Indonesia
NovelToon NovelToon

Rumah Yang Tak Lagi Utuh

Bagian Satu

Aurel yang sedang menyiapkan makan malam untuk menyambut kedatangan suaminya tersentak karena tiba-tiba gelas yang sedang ia bawa jatuh dan pecah menjadi serpihan-serpihan kecil di lantai.

"Astaghfirullah, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba perasaan aku gak enak?" lirih Aurel sembari mengambil satu pecahan gelas yang paling besar diantara serpihan-serpihan lainnya.

Aurel mengambil sapu, lalu mengumpulkannya menjadi satu ke dalam sebuah pengki, Aurel juga tidak lupa untuk membuangnya ke dalam plastik agar tidak kembali berserak dan melukai orang lain yang mengambil sampah di halaman rumahnya setiap pagi.

Aurel kembali tersentak ketika mendengar suara pintu terbuka dan terdengar suara salam dari arah ruang tamu, Aurel menjawab salamnya dengan sedikit berteriak agar terdengar oleh suaminya, ia tahu itu suaminya, oleh karena itu ia segera berlari kecil untuk menyambut suaminya yang baru pulang dari luar kota, ia sudah sangat merindukannya karena selama sebulan ini, mereka hanya bertukar pesan lewat telpon dan chat.

"Mas," sambut Aurel dengan senyum lebarnya, ia hendak mengalami suaminya tapi seorang wanita yang muncul di dari belakang suaminya membuat Aurel menghentikan gerakannya, Aurel menatap heran wanita berkerudung pink yang menatap canggung dirinya.

Siapa wanita berkerudung pink itu? Apakah itu salah satu rekan kerja suaminya? Atau mungkin salah satu karyawan di kantor suaminya? Pertanyaan-pertanyaan bingung mulai menumpuk di kepala Aurel membuat ia tidak tahan untuk tidak bertanya langsung.

"Siapa, Mas?" tanya Aurel berusaha untuk bertanya sesopan mungkin agar wanita itu tidak merasa terintimidasi olehnya.

Erven, sang suami langsung tersenyum dan menoleh kepada wanita yang berdiri di sebelahnya.

"Boleh kita duduk dulu, setelah ini Mas akan menjelaskan kepadamu?" izin Erven dengan suara lembutnya yang khas.

"Oh, boleh, Ayok!" ajak Aurel kepada wanita yang hanya diam sambil menundukkan kepalanya itu, wanita itu mengangguk lalu mengikuti langkah Erven yang berjalan lebih dulu dari Aurel.

Melihat itu, tentu saja Aurel merasa kebingungan, mengapa wanita itu malah membuntuti suaminya? apakah Aurel semenyeramkan itu sampai membuat wanita itu tidak mau berjalan di sampingnya, lebih heran lagi ketika suaminya duduk, wanita itu malah ikut duduk di sofa yang sama dengan suaminya, dan hanya menjaga jarak sekitar beberapa senti saja.

"Jadi apa, Mas?" tanya Aurel berusaha biasa saja walaupun hatinya mulai merasa tidak nyaman dengan pemandangan di depannya, bagaimana pun Aurel harus tetap menjaga sikapnya sebagai istri dari atasan wanita itu.

Erven terdengar menghela nafas kecil sebelum menggenggam kedua tangan Aurel di depannya, mereka hanya terhalang kursi kaca panjang yang memanjang, jadi Erven masih bisa meraih kedua tangan istrinya.

"Mas, gak enak loh sama karyawan kamu," ucap Aurel kecil, bukannya ia menolak sikap romantis suaminya, ia hanya ingin menjaga sikapnya di hadapan karyawan Erven, takutnya wanita itu merasa tidak nyaman bertamu di rumahnya.

"Namanya Jihan, dia bukan karyawan mas," balas Erven membuat Aurel mengerutkan dahinya tidak paham, kalau bukan karyawannya, lalu siapa?

"Mas sengaja bawa dia ke sini untuk ketemu kamu," sejenak Erven memejamkan matanya sembari menghela napas kecil, lalu kembali terbuka menatap kedua mata Aurel dalam, "Aurel sayang, Mas izin untuk menikahi Jihan," ucap Erven dengan sakali tarikan napas.

Tubuh Aurel menegang, apa katanya? Izin menikahi Jihan? Kenapa? banyak pikiran-pikiran buruk yang bermunculan di kepala Aurel, tapi tidak satu pun keluar dari kedua bibirnya.

