Malam di Seoul tahun 2025 tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya neon dari papan reklame raksasa di distrik Gangnam memantul di permukaan gedung-gedung kaca, menciptakan fatamorgana warna-warni yang menipu mata. Namun, bagi Wonyoung, semua gemerlap itu hanyalah lapisan tipis yang menutupi kebusukan yang lebih dalam.
Ia berdiri di balkon ruang tunggunya yang mewah di lantai sepuluh gedung Global Disc Awards. Angin malam yang kencang mempermainkan rambut hitam panjangnya yang telah ditata sempurna selama tiga jam. Wonyoung menghirup udara malam, namun bukan aroma polusi kota yang ia rasakan, melainkan bau amis yang samar—seperti besi berkarat yang bercampur dengan bau tanah basah.
Bau itu adalah tanda bahwa portal The Void sedang aktif.
Wonyoung menunduk, menatap telapak tangannya. Kulitnya begitu pucat, hampir transparan di bawah sinar bulan. Ia adalah seorang Star Enchanter, keturunan terakhir dari klan bangsawan vampir yang bersumpah untuk menjaga dunia dari kegelapan abadi. Baginya, kehidupan sebagai idola nomor satu di Korea hanyalah sebuah penyamaran yang sempurna. Di panggung, ia dipuja sebagai dewi; di balik panggung, ia adalah pemburu yang tak pernah tidur.
"Sudah tiga ratus tahun," bisik Wonyoung pada dirinya sendiri. Suaranya tenggelam oleh deru mesin mobil di kejauhan. "Dan sumpah itu masih terasa mencekik."
Ia memejamkan mata, dan seketika itu juga, memori masa lalu menghantamnya seperti gelombang pasang.
Tahun 1725 – Era Joseon.
Langit malam itu berwarna merah darah. Wonyoung remaja, mengenakan hanbok sutra berwarna putih yang telah ternoda oleh debu pertempuran, berdiri di atas bukit yang menghadap ke desa yang terbakar. Di hadapannya, sebuah piringan hitam yang terbuat dari batu obsidian kuno melayang di udara, mengeluarkan suara dengungan yang menyakitkan telinga. Itu adalah The Genesis Vinyl yang asli.
Di sampingnya, berdiri seorang pemuda dengan jubah hitam bersulam perak. Wajahnya tertutup bayangan caping, namun aura dingin yang terpancar darinya sanggup membekukan rumput di sekitar mereka.
"Jika kita melakukan ini, kita tidak akan pernah bisa beristirahat," suara pemuda itu terdengar datar, namun ada getaran keraguan di dalamnya.
"Dunia ini butuh penjaga, bukan pecundang yang takut pada keabadian," jawab Wonyoung tajam. Ia mengambil belati peraknya dan menggores telapak tangannya. Darah berwarna merah keunguan menetes ke atas piringan obsidian tersebut. "Aku bersumpah, demi darah murni yang mengalir di nadiku, aku akan memburu kegelapan ini hingga ke ujung waktu. Meski aku harus terlahir kembali dalam ribuan wajah, tujuanku tetap satu: kehancuran The Void."
Pemuda itu melakukan hal yang sama. Saat darah mereka menyatu di atas Vinyl, sebuah ledakan energi cahaya dan es menyapu seluruh bukit, menyegel portal besar yang menganga di langit. Sejak saat itu, waktu bagi mereka berhenti. Mereka tidak akan pernah menua, tidak akan pernah mati, dan tidak akan pernah benar-benar mencintai karena hati mereka telah menjadi bagian dari segel tersebut.
Kembali ke Seoul, 2025.
Ketukan keras di pintu membuyarkan lamunan Wonyoung.
"Wonyoung-ah! Lima menit lagi! Tim keamanan sudah menunggumu di lorong," teriak managernya, seorang pria paruh baya yang tidak pernah tahu bahwa artis yang ia kelola bisa membunuhnya dalam satu kedipan mata.
Wonyoung menarik napas panjang, mengubah tatapan matanya yang tajam menjadi tatapan lembut yang biasa ia tunjukkan di depan kamera. Ia berjalan menuju pintu, mengenakan gaun perak yang beratnya hampir sepuluh kilogram, namun ia membawanya seolah itu adalah seringan bulu. Kekuatan fisiknya sebagai vampir jauh melampaui manusia mana pun.
Saat ia menyusuri lorong artis yang sibuk dengan staf yang berlari ke sana kemari, indra penciumannya kembali menajam. Di ujung lorong, sekelompok pemuda dengan setelan jas hitam elegan sedang bersiap-siap. Mereka adalah ENHYPEN.
Wonyoung berusaha tetap tenang, namun saat ia berpapasan dengan Sunghoon, langkahnya mendadak berat.
Ada yang salah. Atmosfer di sekitar Sunghoon terasa sangat dingin—bukan sekadar dingin dari AC gedung, tapi dingin yang murni, seolah-olah pria itu membawa badai salju di dalam nadinya. Wonyoung merasakan kulitnya meremang. Ia menatap mata Sunghoon selama satu detik yang terasa seperti selamanya. Pupil mata Sunghoon yang hitam pekat sejenak berkilat dengan cahaya biru kristal yang sangat familiar.
“Mustahil,” batin Wonyoung, jantungnya yang beku seakan bergetar. “Aura ini... aroma salju dan obsidian ini... apakah dia?”
