"Sean, kau mau apa?!"
Alissa mundur ketakutan, ketika suaminya sendiri mendekatinya dengan membawa sebilah pisau di tangan kirinya. Wajahnya yang menyeramkan terlihat begitu bengis. Senyum miring yang laki-laki itu tampilkan bak sebuah ancaman yang mematikan.
"Aku?" laki-laki itu menunjuk dirinya sendiri menggunakan pisau di genggamannya.
"Aku ingin bermain. Kau mau ikut dalam permainan ini, Alissa?" tawar Sean seakan apa yang sedang dilakukannya ini begitu menyenangkan.
"Tidak..." Alissa menggeleng ribut. Jantungnya berdetak tak terkendali. Terlebih ketika punggung kecilnya menyentuh dinding kamar. Takutnya semakin menjadi saat langkah Sean semakin dekat.
"Tidak, Sean. Jangan!" Alissa menutup matanya rapat-rapat saat Sean mengarahkan pisau pada wajahnya.
Seketika, sensasi dingin menyentuh pipi Alissa. Perempuan itu lemas. Seluruh tubuhnya meremang takut. Alissa hampir ambruk jika saja Sean tidak buru-buru merengkuhnya.
"Oh, ayolah. Ini akan menyenangkan." ujar Sean merayu. Masih asik memainkan ujung pisau yang runcing pada pipi sang istri.
"Alissa. Buka matamu..." suara bariton Sean mengalun lirih namun sarat akan perintah.
"Sean--
"Aku tidak suka mengulang perkataanku Alissa."
Maka dari itu, Alissa membuka matanya. Langsung saja, netra abunya yang dipenuhi kabut ketakutan bersibobrok dengan netra sebiru samudra milik suaminya.
"Kau cantik saat membuka matamu Alissa."
Seharusnya Alissa tersipu mendengar pujian yang selama ini ia idam-idamkan. Namun di situasi seperti ini, jangankan tersipu atau tersenyum malu. Bisa bernafas dengan benar saja sudah termasuk anugrah bagi Alissa.
"Alissa, bagaimana jika pisau ini..." Sean menurunkan pisaunya. Berpindah pada leher Alissa yang putih. "Menancap di sini?"
"Akhh, Sean! Tidak!" Alissa memberontak. Takut jika kalau Sean benar-benar merealisasikan ucapannya. Karena sejatinya, laki-laki itu tidak pernah berdusta dalam perkataannya.
"Shuttt, calm down Alissa. Jangan takut."
Alissa. Perempuan itu menangis. Air matanya luruh membasahi pipinya. Menatap laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu memohon iba.
"Ampun Sean. Tolong lepaskan aku. Aku janji, aku tidak akan muncul lagi di dalam kehidupanmu." mohon Alissa meminta belas kasihan di sela isakannya.
"Oh wow! Apa ini? Kenapa dirimu yang menangis membuat kecantikanmu bertambah?" Sean berdecak kagum. Ekspresi yang lebih seperti dibuat-buat yang menimbulkan kesan mengejek.
"Ahh, aku punya ide." Sean, laki-laki itu berseru penuh semangat.
"Bagaimana jika aku menambahkan lukisan indah di sini?" ujar Sean mengetuk ujung pisau pada pipi Alissa dua kali.
"Pasti kau akan semakin terlihat cantik. Bagaimana, kau setuju?"
Alissa menggeleng. Memberikan tanda bahwa dia menolak. Susah payah ia telan saliva di balik nafasnya yang tercekat.
"Sean..." lirih suara Alissa bergetar takut.
"Jangan seperti ini. Aku mohon, maafkan aku. Aku--
"Aku janji akan pergi jauh. Aku janji tidak akan merecoki dirimu dan-- dan Stella. Jangan bunuh aku..."
Stella. Nama perempuan yang Sean cintai. Ya. Laki-laki itu memang menikah dengan dirinya. Namun, itu bukanlah pernikahan atas nama cinta. Mereka menikah karena perjodohan orangtua.
