Sretttt...
Elgard menarik seorang wanita dari ujung atap gedung sepuluh lantai.
"Apa kau gila hah?!!!" Bentak Elgard pada wanita yang sebagian wajahnya tertutup oleh rambut yang dibiarkan tergerai. Rambutnya yang panjang dan lurus itu tertiup angin hingga menutupi wajahnya.
Elgard tidak menyangka saja, niatnya menyingkir ke atap gedung rumah sakit untuk menenangkan diri setelah melakukan operasi hampir tujuh jam lamanya justru melihat seorang wanita ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atap rumah sakit.
Wanita yang tidak ia kenal, tapi ia bentak dengan suara cukup keras itu mulai mengangkat wajahnya dengan perlahan.
Mata Elgard melebar, dia jelas mengenali pemilik wajah itu meski sekarang terlihat perubahan dibandingkan dengan dulu. Walau sudah delapan tahun tidak bertemu, tapi Elgard jelas masih bisa mengenali siapa wanita yang ada di hadapannya itu.
"Bianca!" Gumam Elgard. Dirinya tak menyangka kalau akan bertemu dengan wanita yang sudah begitu lama tidak ia temui itu dengan keadaan seperti ini.
Wanita di hadapannya itu benar-benar berubah drastis. Dulu Elgard dengan jelas benar-benar mengenal Bianca, bukan hanya sekedar tau tentang wanita itu. Tapi saat ini, Bianca yang ada di hadapannya sangat jauh dari Bianca yang ia kenal dulu.
"Bee.." Elgard ingin menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya namun wanita yang ia sebut bernama Bianca itu memalingkan wajahnya lebih dulu. Telihat jelas menghindari tangan Elgard.
"Maaf Tuan, anda salah orang!" Wanita itu langsung berbalik pergi. Berjalan dengan cepat meninggalkan atap rumah sakit.
Elgard masih terkejut karena reaksi tak terduga dari Bianca malah terdiam menatap kepergian Bianca. Setelah punggung Bianca tak terlihat lagi, barulah dia sadar kalau Bianca sudah tidak ada di hadapannya lagi.
Pria tinggi dengan wajah tampan itu langsung berlari mengejar Bianca. Dia ingat apa yang baru saja Bianca kalukan. Entah apa yang masalah yang Bianca hadapi selama ini hingga ingin mengakhiri hidupnya.
Elgard menuruni tangga dengan cepat, menyusuri lorong demi lorong untuk mencari keberadaan mantan tunangannya itu.
Benar, mereka dulu memah pernah bertunangan karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka. Tapi hubungan mereka itu harus berakhir karena kasus yang melibatkan Ayah dari Bianca. Karena sejak awal hubungan mereka hanya karena hubungan bisnis dan saling menguntungkan untuk orang tua mereka, maka saat Ayah Bianca terjerat kasus korupsi, Ayah dari Elgard langsung membatalkan perjodohan itu.
Elgard tidak pernah tau lagi bagaimana kehidupan Bianca setelah itu karena Elgard langsung pergi keluar negeri untuk melanjutkan sekolahnya.
Mereka tidak pernah berhubungan lagi sampai hari ini akhirnya Elgard bertemu dengan Bianca lagi dengan keadaan Bianca yang membuat Elgard terkejut.
Dulu Bianca adalah gadis manja, semua yang dia pakai selalu barang-barang mahal dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tapi yang Elgard lihat tadi, Bianca hanya memakai celana jeans dan kemeja yang sederhana. Tidak ada lagi barang mahal yang melekat pada tubuhnya. Wajahnya pun tanpa polesan make up seperti dulu. Tubuhnya juga tampak kurus tak terawat.
"Kemana dia pergi? Kenapa secepat ini?!"
Apa yang terjadi pada Bianca tadi membuat Elgard begitu penasaran. Sebenarnya masalah apa yang dihadapi Bianca sampai ingin mengakhiri hidupnya.
Sementara, wanita yang Elgard cari dari tadi kini sudah ada di dalam kamar mayat. Air matanya tampak jatuh semakin deras melihat tubuh Ibunya yang sudah kaku.
Seharusnya Ibunya sudah dibawa ke tempat kremasi sejak tiga hari yang lalu tepat di hari Ibunya pergi untuk selama-lamanya. Tapi dia tidak bisa membawa Ibunya pergi begitu saja karena dia tidak punya biaya untuk melunasi tagihan rumah sakit dan juga biaya kremasi. Uangnya masih belum cukup untuk itu semua.