"Aurel," panggil Erven karena istrinya yang hanya diam saja menatap dirinya tapi pandangannya kosong.

"Maksudnya apa ini?" tanya Aurel langsung melepaskan kedua tangannya dari genggaman Erven.

"Jihan baru saja mengalami pelecehan seksual di kantor mas sendiri, mas harus tanggung jawab atas perbuatan salah satu karyawan mas di kantor cabang, jad... "

"Kenapa tidak pria yang melakukannya saja yang bertanggung jawab? Kenapa harus kamu, mas?" tanya Aurel menyela ucapan suaminya.

Erven menghela napasnya lagi, lalu melirik Jihan yang hanya menunduk di sebelahnya sebelum ia kembali menatap istrinya.

"Tidak bisa, dia langsung meninggal di tempat begitu karyawan mas yang lain memergokinya, di sana karyawan mas menghajarnya habis-habisan, karena mereka kepalang emosi dengan perbuatannya," ujar Ervan.

"Masih banyak laki-laki di luar sana mas, mas tidak perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak mas perbuat," beritahu Aurel membuat Erven menggeleng tidak setuju.

"Tidak bisa, Tidak ada satu pun dari mereka yang mau menikahi Jihan, mas menjadi pilihan terakhir, oleh karena itu mas menikahinya semata-mata untuk menolongnya,"

"Aku tidak mau, mas, aku tidak mau dimadu, aku tidak ingin memiliki madu," tolak Aurel memundurkan duduknya dan memalingkan wajahnya dari Erven yang menatap melas kepadanya.

Aurel terkejut ketika ia merasakan seseorang memeluk kakinya, ia menundukkan pandangannya dan mendapati Erven yang menangis sembari memeluk kedua kakinya.

"Mas mohon Aurel, izinkan mas untuk menikahi Jihan, jika mas tidak menikahinya, rasa bersalah itu akan terus menggerogoti diri maa sendiri, Jihan mengalami pelecehan di kantor milik mas, dan itu artinya mas harus tanggung jawab karena laki-laki yang seharusnya tanggung jawab sudah tiada," bisik Erven dengan suara yang sangat lirih bahkan hampir tidak terdengar oleh Aurel, jika saja Aurel tidak menundukkan wajahnya lebih dalam lagi.

"Mas janji tidak akan mencintai Jihan, niat mas hanya untuk menolongnya dan tanggung jawab atas apa yang karyawan mas perbuat,"

Bianca mendongakkan wajahnya, mencegah air matanya agar tidak semena-mena turun ke pipinya, ia hanya tidak ingin terlihat sangat menyedihkan di hadapan wanita yang ingin suaminya nikahi.

Sungguh, tidak pernah terlintas dalam benak Aurel jika ia akan di madu oleh suaminya, suaminya yang ia percaya bisa menjaga hatinya sampai maut memisahkan mereka, suaminya yang ia percaya hanya akan menjadikan dirinya seorang ratu dalam kehidupan suaminya, suaminya yang mencintai dirinya, suaminya yang rela kelelahan hanya karena bisa membuatkan makanan kesukaan dirinya selepas ia pulang kerja.

Tapi hari ini, semuanya itu hancur, tidak ada lagi Erven yang akan mengatakan jika dirinya hanya satu-satunya di hati dan juga hidupnya, karena kini, Ervan rela berlutut dan memohon di kakinya hanya karena meminta izin untuk menikahi wanita lain.

istri normal mana yang rela jika suaminya menikah lagi? istri normal mana yang akan mengizinkan suaminya memadu dirinya, tidak ada yang mau, semua wanita tidak ada yang mau di madu.

"Mas janji, Aurel, Mas janji hanya menikahinya dengan niat menolong, mas tidak sedikitpun menaruh perasaan kepada Jihan," mohon suaminya lagi.

Lihatlah, bahkan Erven menangis untuk wanita lain, bohong jika nanti suaminya tidak akan jatuh cinta kepada Jihan, karena suatu saat nanti suaminya akan diam-diam mencintai Jihan.

_________________________________________

Gimanaa guys menurut kalian, Erven ini udah bener belum, masa keukeuh pengen tanggung jawab sama yang bukan kesalahan diaaa...

