"Kay," panggil Mona.
"Kenapa, Mon?" tanya perempuan bernama Kayla.
"Aku udah daftar koas di negara B, kamu gimana? tanya Mona.
"Aku pengen cari deket sini, tapi kayaknya Ayahku pengen aku koas di negara A deh," ucap Kayla.
"Pulang kampung dong berarti kamu," ucap Mona.
"Aku udah tiga tahun gak pulang, mungkin karena itu Ayah pengen aku koas disana," ucap Kayla.
"Gapapa, kamu koas disana aja. Lagipula, Ayah kamu kan pasti bakal cariin rumah sakit yang bagus buat kamu," ucap Mona.
"Huh, tapi aku gak pengen disana. Aku lebih suka disini," ucap Kayla.
"Terus gimana?" tanya Mona.
"Nah itu, aku juga bingung," jawab Kayla.
"Kamu harus segera putusan soalnya ada batas waktu buat daftar tahun ini, kalau kamu telat harus nunggu periode selanjutnya belum nanti kamu kena sanksi," ucap Mona.
"Makanya aku bingung, menurutmu aku ikutin apa kata Ayah atau gimana ya?" tanya Kayla.
"Kalau saranku sih, kamu ikutin kata Ayah kamu," saran Mona.
"Gitu ya, berarti nanti kita gak ketemu dong," ucap Kayla.
"Pasti bakal kangen sih, aku minggu depan udah berangkat ke negara B," ucap Mona.
"Loh kok cepet banget?" tanya Kayla.
"Iya, aku daftarnya udah agak lama sih sebenarnya. Tapi, baru ketemu kamu hari ini, makanya aku baru ngasih tau hari ini," ucap Mona.
"Selamat bekerja ya, semoga koas kamu lancar dan segera dapat gelar," ucap Kayla.
"Amin, kamu juga ya. Pokoknya kamu harus segera buat keputusan," ucap Mona
"Iya, aku kayaknya bakal putusin besok deh, Mon. Aku butuh waktu buat mikir lagi. Soalnya ini bener-bener penting banget buat masa depan aku," ujar Kayla sambil menghela napas.
Mona menepuk pelan bahu Kayla, "Yaudah, jangan terlalu dipikirin, Kay. Pokoknya kamu harus semangat ya. Apapun keputusanmu, aku dukung. Lagipula, negara A sama negara B kan nggak jauh-jauh banget. Kita masih bisa video call-an," hibur Mona dengan senyum.
Kayla tersenyum tipis, "Makasih ya, Mon. Kamu memang terbaik," ucap Kayla.
"Iya, kalau gitu, aku duluan ya, Kay. Aku mau packing dan siap-siap buat keberangkatan," pamit Mona sambil berdiri.
"Hati-hati, Mon. Kabarin aku kalau sudah sampai," pesan Kayla.
"Pasti! Sampai ketemu lagi, Kay!" seru Mona sambil melambaikan tangan, lalu berjalan meninggalkan kantin kampus.
Kayla memandangi kepergian Mona hingga hilang di tikungan, ia kembali merenungkan perkataan Ayahnya dan perasaannya sendiri. Negara A adalah tanah kelahirannya, tempat keluarganya berada. Tentu saja, koas di sana berarti ia bisa berkumpul lagi dengan keluarga yang sudah tiga tahun hanya ditemui via layar ponsel. Namun, ia merasa lebih nyaman dan betah di negara C. Rumah sakit di negara C juga terkenal memiliki program koas yang sangat baik.
Malam harinya, ketika Kayla berada di apartemennya, tiba-tiba bel berbunyi dan Kayla segera membuka pintu tersebut, ketika Kayla membuka pintu, betapa terkejutnya Kayla ketika melihat keluarganya disana.
"Loh Ayah kok disini?" tanya Kayla dan memeluk sang Ayah.
"Ayah sama Bunda kangen sama kamu," ucap Ayah Demian.
"Kan bulan lalu Ayah udah kesini," ucap Kayla.
"Namanya kangen sayang," ucap Ayah Demian.
"Ayah disini berapa lama?" tanya Kayla.
"Mungkin satu minggu," ucap Ayah Demian dan diangguki Kayla.
