Indonesia
NovelToon NovelToon

Dinikahi Sang Duda Kaya

​Bab 1: Ultimatum Sang Kakek

​"Mana otak kamu?! Di dengkul?!"

​Suara Kiana menggelegar, memantul di antara dinding-dinding seng gudang logistik yang panas. Karyawan yang dimarahinya, seorang mandor bertubuh tambun bernama Pak Ujang, hanya bisa menunduk dalam-dalam. 

Keringat sebesar biji jagung mengalir deras di pelipisnya, bukan karena panasnya udara Jakarta siang itu, tapi karena tatapan Kiana yang lebih tajam dari silet.

​"Sudah berapa kali saya bilang, Pak? Barang dengan kode merah itu pecah belah! Kenapa malah ditumpuk di bawah peti mesin jahit? Bapak mau bikin saya rugi ratusan juta hari ini juga?"

​Kiana tidak sekadar berteriak. Dia menendang peti kayu di hadapannya dengan ujung stiletto hitamnya. Bunyi brakk yang nyaring membuat puluhan kuli angkut di gudang Elva Express itu menghentikan aktivitas mereka. Hening seketika. Tidak ada yang berani bernapas.

​"Maaf, Bu Kiana... a-anu, tadi anak baru yang salah taruh. Saya nggak sempat cek lagi," Pak Ujang mencoba membela diri dengan suara gemetar.

​"Nggak sempat cek?" Kiana tertawa sinis, suaranya dingin menusuk tulang. Dia melangkah maju, memangkas jarak hingga mandor itu mundur ketakutan. "Tugas Bapak di sini itu mengawasi! Kalau Bapak nggak sempat cek, lalu apa gunanya saya bayar gaji Bapak setiap bulan? Buat ongkang-ongkang kaki sambil ngopi di pos satpam?"

​Kiana menyambar papan jalan yang dipegang Pak Ujang. Matanya memindai daftar inventaris dengan kecepatan kilat. "Minggir."

​Tanpa menunggu jawaban, Kiana menggulung lengan kemeja sutra putihnya sampai siku. Dia tidak peduli kalau debu gudang akan mengotori pakaian mahalnya. Dengan cekatan, dia menunjuk tiga orang kuli di dekatnya.

​"Kamu, kamu, dan kamu! Pindahkan tumpukan A-4 ke lorong sebelah. Sekarang! Dan hati-hati, kalau ada satu goresan saja di keramik impor itu, saya potong gaji kalian tiga bulan!"

​"Siap, Bu!" seru mereka serempak, langsung berlari pontang-panting mengerjakan perintah.

​Kiana menghela napas kasar, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Menjadi CEO wanita di industri logistik yang didominasi laki-laki itu tidak mudah. Dia harus dua kali lebih galak, tiga kali lebih teliti, dan sepuluh kali lebih gila kerja daripada orang lain. Jika dia lengah sedikit saja, bisnis yang dibangun dengan darah dan air mata ini akan dianggap remeh.

​Ponsel di saku celana bahannya bergetar panjang. Kiana melirik layar. Nama 'Dokter Gunawan' tertera di sana. Jantung Kiana mencelos.

​Dia segera menggeser tombol hijau, mengabaikan Pak Ujang yang masih berdiri mematung seperti orang bodoh.

​"Halo, Dok? Kenapa? Kakek kenapa lagi? Jangan bilang dia pura-pura sakit jantung lagi cuma karena mau minta durian?" cecar Kiana langsung tanpa basa-basi.

​Suara di seberang sana terdengar panik dan berat. "Bu Kiana, ini bukan main-main. Pak Adijaya kolaps lima belas menit yang lalu. Kami sedang membawanya ke ICU RS Medika Sentra. Detak jantungnya tidak stabil."

​Dunia di sekitar Kiana seolah berhenti berputar. Suara bising forklift dan teriakan para kuli mendadak menjadi dengungan jauh. Wajah Kiana yang tadi merah karena marah, kini pucat pasi.

​"Saya ke sana. Sekarang," desis Kiana. Dia mematikan sambungan telepon dan langsung berbalik.

​"Pak Ujang!" teriaknya sambil berlari kecil menuju pintu keluar. "Bereskan kekacauan ini atau Bapak jangan harap bisa masuk kerja besok! Saya mau laporan beres di email saya jam lima sore!"

​Tanpa menunggu jawaban, Kiana menyambar kunci mobilnya dari atas meja admin. Dia memacu langkahnya keluar dari gudang yang pengap, masuk ke dalam SUV putihnya yang terparkir miring, dan menginjak gas dalam-dalam. Ban mobil berdecit nyaring saat Kiana membelah jalanan pelabuhan yang berdebu.

​Pikirannya kalut. Adijaya adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Orang tua Kiana sudah meninggal sejak dia kecil, dan Kakek Adijaya-lah yang membesarkannya dengan tangan besi. Meski tua bangka itu sering membuatnya kesal dengan aturan-aturan kuno, Kiana tidak siap kehilangan dia. Belum sekarang.

​Lampu indikator ICU menyala merah menyilaukan. Bau obat-obatan yang tajam langsung menusuk hidung begitu Kiana menerobos masuk ke area tunggu VIP. Dia melihat Dokter Gunawan baru saja keluar dari ruang rawat, melepas maskernya dengan wajah lelah.

​"Dok!" Kiana setengah berlari, napasnya memburu. "Gimana Kakek? Dia baik-baik saja, kan? Dia cuma butuh istirahat, kan?"

​Dokter Gunawan menatap Kiana dengan pandangan iba yang membuat perut Kiana mulas. "Kondisinya sudah stabil untuk saat ini, Bu Kiana. Tapi jantungnya... yah, Bapak sudah tua. Stres sedikit saja bisa fatal. Bapak sudah sadar dan memaksa ingin bicara dengan Ibu. Cuma Ibu."

​Kiana mengangguk cepat. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu mendorong pintu ruang rawat inap VVIP itu.

