Bau amis darah mendadak menusuk indra penciuman Yura.
Sebagai mantan agen rahasia, instingnya bereaksi lebih cepat daripada kesadarannya.
Yura menatap ke sekeliling nya, dimana dia terbangun di tempat asing, tapi itu bukan masalah baginya.
Telinga tajam Yura mendengar langkah kaki yang diseret, dan berat, insting membunuhnya langsung aktif, dia menatap dingin ke pintu kayu yang masih tertutup
"Cari perempuan itu! Jangan biarkan pewaris suci itu hidup lebih lama lagi!"
Sebuah suara serak memerintah dari balik lorong.
Yura menoleh ke arah bayi di sampingnya. Bayi itu menggeliat, hendak menangis, jika suara tangisan pecah, posisi mereka tamat.
Dengan gerakan cepat yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, Yura menyumpal mulut botol susu kosong ke dekat bibir bayi untuk mengalihkan perhatiannya, sementara tangan kirinya meraba bawah bantal.
Nihil! Tidak ada pistol, tidak ada pisau lipat.
"Sial, aku benar-benar berada di zaman kuno," desis Yura, mengetahui kenyataan dia telah mengalami Transmigrasi jiwa.
Tidak kehabisan akal, Yura dengan mata setajam elang, memindai semua isi yang ada di dalam ruangan itu, matanya terjatuh pada sebuah tusuk konde perak panjang yang tergeletak di atas meja rias kusam.
Yura menyambar tusuk konde itu, teksturnya ringan, tapi di tangan Yura, benda tumpul pun bisa menjadi senjata mematikan.
BRAK
Pintu kamar ditendang hingga terbuka, dua pria dengan pakaian hitam dan penutup wajah merangsek masuk. Pedang mereka berkilat tertimpa cahaya bulan.
Tidak ada raut wajah ketakutan di wajah Yura, atau bisa kita sebut dengan Calista, seorang ibu susu dari Pangeran Mahkota.
"Hanya seorang ibu susu?"
Ucap salah satu dari mereka tertawa meremehkan saat melihat Yura yang berdiri diam di samping tempat tidur.
"Serahkan bayinya, dan aku akan membuat kematianmu tidak menyakitkan," ucap mereka, terlalu percaya diri.
Yura tidak menjawab, dia menyesuaikan kuda-kudanya.
Tubuh Calista ini lemah dan kekurangan nutrisi, tapi ingatannya tentang titik vital manusia masih terekam sempurna di otak genius Yura.
"Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang tikus," ucap Yura dingin, matanya yang tajam menatap lurus ke arah tenggorokan lawan.
Mendengar perkataan Yura, membuat mereka tersinggung, salah satu pria itu mengayunkan pedangnya.
BLES
Yura tidak menghindar ke belakang, justru dia maju ke depan, merunduk di bawah jangkauan pedang, dan dalam satu gerakan secepat kilat, dia menghujamkan tusuk konde perak itu tepat ke saraf di bawah telinga lawan.
JLEP
Pria itu mematung, matanya melotot sebelum tubuhnya ambruk tanpa sempat berteriak.
Rekan pria itu yang ada di belakangnya tertegun.
"K-kau... apa yang kau lakukan?!" tanya salah satu mereka, mulai takut.
Belum sempat pria kedua mengangkat pedang, Yura sudah memutar tubuh, menggunakan momentum jatuhnya lawan pertama untuk merebut pedang miliknya. Dengan sekali tebasan ujung pedang itu membelah dada si penyerang kedua.
BLESS
Darah segar menciprat ke pipi pucat Yura, dia berdiri tegak di antara dua mayat, napasnya sedikit terengah karena tubuh ini tidak terbiasa dengan gerakan eksplosif seperti itu.
"Apa yang kau lakukan!"
Teriak pria yang masih tersisa dengan wajah memerah padam, menghunus kan pedang nya pada Yura.
TRANG
Yura yang sudah menegang pedang milik pria yang baru saja dia bunuh, langsung mengkis serangan dari mereka.
TRANG
TRANG
TRANG
Perkelahian itu terlihat sangat tidak seimbang, Yura dengan tubuh barunya dengan segala kekuatan yang dia memiliki, bergerak dengan lincah.