Sunghoon tidak memberikan reaksi apa pun. Ia hanya menatap lurus ke depan, wajahnya yang dijuluki Ice Prince oleh jutaan penggemar tampak tanpa ekspresi. Namun, saat mereka bersisihan, Sunghoon membisikkan sesuatu yang hampir tidak tertangkap oleh telinga manusia.
"Jangan biarkan cahayamu padam malam ini, Wonyoung-ssi. Monster-monster itu sedang lapar."
Wonyoung tersentak, namun Sunghoon sudah melangkah pergi bersama grupnya menuju panggung. Kalimat itu bukan sekadar peringatan; itu adalah kode. Hanya seorang Hunter yang tahu bahwa malam ini adalah malam puncak aktivitas The Void.
Wonyoung mengepalkan tangannya di balik gaunnya. "Jadi benar," gumamnya pelan. "Aku bukan satu-satunya yang tersisa."
Wonyoung berdiri di atas lift panggung yang perlahan bergerak naik. Suara riuh rendah ribuan penonton mulai terdengar, seperti suara ombak yang menghantam tebing. Ketika kepalanya mulai melewati batas lantai panggung, ia disambut oleh lautan lightstick yang bersinar terang.
Musik dimulai. Dentuman bass yang kuat mengguncang stadion. Wonyoung mulai bergerak, koreografinya begitu presisi dan penuh tenaga, namun matanya terus mengamati langit-langit stadion. Di sana, di antara rangka-rangka besi penyangga lampu, ia melihatnya.
Sesosok makhluk berwujud asap hitam dengan mata merah menyala sedang merayap. Makhluk itu adalah Larva Void, pengintai yang bertugas mengumpulkan energi negatif dari ketakutan atau kegugupan manusia.
Wonyoung melakukan gerakan berputar, seolah-olah itu adalah bagian dari koreografi. Di tangannya, ia membentuk segel cahaya kecil. Saat ia melayangkan tangannya ke udara, sebuah panah cahaya tipis melesat—tersamar sempurna di antara ratusan sinar laser panggung.
Zzap!
Panah itu mengenai si monster, namun makhluk itu tidak langsung hancur. Ia justru mengeluarkan pekikan yang hanya bisa didengar oleh telinga Hunter, dan tiba-tiba, tiga monster lainnya muncul dari bayang-bayang stadion.
Wonyoung mulai panik. Ini terlalu banyak untuk ia tangani sambil tetap menjaga penampilannya di atas panggung. Jika ia mengeluarkan kekuatan penuh, identitasnya akan terbongkar. Namun jika ia diam saja, monster-monster itu akan menyerang fans di barisan depan.
Tepat saat salah satu monster bersiap terjun ke arah penonton, sebuah ledakan kristal es muncul dari arah kursi VIP artis. Kristal-kristal itu melesat seperti peluru, membekukan monster-monster itu di udara hingga mereka pecah menjadi debu dalam hitungan detik.
Wonyoung melirik ke arah kursi VIP. Di sana, Sunghoon duduk dengan tenang, menyilangkan kakinya. Tangannya tampak santai memegang sebotol air mineral, namun jari telunjuknya masih sedikit terangkat, mengarah ke langit-langit.
Sunghoon menatap Wonyoung dari kejauhan. Tatapannya seolah berkata: “Lanjutkan pertunjukanmu, biar aku yang mengurus sampah-sampah ini.”
Kemarahan dan kelegaan bercampur di hati Wonyoung. Ia benci harus dibantu, apalagi oleh seseorang yang selama ini ia anggap sebagai saingan di tangga lagu. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa kekuatan es itu adalah satu-satunya hal yang bisa mengimbangi cahaya bintangnya.
Penampilan berakhir. Wonyoung berdiri di tengah panggung dengan napas terengah-engah, melakukan pose akhir (ending fairy) ke arah kamera. Jutaan orang di rumah melihatnya sebagai idola yang lelah namun bahagia, tanpa tahu bahwa ia baru saja menyaksikan pertempuran hidup dan mati.
Saat turun dari panggung, Wonyoung tidak langsung menuju ruang tunggunya. Ia berbelok ke arah koridor belakang yang sepi, tempat di mana ia yakin Sunghoon akan lewat untuk menuju panggung ENHYPEN.
Ia menunggu di balik bayangan pilar beton besar. Benar saja, beberapa saat kemudian, langkah kaki yang tenang terdengar.
"Menunggu seseorang, Wonyoung-ssi?" Sunghoon muncul dari kegelapan, tangannya dimasukkan ke saku celana.
Wonyoung melangkah keluar, matanya kini berkilat ungu sepenuhnya. "Siapa kau sebenarnya? Dan bagaimana kau bisa memiliki kekuatan klan Frost di masa modern ini?"
Sunghoon berhenti, hanya berjarak dua meter dari Wonyoung. Ia melepaskan masker hitamnya, memperlihatkan garis rahang yang tajam dan bibir yang pucat. "Pertanyaan yang sama juga berlaku untukmu, Tuan Putri. Cahaya bintangmu terlalu mencolok untuk ukuran tahun 2025. Kau menarik perhatian monster-monster itu seperti laron pada lampu."