​Di atas ranjang pasien yang dikelilingi berbagai monitor berbunyi bip-bip ritmis, Pak Adijaya terbaring lemah. Selang oksigen menempel di hidungnya. Wajah keriput yang biasanya garang itu kini terlihat abu-abu dan rapuh. Hati Kiana sakit melihatnya.

​"Kek..." panggil Kiana pelan, mendekat ke sisi ranjang. Dia menggenggam tangan tua yang penuh bercak penuaan itu. "Kiana di sini. Jangan bikin kaget orang kenapa sih, Kek?"

​Mata Pak Adijaya terbuka perlahan. Meski tubuhnya lemah, sorot matanya masih tajam, menyala dengan sisa-sisa otoritas yang biasa dia gunakan untuk memimpin Adijaya Group.

​"Kamu... lama sekali..." suara Kakek parau, terdengar seperti gesekan kertas pasir.

​"Macet, Kek. Jakarta kan isinya mobil semua," jawab Kiana, berusaha tersenyum meski matanya terasa panas. "Kakek istirahat ya. Jangan mikirin kantor dulu. Ada Kiana."

​Pak Adijaya menggeleng lemah. Cengkeramannya di tangan Kiana tiba-tiba menguat, mengejutkan wanita itu. "Waktuku nggak banyak, Kiana. Jangan potong omongan Kakek."

​Kiana terdiam, menelan ludah. "Oke. Kakek mau ngomong apa?"

​"Saham Adijaya Group..." Kakek terbatuk pelan, membuat monitor di sebelahnya berbunyi lebih cepat. Kiana hendak memanggil dokter, tapi Kakek menahannya. "Dengar dulu! Rapat pemegang saham umum akan diadakan bulan depan. Kalau sampai saat itu kondisi Kakek begini terus, dewan direksi bakal mendesak penggantian kepemimpinan."

​"Ya sudah, kan ada Kiana," potong Kiana cepat. "Kiana cucu Kakek. Kiana yang selama ini urus operasional di balik layar."

​"Mereka nggak akan terima pemimpin perempuan yang lajang, Kiana!" bentak Kakek, suaranya naik satu oktaf sebelum terbatuk lagi. Napasnya tersengal. "Apalagi... apalagi status jandamu itu masih jadi bahan gosip."

​Kiana melepaskan tangan Kakek, mundur selangkah. Kata 'janda' itu selalu berhasil menyulut sumbu amarah di dadanya. "Zaman apa ini, Kek? Kiana sudah buktikan Kiana mampu! Elva Express untung besar tahun ini!"

​"Itu perusahaan mainanmu, bukan Adijaya Group!" Kakek menatapnya tajam. "Kalau kamu tidak bisa mengamankan posisi, mereka akan menunjuk Rio."

​"Rio?" Kiana tertawa tidak percaya. "Sepupu gila judi itu? Yang bulan lalu baru saja menghabiskan dua miliar buat kalah di kasino Singapura? Kalau perusahaan jatuh ke tangan Rio, Adijaya Group bakal bangkrut dalam seminggu, Kek! Kakek sadar nggak sih?"

​"Kakek tahu!" sergah Pak Adijaya. "Justru karena Kakek tahu, Kakek nggak mau itu terjadi. Tapi Rio punya dukungan pamanmu. Dan dia laki-laki. Di mata pemegang saham tua bangka itu, dia lebih stabil daripada kamu."

​Kiana mengepal tangannya erat-erat hingga kukunya memutih. Ketidakadilan ini membuatnya muak. "Terus Kakek mau Kiana ngapain? Suap mereka?"

​Pak Adijaya menatap langit-langit kamar, lalu kembali menatap Kiana dengan serius. "Menikah."

​Satu kata itu jatuh seperti bom di ruangan yang sunyi.

​"Apa?" Kiana melongo.

​"Menikah, Kiana. Dalam tiga puluh hari ini. Sebelum Rapat Umum Pemegang Saham," ulang Kakek tegas, seolah sedang memesan nasi goreng. "Cari suami yang bonafid. Yang punya nama baik. Yang bisa bikin posisi kamu terlihat stabil dan kuat. Kalau kamu punya suami, Kakek bisa alihkan seluruh hak suara Kakek ke kamu tanpa ada yang protes."

​"Kakek gila," desis Kiana, menggelengkan kepala. "Kakek lupa apa yang terjadi tiga tahun lalu? Kakek lupa bajingan bernama Radit itu hampir bikin Kiana masuk penjara gara-gara dia memalsukan tanda tangan Kiana buat utang?"

​Bayangan masa lalu itu berputar cepat di kepala Kiana. Radit, mantan suaminya yang berwajah malaikat tapi berhati iblis. Pria yang dia cintai setengah mati, yang ternyata hanya mencintai uangnya. 

Pernikahan mereka hancur berantakan ketika Kiana memergoki Radit menilap dana perusahaan untuk membiayai selingkuhannya. 

Trauma dikhianati, dimanfaatkan, dan dipermalukan di pengadilan masih membekas seperti luka bakar di batin Kiana.

​"Nggak semua laki-laki seperti Radit," kata Kakek, nadanya melunak sedikit tapi tetap menuntut.

​"Semua sama saja, Kek! Mereka cuma mau uang! Kiana nggak butuh laki-laki buat memimpin perusahaan. Kiana bisa sendiri!" teriak Kiana frustasi. Air mata kemarahan sudah menggenang di pelupuk matanya.

​"Ini bukan soal butuh atau tidak, ini soal politik bisnis!" Kakek kembali keras. Dia menunjuk Kiana dengan jari telunjuk yang gemetar. "Pilihannya cuma dua. Kamu menikah dalam 30 hari dan selamatkan warisan orang tuamu, atau biarkan Rio dan pamanmu menjual perusahaan ini potong demi potong untuk bayar utang judi!"

​"Kakek tega maksa Kiana?"

​"Kakek lakukan ini demi kamu! Supaya kamu punya pelindung!"

​"Pelindung?" Kiana tertawa getir. "Pelindung terbaik buat wanita itu rekening bank yang tebal dan aset atas nama sendiri, Kek. Bukan suami!"

