Indonesia
NovelToon NovelToon

Rahasia Milyuner Amnesia

1. Masa lalu Kael

Mikael tersenyum ketika berdiri di depan pintu apartemen mewah milik calon istrinya yang beberapa hari lagi akan dia nikahi. Hatinya sudah ngga sabar untuk melihat wajah terkejut dan menggemaskan kecintaannya itu, saat melihat akhirnya dia mengabulkan rengekannya.

Kedatangannya adalah kejutan. Sengaja mengabaikan permintaannya agar calon istrinya merajuk. Dia baru saja tiba dari Jepang setelah dipaksa papinya mengurus masalah di perusahaan itu di dekat hari H pernikahannya.

Mikael marah karena tau itu hanya alasan dari papinya agar pernikahannya bisa dibatalkan. Tapi Mikael tidak bisa berbuat apa apa karena ancaman papinya yang akan mencoret namanya dari daftar utama pewarisnya.

Mikael menatap buket bunga mawar merahnya dengan pernuh cinta. Dia tau calon istrinya marah karena kepergiannya, karena itulah dia ingin memberikan kejutan dengan kedatangannya yang tiba tiba.

Dengan kunci akses yang juga dia miliki, dia memasuki kamar itu. Melangkah perlahan ke dalam ruangan mewah yang temaram.

Langkahnya terhenti ketika tiba di kamar yang biasa dia datangi. Kamar kekasihnya.

Telinganya yang tajam menangkap suara suara yang aneh juga deru nafas yang mencurigakan.

Jantungnya berdebar kencang. Dengan marah dia mendorong kasar pintu kamar yang memang menyisakan celah dan mengagetkan dua orang yang berlainan jenis itu, yang sedang bermandikan keringat di atas tempat tidur kekasihnya.

"KAEL...." Suara Nafa bergetar begitu menyadari kehadiran Mikael, calon suaminya. Dia sangat shock. Kedatangan Kael di luar sangkanya. Harusnya besok pagi laki laki itu baru akan tiba. Bukan malam ini.

Tatap Mikael membeku. Dia melempar keras buket bunga mawar itu ke arah laki laki yang sudah berani meniduri calon istrinya.

Arsa Wijaya, kakak tirinya tidak sempat menghindar. Lemparan itu melukai pipi kanannya. Mawar mawar merah itu berhamburan di atas tempat tidur dan di lantai.

Dengan kalap, Mikael mendekat dan menghajar Arsa dengan tinju dan tendangan tiada henti. Bahkan kakak tirinya tidak sempat membuka mulutnya untuk membela diri, selain suara ringisan dan teriakan kesakitan yang terdengar.

"KAEL.....!" Nafa, gadis itu memegang selimut untuk menutupi tubuh polosnya, hanya bisa berteriak teriak ketakutan melihat ganasnya Mikael mengamuk.

Wajah Arsa babak belur, begitu juga tubuh polosnya. Darah mengucur di mana mana.

"KAEL! HENTIKAN....!" teriak Nafa yang takut Arsa bisa menemui kematian. Mikael sangat bering@s.

Kemudian Mikael menjambak rambut Aksa, meludahi wajahnya sebelum membanting kepala itu dengan keras di lantai.

Setelah melihat Arsa yang sudah tidak sadarkan diri, dengan tatapan mema-tikannya dia menjambak rambut Nafa yang menatapnya penuh ketakutan.

"Dasar bit-ch!" Mikael juga meludahinya sebelum melepaskan jambakannya dengan kasar. Dia pun berjalan cepat meninggalkan apartemen yang sudah dia hadiahkan pada Nafa setahun yang lalu. Setelah ini apartemennya akan dia lelang. Mikael membatin geram.

BRAK!

Suara bantingan keras pintu membuat Nafa berjengit.

Nafa menatap nanar kepergian Mikael. Mikael yang lembut dan selalu memujanya, kini sanggup memakinya. Bahkan meludahi wajahnya.

Nafa masih mengingat tatapan menji-jikkan Mikael atas dirinya. Dia memang salah, sudah mengkhianati Mikael. Kesalahan lainnya dia lupa kalo Mikael selalu mengabulkan keinginannya.

Nafa segera mengenakan pakaiannya dan memakaikan juga pakaian seadanya buat Arsa dengan sangat panik. Keadaan laki laki itu sudah sangat parah.