Bianca hanya bisa menangis seorang diri di dalam kamar yang begitu dingin dan menyeramkan bagi orang lain itu. Tapi setelah tiga hari selalu datang ke sana, Bianca sudah tak merasa takut sama sekali.
Dia mengusap air matanya dengan kasar. Kembali memasang wajah dingin yang selalu menjadi topeng baginya selama tujuh tahun ini.
Dia harus segera pergi ke suatu tempat untuk mencari uang tambahan. Kebetulan ada seseorang yang memberinya informasi pekerjaan.
Bianca membawa tas lusuh dibahunya. Rambutnya yang panjang itu menutup sebagian wajahnya ketika tertiup angin. Kepalanya yang selalu menunduk ketika berjalan, membuatnya begitu misterius bagi orang-orang yang sering berpapasan dengannya ataupun tetangga apartemen kumuhnya.
Tapi Bianca seolah tak peduli, saat ini dia hidup untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain ataupun untuk membahagiakan orang lain.
"Cepat pakai baju itu dan masukkan ke dalam sana untuk mengantarkan minuman itu!"
Bianca memungut baju yang tadi dilemparkan ke wajahnya. Hal seperti itu sudah sangat biasa baginya, jadi walaupun itu tampak merendahkannya, tak ada rasa sakit di dalam hatinya sama sekali.
Bianca mengganti bajunya dengan kemeja biru dilapisi blazer abu-abu dan rok pendek di atas lutut berwana senada. Rambutnya yang tadi tergerai kini di gulung rapi ke belakang.
Dia tak hanya sekali dua kali bekerja di tempat seperti itu. Bianca melakukan pekerjaan apapun asalkan dia bisa mengatakan uang.
Dengan mendorong troli berisi berisi beberapa botol minuman keras, Bianca masuk ke dalam sebuah ruangan VIP. Di sana Bianca harus melayani tamu-tamu berkantong tebal dengan baik karena tak jarang mereka memberikan tip untuknya.
Dalam keadannya saat ini, rasanya tak mungkin lagi bagi Bianca mengenai pandangan orang di luaran sana tentang pekerjaannya itu.
"Silahkan Tuan!" Bianca menuangkan minuman memabukkan itu ke dalam gelas.
"Terima kalah Nona manis!"
Sebenarnya Bianca muak mendengar pujian yang sebenarnya merendahkannya itu. Tapi dia tak punya pilihan lain. Dia hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya karena enggan menatap wajah-wajah menjijikkan mereka.
"Duduklah di sampingku Nona, aku akan memberikan banyak tip untukmu!"
Bianca hanya menurut, hanya sekedar duduk dan menemani pria-pria hidung belang seperti mereka sudah biasa baginya.
"Kau cantik juga Nona!" Tangan pria itu mengusap lutut Bianca hingga ke pahanya yang sedikit terbuka karena roknya yang cukup pendek.
"Maaf Tuan, anda terlalu lancang!" Bianca langsung berdiri menjauh dari pria itu. Dia menang ingin uang, tapi tidak dengan menjual dirinya.
"Jangan berlagak kau j*lang!" Pria itu menarik yangan Bianca.
"Lepas!" Bianca memberontak namun tenaga pria itu lebih kuat. Bianca di lampar ke sofa yang ada di ruangan itu.
Dengan sekuat tenaga Bianca ingin lari dari sana, namun pria itu kembali menahan Bianca dengan kuat.
"Lepaskan tanganmu Nick!!" Ucap seseorang yang ternyata sejak tadi memperhatikan Bianca dengan diam tanpa Bianca sadari.
"Lepaskan tanganmu Nick!!" Ucap seseorang yang ternyata sejak tadi memperhatikan Bianca dengan diam tanpa Bianca sadari.
Bianca menoleh pada pria yang kini menyambar tangannya dari tangan pria bernama Nick tadi.
"Kau menginginkannya?" Pria itu menyeringai tajam.
Tapi pria itu hanya diam kemudian menarik Bianca keluar dari ruangan itu. Langkahnya yang panjang begitu sulit untuk Bianca ikuti dengan tubuhnya yang terlihat mungil dibandingkan pria di depannya itu.
Bianca langsung menarik tangannya dengan kencang ketika mereka sudah agak menjauh dari ruangan tadi.
