Langit di atas Verona tidak pernah benar-benar hitam. Malam ini, warna ungu tua yang pekat berpadu dengan semburat jingga sisa senja, menciptakan gradasi yang menyerupai memar di kulit. Kabut tipis merayap dari permukaan Sungai Adige, menyelinap di antara celah-celah bangunan kuno, membawa aroma lumut basah dan besi tua yang berkarat. Di bawah bayang-bayang lengkungan batu Ponte Scaligero, sebuah sosok berdiri dalam diam, seolah-olah menjadi bagian dari arsitektur abad pertengahan yang dingin itu.
Elena Moretti menarik napas panjang, membiarkan udara musim gugur yang tajam menusuk paru-parunya. Jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam meremas tali koper kecil yang dibawanya. Sepuluh tahun adalah waktu yang lama untuk melupakan, namun aroma kota ini—perpaduan antara wangi roti panggang dari kedai tersembunyi dan debu sejarah—langsung membangkitkan memori yang seharusnya terkubur dalam-dalam.
Mata Elena menyapu sekeliling. Piazza Bra di kejauhan masih nampak gemerlap dengan lampu-lampu kafe yang kuning keemasan, namun di tempatnya berdiri sekarang, hanya ada kegelapan yang menekan. Suara gemericik air sungai terdengar seperti bisikan ribuan orang mati yang menuntut penjelasan.
"Kau terlambat, Elena."
Suara itu rendah, berat, dan memiliki getaran yang membuat jantung Elena seolah berhenti berdetak sesaat. Tanpa perlu menoleh, sang wanita tahu siapa pemilik suara itu. Gema langkah kaki yang berat namun teratur terdengar mendekat. Sepatu kulit buatan tangan itu menghantam batu jalanan dengan irama yang dominan, sebuah deklarasi kekuasaan yang tak terucapkan.
Matteo Valenti keluar dari balik pilar batu yang gelap. Cahaya rembulan yang pucat jatuh tepat di wajah pria itu, mempertegas garis rahang yang keras dan sepasang mata kelam yang tak menyisakan ruang untuk belas kasihan. Matteo mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu arang yang berkibar ditiup angin, membuatnya tampak seperti predator yang baru saja keluar dari sarangnya.
"Sepuluh tahun tidak mengubah kebiasaan burukmu untuk selalu mengawasi orang dari balik bayangan, Matteo," balas Elena, suaranya tetap tenang meski di dalam dadanya ada badai yang sedang mengamuk.
Pria itu berhenti hanya dua langkah di depan Elena. Jarak yang terlalu dekat untuk dua orang yang seharusnya saling membunuh. Aroma kayu cendana yang mahal dan sisa tembakau dari pakaian Matteo langsung menginvasi indra penciuman Elena, memicu memori tentang masa kecil yang hancur dalam sekejap.
"Verona adalah rumahku. Di rumah sendiri, seseorang tidak mengawasi, melainkan memastikan tidak ada hama yang masuk tanpa izin," sahut Matteo dingin. Senyum tipis yang meremehkan muncul di bibirnya. Tatapan pria itu turun ke arah koper kecil yang dipegang Elena. "Hanya itu yang kau bawa untuk membayar hutang darah keluargamu?"
Elena mendongak, menantang tatapan intimidatif tersebut. "Aku tidak membawa uang, dan kau tahu itu. Aku membawa apa yang tidak bisa dibeli oleh seluruh emas keluarga Valenti: Kebenaran tentang malam di sungai ini."
Tawa Matteo terdengar singkat dan hambar, tanpa sedikit pun rasa humor. "Kebenaran adalah kemewahan yang tidak bisa dinikmati oleh orang mati, Elena. Ayahmu mati sebagai pengkhianat, dan kau kembali ke sini hanya untuk menyerahkan lehermu ke tiang gantungan yang sama."
Tangan Matteo bergerak cepat, nyaris tak tertangkap mata. Jemarinya yang kuat mencengkeram dagu Elena, memaksanya untuk terus menatap mata kelam itu. Cengkeraman itu tidak menyakitkan, namun penuh dengan penekanan yang mutlak. Elena bisa merasakan panas dari kulit Matteo merambat ke wajahnya, menciptakan sensasi aneh yang seharusnya tidak ia rasakan terhadap musuh bebuyutannya.