*

*

*

Mikael sudah berada di Dubai. dia sudah tidak peduli lagi dengan acara pernikahannya yang mungkin sudah dibatalkan. Ponselnya sudah dia hempaskan di apartemen kekasihnya tadi. Tidak ada yang bisa menghubunginya. Dia juga sudah tidak peduli lagi akan dicoret dari daftar pewaris. Kalo itu terjadi, dia tinggal menunjuk pengacara almarhummah maminya untuk menggugat.

Hanya dia anak sah yang lahir lewat pernikahan yang diakui oleh kakek neneknya. Hanya dia yang berhak menjadi satu satunya pewaris papinya.

BUGH

Mikael memukul keras stirnya. Masih terbayang di pelupuk matanya adegan menji-jikan calon istrinya dengan kakak tirinya.

"Sudah berapa lama?" gumamnya tanpa sadar.

Dia mencengkeram stirnya dengan sangat kuat.

"Gadis itu hanya mengincar hartamu."

Ucapan papinya kembali terngiang di telinganya. Ucapan ketaksetujuannya atas pilihan perempuan anaknya.

Mikael menyesal sudah menentang papinya. Sekarang dia menyadari kalo ucapan papinya benar.

Perempuan si@lan itu juga menginginkan kakak tirinya yang serakah itu. Sama seperti kakak tirinya yang selalu menginginkan semua miliknya. Mereka berdua sudah mengkhianatinya.

Nafas Mikael mendengus saking marahnya. Dia bersyukur, bisa melihat sendiri kebusukan keduanya sebelum hari H pernikahan mereka.

Nafa, gadis cantik yang dipujanya, ternyata kekasih Arsa juga.

Mikael mengeluarkan sumpah serapahnya.

Dengan kemarahan yang berkobar, Mikael menginjak gasnya lebih dalam. Tapi kemudian dia terkejut ada mobil yang muncul di depannya dala kecepatan yang sama. Mikael segera membanting stir ke kanan. Tapi karena kecepatan mobilnya sangat kencang malah membuat keseimbangannya hilang. Mobilnya terguling guling dan berakhir setelah berputar beberapa kali di tengah jalan.

Asap mulai muncul. Di tengah kesadarannya yang melemah Mikael malah melihat senyum lembut maminya. Dia pun balas tersenyum sambil memejamkan mata.

Dia lelah dengan hidupnya. Dia ingin bersama maminya saja.

Dua orang laki laki muda keluar dari dalam mobil yang hampir ditabrak mobil Mikael.

Mereka mendekati mobil yang sudah dipenuhi asap dan mulai terlihat jilatan api.

"Orangnya pingsan tuan muda," seru laki laki muda berseragam pengawal sambil menyemprotkan apar di tangannya.

Laki laki yang dipanggil tuan muda segera memecahkan kaca jendela mobil dengan apar di tangannya juga. Setelah memastikan keamanan laki laki itu. Keadaan sudah sangat darurat bahaya.

Dengan bantuan pengawalnya, dia menarik paksa tubuh Mikael. Begitu tubuh Mikael berhasil keluar dan meninggalkan mobilnya dalam jarak beberapa meter, ledakan hebat pun terjadi.

*

*

*

Mikael membuka matanya. Dia berada di ruangan serba putih.

"Syukurlah kamu sudah sadar."

Mikael menatap laki laki di sampingnya.

"Nama aku Levi. Kamu siapa? Aku akan menghubungi keluargamu." Laki laki itu bersikap ramah.

Nama? Mikael berusaha mengingat. Tapi yang dia rasakan malah sakit di kepalanya.

"Kamu tidak bisa mengingatnya? Ya, sudah, jangan dipaksa."

Mikael ngga menjawab. Dia merasa ada sekat yang menghalangi memori otaknya. Tapi satu nama muncul begitu saja.

"Kael. Aku ngga yakin, tapi kamu bisa panggil aku begitu."

"Hanya Kael? Nama keluargamu?"

Kael menggeleng.

"Aku tidak ingat."

"Oke. Aku akan minta dokter untuk memeriksamu lebih intensif lagi." Levi menghela nafas. Jika saja laki laki ini menyebut nama keluarganya, sepertinya tidak ajan sulit mencari siapa dia yang sebenarnya.

Mikael mengangguk dalam bingung.

Dia siapa?

Kael siapa?

Mikael tidak bisa mengingatnya.

Hingga berminggu minggu kemudian dia tetap tidak berhasil mengingatnya. Dia akhirnya memutuskan akan hidup sebagai Kael sebelum ingatannya kembali.

