimana pria itu? Kenapa belum datang juga?" ia bertanya-tanya karena merasa bosan.

Drttt.... Drttt.... Drttt...

Tiba-tiba ponselnya terdengar bergetar dari dalam tasnya.

Tertera nama "Donatur utama" di layar ponselnya.

"Ah.. pria itu akhirnya menelpon ku." dengan nada suara yang dibuat-buat, ia menjawab panggilan telponya.

"Iya, sayang! Kau ada dimana sekarang?" tanyanya dengan suara lembut yang terlihat jelas seperti dipaksakan.

"Aku ada di bawah. Segera turun ke basement!" seorang pria terdengar memberi perintah padanya.

"Baik, Tuan! Aku akan segera turun ke bawah." ucapnya dengan nada hormat yang secara sengaja diperlihatkan.

Ia lalu mematikan ponselnya. Dengan ogah-ogahan ia beranjak dari sofa. Langkahnya seketika terasa berat. Evelyn mendadak kehilangan mood-nya.

"Lebih baik aku pergi berpesta bersama teman-temanku. Hah! Sungguh menyebalkan!" gerutunya kesal.

Ia masuk ke dalam lift, lalu turun ke basement. Pria itu menunggunya di sana.

Sebuah Rolls-Royce phantom berwarna hitam keluaran tahun 2022 sudah terparkir manis di sana. Evelyn sudah pasti mengenal si pemilik mobil tersebut. Ia tersenyum manis pada supir yang berdiri di pintu belakang ketika membukakan pintu untuknya.

"Terima kasih, Billy!" seru ramah lalu masuk kedalam mobil.

Billy kembali menutup pintu itu dan kembali ke kursi pengemudi.

Di dalam mobil , seorang pria tampak duduk dengan tenang di kursi penumpang. Pria itu memiliki wajah dengan rahang yang tegas dan sorot mata yang tajam—memancarkan aura maskulin yang kuat. Pria bertubuh atletis itu terlihat sangat berwibawa dalam balutan setelan jas hitamnya.

Dia adalah Gavin Rafael Adhitama. Sosok pemeran utama pria dalam kehidupannya. Pria yang telah sah menjadi suaminya selama beberapa tahun terakhir.

"Apa kau ingin mendeklarasikan kebebasan mu? Bukankah ini terlalu cepat?" tanyanya dengan nada penuh sindiran kearah Evelyn setelah melihat penampilannya.

"Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru." sanggahnya dengan senyuman.

"Kau bebas memakai apapun yang kau inginkan. Tetapi tutupi bagian itu dengan sesuatu. Jangan mengumbar dirimu terlalu murah." Gavin terang-terangan menyindirnya.

"Aku sudah menutupinya dengan cardigan, apa masih kurang." jelas Evelyn dengan menunjukkan cardigan yang dia kenakan di bahunya.

Gavin hanya diam—memutar bola matanya kearah lain. Seakan jengah pada sifat istrinya yang selalu bertindak sesuai dengan keinginannya.

Malam ini tidak akan berakhir dengan cepat...

(Evelyn)

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Hallo semua, tanpa terasa sebentar lagi kita akan memasuki penghujung tahun.

Semoga hari-hari bahagia menanti kita dengan sejuta harapan.

Ini adalah karya terbaruku, semoga bisa meninggalkan kesan di hati para pembaca sekalian.

Jangan lupa mampir untuk mendukung karyaku ini ya 😉❤️

Tinggalkan like, komentar dan jangan lupa ❤️ subscribe.

Terima kasih...🙏🏿😊

Bab 2 : Senyum palsu.

Malam ini ada begitu banyak tamu yang datang untuk menghadiri acara amal. Sebagian besar adalah kolega bisnis yang pernah bekerja sama dengan perusahaan milik Gavin, beberapa lagi berasal dari kalangan politisi dan juga selebritas. Sisanya adalah para pengusaha ternama yang suka melakukan kegiatan positif yang berkaitan dengan donasi amal.

