"Kak, kamu kenapa sih? Sebentar lagi kita akan menikah, tapi kamu dari kemarin selalu cuek dan nggak mau ikut mengurus pernikahan kita. Aku juga sudah memakai tabungan aku sendiri untuk biaya pernikahan ini, setidaknya bantuin aku kek. Aku juga capek kak. Aku juga capek karena harus bolak-balik kesana kemari setelah pulang kerja, tapi aku coba nikmati karena ini adalah mimpi kita dari lama. Tapi kamu kenapa jadi seperti ini sih kak? Kenapa kamu seakan-akan enggan untuk mengurus pernikahan kita? Apa kakak sedang ada masalah? Kalau iya, cerita sama aku." Kata Perlita saat bertemu dengan calon suaminya yaitu Vito.
Perlita dan Vito sudah berpacaran cukup lama. Mereka berpacaran sedari Perlita duduk di bangku SMA, sedangkan Vito adalah teman Ariana.
Ya, semua biaya pernikahan memang di keluarkan oleh Perlita, dan itu adalah uang yang dia tabung selama lima tahun. Sedangkan Vito tidak ikut mengeluarkan uang karena pria itu ingin menggunakan uangnya untuk membeli rumah. Tadinya Perlita tidak setuju memakai uangnya sendiri, tapi Vito memaksa, jadinya Perlita terpaksa memberikannya. Sebenarnya Vito berasal dari keluarga yang cukup mampu, tapi dia tidak mau di bantu oleh keluarganya.
Vito tidak membalas perkataan Perlita, pria itu terus memilih diam, lalu kemudian pergi begitu saja saat Perlita menunggu jawaban yang menguras emosinya.
Tapi tanpa Vito sadari ponselnya justru tertinggal. Deringan telepon langsung mengangetkan Perlita yang tadinya melamun. Terpampang nama Ariana di layar ponselnya.
Perlita pun membaca nama yang tertera di layar ponsel milik Vito. Ketika dia akan menjawab panggilan telepon itu, tiba-tiba Vito datang dan langsung merebut secara paksa ponsel itu.
"Mau ngapain kamu dengan ponselku? Jangan macem-macem yah!! Kita juga belum menikah, jadi jangan seenaknya membuka ponsel orang lain," ucap Vito marah-marah.
Vito yang ingin segera pergi dicekal oleh Perlita dengan cekalan yang cukup kencang.
"Sebentar kak, kenapa kak Ariana menghubungimu? Apa kamu sering berkomunikasi dengan kak Ariana?" tanya Perlita dengan raut wajah yang terlihat sangat serius.
Vito melepaskan tangannya dari cekalan Perlita, dia menatap Perlita dengan kemarahan yang berkobar.
"Lancang kamu Perlita, kamu telah mengganggu privasiku padahal aku nggak suka itu," ujar Vito dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu marah sih kak? Padahal aku juga belum menjawab panggilan telepon itu. Kamu ini aneh banget tahu nggak," teriak Perlita terlihat emosi. Bagaimana dia tidak emosi, semuanya dia urus sendiri, sedangkan Vito kerjaannya marah-marah terus.
Teriakan Perlita membuat beberapa orang yang sedang menikmati makanannya melihat ke arah keduanya, tiba-tiba Vito menyeret Perlita dari restoran itu.
Di lobby sebuah mall perbelanjaan mereka kembali berdebat dengan sama-sama emosi.
"Ingat yah Perlita!! Bukankah sudah berkali-kali aku katakan, jangan terlalu ikut campur dengan apa yang aku lakukan, karena kita belum menikah dan aku juga nggak suka itu, kalau kamu terus cerewet seperti ini, maka aku bisa saja membatalkan pernikahan kita."
Perlita menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang keluar dari mulut calon suaminya, dia tak menyangka bahwa pernikahan yang tinggal dua minggu lagi, tapi Vito tetap menganggap Perlita sebagai orang yang tidak berhak tau mengenai kehidupan pribadi calon suaminya, dan yang lebih menyedihkan adalah ancaman pembatalan pernikahan. Padahal semuanya sudah di depan mata dengan persiapan yang hampir 95%.
