Indonesia
NovelToon NovelToon

TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!

BAB 1: Rumah Tua, Ingatan Kabur

Udara sore itu dingin, menusuk hingga ke tulang. Risa menghembuskan napas, menciptakan awan tipis di hadapannya sebelum menghilang ditelan senja. Matanya memicing, menatap lekat pagar besi berkarat di hadapannya. Lumut hijau menjalar tak karuan, seolah ingin menelan setiap sudut yang masih tersisa dari kejayaan masa lalu. Di baliknya, berdiri megah—atau lebih tepatnya, angker—sebuah rumah tua bergaya kolonial yang kini menjadi satu-satunya warisan yang ia miliki.

Sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak ia terakhir menginjakkan kaki di pekarangan ini. Sepuluh tahun sejak malam berdarah itu, malam di mana jeritan terakhir ibunya terputus begitu saja, menyisakan Risa yang masih berumur tujuh tahun dengan trauma membekas dan ingatan yang kabur. Kini, ayahnya pun telah tiada. Meninggalkannya seorang diri, kembali ke sini. Ke rumah terkutuk ini.

“Risa, ayo masuk. Nanti kemalaman,” suara Bibi Lastri memecah keheningan yang menyelimuti. Wanita paruh baya itu berdiri di ambang pintu mobil, tersenyum ramah—senyum yang Risa tahu persis, tidak pernah mencapai mata dinginnya. Bibi Lastri mengenakan blus motif bunga-bunga, menutupi bekas luka bakar samar di tangan kanannya yang Risa perhatikan selalu ia tutupi, bahkan saat di rumah sekalipun. “Kamu pasti capek, kan?”

Risa hanya mengangguk pelan. Ia menarik koper kecilnya, melangkah gontai melewati gerbang yang berdecit nyaring seolah protes. Pohon-pohon tua dengan ranting-ranting menjulur seperti jemari kurus menyambutnya, daun-daun kering berserakan di tanah, menambah kesan suram pada rumah yang seolah hidup dalam waktu yang berbeda.

Begitu masuk, aroma apak dan debu langsung menyerbu indra penciumannya. Ruang tamu luas menyambut, dengan furnitur kayu jati yang diselimuti kain putih kusam. Di tengahnya, berdiri sebuah cermin besar berbingkai ukiran rumit. Risa berhenti, menatap pantulannya sendiri. Rambut hitam sebahu, wajah pucat, dan liontin kunci kecil yang selalu menggantung di lehernya. Kunci tanpa gembok. Pengingat akan sesuatu yang hilang, sesuatu yang terkunci dalam ingatannya.

“Jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Bibi tahu ini berat, tapi kamu harus kuat,” Bibi Lastri menepuk pundak Risa, suaranya lembut, penuh pengertian. “Rumah ini memang sudah lama kosong. Besok Bibi suruh orang bersih-bersih.”

Risa mengangguk lagi, pandangannya tidak lepas dari cermin itu. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Bukan debu atau pantulan dirinya. Tapi, ada kilasan bayangan di sudut cermin, seolah sosok samar lewat begitu saja. Ia mengedipkan mata, dan bayangan itu lenyap. Hanya pantulan dirinya yang lelah yang tersisa.

“Ayo, biar Bibi tunjukkan kamarmu,” kata Bibi Lastri, menarik Risa dari lamunannya. Mereka menaiki tangga kayu yang berderit di setiap pijakan. Bau kayu lapuk semakin kuat. Kamar Risa terletak di ujung koridor, dengan jendela besar menghadap taman belakang. Di dalamnya, sebuah ranjang besi tua dengan sprei putih bersih terhampar. Bibi Lastri memang sudah menyiapkan semuanya.

“Ini kamar ibumu dulu,” Bibi Lastri menjelaskan, matanya berkeliling. “Bibi sengaja biarkan seperti ini. Siapa tahu kamu lebih nyaman.”

Risa merasakan jantungnya berdesir. Kamar ibunya. Ia berjalan mendekati jendela, menyentuh kusen kayu yang dingin. Dari sini, ia bisa melihat seluruh taman. Rimbun, dengan semak belukar yang tak terawat dan pohon mangga raksasa yang dahannya menjulur hingga menyentuh atap.

“Bibi tinggal di rumah sebelah, ya? Kalau ada apa-apa, panggil saja Bibi,” ujar Bibi Lastri. “Nanti Bibi antar makan malam ke sini. Kamu istirahat dulu.”

Setelah Bibi Lastri pergi, Risa menghela napas panjang. Ia menjatuhkan diri di tepi ranjang. Keheningan segera menyelimuti. Keheningan yang tidak kosong, melainkan penuh. Penuh dengan bisikan-bisikan tak kasat mata yang entah mengapa terasa begitu nyata. Ia memejamkan mata, mencoba mengusir rasa takut yang mulai merayapi.

