Indonesia
NovelToon NovelToon

You Can Run, But You'Re Still Mine

1. Harga Sebuah Kebohongan

Hubungan mereka dimulai dari kebohongan. Dan pagi itu, Elvara baru tahu, dirinya hanya alat taruhan.

Di bawah pohon ketapang belakang sekolah, Raska menatap Roy lurus. Tenang. Tidak menghindar. Namun kali ini, senyum itu muncul lagi, tipis, tapi jelas.

“Lo kalah taruhan,” ucap Raska datar. “Gue udah resmi jadian sama Elvara.”

Ia berhenti sejenak, jeda yang disengaja, seolah memberi waktu kalimat itu menancap.

“Artinya, taruhan kita selesai. Mulai sekarang, semua hak waris lo lepas. Semua. Lo mundur dari rebutan warisan. Gak ikut campur urusan keluarga lagi.

Gak minta sepeser pun saham, properti, apa pun yang bokap punya. Hidup pakai kemampuan lo sendiri.”

DEG!

Seperti palu godam menghantam dadanya. Di tempat persembunyiannya, Elvara menutup mulutnya refleks. Napasnya tercekat.

"Jadian… karena taruhan?"

Tangan gadis seratus kilo itu mengepal erat, kuku menekan telapak sampai nyeri.

"Aku… objek?"

Perlahan ia menegakkan tubuhnya. Tatapannya lurus ke depan.

"Aku gak butuh sandaran," katanya dalam hati. "Bukan dari hubungan yang lahir dari kebohongan."

Langkahnya mantap.

Mulai hari ini, Elvara memilih satu hal dengan sadar, bukan sebagai istri, bukan sebagai objek taruhan, bukan pula sebagai alat pembuktian siapa pun.

Mulai hari ini, ia akan berdiri dengan kakinya sendiri. Dan jika harus lelah, ia akan lelah dengan jujur. Jika harus jatuh, ia akan jatuh tanpa sandiwara.

Karena cinta, yang lahir bukan dari ketulusan, tak pernah layak dijadikan sandaran.

***

Warung kecil di teras rumah itu tak pernah sepi. Pagi belum siang, sendok sudah beradu dengan gelas, aroma kopi hitam bercampur gorengan hangat.

Di tengah rutinitas Elda, seorang pemuda berdiri kaku. Kemeja rapi, sepatu mahal, jam tangan yang harganya bisa menutup biaya kontrakan setahun.

Ia seperti salah tempat. Salah dunia.

“SAYA BILANG, ELVARA GAK MAU KETEMU!”

Suara Elda melengking, tajam, membuat beberapa pelanggan menoleh.

Raska berdiri di ambang pintu, punggungnya lurus, wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk situasi yang sedang memanas.

“Bu,” katanya pelan, sopan, nyaris formal. “Saya cuma mau bicara.”

“BICARA APA?!”

Elda melangkah maju, tangan bertolak pinggang. “Bicara itu dilakukan sama orang yang masih punya harga diri. Bukan yang bikin anak orang nangis terus ngurung diri di kamar!”

Beberapa ibu-ibu di bangku warung mulai saling sikut.

“Wah… rame.”

“Itu siapa?”

“Kok kayak artis sinetron?”

Raska mengabaikan semuanya. Tatapannya lurus ke wajah Elda.

“Saya minta izin. Cuma sebentar. Izinkan saya ke kamar Elvara.”

Kalimat itu seperti bensin yang disiram ke api.

“KAMAR?!”

Elda meraih penyapu lidi yang bersandar di tembok. “KAMAR ANAK SAYA ITU BUKAN LOBI HOTEL!”

PLAK!

Penyapu mendarat di lengan Raska.

Ia terhuyung setengah langkah, bukan karena sakit, melainkan terkejut.

“Bu—”

PLAK!

Kali ini lebih keras.

“PERGI!” teriak Elda. “SAYA SUDAH BILANG PERGI!”

