Indonesia
NovelToon NovelToon

Rosalina (Untold Story)

Luka

Sambil melihat ponsel dengan foto hasil prewedding nya. Senyuman di wajah cantik itu tidak hilang-hilang, meksipun rasa lelah di tubuhnya mendera karena dirinya baru saja menyelesaikan desain terakhir sebelum pernikahan nya yang tinggal menghitung hari.

Tinggal sendiri tanpa orang tua yang hanya ditemani oleh beberapa pelayan seperti keluarganya sendiri. Menjadi sebatang kara di usia yang masih remaja membuat Rosalina tangguh dalam menjalani hidup meksipun dengan banyak luka yang bernama kesepian.

Tetapi, dalam dua tahun ini, kesepian itu telah memudar menjadi kebahagiaan dan penuh cinta serta warna bagi hidup Rosalina. Ketika dirinya bertemu dengan seorang pria yang bernama Edward.

Pria yang berusia lebih dewasa darinya dua tahun saat ini. Menjalin hubungan selama dua tahun membuat mereka memutuskan untuk menikah dan hidup bersama. Meskipun, Edward hanya tukang masak di sebuah restoran yang tak begitu besar. Tetapi sikap dan kepribadian Edward membuat Alina sangat yakin bersama pria itu.

"Fotonya sangat cantik dan bagus nona." Seorang wanita paruh baya datang membawakan susu hangat untuk Alina yang duduk di ranjang nya.

"Ya, aku sudah berusaha untuk mendapatkan hasil foto ini." Ujar Alina sambil mengambil gelas susu itu dan bersiap meneguknya.

"Sebaiknya Nona jangan lagi bekerja atau menerima desain baju. Sebentar lagi nona akan menikah." Ucapan itu semakin membuat senyuman di wajah Alina terkembang.

"Aku sudah menyelesaikan nya. Aku juga tidak mau badan ku tidak bisa berdiri lagi di hari bahagia ku." 

"Ngomong-ngomong, apa kekasih Nona sudah menelepon, bagaimana tentang itu?" 

"Ah ya, aku baru ingat. Dia akan datang sebelum pernikahan kami. Sepertinya juga dengan keluarga nya." Jelas Alina membayangkan dengan senyuman manis.

"Syukurlah, nona. Bibi juga penasaran dengan keluarga dari kekasih Nona."

"Aku sudah pernah bertemu dengan orang tuanya, meskipun tidak sering. Mereka baik, aku suka." 

"Itu sangat bagus Nona." Alina memilih pernikahan yang sederhana untuk mengikat janji suci mereka. Bukannya tidak mampu, tetapi Alina lebih suka pernikahan seperti itu dibandingkan kemewahan.

"Kalau begitu, bibi permisi nona. Selamat malam nona." Pelayan yang menemani Alina seperti keluarga itu beranjak dari kamar bernuansa krem itu.

"Terimakasih bibi, selamat malam juga." Lampu dimatikan pertanda mata itu harus beristirahat.

**************

Diantara bangku putih dan juga beberapa pengunjung. Alina menunggu kekasihnya disebuah taman dengan pohon rindang yang mengisinya. Angin berhembus menyapa rambut coklat Alina, hingga penantian gadis itu berakhir saat mendengar langkah kaki kekasihnya.

"Ed!"Senyum di wajah Alina semakin bersinar ketika melihat kekasihnya di depannya. Dan tentunya pelukan hangat bercampur rasa rindu langsung menyelimuti dirinya.

Tetapi Alina tersadar. Sang kekasih, Edward tidak membalas pelukan kerinduan nya. "Ada apa? Kau tidak rindu padaku?" Tanya Alina menatap wajah calon suaminya.

"Alina, aku ingin membatalkan pernikahan kita. Aku tidak bisa menikah denganmu!" Mentari yang bersinar dengan angin sepoi-sepoi langsung berubah menjadi awan gelap dan angin kencang dengan petir yang menyambar hati Alina.

