Indonesia
NovelToon NovelToon

Reinkarnasi Ke Tubuh Permaisuri Terbuang

Awal mula.

“Winny, serius nih mau ikut balapan hari ini?” tanya Chen-li, nada suaranya penuh selidik.

“Jelas lah! Aku kan pengen mengalahkan Yan, si pria brengsek itu,” jawab Winny sambil membuka sebotol air mineral, matanya menyala penuh tekad.

Jimmy mengernyit, lalu menyahut, “Kamu yakin bisa mengalahkan Yan? aku denger dia itu pembalap yang serem banget, beberapa kali udah menang terus, lho.”

Winny menatap Jimmy, wajahnya mengeras. “Mulutmu itu mau aku sobek? Gak tahu apa? Semalem aku nggak bisa tidur, soalnya mimpiin lembaran-lembaran uang yang beterbangan. Kebayang, gitu, rejeki datang kepadaku. Terus ada setan juga di mimpiku, wajahnya serem banget.”

Chen-li penasaran, mendekat dengan ekspresi lucu di wajahnya. “Setannya kayak gimana sih? Ceritain dong!”

Winny terdiam sesaat, lalu menatap Chen-li yang dikenal sebagai playboy suka godain cewek-cewek cantik itu. “Ya... gitu deh, kayak mukamu kalau lagi ngeselin,” goda Winny sambil cemberut.

Chen-li ngakak, “Hah! Gitu doang takut? Jangan-jangan kamu yang serem, makanya mimpi setan.”

Winny menjewer bahu Chen-li, “Ah, kamu aja yang sok jago! Besok siap-siap kalah sama aku, ya!”

Jimmy baru saja hendak memanggil Chen-li, tapi matanya tiba-tiba terpaku pada motor asing yang terparkir di bengkel. "Eh, motor ini milik siapa, Chen?" tanya Jimmy, suaranya penuh rasa penasaran.

Chen-li menoleh, sambil menyipitkan mata ke arah motor tersebut. "Kalau mau tahu, tanya saja sama Winny," jawab Chen-li santai sambil mengambil perkakas di meja.

Jimmy merasa curiga. Langkahnya segera menghampiri Winny yang sedang sibuk di sudut bengkel. "Winny, motor ini siapa, sih?" tanya Jimmy, menahan rasa heran.

Winny hanya tersenyum misterius dan menengadah, seolah sedang mengingat sesuatu. "Mmm... motor siapa, ya?" gumamnya pelan.

Jimmy mengerutkan dahi dan menegaskan, "Aku tanya, ini motor siapa, Winny?" 

Chen-li yang berdiri di belakang tidak bisa menahan tawanya, melihat kebingungan Jimmy. Akhirnya, Winny menjawab singkat, "Sebenarnya sih, aku yang pinjam motor ini."

Jimmy memicingkan mata, mencoba mencerna jawaban Winny yang santai itu. "Pinjam? Dari siapa?" tanya Jimmy lagi, tapi Winny cuma mengangkat bahu tanpa berkata banyak.

"Pinjam dari mana motor ini, Winny?" Jimmy langsung menyerbu dengan pertanyaan yang sudah berputar-putar di kepala sejak tadi.

Winny cuma nyengir, santai, "Dari seseorang."

Jawaban singkat itu malah bikin Jimmy makin curiga. "Seseorang? Maksud lo siapa, Winny? Jangan bohong. Ini motor beneran punya orang lain, kan?"

Winny mengangkat bahu, cengengesan, "Ya gak nyuri juga, cuma pinjam doang. Tadi aku dikejar-kejar preman kelompok itu, jadi aku ambil salah satu motor anak buah mereka buat kabur."

Jimmy garuk-garuk kepala, frustrasi, "Kamu... ngaku aja dong, kamu nyuri motor! Kenapa harus ribet gitu sih? Kok bisa sampai berurusan sama anggota Blue Black? Apa sih yang kamu lakuin sampai segitunya?"

