" Yasir segera bangun, jangan berpura-pura pingsan ...!"
" sigh dasar tidak berguna, bodoh dan suka mengganggu masalah desa saja "
" Yasir kalau kamu tidak bangun, akan saya bawa kamu ke penjara Belanda dan biar kamu merasakan kerja keras dengan bayaran kecil "
Perlahan mata terbuka dengan tatapan bingung, ia melihat bahwa di sekitarnya banyak orang yang memakai pakaian yang aneh bagi dirinya ,yaitu kain kasar dan sarung berwarna coklat sebagai pelengkap.
" siapa kalian...?"
" hei Yasir jangan berpura-pura bodoh ya ,ini di desa ,desa Plarangan, apa kamu tidak ingat atau hanya sekedar menghindar pernikahan desa ini "
" aku benar benar tidak ingat...!" Pemuda itu memegang kepalanya dan hanya sekilas sebuah bayangan kenangan muncul, dan juga kecelakaan yang menimpanya menjadi satu hingga membuat ia tak sadarkan diri untuk kedua kalinya.
" sial , dia benar benar bodoh ,sekarang juga ayo kita gotong dia kerumah janda tua anak dua itu, agar dia tahu bagaimana caranya menghidupi sebuah keluarga, "
Semua warga sepakat dan menggotongnya menuju sebuah rumah yang tampak sederhana dengan ukuran yang hanya cukup untuk lima orang.
" janda tua keluar ..!"
Dari dalam rumah seorang wanita tua bungkuk, muncul dan tampak gelisah mendengar teriakan warga tetanggannya itu, " lek ada apa , saya masih belum punya uang untuk membayar hutang tepung singkong, " mata wanita tua itu tampak berkaca kaca dan seakan bisa mati kapan saja .
" janda tua kamu tidak perlu membayar hutang makanan singkong itu , "
" ahh bagaimana bisa ,hutang harus di bayar..saya tidak enak hati ..." janda tua itu menolak dan bersikeras akan membayar hutang yang telah dia ambil dari warga.
" tidak perlu janda tua ,kami datang untuk menikahkan kedua gadis janda tua dengan pemuda ini ,"
Janda tua itu menatap ke arah pemuda yang tidak sadarkan diri itu dan ia akhirnya tahu mengapa warga menolak dirinya untuk membayar hutang.
" apakah anak ini ..." suaranya tercekat ,seakan tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
" ya ,kami seluruh warga sepakat untuk memberikan pemuda ini kepada keluarga janda tua ,agar dia tahu bagaimana caranya bekerja dan berumah tangga ,semua hutang tidak perlu di lunasi, juga lahan yang ada di ladang hutan jati bisa janda tua olah ,karena itu adalah warisan terakhir Yasir , "
Tanpa basa basi warga memberikan surat keterangan nikah dan tanpa menunggu pihak lain setuju, langsung setetes darah menetes di surat keterangan nikah ini .
Sang janda hanya bisa pasrah dan perlahan membuka pintu rumahnya yang sangat sederhana, lalu Yasir yang masih tidak sadarkan diri di baringkan di papan kayu yang kering .
Dua gadis yang berusia lima belas tahunan tampak menunduk ,sedih namun tidak berdaya , karena mereka semua takut bilamana pemerintah desa akan menekan mereka sekeluarga bilamana melawan kehendak desa .
" mbok kumaha ,"
" nak umi tidak bisa melawan ,kita rawat dan jalani saja takdir ini ," Sang janda tua sedang memasak air dan tampak uap panas menerpa ke wajah pemuda yang tak sadarkan diri itu.
Perlahan ia membuka kedua matanya dan melihat suasana di sekitarnya yang tampak sederhana. Ia melihat tiga wanita tua dan muda sedang duduk di tanah dengan pandangan kosong.
" umhh maaf ,ini di mana ya ?"
Suara pemuda yang terdengar itu ,membuyarkan lamunan ibu dan anak itu.
" ahh kamu sudah bangun mas ,apakah kamu mau minum ?"
