Langit malam di Kekaisaran Qin tetap sama, namun bagi Boqin Changing, setiap kegelapan ini kini terasa asing. Sembilan tahun telah berlalu sejak ia menapaki jalan kehidupan keduanya. Jalan yang sama sekali berbeda dari yang pernah ia jalani di kehidupan pertamanya.
Ia, pendekar terkuat yang pernah ada, telah menempuh jalan yang penuh darah dan pengkhianatan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia gagal melindungi orang-orang yang ia sayangi, kehilangan mereka satu demi satu, dan menyaksikan tempat kelahirannya dihancurkan oleh kelompok Tengkorak Hitam. Ia kehilangan semua itu karena saat itu dirinya sangat lemah. Tetapi sekarang, dengan ingatan masa depannya sebagai bekal, ia telah menulis ulang sejarah itu.
Sebuah artefak berbentuk bola ajaib membawanya kembali ke masa anak-anaknya. Dengan pengetahuan yang ia dapatkan di kehidupan pertamnya, Boqin Changing memperkuat tubuh dan jiwanya, melindungi ayah, ibu, gurunya, dan banyak jiwa tak berdosa lainnya. Ia menapaki peristiwa demi peristiwa dengan campur tangannya sendiri dan akhirnya membasmi Tengkorak Hitam. Sebuah kelompok yang berusaha menghancurkan Kekaisaran Qin. Ia telah memastikan bahwa masa lalunya yang kelam itu kini menjadi masa kini yang lebih aman.
Namun, tidak semua yang ia kenal tetap sama. Dunia yang kini ia jalani telah berubah, bukan hanya karena kekuatannya, tapi karena setiap tindakan dan keputusan yang ia buat di masa ini telah membentuk alur baru. Ingatannya tentang masa lalu tidak sepenuhnya berlaku lagi. Orang-orang yang dulu ia kenal, peristiwa yang dulu ia yakini, bahkan persaingan antar kekaisaran kini menampilkan wajah yang berbeda, seringkali mengejutkan dan tak terduga.
Boqin Changing menatap bintang di langit dengan mata yang tajam namun penuh pertimbangan. Ia tahu, sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat, dan masa kini, dunia yang ia tinggali sekarang, berbeda jauh dari yang ia bayangkan. Di balik damainya dunia, bahaya baru, ancaman yang lebih licik, dan misteri yang belum terpecahkan menunggu.
Kini, pendekar yang telah menaklukkan takdirnya sendiri harus bersiap untuk menghadapi dunia yang sama sekali berbeda. Dunia yang telah ia ubah, namun masih memiliki rahasia yang belum ia mengerti sepenuhnya.
...*******...
Hutan Lembah Embun diselimuti kabut tipis selepas Boqin Changing berhasil membunuh Binatang Suci. Hari telah berubah menjadi gelap. Para murid Sekte Awan Putih mulai menyalakan api unggun di sebuah area yang aman di tengah hutan. Aroma kayu terbakar menyebar, memberikan kehangatan di udara dingin. Mereka duduk mengelilingi api, menatap Boqin Changing dengan kagum dan penuh rasa hormat.
“Pendekar Chang benar-benar luar biasa… Binatang Suci itu…” seorang murid berbicara dengan suara gemetar. “Aku… aku tak pernah melihat kekuatan seperti itu.”
Murid lain mengangguk, matanya berbinar-binar.
“Aku mendengar dari tetua, hanya pendekar tingkat tinggi yang mampu menandinginya… tapi ia membunuhnya dengan satu jurus!”
Sha Nuo, seseorang yang memilih menjadi pengikut Boqin Changing di kehidupannya sekarang, tersenyum tipis, menatap Boqin Changing yang kini duduk santai di pinggir api unggun.
“Kau benar-benar tahu cara tampil. Mereka melihatmu sebagai legenda,” bisiknya, setengah bercanda, setengah serius.
Boqin Changing tidak menjawabnya dan hanya menatap api unggun. Pikirannya melayang pada dunia yang telah ia ubah, pada masa lalu yang telah ia perbaiki. Ia tahu perjalanan masih panjang, ancaman lebih besar menunggu, dan rahasia dunia ini belum semuanya terbuka. Tapi malam itu, di tengah api unggun, diantara bisik kagum para murid, satu hal terlihat jelas. Kekuatan Boqin Changing yang kembali ke masa lalu sudah semakin kuat. Walaupun belum mencapai puncaknya namun keberadaannya sekarang jelas sangat diperhitungkan.
Bintang di langit hutan itu berkelap-kelip, seolah menjadi saksi atas kemenangan dan ketenangan yang sementara. Besok, mereka akan kembali ke Kota Kashgar, namun malam ini, Boqin Changing dan para orang-orang Sekte Awan Putih menikmati sejenak keheningan yang layak setelah menghadapi sesuatu yang di luar bayangan mereka.