Sore menjelang malam. Risa membuka kopernya, mengeluarkan beberapa buku pelajaran dan novel. Ia berusaha mengalihkan pikiran dengan membaca. Namun, setiap kata yang ia baca seolah melayang, tak mampu masuk ke dalam otaknya. Malam itu, ia tidak bisa tidur. Setiap suara angin yang menderu, setiap dahan pohon yang bergesekan, seolah menjadi irama menakutkan yang membangkitkan kenangan-kenangan buruk.

Pukul 02.00 dini hari. Risa terbangun dari tidur singkat yang gelisah. Tenggorokannya kering. Ia memutuskan untuk turun mengambil minum. Rumah itu gelap gulita, hanya diterangi rembulan yang menembus jendela kaca patri di ruang tamu. Langkah kakinya berhati-hati, menuruni tangga yang berderit. Ia merasa diikuti.

Sensasi itu, sudah lama tidak ia rasakan. Sensasi dingin di tengkuk, rambut halus di lengannya meremang. Ia menoleh ke belakang, tapi tidak ada apa-apa. Hanya bayangan gelap yang menari-nari di dinding, dibentuk oleh pantulan cahaya rembulan.

Saat melewati ruang tamu, pandangannya kembali tertuju pada cermin besar itu. Kali ini, ia melihatnya dengan jelas. Bukan bayangan samar, tapi sebuah sosok. Wanita berambut panjang, mengenakan gaun putih usang, berdiri di belakang pantulan dirinya. Wajahnya kabur, namun matanya… matanya menatap Risa dengan sorot penuh kesedihan, seolah memohon sesuatu. Risa membeku di tempatnya. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin keluar.

“Ibu?” bisik Risa, suaranya nyaris tak terdengar. Ia mengulurkan tangan, gemetar. Bayangan itu tidak bergerak. Hanya menatapnya. Lalu, perlahan, sosok di cermin itu mengangkat tangannya. Jari telunjuknya menunjuk ke arah sudut ruangan yang gelap, tempat sebuah pintu kecil tersembunyi di balik lemari buku tua. Pintu yang Risa tidak pernah tahu keberadaannya.

Suara berderit pelan terdengar dari arah pintu itu, seolah ada yang membuka atau menutupnya. Risa menoleh. Bayangan wanita di cermin itu menghilang, meninggalkan Risa sendirian dalam kegelapan yang pekat. Tubuh Risa bergetar hebat. Rasa dingin yang ia rasakan bukan lagi karena cuaca, tapi karena ketakutan yang mencekam. Ia tahu, ia tidak berhalusinasi. Itu nyata.

Ia beringsut mundur, jantungnya masih berdentum. Kakinya terasa seperti jeli, tidak mampu menopang bobot tubuhnya. Ia ingin lari, tapi kakinya terpaku. Matanya tak lepas dari pintu tersembunyi itu. Apa yang ada di balik sana? Kenapa ibunya menunjuk ke arah sana? Ada apa dengan rumah ini? Bisikan-bisikan, bayangan-bayangan… semuanya terasa begitu familiar, seolah bagian dari mimpi buruk yang ia lupakan. Risa merasakan tenggorokannya tercekat. Ia harus mencari tahu. Ia harus mengungkap rahasia yang terkubur di balik dinding-dinding usang ini. Entah apa pun risikonya.

Keesokan harinya, Risa bangun dengan mata bengkak dan kepala pusing. Kejadian semalam terasa begitu nyata, tapi ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya mimpi buruk karena kelelahan. Saat ia sedang menyeduh teh di dapur, bel pintu berbunyi. Bibi Lastri sedang keluar belanja. Risa membuka pintu, dan di sana, berdiri Kevin.

“Kevin? Kok, lo di sini?” Risa terkejut. Kevin memakai kemeja kotak-kotak dan celana jins, rambutnya rapi seperti biasa, dan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya terlihat jelas.

Kevin tersenyum tipis. “Gue khawatir sama lo. Lo nggak masuk sekolah hari ini. Gue udah coba telepon, tapi nggak diangkat.” Ia mengangkat tas plastik yang dibawanya. “Ini, gue bawain sarapan. Bubur ayam langganan lo.”

Risa merasakan kehangatan menjalar di hatinya. Kevin selalu bisa membuatnya merasa lebih baik. “Makasih, Kev. Maaf, gue… gue nggak enak badan aja.”

“Nggak usah bohong,” Kevin menatap Risa lekat-lekat. Mata tajamnya seolah bisa membaca setiap kebohongan yang coba Risa sembunyikan. “Lo kenapa? Lo pucat banget. Ada sesuatu, kan? Ini tentang rumah ini?”

