Indonesia
NovelToon NovelToon

Aluna : Bayang - Bayang Luka

BAB 1 :Panggilan dari Masa Lalu

​Inggris, 2016

​Nama ku Aluna Hardinata. Orang bilang nama adalah doa, sebuah alunan yang indah. Tapi saat ini, aku merasa hatiku tak sekuat namaku. Pasalnya, aku telah menikah dengan orang yang aku cintai seumur hidupku, tapi dia tidak pernah menganggapku sebagai seorang istri. Pandangannya selalu menatapku seolah aku adalah monster. Pembunuh. Musuh yang harus ia binasakan perlahan dengan kebisuan.

​Untung aku masih memiliki Lili, malaikat kecil yang selalu membuatku kuat dan tersenyum di tengah badai rumah tangga ini.

​Tapi, mari kita mundur sejenak. Sebelum semua rasa sakit ini menjadi makanan sehari-hariku. Ke masa di mana aku masih memiliki sedikit harapan, meski semu.

​Suara dering telepon memecah keheningan apartemen flat-ku di London. Matahari musim dingin belum sepenuhnya muncul, membuat kamarku masih temaram. Aku mengerang pelan, kepalaku masih berdenyut sisa pesta perayaan ulang tahun teman sesama residen tadi malam.

​Aku baru menyelesaikan S2-ku delapan bulan lalu. Di usia 21 tahun, aku sudah menyandang gelar spesialis dan menjadi dokter sementara di salah satu rumah sakit ternama di Inggris. Anak jenius, kata mereka. Akselerasi berkali-kali, IQ di atas rata-rata. Semua kulakukan demi satu tujuan: menjadi dokter hebat seperti Papa, dan mungkin... agar seseorang di sana melihatku.

​Dengan malas, aku meraba nakas dan mengangkat ponsel.

​"Hallo, siapa ini?" suaraku parau khas bangun tidur.

​"Aluna! Kapan kau akan pulang?!"

​Suara teriakan di ujung sana membuat mataku terbuka lebar. Refleks, aku mengubah posisiku menjadi duduk tegak. Suara itu. Suara yang selalu terdengar ceria, dominan, dan penuh kasih sayang sekaligus.

​"Mbak Sarah?" tanyaku memastikan.

​"Heiii... kau baru bangun tidur, ya?" teriaknya lagi.

​Sayup-sayup, terdengar suara laki-laki di latar belakang. Suara bariton yang lembut, namun mampu membuat jantungku berdetak menyakitkan bahkan dari jarak ribuan mil.

​"Sayang, kamu jangan berteriak. Kasihan aluna, mungkin dia masih lelah," ucap suara laki-laki itu.

​"Diamlah sayang, anak ini harus diberi pelajaran," balas Mbak Sarah manja.

​Itu suara Kak Arvino. Suami kakakku. Cinta pertamaku.

​Hatiku mencelos. Rasa sakit yang sudah kucoba kubur selama dua tahun di Inggris, kembali menyeruak hanya dengan mendengar suaranya memanggil 'sayang' pada wanita lain. Wanita itu adalah kakakku sendiri.

​Kami tumbuh bersama. Aku, Mbak Sarah, dan Kak Arvino. Dia selalu menjagaku, memanjakanku seperti adiknya sendiri. Tapi perhatian itu salah artikan. Atau mungkin, hanya aku yang terlalu bodoh berharap lebih.

​"Mbak, jangan berteriak, telingaku sakit," keluhku, berusaha menutupi getar dalam suaraku.

​"Ya, habisnya kamu sudah hampir dua tahun tidak pulang! Mama, Papa, dan Nenek merindukanmu. Bukankah kamu janji saat selesai S2 akan jadi dokter di Rumah Sakit Hardinata? Kenapa malah jadi dokter sementara di sana? Pulanglah, jadi dokter hebat di Indonesia."

​Aku menghela napas panjang, memandang jendela apartemen yang berembun. "Aku akan pulang bulan depan, Mbak."

​"Bodoh! Tidak bisa! Kamu harus pulang minggu depan!" Sarah berseru, nadanya tidak bisa dibantah. "Aku sedang hamil, Aluna. Aku ingin kamu yang membantuku bersalin. Cepatlah pulang."

​Deg.

Hamil?

Mereka akan memiliki anak. Bukti cinta mereka yang nyata.

​"Sudah berapa bulan usia kandungan Mbak?" tanyaku lirih.

​"Jalan sembilan bulan. Dokter bilang minggu-minggu ini bisa saja lahir. Makanya kamu harus pulang sekarang!"

​"Tidak bisa minggu depan, Mbak," tolakku, mencoba logis. "Aku harus mengurus surat pengunduran diri dulu, bulan depan baru aku bisa—"

​"Aluna Hardinata!" potong Sarah cepat. "Jika kau berbohong dan menunda kepulanganmu, aku akan menyuruh Arvino menyeretmu pulang dan mengurungmu di gudang!"