"Terima kasih sudah menolong saya Tuan. Permisi!"
Srett...
Pria tadi kembali menarik tangan Bianca hingga keduanya saling berhadapan.
"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini Bee? Kau mau menjual diri?"
Bianca mengangkat kepalanya untuk menatap pria yang sudah dia kali ai temui malam ini.
"Apa yang saya lakukan bukan urusan anda Tuan!" Suara Bianca terdengar begitu rendah dan dingin.
"Permisi!" Bianca memilih meninggalkan pria di hadapannya tadi karena merasa tidak ada urusannya sama sekali dengan pria itu di dalam hidupnya.
Sementara pria itu hanya menatap kepergian Bianca dengan tatapan yang begitu penasaran tentang Bianca.
"Sebenarnya apa yang terjadi dalam hidupmu Bee, kenapa kau bekerja di tempat seperti ini?"
Pria tadi menghubungi seseorang untuk mencari tau tentang Bianca selama delapan tahun terakhir yang tidak pernah ia ketahui.
Memang dia tau kalau keluarga Bianca jatuh setelah kasus korupsi itu, tapi dia tidak tau kalau Bianca sampai bekerja di tempat seperti ini.
Byuurr...
Bianca memejamkan matanya ketika wajahnya disiram dengan segelas air oleh pria yang tadi melemparkan pakaian ke wajahnya.
"Kau baru satu hari bekerja sudah berani membuat ulah hah?!!" Sentak pria di hadapannya itu.
"Kau tau? Dia adalah pelanggan VIP dan kau malah membuatnya marah. Kau memang tidak berguna!!"
"Saya minta maaf Tuan!"
"Pergilah dari sini, aku tidak butuh wanita sok jual mahal sepertimu!!"
Pria itu kembali melemparkan beberapa lembar uang ke wajah Bianca. Di hadapan pria itu, Bianca benar-benar seperti sampah yang tak berguna. Melempar baju ke wajahnya, menyiram air dan kini memberinya uang dengan cara yang sama. Didirnya benar-benar tidak pernah berharga di mata orang lain.
Tapi tak ada raut kemarahan di wajah yang tampak polos tanpa polesan make up itu. Wajah itu terlihat begitu datar tanpa linangan air mata meski dihina dan di rendahkan seperti itu.
"Terima kasih Tuan!" Bianca menunduk memungut uang tak seberapa yang ia dapatkan malam ini.
Bianca keluar dari club malam dengan celana jeans dan kemeja kebesaran sederhana yang ia kenalan tadi. Dia berjalan kaki menjauh dari sana menuju ke apartemennya tanpa berniat mencari taksi sama sekali. Uangnya tidak akan cukup untuk membayar taksi sedangkan untuk bus sudah tidak lagi beroperasi lewat tengah malam seperti ini.
Dia sudah sangat terbiasa berjalan begitu jauh saat tak punya uang seperti sekarang ini. Andai saja dulu Ayahnya tidak tersandung kasus korupsi, pasti hidupnya tidak akan seperti sekarang ini. Dia pasti masih menjadi putri kaya raya yang bisa melakukan apapun tanpa harus bersusah payah.
Tapi meski kasus itu sudah delapan tahun berlalu, Bianca yakin kalau Ayahnya tidak pernah berbuat seperti yang dituduhkan sampai harus menanggung kurungan penjara dua puluh tahun lamanya.
Bianca tau betul seperti apa Ayahnya. Dia tau kalau Ayahnya orang yang jujur dan selalu mementingkan kepentingan orang lain. Tapi entah mengapa, hari itu semua bukti tertuju pada Ayahnya.
Sudah berulang kali Ayahnya mencoba untuk membela diri, mengumpulkan bukti kalau memang Ayahnya tidak bersalah, tapi semua itu nihil. Ayahnya tetap berakhir di penjara dengan semua tuduhan dan bukti palsu itu.
Sejak saat itu, hidup Bianca hancur. Dia serta Ibu dan Kakaknya harus pergi dari rumah yang ia tempati sejak kecil. Rumah yang dibangun Ayahnya untuk Ibunya setelah pernikahan mereka. Bianca benar-benar berasa dititik terendah saat itu tanpa ada orang yang mau membantu keluarga mereka sama sekali.