Seorang bapak-bapak nyeletuk pelan, “Bu Elda, sabar—”

“MANA BISA SABAR, KALAU ANAK SAYA DIJADIKAN OBJEK TARUHAN!” balas Elda tanpa menoleh.

Raska tetap berdiri.

Tidak mundur. Tidak membalas. Tidak mengelak.

Elda menatapnya, napasnya memburu. Lalu matanya menangkap sesuatu yang membuat dadanya sesak.

Penampilan Raska bersih, mahal, tenang. Seperti pria itu dulu. Trauma lama menyembur tanpa izin.

“SAYA TAU TIPE KAYAK KAMU!” Suara Elda bergetar, bukan karena marah, melainkan terluka.

“Kalian orang kaya menganggap kami orang miskin ini tidak berarti. Layak dijadikan mainan. Apa kalian pikir kami orang miskin ini nggak punya hati?”

Tangannya meraih panci aluminium dari atas kompor.

“PERGI!”

BRAK!

Panci itu melayang. Tak tepat sasaran, tapi cukup membuat warung riuh.

“Astagaaa—”

“Ini beneran perang!”

Raska akhirnya menunduk. Bukan menyerah, melainkan menahan sesuatu yang menggelegak di dadanya.

“Saya nggak akan pergi,” katanya pelan, namun jelas terdengar di tengah keributan. “Sebelum Elvara sendiri yang nyuruh saya pergi.”

Elda tertawa pendek. Pahit.

“Anak saya nggak mau lihat muka kamu,” ucapnya. “Dan saya akan pastiin itu.”

Ia menunjuk ke arah jalan dengan penyapu di tangan.

“PERGI. ATAU—”

Elda menoleh kanan-kiri, lalu mengangkat ember berisi air pel.

“Pergi sebelum kamu mandi pakai air ini!”

Bu RT yang kebetulan ada di warung itu akhirnya angkat suara. Nadanya tegas, tapi masih menyisakan niat menengahi.

“Nak, pulang saja dulu. Situasinya nggak kondusif. Malah bakal tambah ribut kalau kamu tetap di sini.”

Yang lain ikut menimpali.

“Kami bisa panggil keamanan kalau ini ganggu kenyamanan kampung.”

“Bener itu. Bu Elda jadi nggak melayani kami gara-gara kamu.”

“Iya, saya lagi buru-buru.”

“Anak saya di rumah sudah lapar.”

Suara-suara itu bertumpuk. Bukan marah, tapi menekan. Seperti tembok yang perlahan menyempit.

Raska mengangkat wajahnya lagi.

Tatapannya menyapu warung kecil itu. Meja yang belum dibersihkan, gelas kopi yang dibiarkan dingin, pelanggan yang mulai gelisah. Beberapa menatapnya terang-terangan, beberapa berbisik tanpa berusaha mengecilkan suara.

Bukan Elda yang ia lihat. Bukan ember air pel di tangan wanita itu.

"Aku datang untuk istriku. Aku tak takut apa pun. Tapi situasi ini makin tak memberiku ruang."

Raska menarik napas panjang. Rahangnya mengeras. Ia bisa tetap berdiri. Bisa bersikeras. Bisa memaksa semua orang melihat betapa ia tak salah.

Namun setiap detik berlalu, tekanan itu makin nyata. Pandangan makin tajam. Suasana makin panas. Dan untuk pertama kalinya, Raska sadar, jika ia tetap bertahan, ini tak akan berakhir baik.

Bukan untuknya.

Ia menoleh ke Elda.

Matanya merah. Bukan karena sakit. Bukan pula karena iba.

Melainkan karena kemarahan yang harus ia telan.

“Saya akan kembali lagi,” gumamnya.

Entah pada Elda, atau pada Elvara.

Warung kembali ramai. Gorengan tetap habis. Kopi tetap diseruput.

