Gema sirene yang tertahan derasnya hujan, masih samar terdengar di kejauhan. Aroma tanah basah bercampur dengan udara dingin merayapi seluruh halaman Adridgel Hall. Cahaya lampu biru polisi terus berputar, memantul di kaca jendela rumah sakit yang berembun, seolah menandai sebuah tragedi yang tak bisa dihapus begitu saja.
Di televisi yang menyala di ruang tunggu, reporter membacakan berita dengan wajah serius.
“Seorang dokter bedah ternama, Emily Carter, ditemukan tewas di lantai lima, tepat di dekat tangga darurat. Polisi menyebut tidak ada tanda-tanda pembunuhan, hanya satu luka di kepala akibat jatuh. Dugaan awal, korban kelelahan dan kehilangan keseimbangan.”
Kata-kata itu menyalakan percakapan di luar sana, antara mereka yang percaya pada takdir, dan mereka yang meyakini ada misteri di balik kematian tersebut.
Hari-hari berikutnya, rumah sakit dipenuhi karangan bunga. Aroma melati bercampur mawar menusuk udara lobi, meninggalkan kesan duka yang dalam. Orang-orang berdatangan, sebagian menunduk khidmat, sebagian lagi hanya berdiri terpaku, tak sanggup menerima kenyataan bahwa salah satu pahlawan medis mereka telah pergi.
“Wah… makin banyak aja yang datang. Hanya untuk meletakkan bunga,” gumam seorang gadis dengan suara lirih. ID card di lehernya menunjukkan nama Olivia Hayes, mahasiswa residensi tahun pertama.
“Wajar,” sahut gadis di sebelahnya, Katrina Angel, residensi tahun kedua. “Bagi mereka, dokter adalah malaikat. Kehilangan satu saja sudah cukup untuk membuat banyak orang merasa dunia runtuh.”
Olivia tersenyum tipis, matanya memantulkan rasa iba yang tak bisa disembunyikan. “Rasanya… nyawa dokter lebih berharga dari apa pun.”
Katrina menatapnya sekilas, lalu menarik napas panjang sebelum menggenggam tangannya. “Ayo, masih ada pasien yang menunggu.”
Olivia menoleh sekali lagi, matanya menyapu lautan bunga dan orang-orang yang tenggelam dalam duka. Baru setelah itu ia berbalik, melangkah pergi.
Suara tak… tak… tak… dari heels mereka memecah kesunyian koridor. Sinar matahari pagi menyusup lewat kaca jendela, memantul di lantai keramik yang mengilap. Sekilas, suasana rumah sakit tampak normal, seolah tidak ada tragedi yang baru saja terjadi.
“Mau ke mana sekarang?” Olivia menunduk melihat layar ponselnya. “Tidak ada jadwal baru setelah kematian Dokter Mily semalam.”
“Paling jaga IGD. Bosan sekali rasanya…” Katrina menghela napas panjang, hampir seperti mengeluh pada dirinya sendiri.
“Shhht…” Olivia buru-buru menaruh jari di bibirnya.
Langkah mereka terhenti di dekat ruang rapat para dokter senior. Suara-suara di dalam ruangan terdengar jelas, menembus pintu kayu yang tak tertutup rapat.
“Jangan buat rumor konyol!” suara berat penuh tekanan terdengar. “Kematian Dokter Mily hanya kecelakaan! Itu sudah jelas!”
Olivia dan Katrina saling berpandangan, tegang. Mereka mengenali suara itu Patrick Doyle, dokter senior berusia 45 tahun yang dikenal keras.
Namun suara lain menyahut, penuh keberanian. “Tapi, Dok! Bukankah seharusnya kita menyelidiki lebih jauh? Ada banyak hal yang terasa janggal!”
Suara meja terbentur keras menggema. “Selidiki? Kau mau gila?!” bentak Patrick, nadanya penuh ancaman.
Olivia menelan ludah, sementara Katrina membeku. Keduanya tidak mengerti sepenuhnya apa yang terjadi, tetapi jelas ada sesuatu yang disembunyikan.
“Apa maksudnya?” Olivia berbisik gugup.
“Mana aku tahu? Jangan tanya aku!” Katrina mendesis ketus, nada suaranya lebih tinggi dari biasanya.