Api unggun terus berderak pelan, sesekali memercikkan bara kecil ke udara malam yang lembap. Kabut Hutan Lembah Embun perlahan menipis, namun hawa dingin masih menyelimuti area peristirahatan Sekte Awan Putih. Para murid mulai bergantian berjaga, sementara sebagian lain telah terlelap setelah kelelahan dan ketegangan yang akhirnya mereda.
Tidak jauh dari lingkaran api utama, dua sosok berdiri berdampingan. Tetua Zhe Yu menyilangkan tangan di balik jubahnya, wajahnya tampak lebih tenang dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Di sampingnya, Tetua Hua Ai menghembuskan napas panjang, seolah baru benar-benar menyadari bahwa misi berbahaya itu telah berakhir.
“Bagaimanapun juga,” ujar Tetua Yu memecah keheningan, suaranya rendah namun jelas, “misi memberantas siluman di Hutan Lembah Embun bisa dianggap selesai. Walaupun aku tidak menyangka ada Binatang Suci Serigala di tempat ini. Sekarang, para siluman telah mati, dan tidak ada lagi siluman yang tersisa.”
Tetua Ai mengangguk perlahan.
“Benar. Dengan kematian Binatang Suci Serigala itu, wilayah ini akan kembali aman. Setidaknya, untuk waktu yang sangat lama.” Nada suaranya mengandung kelegaan yang tak ia sembunyikan. “Besok pagi, kita akan kembali ke Kota Kashgar dan langsung menghadap Tuan Kota. Ia harus tahu bahwa ancaman yang ia khawatirkan telah disingkirkan.”
Tetua Yu mengangguk setuju, namun raut wajahnya tidak sepenuhnya lepas dari kerutan tipis di dahinya. Ia terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Tetua Ai.
“Ada satu hal yang masih mengganjal di pikiranku,” katanya pelan. “Kata-kata terakhir Binatang Suci itu… sebelum ia mati.”
Tetua Ai mengangkat alisnya.
“Maksudmu soal artefak itu?”
“Ya,” jawab Tetua Yu. “Ia dengan tegas mengatakan bahwa artefaknya dicuri. Dan lebih dari itu, ia menyebut bahwa pelakunya adalah… anak dari Tuan Kota Kashgar.” Tatapan Tetua Yu menjadi lebih tajam. “Jika itu benar, apakah kita perlu menanyakan hal tersebut saat menghadap Tuan Kota besok?”
Tetua Ai terdiam sejenak. Api unggun memantulkan cahaya jingga di wajahnya yang mulai menua, mempertegas garis-garis pengalaman yang terukir di sana. Ia tampak mempertimbangkan kata-kata Tetua Yu dengan serius, namun akhirnya menggeleng pelan.
“Binatang Suci itu sudah mati,” katanya akhirnya. “Apa pun yang ia katakan, tidak lagi mengikat kita. Tidak ada kewajiban bagi Sekte Awan Putih untuk mencampuri urusan artefak siluman, apalagi jika sumbernya adalah makhluk yang telah terbunuh.”
Tetua Yu tampak hendak menyela, namun Tetua Ai melanjutkan dengan suara yang lebih tegas.
“Lagipula, itu hanya pengakuan sepihak. Tanpa bukti, menyinggung masalah tersebut di hadapan Tuan Kota justru bisa menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu.”
Namun, di akhir kalimatnya, pandangan Tetua Ai perlahan bergeser. Matanya melirik ke arah sosok yang duduk agak terpisah dari yang lain, di tepi cahaya api unggun, Boqin Changing.
Pemuda itu tampak tenang, seolah dunia di sekelilingnya tak mampu mengusik pikirannya. Wajahnya diterangi cahaya api yang berpendar, namun sorot matanya tetap dalam dan sulit ditebak. Sha Nuo duduk tak jauh darinya, namun bahkan kehadiran pendekar kuat itu pun terasa samar dibandingkan aura alami yang mengelilingi Boqin Changing.
Tetua Ai menyipitkan mata, lalu berkata dengan nada yang lebih pelan, hampir seperti gumaman.
“Meski begitu… keputusan soal artefak itu sebenarnya bukan berada di tangan kita.”
Tetua Yu mengikuti arah pandang Tetua Ai dan terdiam saat menyadari maksudnya.
“Orang yang membunuh Binatang Suci itu adalah Boqin Changing,” lanjut Tetua Ai. “Jika memang artefak itu benar-benar ada, dan jika memang anak Tuan Kota yang terlibat… maka hanya dia yang berhak memutuskan apakah masalah ini perlu diungkit atau dibiarkan terkubur bersama kematian para siluman itu.”
Tetua Yu menghela napas panjang.
“Kau benar. Dengan kekuatan dan posisinya sekarang, pendapat Boqin Changing jauh lebih menentukan daripada kita berdua.”
Keduanya kembali terdiam, menatap api unggun yang mulai mengecil. Di kejauhan, Boqin Changing tetap duduk dengan sikap tenang, seolah sama sekali tidak menyadari bahwa namanya sedang menjadi pusat pertimbangan dua tetua Sekte Awan Putih.