Malam amal ini adalah acara tahunan yang selalu diadakan oleh perusahaan Gavin, Natama Group.

Nantinya akan ada beberapa barang yang akan dilelang. Hasil dari pelelangan akan disumbangkan kepada yayasan-yayasan amal.

Evelyn terlihat menggandeng tangan Gavin ketika turun dari mobil. Tentu saja malam ini ia harus berperan sebagai seorang istri yang baik demi menjaga citra suaminya dimata publik.

"Selamat malam Tuan dan Nyonya Adhitama. Anda terlihat sangat memukau malam ini." sapa seorang pria sembari mencium punggung tangan Evelyn sebagai bentuk kesopanan.

"Terima kasih, Tuan Rudi. Anda terlalu memuji saya. Saya mungkin akan besar kepala." ucap Evelyn beramah-tamah sambil menyenderkan kepalanya di lengan suaminya.

Rudi seketika menatap Gavin yang tampak masam. Terlihat jelas rasa ketidaksukaan di wajahnya.

"Maafkan, Tuan!" ia tampak terkekeh kecil. "Anda tidak mungkin cemburu pada saya, kan?" tanyanya dengan perasaan was-was.

Wajahnya yang mulai memunculkan tanda-tanda penuaan seketika tampak pucat pasi. Seakan aliran darah ke otaknya terhenti seketika.

Pria berusia lima puluh tahunan itu adalah direktur keuangan di perusahaannya. Ia menatap wajah Gavin yang kini menatapnya tajam. Seolah ingin membelahnya menjadi dua bagian.

"Hmm.." ia hanya berdehem untuk menjawab pertanyaannya.

Pria paruh baya itu tampak sedikit lega. Dan buru-buru berpamitan pada mereka.

Setelah kepergian pria itu, Evelyn tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajahnya yang ketakutan. Tatapan mata suaminya yang setajam pisau memang bisa membuat orang-orang yang melihatnya berlari ketakutan. Kecuali dirinya sendiri.

"Apa kau tidak bisa menarik sudut bibir mu itu sedikit, suamiku? Pria tua itu mungkin memiliki jantung yang lemah. Jika kau menatapnya seperti itu, ia mungkin bisa terkena serangan jantung mendadak."ucapnya dengan nada bercanda.

Gavin meliriknya tajam. Pria itu memang tidak mempunyai selera humor sedikitpun. Wajahnya selalu sinis seakan-akan semua orang di dunia ini adalah musuhnya.

Bahkan Evelyn sendiri tak pernah melihat senyuman di bibirnya suaminya itu. Evelyn jadi bertanya-tanya, apa mungkin sewaktu lahir ia juga tidak menangis.

Evelyn dan suami "dingin" nya itu, duduk di kursi paling depan bersama beberapa kolega penting lainnya. Semua orang tampak menaruh hormat padanya. Beberapa dari mereka tentu saja menginginkan sebuah "keuntungan" dari Gavin dengan mengikuti acara amal ini. Keuntungan yang bisa membuat bisnis mereka menjadi lancar.

Evelyn terkadang juga bertanya-tanya mengenai bisnis suaminya. Tetapi jangkauan otaknya tidak seluas itu sehingga bisa memahami inti dari bisnis yang dijalankan oleh Gavin.

Yang terpenting baginya hanyalah uang. Selama Gavin memberikannya uang, maka yang lainnya tidaklah penting.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Acara malam itu berlangsung lancar. Tetapi membuat rahang Evelyn seketika menjadi kaku. Ia tak berhenti menebar senyumannya sedari tadi. Menunjukkan keramah-tamahan pada semua orang yang menyapanya.

Menjadi istri konglomerat ternyata tidaklah mudah. Namun itu sebanding dengan harga yang kau dapatkan.