Risa terdiam. Haruskah ia menceritakan apa yang ia lihat semalam? Kevin adalah teman terbaiknya, cerdas dan logis, tapi Risa tahu Kevin skeptis terhadap hal-hal gaib. Ia tidak mau Kevin menganggapnya gila.

“Nggak… nggak ada apa-apa,” jawab Risa, mencoba tersenyum meyakinkan. Tapi, senyum itu terasa pahit di lidahnya. Ia tahu Kevin tidak akan percaya semudah itu. Sorot mata Kevin berubah khawatir, tahi lalat di bawah matanya seolah ikut mengernyit.

“Lo nggak bisa bohong sama gue, Ris. Gue tahu lo. Kalau ada apa-apa, lo bisa cerita sama gue. Gue ada buat lo,” Kevin melangkah masuk, menutup pintu. Ia meletakkan bubur di meja makan. “Sekarang cerita. Apa yang terjadi?”

Risa menelan ludah. Ia menatap Kevin, melihat ketulusan di mata temannya. Mungkin… mungkin ia memang butuh seseorang. Seseorang yang bisa membantunya mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini, dan apa yang ibunya coba sampaikan. Seseorang yang bisa membawakan logika di tengah kekacauan yang kini menyelimuti pikirannya.

Ia mengingat kembali bayangan di cermin itu, jari telunjuk yang menunjuk ke pintu tersembunyi. Ketakutan masih ada, tapi kini bercampur dengan rasa penasaran yang membara. Ada rahasia yang terkunci. Dan Risa harus membukanya. Dengan atau tanpa bantuan Kevin, ia akan mencari tahu. Tapi dengan Kevin di sisinya, setidaknya ia tidak sendirian dalam kegilaan ini.

“Kev…” Risa memulai, suaranya serak. Ia menunduk, meremas liontin kunci di lehernya. “Semalam… gue lihat Ibu.”

BAB 2: Petunjuk di Balik Cermin

“Kev…” Risa memulai, suaranya serak. Ia menunduk, meremas liontin kunci di lehernya. “Semalam… gue lihat Ibu.”

Hening menyelimuti dapur tua itu, lebih pekat dari kabut pagi yang merayap di luar jendela. Kevin Pratama, yang tadinya bersandar santai di kusen pintu, menegakkan tubuhnya perlahan. Mata tajamnya menatap Risa dengan campuran kebingungan dan kekhawatiran yang samar. Tahi lalat di bawah mata kirinya tampak seperti titik gelap yang menonjol di wajahnya yang mendadak serius.

“Lihat Ibu? Maksud lo… dalam mimpi?” tanya Kevin, suaranya berusaha terdengar datar, padahal ada kerutan tipis di dahinya. Ia melangkah mendekati Risa, duduk di kursi seberang meja, menyingkirkan mangkuk bubur yang masih mengepul asapnya.

Risa mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca. “Bukan mimpi, Kev. Gue… gue yakin banget itu nyata.” Jeda. “Gue nggak tidur waktu itu.”

Kevin menghela napas, pandangannya beralih ke sekeliling dapur. Dinding-dindingnya menguning, perabotannya usang, dan aroma lembap bercampur debu tua terasa menusuk hidung. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang… supranatural. Otak logisnya berputar mencari penjelasan. “Ris, lo baru pindah, kan? Stres, kurang tidur, mungkin halusinasi ringan?”

“Nggak!” Risa menggeleng keras, air matanya kini mulai menetes. Ia membanting telapak tangannya ke meja, membuat Kevin sedikit terlonjak. “Ini bukan halusinasi! Gue ngerasain dingin yang nusuk tulang, Kev. Gue ngerasain ada yang berdiri di belakang gue, napas dingin di tengkuk gue. Dan waktu gue lihat cermin… ada Ibu di sana.”

Kevin menatap Risa, melihat ketakutan yang begitu nyata di mata gadis itu. Ia tahu Risa tidak akan mengarang cerita sekonyol ini. Ada sesuatu yang benar-benar mengganggu Risa, dan itu bukan sekadar stres. Logika Kevin mulai goyah, digantikan oleh naluri untuk melindungi temannya.

“Oke… oke. Tenang dulu, Ris. Coba lo ceritain pelan-pelan. Detailnya. Apa yang lo lihat? Ibu ngapain?” Kevin meraih tangan Risa yang dingin, menggenggamnya erat. Kehangatan dari tangannya sedikit menenangkan Risa.

Risa menarik napas dalam-dalam, berusaha menata kembali ingatannya yang bercampur aduk antara ketakutan dan keheranan. “Gue… gue kebangun karena ngerasa ada yang manggil. Suara Ibu, tapi pelan banget. Gue keluar kamar, terus… gue ngerasa ditarik ke ruang tamu. Lo tahu cermin gede di sana, kan?”