TRANG
BRAS
DUK
BLAS
DUK
Dua kepala musuh jatuh menggelinding di lantai, ruangan, membuat satu pria yang masih tersisa bergetar ketakutan.
"Kenapa? Takut?" tanya Yura, tersenyum mengejek.
"A-aku-"
BLES
DUK
"Tidak ada yang menyuruh mu berbicara bodoh!" ucap Yura, memenggal kepala pria terakhir.
Setelah melihat mereka semua terbujur kekurangan dengan kepala terpisah dan darah dimana-mana, mata tajam Yura memindai mereka satu-persatu, seolah sedang mencari siapa orang dibalik mereka itu.
"Siapa yang mengirim kalian?" gumam Yura meski ia tahu mayat tidak bisa bicara.
Belum sempat Yura melihat ke arah Bayi yang ada di ranjang, tiba-tiba, suara langkah kaki yang jauh lebih dingin terdengar mendekat ke ruangan nya.
Bukan langkah serampangan seperti pembunuh tadi, melainkan langkah teratur pasukan tempur.
DRAP
DRAP
DRAP
Yura masih berdiri tegak, dengan pedang panjang yang berlumuran darah di tangan nya, seolah sedang menunggu musuh yang selanjutnya, tanpa rasa takut sedikitpun.
Ceklekk
Pintu kamar kembali terbuka lebar, kali ini yang datang, adalah sosok pria bertubuh tegap dengan jubah hitam berlambang singa emas berdiri di sana.
Kedatangan pria itu, membawa aura dingin dan dominan yang terpancar darinya.
Pria yang baru datang itu adalah Grand Duke Jayden, sang Panglima Tertinggi Kerajaan Florist sekaligus paman dari bayi yang Yura jaga.
Jayden terpaku di ambang pintu, matanya beralih dari lima mayat di lantai menuju wanita yang berdiri memegang pedang dengan darah yang menetes dari wajahnya.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Jayden, suaranya berat dan penuh kecurigaan.
"Kau! Apakah kau mencoba membunuh keponakanku?" tanya Jayden dingin, mata menatap Yura dengan kebencian yang nyata.
Yura menyeka darah di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap Jayden tanpa rasa takut sedikit pun, dia bukan lagi Calista, di tubuh ibu Susu yang lemah itu, sekarang di ganti dengan jiwa Yura, sang agen rahasia dari dunia lain, dengan kemampuan jauh diatas pembunuh bayaran.
"Jika aku ingin membunuhnya, dia sudah mati sejak tadi, Tuan yang Terhormat," jawab Yura dengan nada sinis.
TRANG
Yura melemparkan pedangnya ke lantai hingga menimbulkan suara denting yang keras.
"Daripada menuduhku, sebaiknya kau urus keamanan istanamu yang bocor seperti saringan ini," lanjut Yura dingin.
Dari ingatan yang Yura terima sebelum dia membuka mata, pria ini adalah orang yang selama ini melindungi bayi kecil itu, yang merupakan Putra Mahkota Kerajaan Florist, Pria dingin yang selalu menatap Calista asli dengan tajam.
Mendengar respon dari perempuan yang menjadi ibu Susu dari keponakan nya, Jayden tertegun.
Wanita di depannya ini memiliki terlihat berbeda, karena biasnya dia tidak pernah berani mengangkat kepala nya, apa lagi menjawab perkataan nya.
Tapi sekarang, Jayden melihat tatapan mata yang biasa nya sayu penuh ketakutan, kini berubah menjadi tatapan yang dingin dan berani, seperti tatapan seorang prajurit yang telah melewati ribuan medan perang.
"Berani sekali kau bicara seperti itu padaku, Ibu Susu," ucap Jayden melangkah maju, mencengkeram rahang Yura dengan kasar.
"Kau hanyalah pelayan di sini. Nyawamu ada di tanganku!" desis Jayden, mengeram rendah.
Yura malah tersenyum tipis, sebuah seringai yang membuat bulu kuduk pengawal di belakang Jayden meremang.
"Lakukan saja jika kau berani," tantang Yura.