Winny nyengir sambil melirik ke arah Chen-li, "Ya tanya aja sama dia. Dia yang bikin ribet, aku cuma ikutan diseret ke tempat itu."

Jimmy menatap Chen-li dengan tajam, nada suaranya ikut meninggi, "Chen-li, jelasin! Kamu bawa Winny ke masalah apa sih sampai dia harus berbuat gila kayak gini?"

Chen-li menarik napas panjang, wajahnya yang biasanya tenang kini penuh ketegangan. Matanya yang tajam menatap Jimmy yang terus mengajukan pertanyaan tanpa henti, membuat dadanya sesak. “Aku punya masalah serius, Jimmy. Aku butuh bantuan Winny,” ucap Chen-li akhirnya, suaranya bergetar namun tegas.

Mendengar itu, Winny langsung berdiri, ekspresinya berubah dari santai menjadi waspada.Tak lama kemudian, suara langkah kaki berat dan teriakan kasar terdengar dari kejauhan. Sekelompok preman Blue Black muncul, wajah mereka penuh amarah dan niat jahat. Chen-li dan Winny saling berpandangan, keduanya tahu bahaya mengintai di depan mata.

“Kalian ini sukanya mencari masalah ya?” Jimmy muncul di tengah kerumunan, matanya menyipit penuh kesal.

Winny menatap Jimmy dengan dingin, suaranya keras membela diri, “Jangan salahkan aku, salahkan saja para preman itu.” Ia mengangkat dagu, menantang siapapun yang berani mendekat.

"Aku heran banget deh, kenapa sebagai seorang gadis kamu itu selalu suka mencari masalah?" tanya Jimmy.

para preman dari kelompok blue black sudah berada di bengkel milik Jimmy tentu saja mereka bergegas untuk mengambil sesuatu untuk mempertahankan diri.

"Winny, cepat kembalikan barang yang kamu ambil!" seru ketua geng blue black.

"Ini preman kepalanya botak mulutnya lancip, pakaian acak-acakan, namanya saja preman tapi kenapa nama gengnya blue black? kayak selai buat makan roti aja." kata Winny yang membuat para anggota geng blue black benar-benar kesal.

"Cepat kembalikan barang yang kamu ambil!" seru ketua geng blue black.

"Barang apaan? Aku cuma ambil motor aja, tuh motornya ambil, bawa pulang ngapain juga sih pakai ngejar sampai di sini!" seru Winny sembari mengangkat besi seukuran kepalan tangan.

"Winny, apa yang kamu curi dari mereka?" tanya Jimmy.

"Tidak ada, cuma ambil motor mereka untuk menyelamatkan diri aja." jawab Winny yang kemudian menoleh kepada Chen Li. mereka berdua menatap Chen-li dengan tetapan mata yang penuh pertanyaan.

"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Chen-li bertanya ketika dia mendapatkan tatapan mata yang begitu tajam dari Jimmy dan Winny.

"Jangan bilang Kamu mencuri sesuatu dari mereka?" tanya Jimmy.

Chen-li diam tanpa mengatakan sesuatu, hal itu membuat Winny benar-benar sangat kesal. "Dasar preman kurang ajar! kamu mau mengumpankan aku sama pria botak itu?! cepat berikan apa yang kamu ambil, jika tidak akan ku rubah dirimu yang tidak tampan itu menjadi ikan arwana!" teriak Winny dengan suara yang begitu menggelegar dan kekesalan yang begitu besar.

"Serang mereka!" teriak ketua geng blue black.

Melihat itu tentu saja Winny langsung menarik tangan Jimmy dan Chen-li, mereka bertiga kabur tunggang langgang meninggalkan bengkel untuk menyelamatkan diri. "Dasar kamu brengsek Chen-li, beraninya Kamu mencuri dari mereka! apa yang kamu curi dari si botak itu?!" tanya Winny.

"Maaf Winny, aku tidak sengaja waktu itu." jawab Chen-li.