Korupsi memang kasus paling rendahan apalagi Ayahnya adalah seorang politikus. Tapi orang-orang tak bisa melihat kebenaran itu. Mereka semua hanya bisa melihat bukti yang bisa saja memang direkayasa untuk menjatuhkan Ayahnya. Bagi mereka semua, melihat keluarga pelaku korupsi menderita dan tidak punya apa-apa adalah hal yang membahagiakan.
🌻🌻🌻
Elgard menerima berkas yang diberikan oleh orang suruhannya untuk mencari tau tentang apa yang terjadi pada Bianca dan keluarganya selama ini.
"Jelaskan secara singkat apa yang kau temukan tentang Bianca dan keluarganya!" Perintahnya dengan kuasa.
"Setelah kasus korupsi waktu itu, Tuan Tomy Jhonson ditangkap polisi dan dihukum dua puluh tahun kurungan penjara. Sedangkan Nona Bianca dan Ibunya serta Kakak kandungnya harus keluar dari kediaman mereka dan tinggal di apartemen kumuh. Selang tiga bulan Tuan Tomy di dalam penjara, beliau mengakhiri hidupnya!"
"Apa? Jadi Ayah Bianca sudah meninggal?"
"Benar Tuan. Karena kabar Tuan Tomy yang meninggal karena mengakhiri hidupnya, Nyonya Tatiana mengalami gangguan jiwa. Jadi selama ini Nyonya Tatiana dirawat di rumah sakit jiwa sampai beberapa hari yang kalau akhrinya dinyatakan meninggal dunia karena kesehatannya yang menurun!"
Elgard bersandar dengan lemah. Dia tak menyangka kalau kedua orang tua Bianca sudah meninggal dunia. Terlebih tentang Ayahnya yang memilih mengakhiri hidupnya dan Ibunya yang menjadi gila.
"Lalu dimana Kakaknya, Davis Jhonson?"
"Saat ini dia ada di dalam penjara karena kasus penggunaan obat-obatan terlarang Tuan. Hukumannya tujuh tahun dan baru berjalan tiga tahun!"
Elgard memijat pangkal hidungnya. Dia tak menyangka kalau hidup Bianca begitu berat dan Elgard tidak tau apa-apa sama sekali.
Rasa bersalah langsung menyeruak di dalam dadanya. Dulu dia memang terpaksa menerima pertunangan dengan Bianca, dia tidak mencintai wanita itu, tapi seharusnya Elgard tidak lepas tangan dan meninggalkannya begitu saja setelah perjodohan mereka batal.
"Sekarang apa yang Bianca lalukan? Kenapa dia bekerja di tempat seperti itu?"
"Nona Bianca sebenarnya tidak hanya bekerja di tempat itu Tuan. Itu hanya pekerjaan sampingannya saja. Banyak sekali yang dilakukan Nona Bianca untuk mendapatkan uang, menjadi pelayan, memakai kostum maskot, terkadang juga menjadi pengantar makanan. Semua itu Nona Bianca lakukan untuk mendapatkan uang uang ia gunakan untuk membayar biaya perawatan Ibunya dan membayar semua hutang Kakaknya yang dibebankan kepadanya"
"Kau tau dimana apartemen Bianca saat ini?"
"Ada di dalam dokumen itu Tuan, saya sudah merangkum semuanya dengan rinci!"
"Baiklah, kau boleh pergi!"
"Permisi Tuan!"
"Hmm!"
"Sialan, apa gunanya pria itu!" Elgard memaki Davis yang menurutnya menjadi pria tak berguna setelah membaca semua tentang Bianca yang tidak ia ketahui selama ini.
"Apa yang kau pikirkan Baby?"
Elgard menatap wine yang disodorkan di hadapannya.
"Tidak!" Elgard membantahnya dengan senyum tipis. Tidak mungkin dia mengatakan pada kekasihnya itu kalau dia bertemu Bianca beberapa hari yang lalu.
Kekasihnya pasti akan marah dan merasa cemburu karena dulu hubungan mereka sempat berakhir karena pertunangannya dengan Bianca.
"Sejak tadi kau terus saja melamun, apa ada pasien yang membuatmu terus memikirkannya sejak tadi?"
Elgard memang seorang dokter spesialis jantung di rumah sakit milik keluarganya sendiri. Selain itu, dia juga menjabat sebagai direktur rumah sakit.
"Tidak ada Honey!" Elgar mengacak rambut kekasihnya dengan gemas.