Olivia menoleh cepat, keningnya berkerut. “Kenapa kau marah? Aku hanya bertanya!”
“Aku tidak marah! Aku hanya tidak suka—”
Suara pintu berderit memutus percakapan mereka. Perlahan pintu ruang rapat terbuka, dan seorang dokter melangkah keluar. Tatapannya tajam, seakan baru saja mendengar semuanya.
“Kalian… sedang apa di sini?” tanyanya dengan nada dingin.
Udara di koridor seketika menegang. Olivia dan Katrina terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
“K-Kami…”
Suara Olivia bergetar, seolah tersangkut di kerongkongan. Kata-kata yang ia coba rangkai berantakan, tak satu pun terdengar masuk akal. Wajahnya pucat, sementara matanya berusaha mencari-cari jawaban di udara.
Tatapan tajam dari dokter itu membuat waktu serasa berhenti. Aura dingin yang dipancarkannya cukup untuk menekan dada siapa pun yang berdiri di hadapannya.
“Kembali ke IGD,” ucapnya datar namun penuh tekanan, nada suaranya seperti perintah militer yang tak boleh dibantah. “Tugas kalian ada di sana, bukan berkeliling tanpa arah.”
Olivia spontan mengangguk, begitu pula Katrina. Meski berusaha terlihat tenang, kaki mereka gemetar hebat. Seakan setiap langkah yang salah bisa menyeret mereka ke lubang yang tak diinginkan.
“B-Baik, Dokter… maafkan kami,” bisik keduanya hampir bersamaan. Tanpa menunggu aba-aba lain, mereka bergegas pergi, langkah mereka berderap terburu-buru hingga gema suaranya memanjang di koridor.
Dokter itu tidak segera masuk kembali. Matanya mengikuti punggung dua gadis itu sampai menghilang di tikungan. Tatapannya tak bergeser sedikit pun, seolah masih menyisakan kecurigaan.
Barulah ia menoleh. Pintu rapat masih terbuka setengah, menyisakan celah. Ia mengangkat tangannya, mengetuk kayu dengan keras sekali, dentumannya seperti palu yang memukul hati siapa pun di dalam ruangan.
“Pelankan suara kalian,” katanya seraya mendorong pintu agar menutup rapat. Namun sebelum hilang, kalimatnya terdengar jelas bagi mereka yang masih menahan napas di balik meja rapat.
“Mereka… hampir saja menangkap kita.”
Udara di ruangan itu seketika menegang, seperti jaring laba-laba yang tersentuh angin.
Langkah kaki mereka berderap cepat, bergema di sepanjang koridor yang dingin. Olivia dan Katrina masih bisa merasakan degup jantung mereka tak karuan, seolah suara denyut itu saja mampu mengungkapkan betapa takutnya mereka ketahuan menguping. Nafas mereka memburu, sementara tatapan terus berpindah-pindah, takut kalau sewaktu-waktu ada dokter senior lain yang memergoki.
Setibanya di IGD, pintu salah satu kamar pasien terbuka tiba-tiba. Dari sana, keluar sosok yang sangat mereka kenal—Victoria Price, teman satu angkatan mereka di masa residensi.
“Ahhh, Victoria!!” seru Olivia dengan nada setengah marah, tangannya refleks hampir melayang untuk memukul bahu temannya itu. “Jangan bikin kaget begitu! Aku hampir mati berdiri.”
Victoria mengerjap, bingung melihat reaksi berlebihan kedua sahabatnya. Ia masih memegang gagang pintu, sementara wajahnya tampak polos tanpa rasa bersalah. “Apa-apaan sih kalian? Kenapa lari-larian kayak dikejar hantu?”
“A-ahh… enggak… nggak ada apa-apa, hanya…” jawab Olivia gugup.
Namun Katrina sigap merangkul bahu Olivia, menahan agar rahasia tadi tidak terbongkar. “Kami cuma buru-buru. Eh, ngomong-ngomong, kamu habis ngapain di kamar ini?” katanya sambil melirik nomor kamar yang baru saja ditutup Victoria.
“Oh, itu.” Victoria tersenyum tipis. “Aku lagi masa pelatihan. Disuruh ikut melihat cara memeriksa kondisi pasien. Cuma observasi sederhana.”
