Indonesia
NovelToon NovelToon

Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Bab 1 Pengasingan sang raja jalanan

Pagi itu, area parkir SMA Garuda Nusantara mendadak riuh hanya karena suara raungan mesin motor sport berwarna hitam pekat yang baru saja memasuki gerbang.

Langit Sterling Surya Agung turun dari motornya dengan gerakan santai, membuka helm full face-nya, dan menyisir rambut acak-acakannya dengan jemari. Hanya dalam hitungan detik, ia sudah dikerumuni oleh teman-temannya.

Menjadi putra bungsu keluarga Surya Agung bukan hanya memberinya akses pada uang yang tak berseri, tapi juga wajah tampan blasteran London-Jawa yang menjadikannya primadona sekolah sejak hari pertama menginjakkan kaki di sana.

"Gila, motor baru lagi, Lang?" celetuk Raka sambil menepuk tangki motor Langit. Langit hanya menyeringai tengil, mengeluarkan tumpukan uang dari saku seragamnya yang tidak rapi, lalu memberikannya pada Bimo.

"Traktir semua orang di kantin pagi ini, bilang dari Langit Sterling," ucapnya santai yang langsung disambut sorak-sorai. Di kelas, Langit memang dikenal cerdas tanpa harus belajar keras, namun otaknya yang encer justru ia gunakan untuk merancang aksi-aksi nekat bersama geng motornya.

Baginya, sekolah hanyalah tempat bermain, dan jalanan adalah rumah yang sebenarnya.

Namun, kejayaan sang raja sekolah itu runtuh dalam satu malam yang nahas. Di bawah lampu remang jalur balap liar, Langit memacu motornya melampaui batas waras demi sebuah taruhan gengsi.

Saat mencoba melakukan manuver tajam untuk menyalip lawan, ban motornya selip di atas tumpahan oli. Suara decitan besi yang beradu dengan aspal membelah keheningan malam, disusul dentuman keras saat tubuh Langit terpental menghantam pembatas jalan.

Malam itu, bukan hanya motor mahalnya yang hancur berkeping-keping, tapi kebebasan Langit pun ikut terkubur saat sang ayah, Alistair, menatapnya dengan kemarahan dingin di ruang ICU, memutuskan bahwa Jakarta bukan lagi tempat bagi putra bungsunya.

Suasana di lorong rumah sakit terasa begitu mencekam. Di depan pintu ruang ICU, Hj. Retno tak henti-hentinya terisak, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.

Alistair Surya Agung hanya bisa mendekap erat istrinya, mencoba memberikan kekuatan meskipun raut wajahnya sendiri memancarkan kecemasan yang mendalam. Ketegasan yang biasanya terpancar dari sosok Presdir itu luntur, digantikan tatapan kosong ke arah pintu kaca yang tertutup rapat.

Ketegangan itu baru mencair saat dokter spesialis keluar dan mengabarkan bahwa Langit telah melewati masa kritisnya. Isak tangis Mami Retno berubah menjadi tangis lega. Setelah kondisinya stabil, Langit dipindahkan ke ruang VVIP yang luas dan mewah, namun raganya masih terbaring lemah, jauh dari sosok pemberontak yang biasanya tak bisa diam.

Beberapa hari kemudian, saat kondisi Langit mulai membaik, Alistair memenuhi janji untuk bertemu dengan sahabat lamanya, Kyai Danardi, di sebuah kafe tenang di pinggiran Jakarta. Kyai Danardi tidak datang sendiri; ia ditemani putrinya, Senja Ardhani.

Selama pertemuan itu, Alistair tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Senja bukan hanya cantik secara fisik, tapi tutur katanya yang santun, tatapannya yang teduh, serta kecerdasannya yang terpancar saat berbicara membuat Alistair terpana. Dalam hatinya, ia berbisik, "Inilah sosok yang bisa menjinakkan Langit." Ia ingin sekali menikahkan mereka, namun ia sadar tidak bisa memaksa di situasi seperti ini.

Keputusan final pun diambil. Begitu Langit dinyatakan sembuh total, Alistair menjatuhkan vonis yang tak terbantahkan: Langit harus meninggalkan Jakarta, geng motornya, dan seluruh kehidupan mewahnya.

Dengan perintah yang mutlak, Langit dipaksa menempuh pendidikan di SMA favorit di Yogyakarta sekaligus mondok di Pesantren Mambaul Ulum. Tak ada bantahan, tak ada tawar-menawar; Langit harus tunduk pada titah sang ayah yang ingin menyelamatkan masa depannya melalui tangan keluarga Kyai Danardi.