Kevin mengangguk. Cermin kolosal dengan ukiran rumit yang mendominasi ruang tamu itu memang mencolok dan sedikit… menyeramkan. Ia sempat mengira cermin itu terlalu besar untuk ukuran rumah ini.

“Gue berdiri di depannya. Dingin banget, Kev. Tiba-tiba… di pantulan cermin, bukan gue yang berdiri di sana. Tapi Ibu. Rambutnya panjang, hitam. Bajunya… baju yang sering dia pake di foto-foto lama. Dia senyum, tapi senyumnya… sedih. Terus, dia ngangkat tangan. Jari telunjuknya nunjuk ke satu arah. Ke… pintu tersembunyi.”

Kevin mengerutkan kening. “Pintu tersembunyi? Di mana?”

“Itu masalahnya! Gue nggak tahu! Setelah itu, pantulan Ibu langsung hilang. Cuma ada gue lagi di cermin. Tapi pas gue balik badan… dinginnya masih ada, dan gue ngerasa dia masih di sana, di belakang gue.” Risa bergidik, bulu kuduknya merinding lagi membayangkan kejadian semalam. “Dan sekarang, gue yakin banget, Kev. Ibu mau kasih tahu sesuatu. Sesuatu yang tersembunyi di balik pintu itu.”

Kevin terdiam. Logikanya masih memberontak, tapi ada bagian dalam dirinya yang mulai mempertimbangkan kemungkinan lain. Risa tidak mungkin berbohong separah ini. Dan tatapan mata ketakutan itu… itu nyata. Dia melihatnya.

“Pintu tersembunyi…” Kevin menggumam. “Oke, kalau memang itu bukan mimpi atau halusinasi, dan Ibu lo beneran nunjuk sesuatu… berarti ada yang harus kita cari.” Dia melepaskan genggaman tangannya, menyentuh dagunya, berpikir keras. “Di mana kira-kira pintu tersembunyi itu bisa ada di rumah sebesar ini? Biasanya, rumah tua kayak gini punya banyak rahasia. Ruang bawah tanah, loteng, mungkin kamar tersembunyi.”

“Tapi Ibu nunjuk ke arah dinding ruang tamu, Kev. Bukan loteng atau bawah tanah,” Risa menyela, suaranya lebih tegas sekarang, semangat untuk mencari kebenaran mulai menggeser ketakutan. “Di dekat perapian tua itu.”

Kevin mengangguk. “Baik. Setelah lo sarapan, kita cek. Gue bantu. Kita mulai dari ruang tamu.” Ia menatap Risa lagi, kali ini dengan tekad yang sama kuatnya. “Tapi satu hal, Ris. Kalau kita nggak nemuin apa-apa… lo harus janji buat istirahat. Jangan terlalu mikirin ini sampai lo sakit.”

“Gue janji.” Risa tersenyum tipis, kehangatan menjalari hatinya sekali lagi. Kehadiran Kevin memang selalu bisa menenangkan badai dalam dirinya. “Makasih ya, Kev. Lo… lo percaya sama gue?”

Kevin membalas senyumnya, senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. “Gue percaya sama lo, Ris. Gue nggak percaya hantu, tapi gue percaya kalau lo lagi butuh bantuan. Dan gue akan ada buat lo.”

*

Setelah menghabiskan bubur ayam dengan tergesa-gesa, Risa dan Kevin menuju ruang tamu. Suasana pagi yang cerah sedikit mengurangi kesan seram rumah itu, namun keberadaan cermin besar di dinding masih memancarkan aura misterius. Cermin berbingkai kayu ukir gelap itu memantulkan siluet mereka, tampak seperti dua orang yang terlalu kecil di tengah kemegahan yang usang.

“Jadi, Ibu lo nunjuk ke arah sini?” Kevin mengusap dinding di dekat perapian batu bata yang sudah tak terpakai. Debu tebal menempel di setiap celah, dan aroma arang tua masih samar tercium. “Nggak ada yang aneh. Dindingnya solid.”

Risa mendekat, meraba dinding yang sama. Dingin, keras, dan tak ada celah. “Tapi gue yakin, Kev. Dia nunjuk ke sini. Kayak… di baliknya ada sesuatu.”

Kevin mengeluarkan senter dari tasnya. “Kita coba cari secara manual. Ketuk-ketuk dindingnya. Dengar kalau ada suara yang beda.”