"Aku sudah menjaga kota ini selama tiga abad," desis Wonyoung. "Aku tidak butuh bantuan dari vampir es yang hanya tahu cara bersembunyi di balik kursi VIP."
Sunghoon tertawa pendek, suara tawanya sedingin angin musim dingin. "Tiga abad? Mengesankan. Tapi sepertinya kau lupa satu hal tentang sumpah abadi kita, Wonyoung."
Sunghoon mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah pecahan kecil piringan obsidian yang bersinar redup. Mata Wonyoung membelalak. Itu adalah bagian dari The Genesis Vinyl—bagian yang selama ini ia cari-cari untuk melengkapi segel yang mulai retak.
"Kau memilikinya..." bisik Wonyoung.
"Aku memilikinya, dan aku tahu di mana sisa-sisanya berada," ucap Sunghoon, wajahnya kembali menjadi serius. "Portal The Void tidak hanya retak karena waktu. Seseorang sedang membukanya dari dalam. Dan jika kita tidak bekerja sama, panggung encore terakhir kita tidak akan pernah terjadi."
Tiba-tiba, suara alarm gedung berbunyi. Bukan alarm kebakaran, melainkan alarm frekuensi tinggi yang hanya bisa didengar oleh para Hunter. Tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.
"Mereka datang," ucap Sunghoon sambil mengeluarkan sebuah pedang es tipis dari udara kosong. "Dan kali ini, mereka bukan sekadar larva."
Wonyoung memanggil busur cahayanya, tali busur itu berdenging dengan kekuatan energi bintang. "Jangan menghalangi jalanku, Sunghoon-ssi."
Sunghoon tersenyum tipis, matanya kini berubah biru sepenuhnya. "Cobalah untuk tetap hidup, Wonyoung-ah. Dunia masih butuh idola sepertimu."
Di luar sana, langit Seoul yang cerah tiba-tiba tertutup awan hitam pekat. Gerhana bulan yang tidak terjadwal mulai menutupi sang surya. Pertempuran yang telah tertunda selama ratusan tahun akhirnya pecah di jantung kota paling sibuk di dunia.
Dan di antara kilatan cahaya dan es, sumpah lama itu kembali bergema di nadi mereka.
Getaran yang merambat dari bawah lantai beton gedung Global Disc Awards bukanlah gempa bumi biasa. Bagi manusia, itu mungkin hanya terasa seperti getaran mesin generator yang malfungsi, namun bagi Wonyoung, setiap denyutnya terasa seperti palu yang menghantam gendang telinganya. Ia bisa merasakan frekuensi kegelapan yang merayap, mencoba mencari celah di antara realitas.
"Mereka sudah di sini," bisik Sunghoon. Suaranya datar, namun ada ketajaman yang tidak bisa disembunyikan.
Wonyoung tidak menjawab. Ia masih terpaku pada pecahan The Genesis Vinyl di tangan Sunghoon. Selama tiga ratus tahun, ia mengira piringan itu telah hancur menjadi debu saat ledakan besar di era Joseon. Melihat bagian darinya masih utuh dan berada di tangan seorang pria yang baru saja ia temui kembali membuat seluruh dunianya terasa jungkir balik.
"Simpan bicaramu untuk nanti, Sunghoon-ssi," desis Wonyoung. Ia menarik tali busur cahayanya yang tak kasatmata bagi mata manusia. Cahaya merah muda keunguan mulai berpijar di ujung jarinya. "Jika kita tidak menutup retakan ini sekarang, seluruh stadion akan menjadi perjamuan bagi mereka."
Tiba-tiba, dari kegelapan koridor belakang panggung, dinding beton itu seolah mencair. Cairan hitam kental merembes keluar, membentuk sosok-sosok tanpa wajah dengan tangan panjang yang berakhir pada kuku-kuku setajam silet. Void Stalkers. Monster tipe pemburu yang lebih kuat dan lebih cepat dari larva yang mereka lawan sebelumnya.
Monster pertama melompat dengan kecepatan yang mustahil. Wonyoung bersiap melepaskan panahnya, namun ia menyadari sesuatu yang fatal. Di ujung koridor, seorang staf perempuan muda berjalan mendekat sambil membawa tumpukan kostum, matanya terpaku pada ponsel. Staf itu tidak melihat monster yang hanya berjarak beberapa meter darinya.
"Tidak!" teriak Wonyoung. Jika ia menembak sekarang, ledakan cahayanya akan melukai staf itu. Namun jika ia diam, staf itu akan terkoyak.
"Waktu adalah beban bagi mereka yang tidak bisa mengendalikannya," suara Sunghoon menggema di samping telinganya.
Takk.
Sunghoon menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Wonyoung.
Seketika, dunia membeku.
Wonyoung terkesiap saat melihat butiran debu di udara berhenti bergerak. Staf perempuan itu mematung dengan satu kaki terangkat, helai rambutnya menggantung statis. Bahkan percikan api dari kabel listrik yang rusak tergantung di udara seperti kristal yang tak bergerak. Segalanya berubah menjadi gradasi warna abu-abu keperakan yang sunyi.
Ini adalah Five Seconds of Frost, kemampuan tertinggi dari klan Shadow Vanguard untuk menghentikan aliran waktu di area terbatas dengan cara membekukan atom di udara.