“Wah, sibuk juga ternyata…” Katrina mencoba mencairkan suasana.
Victoria hanya mengangguk sambil menutup pintu rapat-rapat. Namun sebelum mereka bisa melanjutkan obrolan, pintu itu kembali terbuka, kali ini menampilkan seorang dokter muda. Jas putihnya tampak baru dipakai, rapi, dan ada stetoskop tergantung di lehernya.
Ia mengerutkan alis melihat tiga mahasiswa residensi berdiri berderet di depan kamar pasiennya. “Kenapa kalian nongkrong di sini? Tidak ada pasien lain yang bisa kalian urus?” tanyanya tajam, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas.
Olivia tercekat, lidahnya kaku. Kata-kata tak kunjung keluar.
Beruntung, perhatian dokter itu segera teralihkan ketika Victoria menoleh ke arah ruang IGD. Suaranya yang lirih membuat ketegangan sejenak pudar. “Dok… kenapa jadi makin ramai? Apa… rumah duka sampai naik ke lantai tujuh?”
Wajah dokter muda itu berubah tegas. “Aku akan periksa sendiri. Kalian bertiga segera ke ruang administrasi, batalkan semua jadwal kunjungan hari ini. Tidak boleh ada pasien atau keluarga masuk tanpa izin.”
“H-hah? Kita?” Victoria mendelik, jelas bingung. Sebagai mahasiswa tahun pertama, instruksi sebesar itu terasa di luar kapasitasnya.
“Tentu saja kalian!” jawabnya cepat, tanpa membuka ruang perdebatan.
Olivia dan Katrina langsung menyambar tangan Victoria, menyeretnya menjauh sebelum ia sempat mengajukan protes lebih banyak.
Langkah terburu-buru mereka bergema lagi, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Victoria berlari di tengah-tengah, terengah menyesuaikan diri dengan ritme dua temannya. Tatapannya tak lepas dari wajah serius Olivia dan Katrina, yang membuatnya merasa seperti ketinggalan sesuatu yang penting.
“Kenapa harus kita yang mengurus ini?” serunya, nadanya tercampur kebingungan dan protes.
Katrina mendengus, nadanya jengkel. “Kenapa ada anak residensi sepolos kamu, sih! Ini jelas tanggung jawab kita. Tidak semua bisa dilempar ke perawat.”
Victoria mendecak, masih tidak puas. “Tapi… bukannya lebih tepat kalau—”
Bukkk!
Tubuhnya terpental ke belakang sebelum sempat menyelesaikan kalimat. Ia menabrak seseorang dengan keras, membuat Olivia dan Katrina ikut terseret langkahnya.
“M-maaf…” Victoria buru-buru membungkuk, tangannya refleks meraih lengan orang itu untuk menjaga keseimbangan.
Ketika ia mendongak, sosok yang berdiri di depannya membuat darahnya serasa berhenti mengalir. Seorang pria berjas hitam pekat, berpostur tegap, dengan dua orang lain berdiri di belakangnya. Wajahnya tanpa senyum, tatapannya dingin bagai pisau yang mengiris kulit.
“Apakah dokter di sini selalu berlarian di lorong?” suaranya dalam, berat, dan penuh tekanan. “Padahal tidak ada kode biru, bukan?”
Udara seketika menegang. Koridor yang ramai sebelumnya, terasa sunyi dalam sekejap.
“Tapi ini darurat, Tuan… maaf,” Katrina menunduk singkat lalu segera berlari, langkahnya tergesa seperti sedang dikejar sesuatu. Olivia mengikuti di belakangnya, tak berani menoleh, hanya sempat mengucap permintaan maaf singkat sebelum ikut menghilang di tikungan koridor.
Tinggallah Victoria seorang diri. Nafasnya masih memburu, namun ia mencoba menegakkan tubuh, berdiri di depan pintu kaca IGD seperti penghalang yang rapuh namun tak ingin runtuh.
“Saat ini IGD tidak menerima kunjungan. Silakan kembali nanti,” ucapnya datar, mencoba terdengar tegas meski getaran kecil masih terdengar di ujung suaranya.