Malam terakhir sebelum keberangkatan ke Yogyakarta menjadi malam yang paling emosional di markas besar geng mereka. Di sebuah kafe yang biasa menjadi tempat berkumpul, suasana yang biasanya penuh gelak tawa mendadak berubah menjadi hening dan berat.

Raka, Bimo, Kevin, Ardi, dan Genta duduk melingkar mengelilingi Langit, menatap pemimpin mereka dengan raut wajah yang sulit diartikan. Mereka tidak menyangka bahwa kecelakaan itu akan menjadi akhir dari petualangan liar mereka bersama sang primadona sekolah.

"Beneran besok, Lang?" suara Genta pecah, ia yang biasanya paling sangar kini menunduk sambil meremas kunci motornya. Langit hanya mengangguk pelan dengan tatapan kosong, luka bekas kecelakaan di pelipisnya masih tampak memerah.

"Gue nggak punya pilihan. Bokap udah mutusin, kalau gue nolak, semua fasilitas dicabut dan gue nggak dianggap anak lagi," jawab Langit dengan nada suara yang serak, menyembunyikan sesak yang menghimpit dadanya.

Satu per satu temannya mulai bicara, mengenang kegilaan yang mereka lalui, mulai dari bolos bersama hingga konvoi di jalanan Jakarta. Bimo bahkan tidak menyentuh makanan di depannya, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Saat mereka melakukan pelukan perpisahan (group hug), suasana benar-benar pecah. Langit yang selama ini dikenal sebagai cowok tengil yang tak punya rasa takut, matanya berkaca-kaca melihat kesedihan sahabat-sahabatnya.

Ia menyadari bahwa besok, ia tidak hanya meninggalkan Jakarta, tapi juga meninggalkan separuh jiwanya untuk menuju tempat asing yang sama sekali tidak ia inginkan.

Pagi keberangkatan itu menjadi momen paling memilukan di kediaman mewah keluarga Surya Agung. Di depan mobil yang sudah siap melaju, Langit berdiri dengan bahu merosot, kehilangan semua ketengilan yang biasanya ia banggakan.

Ia menggenggam tangan ibunya erat-erat, seolah jika ia melepasnya sedikit saja, dunianya akan benar-benar runtuh. Mami Retno hanya bisa menangis sesenggukan, berkali-kali menciumi kening putra bungsunya itu dengan berat hati, namun ia tak kuasa melawan keputusan suaminya.

"Pa, Langit mohon... jangan di pondok, Pa. Langit janji akan berubah. Langit nggak akan balapan lagi, nggak akan keluyuran malam lagi. Langit bakal jadi anak baik, tapi tolong jangan buang Langit ke sana," rintih Langit dengan suara bergetar, nyaris bersimpuh di depan ayahnya.

Matanya yang memerah menatap penuh harap, mencari sedikit saja celah belas kasih di wajah sang ayah. Ia merasa seolah sedang dijatuhi hukuman pengasingan yang paling kejam.

Namun, Alistair berdiri tegak dengan wajah sedingin es, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, ia pun merasa hancur melihat putranya memohon seperti itu. Ia mengabaikan permintaan Langit dan tetap memasukkan koper terakhir ke dalam bagasi.

"Keputusan Papa sudah bulat, Langit. Janji kamu sudah terlalu sering dilanggar. Kali ini, Papa tidak sedang menghukummu, tapi Papa sedang menyelamatkan nyawamu," ucap Alistair dengan nada final yang tak terbantahkan.

Tanpa menunggu balasan lagi, ia memberi isyarat pada sopir untuk segera berangkat, membiarkan Langit masuk ke dalam mobil dengan isak tangis yang tertahan, meninggalkan kemewahan Jakarta menuju takdir baru yang sama sekali tak ia duga.

Dalam keputusasaan yang memuncak, Langit menoleh ke arah Liam, kakak sulungnya yang berdiri tak jauh dari sana dengan wajah kaku. Langit berlari kecil dan mencengkeram lengan jas kakaknya itu, menjadikannya tumpuan harapan terakhir.

"Bang, tolong gue... lo yang paling didenger Papa. Bilang sama Papa, pindahin gue ke sekolah asrama di luar negeri aja, jangan ke pondok, Bang. Gue nggak bakal bisa bertahan di sana," pinta Langit dengan suara serak, matanya menatap Liam dengan tatapan memelas yang jarang ia tunjukkan.