"Tidak sengaja kepalamu, aku ini belum menikah, belum punya pacar, aku baru diputusin gara-gara si muka datar seperti lapangan terbang itu! sekarang kamu mau membunuhku? dasar pria tidak berotak!" teriak Winny yang kemudian kabur dengan langkah yang lebih cepat. hal itu membuat Jimmy berlari dengan cepat pula namun Chen-li yang tidak terlalu pandai berlari itu dia nampak kehabisan nafas.

Langkah kaki Chen-li terhenti, dia sudah tidak sanggup berlari untuk mengejar Winny dan Jimmy, di belakangnya sudah ada beberapa preman yang siap menangkapnya.

"Oh Tuhan..., aku benar-benar akan mati." ucap Chen-li yang sudah pasrah.

"Winny, Chen-li ketinggalan." Jimmy yang menghentikan langkahnya. dia menatap Chen Li yang berhenti dengan wajah pasrah.

"Itu pria wajah menyebalkan Kenapa sih menjadi teman kita? aku yakin barang yang dia curi itu barang berharga." jawab Winny yang kemudian berbalik untuk menarik Chen-li pergi.

Para preman anggota blue black sudah mengejar mereka. "Kenapa kamu diam saja? kamu mau mati ya? kalau mati jangan ngajak kami!" bentak Winny yang kemudian menarik Chen-li.

*bersambung*

2.Di kejar preman

“Gimana ini, Winny?!” Jimmy panik sambil menoleh ke sekeliling.

Winny mengerutkan dahi, lalu berkata santai, “Ya kabur, lah. Ngapain kita bertahan? Masa mau dikeroyok mereka? Kalian tahu kan, muka kalian sudah enggak tampan, eh, dihajar pula. Mau jadi apa kita?” Tanpa menunggu jawaban, Winny melangkah cepat menuju motor yang terparkir di pinggir jalan.

“Motor siapa, ya, ini?” gumamnya sambil mengambil kuncinya yang masih menempel.

Jimmy dan Chen-li mengikuti langkah Winny, bingung tapi tak punya pilihan lain. Winny menghidupkan motor dengan mudah, senyum tipis merekah di bibirnya. “Pegang yang erat, ya!” seru Winny dengan suara lantang.

Jimmy dan Chen-li segera berpegangan erat. Jantung mereka berdetak kencang, tapi di balik kecemasan itu muncul secercah keberuntungan yang tak terduga.

“Wah, kita bener-bener beruntung banget, ya,” gumam Winny sambil melempar senyum penuh arti ke arah teman-temannya.

“Aaaaaa!!!” Jimin dan Chen-li berteriak keras, tangan mereka saling mencengkeram erat, seolah takut terlepas satu sama lain.

“Winny, pelan, dong! Mulutku sudah komat-kamit nggak jelas begini!” teriak Jimmy, suaranya hampir hilang tertiup angin kencang dari motor.

“Kalau nggak melaju kencang, kalian mau dihajar rame-rame sama preman selai strawberry itu?!” Winny membalas tanpa menurunkan kecepatannya sedikit pun.

Teriakan Jimmy semakin kacau. “Aduh, nanti nyawa kita malah nyangkut di tiang listrik, Win! Santai, santai...”

“Santai? Gila kamu, Jim! Santai nggak bakal selamat kita!” Winny membalas sambil memelintir gas motor lebih dalam.

Angin kencang membuat mulut Jimmy dan Chen-li benar-benar tak karuan, seperti hendak melepaskan kata-kata tapi cuma bunyi komat-kamit yang keluar.

“Cepetan deh, kita udah dikejar, nih!” teriak Winny lagi, matanya fokus menatap jalan ke depan.

Jimmy cuma bisa menelan ludah, berharap kecepatan ini bisa menyelamatkan mereka.