Namun, jauh di dalam hatinya, Boqin Changing tahu, kata-kata terakhir Binatang Suci Serigala itu bukanlah kebohongan tanpa makna. Dunia yang telah ia ubah ini kembali memperlihatkan satu cabang takdir baru, dan cepat atau lambat, artefak yang disebutkan siluman itu akan kembali muncul ke permukaan. Entah sebagai masalah… atau sebagai peluang.
******
Fajar menyingsing perlahan di Hutan Lembah Embun. Kabut pagi yang semalam menyelimuti hutan kini bergerak pelan, tersibak oleh cahaya matahari yang menembus sela-sela pepohonan tinggi. Udara terasa lembap namun segar, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.
Para murid Sekte Awan Putih telah terbangun sejak pagi. Suasana yang semalam tenang kini kembali hidup. Beberapa murid memadamkan sisa api unggun, sementara sebagian sibuk merapikan senjata dan bekal. Hari ini, mereka akan kembali ke Kota Kashgar setelah misi memberantas siluman dinyatakan berhasil.
Di sebuah batu datar tak jauh dari pusat perkemahan, Boqin Changing duduk dengan sikap santai. Di hadapannya, sebuah mangkuk kayu berisi bubur hangat dan roti kering sederhana. Di sampingnya, Sha Nuo juga tengah menyantap sarapan yang sama, wajahnya tenang seperti biasa.
“Tak kusangka murid-murid sekte ini cukup sigap,” ujar Sha Nuo sambil melirik ke sekeliling. “Dalam satu malam, suasana mereka sudah kembali seperti semula.”
Boqin Changing hanya mengangguk pelan.
“Mereka akan terbiasa dengan misi berbahaya. Kematian Binatang Suci memang mengguncang, tapi juga memberi mereka keyakinan.”
Dua sosok lain mendekat dan ikut duduk tidak jauh dari mereka. Tetua Hua Ai meletakkan mangkuknya dengan hati-hati, sementara Tetua Zhe Yu memandang para murid yang lalu-lalang dengan raut puas.
“Pendekar Chang,” kata Tetua Ai membuka percakapan, suaranya lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya. “Setelah semua murid siap, kita akan langsung berangkat menuju Kota Kashgar.”
Boqin Changing menoleh, sorot matanya tenang namun penuh perhatian.
“Kapan kalian akan menghadap Tuan Kota untuk melaporkan misi ini?”
“Hari ini juga,” jawab Tetua Yu menggantikan. “Setibanya di kota, aku dan Tetua Ai akan langsung melapor. Misi pemberantasan siluman di Hutan Lembah Embun telah selesai. Wilayah itu kini aman.”
Boqin Changing terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. Sha Nuo meliriknya sekilas, menangkap perubahan halus di ekspresi sahabatnya itu.
“Kalau begitu,” ujar Boqin Changing akhirnya, nadanya datar namun jelas, “bolehkah aku ikut menghadap Tuan Kota?”
Ucapan itu membuat Tetua Ai dan Tetua Yu sama-sama terdiam. Sendok kayu di tangan Tetua Ai berhenti bergerak, sementara alis Tetua Yu terangkat tipis tanpa ia sadari.
“Ikut… menghadap Tuan Kota?” ulang Tetua Ai perlahan.
“Benar,” jawab Boqin Changing tanpa ragu. “Aku hanya ingin mendengar langsung laporan itu disampaikan. Tidak lebih.”
Sha Nuo tidak berkata apa-apa, namun sikap diamnya justru menambah bobot permintaan tersebut. Dua pendekar kuat duduk berdampingan, tenang, seolah permintaan itu adalah hal paling wajar di dunia.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang aneh. Burung-burung pagi berkicau di kejauhan, namun bagi Tetua Ai dan Tetua Yu, suara itu terasa jauh.
Entah mengapa, firasat buruk tiba-tiba menyelinap ke hati mereka berdua. Tetua Ai menatap Boqin Changing dengan seksama. Wajah pemuda itu terlihat tenang, nyaris tanpa emosi, namun pengalaman puluhan tahun sebagai tetua membuatnya tahu, ketenangan seperti itu sering kali menyembunyikan badai besar.
“Pendekar Chang,” kata Tetua Ai akhirnya, memilih kata-katanya dengan hati-hati, “tentu saja kami tidak keberatan. Kehadiranmu justru akan menjadi kehormatan bagi Sekte Awan Putih.”
Tetua Yu mengangguk setuju, meski di dalam dadanya ada kegelisahan yang sulit ia jelaskan.
“Tuan Kota Kashgar pasti ingin bertemu dengan orang yang membunuh Binatang Suci itu.”
Namun di balik sikap formal mereka, pikiran keduanya berlari ke arah yang sama. Kata-kata terakhir Binatang Suci Serigala itu… Artefak yang dicuri… Anak Tuan Kota…
Tetua Ai mengepalkan tangannya di balik jubah. Ia merasakan firasat yang semakin berat, seolah langkah Boqin Changing menuju Kota Kashgar bukanlah kebetulan.