Sunghoon bergerak dengan tenang di tengah dunia yang diam. Ia berjalan melewati Wonyoung, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara. Dengan gerakan yang sangat elegan namun mematikan, ia menarik pedang es tipisnya The Frost Rapier dan menebas tiga monster yang sedang melayang di udara. Potongan-potongan tubuh monster itu tidak jatuh; mereka tetap melayang, membeku dalam kehancuran mereka sendiri.
Lalu, Sunghoon berbalik. Ia menatap Wonyoung yang masih bisa bergerak di dalam zona bekunya karena ia juga memiliki darah abadi. Sunghoon mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Wonyoung bisa merasakan aura dingin yang memancar dari kulit pria itu.
Sunghoon meraih pinggang Wonyoung, menariknya masuk ke dalam bayangan pilar beton yang gelap, menjauh dari jangkauan pandangan staf perempuan dan kamera CCTV.
Detik kelima berakhir.
Dunia kembali meledak dengan suara. Brak! Brak! Brak! Tiga monster yang tadi ditebas Sunghoon tiba-tiba pecah menjadi kepingan es kecil sebelum sempat menyentuh lantai. Staf perempuan itu berkedip, merasa ada embusan angin dingin yang lewat, namun ia terus berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tidak pernah tahu bahwa maut baru saja melewatinya.
Wonyoung terengah-engah, punggungnya menempel pada tembok beton yang dingin. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut pada monster, tapi karena tangan Sunghoon masih melingkar di pinggangnya, dan wajah pria itu hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.
"Lepaskan aku," bisik Wonyoung, suaranya parau.
Sunghoon tidak langsung melepaskannya. Ia menatap mata Wonyoung, mencari sesuatu di dalam pupil ungu tersebut. "Kau terlalu emosional, Wonyoung. Kau hampir mengacaukan penyamaranmu demi seorang manusia biasa."
"Dia bukan sekadar 'manusia biasa', dia adalah tanggung jawab kita!" balas Wonyoung dengan nada marah yang tertahan. "Kita adalah Hunter, bukan mesin pembunuh tanpa perasaan."
Sunghoon akhirnya melepaskan cengkeramannya dan mundur satu langkah. Ia menyarungkan pedang esnya yang langsung menguap menjadi udara dingin. "Perasaan adalah alasan kenapa klan kita hampir punah tiga ratus tahun lalu. Jangan biarkan sejarah terulang kembali."
Wonyoung merapikan gaun peraknya yang sedikit berantakan. Ia merasa terhina sekaligus bingung. "Kenapa kau ada di sini, Sunghoon? Kenapa ENHYPEN? Kenapa kau memilih menjadi idola?"
Sunghoon menyandarkan tubuhnya ke pilar, menatap langit-langit koridor dengan pandangan kosong. "Tempat mana lagi yang lebih baik untuk memantau emosi manusia selain di panggung K-Pop? Ribuan orang berkumpul, memberikan cinta, harapan, sekaligus kecemasan mereka. Itu adalah magnet bagi The Void. Aku di sini bukan untuk bernyanyi, aku di sini untuk memastikan bahwa energi itu tidak berubah menjadi kiamat."
"Jadi kau mengawasiku selama ini?" tanya Wonyoung curiga.
"Aku mengawasi portalnya. Bahwa kau ada di sana, itu hanya sebuah kebetulan yang merepotkan," jawab Sunghoon dingin. Ia kembali meraba pecahan Vinyl di sakunya. "Benda ini... ia bereaksi padamu. Itulah sebabnya aku menyelamatkanmu tadi."
Wonyoung melangkah maju, tangannya terulur. "Berikan padaku. Pecahan itu adalah milik klan-ku. Itu adalah kunci untuk memperbaiki segel yang retak."
Sunghoon mengangkat alisnya, seringai tipis muncul di bibirnya yang pucat. "Milikmu? Berdasarkan apa? Sumpah darah kita di masa lalu dilakukan bersama. Pecahan ini adalah milik siapa pun yang cukup kuat untuk menjaganya. Dan melihat caramu bertarung tadi... aku ragu kau bisa menjaganya dari pencuri, apalagi dari The Void King."
"Kau...!" Wonyoung mengepalkan tangannya, cahaya bintang mulai berpendar di sekeliling jemarinya.
"Jangan di sini," potong Sunghoon cepat. "Simpan energimu. Kamera Dispatch ada di mana-mana di luar sana. Kau tidak mau kan besok pagi tajuk utamanya bukan tentang penampilanmu, melainkan tentang idola yang bisa mengeluarkan laser dari tangannya?"
Wonyoung menarik napas panjang, mencoba menekan emosinya. Sunghoon benar. Kehidupan mereka di tahun 2025 jauh lebih rumit daripada di era Joseon. Dulu, mereka bisa bertarung di tengah hutan tanpa ada yang peduli. Sekarang, setiap jengkal langkah mereka diawasi oleh ribuan lensa kamera dan jutaan pasang mata netizen.
"Apa maumu?" tanya Wonyoung akhirnya.
"Bekerja sama," jawab Sunghoon singkat. "Portal utama di bawah stadion ini mulai tidak stabil. Energi negatif dari war antar fandom di media sosial belakangan ini telah memberi makan monster-monster itu lebih dari yang kita duga. Aku butuh cahayamu untuk menerangi inti portal, sementara aku membekukan jalannya."