Ricky Riswan melihat seorang gadis sederhana dengan balutan kain yang kumuh dan tidak layak pakai dan juga di sampingnya gadis yang sama berdiri sejajar ,tampak kurus dan tidak terawat.
" gadis siapa kalian ?"
Wanita tua yang sedang menatap perapian mengambil kertas yang ada atas meja dan memberikannya kepada Ricky Riswan .
" nak Yasir ,ini surat nikah yang diberikan oleh warga desa dan sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini " ucapnya dengan suara parau dan lemah.
" tunggu nikah. .. kenapa aku tidak tahu?"
Ricky memejamkan matanya ,ia mencoba mengingat tentang kejadian sebelumnya dan baru mengetahui bahwa dirinya adalah seorang bajingan desa yang meresahkan warga hingga sampai semua warga menikahkan dirinya dengan paksa .
" yah aku ingat ... maafkan aku ..!"
Ia yang bernama Ricky Riswan seorang pekerja yang baru saja terkena PHK dan yang ia ingat terakhir kali dalam hidupnya adalah suara benturan keras dan juga teriakan warga yang membawanya pergi ,juga ia mengingat bagaimana sikap dan sifat pemilik tubuh sebelumnya yang sangat buruk dan tidak tahu malu ,hal itu kemungkinan karena kedua orang tuanya yang meninggal tanpa memberikan nasihat apapun untuk terakhir kalinya.
" baiklah namaku Yasir Hamdan, ... ya nama islami tapi kelakuan seperti orang yang tidak punya hati " pikirnya dengan nafas pelan yang panjang.
" karena bibi sudah menjadi keluargaku ,aku akan berusaha untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarga ini , aku memang dulunya sangat tidak bisa berbuat baik dan sekarang aku sudah memiliki keluarga, jadi aku akan perlahan mengubah sifat dan sikapku ini " yasir turun dari atas tempat tidur kayu dan melihat ke arah panci yang tidak ada apa apapun ,hanya air yang mendidih.
Ia merogoh sakunya dan menemukan lima koin dengan nominal lima sen ,kemudian memberikannya kepada sang janda tua itu. " Entah ini apakah cukup atau tidak , tolong beli untuk makan sehari atau beberapa hari ini " Yasir tidak tahu harus berkata apa lagi ,ia berjalan perlahan menuju luar halaman, di mana pemandangan desa yang asri terlihat jelas.
" ya allah terimakasih telah memberikan aku kesempatan hidup kedua ini ,walaupun aku harus datang ke zaman kolonial Belanda, tapi aku bersyukur...!"
Ia melihat sawah sawah yang baru saja di petik padinya dan tampak dari kejauhan beberapa orang tua sedang asik bekerja membajak sawah menggunakan kerbau .
" aku akan melihat bagaimana kualitas padi yang ditanam oleh warga ,apakah bagus atau tidak , " Yasir berfikir untuk memungut sisa sisa padi yang jatuh di pematang sawah dan ia akan menanamnya di ladang miliknya di hutan jati .
Ia kembali ke dalam gubuk sederhana dan melihat bahwa hanya ada janda tua dan satu gadis yang sedang menyiapkan kayu dan bumbu .
" umi aku akan berjalan jalan, dan melihat ladang di hutan jati ,sudah lama aku tidak ke sana " Yasir berpamitan dan dua wanita tua ,muda itu hanya menganggukan kepala tanda mengerti.
Di perjalanan, ia bertemu dengan beberapa pemuda yang tampak membawa sabit dan tali ,ia tahu bahwa mereka akan mencari rumput untuk makan kerbau dan kambing .
" sebenarnya banyak lowongan pekerjaan di desa ini ,bekerja serabutan sebagai pemetik padi , penggiling padi ,pencari makan hewan ,atau buruh tani di sawah , " gumamnya dengan mata yang jelas menatap ke arah sawah yang belum dikerjakan oleh para petani.
" kang Yasir, kenapa kamu di sini ?"
Yasir menoleh ke belakang ,ia melihat seorang anak kecil yang tampak membawa barang yang cukup berat, namun anak kecil tersebut tidak memiliki hal rasa lelah ,melainkan semangat yang timbul karena barang bawaannya itu.