Perlita akhirnya mengalah, dia pergi begitu saja dan pergi dengan sepeda motornya. Tapi di dalam pikirannya terus memikirkan kakaknya yang menghubungi calon suaminya.
Sedangkan di sebuah apartement, Ariana dikejutkan dengan gedoran pintu yang begitu kencang. Ariana berlari dan membuka secara perlahan pintu apartemennya.
Terlihat Vito dengan wajah datar sekaligus dingin. Ariana mempersilahkan Vito masuk dan mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu dengan berhadap-hadapan. Sebenarnya apartement ini adalah milik keluarga Vito, tapi Vito dan Ariana sering menggunakan apartement ini untuk berbuat mesum.
Ariana yang sedikit senang akhirnya berbicara apa yang menjadi keresahan hati dan pikirannya akhir-akhir ini.
"Sayang, aku belum datang bulan. Kalau aku hamil gimana? Apalagi kita sering melakukannya tanpa pengaman. Kamu mau bertanggung jawab kan kalau aku hamil?" tanya Ariana dengan santainya.
Vito seketika menatap Ariana dengan tajam.
"Kamu tadi menghubungiku karena ingin mengatakan ini?" tanya Vito dengan raut wajah serius.
"Iya sayang. Tadi aku menghubungi karena ingin memberitahumu kalau aku belum datang bulan, tapi kamu malah nggak menjawab telepon dariku. Padahal aku takut banget. Aku takut hamil," jawab Ariana tanpa rasa bersalah.
Seketika Vito berdiri, dia mendekati Ariana yang terlihat ketakutan.
"Kenapa? Apa aku salah ngomong?"
Vito kembali menjauh dan duduk bersila dengan santainya.
"Sebaiknya gugurkan kandunganmu itu jika kamu memang hamil. Aku akan menikah dengan adikmu, jadi nggak mungkin aku bertanggung jawab dengan anak itu. Lagian kita juga sudah sepakat bahwa hubungan kita hanya kesenangan semata. Jadi kalau sampai hamil yah itu risiko kamu sendiri."
Ariana yang mendengarnya langsung marah, dia tidak terima bahwa dia yang harus menanggung sendiri, padahal Vito juga turut menikmati hubungan mereka.
"Nggak Vit, aku nggak mau menggugurkan anak ini. Lagian aku dari dulu sangat mencintaimu. Tapi kamu malah memilih Perlita. Anak ini akan hidup walaupun kamu akan menikah sekalipun, tapi satu hal yang harus kamu tahu, keluargaku dan juga adikku berhak tahu semua ini. Kita lihat akankah dia tetap akan menikah sama kamu atau membatalkan pernikahannya? Kamu juga nanti akan melihat reaksi keluarga kita kalau mereka tahu semua ini."
"Jangan gila Riana! Aku mencintai Perlita. Apa kamu tidak kasihan pada adik kamu? Aku akan sangat marah kalau kamu sampai melakukan itu. Kalau kamu memang ingin anak itu maka baiklah kita akan besarkan secara bersama-sama, tapi aku nggak mau Perlita dan keluarga kita tahu bahwa kamu sedang hamil anakku. Karena aku nggak mau kehilangan Perlita."
"Sadarlah Vit! Masalah seperti ini tidak bisa disembunyikan. Perutku ini semakin hari akan semakin membesar. Dan keluargaku pasti akan menanyakan ini suatu saat nanti. Cobalah belajar mencintaiku Vit! Aku sangat mencintaimu. Apa kamu tidak kasihan pada calon bayi yang ada di perutku ini? Dia tidak salah apa-apa. Lagian kamu selalu merasa puas dengan pelayananku kan? Memangnya kamu bisa tanpa aku?" kata Ariana yang berusaha merayu Vito.
Vito dan Perlita memang sudah berpacaran cukup lama, tapi mereka belum pernah tidur bersama, karena Perlita selalu menolaknya. Perlita hanya mau melakukannya jika mereka sudah menikah, karena itulah Vito terpaksa melampiaskan nafsunya dengan Ariana. Dan dia sudah melakukannya bersama Ariana sekitar empat tahun lebih. Bahkan hampir setiap hari mereka bertemu hanya untuk melakukan itu.