Hanya satu hal yang berubah pagi itu, di teras rumah kecil itu, seorang lelaki kaya belajar rasanya tak punya apa-apa, selain tekad.

***

Keesokan harinya, pagi sekali. Bahkan sang Surya belum muncul dari peraduannya.

Elvara dan Elda berdiri di depan rumah itu. Rumah sederhana yang telah mereka tinggali bertahun-tahun. Dua koper berdiri di samping mereka, diam, seolah ikut menunggu keputusan terakhir.

Elda menatap rumah itu lama.

Di sanalah dulu ia berdiri dengan dada membusung, melepas kepergian suaminya dalam seragam loreng. Penuh bangga. Penuh doa.

"Pak… maaf," batinnya lirih. "Kami harus pergi. Demi kebaikan putri kita."

Elvara ikut memandang rumah itu.

Kenangan kecil berkelebat. Dirinya yang berlari dikejar ayah dan ibunya, tertawa riang, lalu diangkat tinggi. Ayahnya menggendongnya sambil membuat suara pesawat, membuatnya tertawa sampai lupa dunia.

Elvara memejamkan mata. Kelopak itu basah.

Ia, gadis cuek level dewa, yang dijuluki Gasekil (Gadis Seratus Kilo), menghela napas panjang. Napas yang terasa sesak di dada.

"Andai aku nggak ketipu," batinnya getir. "Aku seharusnya nggak pernah percaya."

Mana mungkin pangeran sekolah yang tampan, kaya raya, seperti Raska, benar-benar mencintainya. Mencintai dirinya yang hanya gadis biasa, dari keluarga sederhana.

“Sudah,” ujar Elda pelan, mengusap lengan putrinya dengan lembut.

“Kita mulai dengan lembaran baru.”

Elvara membuka mata. Mengangguk.

Tanpa menoleh lagi, mereka berbalik meninggalkan rumah penuh kenangan itu.

“Loh, Bu… mau ke mana?”

“Pagi-pagi kok sudah bawa koper?”

Satu dua tetangga bertanya.

Elda yang menjawab dengan senyum tipis.

Elvara tetap melangkah dalam diam.

Namun di balik sunyinya, hatinya mengeras oleh tekad.

"Akan aku buktikan," katanya pada dirinya sendiri.

"Aku harus bisa hidup tanpa sandaran siapa pun.”

Dan pagi itu, dua perempuan meninggalkan masa lalu mereka… tanpa tahu, bahwa seseorang di belakang sana akan mengejar.

Bukan sebagai pangeran, melainkan sebagai pria yang terlambat menyadari apa arti kehilangan.

...🔸🔸🔸...

...“Cinta yang lahir dari kebohongan, tak pernah pantas dijadikan sandaran.”...

...“Aku pergi bukan karena tak mencintai, tapi karena aku menolak dicintai sebagai taruhan.”...

...“Kadang yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi menyadari bahwa sejak awal… kita hanya alat.”...

...“Aku pikir aku sedang menang taruhan. Ternyata aku sedang kehilangan segalanya.”...

...“Ia pergi membawa harga diri....

...Dan di belakangnya, seorang lelaki belajar arti kehilangan. Terlambat.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

🔸Kalau kamu di posisi Elvara, kamu pergi… atau bertahan?

To be continued

2. Ketika Pintu Tak Lagi Terbuka

Raska kembali ke rumah sederhana itu. Namun suasananya kontras dengan kemarin.

Sepi.

Warung tutup. Tidak ada bangku plastik. Tidak ada gelas di meja. Tak ada aroma kopi atau gorengan. Bahkan pintu dan jendela rumah itu tertutup rapat.

Entah kenapa, dada Raska mencelos.

"Vara.." gumamnya tanpa sadar.

Pemuda yang biasanya tenang dan terkontrol itu mendadak panik.

“Eh, kamu yang kemarin, 'kan?”

Suara itu membuat Raska menoleh. Seorang ibu berdiri di seberang jalan, menatapnya penuh selidik.