Waktu itu, Alissa yang amat mengagumi Sean langsung menerima perjodohan itu tanpa pikir panjang. Dia pikir, jika Sean juga menerima perjodohan ini, itu berarti laki-laki itu juga menginginkannya sebagaimana Alissa menginginkan Sean.
Namun dugaannya salah. Karena ternyata, ada konspirasi besar di balik pernikahan dirinya dan Sean. Rahasia yang baru terkuak setelah satu minggu pernikahannya.
Sean. Dia mecintai Stella. Mungkin tidak ada yang salah jika saja mereka bukan saudara kandung. Ya. Sean Balrick mecintai adik kandungnya sendiri. Stella Balrick.
Bodohnya Alissa, karena setelah mengetahui rahasia besar itu, bukannya mundur, perempuan itu malah melakukan hal gila. Harta, kedudukan, dan rupa Sean membuatnya buta dan tuli. Alissa merasa akan sangat rugi jika melepas berlian seperti seorang Sean Balrick.
Maka dari itu, Alissa bertingkah layaknya jalang di depan Sean. Menggoda laki-laki itu dengan pakaian kurang bahan. Namun salahkah jika dia menggoda suaminya sendiri.
Apakah Sean tergoda?
Tentu saja. Namun lagi-lagi kenyataan pahit harus Alissa telan saat suaminya itu hanya menganggapnya sebagai budak nafsu.
Puncaknya ketika Stella bertunangan dengan orang lain. Sean marah besar. Dan laki-laki itu melampiaskan segala amarahnya pada Alissa. Menganggap istrinya sebagai penyebab tidak bisanya dia bersatu dengan Stella yang jelas-jelas adik kandungnya sendiri.
"Ah, sudahlah. Mari kita sudahi drama ini." Sean membelai rambut panjang Alissa yang tergerai.
"Aku akan membereskanmu. Setelah itu, baru laki-laki sia-lan itu." Alissa tahu. Laki-laki sia-lan yang Sean sebut adalah tunangan dari Stella.
"Arghh! Sean, sakit!" Alissa menjerit kesakitan. Ketika tanpa aba-aba Sean menjambak rambutnya sangat kuat. Kepalanya terasa perih. Rasa-rasanya rambutnya terlepas dari kepala.
"Coba saja kau pergi dari dulu Alissa. Ini semua tidak akan terjadi."
Dugh!!
"Arghhh!!"
Dengan kejamnya, Sean membenturkan kepala Alissa ke dinding. Benturan itu sangat keras hingga menyisakan darah yang merembes keluar dari kepala belakang Alissa.
"Dasar kau perempuan jalang!" sekali lagi. Laki-laki itu membenturkan kepala Alissa tanpa belas kasihan.
Istrinya itu tidak bisa memberontak. Tidak ada yang bisa dilakukan perempuan itu selain merasakan sakit dan menangisi takdirnya yang pedih.
Kurang puas dengan membenturkan kepala Alissa pada dinding, Sean mence-kik leher perempuan itu. Cengkramannya sangat kuat hingga membuat wajah Alissa memerah kekurangan oksigen. Nafas perempuan itu tersendat-sendat.
"Kau memang harus mati Alissa..." desis Sean tajam. Mendorong tubuh ringkih Alissa hingga membuat perempuan itu terjerembab ke lantai.
"Uhuk..uhuk..." nafas Alissa seketika memburu. Menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Dengan keadaan yang jauh dari kata baik. Matanya berkunang-kunang. Tenggorakannya panas. Kepalanya perih. Alissa mengingat sesuatu hingga dengan ketakutan, ia memeluk perutnya erat.
"Jangan takut. Aku akan melindungimu."
"Su--sudah Sean..." pinta Alissa memohon ampunan. Perempuan itu menggeleng panik saat suaminya itu kembali mendekat untuk menyiksanya.
Sean tersenyum smirk. "Sudah? Tidak secepat ini Alissa?"
"Sean jangan. Sean--arghh!!