2. Bertemu lagi?

Tiga minggu kemudian

"Kamu mau kerja sebagai asistenku?" tanya Levi setelah mengamati Kael yang hari ini sudah bisa keluar dari rumah sakit.

Kael yang sedang duduk di ranjangnya menoleh pada laki laki muda yang kerap mendatanginya setelah dia sadar.

"Dari pada kamu tidak ada tujuan," sambung Levi lagi. Sia sia dia menyelidiki siapa Kael. Mobil yang dia gunakan juga kepemilikannya tidak jelas. Identitas Kael tidak bisa dilacak sampai sekarang.

Kael masih belum menjawab.

Dia memang ngga tau mau ngapain setelah keluar dari rumah sakit ini. Walaupun laki laki yang selalu mendatanginya sudah memberinya uang dalam jumlah yang sangat besar, tapi dia merasa ngga tau harus menggunakan uang itu untuk apa.

Dia juga baru tau kalo dia punya super car. Berarti dia anak orang kaya. Tapi mengapa orang tuanya tidak merasa kehilangannya.

"Kamu bisa ikut aku kembali ke Jakarta. Aku sudah mengurus semua identitasmu." Levi yakin laki laki muda yang seusia dengannya ini tinggal di Jakarta. Melihat stylenya pasti bukan dari kalangan biasa.

Kael tau dia tidak punya identitas lagi karena sudah hangus terbakar dalam ledakan mobil, berdasarkan cerita Levi. Dia saja lupa dengan kejadian itu. Bersyukur Levi mau bertanggungjawab secara penuh padanya. Padahal bisa saja Levi mengabaikannya.

Levi masih menunggu jawaban Kael dengan sabar.

"Baiklah," putus Kael menerima tawaran Levi. Sekalian dia akan mencari tau siapa jati dirinya dan mengapa tidak ada keluarga yang mencarinya hingga sekarang

Ngga mungkin, kan, dia ngga punya keluarga? Atau mereka sudah membuangnya?

*

*

*

Kael meneguk gelas ketiga miniman alkoholnya. Sudah hampir setengah tahun dia menjadi asisten Levi. Bekerja membantu laki laki itu mengurus perusahaannya.

Levi juga sudah membantunya mencari keberadaan keluarganya. Tapi sia sia saja.

Kael mendengar perdebatan.di dekatnya. Suara perdebatan itu cukup jelas walaupun ditingkahi oleh suara musik yang berdentam. Pupil matanya membesar ketika menyadari salah satu gadis yang sedang dimaki habis habisan dengan oleh seorang gadis bule.

Gadis incaran Levi, batinnya.

"Hasan pasti ngga tau keburukanmu. Kamu memalukan Hasan dengan mendatangi dunia yang jauh berbeda dengannya."

"Apa urusanmu?"

Seorang gadis lainnya mendekat, mengajak pergi gadis yang sedang berdebat itu.

Kael tersenyum samar, dia masih bisa mengingatnya.

Lawannya maen padel.

"Dasar, aku akan katakan pada Hasan agar dia segera menceraikanmu." Gadis bule itu kemudian pergi.

Ayra mendengus kesal.

"Sampai kapan orang salah melabrak terus begini."

Adelia yang ada di sebelahnya tertawa. Dia maupun Nathalia juga pernah beberapa kali mengalami hal ini. Maklum kembar identik.

"Duduk dulu, aku pesankan cake ," ucapnya sambil menggiring sepupunya ke meja mereka untuk menenangkan diri. Bar ini masih menyisakan makanan dan minuman untuk yang hanya ingin bersenang senang tanpa alkohol.

"Oke, yang biasa, ya."

Adelia menganggukkan kepalanya sambil berlalu pergi. Tubuhnya bergerak pelan mengikuti irama yang dikendalikan dj sambil berjalan.

Kael yang terus melihatnya tersenyum samar.

Hingga dia kini berdiri di samping Kael.

"Pesan yang biasa, kak?" tanya pelayan-seorang perempuan muda belasan tahun di balik etalase yang menyimpan berbagai cake yang mengundang selera.

"Ya. Dua potong, ya."

"Iya, kak."

Ketika Adelia akan mengulurkan uangnya, seseorang menyenggol pundaknya. Tepatnya mendorongnya hingga membuatnya terpaksa bertumpu pada dada seseorang.

"Ma maaf...." Perempuan muda yang menabraknya tanpa sengaja menumpahkan minuman beralkoholnya ke dres Adelia.