​Napas ku tercekat. Gudang.

Kata itu memicu dingin yang merambat dari ujung kaki ke kepala. Aku memiliki riwayat Nyctophobia—ketakutan ekstrem pada kegelapan—sejak kecil. Ancaman itu, meski mungkin hanya gurauan bagi Sarah, terdengar mengerikan bagiku.

​"Mbak hentikan," teriakku panik. "Oke! Aku akan pulang. Aku akan urus tiketnya."

​"Nah, begitu dong. Baiklah, aku tutup teleponnya. Jangan lupa telepon Mama dan Papa."

​Sambungan terputus.

​Aku menjatuhkan ponsel ke kasur, lalu membenamkan wajah ke kedua telapak tangan. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh.

​Apakah aku sudah kuat untuk pulang? Rasanya mendengar suaranya saja aku masih serapuh ini. Tapi takdir sepertinya tidak memberiku pilihan. Aku harus pulang, untuk menyambut kelahiran buah cinta pria yang kucintai dengan kakakku sendiri.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca 💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

BAB 2: Luka yang Tak Pernah Kering

​Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta

​Hawa panas Jakarta langsung menyapa kulitku begitu aku melangkah keluar dari terminal kedatangan. Dua tahun di Inggris membuatku sedikit lupa betapa menyengatnya matahari di sini. Tapi bukan panas matahari yang membuatku berkeringat dingin, melainkan sosok yang berdiri di area penjemputan.

​Bukan sopir keluarga yang menjemputku.

Itu dia. Arvino.

​Dia berdiri bersandar pada mobil SUV hitamnya, mengenakan kemeja biru muda dengan lengan digulung hingga siku. Dia terlihat lebih dewasa, lebih matang, dan sialnya... lebih tampan dari dua tahun lalu. Di sampingnya, Mbak Sarah berdiri dengan perut yang sudah sangat besar, melambai antusias.

​"Aluna!!"

​Sarah berjalan agak terhuyung karena beban perutnya. Aku segera berlari kecil, mengabaikan koperku, dan memeluknya.

​"Hati-hati, Mbak. Jangan lari," tegurku.

​"Kamu sih lama sekali keluarnya," gerutu Sarah, tapi pelukannya erat. Dia mencubit pipiku. "Kamu kurusan! Apa makanan di Inggris tidak enak?"

​Aku hanya tertawa kecil. Mataku perlahan melirik ke arah Arvino yang kini berdiri di dekat kami. Dia tersenyum. Senyum "kakak" yang ramah.

​"Selamat datang kembali, Dokter Kecil," sapa Arvino. Dia mengulurkan tangan untuk mengacak rambutku, kebiasaan lamanya.

​Tubuhku membeku saat tangannya menyentuh kepalaku. "Hai, Kak Vino," jawabku kaku. Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya.

​Arvino tampak sedikit terkejut dengan reaksiku yang menghindar, tapi dia tidak berkomentar. Dia beralih merangkul pinggang Sarah dengan protektif. "Ayo kita pulang. Mama sudah masak besar untuk menyambutmu."

​Di dalam mobil, aku duduk di kursi belakang. Pemandangan di depanku adalah siksaan murni. Tangan kiri Arvino yang tidak memegang setir, terus menggenggam tangan Sarah yang diletakkan di atas perut buncitnya.

​"Sayang, nanti mampir beli asinan ya? Anakmu mau asinan," rengek Sarah.

​"Apapun untuk Tuan Putri dan Pangeran Kecil," jawab Arvino lembut, lalu mengecup punggung tangan Sarah.

​Aku membuang muka ke luar jendela, menatap jalan tol yang padat. Dadaku sesak.

​Flashback, Jakarta 2011

​"Kak, aku akan kuliah di kampus yang sama dengan kakak."

"Benarkah? Baguslah, aku bisa menjagamu."

Senyum itu. Harapan itu.

Aku ingat betapa hancurnya aku saat mereka mengumumkan kencan pertama mereka di ruang keluarga. Saat itu, Mama bilang mereka saling menyimpan rasa. Lalu di mana posisiku? Apakah perhatian Arvino selama ini hanyalah ilusi yang diciptakan oleh harapanku sendiri?

​Hanya Nenek yang tahu. Saat aku menangis di pangkuannya hari itu, aku berjanji akan mengubur perasaan ini. Tapi nyatanya, cinta pertama tidak semudah itu mati.

​Flashback End

​"Aluna, kamu melamun?"

​Suara Arvino membuyarkan lamunanku di masa kini. Aku melihat dia menatapku lewat spion tengah.