"Iya, nyawa kita bisa-bisa nyangkut di tiang listrik!" teriak Chen-li dengan suara menggema, gemuruh yang seolah menembus udara malam yang tegang. Tangannya mencengkeram erat Winny seolah takut jika dalam sekejap dia terlepas dan jatuh terperosok ke jurang maut di bawah sana. Jantungnya berdegup seolah hendak meledak, napasnya tersengal dalam kegelapan yang memeluk mereka tanpa ampun.

Di sisi lain, Jimmy memeluk Chen-li dengan genggaman kuat, wajahnya tegang penuh kecemasan. "Ya Tuhan... tolong selamatkan kami sampai tiba di tujuan. Aku tak mau nyawaku tiba-tiba melayang, direnggut setan jalanan ini yang tiba-tiba muncul dan menelan kami tanpa ampun." Suaranya serak, dihiasi takut yang mengakar dalam hati.

Chen-li menengadah, menatap tajam ke depan, seolah berperang melawan nasib. Pelukan semakin erat saat motor melesat di antara bayang-bayang preman yang mengintai, melaju dengan kecepatan yang menantang maut, meninggalkan bahaya dan rasa takut di belakang mereka, namun dengan harapan tipis agar semuanya bisa selamat.

"Aaaaaa!!!!" suara teriakan Jimmy dan Chen-li.

Di sebuah tempat Winny menghentikan motornya, dia menghela nafas sedikit dalam. sedangkan dua penumpang yang ada di belakangnya wajah mereka sudah pucat pasi dengan perut yang benar-benar mual luar biasa. Jimmy dan Chen-li turun dari motor setelah itu mual yang hebat mereka rasakan.

"Kamu benar-benar kurang ajar Winny, kamu memang ingin membunuh kami ya." ucap Jimmy.

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Winny, dia hanya menunjukkan senyumnya sembari mengerucutkan bibirnya. 

Beberapa hari setelah kejadian itu, Winny berdiri di pinggir sirkuit balap yang berderu dengan suara mesin-mesin beringas. Ia mengenakan pakaian balap berwarna merah menyala yang pas melekat di tubuhnya, helm hitam terselip di bawah lengannya. Napasnya teratur, wajahnya tampak tegas, namun ada kilatan kecemasan yang bersembunyi di balik sorot matanya.

Jimmy, yang berdiri tak jauh darinya, terus menatap Winny dengan penuh keraguan. "Kamu yakin mau melakukan ini, Winny?" tanyanya lagi, suaranya bergetar sedikit, seperti mencoba menahan kekhawatiran yang dalam.

Winny menghela napas panjang, lalu tanpa menoleh menjawab, "Ya, tentu saja yakin. Kalau nggak yakin, aku nggak akan ada di sini." Tangannya cekatan menarik resleting jaket balapnya sampai rapat, menandakan kesiapan yang tak bisa diganggu gugat.

Sirkuit itu mulai ramai, suara mesin-mesin lain semakin membahana, membuat jantung Winny berdegup kencang. Namun, di balik semua itu, dia menatap lurus ke lintasan, membayangkan garis finish yang harus dia taklukkan. Detik-detik menuju balapan tinggal hitungan, dan Winny berdiri penuh tekad, siap menantang segala risiko yang menanti di depan.

Jantung Jimmy dan Chen-li berdebar begitu kencang ketika mereka berdua melihat Winny melajukan mobilnya di sirkuit balap dengan kecepatan yang begitu luar biasa. ketika Winny yang akan sampai ke laju finish, tiba-tiba saja mesin mobilnya mengeluarkan asap, hal itu membuat para penonton nampak langsung berdiri begitu pula dengan Jimmy dan Chen-li.

Asap putih pekat mengepul dari kap mesin mobil Winny, membumbung tinggi dan menyebar cepat ke udara. Suara gemuruh mesin yang tadinya meraung penuh tenaga mendadak berubah menjadi dengungan lemah dan serak. Di tribun penonton, riuh rendah berubah menjadi hening sesaat, lalu bergemuruh dengan sorak cemas.