Liam menghela napas panjang, menatap adiknya dengan tatapan iba namun penuh ketegasan. Ia melepaskan tangan Langit perlahan dari lengannya.

"Lang, lo tahu sendiri Papa kayak gimana. Kalau Papa sudah ketuk palu, nggak akan ada yang bisa ngerayu, apalagi ngebujuk dia, termasuk gue," jawab Liam pelan namun jujur.

Ia menepuk bahu Langit dengan berat, seolah memberi isyarat bahwa kali ini tidak ada jalan keluar. "Jalanin aja, Lang. Ini satu-satunya cara supaya lo nggak berakhir di penjara atau di liang lahat gara-gara balapan itu."

Perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta terasa seperti perjalanan menuju akhir dunia bagi Langit. Sepanjang jalan, ia hanya menatap kosong ke luar jendela, mengabaikan usaha ibunya yang sesekali mengelus rambutnya untuk menenangkan.

Saat mobil memasuki gerbang besar bertuliskan Pondok Pesantren Mambaul Ulum, jantung Langit mencelos. Suasana teduh, suara santri yang mengaji, dan bangunan-bangunan sederhana di sana terasa sangat asing dan menyesakkan bagi jiwanya yang terbiasa dengan hingar-bingar ibu kota.

Turun dari mobil, mereka disambut dengan kehangatan luar biasa oleh Kyai Danardi dan Ibu Nyai Aminah. Senyum ramah kedua pengasuh pondok itu sangat kontras dengan wajah muram Langit yang ditekuk dalam.

Di ruang tamu ndalem yang asri, Alistair menjabat tangan Kyai Danardi dengan sangat erat. "Danardi sahabatku, aku titipkan Langit padamu. Tolong didik dia, arahkan dia ke jalan yang benar. Aku ingin dia belajar apa artinya tanggung jawab dan iman," ucap Alistair dengan nada suara yang berat namun penuh ketegasan. Kyai Danardi mengangguk mantap, menepuk bahu Alistair pelan.

"InsyaAllah, Alistair. Langit sudah kami anggap anak sendiri di sini. Kami akan membimbingnya dengan sepenuh hati."

Waktu berlalu begitu cepat hingga matahari mulai condong ke barat. Saatnya Alistair dan Mami Retno harus berpamitan. Mami Retno memeluk Langit sangat lama sambil membisikkan doa, sementara Alistair hanya menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kasih sayang dan ketegasan yang tak goyah.

"Jaga dirimu baik-baik, Lang," hanya itu kata terakhir sang ayah sebelum berbalik masuk ke mobil. Langit tak mampu berkata-kata; lidahnya terasa kelu. Ia hanya berdiri mematung di teras pondok, sesekali mengusap air mata yang jatuh tanpa permisi di pipinya, melihat mobil mewah keluarganya perlahan menghilang dari pandangan, meninggalkan dirinya sendirian di tempat yang ia anggap sebagai "penjara suci" ini.

Bab 2 Langit di Penjara Suci

Setelah kepergian orang tuanya, Langit dibimbing oleh Ustadz Hasan, salah satu pengurus senior yang memiliki pembawaan tegas namun teduh.

Langkah kaki Langit terasa berat saat melewati koridor-koridor kayu menuju gedung asrama putra. Bau harum minyak kasturi dan suara riuh rendah santri yang menghafal bait-bait kitab kuning membuat kepalanya pening.

"Ini kamar kamu, Langit. Di sini semua sama, tidak ada anak pengusaha atau anak pejabat. Semuanya santri," ucap Ustadz Hasan sambil membuka pintu kayu sebuah kamar.

Di dalam kamar yang sederhana itu, tiga pasang mata langsung menoleh. Ustadz Hasan memperkenalkan teman-teman sekamar Langit: Rayyan yang terlihat paling dewasa, Akbar yang murah senyum, dan Bilal yang tampak paling muda.

Langit hanya berdiri mematung, menatap tiga kasur busa tipis di lantai dan lemari kayu kecil yang jauh dari kata mewah.

"Duduk dulu, Langit. Selamat datang," sapa Rayyan ramah sambil mengulurkan tangan, sementara Langit hanya menyambutnya dengan anggukan kaku, masih merasa asing dengan suasana yang begitu kontras dari kamarnya di Jakarta yang ber-AC dan kasur empuk.

Tak lama kemudian, suara adzan Maghrib menggema dengan sangat merdu dari speaker masjid pusat. Rayyan segera bangkit dan meraih sarung serta peci hitamnya.

"Ayo, Lang, kita siap-siap ke masjid. Di sini shalat jamaah itu wajib," ajak Rayyan.