Kini Gavin tengah berbincang dengan beberapa koleganya. Sementara Evelyn tampak berbaur dengan para istri.

Evelyn memang sudah biasa berkumpul dengan mereka karena ia mengikuti acara arisan yang mereka adakan setiap satu bulan sekali.

Kepribadian Evelyn yang extrovert, membuatnya mampu untuk beradaptasi dengan orang-orang baru dengan cepat. Bahkan keberadaannya selalu dinantikan dimana-mana. Mempererat banyak relasi sebelum berpisah juga tidak ada ruginya, bukan.

Ia mungkin bisa memanfaatkan mereka suatu hari nanti. Mungkin untuk memulai bisnisnya sendiri. Karena beberapa dari mereka juga adalah seorang pembisnis.

"Maaf karena saya tidak bisa hadir di acara kemarin, Nyonya Rita. Anak saya mendadak harus di rawat di rumah sakit. Saya sangat panik, sehingga tidak sempat memberi kabar." jelas wanita yang memakai gaun biru coral itu dengan raut wajah bersalah.

"Tidak apa-apa, Nyonya Cintya. Saya paham sekali. Saya juga seorang ibu, jadi saya tahu pasti bagaimana kalutnya ketika anak kita sakit." ucap wanita bernama Rita itu.

Yang lain tampak mengangguk membenarkan ucapan Rita.

Evelyn tampak jengah di tengah pembahasan antusias mereka. Dari semua wanita yang ada, hanya Evelyn yang tidak mempunyai anak.

Untuk seorang ibu, pembicaraan tentang tumbuh kembang anak-anak mereka pasti menjadi topik pembicaraan paling utama. Kedua, tentu saja tentang rumor-rumor panas yang terjadi di sekelilingnya.

"Ah, maafkan kami Nyonya Evelyn. Kami terlalu antusias jika membicarakan perihal anak-anak kami." pinta Rita ketika sadar jika mereka melupakan Evelyn karena larut dalam pembicaraan mereka.

"Astaga! Saya juga minta maaf, Nyonya." pinta Cintya diikuti dengan wanita-wanita lainnya yang tak mau kalah.

"Tidak apa-apa. Saya mengerti." Evelyn tampak memaksakan senyumnya sekali lagi.

"Maaf sebelumnya, apakah kau sudah ada tanda-tanda kehamilan?" tanya seorang wanita pada Evelyn.

Pertanyaan yang sama yang selalu ditanyakan berulang-ulang padanya. Ia bahkan sudah terlihat jenuh mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia tidak bisa menunjukkan rasa ketidaksukaannya itu pada semua orang. Demi citra suaminya.

"Kenapa kau menanyakan hal yang sangat sensitif seperti itu, Nyonya Sandra? Itu tidak etis untuk ditanyakan kepada seseorang." Rita terdengar kesal.

Sandra berubah panik ketika menyadari kesalahannya. Mulutnya yang sering kelepasan bicara memang selalu membuatnya kesulitan. Apalagi mengingat jika suaminya masih mempunyai sisa cicilan pinjaman uang dari Gavin. Jika Evelyn tersinggung itu akan berdampak kepada perusahaan yang dimiliki oleh suaminya.

"Tidak apa-apa, Nyonya Rita. Mungkin Nyonya Sandra hanya mencemaskan keadaan saya saja." lagi-lagi Evelyn tampak tersenyum ramah pada mereka.

"Tuan Gavin pasti sangat sibuk. Mungkin kalian berdua bisa mulai merencanakan bulan madu kedua." saran Cintya.

"Iya, aku akan membicarakannya dengan suamiku nanti." ia tertawa masam.

Hah! Sungguh melelahkan! Bagaimana aku bisa hamil, jika Gavin tidak pernah sekalipun menyentuhku. Batinnya menggerutu.

Mereka lalu melanjutkan pembicaraan ke topik pembahasan yang lain. Namun di sela-sela pembicaraan mereka, tiba-tiba saja Evelyn merasakan sakit di kepalanya.