Suasana malam yang biasanya sepi, berubah menjadi lebih ramai dengan canda tawa Ayah Demian dan Bunda Anya. Hidup Kayla begitu sempurna, ia memiliki keluarga yang harmonis, apapun yang ia mau selalu terpenuhi, hidupnya tidak pernah susah dan Kayla sangat bersyukur akan hal itu.
"Kayla," panggil Ayah Demian.
"Iya, Yah," jawab Kayla.
"Sebenarnya ada yang mau Ayah bicarakan sama kamu," ucap Ayah Demian.
"Apa, Yah?" tanya Kayla.
"Kamu tau Om Bastian kan?" tanya Ayah Demian.
"Iya," jawab Kayla.
"Ayah ingin mengenalkan kamu dengan anaknya Om Bastian, namanya Arthur," ucap Ayah Demian.
"Anaknya Om Bastian? bukannya Om Bastian cuma punya Joana ya," ucap Kayla.
"Om Bastian punya anak lagi cowok, ya Kakaknya Joana itu namanya Arthur," ucap Ayah Demian.
"Cuma kenalan aja kan?" tanya Kayla.
"Iya, cuma kenalan aja," ucap Ayah demian.
"Yaudah, Kayla mau," ucap Kayla.
"Besok kita akan makan bareng mereka, sekalian kamu biar kenal sama Arthur," ucap Ayah Demian.
"Loh, langsung besok, Yah? apa gak kecepatan," tanya Kayla.
"Gak sayang, justru lebih cepat lebih baik," ucap Ayah Demian.
"Aku kirain nanti setelah aku koas," ucap Kayla.
"Gapapa, kan cuma kenalan," ucap Ayah Demian dan diangguki Kayla.
.
Keesokan harinya, Kayla sudah cantik dengan setelan two piece, di mana Kayla menggunakan atasan crop berkerah berpotongan crop dengan lengan pendek dan kancing depan besar dan memiliki detail tekstur pada bagian bahu yang ia padukan dengan Rok A-line mini, rok dengan pinggang tinggi yang melebar ke bawah memberikan siluet klasik dan feminim.
"Cantik banget anak Bunda," ucap Bunda Anya.
"Bunda baru tau ya kalau punya anak secantik Kayla," ucap Kayla.
"Bisa aja kamu ini, ayo kita berangkat. Ayah sudah menunggu di mobil," ucap Bunda Anya dan diangguki Kayla.
Kayla mengikuti Bunda Anya keluar dari apartemen menuju mobil. Di sana, Ayah Demian sudah menunggu di kursi pengemudi.
"Sudah siap?" tanya Ayah Demian sambil tersenyum dari balik kemudi.
"Siap, Yah," jawab Kayla dengan sedikit gugup.
Kayla tahu ini hanya perkenalan, tetapi entah mengapa ia merasa seperti akan menjalani wawancara penting.
Perjalanan menuju restoran terasa cukup singkat, meski dihiasi obrolan ringan antara Ayah Demian dan Bunda Anya. Kayla lebih banyak diam, sesekali melirik pemandangan di luar jendela, pikirannya masih berkelana antara pilihan tempat koas dan pertemuan yang akan datang.
Mereka tiba di sebuah restoran mewah yang begitu berkelas, Ayah Demian memimpin Bunda Anya dan Kayla mengikuti dibelakangnya, kedatangan mereka disambut oleh seorang pelayan yang mengantar mereka ke sebuah ruangan.
Di dalam ruangan tersebut, sudah ada sepasang suami istri paruh baya yang langsung berdiri menyambut kedatangan keluarga Kayla.
"Demian! Anya! Senang sekali kalian sudah sampai," sapa Om Bastian dengan senyum lebar dan langsung berpelukan dengan Ayah Demian.
"Kami juga senang, Bas. Sudah lama sekali kita tidak makan malam bersama," balas Ayah Demian.
Om Bastian kemudian menyalami Bunda Anya, lalu matanya beralih pada Kayla, "Wah, ini pasti Kayla, ya? Sudah besar dan cantik sekali. Terakhir ketemu kamu masih SMP," pujinya.
"Selamat malam, Om Bastian, Tante Emma," sapa Kayla dengan sopan sambil menyalami keduanya.
Setelah basa-basi, mereka semua duduk. Om Bastian dan Tante Emma tampak akrab dan hangat membuat suasana tidak terlalu kaku.