Sambil berjalan menuju tempat wudhu, Rayyan mulai menjelaskan aturan dasar pondok dengan sabar; mulai dari larangan membawa smartphone, jam bangun tidur sebelum subuh, hingga jadwal mengaji yang padat.

Langit hanya bisa mengangguk pelan, mengikuti arahan Rayyan layaknya robot, sementara batinnya berteriak memberontak, mencari celah untuk bisa lepas dari rutinitas yang menurutnya sangat menyiksa ini.

Pagi itu, Langit berdiri di depan cermin kecil di sudut kamar asrama dengan tatapan tidak percaya.

Alih-alih seragam bermerek dan kunci motor sport, kini ia mengenakan seragam SMA yang rapi dan harus menaiki sepeda jengki tua untuk menuju sekolah barunya.

Sepanjang perjalanan, Langit mengayuh sepedanya dengan lesu di belakang Rayyan dan Akbar. Sesampainya di sekolah, sebuah bangunan SMA yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan sekolah mewahnya di Jakarta, Langit hanya duduk di bangkunya dengan wajah ditekuk.

Ia menjadi murid baru yang paling pendiam, sangat kontras dengan status "primadona" yang ia miliki di ibu kota.

Saat jam istirahat, Rayyan menarik lengan Langit untuk pergi ke kantin.

"Ayo, Lang, jangan di kelas terus. Kamu butuh makan," bujuk Rayyan. Langit hanya menurut dengan langkah gontai.

Namun, saat sedang berjalan melewati deretan meja yang penuh sesak, kaki Langit tersandung sesuatu hingga ia nyaris tersungkur.

Di depannya, seorang siswi yang sedang memegang mangkuk bakso tampak kaget. Gadis itu adalah Senja Ardhani. Langit yang suasana hatinya sudah buruk sejak bangun tidur, langsung meledak.

"Heh! Mata lo ditaruh di mana, hah? Sengaja lo ya nyandung gue biar gue jatuh?!" bentak Langit dengan kata-kata kasar yang membuat seisi kantin mendadak senyap.

Senja, yang sebenarnya hanya duduk diam, tidak terima dituduh begitu saja. Ia meletakkan mangkuk baksonya dan berdiri dengan tatapan tajam.

"Siapa yang sengaja? Kamu saja yang jalannya melamun, malah menyalahkan orang lain!" balas Senja tegas.

Rayyan yang tahu betul bahwa Senja adalah putri Kyai pemilik pondok mereka, langsung panik dan menarik bahu Langit.

"Udah, Lang, minta maaf aja. Dia ini..." Namun, Langit menepis tangan Rayyan dengan kasar.

"Minta maaf? Ogah! Bagi gue perempuan itu cuma pembawa sial. Gue udah lima kali diputusin perempuan dan semuanya sama, cuma bisa bikin susah!" teriak Langit.

Rayyan yang menyadari ketegangan sudah mencapai puncaknya, segera berbisik dengan nada mendesak tepat di telinga Langit.

"Lang, tahan emosi kamu. Dia ini putri Kyai Danardi, pengasuh kita. Kalau kamu bikin masalah sama dia, urusannya bisa sampai ke telinga Bapak kamu di Jakarta!" Mendengar ancaman halus itu, Langit terdiam sejenak.

Bayangan wajah ayahnya yang tegas dan ancaman pencabutan fasilitas membuat nyalinya sedikit menciut, meski hatinya masih panas membara.

Langit akhirnya mengalah, namun ia tetap memberikan tatapan tajam yang seolah ingin menembus manik mata Senja.

"Urusan kita belum selesai," desisnya pelan namun penuh penekanan sebelum berbalik badan dengan kasar.

Senja hanya bisa menghela napas panjang, menatap punggung Langit yang menjauh dengan perasaan heran sekaligus kesal; ia belum pernah bertemu cowok seangkuh itu di lingkungan pondok.

Begitu bel masuk berbunyi, Langit kembali ke kelas dan menghabiskan sisa jam pelajaran dengan melamun, menopang dagu sambil menatap ke luar jendela, merindukan deru mesin motornya di aspal Jakarta.

Sore harinya, saat lonceng sekolah berbunyi, Langit harus menerima kenyataan pahit bahwa kebebasannya telah sirna.

Jika biasanya di jam seperti ini ia sudah nongkrong di kafe mahal di kawasan Senopati sambil memesan iced americano, kini ia harus mengayuh sepeda tua kembali ke pesantren.