Wonyoung terdiam sejenak. Bekerja sama dengan Sunghoon adalah hal terakhir yang ia inginkan. Pria itu angkuh, dingin, dan tampaknya tidak memiliki rasa empati. Namun, ia juga tahu bahwa kekuatan es Sunghoon adalah pasangan sempurna bagi cahayanya. Seperti malam dan siang, mereka adalah dua sisi dari satu koin hunter.
"Hanya untuk malam ini," ucap Wonyoung tegas. "Setelah portal ini ditutup, berikan pecahan Vinyl itu padaku, dan kita kembali ke jalur masing-masing. Kau dengan ENHYPEN, aku dengan IVE. Jangan pernah campuri urusanku lagi."
Sunghoon hanya mengangguk samar. "Kesepakatan yang adil. Sekarang, ikuti aku. Kita punya waktu tiga puluh menit sebelum acara berakhir dan semua orang mulai memadati area parkir."
Sunghoon bergerak lebih dulu, berjalan melewati bayang-bayang dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata manusia. Wonyoung mengikutinya, melompat di antara pipa-pipa ventilasi di langit-langit koridor agar tidak terlihat oleh staf.
Mereka sampai di sebuah pintu besi berat yang menuju ke ruang basement paling bawah gedung stadion. Sunghoon menyentuh gembok pintu itu, dan dalam sekejap, besi tersebut membeku hingga rapuh, lalu hancur hanya dengan dorongan ringan.
Di dalam, ruangan itu gelap gulita dan berbau busuk yang sangat menyengat. Di tengah ruangan, sebuah retakan dimensi berwarna ungu gelap menganga di udara, mengeluarkan suara berdesis seperti ribuan ular.
"Itu dia," bisik Wonyoung. Ia bisa merasakan energi di dalam darahnya mendidih saat melihat portal itu.
Namun, sebelum mereka bisa mendekat, bayangan di pojok ruangan bergerak. Sesosok monster yang jauh lebih besar dari sebelumnya muncul. Monster itu tidak memiliki bentuk tetap, seperti kumpulan asap hitam yang padat dengan banyak mata yang berkedip di sekujur tubuhnya. The Void Warden.
"Kau urus matanya, aku akan membekukan intinya," perintah Sunghoon.
"Jangan memerintahku!" balas Wonyoung, namun ia tetap melompat ke udara, busur cahayanya sudah terbentang lebar.
Pertempuran pecah di ruang bawah tanah yang sempit itu. Wonyoung meluncurkan rentetan panah cahaya yang meledak saat mengenai mata monster, menciptakan kilatan cahaya yang membutakan. Monster itu meraung, mencoba mencengkeram Wonyoung dengan tentakel asapnya, namun Sunghoon selalu ada di sana, memotong tentakel tersebut dengan rapier esnya sebelum sempat menyentuh gaun perak Wonyoung.
"Jangan melamun, Star Enchanter!" teriak Sunghoon saat ia meluncur di lantai yang licin, menebas bagian bawah monster itu.
Wonyoung mendarat dengan anggun di atas pipa besar. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh energi bintang yang ia miliki ke dalam satu anak panah besar yang bersinar terang benderang. "Tutup matamu, Sunghoon!"
Wuuush!
Panah cahaya itu melesat, menembus tepat di tengah inti portal. Cahaya yang dihasilkan begitu kuat hingga menerangi seluruh ruangan bawah tanah seolah-olah matahari telah jatuh ke sana. Monster itu menjerit histeris sebelum akhirnya menguap menjadi debu hitam.
Sunghoon tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia melompat ke arah retakan portal yang sedang terguncang oleh energi cahaya Wonyoung. Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke pinggiran portal. "Es yang mengikat, waktu yang diam... Absolute Zero!"
Lapisan es berwarna biru tua mulai menjalar dari tangan Sunghoon, menutupi retakan ungu tersebut. Perlahan tapi pasti, suara desisan portal menghilang, digantikan oleh suara es yang membeku kuat. Retakan itu akhirnya tertutup sepenuhnya, menyisakan sebuah segel es berbentuk kristal yang indah di dinding.
Sunghoon jatuh berlutut, napasnya tersengal. Menggunakan kekuatan sebesar itu di dunia modern sangatlah menguras energi abadi mereka.
Wonyoung berjalan mendekat, cahayanya perlahan memudar kembali menjadi sosok gadis idol yang cantik. Ia menatap Sunghoon yang tampak kelelahan. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, ia melihat sisi rapuh dari sang Ice Prince.
"Kita berhasil," ucap Wonyoung pelan.
Sunghoon mendongak, menyeka keringat dingin di dahinya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan pecahan Genesis Vinyl. Ia menatap benda itu sejenak, lalu melemparkannya ke arah Wonyoung.
Wonyoung menangkapnya dengan sigap. Benda itu terasa hangat di tangannya.
"Kenapa kau memberikannya?" tanya Wonyoung heran. "Tadi kau bilang aku tidak pantas menjaganya."
Sunghoon berdiri dengan susah payah, memperbaiki jas hitamnya yang sedikit robek. "Anggap saja itu sebagai upah karena kau tidak mengacaukan rencana malam ini. Tapi ingat, Wonyoung, ini baru permulaan. Segel di Seoul ada banyak, dan apa yang kita tutup tadi hanyalah lubang kecil."