Di kejauhan, lampu-lampu mobil patroli melintas di jembatan utama, sirinenya meraung pelan sebelum menghilang di balik tikungan. Di tempat yang tersembunyi ini, hanya ada mereka berdua dan gema masa lalu yang kian keras berteriak.
"Lepaskan aku," desis Elena, tangannya mencoba menyentak tangan Matteo, namun sang pria justru semakin mempererat kunciannya.
"Kau akan ikut denganku ke Palazzo," perintah Matteo, suaranya kini tidak lagi sekadar bicara, melainkan sebuah titah yang tidak bisa dibantah. "Bukan sebagai tamu, tapi sebagai tawanan sampai aku menemukan apa yang kau sembunyikan di balik mata cantikmu itu."
Luca, tangan kanan Matteo yang sejak tadi berdiri dalam kegelapan beberapa meter di belakang mereka, berdehem pelan. Sosok Luca yang tinggi besar dengan setelan jas rapi nampak seperti robot yang tidak memiliki emosi.
"Kendaraan sudah siap di ujung jalan, Tuan," lapor Luca singkat.
Matteo akhirnya melepaskan dagu Elena, namun matanya tetap mengunci wanita itu. Pria itu memberi isyarat dengan kepalanya agar Luca mengambil alih koper milik Elena. "Verona sudah berubah, Elena. Langit yang dulu kau kagumi kini dipenuhi oleh mata-mataku. Jangan coba-coba lari, atau kau akan menemukan dirimu berakhir di dasar Adige sebelum fajar menyingsing."
Elena terdiam, menatap punggung lebar Matteo yang mulai menjauh menuju mobil hitam yang menunggu di kegelapan. Wanita itu tahu, melangkah masuk ke dalam mobil itu berarti menyerahkan kebebasannya. Namun, lari bukanlah pilihan. Gema di langit Verona telah memanggilnya pulang, dan ia tidak akan pergi sebelum semua api dendam ini padam—atau membakarnya hingga menjadi abu.
Dengan langkah yang berat namun pasti, sang pewaris keluarga Moretti mengikuti sang penguasa Verona masuk ke dalam mulut singa. Di atas sana, bulan mulai tertutup awan hitam, seolah-olah alam semesta pun enggan menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya di kota penuh kutukan ini.
Mobil hitam itu melaju membelah keheningan jalanan berbatu Verona. Di dalam kabin yang kedap suara, atmosfer terasa begitu menyesakkan, lebih berat daripada kabut yang menyelimuti Sungai Adige di luar sana. Elena duduk di kursi belakang, menjaga jarak sejauh mungkin dari Matteo yang duduk di sisi lain. Aroma interior mobil yang merupakan campuran antara kulit asli berkualitas tinggi dan parfum maskulin yang tajam seolah merantai indra penciuman Elena, mengingatkannya bahwa ia kini berada di wilayah kekuasaan pria itu.
Matteo tidak menoleh sedikit pun. Pria itu menyandarkan punggungnya dengan santai, satu tangannya mengetuk-ngetuk lutut dengan irama yang konstan dan mengintimidasi. Tatapannya lurus ke depan, memperhatikan jalanan melalui kaca depan, namun Elena bisa merasakan bahwa setiap gerak-geriknya sedang dipantau melalui pantulan kaca jendela.
"Kau melihat keluar seolah-olah mengharapkan seseorang akan datang menyelamatkanmu," suara Matteo memecah kesunyian, dingin dan tajam seperti mata pisau. "Biar kuberi tahu satu hal, Elena. Di kota ini, bahkan polisi pun menoleh ke arah lain saat mobilku lewat. Tidak ada pahlawan di Verona. Yang ada hanyalah mereka yang bertahan hidup dan mereka yang menjadi sejarah."