" Yahya ,apa yang kamu bawa ?" Yasir balik bertanya ,ia memandang ke arah bakul yang di bawa oleh anak kecil yang bernama Yahya tampak seperti buah kelapa yang sudah dihilangkan sabutnya.
" ini ,kelapa ,aku mau pergi ke kota dekat desa ,menjual kelapa ini ,mumpung harganya masih mahal " kata Yahya dengan wajah kecil yang kurus.
" ohh ... bagus semangat... !"
Yasir berjalan canggung dan hanya menatap ke arah anak kecil yang membawa barang melebihi ukuran tubuhnya, " anak zaman dahulu sangat kuat dan memiliki sifat yang tangguh ,hanya saja aneh dengan sifat pemilik tubuh ini ,bodoh ,pemalas dan juga pemabuk berat " kutuknya dalam hati .
Ia terus berjalan menelusuri pematang sawah yang belum di kerjakan oleh para petani dan ia mengambil satu demi satu bulir padi yang menempel di pematang sawah ,hingga dalam waktu dua puluh menit ,berhasil mengumpulkan satu kilo bulir bulir padi .
" yah ini cukup...!"
" bang Yasir apa yang kamu lakukan dengan gabah gabah itu, ?" Tanya seorang pria muda yang membawa cangkul di pundaknya.
" ehh Kasnan ,aku hanya penasaran dan mencoba mengumpulkan gabah gabah ini " kata Yasir dengan senyum tipis .
" kalau mau banyak, ada di gubuk bang ,"
" tidak ini saja ..!" Yasir tahu pemuda itu hanya menawarkan saja ,tidak benar benar ikhlas memberi ,hal itu terlihat dari raut wajah Kasnan yang khawatir.
" tidak apa apa bang ,...!"
Yasir berdiri dan berencana membawa gabah gabah itu kembali, " tidak terimakasih, ini sudah cukup " ucap Yasir pergi dari hadapan pria muda itu.
Ia tidak mau terkena masalah atau gosip dari warga desa Plarangan, ia juga perlahan akan mengubah dirinya dari seorang pemalas menjadi pemuda yang berguna bagi keluarga dan negara ( walaupun zaman itu adalah zaman kolonial Belanda, tapi pemikiran untuk merdeka sudah ada sejak 1928 , dan mulai muncul partai politik di berbagai daerah di pulau Jawa).
Berjalan pelan ,ia kembali naik ke atas tanjakan yang cukup licin, ia tidak habis fikir dengan jalan selicin ini ,bisa dilewati dengan mudah oleh para warga dan juga keluarga barunya.
Saat sampai di rumah ,ia melihat bahwa ada satu karung kain tepung singkong dan juga beberapa ikan asin yang kering .dan ia juga melihat sebotol minuman yang tidak asing baginya.
" mas sudah pulang " gadis yang ada di dalam rumah melihat Yasir terdiam menatap ke arah dapur .
" ya , kenapa kamu membeli minuman ini ?"
" ini , aku .... !" Matanya tampak berkaca kaca ,seperti ingin mengatakan sesuatu tapi takut .
" baiklah jangan menangis ,aku sekarang adalah kepala keluarga, aku tidak butuh minuman seperti itu dan aku harap di masa depan, tidak ada lagi kejadian seperti ini, kembalikan " kata Yasir dengan wajah serius ,ia menghapus air mata yang mengalir pelan di wajah pucat gadis yang belum tahu namanya siapa.
" baik ,aku akan kembalikan...!"
" tunggu ..!"
" ada apa mas ?"
" umhh siapa nama kamu dan saudarimu, agar aku bisa memanggil kalian berdua dengan nama " Yasir tersenyum tipis, ia duduk di kursi meletakan gabah yang ada di kantongnya itu.
" aku Lestari dan saudariku, Halimah..." jawabnya pelan, tampak tidak berani menatap Yasir yang ada di depannya.
" baiklah, Tari ,aku akan memanggilmu dengan nama itu "
" terimakasih mas !"