Menurut kalian gimana ini ceritanya

Seru atau anehh guyss

Komen yaaaa

jangan lupa juga tinggalin jejak kalian disini

Thankyou 😘

Bagian Dua

Seharian ini, Aurel sengaja tidak pulang ke rumah, ia lebih memilih mengenal di hotel untuk menenangkan hati juga pikirannya, moodnya sangat berantakan, bahkan gairah untuk melanjutkan lagi novelnya yang belum selesai tertunda, ia tidak bisa berpikiran, dan akhirnya ia lebih memilih mengistirahatkan diri di sebuah hotel yang terletak tidak jauh dari kantor suaminya, ia bahkan berniat untuk menginap jika saja suaminya tidak menelpon terus menerus bahkan mengirimkan pesan begitu banyak kepadanya.

Dengan wajah sedikit kusut, Aurel melangkah ke arah kamar mandi, ia berniat untuk mencuci wajah dulu sebelum ia turun ke bawah karena suaminya baru saja mengabari jika dirinya sudah ada di parkiran.

Setelah wajahnya sedikit segar, Aurel memoles wajahnya dengan foundation yang memang selalu ia bawa jika bepergian.

Suara deringan dari ponsel Aurel membuat ia menghentikan tangannya yang masih berkutat dengan wajahnya, ia langsung mengangkat telpon dari suaminya.

"Mas ke atas ya," terdengar suara serak dari sebrang telpon, Aurel mengerutkan dahinya heran, padahal telpon pertama yang ia angkat saat ia masih rebahan di atas ranjang suaranya masih segar, tidak bergetar seperti saat sekarang.

"Kenapa suaranya seperti itu?" tanya Aurel penasaran, apakah suaminya sedang sakit?

"Tidak apa-apa, kamu cepat turun ya, tapi gak usah buru-buru, mas tungguin sampe kamu datang," pesannya lirih.

Aurel semakin penasaran, ia langsung memakai hijabnya dan merapihkan semua barang-barang miliknya ke dalam tas, setelah itu, ia langsung berlari ke luar kamar, hatinya sedikit sakit saat tahu jika sikap dirinya sangat keterlaluan sampai membuat suaminya kepikiran dan berakhir sakit.

Aurel menghitung setiap detik ketika lift membawanya turun, ia sudah sangat gelisah memikirkan nasib suaminya yang pasti sedang sakit memikirkan dirinya yang tiba-tiba menghilang dari tadi pagi, bahkan tidak memberi kabar apapun sampai tadi sore, untungnya, Aurel langsung membuka ponselnya ketika waktu hampir malam, dan disitulah ia melihat banyak panggilan tidak terjawab dan pesan dari suaminya.

Aurel mencari-cari keberadaan mobil suaminya, melihat keberadaan mobil berwarna hitam dengan plat milik suaminya, Aurel mempercepat langkahnya dan langsung membuka pintu mobil yang tidak terkunci.

"Mas," panggil Aurel melihat suaminya yang memejamkan matanya dengan kepala bersandar pada sandaran kursi mobil.

Mendengar suara istrinya, Erven langsung terbangun dan menoleh, "mau langsung pulang atau mau makan di luar dulu?" tanya Erven disertai dengan senyumnya.

Aurel diam, matanya lekat memperhatikan wajah suaminya yang memerah, juga matanya yang sayu, ia mencondongkan tubuhnya dan menaruh punggung tangannya di dahi suaminya.

Aurel begitu terkejut ketika ia merasakan dahi suaminya yang panas, dengan panik, ia juga mengecek bagian lehernya, dan panasnya melebihi suhu tubuh di atas 38° derajat.

"Mas demamnya tinggi banget, kita ke rumah sakit ya," ajak Aurel yang langsung mendapat gelengan kepala dari Erven.

"Langsung pulang aja, Mas mau diurus sama kamu," balasnya.

"Oke, kita tukeran tempat duduk ya,"

Lalu tanpa persetujuan Erven, Aurel kembali turun dan membuka pintu sebelah Erven, melepaskan seatbelt dari tubuh suaminya, lalu memapahnya untuk duduk di bangku sebelah pengemudi.

"Tahan sebentar ya, Mas," lirih Aurel langsung menutup pintu sedangkan ia sedikit berlari dan masuk ke dalam mobil. saking paniknya ia sampai lupa memasangkan seatbelt ke tubuhnya sendiri.

"Pasang dulu seatbeltnya!" perintah Ervan membuat Aurel mengerem mobilnya dan memasangkan cepat seatbelt ke tubuhnya.