Elena mengepalkan tangannya di atas pangkuan, kuku-kukunya menekan telapak tangan untuk mengalihkan rasa takut menjadi amarah. "Aku tidak mencari pahlawan, Matteo. Aku kembali karena aku tidak bisa membiarkan namaku terus dikaitkan dengan dosa yang tidak pernah dilakukan keluargaku. Kau menyebut ayahku pengkhianat, tapi kau sendiri tahu siapa yang paling diuntungkan dari kematiannya. Lihatlah dirimu sekarang, duduk di atas takhta yang dibangun dari abu rumahku."
Mobil itu tiba-tiba mengerem sedikit lebih keras saat berbelok memasuki gerbang besi raksasa yang dihiasi lambang keluarga Valenti—dua singa yang saling mencabik. Palazzo Valenti berdiri dengan megah, sebuah monumen batu yang telah bertahan selama ratusan tahun, namun bagi Elena, bangunan itu tampak seperti peti mati raksasa yang dihiasi lampu-lampu kristal.
Luca turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Matteo dengan kepatuhan yang mekanis. Matteo keluar, lalu berdiri di samping pintu, menunggu Elena dengan sabar yang memuakkan. Saat Elena melangkah keluar, angin malam kembali menyapu wajahnya, membawa hawa dingin dari dinding-dinding batu Palazzo yang lembap.
"Selamat datang kembali di neraka yang kau rindukan," bisik Matteo saat mereka melangkah menaiki tangga marmer menuju pintu utama.
Di dalam, kemewahan Palazzo itu sungguh menyilaukan. Lantai mosaik yang menggambarkan pertempuran-pertempuran kuno, lukisan minyak berukuran raksasa di dinding, dan pelayan-pelayan yang berdiri kaku dalam seragam mereka. Namun, perhatian Elena tertuju pada sosok wanita yang berdiri di puncak tangga melingkar.
Isabella Valenti. Ibu Matteo.
Wanita itu mengenakan gaun sutra hitam panjang, rambutnya yang mulai memutih disanggul dengan rapi dan kencang. Wajahnya adalah topeng porselen yang sempurna, namun matanya memancarkan kebencian murni saat melihat Elena.
"Matteo, untuk apa kau membawa kotoran ini masuk ke dalam rumah kita?" suara Isabella menggema di aula utama yang luas, menciptakan pantulan suara yang dingin.
"Dia bukan kotoran, Ibu," sahut Matteo tanpa menghentikan langkahnya, menuntun Elena melewati aula seolah-olah sedang memamerkan barang rampasan perang. "Dia adalah kunci untuk menemukan apa yang dicuri keluarga Moretti dari kita sepuluh tahun lalu. Dia akan tinggal di sini, di bawah pengawasanku secara langsung."
Elena merasa harga dirinya tercabik-cabik diperbincangkan seperti itu di depan para pelayan. Ia berhenti melangkah, menyentak lengannya dari jangkauan Matteo. "Aku bukan tawananmu yang bisa kau pamerkan kepada ibumu! Jika kau menginginkan informasi itu, kau harus memperlakukanku dengan hormat."
Matteo berbalik perlahan. Aura di sekitarnya berubah menjadi sangat gelap. Ia melangkah mendekat hingga Elena terdesak ke sebuah pilar marmer yang dingin. Pria itu menumpukan satu tangannya di pilar, mengunci pergerakan Elena.
"Hormat adalah sesuatu yang kau dapatkan, bukan kau minta," bisik Matteo, suaranya kini begitu rendah hingga hanya Elena yang bisa mendengarnya. "Di rumah ini, kau hanyalah bayangan. Kau akan makan saat kusuruh, bicara saat kutanya, dan bernapas hanya karena aku mengizinkannya. Jangan pernah lupa bahwa satu kata dariku bisa membuatmu lenyap dari muka bumi ini tanpa ada satu orang pun yang berani bertanya ke mana perginya Elena Moretti."
Isabella memperhatikan interaksi itu dari atas dengan senyum tipis yang licik. Ia tahu putranya memiliki obsesi yang berbahaya, dan ia berencana menggunakan obsesi itu untuk menghancurkan Elena sekali dan untuk selamanya.