​"Cukup!" bentak Kakek. Monitor jantungnya berbunyi nyaring, bip-bip-bip-bip. Wajahnya memerah padam. "Keputusan Kakek mutlak. Kalau bulan depan kamu datang ke rapat sendirian, Kakek sendiri yang akan tanda tangan penyerahan kuasa ke Rio. Biar hancur sekalian!"

​Kiana ternganga. Dia tidak percaya kakeknya sendiri mengancam akan menghancurkan jerih payah seumur hidupnya hanya karena ego patriarki sialan ini.

​Dada Kiana naik turun menahan emosi. Dia ingin berteriak, ingin membanting vas bunga di meja, tapi melihat kondisi Kakek yang terengah-engah, dia menelannya kembali. 

Rasa sayang dan rasa benci bercampur aduk menjadi gumpalan pahit di tenggorokannya.

​"Terserah Kakek," ucap Kiana dingin. Dia berbalik badan. "Istirahatlah. Kiana mau cari udara segar. Di sini pengap."

​Tanpa menoleh lagi, Kiana menyambar tasnya dan melangkah cepat keluar ruangan. Dia membanting pintu kamar rawat inap itu cukup keras hingga suster yang berjaga di meja depan terlonjak kaget.

​Kiana berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit yang panjang dan dingin. Sepatu hak tingginya beradu keras dengan lantai marmer, menciptakan gema yang seirama dengan detak jantungnya yang kacau.

​Menikah dalam 30 hari? Lelucon macam apa itu? Siapa yang mau menikahi wanita gila kerja sepertinya dalam waktu sesingkat itu tanpa motif harta? Mencari pacar saja Kiana tidak sempat, apalagi suami!

​"Sialan... sialan..." umpat Kiana pelan sambil merogoh tasnya, mencari ponsel untuk menelepon asistennya. Dia butuh kopi. Dia butuh strategi. Dia butuh...

​BRUK!

​Karena terlalu sibuk mengaduk tas, Kiana tidak melihat orang yang berjalan dari arah berlawanan di tikungan koridor. Dia menabrak dada bidang seseorang dengan keras hingga ponselnya terlempar ke lantai.

​"Aduh! Kalau jalan pakai mata dong!" sembur Kiana reflek, langsung berjongkok memungut ponselnya. Untung tidak retak.

​"Masih galak seperti biasa, ya? Padahal aku kangen suara lembutmu waktu kita bulan madu dulu."

​Gerakan tangan Kiana terhenti di udara. Tubuhnya membeku.

​Suara itu.

​Suara bariton yang halus, sedikit serak, dan penuh kepalsuan yang sangat dia kenal. Bau parfum musk mahal yang dulu pernah dia belikan sebagai hadiah ulang tahun kini menusuk indra penciumannya, membangkitkan memori paling kelam dalam hidupnya.

​Perlahan, Kiana mendongak. Dia berdiri tegak, matanya menyipit tajam menatap sosok pria di hadapannya.

​Radit berdiri di sana, bersandar santai di dinding koridor rumah sakit dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana bahan yang licin. Dia mengenakan setelan jas biru tua yang pas badan, rambutnya ditata rapi dengan pomade. Senyum miring yang dulu membuat Kiana jatuh cinta, kini terlihat seperti seringai ular berbisa.

​"Ngapain kamu di sini?" desis Kiana, suaranya rendah dan berbahaya. "Uang pesangon cerai yang aku kasih kurang? Atau kamu mau jual ginjal buat bayar utang judimu?"

​Radit terkekeh pelan. Dia melangkah maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka. 

Kiana tidak mundur. Dia bukan lagi istri penurut yang dulu. Dia menatap Radit dengan nyalang.

​"Jangan kasar begitu, Sayang. Aku ke sini jenguk Kakek. Bagaimanapun juga, dia pernah jadi kakek mertuaku," kata Radit santai. Matanya menelusuri wajah Kiana dengan tatapan yang membuat Kiana ingin mandi kembang tujuh rupa. "Dan kebetulan... aku dengar sedikit pembicaraan seru dari celah pintu tadi. Telingaku kan tajam."

​Wajah Kiana menegang. "Kamu menguping?"

​"Nggak sengaja," elak Radit sambil mengangkat bahu. "Tapi intinya menarik. Kakekmu butuh cucu mantu, dan kamu butuh suami boneka untuk mengamankan saham."

​Radit mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Kiana. Kiana bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu yang menjijikkan.

​"Kudengar kau butuh suami? Aku siap rujuk demi saham itu, Kiana," bisik Radit dengan nada menggoda yang beracun. "Kita tim yang hebat dulu, kan? Aku tahu rahasiamu, kamu tahu... kemampuanku. Kita bagi hasil saja. Lima puluh lima puluh. Gimana?"

​Kiana mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kukunya menancap ke telapak tangan, siap mendaratkan tamparan ke wajah sok ganteng itu.

​Bab 2: Kandidat yang Mustahil

​"Carikan saya suami. Syaratnya cuma satu: napasnya masih ada dan dia nggak butuh uang saya."

​Kalimat itu meluncur dari bibir Kiana bersamaan dengan tumpukan berkas yang dia lempar ke atas meja mahoni di ruang kerjanya. Kertas-kertas profil pria lajang itu berhamburan, melayang di udara sebelum mendarat acak di lantai karpet yang tebal.

​Sinta, asisten pribadi Kiana yang sudah bekerja selama lima tahun, membelalakkan mata di balik kacamata tebalnya. Dia memeluk tablet erat-erat di dada, seolah benda itu adalah tameng dari amukan bosnya.

​"Maaf, Bu... Ibu serius?" cicit Sinta, suaranya nyaris tak terdengar tertelan dengungan air purifier di ruangan itu.

​"Apa muka saya kelihatan lagi ngelawak, Sinta?" Kiana menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja kulitnya yang besar. Dia memijat pangkal hidungnya yang terasa mau pecah. Pertemuan dengan Radit di rumah sakit tadi masih menyisakan rasa mual di perutnya. 