Ervan ingin memberitahunya jika mereka tidak perlu terburu-buru mengendai mobil agar cepat sampai rumah, tapi ia sudah tidak ada tenaga untuk berbicara, hanya bisa memejamkan matanya menahan rasa sakit kepala yang semakin menjadi-jadi.

***

Aurel menatap cemas suaminya yang masih tertidur pulas di atas ranjang, semalaman Aurel rela tidak tidur demi menjaga pria kesayangannya, padahal kemarin-kemarin suaminya masih sangat sehat bahkan saat pulang dari luar kota, tapi hati ini, imun suaminya menurun sangat drastis, Aurel jadi tidak tega untuk mendiamkan suaminya lebih lama lagi, biarlah ia menekan perasannya, yang penting suaminya kembali sehat.

Aurel sudah sangat hapal semua yang ada pada suaminya, Erven akan mudah sakit jika terlalu banyak berpikir, bahkan ketika awal-awal Erven menjabat sebagai CEO di perusahaan milik ayahnya, ia sering kali demam karena berpikir terlalu keras, katakan saja Erven pria lemah, tapi memang begitulah kenyataannya.

Tidak ada manusia sempurna di dunia ini, yang ada hanya kita yang mencoba menyempurnakan kekurangan yang alasan pada pasangan kita, sekalipun berkeliling dunia, tidak akan pernah ada manusia yang benar-benar sempurna, mereka kaya, mereka memiliki kekuasaan, mereka digandrungi gadis-gadis cantik, tapi ternyata dia orang yang mudah sakit jika terlalu banyak pikiran.

Aurel tidak pernah sekalipun menuntut Erven menjadi pria seperti yang ia inginkan, karena Aurel selalu menyukai cara Erven mencintai dirinya, karena Aurel selalu menyukai cara Erven memperlakukan dirinya, apapun yang ada pada diri Erven, Aurel selalu menyukainya.

Itulah mengapa ia merasa dunianya hancur ketika Ervan mengatakan ingin menikahi wanita korban pelecehan karyawan di perusahaannya.

"Kenapa nangis?"

Karena terlalu larut dalam pikirannya, Aurel sampai tidak sadar jika suaminya sudah bangun dan melihatnya menangis, cepat-cepat Aurel menghapus air matanya dan tersenyum lembut kepada pria yang sangat ia cintai sepenuh hatinya.

"Tidak apa-apa, Mas masih pusing gak?"

Erven menggeleng, "lebih baik dari semalam," balas Erven.

Aurel diam, ia hanya tersenyum, tidak tahu ingin membahas apa dengan suaminya, semuanya seakan langsung menghilang begitu ia menatap mata suaminya yang selalu memandang teduh dirinya, dan Beberapa hari lagi, bukan hanya dirinya saja yang mendapatkan tatapan lembut itu, tapi juga Jihan, istri keduanya.

Mengingat itu, dada Aurel kembali sesak, ia tekankan sekali lagi, jika dirinya tidak pernah menyangka akan dimadu oleh Erven, mereka sudah menikah hampir tiga tahun, tapi tidak pernah sekalipun Erven menyakiti hatinya, Aurel pun semakin percaya jika Ervan tidak mungkin punya pikiran untuk menikah lagi sekalipun mereka tidak memiliki anak, karena semanis itu cara Ervan mencintai dan memperlakukan dirinya.

"Berapa hari lagi, Mas?" tanya Aurel.

Erven mengernyitkan dahinya bingung, "apanya?"

"Pernikahanmu dan Jihan,"

Erven diam, ingin menjawab tapi takut ia melukai lebih dalam perasaan istrinya, tapi mengatakan atau tidak, Aurel pasti tetap terluka dengan pilihannya untuk menolong Jihan dengan cara menikahinya.

Ia pun sebenarnya tidak ingin memiliki istri kedua, tapi keadaan yang memaksanya untuk kembali menikah dengan gadis yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.

Ervan tahu, sejak dua hari yang lalu, semuanya tidak akan sama lagi, ia tidak akan lagi mendapatkan semua yang sering ia dapatkan sebelum ia pergi ke luar kota untuk mengurus cabang perusahaan.

'maafkan Mas, Aurel,' ucap Erven dalam hati.