Sunghoon berjalan menuju pintu keluar, namun ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Dan satu hal lagi. Gaunmu robek di bagian belakang. Sebaiknya kau cari jaket sebelum kembali ke managermu."
Wonyoung tersentak dan segera meraba bagian belakang gaunnya. Benar saja, ada sobekan kecil akibat terkena percikan energi monster tadi. Wajahnya memerah karena malu.
"Sunghoon-ssi!" teriak Wonyoung.
"Sampai jumpa di panggung Inkigayo minggu depan, Tuan Putri," sahut Sunghoon dari kejauhan, suaranya kembali terdengar angkuh dan dingin.
Wonyoung berdiri sendirian di ruang bawah tanah yang sunyi itu, menggenggam erat pecahan Vinyl di tangannya. Ia menatap ke arah Sunghoon pergi dengan perasaan yang tidak menentu. Musuh, rival, atau rekan? Ia belum tahu pasti.
Namun satu hal yang pasti: di bawah langit Seoul tahun 2025 yang penuh kepalsuan ini, ia akhirnya menemukan satu kebenaran yang nyata. Ia tidak lagi bertarung sendirian.
Lampu neon berwarna merah dan biru dari papan reklame digital di luar gedung stadion memantul di kaca jendela koridor, menciptakan pola cahaya yang tumpang tindih seperti topeng yang menari-nari di wajah Wonyoung. Ia berdiri mematung selama beberapa detik setelah Sunghoon menghilang di balik tikungan lorong. Aroma salju yang ditinggalkan pria itu masih tertinggal di udara, kontras dengan bau mesiu dan debu monster yang baru saja mereka basmi.
Wonyoung segera teringat peringatan terakhir Sunghoon. Ia meraba bagian belakang gaun peraknya. Benar saja, kain sutra mahal itu terkoyak sekitar sepuluh sentimeter, memperlihatkan kulit punggungnya yang seputih porselen.
"Sial," umpatnya pelan. Bagi seorang idola kelas atas, robekan pada gaun saat acara penghargaan adalah bencana nasional yang akan dibahas di forum komunitas selama berminggu-minggu. Namun bagi seorang Hunter, itu adalah bukti bahwa maut baru saja lewat dalam jarak beberapa inci.
Wonyoung memejamkan mata, berkonsentrasi pada sisa energi bintang yang masih tersisa di nadinya. Ia menjentikkan jarinya, dan sebuah ilusi cahaya tipis menutupi robekan itu, membuatnya terlihat utuh di mata manusia biasa. Itu adalah teknik Glitch Mask, kemampuan untuk memanipulasi persepsi cahaya orang lain. Ia hanya punya waktu sekitar tiga puluh menit sebelum energinya benar-benar habis dan ilusi itu runtuh.
Ia berjalan cepat kembali menuju ruang tunggu IVE. Di sepanjang jalan, ia harus memasang kembali topengnya—senyum manis yang sempurna, tatapan mata yang ramah namun berjarak, dan keanggunan yang seolah tanpa cela. Itulah Masquerade yang sebenarnya di tahun 2025. Bukan topeng pesta dansa era Joseon, melainkan citra digital yang harus dijaga setiap detik di depan ribuan lensa kamera.
"Wonyoung-ah! Dari mana saja kau?" Yujin, sang leader IVE, langsung menghampirinya begitu ia masuk ke ruangan. Wajah Yujin tampak cemas. "Manager mencari-cari ke mana-mana. Katanya kau tiba-tiba menghilang setelah turun panggung."
Wonyoung memaksakan tawa kecil yang terdengar sangat alami. "Aku hanya butuh udara segar di balkon belakang, Unnie. Stadion ini terasa sangat pengap karena terlalu banyak orang."
Yujin menatap Wonyoung dengan tajam. Sebagai sesama anggota klan Star Enchanter yang telah diberi darah pelindung oleh Wonyoung, Yujin memiliki insting yang lebih peka daripada manusia biasa. Ia mendekat dan berbisik tepat di telinga Wonyoung.
"Kau bau es... dan bau The Void. Kau bertarung lagi?"
Wonyoung hanya memberikan anggukan kecil yang hampir tidak terlihat. "Ada retakan di basement. Tapi semuanya sudah terkendali. Sunghoon ada di sana."
Mata Yujin membelalak. "Sunghoon? Maksudmu Sunghoon ENHYPEN? Dia... dia salah satu dari kita?"
"Entahlah. Dia menyebut dirinya Shadow Vanguard. Tapi yang pasti, dia bukan manusia biasa," jawab Wonyoung sambil duduk di kursi rias, membiarkan penata rambutnya merapikan beberapa helai rambut yang berantakan.
Di sisi lain stadion, di ruang tunggu ENHYPEN, suasananya jauh lebih dingin—secara harfiah. Sunghoon duduk di sudut ruangan dengan jaket hitam yang menutupi luka sayatan kecil di bahunya. Anggota ENHYPEN lainnya sibuk mengobrol, namun Jungwon, sang pemimpin, menyadari aura dingin yang tidak biasa dari arah Sunghoon.