"Luca, bawa dia ke kamar di sayap utara," perintah Matteo tanpa melepaskan pandangannya dari mata Elena. "Kunci pintunya dari luar. Aku tidak ingin ada 'gema' yang mencoba melarikan diri malam ini."
Luca mengangguk dan memberi isyarat agar Elena mengikutinya. Elena menatap Matteo untuk terakhir kalinya malam itu—sebuah tatapan yang menjanjikan perlawanan, bukan kepasrahan. Saat ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju sayap utara, ia memperhatikan setiap detail Palazzo: posisi kamera pengawas, jumlah penjaga di setiap pintu, dan jendela-jendela tinggi yang terkunci rapat.
Verona mungkin adalah sangkarnya sekarang, tapi Elena bukan lagi gadis kecil yang melarikan diri sambil menangis sepuluh tahun lalu. Jika ia harus menjadi bagian dari bayang-bayang kota ini, maka ia akan menjadi bayangan yang paling mematikan.
Pintu kayu ek yang berat itu tertutup dengan dentuman yang menggema, disusul suara mekanis kunci yang diputar dua kali dari luar. Elena Moretti berdiri mematung di tengah ruangan, memejamkan mata erat-ratap. Suara langkah kaki Luca yang menjauh terdengar seperti hitungan mundur menuju kesunyian yang absolut. Di ruangan ini, di sayap utara Palazzo Valenti yang terisolasi, udara terasa lebih berat, seolah oksigen harus berebut ruang dengan debu-debu sejarah yang menempel di tirai beludru.
Elena membuka matanya. Kamar itu luas, namun terasa sempit karena tekanan interior Gotik yang dominan. Tempat tidur besar dengan empat tiang kayu yang diukir menyerupai cakar naga berdiri angkuh di tengah ruangan. Sprei sutra berwarna abu-abu perak tampak berkilau di bawah cahaya lampu dinding yang temaram. Tidak ada jendela besar di sini; hanya ada ventilasi tinggi berbentuk celah sempit yang hanya cukup untuk dilewati cahaya bulan, namun mustahil bagi tubuh manusia untuk melarikan diri.
"Jadi, begini rasanya menjadi milik Valenti," bisik Elena pada keheningan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Wanita itu melangkah mendekati sebuah meja rias kuno yang cerminnya sudah mulai memburam karena usia. Ia menatap pantulan dirinya. Gaun merah yang tadi tampak berani di bawah langit Verona, kini terlihat seperti noda darah di tengah kemegahan monokrom Palazzo ini. Elena menyentuh lehernya, tepat di tempat nadi berdenyut kencang. Ia masih bisa merasakan panas dari jemari Matteo yang tadi mencengkeram dagunya. Itu bukan sekadar sentuhan; itu adalah klaim kepemilikan.
Pandangan Elena beralih pada sudut ruangan, di mana sebuah lemari kayu tua berdiri dengan pintu yang sedikit terbuka. Sesuatu yang berwarna keemasan di dalam sana menarik perhatiannya. Dengan langkah hati-hati, seolah-olah lantai marmer itu bisa meledak kapan saja, Elena mendekat.
Ia menarik pintu lemari itu. Di dalamnya, di antara tumpukan kain linen yang sudah berbau apek, terdapat sebuah kotak musik kayu yang permukaannya sudah terkelupas. Namun, bukan kotak musiknya yang membuat jantung Elena berdegup kencang, melainkan sebuah sapu tangan sutra putih yang tersampir di atasnya.
Elena mengambil sapu tangan itu dengan tangan gemetar. Di sudut kain, terdapat bordiran kecil berbentuk inisial: M.M.
Marcella Moretti. Ibunya.
Lutut Elena terasa lemas. Sapu tangan ini milik ibunya yang seharusnya terbakar habis dalam ledakan sepuluh tahun lalu. Bagaimana benda ini bisa ada di sini? Di kamar sayap utara milik keluarga Valenti? Gema masa lalu yang tadi ia rasakan di pinggir sungai kini berteriak lebih keras di dalam kepalanya. Apakah ibunya pernah berada di sini sebelum maut menjemput? Ataukah Matteo selama ini menyimpan sisa-sisa kehancuran keluarganya sebagai piala kemenangan?