"Kakek kasih waktu tiga puluh hari. Tiga puluh hari, Sinta! Kalau dalam sebulan saya nggak bawa buku nikah ke hadapannya, si Rio bakal duduk di kursi ini sambil main judi online!"

​Sinta buru-buru berlutut, memunguti kertas-kertas yang berserakan dengan tangan gemetar. "T-tapi Bu, mencari suami yang 'aman' dalam waktu sebulan itu susah. Ibu kan tahu sendiri, di lingkaran bisnis Jakarta, laki-laki itu cuma ada dua tipe: kalau nggak buaya darat, ya buaya buntung yang mau numpang hidup."

​"Makanya saya bayar kamu mahal buat mikir!" sembur Kiana. Dia menegakkan tubuh, menatap asistennya tajam. "Mana data yang saya minta di jalan tadi? Jangan bilang kamu cuma bengong waktu saya ngebut dari rumah sakit?"

​"Sudah, Bu! Sudah saya siapkan!" Sinta buru-buru berdiri dan meletakkan tabletnya di hadapan Kiana. Layar tablet itu menampilkan sederet foto pria dengan biodata singkat.

​Kiana menggeser layar dengan jari telunjuknya, wajahnya makin lama makin keruh.

​"Ini apa?" Kiana menunjuk foto seorang pria dengan kemeja terbuka dada yang sedang memegang gelas anggur.

​"Itu... Reno, Bu. Anak pemilik tambang batu bara di Kalimantan. Orangnya asik, party goer, dan pastinya kaya raya. Jadi nggak mungkin incar harta Ibu," jelas Sinta antusias.

​"Reno ini mantannya selebgram yang kemarin viral karena selingkuh sama lima cewek sekaligus, kan?" potong Kiana dingin. "Kamu mau saya kena penyakit kelamin sebelum sempat tanda tangan warisan? Next."

​Sinta menelan ludah. "Kalau yang ini? Dokter spesialis bedah plastik. Duda, kalem, religius..."

​"Skip. Matanya terlalu dekat. Saya nggak suka," potong Kiana asal. Sebenarnya dia tahu dokter itu punya hobi aneh mengoleksi boneka porselen yang menyeramkan. Dia tidak butuh drama horor di rumahnya.

​"Oke, kalau yang ini? Masih muda, CEO startup teknologi, namanya..."

​"Kevin? Yang startup-nya baru saja PHK massal minggu lalu?" Kiana mendengus kasar, mendorong tablet itu menjauh. "Dia pasti cari istri kaya buat suntik modal. Coret. Semuanya sampah, Sinta! Nggak ada yang beres!"

​Kiana berdiri, berjalan mondar-mandir di depan jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta. Napasnya memburu. 

Dia butuh solusi, bukan masalah baru. Menikah dengan pria yang salah hanya akan membawanya kembali ke lubang neraka seperti saat bersama Radit. 

Dia butuh boneka. Boneka yang tampan, punya reputasi bagus, tapi tidak punya hati.

​"Jam berapa rapat Asosiasi Pengusaha Logistik dimulai?" tanya Kiana tiba-tiba, mengalihkan topik karena kepalanya terlalu pening memikirkan jodoh.

​Sinta melirik jam tangannya dengan panik. "Aduh! Tiga puluh menit lagi, Bu! Di Hotel Grand Orion. Kalau kita nggak berangkat sekarang, Ibu bakal telat. Pak Gavin Ardiman pasti bakal pakai kesempatan ini buat..."

​"Jangan sebut nama dia," potong Kiana tajam.

​Nama itu seperti bensin yang disiramkan ke api amarahnya. Gavin Ardiman. CEO Ardiman Logistics. Pesaing utamanya. Pria yang bulan lalu baru saja merebut tender pengiriman kargo pemerintah dari tangan Kiana dengan selisih harga yang sangat tipis.

​"Siapkan mobil. Saya butuh pelampiasan emosi. Berdebat sama Gavin sepertinya olahraga yang pas buat sore ini," ucap Kiana sambil menyambar blazernya.

***

​Suasana di ballroom Hotel Grand Orion terasa dingin, dan itu bukan karena pendingin ruangan yang dipasang maksimal. Ketegangan memancar dari meja bundar besar di tengah ruangan, tempat para raksasa logistik duduk berhadapan.

​"Saya tidak setuju," suara bariton yang tenang namun menusuk itu memecah keheningan.

​Gavin Ardiman duduk di seberang Kiana. Pria itu tampak sempurna secara visual, terlalu sempurna bahkan. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang tanpa ada satu helai pun yang keluar jalur. Setelan jas abu-abu charcoal yang dikenakannya pas badan, membungkus bahu lebarnya dengan elegan. Wajahnya tampan, dengan rahang tegas dan mata setajam elang, tapi ekspresinya sedingin es batu di kutub utara.

​"Alasan Bapak apa menolak usulan saya?" tantang Kiana. Dia mencondongkan tubuh ke depan, menatap lurus ke mata Gavin. "Rute laut yang saya ajukan bisa memangkas biaya pengiriman sampai dua puluh persen. Itu menguntungkan kita semua."

​Gavin mengetukkan pena mahal di atas meja dengan tempo pelan yang menyebalkan. "Menguntungkan Elva Express, maksud Anda? Rute itu melewati tiga pelabuhan yang dikelola oleh anak perusahaan keluarga Anda, Bu Kiana. Jangan kira saya tidak membaca fine print dalam proposal itu."

​Kiana menggertakkan gigi. Sialan. Matanya jeli sekali.

​"Itu namanya sinergi bisnis, Pak Gavin. Sesuatu yang mungkin Bapak tidak paham karena Ardiman Logistics terlalu sibuk memonopoli jalur darat," balas Kiana pedas.

​Beberapa pengusaha tua di meja itu berdehem canggung, pura-pura sibuk membaca berkas. Pertengkaran antara "Ratu Logistik" dan "Raja Kargo" ini sudah jadi tontonan rutin setiap bulan.

​Gavin tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. Senyum meremehkan. "Saya tidak memonopoli. Saya hanya menawarkan efisiensi yang tidak bisa diberikan oleh kompetitor yang... emosional."