"Arthur akan segera tiba, dia tadi ada urusan sebentar yang tidak bisa ditinggalkan," jelas Tante Emma.
.
.
.
Bersambung.....
"Tidak masalah, Emma. Kita bisa pesan minuman dulu," ujar Bunda Anya.
Mereka pun mulai berbincang santai, mulai dari bisnis hingga rencana liburan. Kayla menyimak dengan tenang, sesekali menambahkan komentar jika ditanya. Tepat saat pelayan datang membawa minuman, pintu ruangan terbuka dan masuklah seorang pria tinggi dengan postur tegap.
Kayla refleks menoleh ke arah pintu, pria itu memiliki wajah yang tegas, rahang yang kuat dan tatapan mata yang tajam. Arthur mengenakan kemeja biru navy yang tergulung hingga siku, menampilkan lengan kekar.
"Maaf, Pa, Ma. Arthur terlambat," ucap pria itu dengan suara bariton yang dalam.
"Tidak apa-apa, Arthur. Ayo sini, kenalan," kata Om Bastian sambil menunjuk ke arah meja.
Pria itu bernama Arthur itu berjalan mendekat, matanya tidak sengaja bersua dengan mata Kayla sejenak dan Kayla tiba-tiba merasa gugup dan takut ketika melihat Arthur.
"Perkenalkan, ini Arthur. Dan Arthur, ini Om Demian, Tante Anya, dan ini Kayla," ujar Om Bastian.
Arthur menyalami Ayah Demian dan Bunda Anya dengan hormat, lalu beralih kepada Kayla. Hanya singkat, namun berhasil membuat Kayla ketakutan setengah mati.
Mereka pun menikmati makanan yang disajikan di restoran tersebut, setelah itu dilanjutkan dengan obrolan kedua keluarga hingga suara Om Bastian menghentikan obrolan mereka.
"Jadi, bagaimana tentang pernikahan Kayla dan Arthur?" tanya Om Bastian.
"Kita adakan secepatnya saja, mereka berdua kan juga sudah berkenalan," jawab Ayah Demian.
Kayla yang mendengar hal itupun terkejut karena yang ia tahu jika pertemuan kali ini ia hanya berkenalan dengan Arthur, bukan membahas tentang pernikahan.
"Tunggu, maksudnya apa ya Om?" tanya Kayla.
"Loh Ayah kamu belum bilang ke kamu kalau pertemuan ini kami menjodohkan kamu dengan Arthur dan kalian akan segera menikah?" tanya Om bastian.
"Sudah, aku sudah bilang ke Kayla. Tapi, sepertinya Kayla lupa," jawab Ayah Demian.
Kayla yang mendengar jawaban Ayah Demian pun bingung, ia menatap sang Ayah dan Ayah Demian membalasnya dengan mengangguk serta tersenyum.
"Jadi, bagaimana? Tante gak sabar loh punya menantu secantik Kayla," tanya Tante Emma.
"Kamu gimana Arthur?" tanya Om Bastian.
"Arthur sudah setuju dengan perjodohan ini, jadi Papa tinggal tanya Kayla, dia mau atau gak," jawab Arthur dengan tatapan datar.
"Gimana Kayla?" tanya Om Bastian.
Kayla yang mendapat pertanyaan itu pun bingung, ia belum siap menikah karena masih ada masa depan yang harus ia kejar.
Melihat keraguan pada Kayla, Om Bastian pun tersenyum dan mengerti. "Om tau kamu pasti bingung kan, karena kamu masih harus mengejar pendidikan kamu, tapi kamu tidak perlu khawatir karena Arthur akan mendukung kamu. Kamu tetap bisa melanjutkan impian kamu meskipun kamu sudah menikah, iya kan Arthur?" tanya Om Bastian.
"Iya," jawab Arthur.
"Jadi, gimana sayang?" tanya Tante Emma.
'*Aku harus gimana ini? aku terima atau aku tolak? Tapi, aku belum siap menikah*,' batin Kayla.
Kayla menarik napas dalam-dalam, menatap sejenak pada Om Bastian dan Tante Emma yang penuh harap padanya
“Kayla?” panggil Bunda Anya lembut, seolah memberi dukungan tanpa memaksa.