“Sepertinya… kedatangan Pendekar Chang memang tidak sesederhana menghadiri laporan misi,” batinnya.
Tetua Yu pun merasakan hal yang sama. Ia menatap punggung Boqin Changing yang kembali menyantap sarapannya dengan santai, lalu menarik napas panjang.
Jika benar artefak itu terkait dengan keluarga Tuan Kota… Maka pertemuan hari ini bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
Boqin Changing menyesap buburnya tanpa tergesa-gesa. Wajahnya tetap datar, namun jauh di dalam pikirannya, roda takdir telah mulai berputar kembali.
Artefak yang dicuri. Anak Tuan Kota Kashgar. Lalu sebuah kota yang tampak damai di permukaan.
Ia tahu, perjalanan kembali ke Kota Kashgar bukan sekadar kepulangan setelah misi selesai. Itu adalah langkah menuju cabang takdir baru yang berbeda dengan sejarah masa lalunya.
Kali ini, Boqin Changing berniat memastikan bahwa apa pun kebenarannya… tidak akan dibiarkan tersembunyi terlalu lama.
Rombongan Sekte Awan Putih perlahan meninggalkan Hutan Lembah Embun. Jalan setapak yang berliku menembus pepohonan tinggi, sementara sinar matahari pagi menyinari dedaunan yang masih basah oleh embun. Boqin Changing dan Sha Nuo ikut berada di tengah rombongan, langkah mereka mantap dan tanpa tanda kelelahan, meskipun perjalanan baru saja dimulai.
Para murid, yang sebelumnya terpesona oleh kekuatan Boqin Changing dan Sha Nuo, kini tampak berseri-seri. Beberapa di antara mereka saling bertukar pandang, tersenyum lebar, bahkan ada yang tak sabar membagikan cerita tentang pengalaman mereka pada murid lain yang tidak ikut dalam misi.
“Mereka benar-benar tak akan percaya apa yang kita lihat di sini!” seorang murid berbisik pada temannya. “Pendekar Chang… ia membunuh Binatang Suci itu dengan satu jurus saja!”
Mereka pergi dengan hati yang ringan, namun di wajah Tetua Ai dan Tetua Yu terlihat kekalutan yang jelas berbeda. Aura Boqin Changing dan Sha Nuo begitu kuat, begitu menggetarkan, sehingga mereka tahu dengan sangat pasti bahwa membawa dua pendekar ini ke Kota Kashgar ibarat membawa bencana berjalan.
“Ini… ini bukan sekadar laporan misi biasa,” gumam Tetua Ai, matanya tak lepas dari punggung Boqin Changing. “Keberadaan mereka… terutama Pendekar Chang… bisa memicu hal-hal yang tak terduga di kota.”
Tetua Yu mengangguk, meski nada suaranya tetap datar, jelas bahwa hatinya gelisah.
“Kau benar. Tuan Kota pasti akan terkejut, bahkan mungkin… khawatir.” Ia menarik napas panjang, menenangkan diri sejenak sebelum menambahkan, “Apalagi dengan kata-kata Binatang Suci semalam… artefak yang dicuri, anak Tuan Kota…”
Boqin Changing sendiri sesekali menoleh ke samping untuk memastikan murid-muridnya mengikuti ritme perjalanan mereka. Tatapan tajamnya menembus sela-sela pepohonan, seolah mampu membaca perjalanan jauh ke depan. Sha Nuo berjalan di dekatnya, tubuhnya tetap tegap dan tenang, menandakan kesiapan menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Murid-murid berlari dengan bergairah. Mereka menyalakan percikan semangat dalam hati satu sama lain, membicarakan setiap detail dari pengalaman kemarin.
“Aku harus memberitahu semua murid lain di sekte kita tentang ini!” seru seorang pemuda dengan mata berbinar. “Mereka pasti akan terkejut aku pernah pernah bertemu dengan pendekar terkuat di kekaisaran ini, Boqin Changing!”
Di sisi lain, Tetua Ai menatap rombongan dengan cemas. Matanya terus mengikuti Boqin Changing dan Sha Nuo, mengukur setiap langkah mereka.
“Jika Tuan Kota mengetahui bahwa artefak itu dicuri dan ternyata terkait dengan anaknya…,” gumamnya pelan, suaranya nyaris hilang ditelan angin, “situasinya bisa jauh lebih rumit daripada yang kita bayangkan.”
Tetua Yu menghela napas panjang.
“Kita harus tetap waspada. Kita hanya bisa berharap bahwa Pendekar Chang memiliki pertimbangan yang matang, karena langkahnya… bisa membawa malapetaka bukan hanya bagi kita, tapi juga seluruh kota.”
Rombongan itu terus bergerak, meninggalkan hutan yang mulai terbangun dengan kicauan burung pagi. Udara segar membawa aroma tanah basah dan dedaunan, namun kelegaan itu terasa rapuh bagi dua tetua. Sementara murid-murid menikmati pengalaman luar biasa mereka, dua tetua itu tahu bahwa bahaya yang akan datang mungkin lebih dekat dari yang terlihat.