"Arghhh.." ia mendesah kesakitan sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat.

"Astaga! Apa kepalamu sakit, Nyonya?" tanya Cintya cemas.

"Iya." jawab Evelyn.

"Apa perlu ku panggilkan Tuan Gavin?" timpal Rita memberikan saran.

"Hmm... Tidak perlu, Nyonya. Ku rasa aku hanya kurang tidur." cegah Evelyn berusaha menenangkan suasana yang tiba-tiba menjadi kalut.

"Apa tidak sebaiknya anda pulang saja dan beristirahat? Acaranya juga akan segera berakhir." Rita memberikan saran.

"Hmm... Aku rasa—" kalimatnya seketika terhenti.

Pandangannya seketika menjadi kabur, tubuhnya terasa lemas. Ia tampak terhuyung ke belakang, namun dengan cepat seseorang merengkuh pinggangnya—menahannya agar tak jatuh ke lantai.

Samar-samar ia melihat sosok familiar yang dikenalnya.

Gavin.

Pria itu mengangkat tubuhnya. Evelyn sontak terkejut melihat tindakan impulsif yang dilakukan oleh Gavin.

"Apa kau sakit?" Gavin bertanya dengan nada cemas — tetapi raut wajahnya tetap terlihat datar tanpa ekspresi

Sungguh! Kau sama sekali tidak pandai berakting. Keluh Evelyn dalam hati sambil memutar bola matanya kesal.

"Kepala ku tiba-tiba terasa sakit." Evelyn tetap menjawab pertanyaannya. Sesekali ia tampak memijat pelipisnya yang terasa berat.

"Kalau begitu sebaiknya kita pulang agar kau bisa beristirahat." Ucapnya tiba-tiba melembut—membuat orang-orang disekelilingnya menatapnya dengan pandangan iri dan kagum.

Gavin lalu membawa Evelyn pergi dari sana. Seketika semua tatapan para tamu yang hadir tertuju pada mereka.

Aroma Musk yang menyeruak dari tubuh Gavin, begitu menusuk di indra penciumannya, membuat perutnya kembali merasa mual. Padahal sebelumnya, ia sangat menyukai aroma tersebut, karena mengingatkannnya pada seseorang.

"Kenapa aroma tubuhmu begitu menyengat? Apa kau mandi dengan sebotol parfum?" Evelyn mencibirnya secara terang-terangan.

Namun Gavin hanya menanggapi cibiran itu dengan tatapan tajam yang begitu menusuk.

"Astaga! Aku hanya bercanda." sanggah Evelyn dengan cepat.

Gavin seketika menautkan kedua alisnya. Menatap Evelyn dengan pandangan yang cukup intens.

"Kenapa menatapku begitu? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Evelyn kebingungan.

"Apa akhir-akhir ini nafsu makanmu bertambah?" tanya Gavin.

"Hah! Tidak. Kenapa kau bertanya begitu?" wanita itu tampak terkejut keheranan mendengarnya.

"Tubuhmu berat juga." Cibir Gavin dengan sengaja. Mungkin ingin membalas perkataan Evelyn tadi.

"Apa???" Evelyn seketika membulatkan kedua matanya karena merasa tidak terima dengan perkataannya.

Billy yang sudah standby sejak tadi di samping pintu, segera membuka pintu mobil itu ketika melihat kedatangan sepasang suami-istri itu.

Gavin mendudukkan Evelyn di kursi penumpang. Ia bahkan tak perduli dengan raut wajah istrinya yang tampak kesal.

"Aargghhh!!" pekik Gavin mengaduh kesakitan karena Evelyn tiba-tiba menggigit telinga kirinya.

"Apa yang kau lakukan? Apa kau pikir dirimu itu serangga?" Gavin tampak menggerutu sambil mengusap-usap telinganya yang terasa nyeri.