"Mbak Perlita sangat cantik, pasti nanti calon suaminya pangling deh." Puji MUA yang merias Perlita di hari pernikahannya.
"Mbaknya yang hebat, lihatlah hasil tangan mbak sangat memukau. Saya sangat beruntung bisa di rias oleh mbak di hari spesial saya ini," kata Perlita mengulas senyum manisnya yang menambah kecantikan dirinya.
"Perl...Perli." Teriak mama Perlita memasuki kamar putrinya, dimana Perlita sedang di rias saat ini.
"Ada apa ma?" tanya Perlita yang kemudian bangkit dari duduknya ketika mamanya masuk ke dalam ruangannya dengan wajah yang sangat panik.
"Perli, kamu harus merelakan Vito menikahi Ariana," kata Diana sembari menatap putrinya.
"Maksud mama apa? Kenapa aku harus merelakan calon suami aku untuk kak Ariana?"tanya Perlita yang terlihat bingung dan juga terkejut dengan ucapan Diana yang secara tiba-tiba.
"Ariana hamil anaknya Vito, dan mereka harus menikah. Kamu harus mengalah demi janin yang ada di dalam kandungan Ariana."
Deg!
Perlita terdiam mendengar ucapan mamanya. Jantung Perlita terasa berhenti berdetak saat ini.
"Malah diam lagi. Terserah kamu yah, mau menerima keputusan ini atau tidak, yang jelas Vito akan menikahi Ariana. Semua keluarga sudah berunding, Vito dan keluarganya juga sudah setuju. Jadi kamu harus setuju dengan keputusan kami ini. Lagian kamu juga tidak cocok dengan Vito. Ariana dan Vito juga sudah berteman sejak kecil, jadi mereka sangat cocok kalau menikah."
Setelah mengucapkan hal yang sangat menyakitkan tersebut, Diana langsung pergi dari kamar Perlita.
"Ma...Mama. Tunggu dulu, Ma! Teriak Perlita.
Saat Perlita akan keluar dari kamarnya, dua orang laki-laki berpakaian hitam langsung menghadang Perlita dan mendorong masuk ke dalam kamarnya dan tidak lupa mengunci pintu kamar milik Perlita dari luar.
"Buka, buka pintunya!" Teriak Perlita dengan mengedor pintunya dengan keras tapi semua itu percuma saja.
Perlita terduduk di lantai kamarnya dan menangis sejadi-jadinya. "Kenapa aku harus terus mengalah? Dari dulu aku selalu di suruh mengalah."
Ya, Perlita memang dari kecil selalu disuruh mengalah kepada kakak perempuannya tersebut.
Selama ini Perlita memang selalu diperlakukan berbeda dari Ariana. Perlita harus berusaha dulu untuk mendapatkan apa yang dirinya mau. Termasuk sekolah dengan kerja kerasnya sendiri. Kedua orang tuanya menolak untuk membiayai uang sekolah Perlita, karena itu Perlita terpaksa bekerja di tiga tempat dalam sehari. Bahkan Perlita juga kuliah dengan kerja kerasnya sendiri. Kedua orang tuanya menolak untuk membiayai Perlita dengan alasan mereka yang tidak mampu, karena saat itu Ariana ingin menjadi dokter, jadi mereka menabung untuk biaya sekolah Ariana.
Usia Perlita dan Ariana hanya terpaut satu tahun saja. Ariana yang selalu dimanjakan seperti ratu di rumah itu. Apapun keinginan Ariana pasti selalu dituruti oleh kedua orang tuanya. Berbeda dengan Perlita yang harus cari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kamar dengan ukuran dua kali dua itu menjadi saksi bisu tangisan Perlita hampir setiap malamnya. Di rumah orang tuanya yang bisa dikatakan mewah, Perlita malah diberikan kamar yang biasa ditempati oleh asisten rumah tangganya yang berada di dekat dapur. Sedangkan Ariana berada di lantai dua dengan ukuran kamar yang besar dan tentunya mewah.
Perlita Cascata adalah seorang gadis cantik yang terlahir dari pasangan Roby dan Diana. Perlita terlahir berbeda dengan kakaknya. Perlita adalah perempuan yang sangat cantik, berkulit putih dengan mata indah, hidung mancung dan bibir tipis.