“Iya, Bu,” jawab Raska cepat. “Apa ibu tahu Bu Elda sama Elvara ke mana?”

Nada sopannya berusaha menutupi kepanikan yang mulai sulit ia kendalikan.

Ibu itu menghela napas. “Kemarin warung Bu Elda tutup lebih awal. Katanya mau beres-beres barang.”

Raska menelan ludah. “Beres-beres?” ulangnya, memastikan ia tak salah dengar.

Ibu itu mengangguk. “Terus pagi ini,” lanjutnya pelan, “Bu Elda pergi sama Elvara. Bawa koper.”

Deg.

“Pergi?” suara Raska tercekat. “Bawa koper?”

Ia menarik napas pendek. “Apa Ibu tahu… mereka ke mana?”

Ibu itu menggeleng. “Cuma bilang mau liburan. Nggak tahu ke mana.”

Raska tertunduk. Tangannya terkepal. Jelas sekarang. Elvara sengaja menghindarinya.

Suara ibu itu kembali terdengar, kali ini lebih pelan, hati-hati. “Ibu dengar… kemarin kamu jadiin Elvara objek taruhan, ya?”

Raska mengangkat wajahnya. “Saya benar-benar mencintai Elvara.”

Ibu itu menatap penampilannya, rapi, mahal, lalu menghela napas panjang. “Kamu sebaiknya mundur. Ini bukan perang yang bisa kamu menangkan.”

Raska terdiam.

“Bu Elda itu alergi sama orang kaya,” lanjut sang ibu. “Dulu keluarganya hancur gara-gara pacaran sama orang kaya.”

Ibu itu berhenti sejenak, seolah menimbang kata. “Setelah itu, Bu Elda nikah sama tentara. Katanya beliau sangat mencintainya. Sampai suaminya meninggal pun, Bu Elda nggak pernah menikah lagi.”

Raska diam, mendengar dengan seksama.

“Katanya,” ibu itu menutup, “Bu Elda pengennya punya menantu tentara.”

Sunyi kembali turun di depan rumah itu.

Dan untuk pertama kalinya, Raska benar-benar sadar, pertarungannya bukan cuma dengan Elvara. Tapi dengan masa lalu yang sudah lebih dulu membenci dirinya.

***

Raska pulang dengan wajah lesu.

Elvara pergi. Entah ke mana. Sebelum masalah mereka selesai.

Begitu pintu apartemen terbuka, tiga sahabatnya sudah menunggu di ruang tengah.

“Gimana?” tanya Asep cepat.

Raska meletakkan kunci di meja. “Warungnya tutup. Rumahnya juga. Elvara sama ibunya pergi bawa koper.”

“Pergi?” Vicky menegakkan punggung.

Gayus menghela napas pelan. “Lo kehilangan mereka.”

Raska tertawa pendek. Hambar. “Gue kehilangan istri gue.”

Hening.

“Istri? Sejak kapan?” Asep bertanya, suaranya turun.

“Pulang dari resort. Kami nikah diam-diam.”

Tiga pasang mata membeku.

Gayus menatap Raska lama. “Lo sadar apa yang lo lakuin?”

“Sadar,” jawab Raska pelan. “Dan gue siap nanggung konsekuensinya.”

Asep, Vicky, dan Gayus saling pandang.

Tatapan Gayus kembali ke Raska, lekat. “Lo… tiba-tiba nikah, di usia segini. Lo sama Vara…”

Kalimatnya menggantung.

Raska menarik napas panjang.

“Malam itu… kami nggak sepenuhnya sadar,” ucapnya akhirnya.

Tangannya mengepal. “Ada obat di minuman kami.”

Tak ada yang menyela.

“Paginya,” lanjut Raska lirih, “kami bangun dengan rasa takut. Bukan karena dosa. Tapi karena kemungkinan.”

Ia mengangkat wajahnya. “Dan karena itu… kami menikah.”