​"Tidak, Kak. Cuma jetlag," dustaku.

​"Sampai di rumah, periksa kandungan Sarah ya," ujar Arvino, nadanya berubah serius. "Dia sering mengeluh sakit punggung dan kakinya bengkak parah akhir-akhir ini. Dokter kandungannya bilang itu wajar, tapi aku khawatir."

​"Arvino ini lebay, Aluna," sahut Sarah tertawa. "Padahal aku baik-baik saja."

​Aku menatap kaki Sarah yang memang terlihat sangat bengkak (oedema). Sebagai dokter, instingku langsung bekerja. Bengkak itu terlihat tidak wajar.

​"Nanti aku cek tensi Mbak Sarah," jawabku singkat.

​Sesampainya di rumah besar keluarga Hardinata, sambutan hangat langsung kuterima. Mama, Papa, dan Nenek sudah menunggu.

​"Cucu kesayangan Nenek!" Nenek yang duduk di kursi roda merentangkan tangannya.

​Aku menghambur ke pelukannya. Aroma minyak kayu putih dan kehangatan tubuh Nenek adalah satu-satunya tempat aku merasa aman di rumah ini.

​"Nenek, aku pulang," bisikku.

​"Wajahmu pucat, Nduk. Apa hatimu masih sakit?" bisik Nenek sangat pelan, hanya aku yang bisa mendengar.

​Aku mengangguk samar di pelukannya. Nenek menepuk punggungku menguatkan.

​Malam itu, setelah makan malam keluarga yang penuh tawa—dimana aku hanya menjadi penonton kemesraan Arvino dan Sarah—aku masuk ke kamar Sarah untuk memeriksanya sesuai permintaan Arvino.

​Sarah berbaring di kasur, Arvino duduk di sampingnya, memijat kaki istrinya.

​Aku mengeluarkan tensimeter.

"Permisi ya, Mbak."

​Saat cuff tensimeter menekan lengan Sarah, aku melihat angkanya. Alisku bertaut.

150/95 mmHg. Tinggi. Terlalu tinggi.

​"Mbak sering pusing?" tanyaku.

​"Sedikit. Kadang pandanganku agak kabur, tapi kata dokter itu karena kurang tidur," jawab Sarah santai.

​Aku menatap Arvino. "Kapan terakhir kontrol?"

​"Tiga hari lalu. Katanya semua normal," jawab Arvino.

​"Ini tidak normal," kataku tegas. "Tensi Mbak Sarah tinggi. Kakinya bengkak parah. Ini gejala preeklamsia. Mbak harus bedrest total, kurangi garam, dan kita harus pantau protein urinnya."

​Arvino mengerutkan kening, tampak tidak suka dengan nada bicaraku. "Jangan menakut-nakuti, Aluna. Dokter spesialis kami bilang dia baik-baik saja. Kamu baru lulus, jangan sok tahu."

​Kalimat itu menohokku.

"Aku memang baru lulus, tapi aku lulusan terbaik, Kak. Aku tidak main-main dengan nyawa," balasku tajam. "Mbak Sarah harus dijaga ketat."

​"Sudah, sudah," Sarah melerai. "Arvino, Aluna cuma khawatir. Aku akan istirahat ya, Lun. Terima kasih."

​Aku membereskan alatku dengan hati dongkol. Arvino menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kesal dan curiga. Seolah-olah peringatanku adalah doa buruk untuk istrinya, bukan diagnosis medis.

​Jika saja aku tahu bahwa itu adalah awal dari mimpi buruk yang akan menghancurkan hidupku, mungkin aku akan menyeret Sarah ke rumah sakit malam itu juga.

...****************...

Bersambung...

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

BAB 3: Tanda Bahaya

​Dua hari berlalu sejak kepulanganku. Suasana rumah cukup tenang, meskipun ketegangan antara aku dan Arvino masih terasa. Dia seolah membangun tembok tinggi setiap kali aku mencoba bicara serius soal kesehatan Sarah. Bagi Arvino, kehamilan Sarah adalah hal yang sakral dan sempurna, dia menolak mendengar adanya cacat atau bahaya.

​Pagi ini, aku sedang membuat kopi di dapur ketika Ardo, adik Arvino, masuk.

​"Kopi hitam tanpa gula, seperti biasa?" sapa Ardo sambil mengambil apel dari keranjang buah.

​"Kau masih ingat kebiasaanku," gumamku.

​"Tentu saja. Calon kakak ipar yang gagal," candanya, lalu buru-buru meralat saat melihat tatapanku. "Maaf, bercanda. Oh ya, Mama masih berharap kau dan aku..."

​"Hentikan, Do. Kau tahu aku menganggapmu saudara," potongku cepat.