Sesampainya di asrama, suasana sudah sibuk dengan santri yang berlarian menuju kamar mandi untuk bersiap shalat Ashar berjamaah.

"Ayo, Lang, pakai sarungnya. Jangan sampai telat, Ustadz Hasan paling nggak suka kalau ada santri baru yang masbuk," ajak Rayyan sambil menyodorkan sarung milik Langit.

Dengan wajah dongkol dan gerakan yang serba terpaksa, Langit mengganti celana abu-abunya dengan kain sarung yang terasa canggung di kakinya.

Ia berjalan di belakang Rayyan menuju masjid dengan langkah terseret, merasa dunianya benar-benar terbalik saat ia harus duduk bersila di antara ratusan santri, bersiap melaksanakan shalat dan melanjutkan agenda dengan belajar mengaji kitab dasar.

Sudah satu minggu Langit menjalani hari-harinya di Mambaul Ulum, dan baginya, setiap detik terasa seperti satu tahun di penjara.

Ia mulai hafal seluk-beluk jalan dari pondok ke sekolah, namun bukan untuk menyesuaikan diri, melainkan untuk mencari celah melarikan diri.

Pikiran Langit sudah bulat; lebih baik ia tidak sekolah sama sekali dan hidup luntang-lantung daripada harus "nyesek" mengikuti aturan yang mencekik lehernya setiap hari. Bagi Langit, kehidupan santri yang tenang justru merupakan siksaan yang paling kejam.

Malam itu, tepat pukul sebelas malam saat suasana asrama sudah sunyi senyap, Langit memulai aksinya. Ia bangkit dari kasur tipisnya, memegang perutnya sambil mengerang pelan untuk mengelabui Rayyan yang tampak masih setengah sadar.

Dengan alasan sakit perut, ia melangkah menuju toilet. Namun, bukannya masuk ke bilik mandi, Langit justru mengendap-endap keluar melalui pintu belakang asrama yang jarang dijaga.

Ia berlari kecil menuju sudut gelap di dekat tembok pembatas, tempat sebuah pohon rambutan besar tumbuh dengan dahan-dahan yang menjuntai kuat hingga melewati pagar tinggi.

Langit mulai memanjat dengan cekatan, jantungnya berdegup kencang karena bayangan kebebasan di Jakarta sudah di depan mata.

Namun, baru saja kakinya menginjak dahan tertinggi, sebuah senter menyorot tepat ke wajahnya. "LANGIT! MAU KEMANA KAMU?!" teriakan menggelegar Ustadz Hasan membelah keheningan malam.

Saking kagetnya, tumpuan kaki Langit terpeleset hingga ia jatuh berdebam ke tanah.

Belum sempat ia bangkit untuk lari, tangan kekar Ustadz Hasan sudah mencengkeram kerah bajunya.

"Baru seminggu di sini sudah mau jadi buronan?" bentak Ustadz Hasan dengan mata berkilat marah.

Langit hanya bisa tertunduk dengan napas tersenggal dan baju yang kotor terkena tanah.

Tanpa ampun, malam itu juga Ustadz Hasan menyeretnya kembali ke area asrama.

Sebagai hukuman atas kenekatannya, Langit dijatuhi hukuman yang paling ia benci: membersihkan seluruh kamar mandi santri sendirian sebelum fajar menyingsing.

Dengan wajah merah padam karena kesal dan lelah, Langit terpaksa memegang sikat lantai, sementara hatinya makin mengutuk tempat yang ia sebut penjara suci itu.

Percobaan pertama yang gagal tidak membuat nyali Langit ciut. Baginya, menyerah pada keadaan adalah penghinaan bagi seorang mantan raja jalanan Jakarta.

Keesokan harinya, setelah bel pulang sekolah berbunyi, Langit tidak mengayuh sepedanya ke arah pondok bersama Rayyan.

Ia sengaja memisahkan diri, berbelok ke arah gang sempit yang ia yakini akan membawanya ke jalan raya besar menuju terminal bus.

Dengan napas memburu dan senyum kemenangan yang mulai terkembang, ia mengayuh sepedanya sekuat tenaga, membayangkan dirinya sudah duduk manis di dalam bus menuju Jakarta.

Namun, keberuntungan seolah sedang enggan singgah di hidupnya. Saat ia keluar dari gang dan hendak memotong jalan utama, sebuah motor bebek tua berhenti tepat di depannya.

Langit mendongak dan seketika jantungnya serasa berhenti berdetak. Di atas motor itu, Ustadz Hasan berdiri dengan tatapan melotot yang seolah bisa menembus tengkorak kepala Langit.