Jimmy menggenggam erat pegangan kursinya, wajahnya memucat, matanya terpaku pada mobil yang mulai melambat tanpa kendali. Chen-li, yang duduk di sampingnya, menahan napas, kedua tangannya meremas erat ujung bajunya hingga keriput. Di lintasan, Winny terlihat berusaha menahan kemudi, wajahnya tegang penuh konsentrasi, keringat membasahi dahinya. Namun, asap yang semakin tebal memaksa mobil itu perlahan berhenti sebelum garis finish, meninggalkan bayangan kemenangan yang menguap bersama asap itu.

Jantung Jimmy dan Chen-li berdegup seperti hendak meledak, campuran antara kekhawatiran dan ketakutan membekap dada mereka, sementara kerumunan penonton berdiri serentak, suara-suara panik dan bisik cemas memenuhi udara.

Winny duduk tegap di balik kemudi, tatapannya fokus meski kepulan asap putih membumbung dari kap mobil yang sudah mulai panas. Tanpa sedikit pun ragu, dia menekan pedal gas hingga ke lantai, menggeber mesin dengan suara meraung yang memecah keheningan. Namun, tiba-tiba dari asap itu muncul percikan api kecil yang berkelip-kelip seperti bintang liar di malam gelap. Seketika, suara ledakan dahsyat mengguncang udara, membuat tanah bergetar dan membuat semua penonton terhenti dalam keheningan sesaat, mata mereka melebar penuh ketakutan dan tak percaya.

Mobil itu meledak dengan kobaran api yang membumbung tinggi, cermin dan serpihan logam beterbangan menghiasi langit, sementara Winny terlempar ke depan, tubuhnya menahan getaran keras yang membuat jantung berdegup kencang. Namun, di balik kepulan asap dan api yang berkobar, ada keberanian membara dalam matanya, sebuah nyala jiwa yang tak pernah padam meski menghadapi maut.

Winny yang berada di dalam mobil meledak itu tentu saja dia tidak akan mungkin selamat, tak ada yang bisa dikatakan namun sebuah cahaya putih telah menarik jiwanya membawanya ke sebuah tempat yang tidak akan pernah dia pikirkan selama ini.

Di sebuah tempat seorang wanita hanya bisa meringkuk, tidak ada kata, mulutnya terdiam seribu bahasa dengan tangan yang telah terluka dan bibir berwarna putih.

"Sudah aku katakan bukan, jangan pernah berani menyentuh selir ku!" teriak seorang pria dengan amarah yang begitu luar biasa, tangannya masih memegang cambuk, tanpa ampun pria itu terus mencambuk si wanita hingga wanita itu memuntahkan darah dan kehilangan nyawa.

*Bersambung*

3 Reinkarnasi

Nyawa si wanita melayang tanpa ada yang menolongnya, namun seorang pelayan wanita hanya bisa menangis ketika kedua tangannya diikat. Dia hanya bisa meratapi junjungannya yang sudah tidak bernyawa.

"Yang mulia, permaisuri sudah meninggal." ucap tabib yang mendekat.

Kaisar terdiam, dia menatap wanita yang sudah dia nikahi beberapa tahun itu, namun sayangnya Kaisar tidak pernah menyentuhnya bahkan menginjakkan kakinya di paviliun sang permaisuri pun tidak pernah ia lakukan.

"Jadi dia sudah mati ya, kalau begitu seret tubuhnya dan makamkan dia, tidak usah ada acara kematian di istana untuk wanita tidak tahu diri itu." jawab Kaisar dengan nada dingin. Tak ada rasa bersalah, tak ada penyesalan diraut wajahnya, hanya tergambar kekesalan dan sakit hati.

Berbeda dengan seorang wanita tua yang tidak lain adalah ibu suri, wanita tua itu baru mendapatkan kabar bahwa permaisuri telah meninggal di tangan putranya. "Apa maksudmu?!" teriak ibu suri dengan keras.

"Hamba barusan mendapatkan kabar Ini dari para pelayan, Ibu suri." jawab dayang Jung.