"Tapi ingat, tanpa aku, bayi kecil itu tidak akan bertahan semalam pun. Dan kau? Kau akan gagal menjaga amanah terakhir kakakmu karena kebodohanmu sendiri, Grand Duke Jayden yang terhormat," lanjut Yura, dengan seringai iblis yang muncul di wajah nya.
Ruangan itu mendadak hening, Jayden mempererat cengkeramannya, tapi Yura tidak berkedip sedikit pun, baginya ini bukan apa-apa, bahkan dia pernah terkena timah panas di tubuh nya.
Di saat itulah, Jayden sadar, wanita di depannya bukan lagi Calista yang lemah dan penakut.
Dan tanpa Jayden tahu, ibu susu dari keponakan nya itu memang bukan lagi Calista yang asli, dia adalah Yura, sang agen rahasia dari dunia yang jauh berbeda dengan dunia ini
Oek
Oek
Oek
Di tengah-tengah ketegangan itu, tiba-tiba bayi kecil yang ada di atas ranjang, menangis dengan keras.
"Cepat lakukan tugas mu!" perintah Jayden, melepaskan cengkraman nya.
Cih
Yura berdecih sinis, dan berbalik berjalan ke arah ranjang, mengangkat bayi itu ke dalam gendongan nya.
"Keluar!"
Perintah Yura pada Jayden dan para pengawal nya.
"Kau! Kau berani memerintah kan ku!" ucap Jayden, geram.
"Bodoh! Aku ingin menyusui bayi kecil ini. Apa kau ingin melihat nya hah!" ucap Yura, frontal.
Jayden yang biasa berwajah kaku, seketika wajah nya memerah, mendengar ucapan Yura, begitupun dengan para pengawal yang di belakang nya, mereka tidak menyangka akan mendengar ucapan seperti itu.
Tanpa sepatah kata pun Jayden keluar dari kamar itu di ikuti oleh para pengawal nya.
Melihat pintu sudah tertutup, Yura langsung menatap bayi kecil yang ada di gendong nya, bayi itu sangat tampan walaupun masih bayi.
"Malang sekali nasib mu, Nak," gumam Yura.
Semua ingatan tentang tubuh baru nya sudah Yura dapat kan, termasuk ingatan tentang bayi kecil itu.
Bayi kecil itu adalah anak dari Kakak Jayden yang sudah meninggal, terbunuh karena pengkhianatan yang di lakukan oleh istri nya sendiri.
Dan bayi kecil ini adalah satu-satunya pewaris tahta kerajaan Florist, makanya banyak orang yang ingin melenyapkan nyawa kecil nya.
Selain sudah tidak memiliki Ayah, bayi kecil ini juga tidak memiliki ibu. Ibunya juga mati terbunuh, siapa lagi pelakunya kalau bukan sang paman pelindung, Grand Duke Jayden.
Oek
Oek
Oek
Bayi kecil kembali menangis karena Yura tidak kunjung memberikan ASI nya.
"Hah... Mimpi apa aku, tiba-tiba harus menjadi ibu Susu dari bayi malang ini," gumam Yura, membuka pakaian bagian atas nya.
Yura menarik napas panjang, mencoba menekan rasa canggung yang menyerang egonya sebagai seorang agen rahasia.
Seumur hidupnya, dia hanya akrab dengan senjata api, racun, dan strategi infiltrasi, tapi kini, dia harus berhadapan dengan insting biologis tubuh Calista yang menuntutnya untuk menjadi seorang pelindung dengan cara yang paling primitif sekaligus suci.
Slup
Begitu bayi itu mendapatkan apa yang diinginkannya, tangisannya mereda menjadi isapan-isapan kecil yang tenang.
Yura menyandarkan punggungnya pada tiang ranjang yang keras, matanya tidak sedetik pun lepas dari pintu kayu yang baru saja ditutup Jayden.
"Pangeran Mahkota... pewaris suci," gumam Yura, jemarinya yang masih menyisakan bekas darah kering kini mengusap pipi lembut bayi itu dengan hati-hati.