"Ed, jangan bercanda. Ini tidak lucu sayang." Alina mencoba berpikir positif, bahwa Ed tengah bercanda dengan nya.

"Aku serius! Aku tidak bisa menikahi mu. Aku kesini untuk mengatakannya. Setelah ini kita tidak akan bertemu, dan aku harap tidak ada pertemuan diantara kita lagi." Tidak ada pelukan, justru genggaman tangan Alina di lepas begitu saja. Tidak ada kata-kata rindu dan penuh cinta, hanya ada kata-kata penuh luka di hatinya.

Edward pergi meninggalkan Alina yang tadinya berseri-seri menunggu kedatangan nya langsung berubah menjadi tangisan dengan tubuh tak bergeming. Manik Alina menatap kepergian Edward yang semakin menjauh darinya. 

Tak tau getaran dari mana, hantaman rasa pusing langsung menyerbu kepala Alina dan tak lama dirinya tak sadarkan diri.  Orang-orang perlahan mendekat dan membawa tubuh yang sudah tidak sadarkan diri itu ke rumah sakit.

🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟

Aroma khas dari ruangan serba putih itu langsung tercium dengan jelas oleh indra penciuman dan membuat sepasang manik itu terbuka perlahan. "Nona, syukurlah Nona sudah sadar!" Terlihat raut kekhawatiran menyapa manik Alina.

"Bibi, aku bermimpi bertemu Edward. Dia mengatakan hal yang membuat hatiku sakit, dia mengatakan membatalkan pernikahan kami. Itu hanya mimpi kan bi?  Edward disini kan? Dia pasti datang setelah tau keadaan ku, benar kan bi? Aku akan menghubungi nya." Alina langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor Ed, tetapi tidak ada sambungan disana.

"Nona....." Bibi mengelus lengan Alina yang langsung membeku dengan tangan yang perlahan-lahan menurunkan ponselnya.

"Tidak mungkin! Edward tidak mungkin melakukannya! Tidak ! Tidak!" Alina berteriak histeris sambil mengingat kejadian menyakitkan itu. Tanpa alasan Edward membatalkan pernikahan mereka dan memutuskan jalinan kasih mereka tanpa alasan yang jelas.

Bersambung.....

Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

Bangkit Perlahan

Sepulang dari rumah sakit. Alina, dia mengurung diri di dalam kamarnya, tidak ada pembicaraan seperti biasanya ataupun senyuman hangat maupun semangat untuk beraktivitas.

Kertas-kertas hasil dari rancangan tangan nya dan juga undangan pernikahan yang masih tersisa berserakan dimana-mana. Tidak ada reaksi ataupun keinginan untuk membereskannya. Hanya mata yang lelah dengan pemikiran yang berat menatap semua itu.

"Nona, ayo makan dulu. Bibi bawakan makanan untuk nona." Bibi, wanita paruh baya itu berusaha untuk kebangkitan dari wanita yang sedang terpuruk itu.

Tidak ada jawaban, tangannya kembali mengetuk pintu. "Nona, bibi masuk ya." Masih tidak ada jawaban, wanita paruh baya itu akhirnya memutuskan untuk membuka pintu. Dan bagusnya, itu tidak terkunci. Hawa pengap dengan keadaan yang gelap membuat bibi melangkah dengan hati-hati. Perlahan tangannya menyalakan saklar lampu.

Seiring dengan menyalanya cahaya, tampak Alina dengan tatapan kosongnya meringkuk di kursi menatap balkon yang terhalang jendela dan menampilkan langit yang gelap tanpa rembulan.

"Nona, bibi bawakan makanan dan juga teh. Ayo nona, makan dulu.... Atau setidak-tidaknya nona minum teh nya." jelas bibi penuh harap, hatinya sakit melihat Alina yg tidak bereaksi.