Kemarahan yang dingin mulai merayapi nadi Elena. Ia mengepalkan sapu tangan itu erat-erat. Jika keluarga Valenti menyimpan rahasia tentang ibunya, maka ia tidak akan sekadar menjadi tawanan yang pasif. Ia akan menjadi rayap yang menghancurkan Palazzo ini dari dalam.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di dinding. Bukan dari pintu, melainkan dari balik lemari besar tersebut. Elena membeku. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya. Ketukan itu berulang—tiga kali pendek, satu kali panjang. Sebuah pola yang sangat ia kenal. Itu adalah kode komunikasi rahasia yang sering digunakan ayahnya saat mereka masih tinggal di perkebunan anggur Moretti.
"Tidak mungkin..." gumam Elena.
Ia mencoba mendorong lemari itu, namun beratnya luar biasa. Putus asa, ia mencari tuas atau celah di antara ukiran kayu. Tangannya meraba pinggiran lemari hingga jemarinya menyentuh sebuah tonjolan kecil di balik bingkai kayu. Saat ia menekannya, terdengar suara klik halus. Lemari itu bergeser beberapa inci, menyingkap sebuah celah sempit yang mengarah ke lorong gelap di balik dinding.
Palazzo ini penuh dengan lorong rahasia, dan sepertinya Matteo tidak tahu bahwa tawanan barunya mengetahui lebih banyak tentang arsitektur kuno Verona daripada yang ia duga.
Elena menoleh ke arah pintu yang terkunci, lalu ke arah kegelapan di balik lemari. Ia tahu, masuk ke sana berarti masuk lebih dalam ke dalam perut sang singa. Namun, bayangan inisial ibunya di sapu tangan itu memberikan keberanian yang nekat. Dengan sapu tangan terselip di balik gaunnya, Elena melangkah masuk ke dalam kegelapan, membiarkan pintu lemari menutup perlahan di belakangnya.
Di dalam lorong itu, bau tanah dan kelembapan sangat menyengat. Elena meraba dinding batu yang kasar, berjalan setapak demi setapak dalam kegelapan total. Pikirannya melayang pada Matteo. Apakah pria itu sedang tertawa merayakan kemenangannya malam ini? Ataukah pria itu juga sedang dihantui oleh bayang-bayang yang sama?
Tanpa Elena sadari, di ujung lorong itu, sebuah pasang mata sedang mengawasi melalui celah kecil di dinding. Bukan mata Matteo yang kejam, melainkan mata seseorang yang telah menunggu kepulangan keluarga Moretti selama satu dekade penuh.
Verona tidak hanya memiliki gema; ia memiliki saksi-saksi bisu yang kini mulai terbangun.
Kegelapan di balik lemari kayu itu terasa pekat, seolah-olah cahaya bulan pun enggan masuk ke dalam celah yang telah tertutup rapat selama bertahun-tahun. Udara di sini tidak bergerak, pengap oleh aroma debu yang bercampur dengan bau tajam dari rembesan air tanah. Elena menarik napas pendek, mencoba menenangkan debaran jantung yang terasa seperti hantaman palu di dalam rongga dada.
Setiap langkah yang diambil menghasilkan suara gesekan halus antara kain gaun sutra dan lantai batu yang kasar. Dinding di sisi kiri dan kanan terasa sangat dingin, ditumbuhi lumut tipis yang memberikan sensasi licin sekaligus menjijikkan saat jemari menyentuhnya. Namun, dinding inilah satu-satunya pemandu di tengah kegelapan total.
Lorong ini tidaklah luas; pundak Elena nyaris bersentuhan dengan permukaan batu di kedua sisi. Arsitektur ini jelas bukan bagian dari estetika mewah yang dipamerkan Matteo di aula utama. Ini adalah "usus" dari Palazzo Valenti, tempat di mana rahasia-rahasia kotor dialirkan agar tidak merusak pemandangan para bangsawan di atas sana.