"Kamu adalah tiket keberlangsungan ku di dunia ini, sekaligus target yang akan membuat hari-hariku tidak pernah tenang, dan menyenangkan," gumam Yura, tersenyum miring.
Pikirannya berputar cepat. Berdasarkan ingatan Calista istana ini adalah sarang ular. Jayden mungkin pelindung secara hukum, tapi kasus sang Grand Duke yang membunuh ibu bayi ini, meskipun karena pengkhianatan, menunjukkan bahwa pria itu adalah sosok yang kejam dan pragmatis.
"Ah rasanya aku sudah tidak sabar, ingin mematahkan satu persatu leher para pengkhianat itu," batin Yura, seringai iblis muncul di wajah nya.
"Dan kamu Pangeran kecil, mulai sekarang kamu tidak perlu takut, akan aku pastikan kamu aman di bawah perlindungan ku," gumam Yura, mengelus lembut rambut Pangeran.
"Pangeran Mahkota Lorenzo Florist, nama yang indah, seperti dirimu yang begitu agung," gumam Yura, membelai pipi Pengeran Lorenzo.
Beberapa menit kemudian, setelah bayi itu terlelap kembali, Yura merapikan pakaiannya, dia tidak memanggil pelayan.
Dengan gerakan pelan, dia mengambil kain bersih dari lemari kayu dan mulai membersihkan wajah serta tangannya dari noda darah.
Yura menatap pantulan dirinya di cermin, wajah Calista sebenarnya cantik, namun pucat dan tirus karena tekanan batin dan fisik.
"Mulai hari ini, tidak akan ada lagi Calista yang gemetar ketakutan," ucap Yura pada bayangan di cermin.
"Jika kalian ingin bermain api di istana ini, akan ku pastikan kalian terbakar habis," lanjut Yura, tersenyum dingin.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara bisikan di balik jendela, suaranya sangat tipis dan samar, namun bagi agen kelas atas seperti Yura, itu seperti teriakan.
Yura menyungging kan senyum sinis nya, menatap pantulan dirinya di dalam cermin, tanpa berniat ingin menoleh.
"Tikus kedua sudah datang," bisik Yura, menyeringai.
Dengan anggun, tanpa rasa takut dan gemetaran, Yura berjalan santai menuju meja rias, kembali mengambil tusuk konde perak yang tadi ia gunakan untuk membunuh.
Sret
Tanpa peringatan, Yura melempar tusuk konde itu ke arah celah tirai jendela.
Jlep
"Akh!"
Sebuah rintihan tertahan terdengar dari luar, diikuti suara benda jatuh ke semak-semak.
Yura berjalan menuju jendela, membukanya dengan tenang, dan melihat seorang pria berpakaian pelayan istana tersungkur dengan tusuk konde menancap di bahunya.
Di saat yang sama, Jayden yang ternyata belum pergi jauh dari koridor luar, muncul bersama para pengawal karena mendengar kegaduhan.
BRAK
Pintu kamar Yura di dobrak dengan sangat kuat, hampir saja Yora melemparkan tusuk konde nya pada orang yang sudah lancang mendobrak pintu nya, untung saja Pengeran kecil nya tidak terbangun.
Jayden menatap pria yang terluka itu, lalu menatap Yura yang berdiri di bingkai jendela dengan tatapan bosan.
"Satu lagi tikus mu tertangkap, Grand Duke," ucap Yura datar.
"Sepertinya saringan di istanamu bukan hanya bocor, tapi sudah hancur total," lanjut Yura, tersenyum meremehkan.
Jayden mengepalkan tangannya, matanya berkilat antara amarah dan kekaguman yang tersembunyi.
"Bawa pengkhianat ini ke ruang bawah tanah!" perintah Jayden pada pengawal nya.
"Baik Yang Mulia," jawab Pengawal Jayden, tegas.
Tikus menganggu itu di seret keluar dari kamar Yura, menyisakan tiga manusia dewasa di kamar itu, Yura, Jayden dan Owen tangan kanan Jayden.
Jayden mendekat ke arah Yura, membuat jarak mereka sangat dekat hingga Yura bisa mencium aroma maskulin bercampur besi dari jubah sang Grand Duke.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Jayden dengan suara rendah yang mengancam.