Kecantikan Perlita mampu menghipnotis orang yang memandangnya. Alis yang rapi tidak terlalu tipis dan juga tidak tebal, bulu mata yang lentik menambah kesan cantik di wajah Perlita. Selain itu Perlita juga memiliki lesung pipi yang menambah kesan manisnya saat Perlita tersenyum atau tertawa. Selain itu dia juga memiliki tubuh yang ideal.
Berbeda dengan Ariana yang terlahir dengan kecantikan biasa saja, kulit Ariana juga tidak putih seperti Perlita. Bahkan wajah Ariana sudah banyak di permak di klinik kecantikan. Keseharian Ariana selalu memakai make up yang tebal. Berbeda dengan Perlita yang selalu tampil natural setiap harinya. Kecantikan Perlita inilah yang membuat Ariana menjadi iri dan berupaya membuat orang tua mereka membenci Perlita.
Sementara di luar saat ini sedang berlangsung akad nikah. Ariana Savira dan Vito Sinaga akhirnya sah menjadi pasangan suami istri. Kedua mempelai dan kedua pihak keluarga sangat bahagia dengan pernikahan anak mereka. Tidak ada raut wajah sedih atau bersalah di wajah mereka saat ini. Mereka bahkan tidak peduli dengan perasaan Perlita saat ini.
Para tamu undangan merasa heran dan berbisik-bisik saat acara berlangsung, karena yang mereka tahu yang menjadi mempelai wanitanya seharusnya adalah Perlita Cascata yang merupakan adik dari Ariana Savira. Tamu undangan yang hadir pada saat itu juga adalah teman satu rumah sakit tempat Vito dan Ariana bekerja. Ariana dan Vito yang sama-sama berprofesi sebagai dokter memang bekerja di satu rumah sakit yang sama.
"Kok bisa yah dokter Ariana yang menikah dengan dokter Vito? Bukankah yang menjadi pengantin wanitanya adalah Perlita adiknya dokter Ariana?" Ucap teman satu profesi Vito dan Ariana.
"Iya yah. Tega bener loh mereka sama Perlita, padahal kan adiknya sendiri. Setahuku Perlita dan dokter Vito sudah berpacaran cukup lama. Yang aku dengar, kalau biaya pernikahan ini katanya menggunakan uang Perlita, karena uang dokter Vito akan di pakai buat membeli rumah. Tapi sekarang malah menikah dengan dokter Ariana. Ini mah definisi kakak kandung adalah maut. Masa calon suami adiknya sendiri direbut di hari pernikahan adiknya. Pantas aja selama ini kedekatan dokter Vito dan dokter Ariana terlihat tidak lazim."
"Sudah sudah, jangan membicarakan ini di sini. Nanti ada yang dengar. Lagian ini juga bukan urusan kita. Nikmati aja lah pestanya, jangan menambah dosa di sini."
Mereka akhirnya terdiam dan menikmati pesta pernikahan kedua dokter tersebut.
Setelah rangkaian akad nikah selesai, kedua mempelai berganti pakaian dengan pakaian resepsi pernikahan. Resepsinya memang langsung diadakan setelah akad nikah.
"Selamat yah untuk kalian, ini baru mantu idaman mama Vit. Kalian berdua sama-sama cocok loh. Begini dong kalau cari istri, cantik dan seorang dokter lagi. Jadi nggak sia-sia kan kamu jadi dokternya," ujar Silvi dengan senyum bahagia karena mendapatkan menantu seorang dokter yang memiliki profesi yang sama dengan putranya.
Silvi memang tidak menyukai Perlita dari awal mereka menjalin hubungan. Silvi memang dari dulu menginginkan Vito menikah dengan teman satu profesinya juga. Sedangkan Perlita memiliki bisnis kecil-kecilan, yaitu menjadi seorang pedagang pakaian, yang menurut Silvi tidak berkelas dan tidak level dengan anak dan keluarganya. Keluarga Vito memang semuanya berprofesi sebagai dokter. Termasuk kedua orang tuanya dan juga saudara-saudaranya.