_________________________________________

Erven tuh tipe-tipe cowok soft spoken tapi kalo sekalinya nyakitin ya begini, bawa-bawa agama, nikahin alasannya mah, halaah biaya darat ini mah.

Ada yang setuju ga kalau Erven nikahin Jihan guyss, bagus sih nolong, tapi emang harus nikahin yaaa? 🤔

jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan komen yaa guyss, biar aku tambah semangat lanjut nulisnyaa.

Bagian tiga

Setelah Erven sembuh dari demamnya tiga hari yang lalu, hari ini, Erven kangsung mengadakan akad pernikahan di salah satu masjid di dekat rumahnya, ia mengliburkan semua karyawan di kantornya dan mengundang semuanya untuk datang ke akad nikah dirinya dan Jihan.

Banyak karyawan yang terang-tetangan menatap atasannya aneh, karena mereka sudah sangat kenal dengan istri dari Erven, laku mengapa ia memilih untuk menikah dan memiliki istri kedua, padahal jelas-jelas semua yang ada di dalam diri Aurel tidak mungkin dimiliki oleh wanita manapun termasuk Jihan.

Tapi ada juga yang menatapnya dengan tatapan memuja, atau lebih tepatnya memuja bagaimana eloknya rupa seorang wanita yang Erven nikahi, tidak ada yang menyangkalnya bagaimana cantiknya Jihan, setiap karyawan wanita di sana terpesona dengan wajah milik Jihan.

"Kenapa nikah lagi ya? Padahal Bu Aurel udah sempurna banget, cantik iya, anggun iya, sopan iya, lembut iya, pintar iya, udah gitu wanita karir lagi," bisik seorang wanita yang duduk tepat di depan Aurel.

"Udahlah, kita tidak perlu penasaran terlalu jauh, mungkin Pak Arven menikah lagi juga ada alasannya, lagian pengantinnya cantik kok," balas temannya yang lain.

"Bukan gitu loh, Bu Aurel tipe orang yang keliatan banget tidak suka dimadu, kok ini mau ya dimadu?"

"Hush, kamu jangan sok tahu, kita kan tidak tahu kebenarannya aslinya,"

"Iya juga sih, tapi benaran loh, pengantinnya cantik, mukanya itu adem banget kalau dilihat, kita yang yang berjenis kelaminnya sama aja masih terpesona, bagaimana laki-laki,"

"Bu Aurel kalah ini mah,"

"Jangan gitu, aku mah malah lebih suka sama bu Aurel, auranya kuat banget,"

Aurel berusaha untuk mengabaikan dua wanita di depannya yang membicarakan dirinya dan juga Jihan, ia tidak ingin perasannya yang sedang tidak baik-baik saja membuat ia terpancing emosi.

Aurel menekan perasannya begitu mendengar kata 'sah' bergema di dalam masjid, satu tetes air mata jatuh ke pipinya, cepat-cepat Aurel menghapusnya sebelum ada seseorang yang melihatnya, karena bagaimana pun, ia tetap harus terlihat kuat.

Tidak pernah sekali pun, Aurel mendongakkan kepalanya hanya untuk melihat sumber lukanya ke depan, ia tidak ingin menangis di hari sakral suaminya, oleh karena itu ia memilih untuk terus menunduk agar pertahanan yang ia bangun tidak runtuh.

Dua jam terasa dua hari untuk Aurel, setelah acara akad selesai, ia langsung keluar dari dalam masjid tanpa ingin terlihat oleh siapapun, sungguh dadanya sudah sangat sakit, ia tidak kuat lagi untuk terus ada di dalam masjid, ia tidak sekuat itu.

"Bu Aurel,"

Aurel memejamkan matanya begitu ia merasa seseorang menyebut namanya, ia ingin langsung lari tapi orang yang memanggilnya itu malah menghampirinya dan menyentuh bahu Aurel.

Aurel segera menghapus air matanya agar wanita yang tadi memanggilnya tidak melihat ia menangis, tapi telat, wanita itu sudah lebih dulu melihatnya.

"Bu," panggilnya lagi.

Dilihat dari bagaimana wanita itu memanggilnya dirinya dengan embel-embel 'bu' kemungkinan besar wanita itu salah satu karyawan di kantor suaminya.

"Oh, Rere,"

Aurel dan Rere langsung cipika-cipiki karena mereka memang sudah sekitar sebulan tidak bertemu.