Tak ada yang langsung bicara. Syok jelas terpampang di wajah ketiganya.

Gayus akhirnya menghela napas lagi. Kali ini lebih dalam. Ia menyilangkan tangan di dada, menatap Raska lama, seolah sedang mengamati objek penelitian.

“Secara logika,” katanya akhirnya, tenang dan terukur, “kami paham lo lagi nggak baik-baik saja.”

Asep mengangguk cepat. “Banget.”

“Tapi,” lanjut Gayus, “nikah diam-diam, konflik keluarga, lalu kehilangan istri dalam waktu sesingkat ini, itu bukan reaksi impulsif orang stres.”

Raska menatap lantai. Rahangnya mengeras.

“Itu keputusan sadar,” lanjut Gayus. “Dan keputusan sadar selalu punya konsekuensi.”

Vicky berdehem. “Terus taruhan itu?”

Rahang Raska mengeras. “Kesalahan terbesar gue.”

Suaranya turun, nyaris tak terdengar. “Karena dari situlah Vara percaya… gue nggak pernah serius.”

Kalimat itu pecah.

Raska menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air bening jatuh tanpa bisa dibendung. “Gue nggak bisa kehilangan dia.”

Asep membekap mulut. “Anjir…”

“Dia satu-satunya orang yang bikin gue ngerasa nyaman,” lanjut Raska, suaranya rendah tapi jelas. “Satu-satunya tempat yang bikin gue ngerasa punya rumah. Cuma dia.”

“Stadium akhir,” gumam Asep, ekspresinya seperti dengar vonis dokter.

“Tak tertolong,” timpal Vicky, nada suaranya setengah berkabung.

Gayus menatap Raska lebih tajam. “Itu yang bikin situasinya kompleks,” katanya pelan. “Karena cinta yang lahir dari kesalahan biasanya harus ditebus lebih mahal.”

Ruangan kembali sunyi.

Raska berdiri, berjalan ke dinding kaca. Kota terlihat terang, hidup, bertolak belakang dengan dadanya yang kosong.

“Gue nggak nyari pembenaran,” ucapnya tanpa menoleh. “Gue cuma mau nemuin istri gue. Minta maaf. Dan benerin semuanya.”

Asep mengangguk mantap. “Kalau gitu, kita cari.”

Vicky menyeringai tipis. “Taruhan boleh salah. Tapi ngejar istri sendiri, itu baru laki.”

Gayus menatap Raska sekali lagi. “Pastikan kali ini, lo datang bukan sebagai orang kaya.”

Raska mengepalkan tangan. “Gue bakal datang sebagai suami.”

***

Ruang praktik itu masih sama.

Jam dinding berdetak pelan, kursi kulit yang sama, aroma antiseptik yang tak pernah berubah.

Raska duduk di sana, tubuhnya kini besar, bahunya lebar. Tapi ada sesuatu yang tetap tak berubah, ketegangan di matanya.

Dokter Wira menutup map. “Kamu kelihatan lelah,” katanya lembut.

Raska tersenyum tipis. “Saya capek bertahan, Dok.”

Dokter Wira menatapnya lama. “Kamu jarang bicara soal capek. Biasanya kamu bicara soal kontrol.”

Raska menghela napas. “Saya hidup dengan disiplin ketat. Rutinitas padat. Tapi kepala saya tetap ribut.”

Ia menunduk. “Saya masih lihat ibu saya. Terbaring di lantai. Dingin.”

Dokter Wira tak menyela.

“Tubuh saya selalu siap lari atau menyerang,” lanjut Raska pelan. “Saya nggak pernah benar-benar tenang.”

Hening sejenak.

“Disiplin membantu kamu bertahan,” ujar Dokter Wira akhirnya. “Tapi luka kamu bukan soal kurang sibuk. Kamu kehilangan rasa aman sejak kecil.”