Untuk pertama kalinya, Evelyn bisa melihat ekspresi kemarahan di wajah dingin suaminya. Ia lalu tertawa keras.

"Astaga! Telingamu memerah. Apa mungkin telingamu itu sangat sensitif?" Goda wanita itu menunjuk telinganya.

"Diamlah! Atau kau akan pulang seorang diri malam ini." ancam pria itu.

Evelyn berhenti tertawa. Tetapi tidak berhenti sepenuhnya. Karena kini wajahnya tampak memerah karena berusaha keras menahan tawanya.

Gavin lalu masuk ke mobil. Dan Billy segera melajukan mobilnya menuju apartemen Evelyn.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Bab 3 : Perubahan sikap yang tidak biasa.

Suasana di dalam mobil terasa hening—sedikit mencekam. Gavin hanya diam membisu di sepanjang perjalan. Tatapannya hanya fokus pada layar datar dalam genggamnya. Ia bahkan tidak bertanya sedikitpun tentang keadaan Evelyn yang kini terlihat tidak sehat.

Wajah wanita itu tampak memucat, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Sesekali ia tampak menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba menahan isi perutnya yang kembali bergejolak. Dengan tangan membungkam erat mulutnya dan mata yang terpejam erat, ia berusaha keras untuk tidak kembali muntah di dalam mobil. Khususnya di depan Gavin. Ia tak mau merusak citra dirinya di hadapan pria itu.

Kenapa aku masih merasa mual. Biasanya tidak seperti ini? Evelyn jadi bertanya-tanya dalam hatinya.

Melihat Evelyn yang terlihat gelisah sepanjang perjalan, membuat Gavin akhirnya bertanya padanya.

"Kau benar-benar sedang tidak sehat?" tanya pria itu mengerutkan keningnya.

Akhirnya setelah beberapa saat, pria itu sadar jika Evelyn tidak dalam kondisi yang sehat.

Evelyn hanya meliriknya sekilas, ia bahkan tak sanggup untuk berbicara sepatah katapun. Dorongan di perutnya teramat kuat.

Apa kau pikir aku hanya mencari-cari alasan saja? Evelyn tampak kesal.

"Jika kau merasa tidak sehat, kenapa memaksakan diri untuk menghadiri acara tersebut." ucap Gavin.

"Memangnya aku boleh tidak hadir? Kau bilang aku harus ... Ughh... nghh... Aku tidak tahan lagi." Evelyn tampak panik, isi perutnya terdorong naik hingga membuat tenggorokannya terasa penuh.

"Billy! Hentikan mobilnya!" Evelyn memberi perintah pada supir untuk menghentikan laju mobil karena tidak bisa bertahan lagi.

Perjalanan menuju apartemennya masih sangat lama. Jika dipaksakan, mungkin ia akan muntah di dalam mobil.

"Hah!" Billy nampak terkejut karena Evelyn tiba-tiba saja memberikan perintah mendadak padanya.

"Hmm .. Tapi, Nyonya—?" ia melirik ragu-ragu ke arah Gavin melalui kaca spion yang berada di atas dashboard mobil, dihadapannya.

Gavin-lah yang berhak memberi perintah padanya. Karena dia bekerja sebagai supir pribadinya. Apalagi pria itu akan memarahinya jika mengambil keputusan tanpa izin darinya.

Gavin mengangguk kecil untuk mengiyakan. Mobil itu berhenti di tepi jalan. Evelyn tampak menahan emosinya karena melihat Billy yang tidak langsung menjalankan perintahnya.

Wanita itu lalu membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa. Ia tampak membungkuk—memuntahkan semua isi perutnya kembali di atas rerumputan hijau yang terbentang di sisi jalan.

Uhuk.... Uhuk... Hoek... Hoek...

Gavin bisa mendengar jelas suara Evelyn yang sedang terbatuk-batuk dan muntah dari dalam mobilnya.