​"Emosional?" Kiana nyaris menggebrak meja. "Anda bilang saya emosional cuma karena saya perempuan?"

​"Saya tidak bilang begitu. Anda sendiri yang menyimpulkan," jawab Gavin santai, lalu dia kembali fokus pada tabletnya, menganggap Kiana sudah tidak ada.

​Kiana mengepalkan tangan di bawah meja. Kalau saja membunuh orang itu legal, Gavin sudah dia jadikan ganjalan ban truk kontainernya sekarang juga. Pria itu angkuh, kaku, dan merasa paling benar sendiri. Tipe manusia yang paling Kiana benci.

​Tiba-tiba, dengungan panjang terdengar. Ponsel Gavin yang tergeletak di meja bergetar hebat, memecah ketegangan.

​Gavin melirik layar ponselnya. Wajahnya yang tadi sedingin tembok beton, tiba-tiba retak. Ada kilatan panik yang sangat jelas di matanya. Dia langsung menyambar ponsel itu.

​"Maaf, saya harus angkat ini," gumamnya cepat, lalu berdiri dan berjalan setengah berlari menuju sudut ruangan yang agak sepi, dekat jendela besar.

​Kiana menyipitkan mata. Seorang Gavin Ardiman panik? Itu pemandangan langka. Biasanya, gedung kantornya kebakaran pun dia mungkin masih akan berjalan santai.

​Didorong rasa penasaran (dan keinginan mencari kelemahan lawan), Kiana memberi kode pada Sinta untuk diam, lalu dia berdiri pelan-pelan.

​"Saya mau ke toilet sebentar," pamit Kiana pada forum rapat, lalu berjalan—bukan ke toilet—tapi mendekat ke arah di mana Gavin berdiri membelakangi ruangan.

​Kiana berdiri di balik pilar besar, memasang telinga baik-baik.

​"Apa maksud kamu dia kabur lagi?" Suara Gavin terdengar tertahan, tapi penuh emosi. "Ini sudah pengasuh kelima bulan ini! Saya bayar yayasan kalian mahal bukan untuk kirim orang yang mental tempe!"

​Hening sejenak. Gavin mendengarkan jawaban dari seberang sana sambil memijat keningnya dengan frustasi. Bahunya yang tegap terlihat turun, beban berat seolah menumpuk di sana.

​"Saya tidak peduli Alea ngapain!" desis Gavin lagi, kali ini suaranya lebih putus asa. "Dia cuma anak tujuh tahun, masa satu orang dewasa tidak bisa menanganinya? ... Apa? Dia mengunci diri di kamar mandi? Dan membanjiri lorong lantai dua?"

​Mata Kiana membulat. 

Alea. Dia pernah dengar nama itu. Putri tunggal Gavin Ardiman.

Gosip yang beredar bilang anak itu "spesial" dalam artian nakalnya minta ampun sampai tidak ada sekolah atau pengasuh yang tahan lebih dari sebulan. Istri Gavin meninggal saat melahirkan, jadi Gavin adalah duda.

​"Oke, oke! Jangan panggil pemadam kebakaran dulu, nanti masuk berita!" Gavin terdengar sangat kacau sekarang. Citra CEO dinginnya lenyap tak berbekas. "Saya pulang sekarang. Tahan dia. Jangan biarkan dia main korek api lagi!"

​Gavin mematikan telepon dengan kasar, lalu dia bersandar di kaca jendela, menghela napas panjang yang terdengar sangat lelah. Untuk sesaat, dia bukan rival bisnis yang menyebalkan. Dia cuma seorang ayah yang kewalahan dan sendirian.

​Di balik pilar, otak bisnis Kiana berputar lebih cepat daripada roda conveyor belt.

​Gavin butuh pengasuh. Tidak, dia butuh lebih dari itu. Dia butuh sosok ibu untuk anaknya agar dia bisa fokus kerja tanpa diteror telepon dari rumah setiap lima menit.

​Dan Kiana... dia butuh suami.

​Gavin kaya raya. Hartanya mungkin setara atau bahkan lebih banyak dari Kiana, jadi dia tidak mungkin mengincar warisan Kakek.

Gavin punya reputasi bagus (meski menyebalkan). Tidak ada skandal wanita, tidak ada judi.

Dan yang paling penting... Gavin jelas tidak butuh cinta. Dia terlalu sibuk dan terlalu dingin untuk hal-hal menye-menye itu.

​Ini sempurna.

Ini gila, tapi sempurna.

​Kiana tersenyum miring. Senyum yang sama seperti saat dia baru saja memenangkan tender besar.

​Dia kembali ke mejanya dengan langkah ringan. Sinta yang sedang membereskan berkas menatapnya bingung.

​"Bu? Kok senyum-senyum sendiri? Ibu nggak sakit, kan?" tanya Sinta cemas.

​Kiana duduk, lalu mengambil tablet Sinta yang masih menyala menampilkan daftar pria-pria tidak berguna tadi.

​"Hapus semua daftar sampah ini, Sinta," perintah Kiana tegas.

​"Hah? Semuanya? Terus kita cari di mana lagi, Bu? Waktunya mepet banget..." Sinta mulai panik lagi.

​Kiana menoleh ke arah pintu keluar ballroom, tempat Gavin baru saja berlari keluar dengan wajah tegang, mengabaikan sapaan rekan bisnis yang lain.

​"Saya sudah nemu kandidatnya," ujar Kiana, matanya berbinar licik.

​"Siapa, Bu? Anak pejabat mana?"

​Kiana mengetuk layar tabletnya, membuka aplikasi pencarian, mengetik satu nama, lalu menyodorkan hasilnya ke muka Sinta. Foto Gavin Ardiman dalam setelan jas terpampang jelas di sana.

​"Dia," kata Kiana mantap. "Coret kandidat lain. Aku pilih dia. Siapkan kontraknya."

​Mata Sinta nyaris melompat keluar dari rongganya. Mulutnya menganga lebar sampai lalat bisa masuk.