Jungwon menghampiri Sunghoon dan menyodorkan sebotol minuman energi berwarna merah pekat minuman yang telah dicampur dengan Essence of Void murni. "Kau terlalu banyak menggunakan kekuatanmu hari ini, Hyung. Waktu membeku lima detik itu sangat mahal harganya."
Sunghoon menerima botol itu dan meminumnya dalam sekali teguk. "Aku tidak punya pilihan. Gadis IVE itu hampir membuat kita semua tertangkap kamera."
"Wonyoung-ssi?" Jungwon mengangkat alisnya. "Jadi benar rumor yang beredar di klan kita. IVE memang berisi para penyihir cahaya. Apa dia sekuat yang diceritakan di piringan hitam?"
Sunghoon teringat bagaimana panah cahaya Wonyoung menerangi seluruh ruang bawah tanah yang gelap tadi. Cahaya yang begitu murni hingga hampir membakar matanya yang terbiasa dengan kegelapan. "Dia kuat. Tapi dia ceroboh. Dia terlalu peduli pada manusia di sekitarnya hingga melupakan keselamatannya sendiri."
"Bukankah itu alasan kenapa klan cahaya selalu menjadi pasangan klan bayangan sejak dulu?" goda Jungwon.
Sunghoon menatap Jungwon dengan tatapan membekukan. "Jangan bicara omong kosong. Masa itu sudah lewat. Sekarang, kita hanya idola yang kebetulan memegang senjata."
Acara puncak Global Disc Awards dimulai. Semua idola diminta naik ke panggung besar untuk pengumuman Grand Prize (Daesang). Ini adalah momen yang paling ditakuti sekaligus dinanti. Ribuan lampu flash kamera dari jurnalis dan penggemar menyambar dari segala arah, menciptakan efek Strobe yang menyakitkan bagi mata vampir.
Wonyoung berdiri di barisan depan bersama grupnya. Di barisan belakangnya, tepat di posisi diagonal, berdiri ENHYPEN. Wonyoung bisa merasakan kehadiran Sunghoon tanpa harus menoleh. Aroma salju itu seolah menjadi kompas bagi indranya.
"Pemenang Daesang tahun ini adalah... IVE dan ENHYPEN!"
Suara pembawa acara disambut oleh ledakan kembang api panggung yang sangat keras. Wonyoung tersenyum lebar, menyapa penggemar dengan lambaian tangan yang elegan. Namun, tepat saat asap kembang api memenuhi udara, ia melihat sesuatu yang mengerikan di layar LED raksasa di belakang mereka.
Layar itu tidak lagi menampilkan video profil mereka. Layar itu bergetar, berganti menjadi warna ungu gelap yang pekat. Sebuah pesan muncul di layar, tertulis dalam aksara kuno yang hanya bisa dibaca oleh para Hunter :
"THE GENESIS VINYL IS BREATHING. THE ENDING FAIRY WILL BE YOUR LAST."
Jantung Wonyoung mencelos. Ia melirik ke arah Sunghoon. Pria itu juga sedang menatap layar dengan wajah tegang. Ternyata The Void tidak hanya menyerang secara fisik, tapi mereka mulai meretas teknologi manusia untuk memberikan teror mental.
Tiba-tiba, lampu stadion berkedip-kedip tak beraturan. Kekuatan ilusi Glitch Mask di punggung Wonyoung mulai melemah karena ia terlalu banyak menggunakan energi untuk menahan rasa sakit di kepalanya akibat pesan rahasia itu.
"Ah," desis Wonyoung pelan. Ia merasa kain ilusi di punggungnya mulai retak.
Dalam hitungan detik, ilusi itu akan hilang, dan robekan besar di gaunnya akan terlihat oleh jutaan penonton di seluruh dunia yang sedang menonton siaran langsung. Di tahun 2025, hal sekecil itu sudah cukup untuk menghancurkan reputasi "sempurna" yang ia bangun.
Namun, sebelum itu terjadi, sebuah jas hitam panjang tiba-tiba tersampir di pundaknya.
Wonyoung menoleh dengan terkejut. Sunghoon berdiri di belakangnya, sedang menyesuaikan letak jas itu agar menutupi seluruh punggung Wonyoung. Sunghoon melakukan itu dengan gerakan yang sangat natural, seolah ia hanya seorang idola pria yang bersikap sopan kepada rekan wanitanya karena cuaca yang "dingin".
"Apa yang kau lakukan?" bisik Wonyoung di tengah kebisingan musik kemenangan.
"Menyelamatkan mukamu, Tuan Putri," jawab Sunghoon tanpa menatapnya. Ia tetap menatap ke arah kamera dengan wajah datar yang profesional. "Ilusimu runtuh. Jika kau tidak ingin besok pagi menjadi pembicaraan karena gaun robek atau sesuatu yang lebih buruk, pakailah jas itu."
Wonyoung terdiam. Ia bisa merasakan kehangatan yang tersisa di jas itu, bercampur dengan aroma parfum woody dan salju yang menjadi ciri khas Sunghoon. Ia segera merapatkan jas itu di tubuhnya, menutupi kecacatan gaunnya.
Di bawah lampu panggung yang menyilaukan, kamera menangkap momen tersebut. Para penggemar di stadion berteriak histeris melihat interaksi "manis" antara visual utama IVE dan ENHYPEN. Dalam beberapa menit, tagar #SunghoonWonyoung dan #SunghoonGentleman mulai meledak di Twitter (X).