Mereka mulai menelusuri dinding ruang tamu dari ujung ke ujung. Kevin mengetuk dengan buku-buku jarinya, telinganya fokus mendengarkan setiap perubahan gema. Risa melakukan hal yang sama, matanya menyapu setiap ukiran, setiap celah, setiap kemungkinan. Rumah ini seolah bernapas, mengeluarkan suara-suara kecil dari kayu yang berderit, angin yang bersiul di antara jendela yang tak tertutup rapat, dan suara jauh dedaunan di taman yang rimbun.

Setiap kali Kevin menyentuh sesuatu yang tampak mencurigakan, seperti panel kayu yang sedikit longgar atau bagian dinding yang permukaannya terasa sedikit berbeda, jantung Risa akan berdebar kencang. Namun, setiap kali mereka menyimpulkan itu hanyalah bagian dari kerapuhan bangunan tua, kekecewaan akan kembali menyeruak.

“Gue rasa nggak ada apa-apa di sini, Ris,” kata Kevin setelah hampir setengah jam, suaranya terdengar pasrah. Keringat membasahi pelipisnya. “Mungkin… mungkin lo salah lihat arahnya? Atau itu memang cuma mimpi buruk?”

Risa menggeleng keras. “Nggak! Gue yakin ini bukan mimpi! Ibu… Ibu nggak akan datang cuma buat nunjuk-nunjuk kosong!” Ia kembali menatap cermin besar itu, seolah meminta jawaban. Pantulan dirinya sendiri terlihat lelah dan putus asa.

Tiba-tiba, mata Risa menangkap sesuatu. Bukan pada dinding, bukan pada perapian, melainkan pada bingkai cermin itu sendiri. Di bagian bawah bingkai, di balik ukiran rumit yang nyaris tak terlihat, ada sebuah celah kecil. Celah itu nyaris tak kasat mata, seolah sengaja dibuat menyatu dengan motif ukiran kayu.

“Kev! Lihat ini!” Risa berlutut, menunjuk celah itu dengan jari gemetar. “Di sini! Di bingkai cerminnya!”

Kevin mendekat, senternya langsung menyorot. Memang ada celah, sangat sempit, mungkin hanya cukup untuk memasukkan selembar kartu nama. Tapi yang lebih menarik, di balik celah itu, tampak seperti sepotong kain lusuh atau kertas yang terlipat.

“Wow…” Kevin berbisik, rasa skeptisnya mulai terkikis oleh rasa penasaran yang mendalam. “Ini… ini bukan kebetulan.”

Dengan hati-hati, Kevin mencoba mengorek isi celah itu dengan ujung kunci mobilnya. Perlahan, selembar kertas yang sudah menguning dan lusuh berhasil ditarik keluar. Kertas itu terlipat rapi menjadi empat bagian, dan ada tulisan tangan yang samar di permukaannya.

Risa meraih kertas itu dengan tangan gemetar. Bau apek dan debu tua langsung menyeruak. Tulisan tangan itu… ia mengenali goresan pena yang anggun namun sedikit miring itu. Itu tulisan tangan ibunya. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tertahan.

Kevin mendekat, membaca tulisan itu dari bahu Risa. Isinya singkat, hanya beberapa baris, ditulis dengan tinta yang sudah memudar.

*“Untuk putriku, Risa.

Jika suatu hari kamu menemukan ini, berarti rahasia itu sudah siap diungkap.

Jangan percaya siapa pun. Cari ‘Kunci’ itu.

Ibuku tidak pernah benar-benar mencintaiku.

Dia… Dia ada di balik semua ini.”*

Kalimat terakhir itu seperti pukulan telak yang menghantam Risa. Ibuku tidak pernah benar-benar mencintaiku? Dia… Dia ada di balik semua ini? Siapa ‘Dia’? Dan apa maksudnya ‘Kunci’?

Rasa dingin yang sama seperti semalam kembali merayapi tulang-tulang Risa, tapi kali ini bukan karena kehadiran gaib. Ini adalah rasa dingin dari sebuah kebenaran yang mengerikan, sebuah pengkhianatan yang tersembunyi. Ibunya… ibunya sendiri? Tapi bagaimana? Dan siapa yang tidak mencintai ibunya?

“Ini… ini maksudnya apa, Kev?” Risa mendongak, matanya penuh kebingungan dan ketakutan. Kertas lusuh di tangannya terasa berat, seolah menyimpan beban seluruh rahasia rumah ini.

Kevin membaca ulang tulisan itu, wajahnya tegang. “Ibuku tidak pernah benar-benar mencintaiku… dia… dia ada di balik semua ini. Ris, ‘Ibuku’… itu kan nenek lo? Nenek dari pihak Ibu lo?”

Risa mengangguk, lidahnya terasa kelu. Neneknya… yang meninggal beberapa tahun sebelum ibunya. Sosok yang selalu ia kenang sebagai wanita tua yang ramah dan penuh kasih sayang. Mungkinkah ada sisi lain yang tidak ia ketahui?