Gadis kurus yang bernama Lestari itu berdiri dan akan segera mengembalikan minuman yang sempat di beli tadi, namun Yasir menghentikannya, " Tari apakah kamu sudah makan ?"
" umhh belum... nasi singkongnya belum matang !"
" tunggu dulu ,setelah makan baru kembalikan barang haram itu , juga panggil umi dan Halimah untuk makan bersama, "
" baik mas !"
Tak lama kemudian dua wanita tua dan muda muncul dengan pakaian yang dipenuhi keringat , keduanya tampak seperti baru saja dari sawah ,dan itu terlihat dari penampilan wanita tua yang kakinya penuh dengan lumpur.
" umi dari mana ?" Tanya Yasir prihatin .
" dari sawah nak , kamu juga darimana ,apakah sudah makan ?" Sang wanita tua tersenyum tipis ,dan mulai membersihkan kakinya di aliran air yang cukup untuk membersihkan kaki dan tangan.
" aku belum makan ,kita semua makan bersama sama " kata Yasir masuk ke dalam rumah .
Mata wanita tua itu dipenuhi rasa terkejut, ia merasa pemuda di depannya sangat baik dan tidak melakukan hal kasar yang seperti di beritakan oleh para penduduk.
" umi kamu sudah tua, biar aku saja yang bekerja ,juga aku lihat punggung umi sudah tidak bisa lagi tegak " mata Yasir dipenuhi rasa kasihan dan ia berjanji untuk bekerja baik dan halal .
Wanita tua itu hanya tersenyum, " tidak apa apa nak , umi tidak lelah ,umi bekerja juga demi semua orang ,kamu sebagai menantu umi memang berhak untuk bekerja , tapi umi masih sanggup"
" tidak umi ,sekarang juga umi harus berhenti ,bagaimana jika cucu umi lahir dan melihat neneknya tidak berdaya dan tidak bisa bermain dengan cucunya, aku sebagai seorang lelaki merasa gagal dan aku tidak mau melihat hal ini " kata Yasir terus membujuk.
" terus di masa depan , siapa yang akan memenuhi kebutuhan hidup sehari hari ?"
" saya umi, aku ingat masih ada pekerjaan di pasar dan setiap minggu aku dapat sekitar sepuluh hingga dua puluh sen ,itu cukup untuk makan satu minggu dan kita semua bisa menabung sedikit, " kata Yasir bersungguh sungguh.
Wanita tua itu merasa ada yang menopang hidupnya, matanya menatap kedua anak perempuannya yang tampak memerah di mata dan wajahnya, keduanya merasa bahwa hidup di masa depan akan menjadi maju dan normal dan ada kesungguhan tekad di masing masing mata dua gadis muda itu.
" baiklah nak ,aku akan berhenti bekerja, tapi kamu harus segera memberikan umi cucu , kedua putriku secara sah sudah menjadi istrimu ,walaupun terdengar aneh, tapi sudah tertulis di atas kertas " kata wanita tua itu tersenyum penuh pengharapan.
" baik umi ,aku akan berusaha...,sudah sekarang kita sarapan bersama sama " Yasir mengambil piring kayu yang cukup kasar dan mengisinya dengan nasi singkong yang cukup banyak ,lalu meletakan di depan wanita tua itu ,lalu kemudian ia mengambil wadah dua gadis yang masih kosong itu .
" biar saja kami saja mas , "
" tidak apa apa tenang saja imah , " Yasir melakukan hal yang sama dan sekarang nasi singkong sudah berpindah tempat .
" umi makan yang banyak ,kamu harus sehat selalu, Tari , Imah kalian juga makan yang banyak ,setelah ini aku akan mengajak salah satu diantara kalian berdua untuk pergi ke pasar, agar yakin bahwa aku bekerja seperti biasa dan melakukannya secara halal " ujar Yasir dengan wajah bersungguh sungguh. Ia ingin membuktikan bahwa dia bukan pemuda malas dan akan berubah selamanya .
" baik mas ,biar Tari saja yang menemani mas pergi ke pasar , imah sama umi di rumah !"