"Calista yang kukenal tidak bisa membedakan mana pedang dan mana sendok sayur," lanjut Jayden, penuh intimidasi.
Yura melipat tangan di dada, menatap tepat ke manik mata Jayden yang kelam.
"Anggap saja aku Calista yang baru saja terbangun dari mimpi buruk panjang, dan menyadari bahwa di dunia ini, hanya taring yang bisa melindungi ku, dan keponakanmu," jawab Yura, santai tanpa rasa takut dengan tatapan dingin sang Grand Duke.
Owen yang melihat itu, cukup terkejut, dirinya saja yang sudah kenal lama dengan Jayden, tidak berani menatap Jayden seperti itu.
Jayden menatap tajam pada Yura, tangan nya terkepal kuat, terbiasa tumbuh di lingkungan yang penuh kepura-puraan dan pengkhianatan, membuat Jayden tidak pernah percaya pada siapapun, bahkan ibu kandungnya sendiri, sering memukul nya waktu kecil, saat dia tidak mau menuruti ibunya untuk mencelakai kakak nya.
Jayden adalah anak dari Selir Raja, dan selama garis keturunan Ratu masih ada, tahta Florist tidak akan pernah jatuh pada tangan orang lain, sekalipun orang itu memiliki darah Raja, seperti Jayden.
"Kenapa kau begitu keras kepala melindungi bayi ini, Jayden?" tanya Yura sambil menatap sang Grand Duke.
"Kau punya pasukan, kau punya pedang, dan kau bisa saja duduk di kursi raja itu sekarang jika kau mau," lanjut Yura.
Jayden menyipitkan mata, kemarahan berkilat di wajahnya.
"Tutup mulut mu! Kau tidak tahu apa-apa! Aku adalah Panglima, bukan pengkhianat seperti wanita yang membunuh ayahku. Takhta itu milik darah daging kakakku! Jika anak ini mati, kerajaan ini akan terpecah menjadi seribu keping oleh perang saudara," jawab Jayden, menatap Yura, marah.
Yura mendengus, di mengerti sekarang. Jayden adalah tipe pria yang sangat menjunjung tinggi kehormatan dan janji, namun hatinya penuh luka.
"Setidak nya pria ini pria yang jujur, dan tidak haus kekuasaan," batin Yura, sedikit kagum dengan pendirian Jayden.
"Baiklah, Anda boleh keluar, aku ingin tidur," ucap Yura, berjalan ke arah ranjang.
Jayden menatap tajam, punggung kecil Yura, seumur hidup dia tidak pernah di perlakukan seperti ini, di tinggal begitu saja, entah kenapa ada bagian dari dalam dirinya sedikit terusik.
"Yang Mulia, apa Anda baik-baik saja?" tanya Owen, hati-hati.
"Hem"
Gumam Jayden berbalik, dan keluar dari kamar Yura, di ikuti oleh Owen di belakang nya.
Kamar Yura kembali tertutup rapat, di lorong istana Jayden berjalan dengan langkah tegap, dengan pikiran yang berkelana pada kejadian malam ini.
"Bagaimana menurut mu Owen?" tanya Jayden, melirik tangan kanannya.
"Maksud Anda?" tanya Owen, tidak paham.
"Ck, wanita itu, ibu Susu Lorenzo," jawab Jayden, berdecak kesal.
"Oh, Nona Calista? Malam ini Nona Calista tampak berbeda," jawab Owen, jujur.
"Begitu?" gumam Jayden, masuk ke dalam ruang kerja nya.
Di dalam ruang kerja yang remang-remang, Jayden menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran nya.
Jayden menuangkan wine ke dalam gelas kristal, namun matanya tetap terpaku pada tumpukan dokumen yang tak lagi menarik perhatiannya.
"Bukan hanya berbeda, Owen. Dia seperti orang yang berbeda total," gumam Jayden, suaranya parau.
"Gerakannya tadi itu bukan gerakan seorang pelayan yang panik, tapi itu adalah teknik membunuh yang sangat profesional, tidak ada gerakan sia-sia," lanjut Jayden, meneguk wine nya.