“Dan ‘Kunci’ itu… apa maksudnya?” Kevin menunjuk liontin kunci di leher Risa. “Bukan kunci ini, kan?”

Risa refleks meremas liontinnya. Ini adalah kunci yang selalu ia pakai sejak kecil, hadiah dari ibunya. “Gue nggak tahu.”

Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar dari arah gerbang. Suara mesin yang familiar, diikuti suara ban berkerikil di halaman depan. Risa dan Kevin saling pandang, mata mereka melebar.

“Bibi Lastri,” bisik Risa, kertas itu masih tergenggam erat di tangannya. Wajah ramah Bibi Lastri yang selalu tersenyum melintas di benaknya, disusul dengan pertanyaan mengerikan: Jika ibunya sendiri adalah pelakunya, lalu siapa yang terlibat? Dan kenapa Bibi Lastri harus menjadi walinya?

Kevin dengan cepat menyambar kertas itu dari tangan Risa. “Sembunyiin! Jangan sampai dia tahu kita nemuin ini!”

Mereka bergegas menuju kamar Risa, detak jantung mereka berpacu lebih cepat dari derap langkah Bibi Lastri yang mulai terdengar masuk ke dalam rumah. Kertas lusuh itu kini menjadi beban rahasia yang teramat berat, sebuah petunjuk yang baru saja membuka kotak pandora penuh kebusukan dan bahaya.

Di balik dinding-dinding tua ini, di antara bayangan dan debu, sebuah kebenaran mengerikan sedang menunggu untuk diungkap. Dan Risa… Risa baru saja melangkah masuk ke dalam sarang laba-laba yang akan menjeratnya lebih dalam lagi.

BAB 3: Bisikan dari Balik Dinding

Risa nyaris tersandung kakinya sendiri saat Kevin menariknya masuk ke kamar, dorongan yang terasa mendesak dan mendebarkan. Suara derit pintu depan yang terbuka disusul langkah kaki yang mantap di lantai kayu ruang tamu, semakin mempercepat detak jantung mereka berdua. Kertas lusuh itu kini sudah terlipat rapi di tangan Kevin, diselipkan ke saku celana jinsnya. Wajahnya tegang, namun matanya memancarkan tekad yang sama kuatnya dengan ketakutan yang terlihat jelas di wajah Risa. Ia tahu, mereka tidak bisa membiarkan Bibi Lastri tahu. Tidak sekarang. Tidak saat segalanya masih terasa begitu absurd dan mengerikan.

“Ngapain di kamar? Bibi bawakan kue kesukaanmu,” suara renyah Bibi Lastri memecah kesunyian yang mencekam. Suara itu, yang biasanya terdengar menenangkan, kini justru terasa seperti belati dingin yang menusuk. Risa menelan ludah. Ia melirik Kevin, yang sudah berdiri tegak, berusaha terlihat santai.

“Oh, Bi. Itu, tadi Risa lagi ngambil buku di kamar, terus Kevin bantuin nyariin,” Kevin berujar cepat, suaranya terdengar sedikit terlalu ceria. Risa hampir saja terkesiap mendengar kebohongannya yang begitu lancar.

Bibi Lastri muncul di ambang pintu kamar Risa, seulas senyum ramah terlukis di bibirnya. Senyum yang selalu sama, tidak pernah berubah. Tapi mata Risa, yang terasa semakin peka belakangan ini, menangkap kilasan aneh di balik sorot mata Bibi Lastri. Kilasan yang terlalu cepat untuk ditafsirkan, namun cukup untuk membuat bulu kuduknya meremang. Di tangan Bibi Lastri ada nampan berisi dua potong kue lapis dan segelas susu cokelat.

“Oh, begitu. Bibi kira kalian sedang apa. Yuk, dimakan kuenya. Bibi buat khusus untuk Risa,” ucap Bibi Lastri, melangkah masuk dan meletakkan nampan itu di meja belajar Risa. Ia melirik Kevin sekilas, senyumnya sedikit memudar.

“Kevin, kamu enggak pulang? Sudah sore, lho. Nanti dicariin orang rumah,” lanjutnya, nada suaranya berubah jadi sedikit lebih dingin. Risa merasakan tegangan di antara mereka, setipis benang namun terasa begitu nyata.

Kevin tersenyum tipis. “Sebentar lagi, Bi. Ini lagi ngobrolin PR sama Risa. Ada soal yang susah banget.”

“PR lagi? Kamu ini, Risa. Jangan terlalu membebani Kevin, dong. Kasihan,” sindir Bibi Lastri, matanya menatap Risa dengan sorot yang… bukan ramah. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tersembunyi jauh di balik keramahtamahan palsu itu. Risa merasa jantungnya berdebar kencang, takut Bibi Lastri akan melihat kegugupan di wajahnya.