Langkah demi langkah, Kota Kashgar mulai terlihat di kejauhan. Atap-atap rumah yang berserak di antara pepohonan dan jalan-jalan kecil yang sibuk memberi kesan damai. Namun bagi Tetua Ai dan Tetua Yu, bayangan kata-kata Binatang Suci semalam dan potensi keterlibatan artefak misterius tetap menempel di pikiran mereka. Mereka tahu, kedatangan Boqin Changing dan Sha Nuo bukan sekadar membawa laporan misi, tetapi membuka babak baru yang penuh risiko dan ketegangan.
Boqin Changing sendiri tetap tenang. Di matanya, Kota Kashgar adalah papan catur baru, di mana setiap langkah, setiap gerakan, harus diperhitungkan. Ia tahu, artefak yang disebut Binatang Suci itu bukanlah kebetulan yang sederhana. Sekali lagi, roda takdir berputar, memutar mereka semua menuju kemungkinan yang belum pernah mereka bayangkan.
Di tengah kebahagiaan para murid dan kecemasan dua tetua, rombongan Sekte Awan Putih akhirnya menapaki gerbang Kota Kashgar, tanpa sadar bahwa perjalanan mereka hari ini akan menorehkan jejak yang tak mudah dihapuskan.
Jalanan kota yang familiar mulai membentang di hadapan mereka, dan hiruk-pikuk aktivitas warga menyambut kedatangan rombongan. Akhirnya, siang hari mereka sampai di penginapan milik Sekte Awan Putih yang terletak di pusat Kota Kashgar..
Para murid segera diarahkan untuk masuk ke kamar masing-masing, melepas lelah, mandi, dan menikmati sedikit waktu pribadi setelah perjalanan panjang. Suara tawa ringan dan percakapan hangat terdengar, memperlihatkan rasa lega sekaligus kegembiraan mereka.
Tetua Ai lalu menoleh kepada Boqin Changing dan Sha Nuo, menawarkan dengan sopan.
“Tuan Muda, Tuan Nuo… silakan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan urusan berikutnya.”
Namun Boqin Changing menolak dengan tenang, tatapannya tetap fokus dan tegas.
“Terima kasih, Tetua Ai, tapi kami tidak ingin menunda. Lebih baik kita langsung melapor kepada Tuan Kota mengenai misi ini. Waktu tidak menunggu, dan situasinya mungkin membutuhkan perhatian segera.”
Sha Nuo mengangguk setuju, langkahnya tetap mantap mengikuti Boqin Changing.
Di sepanjang perjalanan menuju pintu utama penginapan, murid-murid memandang kembali ke arah Boqin Changing dan Sha Nuo dengan rasa kagum yang baru saja memuncak setelah melihat aksi mereka di hutan. Beberapa murid saling berbisik, jelas ingin menceritakan pengalaman itu kepada teman-teman lain.
“Pendekar Chang… benar-benar luar biasa,” bisik seorang pemuda sambil menatap punggung Boqin Changing yang tegap. “Aku harus memastikan semua orang tahu apa yang baru saja kami saksikan!”
Tetua Ai dan Tetua Yu saling berpandangan sejenak. Keraguan yang sempat terlintas di mata mereka perlahan menghilang, digantikan oleh keputusan yang tegas. Keduanya akhirnya menganggukkan kepala hampir bersamaan.
“Baik,” ujar Tetua Ai pelan namun mantap. “Kalau begitu, kita langsung menuju kediaman Tuan Kota.”
Tanpa berlama-lama lagi, mereka pun berbalik meninggalkan penginapan. Tetua Ai dan Tetua Yu berjalan di depan, sementara Boqin Changing dan Sha Nuo mengikuti dari belakang dengan jarak yang terjaga. Langkah keempat orang itu tenang, namun suasana di antara mereka terasa lebih berat dibandingkan hiruk-pikuk kota yang mereka lalui.
Jalanan Kota Kashgar pada siang hari tampak ramai. Pedagang kaki lima berteriak menawarkan dagangan, kereta kuda berlalu-lalang, dan warga kota berjalan dengan wajah santai, sama sekali tidak menyadari ketegangan yang sedang dibawa oleh rombongan kecil ini. Bangunan-bangunan batu dengan atap genteng merah berjajar rapi di kiri dan kanan jalan, semakin menandakan bahwa mereka telah memasuki kawasan pusat kota.
Setelah berjalan kurang lebih lima belas menit, suasana perlahan berubah. Keramaian mulai berkurang, digantikan oleh jalan yang lebih lebar dan bersih. Di hadapan mereka, berdiri sebuah kediaman besar dengan gerbang tinggi berwarna hitam keemasan. Lambang Kota Kashgar terukir jelas di atasnya, memancarkan wibawa dan otoritas penguasa kota.