​"Ta-tapi Bu!" pekik Sinta, lupa mengecilkan suaranya sampai beberapa orang menoleh. "Ibu sadar kan siapa yang Ibu tunjuk? Itu Pak Gavin! Musuh bebuyutan kita! Orang yang minggu lalu Ibu sumpahin biar kapal kargonya nyasar ke Kutub Utara!"

​"Justru itu," Kiana menyeringai, merapikan blazernya dengan anggun. "Siapa bilang pernikahan harus didasari cinta? Dalam bisnis, ini namanya merger strategis. Dan saya pastikan, Ardiman Logistics—dan bosnya yang sombong itu—bakal bertekuk lutut di bawah kontrak saya."

​Kiana berdiri, menyambar tasnya. "Ayo. Kita punya calon suami yang harus ditangkap."

​Bab 3: Lamaran Bisnis di Toilet Pria

​"Minggir."

​Kiana menepis bahu seorang office boy yang sedang mengepel lantai koridor dengan langkah lebar. Dia tidak peduli dengan tanda peringatan 'Lantai Basah' berwarna kuning mencolok, atau tatapan bingung beberapa pria yang baru saja keluar dari pintu kayu jati berukir di depannya.

​Papan tanda kecil berlapis emas di pintu itu bertuliskan GENTLEMAN. Toilet pria. Area terlarang bagi wanita manapun yang masih punya urat malu.

​Tapi Kiana Elvaretta sudah memutus urat malunya sejak dua hari yang lalu, tepat saat dia memutuskan bahwa Gavin Ardiman adalah solusi tunggal untuk menyelamatkan warisan kakeknya.

Sudah dua hari kehilangan kesempatan bicara empat mata dengan Gavin, membuat Kiana nekat. 

​Tanpa mengetuk, Kiana mendorong pintu berat itu hingga terbuka lebar.

​Brak!

​Suara pintu yang membentur dinding memecah keheningan di dalam ruangan yang beraroma jeruk nipis dan pembersih lantai mahal itu.

​Di depan wastafel marmer panjang, Gavin Ardiman tersentak. Pria itu sedang menunduk, membasuh wajahnya dengan air dingin. Kemeja mahalnya sedikit basah di bagian kerah, dan rambutnya yang tadi rapi kini sedikit berantakan dengan tetesan air yang jatuh ke dahi.

​Gavin mengangkat wajah, menatap pantulan cermin dengan mata melebar. Saat melihat sosok Kiana berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap dan dagu terangkat, ekspresi kaget Gavin berubah menjadi kilatan amarah.

​"Kamu gila?" desis Gavin. Dia menyambar tisu gulung dengan kasar untuk mengeringkan wajahnya. "Ini toilet pria, Kiana! Matamu rabun atau otakmu yang konslet?"

​Kiana tidak bergeming. Dia justru melangkah masuk, lalu dengan santai memutar kunci pintu utama dari dalam.

​Klik.

​Suara kunci itu terdengar sangat nyaring di ruangan bergema tersebut.

​Gavin mundur selangkah, kewaspadaannya meningkat drastis. Dia menatap pintu yang terkunci, lalu kembali menatap Kiana seolah wanita itu adalah pasien rumah sakit jiwa yang lepas.

​"Buka pintunya," perintah Gavin dingin, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Kalau ada yang masuk dan melihat kita berdua di sini, besok saham perusahaan saya bisa anjlok karena digosipkan dengan nenek sihir seperti kamu."

​"Nenek sihir yang punya tiga pelabuhan utama di Jawa, Pak Gavin," koreksi Kiana tenang. Dia berjalan mendekat, bunyi hak sepatunya beradu keras dengan lantai keramik. "Dan saham kamu justru akan meroket kalau kamu mau dengar tawaran saya lima menit saja."

​"Saya nggak tertarik dengar apa pun dari mulut kamu. Minggir." Gavin mencoba menerobos lewat samping Kiana untuk mencapai pintu.

​Tapi Kiana gesit. Dia merentangkan tangan, menghalangi jalan Gavin. Tubuh mereka berjarak sangat dekat sekarang. Kiana bisa mencium aroma aftershave mahal bercampur keringat tipis dari tubuh pria itu. Gavin tinggi, jauh lebih tinggi dari dugaannya, membuat Kiana harus mendongak sedikit untuk menatap matanya.

​"Menikahlah dengan saya," tembak Kiana langsung.

​Langkah Gavin terhenti mendadak. Dia mematung.

​Hening.

​Hanya suara tetesan air dari kran wastafel yang kurang rapat terdengar: tik...tik...tik...

​Gavin mengerjapkan mata dua kali, seolah memastikan pendengarannya tidak rusak. Dia menatap Kiana dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu tertawa. Tawa yang kering, sinis, dan meremehkan.

​"Hah... Saya pikir kamu cuma ambisius, ternyata kamu benar-benar sudah gila," cibir Gavin sambil menggelengkan kepala. "Apa? Bisnis ekspedisimu bangkrut sampai kamu harus jual diri begini?"

​Wajah Kiana memerah padam mendengar hinaan itu, tapi dia menahan diri untuk tidak menampar pipi mulus pria di depannya. Emosi hanya akan menggagalkan negosiasi.

​"Jaga mulutmu," balas Kiana tajam. "Elva Express baik-baik saja. Keuntungannya naik tiga puluh persen kuartal ini, terima kasih sudah bertanya. Ini bukan soal uang. Ini soal kesepakatan yang saling menguntungkan."

​"Menguntungkan?" Gavin melipat tangan di dada, menatap Kiana dengan pandangan merendahkan. "Bagian mana yang menguntungkan buat saya? Menikah dengan saingan bisnis yang kerjanya cuma marah-marah dan mendebat saya di setiap rapat asosiasi? Terima kasih, saya lebih memilih hidup melajang sampai tua."

​"Yakin?" Kiana tersenyum miring. Dia mengeluarkan kartu as-nya. "Bahkan kalau saya tawarkan akses penuh ke jalur laut timur milik Elva Express tanpa biaya sewa selama satu tahun?"