Raska mengangkat wajahnya. Tatapannya mantap, tapi rapuh.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “orang seperti saya… bisa jadi tentara, nggak, Dok?”

...🔸🔸🔸...

...“Terkadang keputusan dan arah hidup diambil bukan dari mimpi, tapi dari situasi dan orang-orang yang kita sayangi.”...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

3. Jalan yang Dipilih

Pertanyaan itu tidak mengejutkan sang dokter. Justru terasa… akhirnya keluar.

Dokter Wira menyandarkan punggung ke kursi, jemarinya saling bertaut di atas meja. Tatapannya tenang, tapi mengamati.

“Kamu sudah hidup dengan disiplin sejak lama, Raska,” katanya. “Bahkan tanpa seragam.”

Raska menunduk. Jarinya mengepal di atas lutut.

“Menjadi tentara berarti menghadapi bahaya. Kekerasan. Kematian,” lanjut dokter itu. “Kamu sadar?”

“Sadar,” jawab Raska singkat.

Dokter Wira memiringkan kepala. “Dan kamu tahu trauma tidak otomatis hilang hanya karena disiplin dan aturan ketat?”

Raska mengangguk sekali. Gerakannya kaku.

“Saya tahu.”

Hening sejenak. Dokter itu menghela napas pelan, lalu maju sedikit.

“Kalau begitu,” tanyanya, “kenapa kamu ingin menjadi tentara?”

Raska diam lebih lama dari sebelumnya. Rahangnya mengeras, lalu mengendur.

“Agar saya berhenti merasa rusak,” katanya akhirnya. Suaranya rendah. “Agar saya punya alasan untuk bangga pada diri sendiri.”

Dokter Wira tidak langsung menjawab. “Dan?” dorongnya lembut.

“Agar saya layak,” lanjut Raska. Ia menelan ludah. “Untuk istri saya.”

Alis dokter itu berkerut tipis. “Istri?”

“Menikah siri,” jawab Raska jujur. Bahunya sedikit jatuh. “Tapi… saya sudah menyakiti dia.”

Dokter Wira tetap diam, memberinya ruang.

“Ibu mertua,” lanjut Raska, “mengidamkan menantu tentara. Pria yang bisa dibanggakan.”

Ia tersenyum getir. “Bukan lelaki kaya yang menjadikan anaknya taruhan.”

Suaranya bergetar di kalimat terakhir. Ia cepat-cepat menarik napas, seolah malu pada dirinya sendiri.

“Saya ingin suatu hari berdiri di depan beliau,” katanya pelan, “tanpa merasa kecil. Tanpa malu.”

Dokter itu menatap Raska lama. Bukan sebagai pasien—melainkan sebagai anak yang terlalu cepat dewasa.

“Kalau alasanmu hanya untuk lari dari trauma,” katanya akhirnya, jujur, “saya akan melarangmu.”

Raska menegang. Bahunya kaku.

“Tapi kamu tidak sedang lari,” lanjut dokter itu. “Kamu ingin menghadapi hidup dengan arah.”

Ia menyandarkan tubuh ke kursi. Suaranya tetap tegas, tapi hangat.

“Dengar baik-baik, Raska. Menjadi tentara tidak akan menghapus trauma kamu. Tapi bisa memberimu struktur untuk hidup berdampingan dengannya.”

Raska mengangguk. Tenggorokannya bergerak saat ia menelan ludah.

“Dan kamu harus siap,” tambahnya, “bahwa jalan ini akan jauh lebih berat dari yang kamu bayangkan.”

“Saya siap,” jawab Raska. Kali ini tanpa ragu.

Dokter Wira tersenyum tipis. Ia mengambil pena.

“Kamu baru tujuh belas,” katanya. “Terlalu muda untuk memikul semua ini sendirian.”

Pena itu berhenti sesaat di udara.

“Dan kamu tidak akan sendirian.”

Raska menghembuskan napas panjang. Bukan lega, melainkan mantap.