Mereka tidak tahu bahwa jas itu bukan sekadar tanda kesopanan, melainkan pelindung untuk menyembunyikan sisa pertempuran berdarah di bawah tanah.
Tengah malam, sesuai kesepakatan, Wonyoung menyelinap keluar dari asramanya. Ia mengenakan tudung hitam dan masker, bergerak lincah di atas atap-atap gedung Seoul seperti bayangan yang melintasi rembulan. Ia menuju gedung agensi besar di pusat kota wilayah netral yang mereka sepakati.
Di atas atap gedung yang berlantai tiga puluh itu, Sunghoon sudah menunggu. Ia berdiri di tepi gedung, menatap hamparan lampu kota Seoul yang tak pernah padam.
"Kau terlambat tiga menit," ucap Sunghoon tanpa menoleh.
"Aku harus melewati tiga gerombolan Sasaeng (fans fanatik) yang berkemah di depan asramaku," jawab Wonyoung sambil melepas maskernya. Ia mengeluarkan pecahan Genesis Vinyl yang ia dapatkan tadi. "Benda ini... dia bergetar saat kau memakaikan jasmu tadi."
Sunghoon berbalik, mengeluarkan pecahannya sendiri. Kedua pecahan itu mulai bersinar secara sinkron, menciptakan melodi frekuensi rendah yang menenangkan sekaligus mengerikan.
"Vinyl ini adalah jantung dari dunia kita, Wonyoung. Dulu kita menggunakannya untuk menyegel gerbang. Sekarang, ia digunakan oleh seseorang untuk menarik kita ke dalam perang yang sama sekali baru," ucap Sunghoon serius.
"Maksudmu... ada orang lain yang memiliki pecahan lainnya?" tanya Wonyoung.
"Ada tiga belas pecahan secara total. Sama dengan jumlah anggota grup kita jika digabungkan," Sunghoon menatap mata Wonyoung dalam-dalam. "Ini bukan kebetulan. Agensi kita, kontrak kita, bahkan debut kita di tahun yang hampir bersamaan... seseorang telah merencanakan ini sejak lama."
Wonyoung merasakan bulu kuduknya meremang. "Siapa?"
"Aku tidak tahu. Tapi malam ini, di stadion tadi, aku merasakan energi yang sangat kuat dari arah kursi eksekutif. Bukan energi monster, tapi energi Hunter yang telah membusuk."
Tiba-tiba, dari arah kegelapan pintu atap, terdengar suara tepuk tangan pelan.
"Luar biasa. Aku tidak menyangka klan Star dan klan Shadow bisa bertemu secepat ini tanpa bantuan dariku."
Wonyoung dan Sunghoon serentak mengeluarkan senjata mereka, busur cahaya dan pedang es mengarahkan mereka ke arah sosok yang baru muncul.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi keluar dari bayangan. Ia tersenyum ramah, namun matanya tidak menunjukkan emosi apa pun. Wonyoung mengenalnya. Dia adalah salah satu produser musik paling berpengaruh di Korea, pria yang menciptakan lagu-lagu hits yang mereka nyanyikan.
"Kau..." desis Wonyoung. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku hanya ingin memastikan bahwa aset berhargaku tetap aman," ucap sang produser. Ia melirik piringan hitam di tangan mereka. "Kalian menyebutnya The Genesis Vinyl. Aku menyebutnya The Chart-Topper. Karena dengan frekuensi di dalamnya, aku bisa mengendalikan emosi seluruh dunia melalui musik kalian."
Sunghoon menerjang maju dengan pedang esnya, namun pria itu menghilang seperti kabut asap dan muncul kembali di sisi lain atap.
"Jangan terburu-buru, Sunghoon-ssi. Kita masih punya 197 bab lagi untuk saling membenci," ucap pria itu dengan nada mengejek. "Untuk sekarang, fokuslah pada misi kalian. Monster yang lebih besar akan muncul di konser kalian minggu depan. Jika kalian gagal, bukan hanya karier kalian yang hancur, tapi seluruh jiwa fans kalian akan menjadi milikku."
Pria itu menghilang sepenuhnya, menyisakan tawa yang bergema di udara malam.
Wonyoung dan Sunghoon berdiri terpaku. Musuh mereka bukan lagi monster tanpa otak, melainkan orang yang selama ini memegang kendali atas hidup mereka sebagai idola.
"Ini baru permulaan, bukan?" tanya Wonyoung, suaranya terdengar letih.
Sunghoon menyarungkan pedangnya, menatap Wonyoung dengan tatapan yang sedikit lebih lunak dari biasanya. "Pakailah jas itu untuk pulang. Udara malam ini akan menjadi sangat dingin."
Wonyoung menatap jas hitam yang masih tersampir di pundaknya. Ia baru menyadari bahwa di balik topeng neon yang mereka kenakan, ada beban yang jauh lebih berat dari keabadian itu sendiri. Mereka adalah idola, mereka adalah hunter, dan sekarang, mereka adalah bidak dalam permainan yang jauh lebih besar.
Malam itu, di bawah langit Seoul yang penuh kepalsuan, topeng mereka tidak lagi terasa asing. Mereka tahu, untuk bertahan hidup, mereka harus menjadi aktor yang lebih hebat dari siapa pun.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!