Terlambat. Dengan keji, Sean menginjak perut Alissa. Seketika perempuan itu mengerang kesakitan. Lebih dari itu, tangis Alissa benar-benar pecah.
"Maaf, aku gagal melindungimu."
Awalnya, Sean tersenyum puas. Tidak sebelum dirinya melihat darah segar yang keluar merembes dari paha Alissa. Seketika itu, senyum Sean sirna. Tergantikan dengan raut tidak terbacanya.
"Ka-kau puas Sean?" ujar Alissa dengan nada yang melemah.
"Bukan hanya satu. Kau bahkan menghilangkan dua nyawa."
Deg.
"Sekarang, kau akan bahagia." Alissa tersenyum miris. "Aku akan pergi."
"Membawa anakku."
Alissa sudah tidak kuat. Matanya semakin memberat. Apakah ini akhir dari hidupnya? Mati di tangan suaminya sendiri.
Di saat-saat terakhirnya, Alissa menggumamkan sesuatu yang selalu ia harapkan kata itu akan muncul dari bibir Sean.
"Aku mecintaimu Sean Balrick."
Sedangkan Sean, laki-laki itu masih mencerna dengan apa yang baru saja dilihatnya. Darah yang keluar dari inti Alissa. Apakah perempuan itu tengah mengandung.
Alissa, mengandung anaknya?
"Hah...hah...hah..." bangun dari tidurnya, nafas perempuan itu memburu. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Mimpi apa itu. Kenapa menyeramkan sekali." gumamnya masih dengan nafas yang belum terkontrol.
"Sean Balrick, Alissa. Bukankah itu nama-nama tokoh novel yang semalam aku baca?" mata perempuan itu memejam sejenak, hanya untuk menenangkan diri dari mimpi menyeramkan yang baru dialaminya.
Sangat menakutkan. Mimpinya terasa begitu nyata. Seolah-olah dirinyalah yang berada di situasi itu.
"Mana nama si istri Sean baji-ngan Balrick sama namaku sama. Sama-sama Alissa."
Memang. Sangat menyebalkan ketika tokoh yang berakhir tragis di tangan suaminya sendiri itu memiliki nama yang sama sepertinya. Sehingga dia merasa dirinyalah yang mengalami apa yang tokoh Alissa alami.
Menghembuskan nafas panjang, perempuan itu menoleh pada jendela besar yang masih tertutup tirai. Dia merasa ada yang aneh tapi tidak tahu di mana letak keanehan itu.
"Sepertinya aku terlalu menghayati isi novel. Sampai-sampai bermimpi seperti ini."
"Sudahlah, sebaiknya aku mandi." Alissa mencoba abai. Tentang mimpi yang dialaminya. Tentang rasa aneh yang menyelimutinya. Ia turun dari ranjang. Berjalan menuju pintu kamar mandi yang terletak di sudut ruangan.
Sekilas ia menoleh ke cermin rias. Saat akan melanjutkan langkahnya, ia teringat sesuatu. Tiba-tiba jantungnya terasa berhenti berdetak. Menelan salivanya susah payah, ia kembali menolehkan kepalanya pada cermin rias dengan gerakan slow motion.
"Di--di--dia..." Alissa menunjuk pantulan dirinya sendiri di cermin. Tangannya terasa bergemetar saat itu.
"Dia siapa?!"
Alissa sentuh wajahnya sendiri panik. Sehingga pantulan di cermin pun melakukan hal yang sama.
"Kenapa wajahku berubah?! Apa yang terjadi?!"
Menatap sekeliling, dia baru sadar dengan keanehan yang sedari tadi ia rasakan. Letak jendela, warna dinding, luas ruangan, furniture. Ini bukan tempat yang selama ini ia singgahi untuk mengistirahatkan tubuh. Ini bukan kamarnya.
"Tuhan, ini di mana?!" jeritnya ketakutan. Setelah mimpi buruk tadi, lalu apa ini.
Apakah dirinya diculik. Apakah wajahnya diubah agar tidak ada lagi yang mengenalinya. Siapa. Siapa yang melakukan hal keji seperti itu. Seingat Alissa, dirinya tidak memiliki musuh. Dia tidak pernah mencari masalah dengan siapapun itu.