​Senyum sinis di wajah Gavin lenyap seketika.

​Mata elangnya menyipit. Sebagai pebisnis logistik, Gavin tahu persis nilai tawaran itu. Jalur laut timur adalah "nadi" yang selama ini dikuasai keluarga Kiana. Ardiman Logistics selalu kesulitan menembus pasar sana karena biaya sewa pelabuhan yang mahal dan birokrasi yang dipersulit oleh pihak Kiana. Akses gratis ke sana berarti penghematan miliaran rupiah dan ekspansi pasar yang gila-gilaan.

​"Kamu..." Gavin menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun. "Kamu mau kasih akses jalur timur? Cuma demi status istri?"

​"Benar. Satu tahun," tegas Kiana. Dia mengangkat satu jari telunjuk. "Cuma satu tahun. Setelah itu kita cerai. Kamu dapat pasar timur, saya dapat buku nikah. Simpel."

​Gavin terdiam sejenak, otaknya jelas sedang berhitung. Tapi kemudian dia mendengus kasar.

​"Tawaran yang menggiurkan, harus saya akui. Tapi jawabannya tetap tidak."

​Kiana terperangah. "Kenapa? Kamu bodoh? Itu tawaran emas!"

​"Karena harga yang harus dibayar terlalu mahal, Kiana!" bentak Gavin. Suaranya menggema di dinding toilet. "Harga diri adalah kewarasan saya! Saya nggak butuh istri yang cuma bikin pusing. Saya sudah cukup pusing dengan pekerjaan dan..." Gavin memutus kalimatnya, tampak menyesal sudah bicara terlalu banyak.

​"Dan anak kamu?" sambar Kiana cepat.

​Rahang Gavin mengeras. Tatapannya berubah menjadi tajam dan berbahaya. "Jangan bawa-bawa Alea. Dari mana kamu tahu soal anak saya?"

​"Tembok hotel ini tipis, Pak Gavin. Dan suara kamu waktu terima telepon tadi cukup keras buat didengar satu ballroom," bohong Kiana dengan mulus. Padahal dia menguping. "Gonta-ganti pengasuh lima kali dalam sebulan? Wow. Rekor yang impresif. Putrimu pasti punya bakat khusus dalam meneror orang dewasa."

​"Diam kamu," geram Gavin, melangkah maju mengintimidasi. "Kamu nggak tahu apa-apa soal Alea. Minggir dari pintu, atau saya panggil sekuriti buat seret kamu keluar."

​Kiana tidak mundur. Jantungnya berdebar kencang karena takut, tapi dia menutupinya dengan topeng boss lady yang sempurna. Ini satu-satunya kesempatannya. Kalau Gavin keluar dari pintu ini, Kiana tamat. Rio akan merebut perusahaan, dan Kakek akan kecewa.

​"Saya tahu kamu putus asa, Gavin!" seru Kiana, menahan dada bidang Gavin dengan telapak tangannya saat pria itu hendak meraih gagang pintu. "Kamu butuh seseorang buat urus rumah tangga kamu yang berantakan itu! Kamu pikir kamu bisa fokus ekspansi bisnis kalau tiap jam ditelepon guru karena anakmu bikin ulah? Kamu pikir klien bakal percaya sama CEO yang bahkan nggak bisa ngatur satu anak kecil?"

​Gavin menepis tangan Kiana kasar. "Dan kamu pikir kamu bisa? Kamu?!" Gavin tertawa mengejek. "Wanita karir yang bahkan nggak tahu cara masak air? Wanita yang hidupnya cuma diisi rapat dan memecat karyawan? Kamu mau jadi ibu buat Alea? Jangan bercanda! Alea bakal memakanmu hidup-hidup dalam lima menit!"

​"Coba saja!" tantang Kiana, matanya menyala. "Saya sudah menghadapi buruh pelabuhan yang mogok kerja, preman pasar yang minta jatah, sampai pejabat korup yang minta suap. Kamu pikir saya takut sama anak tujuh tahun?"

​"Alea bukan preman pasar, Kiana. Dia anak yang terluka karena kehilangan ibunya!" Gavin berteriak tepat di depan wajah Kiana. 

Napasnya memburu. Emosi yang selama ini dia pendam sendirian seolah meledak keluar. "Dia butuh kasih sayang, bukan manajer operasional yang mengatur hidupnya kayak barang kargo! Dan kamu... kamu adalah orang terakhir di dunia ini yang punya naluri keibuan!"

​Kata-kata itu menohok ulu hati Kiana. Sakit, tapi benar. Kiana memang tidak punya pengalaman menjadi ibu. Dia bahkan ragu dia punya hati yang lembut. Tapi dia punya logika. Dan dia punya tekad.

​"Mungkin saya bukan ibu peri yang bisa nyanyiin lagu pengantar tidur," ucap Kiana, suaranya merendah tapi penuh penekanan. 

Dia menatap mata Gavin lekat-lekat. "Tapi saya bisa pastikan dia nggak akan kesepian. Saya bisa pastikan dia punya seseorang yang berdiri di sampingnya waktu dia butuh pembelaan. Dan yang paling penting... saya nggak akan berhenti. Saya bukan pengasuh bayaran yang bakal kabur cuma karena dia nakal. Saya terikat kontrak. Saya bakal bertahan, Gavin. Suka atau tidak, saya opsi paling stabil yang kamu punya sekarang."

​Gavin terdiam. Dadanya masih naik turun karena emosi, tapi tatapannya tidak setajam tadi. Kata "stabil" sepertinya menyentuh titik lemahnya. Stabilitas adalah hal yang paling mahal bagi seorang single parent yang sibuk.

​"Kenapa harus saya?" tanya Gavin pelan, suaranya serak. "Ada ribuan laki-laki di Jakarta. Kenapa kamu ngotot ngejar saya?"

​"Karena kamu kaya," jawab Kiana jujur tanpa berkedip. "Kamu nggak butuh uang saya. Kamu nggak akan coba merampok perusahaan saya di belakang punggung. Dan kamu dingin. Kamu nggak akan jatuh cinta sama saya, dan saya nggak akan jatuh cinta sama kamu. Itu sempurna. Nggak ada drama, nggak ada sakit hati. Murni bisnis."