“Inilah kediaman Tuan Kota,” ucap Tetua Yu singkat.
Dua penjaga bersenjata tombak berdiri tegap di depan gerbang. Tatapan mereka waspada, namun tidak bermusuhan. Tetua Ai melangkah maju selangkah dan menyampaikan maksud kedatangan mereka.
“Kami ingin bertemu dengan Tuan Kota. Apakah beliau ada di dalam?”
Begitu mengenali wajah Tetua Ai dan Tetua Yu, sikap para penjaga langsung berubah lebih hormat. Salah satu dari mereka segera membungkukkan badan sedikit.
“Tetua Ai, Tetua Yu,” ujar penjaga itu sopan. “Tuan Kota sedang berada di dalam kediaman. Silakan masuk.”
Tanpa ada pemeriksaan berlebihan atau pertanyaan tambahan, gerbang besar itu pun dibuka. Keempat orang tersebut melangkah masuk ke dalam area kediaman Tuan Kota. Halaman dalam tampak luas dan terawat, dengan taman kecil di sisi kanan dan kiri, serta jalan batu yang mengarah langsung ke aula utama.
Tak lama kemudian, mereka tiba di dalam aula. Seorang pria paruh baya berdiri di sana, mengenakan jubah resmi berwarna gelap dengan bordiran halus di bagian dada. Wajahnya tenang, sorot matanya tajam namun tidak kejam. Dialah Tuan Kota Kashgar, Ji Wei.
Begitu melihat kedatangan mereka, Ji Wei tersenyum ramah dan melangkah maju beberapa langkah.
“Tetua Ai, Tetua Yu,” sapa Ji Wei dengan nada hangat. “Bagaimana kabar kalian? Kudengar kalian sudah memulai misi mengintai siluman di hutan. Apa ada perkembangan?”
Tetua Ai dan Tetua Yu membalas salam dengan hormat. Sementara itu, pandangan Ji Wei sempat bergeser, melirik ke arah dua sosok di belakang mereka. Tatapannya berhenti sejenak pada Boqin Changing, alisnya sedikit berkerut seolah sedang mengingat sesuatu.
“Aku merasa… pernah melihat wajahmu,” gumam Ji Wei dalam hati, matanya meneliti Boqin Changing beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya beralih ke Sha Nuo. Namun ingatan itu terasa samar, seperti bayangan yang hampir tergapai tapi tak sepenuhnya jelas.
Boqin Changing sendiri berdiri dengan ekspresi tenang, tetapi di dalam hatinya justru bergejolak.
Ji Wei… Ia mengenali wajah itu dengan sangat jelas. Di kehidupan pertamanya, Ji Wei adalah salah satu orang kepercayaan Kaisar Kekaisaran Qin saat itu, Qin Lang. Seorang pejabat yang dikenal setia, cermat, dan selalu berada di balik banyak keputusan penting kekaisaran. Boqin Changing tidak mungkin salah mengenalinya.
Namun justru itulah yang membuatnya terkejut.
“Menurut ingatanku… Ji Wei tidak pernah memiliki anak yang masih hidup,” batinnya dingin. “Aku pernah mendengar bahwa seluruh anaknya meninggal ketika wabah hitam melanda Kekaisaran Qin…”
Kenangan kelam tentang wabah hitam itu terlintas sekilas di benaknya. Penyakit misterius yang merenggut nyawa tanpa pandang bulu, meninggalkan luka mendalam di banyak keluarga bangsawan, termasuk keluarga Ji Wei. Pada saat wabah itu menyebar, jutaan penduduk Kekaisaran Qin menjadi korban.
Namun tiba-tiba ia ingat sesuatu tentang wabah itu... Wabah penyakit itu tidak pernah terjadi lagi di masa ini karena ia telah membelokkan sejarah dan membuat wabah itu tidak jadi menyebar beberapa tahun yang lalu.
“Sial, aku ternyata penyebab anak Tuan Kota masih hidup saat ini!” umpat Boqin Changing dalam hatinya.
Tatapan Boqin Changing tetap datar, namun di balik ketenangan itu pikirannya berputar cepat. Kenangan yang seharusnya terkubur kini bangkit, dipicu oleh satu kesadaran sederhana namun mengerikan bahwa dirinya telah mengubah alur takdir lebih dalam dari yang ia perkirakan.
Beberapa tahun lalu, tak lama setelah ia kembali ke masa lalunya, Boqin Changing bepergian bersama gurunya, Wang Tian. Saat itu, kekuatannya belum sepenuhnya pulih, dan ia memilih bersikap rendah hati, menyembunyikan banyak pengetahuan yang seharusnya belum ada di zaman itu. Namun justru dalam salah satu perjalanan itulah, roda sejarah mulai bergeser.
Ia masih mengingatnya dengan jelas. Hari itu, ia dan Wang Tian melewati sebuah desa kecil saat menuju hutan.. Sebuah papan kayu tua di tepi jalan tampak bertuliskan nama desa itu, Desa Gujia.