Krek.
Suara retakan itu mengambil alih atensi Alissa. Entah apa sebabnya, cermin rias di ruangan itu tiba-tiba retak. Namun bukan itu yang membuat Alissa kaget. Tulisan yang tiba-tiba muncul di permukaan cermin berhasil membuatnya mematung tak percaya.
Selamat datang di dunia barumu Alissa. Sekarang kau adalah istri dari Sean Balrick. Tokoh yang akan mati di tangan suaminya sendiri.
"Tidak mungkin." lirih Alissa hampir tidak terdengar. Bahkan untuk membuktikan jika dirinya hanyalah berhalusinasi Alissa menampar kedua pipinya berulang kali hingga hidungnya mengeluarkan darah.
"Tidak mungkin!" jerit perempuan itu semakin tak terkendali. Rasa-rasanya dia sudah kehilangan akal. Tidak---dia memang sudah kehilangan akal. Menyiksa dirinya sendiri berharap segera sadar dari mimpi buruk yang dialaminya.
Alissa mengamuk. Membanting segala perabotan yang ada di ruangan itu. Menimbulkan bunyi bising yang memekakkan telinga. Tak lama, suara ketukan pintu terdengar. Namun Alissa tak menghiraukannya.
"Nyonya? Nyonya Alissa?! Anda baik-baik saja?"
Alissa tidak menjawab itu. Fokus matanya tertuju pada pecahan vas bunga yang berserakan di lantai yang terasa dingin.
"Nyonya? Kami masuk ya?"
Dengan langkah pelan, Alissa ambil salah satu pecahan vas itu. Lalu ia arahkan pada pergelangan tangannya. Jika belum bangun dari mimpi buruk ini, maka Alissa akan mencoba mati. Berharap setelah itu semuanya akan kembali semula.
Dengan keadaan yang sudah berantakan, Alissa tertawa renyah. Menjadi istri Sean Balrick? Memangnya jiwanya bertransmigrasi? Alissa tidak gila dengan percaya hal seperti itu. Trasmigrasi jiwa hanya ada di novel. Dan Alissa hidup di dunia nyata.
"Bagaimana ini, kita masuk atau tidak. Kenapa tiba-tiba Nyonya diam saja?" suara dari luar ruangan itu kembali hadir. Tapi Alissa tetap abai. Mungkin saja suara itu juga hanyalah halusinasinya.
perlahan namun pasti, Alissa sayat pergelangan tangannya menggunakan pecahan vas bunga yang tadi dia pungut. Setika rasa perih merayap begitu saja. Perempuan itu meringis tertahan.
Tidak Alissa. Kau harus bisa. Buktikan jika ini hanya mimpi buruk. Setelah kau kehilangan kesadaran, kau akan bangun kembali dengan semuanya yang kembali seperti semula.
Cairan merah kental menetes. Namun tidak ada tanda-tanda dia akan kehilangan kesadaran. Seperti mata yang berkunang-kunang, atau tubuh yang lemah. Hanya ada rasa perih yang meresap pada tangannya.
Brak.
Pintu dibuka secara paksa. Terkejut, Alissa menjatuhkan pecahan vas yang ia gunakan untuk menyayat nadinya.
"Nyonya!? Apa yang anda lakukan?!" teriak seseorang yang baru saja membuka paksa pintu kamar.
"Siapa kalian?!" Alissa meringkuk ketakutan. Menatap dua perempuan yang berpakaian khas pelayan.
"Sebaiknya kau panggil Tuan Sean. Biar aku di sini mengawasi Nyonya." ucap salah satu dari mereka.
Temannya itu segera menurutinya. Ia bergegas pergi untuk memanggil tuan mereka. Siapa tadi namanya? Sean.
Sean. Sean Balrick?!
"Arghh, tidak mungkin!" pelayan itu terkejut ketika tiba-tiba Alissa berteriak.
"Ini tidak mungkin terjadi!"