Sepertinya dia harus benar-benar menghentikan kebiasaan mabuknya. Gavin menatap Evelyn dengan pandangan iba.

Gavin tidak sepenuhnya mengabaikan istrinya. Tanpa sepengetahuan Evelyn, pria itu menempatkan seorang mata-mata untuk mengawasi segala kegiatan istrinya saat berada di luar.

Ia tahu apa saja yang dilakukan oleh wanita itu setiap hari, dan kebiasaannya berpesta pada malam harinya. Wanita itu selalu pulang ke apartemen menjelang subuh dalam keadaan tak sadarkan diri karena mabuk.

Pengasuhnya — Almira lah yang selalu pergi ke klub untuk menjemputnya.

Tapi tentu saja Gavin tidak begitu saja menegurnya karena mereka berdua mempunyai kesepakatan bersama yang telah mereka sepakati sebelumnya, untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing.

Namun dengan menempatkan seorang mata-mata kepercayaannya di samping Evelyn, ia tentu saja sudah melanggar poin pertama dalam perjanjian mereka.

Bergelut belasan tahun dalam dunia bisnis tidak membuatnya mudah percaya pada seseorang, termasuk kepada istrinya sendiri. Hal yang sering kali dilupakan oleh seseorang adalah mempercayai orang terdekatnya. Padahal justru orang terdekatlah yang paling sering menusuk kita dari belakang tanpa disadari.

Gavin menatap Evelyn yang kembali duduk di sampingnya setelah selesai menguras habis isi perutnya.

Wanita itu tampak pucat dengan rambut panjangnya yang sedikit berantakan. Malam itu Gavin bisa melihat sisi lain dari seorang Evelyn.

Wanita yang selalu terlihat kuat tanpa pernah sekalipun menunjukkan sisi kelemahan padanya, ternyata juga bisa tampak serapuh ini. Setidaknya kini Gavin sadar bahwa wanita disampingnya itu juga manusia biasa.

"Kau mau mampir ke rumah sakit sebelum pulang?" Dengan raut wajah datar, ia bertanya pada Evelyn.

"Hmm... Tidak perlu! Aku muntah karena terlalu banyak minum kemarin malam. Jadi tidak perlu pergi ke rumah sakit. Itu sangat memalukan." tolaknya dengan cepat.

"Terserah kau saja. " Gavin lalu kembali fokus pada layar datar persegi yang digenggamnya sedari tadi.

Mobil tersebut kembali melaju menuju apartemen Evelyn.

"Ada baiknya jika kau merubah kebiasaan burukmu itu sedikit. Jika tidak, kau mungkin akan mati muda sebelum sempat menikmati hidupmu." Gavin mencibirnya secara langsung.

"Haa... Itu sama sekali bukan urusanmu." sanggah Evelyn tak terima.

Gavin lalu menghentikan kegiatannya, menatap tajam kearah Evelyn yang seketika membuatnya terdiam.

"Itu akan menjadi urusanku jika kau tiba-tiba mati di apartemen. Orang-orang mungkin akan berpikir jika kau akhirnya menjadi tak waras karena sering ditinggalkan oleh suaminya. Lalu melampiaskan kesedihanmu pada minuman beralkohol hingga kau kecanduan bahkan overdosis. Bukankah itu akan menjadi rumor yang cukup merepotkan untukku?" Entah Gavin serius saat mengatakannya atau justru ia sedang bergurau dengan perkataannya. Evelyn sama sekali tak bisa membaca ekspresi wajahnya yang selalu terlihat datar.

Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu hanya bisa mengerutkan keningnya karena merasa heran. Ia juga tak bisa membalas perkataannya karena tidak lagi punya tenaga.