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
"Makasih yah, Ma. Ariana juga senang loh punya mertua seperti mama. Dokter yang sangat hebat di masanya," puji Ariana dengan senyum lebarnya.
"Kamu berlebihan sayang, Mama biasa aja kok."
"Mama suka sekali merendah, di kalangan kami Mama masih saja sering dibahas loh."
"Oh iya? Mama jadi senang mendengarnya."
Setelah mengucapkan selamat kepada anak dan menantunya, Silvi pun turun dari pelaminan. Sementara Rangga memilih langsung meninggalkan tempat acara begitu mempelai wanitanya ditukar. Rangga sangat tidak setuju dengan keputusan Ariana yang menggantikan posisi Perlita untuk menikah dengan putranya.
Setelah semua acara selesai, termasuk resepsi yang memang digelar di rumah orang tua Ariana. Bahkan biaya resepsi pun memakai uang Perlita. Vito tidak menyumbang untuk acara pernikahan itu sama sekali dan sekarang acara itu malah menjadi acara pernikahan kakaknya Perlita dan calon suami Perlita.
"Sebaiknya sekarang kalian pergi istirahat. Pasti capek kan? Ini juga udah malam dan tamu undangannya juga sudah pulang semua. Riana, ajak Vito ke kamar kamu." Ujar Diana.
"Baik, Ma."
"Ayo Vit, kita ke kamar aku."
Ariana dan Vito lalu menuju lantai dua di mana kamar Ariana berada.
"Makasih ya sayang, karena lebih memilih aku dibanding Perlita. Aku bahagia banget loh bisa menjadi istri kamu."
"Aku memilihmu karena anak kita. Ditambah lagi mama yang tidak setuju aku menikah dengan Perlita," terang Vito menjelaskan sambil mengusap perut Ariana yang masih rata.
Ariana memeluk Vito yang saat ini berbaring di sampingnya. Mereka sudah siap untuk tidur setelah mandi dan mengganti pakaian.
"Berarti dia yang menyatukan kita, dan aku akan menjaganya dengan baik. I love you sayang."
"I love you to."
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Besoknya...
"Maaf Ma, Pa, kami terlambat bangunnya."
"Oh, tidak apa-apa sayang. Mama dan Papa bisa memakluminya kok. Namanya juga pengantin baru, iya kan Pa?"
"Iya, Ma."
"Perlita mana Ma? Apa dia nggak ikut sarapan?"tanya Ariana yang tidak melihat Perlita di meja makan pagi itu.
"Masih di kamarnya mungkin. Pasti dia masih menangisi nasibnya yang malang." Jawab Diana yang tidak punya simpati sedikitpun.
"Oh." Sahut Ariana dengan malas.
Mereka berempat sarapan dengan diselingi obrolan-obrolan kecil.
Selesai sarapan, mereka duduk di ruang keluarga.
"Jadi gimana honeymoon kalian? Bukankah kamu sama Perlita sudah pesan paket honeymoon nya? Kan sayang kalau dibatalkan. Sayang uangnya juga, sebagai gantinya kamu bawa aja Ariana honeymoon di sana. Lumayan kan nginep di hotel bintang lima selama tiga hari, mana viewnya laut lagi. Ya walaupun masih di kota ini juga sih." Tanya Diana pada Vito.
"Tapi bukti bookingan dan pembayarannya ada di tangan Perlita Ma. Jadi kami nggak mungkin bisa pakai paket itu," terang Vito menjelaskan.
"Kamu mintalah sama Perlitanya."
"Kalau begitu mama aja yang minta sama Perlita. Aku mana rela kalau suami aku ngobrol sama Perlita."
"Ya udah, kalau begitu mama ke kamar Perlita dulu."
Diana beranjak dari duduknya dan menuju ke kamar Perlita.
Tok
Tok
Tok
"Perlita bangun! Perlita, cepat buka pintunya!" Teriak Diana di depan pintu kamar Perlita.
Ceklek
"Mana bukti bookingan paket honeymoon kamu dan Vito? Sini kasih ke mama. Sayang kalau terbuang percuma begitu saja."
"Kata siapa terbuang percuma Ma? Paket honeymoon nya sudah aku kasih ke teman aku yang udah nikah."