"Ibu kemana aja, kenapa enggak ke kantor?" tanya Rere mengajak istri dari atasannya untuk duduk di kursi yang ada di dekat pintu masjid.

"Masa mas Erven gak ada di kantor aku ke kantor, mau ngapain?" kekeh Aurel membuat Rere ikut tertawa.

"Aku kaget banget loh, tiba-tiba Pak Erven ngeliburin kita semua terus ngasih undangan untuk kita untuk datang ke pernikahannya," cerita Rere membuat Aurel hanya tersenyum kecil, ia juga tidak tahu harus seperti apa menanggapi cerita Rere, teman dekatnya di kantor suaminya.

"Teman-teman di kantor juga langsung heboh begitu mereka dapat undangan dari Pak Erven, apalagi di kertas undangan itu tertulis nama Jihan, semakin kaget mereka semua," lanjut Rere menceritakan bagaimana heboh dan terkejutnya teman di kantornya begitu mereka mendapatkan undangan pernikahan Erven dan Jihan.

"Kamu kenal Jihan?" tanya Aurel.

Rere mengangguk, "Kenal banget malah, Jihan tuh dulu kerja di kantor utama bareng sama aku, sekitar satu tahun Jihan di sana, dia dipindahkan ke kantor cabang, makanya kita kaget ternyata Pak Erven menikah lagi sama Jihan," jawab Rere masih menggebu-gebu, tidak melihat perubahan wajah Aurel yang menjadi sangat sendu.

"Aku kok tidak pernah lihat Jihan di kantor, ya?" tanya Aurel merasa heran karena ia setiap kali ke kantor untuk mengantarkan makanan siang untuk suaminya, selalu saja ia mengunjungi Rere di dalam ruangannya, tapi tidak pernah sekali pun Aurel melihat Jihan di ruangan yang sama dengan Rere.

"Jihan tuh memang satu divisi sama aku, tapi dia kerjanya di ruangan khusus, dia tuh bukan atasan tapi memang dapet fasilitas lengkap dari kantor, karena memang kerja Jihan yang bagus banget, bahkan pernah kita mendapatkan keuntungan sampai miliaran dalam kurun waktu dua bulan, dan itu memang berkat Jihan yang pintar dalam hal marketing," cerita Rere semakin membuat Aurel sedih.

Dari cerita Rere, Aurel tahu jika Jihan bukan wanita yang tidak bisa apa-apa dan membutuhkan bantuan, tapi Jihan adalah sosok wanita pintar tapi tidak bisa menolong dirinya sendiri.

"Rere,"

Rere yang di panggil tapi Aurel yang menoleh, tapi sungguh, Aurel menyesal karena reflek menoleh, karena matanya kini melihat suaminya dan Jihan yang sedang berjalan menuruni tangga dengan tangan yang saling menggenggam.

"Re, aku keluar dulu ya, mau cari angin," izin Aurel, lalu tanpa menunggu balasan dari Rere, Aurel langsung melangkah keluar dari dalam masjid.

Dada Aurel semakin sesak, ia tidak menyangka jika ternyata Jihan sudah lama bekerja di kantor suaminya, yang artinya kemungkinan besar mereka sudah saling mengenal sebelum kejadian Jihan yang dilecehkan oleh teman kantornya sendiri.

Aurel memasuki mobilnya yang ia parkirkan di samping masjid, ia akan langsung pulang ke rumahnya dan mengistirahatkan dirinya di kamar, Aurel tidak bermaksud apa-apa, ia hanya ingin mencoba berdamai dengan takdirnya, ia tidak ingin rasa sakit di hatinya malah menghancurkan dirinya sendiri.

"Aku tidak seharusnya mengizinkanmu untuk menikah lagi, Mas," isak Aurel memukul stir mobilnya.

Aurel hanya takut, rasa sakit di hatinya membuat dirinya menjadi seorang istri yang tidak lagi taat kepada suaminya, ia tidak pernah ingin menjadi orang jahat di kehidupan orang lain, tapi ia juga tidak mampu untuk menjadi orang baik dikehidupan Jihan, Aurel takut jika nanti sikapnya malah akan membuat Jihan terluka, karena sejujurnya Aurel masih tidak ridho atas pernikahan suaminya dan Jihan.

_________________________________________

Rere ternyata udah kenal sama Jihan guys, takut banget kalo Rere malah jadi deket sama Jihan ketimbang Aurel.

Seperti biasa jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini dengan komen kalian guys

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!