Ustadz Hasan yang kebetulan baru saja pulang dari pasar untuk keperluan pondok, langsung menghadang jalan Langit.

"Mau ke mana kamu, Langit? Jalan ke pondok itu ke kiri, bukan ke kanan!" bentak Ustadz Hasan dengan nada rendah yang mengancam.

Langit hanya bisa mendengus kesal, mencengkeram stang sepedanya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Saya cuma mau cari angin, Ustadz," kilahnya dengan wajah tanpa dosa yang malah membuat Ustadz Hasan makin geram.

"Cari angin atau cari jalan pulang ke Jakarta? Cepat putar balik dan kayuh sepedamu ke pondok sekarang juga! Kalau tidak, saya telepon Bapak kamu detik ini juga!" Ancaman itu telak mengenai sasaran.

Dengan hati yang panas membara dan mulut yang terus merutuk pelan, Langit terpaksa memutar balik sepedanya, mengayuh dengan penuh emosi kembali ke Mambaul Ulum.

Sesampainya di pesantren, hukuman yang lebih berat sudah menantinya. Ustadz Hasan tidak lagi memberinya sikat kamar mandi, melainkan sapu dan kain pel besar.

"Sebagai ganti 'angin' yang kamu cari tadi, sekarang bersihkan seluruh area masjid sampai mengkilap sebelum adzan Maghrib berkumandang!" perintah Ustadz Hasan tegas.

Dengan wajah dongkol, Langit harus menyapu dan mengepel lantai masjid yang sangat luas sendirian di bawah tatapan heran para santri lain.

Sesekali ia mengusap keringat di dahi dengan kasar, membayangkan betapa malunya ia jika teman-teman geng motornya di Jakarta melihat sang "Raja Jalanan" kini sedang sibuk mengepel masjid di pelosok Yogyakarta.

Bab 3 Malam yang menghancurkan

Melihat Langit yang tampak kepayahan mengepel lantai masjid dengan wajah ditekuk, Rayyan tidak tega. Pemuda itu mengambil kain pel lain dan mulai membantu Langit di sisi yang berbeda.

"Sudahlah, Lang. Jangan terus-terusan melawan arus. Semakin kamu berontak, talinya justru akan semakin melilit lehermu," ucap Rayyan tenang, tanpa menghentikan gerakannya.

Langit mendengus kasar, membanting kain pelnya ke dalam ember hingga airnya menciprat.

"Lo nggak ngerti, Ray! Hidup gue di Jakarta itu bebas. Di sini? Napas aja kayak diatur jadwal. Gue nggak betah!"

Rayyan tersenyum tipis, mencoba memberikan sudut pandang lain. "Terima saja takdirmu dulu. Belajarlah dengan baik, ikuti alurnya. Toh, ini cuma setahun, kan? Begitu lulus SMA, kamu bebas memilih kuliah di mana saja, bahkan mungkin balik ke Jakarta atau ke luar negeri.

Setahun itu sebentar kalau kamu menjalaninya dengan ikhlas."

Mendengar kata 'setahun', mata Langit justru membelalak frustrasi. Ia menyugar rambutnya dengan kasar.

"Satu tahun, Ray? Lo bilang sebentar?" Langit tertawa sinis, tawa yang penuh dengan keputusasaan.

"Bagi gue, seminggu di sini aja rasanya kayak seabad. Kalau gue harus nunggu setahun, itu bukan sebentar, Ray... itu rasanya kayak harus nunggu satu abad lamanya! Gue bisa mati berdiri di sini sebelum lulus!"Langit benar-benar sudah di ambang batas kesabarannya.

Selama beberapa hari berikutnya, Langit tampak jauh lebih tenang. Ia mulai mengikuti jadwal mengaji tepat waktu dan tidak lagi membantah instruksi Ustadz Hasan.

Di sekolah pun, ia mulai mencatat pelajaran meskipun wajahnya masih terlihat kaku. Ustadz Hasan mulai bernapas lega, mengira bahwa hidayah akhirnya menyentuh hati pemuda Jakarta itu.

Namun, di balik sikap patuhnya, otak cerdas Langit terus berputar, memetakan setiap sudut pondok dan menghitung jam-jam saat penjagaan sedang lengang. Ia hanya sedang "bermain peran" agar pengawasan terhadapnya mengendur.

Suatu sore, saat matahari mulai menyepi di ufuk barat, Langit bertemu dengan Kyai Danardi di depan ndalem. Dengan suara teduh, sang Kyai mengajaknya berjalan-jalan menuju area persawahan di belakang pesantren.