"Apa?" teriak Diana dengan kedua mata terbelalak lebar. "Kenapa kamu kasih ke teman kamu? Kamu mikir nggak sih, uangnya itu tidak sedikit loh, tapi kok kamu kasih ke orang lain sih?"
"Terserah aku lah Ma. Itu kan pakai uang aku juga."
"Apa kata kamu? Pokoknya mama nggak mau tahu, kamu harus kembali mengganti paket honeymoon nya. Karena Ariana dan Vito harus pergi honeymoon."
"Kalau mau pergi honeymoon ya pergilah. Modal dong Ma, katanya dokter. Pasti banyak duit lah. Mana dua-duanya dokter lagi. Kan harusnya banyak banget duitnya. Ngapain malah ngemis ke aku."
"Mana ada mereka ngemis ke kamu. Hanya saja kamu harus bertanggung jawab karena sudah memberikan paket honeymoon itu untuk orang lain. Sekarang kamu Mama suruh untuk mengganti paket honeymoon nya bukan Ariana dan Vito yang mengemis ke kamu. Kamu itu tidak ada apa-apanya dibanding mereka."
"Ya udah kalau begitu, silahkan modal sendiri kalau mau honeymoon. Itu aja kok repot sih. Aku nggak mau mengeluarkan uang aku lagi buat mereka. Malahan sekarang aku mau minta uang aku di kembalikan. Pesta pernikahan kemarin itu semuanya kan pakai uang aku Ma. Jadi kalian harus mengganti uang aku. Jangan sampai aku rugi dua kali."
"Enak aja kamu minta ganti rugi. Nggak ada cerita ganti rugi segala. Lagian Ariana itu kakak kandung kamu. Masa sama kakak kandung sendiri perhitungan sih."
"Kakak kandung mana Ma yang tega merebut calon suami adiknya tepat di hari pernikahannya. Mana biaya pernikahannya itu dari uang adiknya lagi. Benar-benar nggak tahu malu dan beradab. Ngakunya dokter tapi sifat dan sikapnya tidak mencerminkan seorang dokter sama sekali. Lebih terhormat pelacur di pinggir jalan dibanding anak kesayangan Mama itu." Perlita sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
Plak
"Kurang ajar mulut kamu itu yah."
Diana langsung mendaratkan tangannya di pipi mulus Perlita, dan Perlita langsung memegang pipinya yang di tampar mamanya.
"Sekali lagi kamu menghina Ariana, maka mama tidak akan segan-segan mengusir kamu dari rumah ini.
"Tanpa diusir pun aku akan pergi kok dari rumah ini. Buat apa hidup satu atap sama orang yang tak beradab."
Perlita masuk ke dalam kamarnya dan mengambil koper yang memang sudah dipersiapkan dari tadi malam. Dia rasanya tidak sudi tinggal bersama kedua orang tua, kakak dan juga mantan calon suaminya itu.
"Selangkah kamu pergi dari sini, maka jangan harap kamu bisa kembali ke rumah ini lagi," ancam Diana sembari menatap tajam Perlita.
Perlita tidak peduli dengan ucapan mamanya dan memilih melanjutkan langkah kakinya keluar dari rumah kedua orang tuanya. Dia mengendarai sepeda motornya meninggalkan rumah yang sudah seperti neraka bagi dirinya.
"Loh Ma, Perlita kok bawa-bawa koper?" tanya Ariana karena tadi melihat Perlita melewati ruang keluarga.
"Dia memutuskan untuk pergi dari rumah ini."
"Terus kalau Perlita pergi bagaimana dengan semua biaya kebutuhan rumah ini Ma?"tanya Roby
Selama ini semua kebutuhan rumah dan keluarga itu memang ditanggung oleh Perlita sepenuhnya termasuk gajih asisten rumah tangga dan juga tanggungan Ariana.
"Iya loh Ma, Terus siapa yang akan membayar gajih ART?"
"Ya ampun Mama lupa lagi. Gimana dong sekarang?"
"Mau gimana lagi Ma, kalau Perlita nggak tinggal di sini lagi yah Mama tinggal minta aja nanti uang bulanan untuk kita." Kata Ariana dengan entengnya.
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!