Dia adalah Meriana Alexander, seorang model papan atas yang telah menjadi kekasihnya sejak kuliah dulu. Dia juga wanita yang menjadi alasan kenapa dia tidak bisa menerima Bianca waktu itu.
Bianca sendiri tau kalau Elgard menjalin hubungan dengan Meriana, namun hubungan mereka harus berakhir setelah pertunangan dengan Bianca terjadi. Tapi begitu pertunangan itu batal, Elgard kembali mengejar Meriana, dan kini hubungan mereka masih bertahan sampai sekarang, sampai usia mereka hampir menginjak tiga puluh tahun.
"Oh ya, managerku bilang kalau pesta kejutan yang kau siapkan minggu lalu secara private itu sudah bocor ke media karena ternyata ada paparazi yang mengikuti dan berhasil mengambil gambar kita!"
"Biarkan saja, toh aku sejak dulu memang ingin kita terbuka soal hubungan kita, tapi kau yang selalu tidak mau!"
Meriana selalu menolak mempublikasikan hubungan mereka dengan alasan Meriana tidak mau dikenal banyak orang sebagai kekasih dari Elgard Rodriguez. Dia ingin orang-orang mengenalnya sebagai Meriana, model terkenal yang menjadi brand ambasador produk-produk ternama karena usahanya sendiri.
"Itu dulu Baby, kalau sekarang semua orang sudah tau siapa aku!"
"Jadi sekarang kau tidak menolak kalau aku mempublikasikan hubungan kita?"
"Tentu saja. Lagipula Ibumu sudah mendesak kita untuk segera menikah! Mungkin mengumumkan pertunangan segera resmi dulu lebih baik!"
"Baiklah kalau itu maumu!" Memang itu yang Elgard tunggu dari dulu. Meriana mau menjadi istrinya dan melepas pekerjaannya sebagai model.
"Tapi kau harus ingat, setelah kita menikah kau harus berhenti dari dunia modeling. Kau bisa mencari kesibukan lain asal jangan mempertontonkan tubuhmu itu di hadapan kamera. Aku tidak suka tubuhmu dilihat orang lain lagi!"
"Babe, kita sudah sepakat dari awal kalau hubungan kita tidak akan pernah mengganggu karirku. Kau tau sendiri menjadi model terkenal adalah impianku. Kita bisa menikah tanpa mengganggu pekerjaanku!"
"Lalu bagaimana urusan soal anak kalau kau terus mementingkan profesimu itu. Oke aku bisa memaklumimu kalau kau mau tetap bekerja. Tapi anak juga prioritas!"
"Kalau masalah anak, kita bicarakan nanti saja. Sampai saat ini aku bahkan belum berpikir untuk memiliki anak!"
"Sudahlah Meri, kita tidak akan pernah selesai membahas soal ini. Sering kali kita jadi bertengkar setelah karena masalah ini!" Elgard berdiri merapikan jasnya.
"Kalau sudah tau seperti itu, kenapa kau terus saja membahas soal pernikahan dan anak?!"
"Sudahlah, aku pergi dulu!" Elgard tak lupa mengecup bibir Meriana sebelum pergi dari apartemen kekasihnya itu.
Dia lebih memilih menghindar saat mereka sudah berdebat seperti tadi. Elgard tidak mau perdebatan mereka berbuntut pertengkaran karena Meriana memang tidak pernah suka dengan keinginan Elgard.
Saat Elgard keluar dari basement apartemen Kekasihnya itu, dia tak sengaja melihat seseorang yang ia kenal keluar dari lobi apartemen.
"Bianca? Kenapa dia ada di sini?" Gumam Elgard melihat Bianca yang berjalan kaki menjauh dari apartemen.
Entah apa yang Elgard lakukan, dia malah mengikuti Bianca dari jarak yang cukup jauh dengan mobilnya. Tapi dari posisi Elgard saat ini, dia masih bisa melihat Bianca anca yang berjalan pelan sembari menundukkan kepalanya. Penampilannya masih seperti saat ia menariknya dari ujung gedung.
Celana jeans dengan kemeja kebesaran dan juga sepatu cats. Rambutnya diikat dengan asal ke belakang hingga meninggalkan kesan sedikit berantakan.
Elgard heran karena Bianca sudah berjalan begitu jauh. Melewati beberapa halte bus namun Bianca masih terus berjalan. Wanita itu juga tidak berbuat menghentikan taksi sama sekali.