Langit hanya mengangguk patuh dan berjalan mengekor di belakang Kyai Danardi, menikmati semilir angin yang membawa aroma tanah basah.

"Kamu tahu, Langit? Dulu, saya juga pernah berdiri di posisimu," ujar Kyai Danardi tiba-tiba, memecah keheningan.

Langit mendongak, sedikit terkejut mendengar pengakuan itu. Kyai Danardi pun mulai bercerita bahwa ia adalah putra seorang pengusaha sukses kelas internasional.

Masa mudanya di Jakarta dihabiskan dengan gaya hidup yang sama liarnya dengan Langit. Karena pergaulan yang semakin tak terkendali, orang tuanya memaksanya mondok di tempat ini.

"Ayahmu adalah sahabat karib saya sejak SMA di Jakarta. Kami sama-sama nakal dulu," lanjut Kyai Danardi sambil terkekeh pelan.

"Bedanya, saya 'dijinakkan' di sini dan akhirnya menikah dengan Ibu Nyai Aminah, sementara ayahmu tetap di Jakarta untuk meneruskan bisnis keluarga.

Tapi takdir memang lucu, kami bertemu lagi saat kuliah di UGM Yogyakarta. Persahabatan itulah yang membuat ayahmu sangat memercayaiku untuk menjagamu." Langit tertegun, tidak menyangka bahwa sosok berwibawa di depannya ini memiliki masa lalu yang sangat mirip dengannya.

Cerita itu sempat menyentuh hatinya, namun keinginan untuk bebas tetap jauh lebih besar daripada rasa kagumnya.

Malam itu, suasana pesantren pecah oleh riuh rendah jamaah yang datang dari berbagai penjuru untuk menghadiri tausyiah besar.

Di tengah kesibukan para santri yang menyiapkan konsumsi dan mengatur saf, Langit melihat peluang emas.

Dengan napas memburu, ia menyeret sebuah tangga kayu yang ia temukan di belakang gudang menuju tembok pembatas yang paling gelap.

"Kali ini nggak boleh gagal," batinnya sambil memanjat anak tangga satu per satu. Namun, baru saja tangannya menyentuh puncak tembok, sorot lampu senter kembali menghujam matanya.

"LANGIT! TURUN KAMU!" teriakan Ustadz Hasan menggelegar di tengah keramaian.

Panik dan merasa sial karena terus-menerus tertangkap, Langit tidak mau menyerah begitu saja.

Sebelum tangan Ustadz Hasan meraih kakinya, ia nekat meloncat ke arah sisi lain tembok.

Ia mendarat dengan keras, berguling di rerumputan, dan langsung berlari tanpa arah demi menghindari kejaran.

Namun, Langit tidak sadar bahwa dalam kegelapan itu, ia justru meloncati pagar yang membatasi wilayah asrama putri.

Saat seorang santriwati memergokinya dan nyaris berteriak, Langit panik dan menerobos masuk ke dalam kamar terdekat yang pintunya sedikit terbuka.

Di dalam kamar itu, Senja yang baru saja selesai mandi dan sedang mengganti pakaiannya tersentak hebat.

Belum sempat Senja mengeluarkan suara, Langit sudah menerjang maju, membekap mulutnya rapat-rapat, dan mendorongnya hingga mereka berdua jatuh di atas ranjang.

Rambut panjang Senja yang masih basah tergerai berantakan di atas seprai. Dalam posisi Langit yang mengunci tubuhnya di atas, keduanya sempat saling tatap dalam keheningan yang mencekam.

"Maaf... tolong jangan berteriak," bisik Langit lirih sambil jemarinya perlahan menyibak rambut yang menutupi wajah Senja.

Namun, Senja yang merasa terancam dan marah langsung memberontak sekuat tenaga. Ia berusaha mendorong dada Langit dan mulai mengeluarkan teriakan yang tertahan di balik telapak tangan.

Takut teriakan itu akan mengundang seluruh penghuni pondok dan menghancurkan hidupnya, Langit kehilangan akal sehatnya.

Untuk membungkam suara Senja yang terus mendesak, Langit nekat menciumnya, menghentikan teriakan itu dalam sebuah kontak fisik yang tak terduga dan akan mengubah takdir mereka selamanya.

Ketegangan di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi atmosfer yang aneh.

Ciuman nekat Langit berhasil membungkam suara Senja, namun dampaknya jauh lebih hebat dari yang ia duga.