"Ak aku tidak sengaja." Dia tampak sempoyongan, beberapa teman perempuannya cepat memeganginya.

"Maaf, ya, dia agak reseh kalo mabok," sesal temannya merasa bersalah pada Adelia.

Salah satunya mengulurkan setumpuk uang dollar Amerika dari dompetnya. Dia sempat melihat merek dres yang dikenakan Adelia.

Adelia yang tersadar kalo dia sedang berada di pelukan seseorang, segera mendongak. Tatap mereka bertemu. Adelia masih bisa mengingat wajah yang sangat dekat dengannya walaupun pencahayaan tidak terlalu terang.

"Maaf." Dia cepat menjauh dengan perasaan aneh.

Ugghh.... Rembesan minuman gadis mabuk tadi mengenai jas laki laki itu juga.

Adelia menolak lembaran dolar Amerika yang diberikan.

"Tidak usah. Bawa pulang aja teman kalian," ucapnya mencoba memaklumi.

'Terima kasih." Setelah tersenyum lega karena gadis di depan mereka tidak mengonel, mereka buru buru pergi sebelum dia berubah pikiran.

"Tolong antarkan pesananku ke meja sana, ya?" ujar Adelia pada gadis pelayan itu sambil menunjukkan mejanya.

"Siap, kak." Gadis muda itu menatap prihatin pada dres gadis itu yang basah.

"Kembaliannya buat kamu. Makasih, ya."

"Sama sama, kak." Senyumnya tampak lebar. Kali ini tips untuknya dilebihkan dari biasanya. Karena itu dia menghapal sosok Adelia.

Adelia mengalihkan tatapnya pada laki laki yang masih diam di dekatnya. Sekarang ini malah dia sudah meneguk gelas keempatnya.

"Aku akan mengganti jas dan kemejamu."

Sambil mengangkat gelas kelimanya, dia tersenyum sangat tipis.

"Tidak usah."

"Oke, kamu tau mencariku kemana kalo berubah pikiran." Adelia bersiap untuk pergi. Gadis pelayan itu juga sudah pergi ke tempat Ayra berada.

"Kemana? Aku diijinkan menemuimu?" tanya Kael masih tetap memegang gelasnya dengan ujung siku yang bertumpu di atas meja bar.

Kael masih ingat ketika Levi dilarang menemui Ayra oleh sepupu mereka.

Adelia berbalik menatap Kael yang baru saja melontarkan pertanyaan bermakna ambigu. Membalas tatapan laki laki itu sebelum pergi tanpa memberikan jawaban.

Kael tersenyum, kali ini lebih jelas terlihat. Dia kemudian menghabiskan gelas kelimanya, kemudian menyusul Adelia.

Dia tau gadis itu pasti menuju ke toilet untuk membersihkan bekas minuman keras yang menempel di pakaiannnya.

Tadi saat gadis itu mencengkeran lengan jasnya, dia merasakan sesuatu yang berbeda di aliran darahnya.

Akhirnya dia bisa juga mendengar suara gadis itu.

Agak lama menunggu, akhirnya Kael melihat gadis itu keluar dari dalam toilet wanita.

Wajahnya tampak menggerutu.

"Baunya ngga bisa hilang?" tegur Kael mengagetkan Adelia.

"Ngapain kamu di sini?"

"Menunggu kamu."

Keduanya menyusuri lorong untuk kembali ke ruang utama.

"Aku berubah pikiran," ucap Kael sambil melepas jasnya dan memberikannya pada Adelia.

"Tolong dilaundry. Kamu tau, kan, kantorku dimana. Suruh ojol saja yang antar ke tempatku." Kael tersenyum, kali ini dengan lebih simpatik, melihat kebengongan Adelia.

Dia kemudian melangkah pergi dengan agak sempoyongan meninggalkan Adelia.

Adelia menatapnya kesal.

Kenapa dia tidak cuci sendiri saja, omel Adelia dalam hati.

Sementara Kael terus melangkah tanpa menoleh lagi. Harusnya dia tidak memberi harapan pada siapa pun selagi ingatannya masih raib. Siapa tau dia sudah punya istri. Tapi gadis itu sulit untuk diacuhkan.

Mungkin karena kebaikannya. Kael melihat Adelia yang menolak begitu saja pertanggungjawaban teman gadis mabuk tadi.

Kael yakin, gadis itu yang akan mengantar sendiri jasnya ke perusahaannya.

Dadanya berdebar halus

Kael akan tunggu pertemuan mereka nanti yang berikutnya.