"Nona..... apa yang terjadi pada nona, itu adalah hal yang menyakitkan. Tapi nona, bibi yakin nona tidak akan menyerah semudah itu. Setelah apa yang nona alami hingga sekarang.... Apa nona sungguh ingin menyerah?" Alina mulai merespon, matanya menatap sejenak bibi.

"Nona, setiap yang terjadi.... itu memiliki maksud tersendiri. kalau tidak memberikan kebahagiaan, maka itu memberikan kekuatan agar nona semakin kuat dan nona sanggup untuk itu. Mungkin, dia memang bukan jodoh nona. Akan lebih baik terjadi sekarang, bagaimana kalau itu terjadi setelah nona menikah? Bukankah itu lebih menyakitkan Nona?" Jelas bibi.

Air mata, air mata menjadi jawaban Alina. Tak lama bahunya kembali bergetar dan tenggelam pada bahu bibi yang menjadi sandaran nya. "Nona! Nona, bibi disini.... Nona tidak sendiri." Malam itu, Alina kembali menangis, tapi mungkin itu menjadi tangisan pembangkit semangat nya kembali.

Selepas malam itu, Alina mulai menata kehidupan nya kembali. Alina juga perlahan berganti menjadi sosok yang berbeda. Setelah tidak ada kabar dari Edward dan pernikahan yang batal, Alina menjadi gila kerja dan menjadi pendiam.

"Nona makan dulu." Ujar bibi membawa makanan, meksipun tidak di meja makan, setidaknya ada perkembangan.

"Iya, letakkan saja disana." Ujar Alina dengan sketsa desain baju di depannya.

"Jangan lupa nona, bibi tidak ingin Nona sakit." Perkataan wanita itu membuat Alina meletakkan sketsanya dan mengambil piring berisi lauk pauk enak itu.

"Sudah, aku makan...." Bibi yang melihat apa yang diharapkannya, wanita itu perlahan mundur.

Dibalik pintu besar itu, air matanya kembali mengalir. "Aku sangat berharap nona kembali seperti dulu. Ini sudah sepuluh bulan, tetapi nona menjadi pribadi lain."

********************

"Nona mau berangkat?" Tanya bibi kepada Alina di malam pukul sembilan.

"Iya, aku mau menemui klien. Ingin memastikan ukuran tubuhnya dan juga desain nya. Aku akan kembali cepat." Seolah tau rasa khawatir wanita itu, Alina mengatakannya.

"Baiklah, nona hati-hati."

"Iya." Alina melajukan mobilnya, di tengah perjalanan yang mendekati jalanan dengan pepohonan samping kiri kanan, Alina dikagetkan dengan sesosok yang melintas di depan mobilnya membuat Alina banting setir.

Alina yang merasakan pusing di kepalanya dikejutkan dengan wajah yang berada di depan kaca mobilnya. "Ed?"

Bersambung......

Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰 🥰 🙏

Kembali Menghilang

Dari sepasang kakinya yang menginjak rem, sekarang berubah menjadi gerakan cepat sambil mengikuti dokter dengan perawat yang menuju ruang UGD. Tak membutuhkan waktu, mereka sampai dan tubuh Alina ditahan di depan pintu.

"Maaf Nona, hanya sampai sini." Alina sungguh campur aduk sekarang. Rasa kesal, benci ia singkirkan sejenak setelah melihat kondisi Edward yang bersimbah darah saat ini. Tapi gemetar di tangannya masih tercipta, dia mengambil napas beberapa kali, seolah mengusir rasa sesak menjauh dari dadanya.

Bagaimana tidak. Dia melihat Ed dengan keadaan dilumuri cairan merah di tubuhnya. Alina langsung saja tancap gas menuju rumah sakit.

"Apa yang terjadi padanya?" Hanya itu yang terlintas di benaknya. Meksipun perasaan Alina dikecewakan oleh Edward, tetapi ia mengedepankan rasa kemanusiaannya.