"Bagaimana bisa yang mulia Kaisar melakukan hal itu pada istrinya hanya gara-gara selir rendahan itu! dia berani menghabisi nyawa istrinya!" teriak ibu suri dengan amarah yang begitu luar biasa, dia segera mengajak dayang Jang untuk ke paviliun sang Kaisar.

seorang wanita diletakkan di peti mati seadanya, peti mati tua tanpa ada acara sembahyang. Pelayan bernama Yura terus menangis permaisuri, tubuh yang sudah menjadi mayat kulit berwarna coklat itu perlahan berubah warna sedikit putih pucat tanpa ada darah yang mengalir, tak ada dayang ataupun pelayan yang datang ke tempat itu, hanya beberapa orang yang memberanikan diri untuk pergi ke paviliun kosong yang sekarang ditempati oleh mayat permaisuri.

Suara isak tangis terdengar begitu memilukan, ibu suri dan dayang Jung yang baru datang ke tempat itu nampak mereka berdua langkahnya terhenti, menatap pelayan sang permaisuri yang terus menangis. seketika tubuh ibu suri terhuyung, tubuhnya gemetar mulutnya tidak bisa berucap ketika melihat tubuh pucat dari permaisuri.

"Oh dewa... bagaimana bisa terjadi, bagaimana ini bisa terjadi." ucap ibu suri berulang kali. air matanya menetes berlinang perlahan ketika dia melihat tubuh pucat yang belum kaku itu.

"Mengapa yang mulia Kaisar begitu kejam, yang mulia." ucap pelan dayang Jung ketika melihat mayat dari permaisuri kerajaan Hanzo.

Tak ada upacara kematian, namun Kaisar Han Yuan-zi yang berada di kamarnya Dia hanya bisa terdiam tanpa berucap, entah dia merasa bersalah atau dia merasa bahagia, namun dengan tangannya sendiri dia telah membunuh istrinya.

Melihat Kaisar Han diam tanpa mengatakan apapun, selir Jia-li benar-benar merasa tidak senang, niat hati sudah tercapai namun sang Kaisar terlihat begitu murung. tak ada kata namun hati jahatnya terus berbisik untuk memprovokasi sang Kaisar.

"Akhirnya wanita itu sudah meninggalkan kita, yang mulia. Aku tidak akan disiksa lagi, aku tidak akan menderita lagi." ucap selir Jia yang terlihat berpura-pura kesakitan. dia memeluk Kaisar Han dengan air mata penuh kepalsuan.

"Kamu tenang saja, dia tidak akan pernah menyakitimu, Dia adalah wanita jahat yang pantas mendapatkan hukuman ini." jawab Kaisar Han setelah mengatakan itu dia mengajak selir kesayangannya itu untuk segera tidur.

Ketika sang Kaisar terlelap dalam mimpinya, tiba-tiba mimpi buruk terus melandanya mimpi mengenai kematian permaisurinya. siksaan yang terus dia berikan karena hasutan dari selirnya sang Kaisar bermimpi didatangi oleh permaisuri Ling Mina. di dalam mimpi itu sang permaisuri terus menangis bahkan dia terus menyebutnya penjahat, sesaat kemudian Kaisar Han terbangun dari tidurnya, wajahnya dipenuhi dengan keringat dengan jantung yang berdebar begitu kencang.

Di tempat permaisuri Ling, tiba-tiba saja angin berhembus kencang, ibu suri, dayang Jung serta pelayan Yura masih bersimpuh mereka menangisi permaisuri Ling yang sudah meninggal.

Zdarrrr!!!

tiba-tiba saja petir menyambar dengan begitu hebatnya, petir itu menyambar tepat di atas atap tempat permaisuri Ling.

"Oh dewa, apa yang terjadi?" ucap ibu suri dan dayang Jung.

Setelah petir menyambar dan angin berhembus kencang, peti mati sang permaisuri mulai bergoyang, hal itu membuat ibu suri, dayang Jung dan pelayan Yura langsung terkejut. Mereka berteriak kemudian saling memeluk satu sama lain.