Pria berjas hitam itu tidak segera menjawab. Tatapannya menusuk tajam, seolah sedang menilai keberanian gadis muda di hadapannya. Kedua matanya dingin, sementara bibirnya hanya menegang tanpa sepatah kata pun. Ia lantas menghela nafas kasar, memutar bola matanya penuh kesal.
Salah seorang pria di belakangnya, berpostur lebih kecil namun wajahnya kaku akhirnya bersuara. “Nona, kami ada urusan penting dengan manajer rumah sakit ini. Tentang Dokter Mily. Kami ini—”
Namun ucapan itu segera terputus. Pria di depan Victoria mengangkat tangan tanpa menoleh, sebuah isyarat yang cukup untuk membuat asistennya terdiam seketika.
“Di mana ruang manajer rumah sakit?” tanyanya dingin. Kalimatnya pendek, namun nadanya mengandung tekanan yang seolah menuntut jawaban mutlak.
Victoria menahan pandangannya sejenak, jantungnya berdebar tak karuan. Namun ia menolak memberi celah. Ia menghela napas dalam, lalu mendorong pintu kaca di sampingnya hingga menutup rapat. Suara klik dari kunci otomatis terdengar jelas, membuat lorong terasa lebih senyap.
“Tidak tahu. Cari saja sendiri.” Nada suaranya kaku, bahkan sedikit menantang. Tanpa menunggu reaksi, ia langsung berbalik, langkah kakinya cepat menyusul kedua temannya yang sudah lebih dulu pergi.
Pria itu menatap punggung Victoria hingga lenyap di ujung lorong. Alisnya berkerut, rahangnya mengeras. “Dokter macam apa dia…” gumamnya pelan, nada suaranya nyaris seperti kutukan yang tertahan.
Asistennya menatapnya bingung. “Tuan… apa kita akan—”
Pria itu tidak menjawab. Hanya berdiri tegak dengan tatapan gelap, seolah tengah merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mencari ruang manajer.
Suasana hening itu kian menekan, meski sosok Victoria telah lama menghilang dari pandangan. Ia masih terpaku di tempat, sampai akhirnya seorang wanita bersetelan putih datang menghampiri. Di tangannya, nampan kecil berisi suntikan dan obat-obatan bergetar halus mengikuti langkahnya.
“Tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan, suaranya lembut namun sedikit bergetar.
Asisten pria segera menanggapi, memberi jawaban tenang. “Kami diperintahkan langsung oleh presiden untuk memeriksa kematian dokter Mily. Namun, kami tersesat saat mencari ruang manajer.”
Raut wajah perawat itu berubah. Sekilas keterkejutan terlihat, lalu senyum tipis menghiasi bibirnya ketika pandangannya jatuh pada pria di belakang asisten. Tinggi, berwibawa, dengan tatapan yang begitu tegas, ia tampak berbeda dari kebanyakan orang.
“Apakah… Anda detektif yang diminta? Tuan… Alexander Reed?” tanyanya ragu, suara menurun penuh hormat.
Nama itu bukan nama asing bagi mereka yang mengenal dunia kriminal. Namun anehnya, hanya Victoria satu-satunya yang tak mengenal reputasi pria itu.
Perawat itu buru-buru menunduk, senyumnya kaku. “Mari, saya antar ke ruang manajer. Bukan di lantai tujuh, melainkan di lantai sembilan. Lantai tujuh khusus untuk IGD,” jelasnya, lalu melangkah mendahului, memberi jalan bagi ketiga pria di belakangnya.
Lorong yang mereka lalui terasa sunyi. Suara langkah kaki menggema, memantul pada dinding yang jarang dilewati orang. Alexander memperhatikan setiap pintu yang mereka lewati, lorong itu ternyata asrama para dokter.
Pandangan matanya berhenti sejenak pada papan nama *Dr. Emily* di salah satu pintu, diikuti empat nama lain di sekitarnya. Tatapannya dalam, seakan tengah menyimpan sesuatu.
Mereka terus berjalan hingga berhenti di depan sebuah pintu. Perawat itu mengetuk perlahan, lalu membukanya sedikit tanpa masuk. Dari celah pintu, ia menyampaikan pesannya.
“Manajer Henry, tamu Anda sudah tiba.”
Tak ada jawaban, hanya kesunyian yang semakin menegangkan. Hingga akhirnya terdengar suara ketukan kuku di atas meja dari dalam.