Tapi Elgard masih berpikir kalau mungkin saja Bianca ingin menuju ke stasiun bawah tanah untuk menuju ke apartemennya.
Bicara masalah apartemen Bianca, Elgard belum sempat melihatnya ke sana. Pekerjaannya cukup banyak beberapa hari ini, ditambah jadwal operasi membuatnya cukup sibuk. Namun tadi dia menyempatkan diri untuk menemui kekasihnya yang baru saja kembali dari luar negeri.
Bianca masuk ke dalam sebuah minimarket ketika sudah hampir tiba di apartemennya sebentar lagi. Dia ingin membeli sesuatu untuk mengganjal perutnya yang sudah terasa perih setelah bekerja membersihkan apartemen.
Tapi sayangnya, dia tidak bisa membeli makanan yang lebih mengenyangkan baginya karena tadi dia tidak menerima upah sama sekali. Uang gajinya dari membersihkan apartemen setiap minggu telah ia terima beberapa hari yang lalu untuk membayar sebagian tagihan rumah sakit.
Bianca mengambil satu cup mie instan dan juga satu kotak susu kecil. Mungkin itu bisa membuat perutnya sedikit tenang sampai besok pagi.
Dia menunggu antrian di belakang orang tanpa berani mengangkat wajahnya. Meski kasus korupsi Ayahnya sudah delapan tahun yang lalu, tapi trauma akan hujatan orang-orang yang mengenalinya masih begitu dalam. Bertemu banyak orang seolah menjadi ketakutan sendiri bagi Bianca. Dia takut kalau orang-orang akan kembali mengenalinya.
"Kabar kedekatan model papan atas Meriana Alexander dengan putra dari keluarga Rodriguez tanpaknya sudah bukan rahasia umum lagi. Beberapa waktu yang lalu, Elgard Rodriguez yang digadang-gadang sebagai kekasih dari Meriana itu tanpak memberikan kejutan ulang tahun untuk Meriana. Kabarnya, mereka juga akan melambungkan pertunangan tidak lama lagi!"
"Wah, mereka benar-benar pasanga yang cocok!"
"Benar, keduanya tanpak sangat sempurna!"
Bianca mendengar berita dari televisi itu, namun dia tak bereaksi sama sekali. Dia hanya diam bahkan tak menoleh sedikitpun ke arah televisi yang sedang menampilkan wajah dua orang yang menjadi topik utama dalam berita itu.
Tit...
Bianca menscan kode untuk membayar makanannya tadi. Tapi ternyata saldo yang miliknya tidak cukup.
Orang yang mengantri di belakang Bianca sudah berbisik-bisik membicarakan Bianca.
"Maaf, saya tidak jadi membelinya!" Bianca meletakkan kembali mie dan susu yang ia beli tadi di depan kasir. Dia ingin pergi dari sana dengan rasa malu dan juga miris pada dirinya sendiri karena sudah tidak mampu untuk sekedar membeli makanan seperti itu.
Tit...
Tapi tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan ponsel membayar milik Bianca tadi.
Bianca terkejut, apalagi melihat Elgard adalah orang yang telah membayar makanan miliknya.
"Ayo!!" Elgard menarik Bianca sembari membawa mie dan susu tadi keluar dari minimarket itu.
"Bukankah pria itu Elgard? Kenapa dia bisa ada di sini?"
"Woah, dia ternyata sangat tampan!"
"Tapi siapa wanita itu?!" Orang-orang di dalam minimarket masih membicarakan Elgard yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.
"Lepaskan!" Bianca menghentakkan tangannya setelah menjauh dari minimarket. Dia juga langsung berbalik pergi meninggalkan pria tadi.
"Mau kemana Bee, ini milikmu. Bawalah!"
"Itu milik anda karena anda yang membayarnya!" Bianca terus berjalan menghindari Elgard.
"Tunggu Bee!" Elgard menghalangi jalan Bianca.
"Bawalah, kau pasti lapar!" Elgard menarik tangan Bianca untuk menerima mie dan susu tadi. Namun Bianca langsung menarik tangannya sehingga membuat keduanya jatuh.
"Maaf Tuan, saya tidak membutuhkannya lagi! Permisi!"
"Tunggu Bee! Bee!!" Elgard ingin mengejar Bianca namun dia mendapatkan panggilan darurat dari rumah sakit.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!