Daripada menanggapi perkataannya yang dingin, ia memilih untuk memejamkan matanya sejenak.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Mobil itu berhenti di apartemen milik Evelyn yang berada tepat di pusat kota. Apartemen itu merupakan salah satu hunian mewah milik Gavin yang diberikan secara khusus kepada Evelyn sebagai tempat tinggalnya. Apartemen ini nantinya juga akan menjadi salah satu properti yang akan dimilik oleh wanita itu setelah bercerai darinya.

Evelyn turun dari mobil dengan bantuan bibi Almira. Gavin sudah lebih dulu menghubunginya sesaat sebelum mobil itu memasuki area basement apartemen.

Kepala Evelyn terasa sangat pusing, rasanya ia akan jatuh pingsan jika memaksakan diri untuk berjalan ke atas sendirian.

"Hati-hati, Nyonya!" ucap bibi Almira cemas ketika melihat tubuh Evelyn terhuyung ke belakang.

Bibi Almira tampak berusaha sekuat tenaga untuk menopang tubuh anak asuhnya itu agar tidak jatuh. Mereka berjalan perlahan menuju lift.

Namun tiba-tiba saja Evelyn merasakan tubuhnya seakan melayang ke udara. Tubuhnya terangkat ke atas karena tangan seseorang. Ia tersentak ketika melihat Gavin lagi-lagi mengangkat tubuhnya—merengkuhnya dalam gendongannya. Evelyn seketika melingkarkan tangannya di leher Gavin, sebagai pegangan.

Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa centimeter, membuat Gavin bisa menghirup bau parfum Evelyn yang ia kenal, tapi jarang ia perhatikan. Aroma vanilla yang manis, menggoda dan menyenangkan bagi sebagian pria, tapi tidak dengan dirinya. Entah kenapa ia tidak menyukainya.

Bibi Almira yang sedari tadi berdiri di belakang mereka, merasa terkejut melihat perlakuan tuannya itu yang tidak biasa kepada istrinya. Namun ia tak berani bicara apapun. Ia hanya diam, mengikuti mereka dari belakang.

Begitupun dengan Evelyn yang terlihat pasrah berada dalam gendongannya. Walaupun ekpresi wajah Gavin tetap datar seperti biasanya.

Evelyn benar-benar buta dalam menilai emosi pria itu.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Di tempat lainnya, sebuah klub malam khusus untuk kalangan sosial atas, seorang pria muda dengan kemeja hitam dan celana bahan warna senada tampak duduk di sebuah ruangan untuk para pelanggan VIP. Ia tidak sendiri, ada beberapa orang pria dan wanita yang ikut duduk bersamanya.

Aroma tembakau yang khas bercampur dengan bau alkohol, terasa pekat memenuhi ruangan tersebut. Namun pria itu tampaknya tidak sedikitpun merasa terganggu. Ia malah terlihat asyik berbicara dengan yang lainnya. Seakan suasana tersebut sudah tidak asing lagi di kehidupannya sehari-hari.

Pria itu memiliki wajah yang tampan dengan sorot mata yang tajam, namun terlihat intens. Membuat wanita manapun yang menatapnya seakan terhipnotis dan dengan mudahnya jatuh kedalam pelukannya.

Pria itu tidak pernah merayu dengan cara yang murah, ia hanya memberikan perhatian kecil yang tulus namun terasa sangat intim. Hal itulah yang membuat banyak wanita jatuh akan pesonanya.

"Apa Eve tidak akan datang malam ini?" tanyanya pada salah satu teman wanitanya.

"Sepertinya dia tidak jadi datang malam ini. Katanya dia sedang tidak sehat." jelasnya pada pria bernama Alex itu.

"Tidak sehat?" ia tersentak, wajahnya berubah cemas. "Hmm .. Baiklah."

Ia lalu diam, seperti sedang memikirkan sesuatu di dalam kepalanya. Lalu ia meraih ponsel yang berada di atas meja di hadapannya, tampak menghubungi seseorang.

Tak lama terdengar nada sambungan terhubung. Ia segera berbicara.

"Eve!" serunya dengan nada penuh kecemasan.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!