Dari kejauhan saja, suasananya sudah terasa janggal. Tidak ada asap dapur yang mengepul, tidak terdengar suara anak-anak bermain, bahkan anjing penjaga pun tak terlihat berkeliaran.
Ketika mereka memasuki desa, pemandangan memilukan menyambut mereka. Banyak rumah tertutup rapat, pintu dan jendela dipalang seadanya. Mereka bahkan melihat seorang suami menguburkan istrinya yang baru saja meninggal.
“Itu bukan penyakit biasa,” kata Wang Tian saat itu, wajahnya mengeras.
Boqin Changing hanya diam, namun matanya menajam. Gejala-gejala itu… ia mengenalnya terlalu baik. Dalam kehidupan pertamanya, wabah inilah yang kelak dikenal sebagai Wabah Hitam.
Penyakit yang awalnya muncul di Kekaisaran Qin, lalu menyebar melalui jalur perdagangan, menelan korban dalam jumlah yang tak terhitung. Kekaisaran Qin melemah karenanya, dan bahkan beberapa kekaisaran lain ikut terdampak.
Namun saat ia datang kembali ke masa lalunya ini, wabah tersebut belum sempat menyebar.
“Guru,” ucap Boqin Changing kala itu dengan suara tenang namun yakin, “penyakit ini masih bisa diobati.”
Wang Tian sempat menatapnya lama, terkejut oleh keyakinan muridnya yang bahkan belum dewasa. Namun entah mengapa, ia mempercayainya.
Berbekal pengetahuan dari masa depan, Boqin Changing menyusun ramuan obat dari tanaman-tanaman. Ia menyesuaikan dosisnya dengan kondisi tubuh para penduduk yang lemah. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga meminta Wang Tian dan penduduk desa yang sembuh untuk membantu mengisolasi desa itu.
Tidak ada warga yang diizinkan keluar masuk. Jalur menuju Desa Gujia ditutup sementara. Orang-orang yang hendak singgah diminta memutar arah. Langkah itu terdengar kejam bagi sebagian orang, namun justru itulah yang menyelamatkan banyak nyawa.
Dalam beberapa hari, kondisi para penduduk mulai membaik. Demam mereka turun, napas kembali stabil, dan warna wajah yang semula menghitam perlahan berubah sehat. Dalam beberapa minggu, wabah itu benar-benar padam, lenyap sebelum sempat dikenal dunia.
Pada dasarnya, ia tidak hanya menyelamatkan warga Desa Gujia. Ia telah menyelamatkan penduduk Kekaisaran Qin, bahkan kekaisaran-kekaisaran lain yang seharusnya ikut terjerat wabah itu. Jalur sejarah telah ia belokkan secara paksa, menciptakan dunia yang berbeda dari yang ia kenal.
Namun perubahan itu memiliki konsekuensi. Orang-orang yang seharusnya mati… masih hidup. Salah satunya, anak dari Tuan Kota Kashgar ini.
Tatapan Boqin Changing tanpa sadar beralih ke arah Ji Wei. Wajah pria itu tampak tenang, berwibawa, dan… tidak diliputi kesedihan mendalam seperti yang seharusnya dimiliki seseorang yang kehilangan seluruh anaknya. Di kehidupan pertamanya, Ji Wei dikenal sebagai pejabat yang setia namun dingin, seorang ayah yang hatinya telah mati bersama anak-anaknya akibat wabah hitam.
Namun Ji Wei yang berdiri di hadapannya sekarang berbeda. Ia hidup dengan masa depan yang telah diubah.
“Takdir benar-benar kejam dalam caranya menagih harga,” batin Boqin Changing dingin. “Aku menyelamatkan dunia… dan sebagai gantinya, aku menciptakan dunia yang tak lagi sepenuhnya kukenal.”
Ia menarik napas perlahan, menyembunyikan gejolak di dalam dadanya. Apa pun yang telah berubah, tidak ada jalan untuk kembali. Ia hanya bisa melangkah maju dan menghadapi konsekuensi dari setiap keputusan yang telah ia buat, baik sebagai penyelamat, maupun sebagai perusak sejarah.
Di aula kediaman Tuan Kota, udara terasa sedikit lebih berat. Ji Wei masih menatap Boqin Changing dengan sorot mata penuh rasa penasaran, seolah benang takdir lama yang pernah terputus kini mulai terhubung kembali.
Mereka kemudian duduk bersama di meja kayu panjang yang telah disiapkan di aula kediaman itu. Cangkir-cangkir teh panas diletakkan satu per satu oleh pelayan, uapnya mengepul perlahan, namun tidak ada seorang pun yang benar-benar menikmati kehangatan minuman tersebut. Suasana terasa tegang, seolah udara di dalam ruangan ikut menahan napas.
Tetua Yu merapikan jubahnya sebelum membuka suara. Wajahnya serius, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan.
“Tuan Kota Ji Wei,” ucapnya pelan namun tegas, “izinkan saya menyampaikan hasil laporan terkait misi yang Tuan tugaskan kepada kami, mengenai pemberantasan siluman di hutan.”