Untuk pertama kalinya, ia tidak sekadar bertahan.

Ia memilih arah.

***

Raska, Asep, Vicky, dan Gayus duduk di ruang tengah apartemen Raska. Suasananya tenang. Terlalu tenang, seperti ada sesuatu yang akan jatuh.

“Ada apa lo manggil kami semua ke sini?” Asep membuka suara.

“Muka lo serius banget,” sambung Vicky. “Masalah apa lagi?”

Gayus menatap Raska lurus. “Bilang aja. Kita dengerin.”

Raska menghela napas panjang. “Gue mau ngasih tahu kalian sesuatu.”

“Apaan sih, Ras?” Asep menyandarkan punggung. “Jangan muter-muter.”

“Gue daftar tentara.”

Sunyi.

Asep melongo. Vicky meluruskan duduknya. Gayus mengerutkan alis.

“Lo… serius?” Asep setengah berdiri. “Tentara yang hidupnya keras itu?”

Raska mengangguk.

“Ras,” Vicky menggeleng pelan, “hidup lo udah enak. Usaha jalan. Masa depan kebuka. Kenapa malah nyemplung ke hidup ekstrem begitu?”

Gayus langsung menembak, datar tapi menekan. “Ini soal Elvara?”

Raska diam.

“Karena ibunya?” lanjut Gayus. “Karena lo pengin diterima?”

Asep menghembuskan napas kasar. “Cinta boleh, Ras. Tapi jangan hancurin diri sendiri.”

Raska mengangkat wajah. “Bukan cuma itu.”

Ia menarik napas. “Gue capek hidup dikejar bayangan. Kepala gue nggak pernah bener-bener diem. Gue butuh struktur. Tujuan.”

“Militer bukan terapi,” potong Gayus. “Trauma lo nggak hilang cuma karena seragam.”

“Gue tahu,” jawab Raska cepat. “Makanya gue tetap lanjut terapi.”

Ia menatap mereka satu per satu. “Tapi gue juga pengin hidup gue ada artinya. Pengin nyokap gue bangga. Dan kalau suatu hari gue berdiri di depan ibu Elvara—”

Ia berhenti sejenak.

“—gue nggak berdiri sebagai cowok yang lari.”

Hening.

“Lo yakin?” tanya Asep akhirnya.

“Yakin.”

Asep mengangguk pelan. “Berarti udah final.”

“Udah,” sahut Vicky singkat.

Gayus menghela napas. “Kalau begitu, kami nggak bisa ngelarang.”

Asep menepuk bahu Raska. “Keras kepala tetap keras kepala.”

“Tapi,” lanjut Gayus, suaranya lebih lembut, “kalau ini keputusan sadar, kami dukung sebisanya.”

Raska tersenyum tipis. “Makanya gue minta tolong.”

Ketiganya menoleh bersamaan.

“Usaha nyokap gue,” kata Raska. “Gue nggak bakal bisa bolak-balik. Gue mau kalian yang ngurus.”

“Hah?” Asep refleks.

“Kita baru lulus,” tambah Vicky. “Ini bukan urusan kecil.”

Gayus menimbang cepat. “Risikonya besar.”

“Gue tahu,” jawab Raska. “Makanya orang-orang kepercayaan nyokap gue bakal dampingi. Kalau ada masalah besar, kalian hubungi bokap gue.”

Sunyi lagi.

Asep mengangguk lebih dulu. Vicky menyusul. Gayus yang terakhir.

“Hidup kita bakal berubah,” gumam Vicky.

“Iya,” sahut Asep.

Gayus menutupnya tenang. “Berat, tapi bisa jadi pijakan.”

Raska menghembuskan napas lega. “Thanks.”

Dan untuk pertama kalinya, meski jalan di depannya terasa sunyi dan keras, Raska tahu satu hal,

ia tidak berjalan sendirian.

***

Apartemen itu sunyi seperti biasa.