Sekitar sepuluh meter melangkah, jemari Elena menyentuh sesuatu yang berbeda pada tekstur dinding. Bukan lagi batu kasar, melainkan permukaan logam yang berkarat. Sebuah pipa uap tua yang sudah lama mati melintang secara vertikal. Di dekat pipa tersebut, terdapat celah kecil yang memungkinkan cahaya setipis benang masuk dari ruang di baliknya.
Wanita itu mendekatkan mata ke celah tersebut.
Pemandangan di balik dinding sungguh kontras. Itu adalah ruang kerja pribadi Matteo Valenti. Ruangan tersebut diterangi oleh lampu meja berwarna hijau zamrud yang redup. Rak-rak buku raksasa menjulang hingga ke langit-langit, dipenuhi jilid-jilid tua yang mungkin berisi sejarah kelam kota Verona. Di tengah ruangan, sang penguasa Verona berdiri membelakangi dinding rahasia, menatap keluar jendela besar yang mengarah langsung ke Arena di Verona.
Matteo tampak melepaskan mantelnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Dari posisi ini, Elena bisa melihat ketegangan pada otot punggung pria itu. Matteo tampak seperti patung yang memikul beban dunia, diam dan berbahaya.
"Kau terlalu lama menatap kegelapan, Matteo," sebuah suara wanita yang tajam memecah keheningan ruang kerja.
Isabella Valenti masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk. Wanita tua itu berjalan dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memenangkan pertempuran. Ia meletakkan sebuah map kulit di atas meja kayu ek milik putranya.
"Anak gadis Moretti itu harus segera diselesaikan," lanjut Isabella, suaranya kini terdengar lebih mirip desisan ular. "Membiarkannya tinggal di sayap utara adalah kesalahan. Dia punya mata yang sama dengan ibunya—mata yang bisa melihat menembus kebohongan kita."
Matteo berbalik perlahan. Ekspresi wajahnya tidak terbaca, namun ada kilatan aneh di matanya saat mendengar nama Elena disebut. "Dia adalah urusanku, Ibu. Aku membutuhkannya untuk menemukan dokumen yang disembunyikan ayahnya. Tanpa dokumen itu, posisi keluarga Valenti di dewan kota akan tetap terancam."
"Dokumen itu hanyalah mitos!" Isabella memukul meja dengan telapak tangannya. "Satu-satunya hal nyata dari keluarga Moretti adalah sisa-sisa kehancuran mereka. Kau menahannya di sini karena kau masih terobsesi pada gadis yang dulu sering kau beri mawar itu, bukan?"
Elena menahan napas di balik dinding. Tangannya yang memegang sapu tangan ibunya gemetar hebat. Obsesi? Mawar? Informasi ini seperti kepingan puzzle yang dipaksakan masuk ke dalam otaknya.
Di dalam ruangan, Matteo tidak membantah. Pria itu justru melangkah mendekati ibunya, berdiri begitu dekat hingga Isabella harus mendongak. "Apa pun alasanku, Elena Moretti tetap di sini. Jika Ibu mencoba menyentuhnya tanpa izinku, maka Ibu akan tahu mengapa orang-orang di kota ini lebih takut padaku daripada pada maut itu sendiri."
Suasana di dalam ruang kerja itu menjadi sangat dingin. Isabella mendengus, lalu berbalik pergi dengan langkah kaki yang menghentak keras, meninggalkan Matteo sendirian dalam keheningan yang mencekam.
Matteo mengembuskan napas panjang. Pria itu kemudian berjalan menuju dinding tempat Elena bersembunyi. Jarak mereka kini hanya terpisah oleh beberapa inci lapisan batu. Elena membeku, tidak berani bergerak sedikit pun, bahkan suara napasnya sendiri terdengar seperti guntur di telinganya.
Pria itu menyentuh permukaan dinding batu tersebut, tepat di titik di mana mata Elena mengintip. Untuk sesaat, Elena merasa seolah Matteo bisa melihat keberadaannya menembus batu padat itu.
"Aku tahu kau di sana, Elena," bisik Matteo dengan suara yang begitu pelan, nyaris seperti embusan angin.
Jantung Elena seolah berhenti berdetak. Bagaimana mungkin?