Langit melepaskan tautan bibirnya perlahan, namun wajahnya masih hanya berjarak beberapa senti dari wajah Senja.

"Jangan berteriak, atau saya akan terus mencium kamu," ancam Langit dengan suara serak yang bergetar.

Senja terdiam mematung, dadanya kembang kempis karena emosi dan rasa terkejut yang luar biasa. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang indah.

"Tolong... lepasin," bisik Senja nyaris tak terdengar, menatap tepat ke dalam manik mata Langit.

Alih-alih segera menjauh, Langit justru terpaku. Di bawah temaram lampu kamar, ia baru menyadari betapa cantiknya gadis yang selama ini ia anggap musuh itu.

Aroma sabun dan rambut basah Senja mendadak membuat jantung Langit berdegup tak karuan.

Mereka terjebak dalam keheningan yang lama, saling menatap dalam posisi yang sangat intim, seolah dunia di luar sana sedang berhenti berputar.

Namun, keajaiban itu hancur dalam sekejap saat pintu kamar didobrak dari luar.

"Astaghfirullah!" pekik salah seorang pengurus pondok putri yang masuk bersama serombongan santri lain.

Langit terperanjat dan buru-buru turun dari atas tubuh Senja dengan wajah pucat pasi.

Senja langsung bangkit dengan terisak hebat, tangannya gemetar hebat saat berusaha merapikan pakaian dan rambut panjangnya yang berantakan.

Teman sekamar Senja berlari masuk, wajahnya penuh kecemasan, dan segera menyampirkan kerudung ke kepala Senja untuk menutupi auratnya.

"Kurang ajar kamu, Langit! Apa yang kamu lakukan?!" bentak salah satu ustadz yang ikut masuk.

Tanpa ampun, tangan Langit ditarik kasar. Ia diarak keluar dari asrama putri menuju rumah Kyai Danardi di bawah tatapan ngeri dan bisik-bisik ratusan santri yang terbangun.

Sementara itu, di dalam kamar, Senja hanya bisa meringkuk dan menangis sesenggukan di pelukan teman-temannya, menyadari bahwa kehormatannya baru saja dipertaruhkan oleh cowok paling bermasalah di pondok itu.

Suasana di ruang tamu ndalem terasa begitu dingin dan mencekam, seolah oksigen di sana mendadak hilang.

Langit duduk bersimpuh di lantai kayu dengan kepala tertunduk dalam, tangannya yang gemetar ia sembunyikan di balik lutut.

Tak lama, derap langkah kaki terdengar mendekat. Kyai Danardi berjalan masuk dengan raut wajah yang sulit diartikan, ada perpaduan antara keterkejutan, luka, dan kekecewaan yang mendalam.

Beliau baru saja dipanggil dari masjid di tengah acara tausyiah yang masih berlangsung.

Di ruangan itu, suasana semakin berat dengan kehadiran para pengasuh. Ustazah Aisyah dan Ustazah Halimah berdiri di sisi kanan dengan wajah tegang, sementara Ustadz Hasan dan Ustadz Hasbi berdiri di sisi kiri dengan tatapan tajam menghujam ke arah Langit.

Ustazah Aisyah kemudian mulai menceritakan kronologi kejadian dengan suara bergetar, menjelaskan bagaimana mereka menemukan Langit berada di dalam kamar putri dalam posisi yang sangat tidak pantas bersama Senja.

"Panggil Senja ke sini," perintah Kyai Danardi dengan suara rendah namun penuh wibawa yang menggetarkan nyali.

Beberapa saat kemudian, Senja masuk dengan langkah gontai, didampingi seorang teman dekatnya.

Wajahnya sembap, matanya merah karena terlalu banyak menangis. Sambil terisak dan sesekali menyeka air mata di balik cadar daruratnya, Senja menceritakan bagaimana Langit tiba-tiba menerobos masuk, membekapnya, hingga melakukan tindakan nekad untuk membungkam suaranya.

Setiap kata yang keluar dari mulut Senja seperti belati yang menusuk kehormatan keluarga Kyai.

Mendengar pengakuan putrinya, Kyai Danardi memejamkan mata erat-erat, tangannya mengepal kuat di atas pangkuan. Sementara itu, Langit hanya bisa membisu.

Semua pembelaan yang tadinya ia siapkan di dalam kepala mendadak lenyap.

Ia tidak bisa mengelak, tidak bisa membantah, dan hanya sanggup menatap lantai sambil meratapi nasibnya yang kini berada di ujung tanduk di depan pria yang paling dihormati oleh ayahnya tersebut.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!