Glek
"Benar, Yang Mulia, dan cara dia menatap Anda tadi, seolah-olah dia sedang menilai apakah Anda layak menjadi sekutunya atau justru harus dieliminasi," jawab Owen mengangguk setuju.
Owen masih ingat dengan jelas, bagaimana tusuk konde itu menancap sempurna di saraf leher penyerang pertama.
Jayden kembali menyesap wine-nya, merasakan sensasi pahit yang menjalar di tenggorokannya.
"Awasi dia, jangan lepaskan pandanganmu darinya walau sedetik pun! Aku tidak peduli jika dia menyelamatkan Lorenzo malam ini, aku harus tahu siapa yang melatihnya menjadi monster secantik itu!" perintah Jayden, penuh penekanan.
"Di mengerti Yang Mulia," jawab Owen, mengangguk tegas.
Sementara itu, di dalam kamar yang masih berbau anyir darah, Yura tidak langsung tidur, meskipun tadi dia mengusir Jayden dengan kasar, kewaspadaannya justru berada di level tertinggi.
Yura berjalan-jalan mengelilingi kamar baru nya, hingga kaki nya melangkah menuju sudut ruangan, mengambil beberapa helai benang sutra dari kotak jahit tua milik Calista.
Dengan cekatan, Yura merentangkan benang-benang tipis itu di depan pintu dan jendela, menghubungkannya dengan beberapa lonceng kecil yang dia sembunyikan di balik tirai. Sebuah jebakan alarm sederhana namun efektif.
"Tubuh ini benar-benar payah," keluh Yura sambil memijat bahunya yang terasa kaku.
"Hanya melawan beberapa amatir tadi saja ototku sudah menjerit, aku butuh latihan fisik secepatnya," gumam Yura, memikirkan langkah selanjutnya.
Yura kembali duduk di sisi ranjang, menatap bayi Lorenzo yang tertidur pulas.
Tangan Yura bergerak menyentuh luka kecil di lehernya sendiri, bekas cengkeraman Jayden tadi.
"Grand Duke Jayden..." gumam Yura tersenyum sinis.
"Pria yang menarik. Dia punya kebencian yang murni, tapi juga kesetiaan yang bodoh. Tipe pria yang sangat mudah dimanipulasi jika kau tahu tombol mana yang harus ditekan," gumam Yura, mengingat sosok Jayden tadi.
Tiba-tiba, Yura merasakan denyut aneh di kepalanya, beberapa ingatan Calista kembali muncul, potongan-potongan memori tentang hari di mana ibu kandung Lorenzo tewas.
Dalam ingatan itu, Calista bersembunyi di balik lemari, gemetar hebat saat melihat sesosok bayangan memegang belati beracun.
"Tunggu... bayangan itu bukan Jayden," gumam Yura membelalakkan matanya.
Setelah beberapa ingatan Calista berhasil masuk ke otak Yura, kemudahan dia bangkit berdiri, berjalan mendekati jendela yang baru saja dia tutup, menatap ke arah menara barat istana yang gelap.
"Jadi selama ini semua orang mengira Jayden yang membunuh ibu bayi ini? Dan Jayden membiarkan rumor itu beredar demi menutupi pelakunya yang sebenarnya?" batin Yura terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar berbahaya di kesunyian malam.
"Menarik sekali. Sepertinya aku terdampar di tengah-tengah drama keluarga kerajaan yang sangat busuk," batin Yura, tersenyum sinis.
Yura mengambil sepotong kain sisa dan mulai mengasah tusuk konde peraknya yang masih menyisakan noda merah.
Cahaya bulan memantul di permukaan perak itu, memproyeksikan kilatan di mata Yura yang haus akan tantangan.
"Siapapun yang mengirim pembunuh tadi, mereka pasti akan mengirim gelombang kedua setelah tahu bidak mereka gagal kembali," gumam Yura, yang sudah sangat hafal dengan permainan seperti ini.
Setelah cukup lama berdiri di dekat Jendela, menatap kegelapan malam dengan pikiran yang berkelana, Yura sedikit melirik ke arah pintu, dia ahu, di balik dinding itu, mata-mata Jayden pasti sedang mengintip.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!