Alina mondar-mandir di depan ruangan itu sesekali memijat kepalanya yang terasa pening. Tak lama, ponselnya berbunyi membuat dirinya tersadar dari penantian cemasnya. 

"Nona dimana?" Tanya bibi yang sangat cemas mengenai kondisinya yang belum ada kabar.

"Aku di rumah sakit Bi." Jawab Alina dengan tubuh yang masih bergetar.

"Nona baik-baik saja kan? Nona jawab bibi! Nona bibi sangat cemas, katakan sesuatu."

"Aku baik-baik saja bi, aku mengantarkan Edward."

"Apa?" Bibi tentu kaget bukan main, karena beberapa bulan ini tidak ada kabar mengenai kekasih Nona nya itu dan tiba-tiba saja kembali muncul.

"Apa yang terjadi Nona?"

"Aku tidak tau bi! Aku bertemu dengannya ketika dalam perjalanan. Sungguh! Aku juga tidak tau!" Alina menatap ke atas sambil menahan air matanya.

"Baiklah, apa perlu bibi kesana?" Alina menggeleng sambil menjawab pertanyaan bibi.

"Tidak perlu bi, aku bisa sendiri. Aku juga akan pulang, lagipula aku hanya bertugas mengantarkannya saja. Aku tidak punya hubungan apapun lagi dengan nya." 

"Baik nona. Bibi tunggu di rumah." Tak lama panggilan terputus dan Alina menghubungi nomor lain.

"Aku harus mengabarkan orang tuanya bukan? Ya, setidaknya aku masih berbaik hati." Alina mencoba menelpon, tetapi tidak ada jawaban, hingga Alina memilih mengirimkan pesan karena dirinya juga harus pergi. Klien nya menghubungi dirinya yang tak kunjung datang.

Sejenak Alina menatap ruangan dimana Edward diselamatkan saat ini. "Aku pergi, seperti yang kau inginkan Ed. Kita tidak ada hubungan apapun, aku akan mengingat nya!" Alina langsung melangkahkan kakinya keluar meninggalkan rumah sakit itu.

🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟

Beberapa hari ini, Alina tidak tau dan tidak mau tau, bagaimana keadaan Edward. "Kenapa aku harus tau? Itu hanya masa lalu, jalani hidup masing-masing." Alina melepaskan pensil sketsa nya dan duduk termenung sejenak menatap jendela yang memberikan pemandangan lalu lalang.

Ketika Alina baru saja sampai di restoran, ponselnya berdering. Alina yang sungguh lapar tidak menerima panggilan apapun, karena dirinya juga mengabarkan pada siapapun bahwa dirinya tidak menerima panggilan ketika jam tertentu.

Dan benar saja, ponsel Alina berhenti berdering. Tak terasa waktu menunjukkan pukul lima sore, Alina bersiap pulang karena pekerjaan nya akan dilanjutkan di rumah.

"Kenapa langit tiba-tiba mendung?" Ujar Alina menatap langit sebelum masuk ke mobilnya.

Sebelum hujan, Alina menyalakan mesin mobilnya, tetapi lagi-lagi panggilan muncul di ponselnya. "Halo?"

"Maaf ini dengan Nona Alina?"

"Ya, ini siapa?" 

"Kami dari pihak rumah sakit Nona, ingin mengabarkan mengenai pasien yang Nona bawa beberapa hari yang lalu."

"Aku tidak...."

"Pasien itu hilang Nona, dia pergi dua hari yang lalu. Kami pikir mungkin di sudah pulang tetapi tadi siang, dia kembali dengan luka yang terbuka lagi. Kami tidak tau harus menghubungi siapapun, tetapi pasien mengatakan untuk menghubungi Nona. Tolong Nona, ini sangat darurat." Alina diam sambil mencerna setelah panggilan berakhir.

"Apa sekarang?" Pikir Alina tak habis pikir, dia tampak menimbang berat. Akankah dia ke rumah sakit atau tidak?

Bersambung......

Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰 🥰 🙏

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!