Kayla tahu, menolak perjodohan di depan dua keluarga besar yang terlihat sangat antusias dan sudah bersepakat ini akan terasa sangat tidak enak, terutama bagi Ayah Demian yang sudah membohonginya. Lalu Kayla melihat senyum Ayah Demian yang terlihat meyakinkan dan penuh harap, Kayla menghela napas pasrah dan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Baik, Om, Tante. Kayla setuju," jawab Kayla dengan suara yang nyaris berbisik namun terdengar jelas di ruangan hening itu.
Senyum lebar langsung merekah di wajah Bunda Anya, Om Bastian, dan Tante Emma, suasana yang tadinya tegang tiba-tiba menjadi lebih hangat dan ceria.
Tante Emma beranjak dari kursinya, berjalan mendekati Kayla dan memeluknya erat. "Selamat datang di keluarga kami, Sayang. Tante sudah menganggapmu seperti anak sendiri," bisiknya tulus.
Arthur, yang sedari tadi hanya diam, kini mengangguk tipis ke arah Ayahnya. Reaksi yang sangat minim, namun cukup bagi Om Bastian.
"Baiklah, karena semuanya sudah sepakat, bagaimana kalau kita bicarakan tanggal pernikahan dan persiapannya?" usul Ayah Demian, tampak lega dan bahagia.
Pembicaraan pun berlanjut membahas rencana pernikahan, mereka memutuskan untuk mengadakan pernikahan dalam waktu satu bulan ke depan, dengan alasan agar ketika Kayla koas di negara A, dia ada yang menjaga. Kayla hanya menyimak obrolan tersebut dan ia baru tau jika Arthur adalah seorang Dokter di salah satu rumah sakit di negara A, tapi Kayla tidak bertanya lebih lanjut karena Kayla masih takut pada Arthur.
Tepat sebelum pertemuan berakhir, saat semua orang sibuk membereskan barang, Bunda Anya menarik tangan Kayla sedikit menjauh.
"Kayla, Sayang. Kenapa tadi kamu terlihat takut sekali saat melihat Arthur?" tanya Bunda Anya dengan nada khawatir.
Kayla terdiam, ia bingung untuk menjelaskan rasa takutnya yang datang secata tiba-tiba, seolah ia merasakan aura berbahaya dari Arthur.
"Ti-tidak, Bun. Mungkin hanya gugup karena baru pertama bertemu," jawab Kayla berbohong sambil memaksakan senyumnya.
Bunda Anya mengelus pipi Kayla dengan lembut, "Bunda harap kamu tidak menyembunyikan apa pun, Arthur memang terlihat serius dan tegas, tapi dia anak yang baik. Kamu jangan takut, ya," ucap Bunda Anya dam diangguki Kayla.
Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih, Kayla dan kedua orang tuanya meninggalkan restoran. Di dalam mobil, Bunda Anya dan Ayah Demian tampak sangat bahagia.
"Terima kasih ya Kayla, karema sudah mau menerima perjodohan ini," ucap Ayah Demian.
"Kenapa Ayah gak bilang dari awal kalau ini perjodohan, bukan hanya perkenalan?" tanya Kayla dengan nada kecewa yang tak bisa ia sembunyikan.
Ayah Demian menghela napas. "Maafin Ayah, ya sayang. Ayah tahu kamu akan menolak jika Ayah bilang ini perjodohan, jadi ayah terpaksa bohong sama kamu," ucap Ayah Demian.
"Tapi, kenapa harus buru-buru? apa gak bisa setelah aku jadi Dokter?" tanya Kayla.
"Ayah sama Bunda gak bisa terus menjaga kamu dan satu-satunya cara yang paling tepat adalah menikahkan kamu dengan pria yang Ayah yakin dia adalah pria terbaik buat kamu dan pria itu adalah Arthur. Lagipula kan Arthur juga tinggal di negara A, jadi nanti pas kamu koas di sana, kamu ada yang jagain dan Ayah gak akan khawatir lagi," ucap Ayah Demian.
Kayla terdiam, "Ayah mau kemana? kenapa Ayah gak bisa jagain Kayla?" tanya Kayla.
"Kayla, Ayah pernah bilang sama kamu kan kalau Ayah sama Bunda mau pindah ke daerah pedesaan dan menikmati masa tau di sana. Ayah ingin mewujudkan impian Ayah dan Bunda, kamu dan Kak Adrian sudah bahagia dan sekarang giliran Ayah sama Bunda yang ingin berduaan," ucap Ayah Demian.