“Biarkan mereka masuk.”
Perawat segera membuka pintu lebih lebar, memberi jalan bagi ketiga pria itu. Setelah pintu kembali tertutup, ruang kerja yang dipenuhi tumpukan berkas menyambut mereka.
Di balik meja, seorang pria berusia tiga puluhan duduk dengan wajah muram. Ekspresinya jelas menunjukkan tekanan yang berat. Begitu melihat tamunya, ia bangkit dengan terburu-buru.
“Tuan Reed, maaf membuat Anda datang jauh-jauh. Padahal Anda sedang bertugas di luar negeri,” ucap Manajer Henry, nada suaranya sarat penyesalan.
Alexander menanggapi singkat, suaranya mantap. “Tidak masalah. Jika ini perintah presiden, jelas bukan persoalan kecil.”
Henry mengulurkan tangan, mempersilakan mereka duduk. Ia menuangkan teh yang sudah tersaji ke dalam cangkir kecil, lalu menyerahkannya dengan sopan.
“Apakah Anda sudah mendengar kabar tentang dokter Mily?” tanya Henry hati-hati, membuka percakapan.
“Sudah,” jawab Alexander sambil menatapnya tajam. “Tapi bukankah pihak rumah sakit menyebutkan kalau itu hanya kecelakaan?”
Henry terdiam. Wajahnya tegang, lalu ia menggeleng perlahan. “Tidak… ini bukan kecelakaan. Tahun ini sudah dua kali terjadi kasus serupa.”
Salah satu asisten Alexander mencondongkan tubuh, penasaran. “Maksud Anda?”
Henry menarik napas panjang, suaranya berat. “Bulan lalu, seorang dokter juga ditemukan tewas di ruang kerjanya. Hasil pemeriksaan menyebutkan serangan jantung. Tapi… yang membuat saya gelisah, kematian itu dan kematian dokter Mily terjadi di tanggal yang sama, bahkan hari yang sama.”
Alexander menajamkan tatapan. “Jadi menurut Anda, ada yang menyabotase kematian mereka?”
“Saya tak bisa bilang begitu, tanpa bukti.” Henry menunduk, jemarinya bergetar di atas meja. Ia hanya bisa bergeleng pelan, membiarkan ketegangan semakin membungkus ruangan itu.
“Jangan khawatir, kami akan selidiki.” Suara Alexander terdengar mantap saat ia bangkit dari sofa, sikapnya seolah menandai akhir pertemuan.
Melihatnya berdiri, Manager Henry buru-buru ikut bangkit. Tatapannya penuh kegelisahan, lalu ia mendekat sedikit dan berbisik, seakan takut dinding pun bisa mendengar.
“Tapi… Tuan Reed… bisakah Anda menyelidikinya tanpa seorang pun mengetahui? Baik perawat, pasien, atau bahkan dokter lain?” Suaranya lirih, lebih seperti permohonan daripada perintah.
Alexander terdiam. Dahi pria itu berkerut, tatapannya kosong beberapa detik, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan.
Hening yang tercipta membuat salah satu asistennya menengahi, memberi kepastian dengan nada tenang. “Jangan khawatir, Manager Henry. Kami akan berhati-hati.”
Henry mengembuskan napas lega. “T-terima kasih…” katanya pelan, suaranya nyaris menghilang.
Itulah kata terakhir yang menggema di ruangan itu sebelum Alexander bersama dua asistennya melangkah keluar. Ekspresi pria itu tetap tegas, namun di balik matanya ada bayangan berat, kalimat Henry terus berputar, meninggalkan keganjilan yang sulit ia abaikan.
Belum sempat pikirannya mereda, kejutan lain datang. Baru saja ia menutup pintu, tubuh kecil seorang gadis berlari kencang dan menabraknya. Dentuman itu membuat nampan di tangannya terlepas, botol obat dan suntikan kecil berhamburan di lantai.
Alexander menunduk refleks. “Kau lagi!!” serunya, menahan kesal.
Di hadapannya, Victoria terduduk di lantai. Wajahnya meringis menahan sakit, satu tangannya meraba kepala yang terbentur, sementara matanya menatap Alexander dengan sorot kebingungan, meski tubuhnya masih gemetar.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!