"Nyonya, tenangkan diri anda." ujar pelayan itu mencoba mendekat. Menyadari hal itu, Alissa ambil sembarang barang untuk ia lempar pada perempuan berseragam pelayan itu.
"Berhenti! Jangan mendekat." seru Alissa.
"Baik, tapi tolong jangan sakiti diri anda lagi." pelayan itu menoleh pada pergelangan tangan Alissa yang masih setia meneteskan darah. Melihat itu membuatnya meringis seketika.
"Bawa aku kembali. Ku mohon, aku tidak mau di sini!"
"Mungkin, aku sudah gila!"
Alissa berteriak tidak jelas. Pelayan itu jadi ketakutan sendiri. Nyonya mereka yang biasanya berbicara anggun, berpenampilan cantik, kini keadaannya berbalik seratus delapan puluh derajat.
Memegang tengkuknya sendiri, tiba-tiba pelayan itu merasa merinding. Nyonya mereka sedang tidak kerasukan penghuni mansion ini bukan. Menelan ludahnya takut, pelayan itu parno sendiri.
"Bawa aku kembali. Aku mau pulang. Bawa aku kembali. Aku mau pulang--
Alissa terus berucap seperti itu. Membuat dugaan pelayan itu semakin kuat. Jika Nyonya mereka telah kerasukan hantu.
"Sepertinya aku harus memanggilnya pawang hantu?" buru-buru ia ingin pergi sampai hampir menabrak temannya yang tadi ia suruh untuk memanggil tuan mereka.
"Hei, kau mau kemana? Kau seharusnya menjaga Nyonya." peringat temannya itu.
"Aku akan memanggil pawang hantu."
"Apa?!" temannya itu mengernyitkan kening bingung.
"Pawang hantu." pelayan itu mendekatkan bibirnya pada telinga temannya. "Dengar, sepertinya Nyonya kerasukan hantu." bisiknya sepelan mungkin.
"Hantu? Ck, ini akibat terlalu sering menonton film horror!" ujar temannya yang tak percaya begitu saja.
"Hei, aku serius. Tadi---
Pelayan itu mulai bercerita. Dan itu tak luput dari pendengaran laki-laki jangkung berwajah dingin di depan mereka.
Dengan langkah tegasnya, dia menuju kamar Alissa. Dan seketika laki-laki itu terdiam sejenak melihat bagaimana kacaunya ruangan itu, pun dengan penghuninya.
"Aku mau pulang. Aku mau pulang. Bawa aku kembali. Ku mohon Tuhan, aku tidak mau di sini..."
Alissa terus berceloteh hingga matanya memberat dan dia kehilangan kesadarannya.
"Aku mau pulang..."
"Eughh..." Alissa melenguh samar. Mata lentiknya perlahan terbuka. Menyesuaikan dengan pencahayaan sekitar.
"Aku...aku di mana?" lirihnya lemah. Tubuhnya yang terasa lemas membuat perempuan itu kesusahan untuk bangun dari pembaringannya.
Alissa mencoba mengingat apa yang terjadi dengannya terakhir kali. Matanya yang masih redup menyipit bingung ketika menemukan jarum infus yang terpasang di punggung tangannya. Pun dengan perban yang melingkar di pergelangan tangan.
"Apa yang terjadi--
Selamat datang di dunia barumu Alissa. Sekarang kau adalah istri dari Sean Balrick. Tokoh yang akan mati di tangan suaminya sendiri.
Deg. Alissa ingat sekarang. Menatap sekitar panik, jantung perempuan itu seakan berhenti berdetak ketika menemukan bahwa ruangan yang ia huni sekarang ini, sama peris seperti ruangan terakhir sebelum dia kehilangan kesadarannya. Hanya saja kondisinya sudah kembali seperti semula sebelum dia kehilangan kendali dan mengamuk.
"Jadi, aku tidak bisa kembali ke duniaku, begitu?" Alissa terkekeh miris. Matanya memanas menahan tangis.