Mendengar jawaban Ayah Demian, Kayla pun mengerti dan ikhlas menerima perjodohan ini.
.
.
.
Bersambung.....
Hari terus berlalu, akhirnya hari yang tidak ditunggu Kayla pun tiba, hari ini ia akan menikah dengan pria yang baru ia kenal satu bulan lalu. Pernikahan yang begitu mendadak dan terburu-buru, padahal Kayla tengah fokus pda pendidikannya.
Pernikahan Kayla dan Arthur dilaksanakan di gereja yang tak jauh dari apartemen Kayla, tidak ada resepsi, tidak ada acara besar, hanya makan-makan sederhana yang dilakukan kedua keluarga di apartemen Kayla, di mana apartemen Kayla memang terbilang cukup besar.
Skip...
Janji suci antara Kayla dan Arthur pun berjalan lancar, saat ini keduanya sudah sah menjadi suami istri. Setelah pemberkatan Arthur hanya diam, tidak ada obrolan diantara keduanya, Arthur hanya akan bicara jika Papa Bastian dan Mama Emma mengajakanya bicara, selebihnya ia hanya diam.
Saat ini, Arthur, Kayla dan seluruh keluarga keduanya sudah berada di apartemen Kayla. "Apartemennya bagus ya, luas juga," ucap Mama Emma.
"Aku suruh Kayla cari apartemen yang besar biar dia enak tinggalnya disini," ucap Ayah Demian.
Acara pun terus berlanjut, Arthur dan Kayla duduk berdampingan di sofa ruang tamu, mereka hanya diam ketika orang-orang asik mengobrol hingga Mama Emma pun menghampiri mereka.
"Arthur, jangan diam aja. itu Kayla diajak ngobrol," ucap Mama Emma.
"Iya," jawab Arthur.
Setelah itu, Arthur menoleh Kayla. "A-ada apa?" tanya Kayla yang begitu gugup karena Arthur menatapnya dengan tatapan tajam seolah ingin menguliti Kayla.
"Mau makan?" tanya Arthur.
"Gak, a-aku kenyang," jawab Kayla.
"Kenyang? Kapan makannya?" tanya Arthur.
"Tadi pagi sebelum ke gereja," jawab Kayla asal.
"Yasudah," ucap Arthur lalu berdiri dan pergi ke meja makan.
Di meja makan, Mama Emma melihat Arthur yang menghampirinya dan mengambil makanan yang disediakan di meja tersebut.
"Mana Kayla?" tanya Mama Emma.
"Di ruang tamu, gak amu makan katanya udah kenyang," jawab Arthur.
"Harusnya kamu paksa lagi, perempuan itu mainya di paksa," ucap Mama Emma dan pergi ke runag tamu untuk menemani Kayla.
Disisi lain, Kayla melihat Arthur yang berjalan menjauh menuju meja makan hanya bisa menghela napas panjang. Rasanya oksigen di sekitarnya baru saja kembali setelah pria itu beranjak. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama karena Mama Emma justru mendekat dan duduk di samping Kayla, menggantikan posisi anaknya tadi.
"Kayla sayang, Arthur memang begitu. Dia kaku dan tidak pandai berbasa-basi, tapi dia perhatian dengan caranya sendiri," ucap Mama Emma sambil mengelus tangan Kayla lembut.
Kayla hanya tersenyum tipis, tidak berani menyanggah. 'Perhatian? Dia bahkan tidak bertanya kenapa aku takut padanya,' batin Kayla.
"Iya, Ma," jawab Kayla.
Sedangkan, di meja makan Arthur terlihat tenang menyantap makanannya. Gerakannya sangat rapi dan efisien, mencerminkan kedisiplinannya sebagai seorang Dokter. Meskipun sedang makan, auranya tetap mendominasi ruangan dan sesekali ia menjawab pertanyaan Ayah Demian dengan anggukan dan memberikan jawaban singkat satu atau dua kata.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan semua keluarga pun memutuskan untuk menginap di hotel, mereka ingin memberikan waktu untuk Kayla dan Arthur saling mengenal, karena itu tidak ada yang menginap di apartemen Kayla.
"Ingat Arthur, jangan kasar-kasar, kasihan Kayla," ucap Mama Emma.