Ji Wei mengangguk pelan.
“Silakan, Tetua Yu.”
Namun Tetua Yu tidak langsung melanjutkan. Ia justru menyipitkan mata, menatap Ji Wei sejenak, lalu melontarkan pertanyaan lain.
“Sebelum itu, saya ingin memastikan satu hal. Laporan awal mengenai keberadaan siluman di hutan tersebut… apakah berasal dari putra Tuan, Tuan Muda Ji Yayi?”
Ji Wei tampak tidak terkejut dengan pertanyaan itu. Ia mengangguk tenang, sikapnya tetap berwibawa.
“Benar. Aku menerima laporan itu dari putraku. Ia kembali dari hutan tersebut bersama beberapa pengawal. Dari merekalah aku mendapatkan informasi awal.”
Tetua Yu mengangguk perlahan, seakan potongan terakhir dari teka-teki mulai terpasang.
“Kalau begitu,” lanjutnya, “aku mohon Tuan Kota memanggil Tuan Muda kemari. Laporan ini akan lebih jelas jika yang bersangkutan ikut mendengarnya.”
Ji Wei tidak menolak. Ia memberi isyarat pada seorang pelayan di sisi aula.
“Panggil Ji Yayi. Katakan padanya untuk segera ke sini.”
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari lorong samping. Seorang pemuda dengan pakaian bangsawan melangkah masuk. Wajahnya tampak sedikit pucat, namun ia masih berusaha menjaga sikap percaya diri.
“Ayah,” sapa Ji Yayi sambil memberi hormat singkat.
“Duduklah,” kata Ji Wei singkat. “Tetua Yu ingin menyampaikan laporan penting.”
Ji Yayi pun duduk, tepat di sisi ayahnya. Ketika semua orang telah lengkap, Tetua Yu baru kembali membuka suara.
“Berdasarkan penyelidikan kami,” ucapnya perlahan, seolah setiap kata sengaja diberi bobot, “jumlah siluman yang berada di hutan itu… sekitar tiga ribu.”
“Apa?!” Ji Wei dan Ji Yayi berseru hampir bersamaan. Mata mereka membelalak, wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan.
“Tetua Yu, apakah Anda sedang bercanda?” tanya Ji Wei, suaranya terdengar tertahan.
Tetua Yu menggeleng. “Aku tidak bercanda.”
Ia melanjutkan tanpa memberi mereka waktu untuk menenangkan diri.
“Di antara ribuan siluman itu, terdapat siluman berusia seratus tahun. Bahkan… ada Raja Siluman.”
Wajah Ji Wei semakin pucat. Ji Yayi menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Aula yang luas itu mendadak terasa sempit.
Ji Wei meraih cangkir tehnya dengan tangan sedikit gemetar. Ia meneguknya dalam-dalam, seolah berharap cairan hangat itu mampu menenangkan jantungnya yang berdegup liar.
Namun kata-kata Tetua Yu berikutnya justru menghancurkan sisa ketenangan itu.
“Di hutan tersebut,” kata Tetua Yu dengan suara rendah namun jelas, “ada seekor binatang suci.”
Prang!
Cangkir teh di tangan Ji Wei terlepas dan jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Teh tumpah membasahi lantai, namun tidak ada seorang pun yang bergerak.
“Keberadaan binatang suci itulah,” lanjut Tetua Yu tanpa memedulikan pecahan di lantai, “yang membuat para siluman berkumpul. Mereka bersiap. Target mereka bukan sekadar hutan… melainkan Kota Kashgar.”
Ruangan itu hening. Nafas Ji Wei terdengar berat.
Tetua Yu belum selesai.
“Binatang suci itu… sempat berbicara kepada kami,” katanya pelan. “Ia menyebut satu nama.”
Tatapan Ji Wei menegang. “Nama siapa?”
“Ji Yayi.”
Kepala Ji Wei langsung berputar menatap putranya. Tatapan itu penuh keterkejutan, kebingungan, dan… ketakutan yang berusaha ia sembunyikan.
Ji Yayi membeku. Wajahnya memucat, matanya bergetar. Namun detik berikutnya, ia berdiri setengah bangkit dari kursinya.
“Itu bohong!” serunya lantang. “Tetua Yu berbohong!”
Ia menuding ke arah Tetua Yu dengan tangan gemetar.
“Binatang suci hanyalah mitos! Cerita untuk menakut-nakuti orang bodoh! Kalau memang ada, mana mungkin Tetua Yu masih hidup? Kau pasti sudah mati karena bukan lawannya!”
Kata-katanya menggema di aula. Namun alih-alih mengendurkan ketegangan, ucapan itu justru membuat suasana semakin mencekam.
Tatapan Boqin Changing sejak tadi diam kini terasa semakin dalam, seolah ia sedang menatap bukan hanya Ji Yayi, melainkan jalur takdir yang berbelok tajam dan kembali menyusahkannya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!