"Aku...aku benar-benar mengalami trasmigrasi jiwa?" Alissa ingin menyangkal. Dia ingin mengatakan bahwa ini hanyalah mimpi. Tapi---
Di sinilah dia sekarang. Bahkan setelah dirinya melakukan percobaan bunuh diripun dia tetap di sini. Di dunia Novel. Berperan sebagai istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri.
Menyugar rambutnya dengan tangan yang tak terpasang infus, Alissa berdecak tak percaya. Untuk apa dirinya dikirim ke sini. Untuk mati, seperti itu?
Bagaimana caranya ia bisa terjebak di sini. Siapa yang telah malakukannya. Takdir, seperti itu?
"Semakin dipikirkan, semakin membuatku gila." gerutu perempuan itu kesal.
Baiklah, sekarang bukan waktunya untuk denial lagi. Dia harus segera menyusun rencana agar tidak mati.
Oh--tidak. Alissa tahu, semua orang akan mati. Maksudnya adalah, dia harus memikirkan rencana agar tidak mati di tangan sang antagonis novel yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Sean, dia membunuh istrinya sendiri karena menganggap istrinya adalah penghalang antara cintanya dan Stella." gumam Alissa mengingat-ingat alur novel.
Dia kembali teringat dengan mimpi adegan penyiksaan yang dilakukan Sean terhadap Alissa asli. Itu sangat kejam dan menyeramkan. Sean itu psikopat. Hah--wajar saja dia dijadikan sebagai antagonis cerita. Bahkan Alissa masih mengingat dengan jelas bagaimana Sean menginjak perut Alissa asli sehingga mulut perempuan itu mengeluarkan darah. Dan---
"Kau puas Sean? Bukan hanya satu. Kau bahkan menghilangkan dua nyawa."
Deg.
"Bukan hanya satu. Kau bahkan menghilangkan dua nyawa."
"Kau menghilangkan dua nyawa."
"Dua nyawa."
Alissa menelan salivanya susah payah. Menghilang dua nyawa? Salah satunya...berada di perutnya? Sontak tangannya bergerak menyetuh perutnya skeptis. Ini...tidak mungkin seperti yang dia pikirkan bukan.
"Tapi mungkin saja. Mengingat, Sean dan Alissa asli pernah berhubungan badan beberapa kali." hati Alissa mengungkapkan argumennya.
"Tapi bisa saja Sean menggunakan pengaman. Atau jika tidak, Alissa asli meminum pil kontrasepsi." kini giliran pikiran Alissa yang menyuarakan pendapatnya.
"Alissa asli tidak mungkin meminum pil kontrasepsi. Dia gila dalam mecintai Sean. Alissa asli akan senang jika dirinya hamil. Dengan begitu, dia punya alat untuk tetap bertahan di sisi Sean." lagi-lagi hati Alissa menolak logika yang otaknya ungkapkan. Benarkan, seseorang kehilangan logikanya ketika jatuh cinta.
"Tapi coba pikirkan. Sean tidak mungkin ceroboh dengan tidak memakai pengaman---
"Diam!" teriak Alissa menutup kedua telinganya.
Hati dan pikirannya sangat berisik. Membuatnya ketakutan setengah mati. Bagaimana jika memang di dalam perutnya terdapat...mahkluk hidup. Jika dia benar-benar hamil.
"Maka kau harus melindunginya Alissa. Lindungi dari Sean yang kejam itu. Apa kau ingin anak itu mati bahkan sebelum melihat dunia?" kini pikiran Alissa yang menyerukan nasihatnya.
"Tapi apa kau bisa pergi dari laki-laki yang sangat kau gilai itu huh?" tukas hatinya yang seakan mengejek.
"Bisa. Aku bisa." ucap Alissa yakin.
"Aku bukanlah Alissa yang dulu. Aku bukan Alissa yang tergila-gila pada laki-laki kejam itu."
"Kita lihat saja nanti."
Ceklek.
Pintu kamarnya terbuka. Seorang pelayan datang dengan membawa nampan berisi makanan. Langkah pelayan itu terlihat ragu. Tidak--pelayan itu seperti tengah ketakutan.