Jam dinding berdetak pelan. Terlalu pelan.

Wijanata berdiri di depan pintu dengan dua kantong belanjaan di tangan. Ia menekan bel, lalu menunggu. Bahunya sedikit turun, seperti sudah menyiapkan diri untuk apa pun yang akan ia temui di balik pintu.

Hingga hari ini, ia tak pernah tahu password apartemen putranya sendiri. Padahal tiap minggu ia datang, membawa sayur, buah, daging, dan bahan masak. Hal-hal kecil yang tak pernah diminta, tapi selalu ia antar.

Pintu terbuka.

Raska menatap ayahnya sekilas. Tak ada senyum. Tak ada sapaan. Ia langsung berbalik dan berjalan ke dinding kaca ruang tamu, menatap kota di bawah sana. Lampu, klakson, dan kehidupan yang terasa lebih ramai daripada ruangan ini.

Nata menghela napas pelan. Ia sudah hafal jarak itu. Jarak yang tak pernah benar-benar bisa ia sentuh.

"Papa harap suatu hari jarak tak kasat mata ini hilang," batinnya.

Ia tersenyum kecut. Harapan itu terasa terlalu tinggi untuk pagi biasa seperti ini.

Tanpa bicara, Nata menuju dapur.

Ia memindahkan sayur ke wadah kaca. Menyusun daging di kulkas. Membuang yang layu dan busuk. Tangannya bergerak rapi, teratur. Terlalu tenang untuk seorang ayah yang tahu anaknya hampir tak pernah meminta apa pun darinya.

Selesai.

Ia menghampiri Raska. Jarak mereka hanya beberapa langkah, tapi rasanya seperti dua dunia.

“Kau belum bilang ke Papa,” ujarnya lembut, hampir berhati-hati, “mau lanjut kuliah di mana. Jurusannya apa.”

Tak ada jawaban.

Raska berbalik. Ia mengambil sebuah map cokelat dari meja samping dan meletakkannya di atas meja utama. Bunyi map itu jatuh terdengar lebih keras dari seharusnya.

“Aku butuh tanda tangan.”

Nada datar. Tak meminta. Tak menjelaskan.

Nata menatap map itu lama sebelum menyentuhnya. Jarinya ragu, seolah sudah menebak isinya.

“Untuk apa?” tanyanya pelan.

“Administrasi.”

Satu kata. Dinginnya terasa.

Nata membuka map itu. Matanya bergerak cepat. Lalu berhenti.

Persetujuan Orang Tua/Wali

Pendaftaran Calon Prajurit

Napasnya tertahan. Jarinya mengencang di tepi kertas. Untuk sesaat, ruangan itu kembali sunyi, bahkan jam dinding seolah lupa berdetak.

Ia menoleh ke Raska. “Kamu mau jadi tentara?”

“Iya.”

Pendek. Tegas. Tak ada ruang tawar.

Nata menyandarkan punggung ke sofa. Telapak tangannya meremas map itu, lalu melepasnya lagi, seolah kertas tipis itu terlalu berat untuk dipegang lama-lama.

“Sejak kapan?” tanyanya, suara tetap tenang, meski rahangnya mengeras.

“Baru.”

“Kenapa?”

Wijanata tidak lagi menatap map itu.

Ia menatap anaknya. Lama, dalam, seolah mencoba mencari sisa bocah yang dulu pernah menggenggam tangannya tanpa ragu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Nata sadar, jawaban apa pun yang akan keluar dari mulut Raska…

akan mengubah segalanya.

...🔸🔸🔸...

...“Tidak semua orang memilih jalan karena mimpi. Sebagian memilihnya agar tetap hidup.”...

...“Kadang yang kita cari bukan kesembuhan, melainkan cara hidup yang tidak lagi menyakiti diri sendiri.”...

...“Ia tidak memilih jalan yang paling aman. Ia memilih jalan yang membuatnya bertahan.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!