Kalo begini dia ngga butuh ijin dari sepupunya, kan.

3. Khawatir

Adelia masih menatap kepergian Kael yang nampak agak sempoyongan.

"Dia ngga akan apa apa?"Adelia jadi ragu, apakah dia akan menyusul Kael atau balik ke tempat Ayra yang menunggunya.

Tapi dia sudah lama membuat Ayra menunggu.

Semoga kamu ngga apa apa, batin Adelia setelah memutuskan akan ke tempat Ayra saja. Tapi perasaannya ngga tenang. Jantungnya berdebar cepat karena mengkhawatirkan Kael

Tapi Adelia tidak mungkin akan membiarkan Ayra sendiriannya. Hati sepupunya juga lagi bete.

"Lama banget? Dari mana? Ini jas siapa?" Ayra malah memberondongnya dengan banyak pertanyaan begitu Adelia tiba di depannya.

"Ceritanya panjang." Adelia melipat jas itu dan memasukkannya ke dalam goodie bag yang selalu dia bawa di dalam tasnya.

Dia pun meneguk minumannya, kemudian memakan kuenya, mengabaikan Ayra yang masih sabar menunggu jawabannnya

Perasaannya benar benar ngga tenang.

Dia pasti baik baik saja, kan?

"Del...... Cerita, dong." Akhirnya Ayra tidak sabar juga menunggu jawaban Adelia.

Adelia menghela nafas.

"Tadi ada cewe mabok ngga sengaja dorong aku." Adelia terdiam lagi untukmencari kalimat yang tepat.

Ayra masih menyimak.

"Aku menubruk Kael. Itu lho, temannnya Levi. Ini jasnya," sambung Adelia menjelaskan.

Ooo, batin Ayra. Kebetulan banget.

Hening.

"Jasnya mau kamu apain?" tanya Ayra sambil memotong cakenya.

"Dia minta aku laundrykan. Ya udah lah, terpaksa aku iya, kan."

Ayra tertawa pelan.

"Setelah itu mau kamu antar ke mana? Rumahnya atau ke tempatnya bekerja?"

Adelia melepaskan nafas kesal.

"Katanya suruh aja ojol antar ke tempat dia bekerja."

Ayra tertawa tergelak mendengar suara sewot sepupunya.

*

*

*

Kael memijat keningnya sambil berjalan ke parkiran.

Masa mabok baru minum sedikit, gerutunya.

Kael kemudian menyandar sebentar di badan mobilnya masih sambil memijat kepalanya.

TUK TUK TUK

Kael memukul kepalanya berulang kali.

Kenapa masih belum ingat juga, makinya dalam hati.

Dia menghembuskan nafas panjang sebelum membuka pintu mobil.

Tapi dia menahan sebentar pintu mobilnya, kemudian menatap ke arah pintu masuk bar.

Dia tersenyum dengan pikiran konyol yang tiba tiba saja terlintas begitu saja di kepalanya. Mengira Adelia akan muncul karena mengkhawatirkannya.

Dia tertawa miris. Yakin dia sekarang kalo nanti jasnya beneran akan diantar ojol.

Kael menginjak gasnya lebih dalam hingga mobilnya melaju kencang. Satu tangannnya masih memijat keningnya.

Rasanya bukan karena mabok alkohol, tapi lebih dari ini. Ingatannya yang belum juga kembali sangat mengganggunya.

Juga keluarganya yang sampai sekarang tidak mencarinya.

Kadang Kael berpikir dia memang tidak punya keluarga. Mungkin mereka semua sudah meninggal.

Karena tidak fokus, kecelakaan yang dulu pernah dia alami hampir terjadi lagi. Untungnya Kael hanya menyerempet pembatas jalan yang terbuat dari beton.

"Sh-ith!" makinya geram. Keningnya kebentur stir, semakin memperparah sakit di kepalanya. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Beberapa orang menemuinya.

TOK TOK TOK

"Anda tidak apa apa?"

Kael tersentak. Dia menurunkan kaca jendela mobilnya. Ada beberapa orang laki laki mengerubunginya dengan tatap khawatir.

"Kening anda luka, mas," ucap laki laki paruh baya itu lagi.

Kael mengusap kening yang ditunjuk laki laki paruh dan melihat tangannya.

Ada noda darah.

"Saya tidak apa apa, pak. Hanya pusing saja," ucap Kael pelan.

Laki laki itu dan beberapa yang lainnya agak lega.