"Nyonya, saya membawa makan malam untuk anda." ucapnya lirih dengan pandangan ke bawah. Tidak berani bersitatap dengan Alissa.
"Malam? Ini sudah malam?" tanya Alissa tak percaya. Bukankah pada saat dirinya mengamuk itu masih pagi. Kenapa tiba-tiba sudah malam saja.
"Benar Nyonya. Ini sudah malam." jawab pelayan itu masih dengan kepala yang tertunduk.
"Hei, kenapa kau selalu menunduk?" heran Alissa. Apakah kepala pelayan itu tidak pegal.
"Ti--Tidak apa-apa Nyonya. Saya letakkan makan malam anda di atas nakas."
"Ah...baiklah." Alissa tidak ingin memperpanjangnya. Lagipula, pikirannya sudah terlalu lemah.
"Aku harus memastikannya, apakah dia benar-benar ada atau tidak." gumam Alissa pada dirinya sendiri.
Pelayan yang mendengar gumaman itu mendadak mati kutu. Tanpa bisa dicegah, tangannya bergemetar takut.
"Apa maksudnya? Apakah Nyonya ingin memastikan apakah hantu itu masih bersemayam di tubuhnya?" pikirnya yang mulai melantur
"Hei, kau. Menurutmu jika sesuatu tinggal di dalam perut kita, apa saja ciri-cirinya?" tanya Alissa pada pelayan itu.
"Apakah dia ingin memakanku?!" jerit pelayan itu di dalam hati.
"Eh, tanganmu kenapa?" bingung Alissa melihat tangan pelayan itu yang bergemetar. Saat dia baru saja ingin menyentuh lengan sang pelayan untuk memastikan, Alissa di buat terkejut dengan gerakan reflek yang perempuan berseragam itu tunjukkan.
"Haa...ampun! Jangan makan saya Nyonya! Ampuni saya...!"
Pelayan itu berlutut. Lalu melakukan gerakan menghibah dengan celotehannya yang tidak jelas.
"Daging saya alot, jangan makan saya..."
"Ampuni saya Nyonya hantu..."
"Hah?! Hantu?!" mata Alissa membola.
Ia beringsut mendekati sang pelayan itu meminta perlindungan. Sayangnya pelayan itu malah menjauhinya dengan jerit ketakutan. Bersembunyi di sudut ruangan dengan seluruh tubuh yang bergemetar takut.
"Ampun...huhu. jangan makan saya Nyonya hantu.."
"Di--di mana hantu?! Alissa terus mendekati pelayan itu sampai infus di punggung tangannya terlepas. Melihat Nyonyanya yang berjalan mendekat, pelayan itu semakin histeris.
"Di mana hantunya?! Selamatkan aku dari hantu!" ucap Alissa yang ikut merasa ketakutan.
Sayangnya, kata-kata terakhirnya disalah pahami oleh perempuan yang berprofesi sebagai pelayan itu. Dia mengira bahwa Alissa ingin diselamatkan dari hantu yang menyemayami tubuhnya.
"Oh...Tuhan! Kenapa nasibku begitu buruk. Setelah Berakhir menjadi pelayan, aku juga harus menjadi pawang hantu?!" ujarnya menangisi takdirnya.
Pelayan itu bangkit, ia ingin segera pergi dari kamar istri tuannya itu secepat mungkin.
"Hei, jangan tinggalkan aku! Kau mau kemana?!" Alissa berujar panik. Dia ingin ikut keluar.
Sialan, walaupun sering tidak terlihat, tapi Alissa juga takut pada mahkluk halus.
"Jangan tinggalkan aku. Aku--
Tiba-tiba perut Alissa berbunyi. Mungkin karena sejak pagi tidak terisi membuat cacing-cacing di perutnya demo meminta hak mereka.
"Aku lapar." ucap Alissa melanjutkan.
Dan membuat pelayan itu semakin menjerit ketakutan. Lari tunggang langgang setelah membuka pintu kamar Alissa.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!