“Enggak kok, Bi. Kevin juga suka kok bantuin aku,” Risa mencoba membalas, suaranya sedikit bergetar. Ia menunduk, mengambil sepotong kue lapis, dan pura-pura menggigitnya. Manisnya kue terasa hambar di lidahnya.

Bibi Lastri hanya mengangguk, lalu beranjak keluar kamar. “Ya sudah. Jangan sampai kemalaman ya, Kevin. Nanti Bibi siapkan teh di ruang tengah.”

Setelah Bibi Lastri menghilang di balik pintu, Risa langsung menghembuskan napas panjang yang entah berapa lama ia tahan. Kevin mendekat, mengunci pintu kamar Risa.

“Gila, Bi Lastri itu… auranya beda banget,” bisik Risa, tangannya memegang dada, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih menggila. “Gue ngerasa dia tahu sesuatu, Kev.”

Kevin mengangguk, mengeluarkan kertas lusuh itu lagi. “Mungkin. Tapi kita harus tenang. Kita nggak boleh kasih dia kesempatan buat curiga.” Ia membuka lipatan kertas itu, menatap tulisan tangan yang samar.

“Jadi… nenek lo? Nenek dari pihak ibu? Itu orang yang dimaksud ‘Ibuku’ di sini?” Kevin bertanya, matanya menyipit penuh konsentrasi. “Lo ingat sesuatu tentang nenek lo?”

Risa mencoba mengingat. Neneknya… wanita tua yang lembut, selalu memberinya kue beras dan membelai rambutnya. Wanita yang selalu tersenyum. Tapi benarkah ada sisi gelap dari neneknya? Sisi yang mampu melakukan sesuatu yang begitu mengerikan? “Nggak… gue cuma ingat dia baik banget. Dia meninggal karena sakit tua, kan? Beberapa tahun sebelum kejadian Ibu…” Suara Risa memelan, kenangan akan kematian ibunya seperti kabut tebal yang menyelimutinya, menyisakan rasa sakit yang tumpul.

“Gue juga denger begitu. Tapi kenapa Ibu lo nulis ini? ‘Ibuku tidak pernah benar-benar mencintaiku… dia… dia ada di balik semua ini’,” Kevin membaca ulang, setiap kata terasa seperti pukulan. “Kalo ini bener soal nenek lo, berarti nenek lo terlibat dalam sesuatu yang buruk. Dan Ibu lo… dia tahu. Mungkin dia korban?”

Risa menggelengkan kepala, pikirannya berkecamuk. “Tapi… kenapa? Apa hubungannya sama kematian Ibu? Dan apa maksudnya ‘Kunci’?” Ia menunjuk tulisan itu. Liontin kunci di lehernya terasa dingin, seolah menyerap seluruh kengerian yang baru saja terungkap.

Kevin menatap liontin kunci di leher Risa. “Liontin lo itu… ini kan hadiah dari Ibu lo, kan?”

Risa mengangguk. “Iya. Dulu dia bilang, ‘Kunci ini akan membawamu pada kebenaran, Sayang.’ Gue nggak pernah ngerti maksudnya.” Ia meremas liontin itu erat-erat.

“Mungkin bukan kunci itu, Ris. Maksudnya adalah kunci informasi, atau kunci ke suatu tempat. Coba pikir, apa yang bisa jadi ‘kunci’ di rumah ini?” Kevin mulai melihat sekeliling kamar Risa, matanya menyapu setiap sudut, setiap perabot.

Kamar Risa adalah cerminan dirinya yang melankolis. Rak buku penuh novel fantasi, beberapa potret lama yang mulai menguning, dan sebuah meja rias dengan cermin usang. Tiba-tiba, mata Risa terpaku pada sesuatu. Sebuah laci kecil di bawah meja rias, yang selalu terkunci. Ia tidak pernah punya kuncinya. Dulu, ibunya selalu menyimpan perhiasan di sana.

“Laci itu, Kev! Laci di bawah meja rias. Itu laci Ibu, selalu terkunci. Gue nggak pernah bisa bukanya,” Risa berseru, beranjak mendekati meja rias. Kevin ikut mendekat, menyipitkan mata pada laci kayu gelap itu.

“Coba kita cek liontin lo. Siapa tahu kuncinya pas,” Kevin menyarankan. Dengan tangan gemetar, Risa melepaskan kalung liontinnya. Bentuknya kecil, dengan ukiran bunga mawar samar di bagian gagang. Ia memasukkannya ke lubang kunci laci. Tidak pas. Terlalu besar.

Kekecewaan menggerogoti Risa. “Bukan… bukan kunci ini.”