​Gavin menatap wanita di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara jijik, kagum, dan bingung.

 Wanita ini benar-benar pragmatis sampai ke tulang-tulangnya. Tidak ada basa-basi romantis, tidak ada kepura-puraan manis. Kiana menawarkan transaksi, sejelas transaksi jual beli kontainer.

​"Kamu gila," gumam Gavin lagi, kali ini tanpa nada marah. Hanya kelelahan.

​"Saya realistis," balas Kiana. "Jadi gimana? Deal? Jalur timur buat kamu, buku nikah buat saya. Satu tahun. Setelah itu kita kembali jadi musuh."

​Gavin mengusap wajahnya kasar. "Saya nggak bisa mutusin hal seserius ini di toilet pria, Kiana. Minggir. Saya mau pulang."

​"Jawab dulu. Ya atau tidak?" desak Kiana, merentangkan tangan lagi menghalangi pintu.

​"Kiana, minggir!" bentak Gavin, kesabarannya habis.

​"Nggak mau! Sebelum kamu bilang oke!"

​"Saya bilang minggir atau saya..."

​Gavin mengangkat tangan, hendak memindahkan tubuh Kiana secara paksa agar menyingkir dari pintu. Tapi gerakannya terhenti saat saku jasnya bergetar hebat diiringi nada dering telepon yang nyaring.

​Lagu 'Baby Shark' mengalun keras memenuhi toilet.

​Kiana menahan tawa. "Ringtone kamu selera humornya tinggi juga."

​"Diam. Ini Alea yang atur," gumam Gavin, wajahnya memerah karena malu. Dia merogoh ponselnya dengan kasar.

​Layar ponsel itu menyala. Nama 'Kepala Sekolah SD Pelita Bangsa' tertera di sana.

​Firasat buruk langsung menyergap Gavin. Ini baru jam lima sore. Kenapa kepala sekolah menelepon?

​Gavin menekan tombol terima dengan jari gemetar, lalu menempelkan ponsel ke telinganya. Matanya tetap terkunci pada wajah Kiana yang menatapnya dengan rasa ingin tahu.

​"Halo? Selamat sore, Bu Kepala Sekolah. Ada masalah apa lagi?" sapa Gavin, berusaha terdengar tenang meski suaranya tegang.

​Suara wanita di seberang sana terdengar histeris, nyaris menangis. Volume suaranya cukup keras hingga Kiana bisa mendengarnya samar-samar di ruang yang sunyi itu.

​"Pak Gavin! Tolong segera datang ke sekolah sekarang juga! Kami sudah tidak sanggup lagi!"

​"Pelan-pelan, Bu. Apa yang terjadi? Alea berkelahi lagi?" tanya Gavin sambil memejamkan mata, bersiap mendengar kabar buruk.

​"Bukan berkelahi, Pak! Alea... Astaga, saya sampai gemetar..." Kepala sekolah itu menarik napas panjang. "Putri Bapak baru saja membakar tong sampah besar di halaman belakang sekolah! Apinya hampir merembet ke gudang olahraga! Kami sudah panggil satpam untuk memadamkan, tapi Alea malah mengunci diri di ruang guru sambil memegang gunting, mengancam akan memotong rambut siapa saja yang mendekat!"

​Gavin merasa lututnya lemas seketika. Darah seolah surut dari wajahnya.

​Membakar tong sampah? Mengancam pakai gunting?

​Ini bukan kenakalan biasa lagi. Ini sudah masuk tahap kriminal untuk ukuran anak tujuh tahun.

​"Sa-saya... saya segera ke sana," jawab Gavin terbata-bata. "Tolong jangan panggil polisi. Saya mohon. Saya akan ganti semua kerugiannya. Tolong jaga dia sampai saya datang."

​Gavin menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya terkulai lemas di sisi tubuh. Wajahnya pucat pasi, terlihat sepuluh tahun lebih tua daripada beberapa menit yang lalu.

​Dia menatap Kiana dengan tatapan kosong. Kesombongan dan arogansinya tadi lenyap, digantikan oleh keputusasaan seorang ayah yang gagal total.

​Kiana, yang mendengar percakapan itu, tidak tersenyum mengejek. Wajahnya justru berubah serius. Dia melihat kehancuran di mata Gavin.

​"Sekolah?" tanya Kiana singkat.

​Gavin mengangguk kaku, tenggorokannya tercekat. "Dia bakar tong sampah. Dan sandera ruang guru."

​"Oke," kata Kiana. Dia tidak banyak tanya. Dia bergeser dari depan pintu, lalu memutar kunci klik hingga terbuka.

​Gavin hendak melangkah keluar dengan gontai, tapi Kiana menahan lengannya. Cengkramannya kuat dan mantap.

​"Kamu nggak bisa ke sana sendirian dengan muka kacau begitu, Gavin. Kamu bakal diamuk massa atau malah bikin Alea makin ngamuk," ucap Kiana tegas.

​"Terus saya harus apa? Membiarkan dia ditangkap?" suara Gavin pecah.

​"Saya ikut," kata Kiana.

​Gavin menatapnya bingung. "Apa?"

​"Saya ikut ke sekolah. Sekarang," ulang Kiana sambil menarik tangan Gavin keluar dari toilet. "Anggap ini masa percobaan alias free trial sebelum kita tanda tangan kontrak."

​"Kamu mau ngapain di sana? Nambah masalah?"

​Kiana menoleh, memberikan tatapan tajam yang penuh percaya diri.

​"Menjinakkan monster kecilmu. Dan membuktikan kalau saya pantas dapat tanda tanganmu di buku nikah itu."

​Tanpa menunggu persetujuan Gavin, Kiana menyeret pria besar itu menyusuri koridor hotel, mengabaikan tatapan heran orang-orang. Kiana tahu, ini adalah momen penentuannya. Jika dia bisa menaklukkan anak Gavin hari ini, besok Adijaya Group akan aman dalam genggamannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!