"Sebaiknya telpon temannya aja, mas. Bahaya nyetir dalam keadaan sakit," ucap yang lainnya.

"Iya, pak. Saya ngga apa apa."

Orang orang itu masih mengerubungi mobil Kael ketika laki laki itu tetap berkeras akan pulang.

"Kael?"

Flashback on

"Ada kecelakaan, ya?" tanya Ayra.

Dada Adelia berdebar.

"Ay, berhenti bentar," pinta Ayra panik.

"Ngapain, Del?" Tapi Ayra berhenti juga di belakang mobil yang sedang di kerubungi beberapa orang.

"Tadi itu.... si Kael kayak mabok. Cuma mastiin aja dia atau bukan. Aku hanya merasa bersalah aja sudah membiarkannya pergi dalam keadaan mabok."

Ayra menatapnya penuh selidik. Apalagi sepupunya buru buru melepas seatbeltnya.

"Ngga apa apa, 'kali, Del. Sepupu kita biasa aja mabok begitu," ucap Ayra agar Adelia tidak terlalu naif.

Adelia tersenyum bijak.

"Aku hanya mau mastiin bentar aja, ya. Siapa pun itu, kasian juga kalo ngga ditolong."

"Oke, oke." Ayra akhirnya membiarkan Adelia keluar dari mobilnya. Susah dikasih tau kalo jiwa malaikatnya udah keluar.

Ayra tetap berada di mobil menunggu.

Endflashback

Kael yang sedang berdebat dengan orang orang itu menoleh. Begitu juga orang orang itu.

"Teman mbaknya, ya?" tanya salah satu laki laki yang berada di sana.

Adelia mengangguk. Tatapnya beradu dengan tatap kaget Kael.

"Untunglah. Teman mbaknya terluka, tadi habis nabrak pembatas jalan, tapi tetap mau jalan lagi," lapor yang lainnya menjelaskan.

"Iya, mbak. Ditolong, ya."

"Terima kasih, ya, pak," ucap Adelia pada orang orang itu yang mulai pergi dengan wajah lega.

"Sama sama, mbak....."

Adelia menatap kepergian orang orang yang membuat hatinya terharu. Ternyata masih ada saja orang yang peduli. Walaupun ada beberapa yang merekam. Mungkin juga live.

Adelia berbalik menatap Kael yang masih menatapnya. Tangannya terulur.

"Apa?" tanya Kael bingung. Darah masih menetes di kepalanya. Tangan kanannya digunakan untuk menempelkan tisu di keningnya. Tisu itu sekarang sudah berwarna merah karena sudah menyerap darah. Kepalanya juga agak berdenyut sakit.

"Mana kunci mobil?" Adelia jadi gemas juga melihat kebengongan Kael.

"Buat apa?"

Tapi untungnya walaupun kepalanya sedang berdenyut, tangannya masih mengerti apa yang harus dia lakukan.

Setelah menerima kunci mobil dari Kael, Adelia menghampiri Ayra yang sudah keluar dari mobilnya.

"Si Kael?" tebak Ayra.

"Iya." Adelia menunjukkan kunci mobil Kael.

"Ikutin mobil itu, ya. Aku mau mampir ke klinik."

Ayra tersenyum penuh makna.

"Oke."

Adelia ngga pedulikan isi pikiran Ayra, dia berbalik dan melangkah agak cepat ke arah mobil Kael. Laki laki itu juga sudah keluar dari dalam mobil dan memperhatikan dia dan Ayra.

Kerika melihat Adelia melangkah mendekat, Kael berjalan ke arah pintu mobil di sebelahnya.

Sebelum masuk ke dalam mobil, Adelia melihat sepupunya dulu yang sudah berada di dalam mobil.

Kael hanya diam memperhatikan Adelia menjalankan mobilnya. Dalam hatinya masih merasa surprise, karena ngga menyangka bertemu dengan Adelia. Juga mendapatkan perhatiannya. Kael tersenyum sambil melihat ke arah luar jendelanya.

Dia masih mengusap darah di keningnya dengan tisu yang kini bekas tisu lama itu menumpuk di dalam kotak sampah kecil di dekatnya.

"Kita mau kemana?" tanya Kail karena dia baru ingat belum tau kemana tujuan Adelia membawa mobilnya.

"Klinik."

"Ke apartemenku aja." Kael menyebutkan nama apartemen mewah di Jakarta selatan.

"Lukamu harus diobati."

Kael mendengus, ingin membantah tapi dia malas berdebat.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!