Yasir bersiap ,ia masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian ,di dalam ia hanya bisa menghela nafas pelan ,matanya tampak begitu sedih melihat keadaan kamar yang hanya cukup untuk tiga orang saja.
" aku akan membangun perlahan rumah yang lebih besar dan cukup untuk kami tinggal di masa depan " gumamnya dengan mata tekad.
Ia kemudian mengambil pisau kecil ,lalu meletakannya di pinggang , ia teringat bahwa tugas di pasar adalah mengamankan pasar dari para perusuh atau pencuri , dan dia mendapat bayaran dari pemerintah desa Plarangan.
Saat ia keluar kamar , Lestari sudah bersiap untuk berangkat bersamanya, pakaiannya yang bersih dengan penuh tambahan kain , membuat terlihat kontras dengan pakaian kerja dinasnya, namun Yasir tidak peduli, yang penting gadis itu tahu dengan pekerjaannya.
" mas apakah tidak apa apa ,aku ikut ke pasar ?" Lestari tampak ragu ,wajahnya yang masih muda terlihat menunduk.
" tidak apa apa ,tenang saja !"
" tapi ,di pasar semua orang memakai pakaian bagus dan rapi, sedangkan aku seperti ini " ucapnya dengan nada tidak percaya diri.
" tenang saja ,ada aku ,siapa saja yang menghina istriku ,aku akan lawan !" Kata Yasir tersenyum tipis.
" umhh ...!" Wajah gadis itu sedikit memerah dan tidak berani menatap mata Yasir.
" oke sudahlah,...!" Yasir merasa bahwa gombalannya terlalu aneh di mata gadis zaman dahulu , ia lalu bersiap berangkat bersama Lestari dan berpamitan dengan umi juga Halimah .
Di perjalanan Yasir bertemu dengan beberapa warga dan juga anak anak ,mereka tampak ramah dan juga bertanya beberapa hal ,namun karena Yasir masih ada pekerjaan, ia segera bergegas menuju pasar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari desa Plarangan.
Sampai di sana, suasana pasar masih sepi, ia segera masuk ke dalam kantor pasar yang berada di tepi jalan desa .
" assalamualaikum pak Sobri !" Sapa Yasir tersenyum tipis.
Orang tua yang sedang merokok kulit jagung menoleh dan melihat pemuda yang berkulit coklat kekar menyapanya " nak Yasir tumben kamu datang awal ,biasanya saat sudah hampir pasar selesai baru datang " celetuk pak Sobri tertawa lirih.
Yasir hanya tersenyum ,ia mengambil buku catatan dan melaporkan kedatangannya .
" sekarang kamu mau kemana?" Tanya pak Sobri penasaran, matanya melihat gadis di belakang Yasir yang tampak malu menunduk.
" hei nak siapa gadis itu ,apa kamu menculiknya?"
" pak Sobri jangan sembarangan berkata ,ini adalah istriku, namanya Lestari, sengaja aku bawa ke pasar, untuk mengetahui apa pekerjaanku ini " jelas Yasir dengan wajah muram.
" wahh kamu sudah menikah ,kapan ,kenapa aku tidak diundang ?"
" maaf ,pak Sobri tidak diundang karena pak Sobri hanya menghabiskan makanan saja di rumah...!"
" hahahaha bisa saja kamu ... oke sebagai hadiah ,aku hanya bisa memberikan ini " Pak Sobri mengeluarkan satu lembar uang Belanda zaman dahulu ( gulden) dan memberikannya kepada Yasir ." Gunakan ini untuk membeli barang barang yang kamu butuhkan nak !" Ucapnya dengan mata penuh kesungguhan.
" ini .... terimakasih pak Sobri ,saya mulai sekarang akan bekerja bersungguh sungguh ,"
" oke, jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
" aku akan memulai kegiatan baru pak , umhh mengangkat barang barang ,ini juga buat menambah penghasilan mingguan !"
" oke aku setuju ,lagipula tenaga kerja masih kurang dan Emen masih sakit belum bisa bekerja " ujarnya memberikan catatan nama pedagang yang memiliki barang yang sangat banyak.