Kevin mencoba menenangkan. “Nggak apa-apa. Mungkin maksud ‘kunci’ itu lebih metaforis. Atau, ada kunci lain yang tersembunyi.” Ia menepuk bahu Risa pelan. “Kita harus cari tahu lebih banyak tentang nenek lo. Dan tentang Ibu lo. Ada kotak surat lama atau semacamnya?”

Risa menggeleng. “Nggak ada yang spesifik. Setelah Ibu meninggal, Ayah langsung pindah dari sini. Semua barang-barangnya ditumpuk di loteng. Gue nggak pernah berani ke atas.” Suara Risa bergetar saat menyebut loteng. Dulu, ia selalu merasa ada sesuatu yang mengawasi dari sana.

Kevin mendongak, seolah bisa melihat loteng dari bawah. “Loteng, ya? Biasanya tempat harta karun atau… rahasia disembunyikan. Besok, kita coba cek loteng. Tapi kita harus cari tahu lebih banyak tentang Ibu lo dulu. Mungkin ada temannya, atau saudara lain selain Bibi Lastri yang bisa kita tanyain?”

Risa mengerutkan kening. “Nggak ada. Keluarga Ibu gue kecil. Cuma dia, nenek, sama Bibi Lastri. Ayah juga jarang ngomongin keluarga Ibu setelah kejadian itu. Kayak dia sengaja nutupin semuanya.”

Tiba-tiba, sebuah suara lirih berbisik di telinga Risa, seperti embusan angin dingin yang menembus kulitnya. *“Jangan percaya… siapapun…”*

Risa terkesiap, mundur selangkah. “Kev… lo denger itu?” Matanya melebar, menatap sekeliling kamar yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin. Jendela tertutup rapat, tidak ada angin yang masuk.

Kevin menatapnya bingung. “Dengar apa, Ris? Gue nggak denger apa-apa.”

“Ada yang bisikin… ‘Jangan percaya siapapun’,” Risa berbisik, suaranya nyaris tak terdengar. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pening, seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalamnya. Sensasi aneh ini semakin sering muncul belakangan ini, terutama di rumah ini.

Kevin melihat perubahan ekspresi Risa, wajahnya pucat. Ia meraih tangan Risa. “Lo kenapa? Lo sakit?”

Risa menggeleng, matanya masih terpaku pada dinding kamar yang terasa seperti mengawasinya. “Nggak tahu, Kev. Rasanya… aneh. Kayak ada yang pengen ngomong, tapi nggak bisa.”

“Jangan-jangan itu arwah Ibu lo?” Kevin bertanya ragu, meskipun ia sendiri seorang yang logis, kejadian aneh di rumah ini mulai sedikit menggoyahkan keyakinannya. “Dia pengen kasih tahu sesuatu?”

Risa menatap liontin kuncinya lagi, lalu ke kertas lusuh di tangan Kevin. Sebuah ide gila melintas di benaknya. Jika arwah ibunya mencoba berkomunikasi… mungkin ada cara untuk mendengar mereka dengan lebih jelas.

“Kev, kita harus cari tahu lebih banyak tentang rumah ini. Bukan cuma cerita nenek atau Ibu, tapi sejarah rumah ini. Bangunannya, siapa pemilik sebelumnya… semuanya,” Risa berujar, suaranya kini dipenuhi tekad yang membara. Ketakutan itu masih ada, namun tersulut oleh rasa ingin tahu yang lebih besar, dan kebutuhan mendesak untuk memahami bisikan-bisikan itu.

Kevin mengangguk, melihat kilatan tekad di mata Risa. “Oke. Perpustakaan kota. Besok pulang sekolah kita ke sana. Kita mulai dari arsip lama tentang rumah ini. Siapa tahu ada sesuatu yang terlewat.”

Mereka berdua saling pandang, beban rahasia di antara mereka kini terasa lebih nyata, lebih berat. Kertas lusuh itu, bisikan gaib, dan sorot mata Bibi Lastri yang mencurigakan… semua ini hanyalah permulaan. Di balik dinding-dinding usang ini, kebenaran yang lebih gelap dan mengerikan sedang menunggu untuk diungkap. Dan Risa, dengan indra keenamnya yang mulai terbangun, akan menjadi kunci untuk membuka kotak pandora itu, entah ia siap atau tidak.

Di luar, senja mulai merayap, mewarnai langit dengan jingga dan ungu. Bayangan pepohonan tua di taman semakin memanjang, menari-nari di dinding rumah, seolah menyampaikan pesan rahasia yang tak terucapkan. Malam itu, Risa tahu, ia tidak akan bisa tidur tenang. Bayang-bayang nenek, arwah ibu, dan wajah tersenyum Bibi Lastri akan menghantuinya, membisikkan janji bahaya yang semakin dekat.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!