Kayla yang mendengarnya pun wajahnya terasa panas, sedangkan Arthur tampak biasa saja bahkan Arthur membalas perkataan Mama Emma. "Iya, nanti Arthur pelan-pelan," jawab Arthur.
"Bunda gak sabar pengen punya cucu," ucap Bunda Anya.
"Iya, sama ya Jeng," ucap mama Emma.
"Pa, bawa Mama pergi," ucap Arthur pada Papa Bastian.
"Hahaha, iya. Kita pergi dulu ya," pamit Papa Bastian.
"Ingat, yang nurut sama suami ya," ucap Ayah Demian.
"Iya, Yah. Ayah sehat-sehat ya, jangan lupain Kayla," ucap Kayla.
"Gak akan, mana bisa Ayah lupain putri kesayangan Ayah ini, Ayah pergi dulu ya. Arthur, jagain anak Ayah, awas kalau sampai anak Ayah terluka," ucap Ayah demian.
"Iya, Yah. Arthur gak akan pernah lukai Kayla," ucap Arthur.
"Bagus, Ayah pegang janji kamu," ucap ayah Demian lalu pergi dari apartemen Kayla.
Apartemen yang tadi ramai kini mendadak sunyi senyap, hanya ada Kayla dan Arthur yang berdiri di ruang tengah.
"A-aku mau bersih-bersih dulu," ucap Kayla yang memecah keheningan.
Kayla segera masuk ke kamarnya, yang kini juga menjadi kamar Arthur. Di dalam kamar, Kayla melihat koper Arthur yang sudah diletakkan di sudut ruangan. Rasanya aneh melihat barang milik pria asing di ruang pribadinya, setelah mandi dan berganti pakaian dengan piyama panjang yang tertutup rapat, Kayla keluar dan mendapati Arthur sedang duduk di tepi ranjang, baru saja selesai melepas kemejanya.
Kayla mematung di ambang pintu kamar mandi, punggung tegak Arthur dengan otot yang kokoh terlihat sangat jelas dan Kayla refleks membuang muka.
"Sudah selesai?" tanya Arthur tanpa menoleh.
"Sudah," jawab Kayla pelan.
Arthur berdiri dan mengambil handuk lalu berjalan melewati Kayla untuk masuk ke kamar mandi. Saat pria itu lewat, aroma parfum woody bercampur aroma maskulin yang kuat tercium oleh Kayla, membuat jantungnya berdegup tak karuan.
Tak lama kemudian, Arthur keluar hanya dengan mengenakan celana panjang kaos, ia naik ke atas ranjang dan bersandar pada kepala tempat tidur. Kayla masih berdiri kaku di sisi lain tempat tidur.
"Tidurlah, aku tidak akan memintanya. Aku terlalu capek hari ini," ucap Arthur.
Kayla pun naik ke ranjang dengan sangat hati-hati, ia tidur di posisi paling pinggir, bahkan hampir jatuh dari ranjang karena terlalu takut bersentuhan dengan Arthur.
"Jangan tidur terlalu pinggir, nanti kamu jatuh," suara bariton Arthur tiba-tiba terdengar di kegelapan dan membuat Kayla tersentak.
"I-iya," jawab Kayla singkat, namun ia tetap tidak bergeser.
Melihat Kayla yang masih berada di posisinya Arthur pun kesal, "Geser kesini, aku tidak akan meminta apa-apa darimu," ucap Arthur.
"Iya, ini sudah pas kok," ucap Kayla.
'Pas apanya, udah mau jatuh gitu,' batin Arthur.
Karena merasa gemas dengan Kayla, Arthur mendekati Kayla dan memeluk Kayla dari belakang lalu menariknya hingga posisi mereka saat ini berada di tengah kasur.
Kayla yang terkejut pun masih mencerna apa yang baru saja terjadi, ketika ia sadar dan ingin menjauh dari Arthur, Arthur sudah menahan pinggangnya.
"Sudah jangan bergerak, hari ini adalah hari yang melelahkan, jadi cepat tidur," ucap Arthur yang masih memeluk Kayla dari belakang.
Kayla yang tidak bisa menjauh dari Arthur pun hanya pasrah dan memejamkan matanya hingga ia terlelap di pelukan sang suami yang baru saja ia nikahi hari ini.
.
.
.
Bersambung.....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!