Yasir menerima catatan itu dan menghapalnya, lalu mengembalikan lagi catatan tersebut kepada kepala pasar pak Sobri.
" sekarang aku akan mulai bekerja pak !"
" ya silahkan...!"
Yasir menoleh ke arah Lestari yang tampak diam tidak bergerak sedikitpun " apakah kamu lelah tari ?"
" tidak mas ,aku tidak lelah ,"
" kalau begitu, ayo bantu suamimu mengangkut barang di tepi jalan dan membawanya masuk ke dalam pasar "
" baik mas !"
Segera pasangan muda itu mulai bekerja, para pedagang yang baru berdatangan merasa heran saat melihat preman pasar mengangkut barang mereka , dan terlebih lagi preman pasar itu membawa seorang gadis muda bersamanya.
Setelah puluhan kali keluar masuk pasar , Yasir dan Lestari selesai mengangkut barang dari tepi jalan, wajah Yasir dipenuhi keringat segar ,sedangkan gadis muda itu terlihat kelelahan, namun tidak ada kata kata mengeluh keluar dari mulutnya, hal itu membuat Yasir merasa kasihan dan berniat untuk memberinya hadiah.
" tari ini simpan " Yasir memberikan satu lembar uang gulden dan lima koin sen kepada gadis muda yang duduk itu .
" mas uang apa ini ?"
" ini, uang kewajiban aku sebagai seorang suami ,jadi terima saja ,dan beli apa yang kamu dan Halimah suka ,dan juga untuk membeli beras serta sembako lainnya " kata Yasir tersenyum lembut.
Kedua mata gadis muda itu tampak berkaca kaca, menahan rasa haru sekaligus kesedihan.
" ada apa ,apakah kamu tidak suka?"
" tidak mas ,hanya saja aku baru pertama kali memegang uang sebanyak ini, walaupun aku tidak begitu bisa membaca tulisan tapi uang ini sangat banyak "
" itu hak kalian berdua, di masa depan kebahagian akan datang dan kamu juga harus makan yang cukup dan banyak, agar tubuhmu bisa berkembang dengan baik "
" mas kenapa kamu sangat baik pada kami semua?"
" karena aku sudah menjadi suami kalian berdua , dan kalian berhak mendapatkan semua ini ,"
" mas terimakasih... !"
" sudah, jangan emosional, kita masih ada di pasar dan segera kita belanja kebutuhan sehari hari " ucapnya menepuk tangannya yang penuh dengan debu.
" umhh ...!"
Yasir bersama Lestari berjalan menuju lapak pedagang beras dan tepung ,pasar perbatasan desa memang sangat luas dan memiliki sistem yang cukup baik dengan luas sekitar 50 meter ,bisa menampung ratusan pedagang dari dua desa .
" hei anak muda, mau beli apa ?"
" beras satu karung kain putih , dan tepung singkong 1 kg "
" oke ditunggu... !"
Yasir melihat bahwa ada beberapa bumbu tradisional yang tergeletak di bagian bawang putih dan merah.
" satu paket bumbu tradisional...!"
" oke , apakah ada yang lain ?"
" sudah itu cukup... berapa ?"
" dua puluh koin sen !"
Yasir mengeluarkan dua ikat koin sen dan memberikannya kepada pedagang beras itu, lalu ia berjalan dengan gerobak kayu berisi beras dan tepung.
" tari ,ayo selanjutnya...!"
Yasir berjalan menuju bagian kain dan memandang dengan cermat kualitas kain yang akan dia beli itu.
" pak Masrul , satu kain ini berapa ?"
" umhh ... kang Yasir kamu mau beli kain ,ini satu meter dua koin sen , butuh berapa,?"
" kain satu meter sepuluh buah, lima meter tiga buah dan dua kain besar dua puluh meter "
" oke karena kang Yasir yang membeli ,lima puluh koin sen saja ,tidak mahal "
" apakah bisa kurang, saya hanya membawa empat puluh koin sen !"
" empat sembilan...!"
" pak Masrul ,tolonglah saya, empat puluh dan aku akan membawa barang ini "
" oke oke, tidak apa apa ,bawa saja sana "
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!