"Aduh..., kepalaku sakit sekali." ucap seorang wanita yang ada di peti mati. wanita yang tidak lain permaisuri dan yang berada di dalam tubuh permaisuri adalah Winny.

"Aaaaa!!!!" teriakan itu menggema memenuhi ruangan gelap, membelah keheningan yang mencekam. Dari balik tutup peti mati yang tampak rapuh, perlahan sebuah tangan pucat muncul, menggenggam udara dengan jari-jari yang menggigil seolah berusaha meraih kehidupan.

Ibu Suri dan pelayan Yura menatap dengan mata membelalak, napas mereka tercekat oleh ketakutan yang tiba-tiba menyergap. "Hantu! Hantu!" jerit Dayang Jung sambil mundur tergesa-gesa, wajahnya berubah pucat pasi. Tubuhnya yang gemetar tak mampu menahan serangan panik, hingga akhirnya ia terjatuh lemas dan terkulai tak sadarkan diri di lantai. Suasana berubah menjadi neraka kecil, dengan bisikan ketakutan dan tatapan panik yang saling bertukar, seakan-akan peti itu menyimpan sesuatu yang tak seharusnya bangkit dari kematian.

Winny membuka matanya perlahan, tubuhnya masih terasa berat dan kepala berdenyut samar akibat tidur yang terganggu. Tiba-tiba, teriakan nyaring mengusiknya. "Suara siapa sih yang berisik banget? Kalian tidak tahu apa aku ini baru bangun!" seru Winny dengan geram, dia kemudian terduduk sambil mengerutkan kening. Matanya menatap dua sosok wanita yang berdiri.

Winny mengerjapkan matanya, bingung dan waspada, mencoba memahami situasi aneh ini. "Kalian ini siapa?" tanyanya dengan suara tajam, menahan amarah yang mulai berubah menjadi kekhawatiran. Wajahnya yang biasanya tenang kini memancarkan kebingungan.

"Aaaaa!!" teriak ibu suri dan pelayan Yura secara bersamaan, tangan mereka menunjuk ke arah peti mati, setelah itu ibu suri dan pelayan Yura ikut pingsan.

"Aduh... kok mereka pada pingsan sih." ucap Winny yang hendak menolong namun sesaat kemudian dia merasakan tubuhnya remuk redam. "Aku seperti habis dihajar para preman." ucapnya. setelah itu dia melihat tangannya yang dipenuhi dengan luka juga kepalanya terasa sakit.

Winny menatap di sekitar tempatnya berada, tempat yang asing, tempat yang mirip dengan bangunan lama. "Ini di mana?" ucapnya sembari menggaruk kepala. setelah itu dia melihat tubuhnya memakai pakaian putih, menatap tempatnya berada bukan di atas ranjang melainkan di dalam peti mati.

"Ini?" ucap Winny kebingungan, setelah itu dia keluar dari peti mati sembari menatap peti itu dengan seksama. "Oh my god..., aku berada di dalam peti mati?" ucapnya bingung. setelahnya dia menaruh jari telunjuknya di dahi, mengingat kembali kalau dia berada di arena balap mobil. "Bukankah aku berada di sirkuit balap mobil? lalu kenapa tiba-tiba berada di sini?" Winny kebingungan. Dia menarik pakaiannya sembari memperhatikan di sekitarnya, dia tidak memperdulikan tiga wanita yang pingsan di tempat itu.

"Dayang Jung mulai tersadar, dia menggelengkan kepalanya kemudian melihat di sampingnya ibu suri dan pelayan Yura sudah pingsan. "Kenapa aku mimpi aneh?" ucap dayang Jung yang kemudian menatap ke depan. di depannya wanita yang seharusnya meninggal itu malah sekarang berjalan-jalan memutar bahkan Dia seolah mencari sesuatu. "Ha.. Ha..han...," dayang Jung kemudian kembali pingsan.

*Bersambung*

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!