​"Ya, ya. Karena hatimu sudah penuh dengan orang lain, kan?" Ardo menatap lurus ke mataku. Dia tahu. Tentu saja dia tahu. Dia yang paling dekat denganku setelah Nenek.

​"Jangan bahas itu."

​Tiba-tiba, terdengar suara pecahan gelas dari lantai atas. Diikuti teriakan kesakitan.

​"Arvino!! Sakit!!"

​Itu suara Sarah.

​Jantungku berhenti berdetak sesaat. Aku menjatuhkan sendok kopi dan berlari menaiki tangga secepat kilat, mendahului Ardo.

​Pintu kamar utama terbuka. Aku melihat pemandangan yang membuat darahku berdesir ngeri.

​Sarah terduduk di lantai, memegangi perutnya. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Dan di lantai, merembes di antara kakinya, cairan merah segar menggenang.

​Pendarahan.

​"Mbak!" teriakku, langsung bersimpuh di sampingnya.

​Arvino baru saja keluar dari kamar mandi, wajahnya pias melihat istrinya. "Sarah! Kenapa?! Apa yang terjadi?!" Dia panik, tangannya gemetar hebat saat mencoba menyentuh Sarah.

​"Jangan disentuh sembarangan!" bentakku, mengambil alih komando. Insting dokterku mengambil alih emosiku. "Ardo! Siapkan mobil sekarang! Kita ke rumah sakit Papa! Cepat!"

​Ardo berlari turun.

​"Aluna... sakit sekali..." rintih Sarah, mencengkeram lenganku kuat hingga kukunya menancap. "Bayiku... selamatkan bayiku..."

​"Tenang Mbak, tarik napas," aku memeriksa nadinya. Cepat dan lemah. Solusio Plasenta? Atau Eklamsia? Apapun itu, ini darurat.

​"Arvino, angkat Mbak Sarah. Hati-hati. Jaga kepalanya," perintahku pada Arvino yang masih mematung shock. "KAK ARVINO! LAKUKAN SEKARANG!"

​Teriakanku menyadarkannya. Dengan wajah pucat, dia mengangkat tubuh istrinya. Darah menetes mengotori karpet mahal mereka, tapi tidak ada yang peduli.

​Di dalam mobil, aku terus memantau kesadaran Sarah yang mulai menurun.

"Mbak, tetap buka mata. Lihat aku. Jangan tidur," aku menepuk pipinya pelan.

​"Aluna..." bisik Sarah lemah, matanya mulai sayu. "Jaga Arvino... kalau aku..."

​"Diam! Jangan bicara yang tidak-tidak!" potong Arvino dari kursi depan, suaranya parau menahan tangis. "Kamu akan baik-baik saja, Sarah. Kita sebentar lagi sampai."

​Aku memegang pergelangan tangan Sarah. Denyut nadinya semakin kacau. Tensi darahnya anjlok.

​Sesampainya di IGD Rumah Sakit Hardinata, tim medis langsung menyambut. Papa juga sudah ada di sana, wajahnya tegang.

​"Siapkan ruang operasi! Segera!" teriak Papa.

​Aku ikut mendorong brankar Sarah menuju ruang operasi. Tapi di depan pintu steril, perawat menahanku.

​"Dokter Aluna, anda keluarga. Sebaiknya tunggu di luar," ujar perawat itu.

​"Aku dokter bedah! Aku bisa membantu!" bantahku.

​"Aluna," suara Papa tegas menahanku. "Emosimu tidak stabil. Biar Papa dan tim yang menangani. Tunggu di sini bersama Arvino."

​Pintu ruang operasi tertutup. Lampu indikator menyala merah.

​Aku berdiri mematung, menatap pintu itu dengan napas memburu. Baju tidurku berlumuran darah kakakku sendiri.

​Di kursi tunggu, Arvino duduk dengan kepala tertunduk, menjambak rambutnya sendiri. Tiba-tiba dia mendongak, menatapku dengan mata merah menyala penuh amarah.

​"Kau..." desisnya.

​Aku menoleh.

​Arvino berdiri, melangkah mendekatiku dan mencengkeram bahuku kasar. "Kau bilang dia preeklamsia semalam. Kenapa kau tidak memaksanya ke rumah sakit?! Kenapa kau biarkan ini terjadi?!"

​"Aku sudah bilang, tapi Kakak yang menuduhku menakut-nakuti!" balasku, air mata mulai menggenang.

​"Harusnya kau memaksa! Kau dokternya!" Arvino mengguncang tubuhku. "Kalau terjadi sesuatu pada Sarah dan anakku... aku tidak akan pernah memaafkanmu, Aluna. Tidak akan pernah!"

​Tatapan itu. Bukan lagi tatapan kakak atau sahabat. Itu adalah tatapan kebencian.

Dan saat itu aku sadar, neraka bagiku baru saja dimulai.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!