"Verona memiliki telinga, dan Palazzo ini memiliki mata," lanjut Matteo tanpa mengubah posisinya. "Teruslah mencari. Temukan apa yang kau inginkan. Tapi ingat, setiap rahasia yang kau gali akan menarikmu lebih dalam ke dalam lubang yang tidak bisa kau tinggalkan."
Setelah mengucapkan kalimat misterius itu, Matteo mematikan lampu meja, menenggelamkan ruang kerja dan lorong rahasia itu kembali ke dalam kegelapan yang absolut.
Elena mundur selangkah dengan tubuh gemetar. Pria itu tahu. Sejak awal, Matteo tahu tentang lorong ini. Perasaan seperti tikus yang masuk ke dalam perangkap kembali menghantui. Namun, bukannya lari kembali ke kamar, Elena justru membalikkan badan dan terus berjalan menyusuri lorong yang semakin menurun.
Langkah kaki kini membawa sang wanita menuju bagian bawah Palazzo, di mana udara mulai berbau asin—aroma air sungai yang merembes melalui fondasi bangunan. Di ujung lorong, sebuah tangga batu melingkar mengarah ke bawah, menuju sebuah pintu besi tua yang sedikit terbuka.
Dari balik pintu itu, terdengar suara isakan halus. Suara seorang wanita yang terdengar sangat lemah, namun sangat familiar bagi ingatan Elena yang paling dalam.
"Ibu?" bisik Elena lirih, suaranya hilang ditelan kegelapan bawah tanah Verona.
BAB 3: Gema di Balik Jeruji Besi
Suara isakan itu terdengar semakin nyata, menyelinap di antara celah dinding batu yang basah oleh rembesan air Sungai Adige. Elena melangkah menuruni tangga melingkar dengan kewaspadaan seorang buruan. Setiap anak tangga yang dipijak terasa licin, tertutup lapisan tipis garam dan lumut yang membusuk. Cahaya di tempat ini nyaris tidak ada, hanya bergantung pada luminesensi redup dari jamur dinding dan sisa-sisa pencahayaan dari lantai atas yang merembes melalui celah ventilasi.
Bau di bawah tanah ini sangat berbeda dengan kemewahan di lantai atas. Jika di atas sana tercium aroma parfum mahal dan kayu cendana, di sini hanya ada bau kematian yang tertunda—perpaduan antara karat logam, air sungai yang payau, dan keputusasaan yang mengental.
Langkah kaki Elena terhenti tepat di depan pintu besi tua yang sedikit terbuka. Engselnya yang berkarat mengeluarkan bunyi derit halus saat didorong perlahan. Di dalam ruangan sempit yang menyerupai sel itu, seorang wanita terduduk di sudut lantai yang hanya beralaskan jerami kering. Rambut wanita tersebut putih kusam, menutupi wajah yang tersembunyi di balik kedua tangannya.
"Siapa... siapa di sana?" suara wanita itu bergetar, parau seolah tenggorokannya telah lama tidak tersentuh air.
Elena merasa lidahnya kelu. Jantung dalam rongga dadanya berdegup dengan kecepatan yang menyakitkan. Perlahan, sang putri keluarga Moretti berlutut di atas lantai yang dingin, mengabaikan noda lumpur yang kini mengotori gaun merah mahalnya.
"Seseorang yang mencari jawaban," bisik Elena, suaranya hampir hilang ditelan keheningan bawah tanah.
Wanita di sudut itu perlahan mengangkat wajahnya. Saat sepasang mata yang cekung namun bercahaya itu bertemu dengan mata Elena, waktu seakan berhenti berputar. Wajah itu... meskipun telah dimakan oleh penderitaan dan kegelapan selama satu dekade, Elena tetap mengenali garis rahang dan bentuk bibir tersebut. Itu adalah cermin dari wajahnya sendiri.
"Elena?" suara itu kini terdengar seperti embusan angin di musim dingin. "Benarkah ini kau, malaikat kecilku?"
Air mata yang sejak tadi ditahan kini luruh, membasahi pipi Elena. "Ibu? Bagaimana mungkin... semua orang bilang Ibu sudah mati di tepi sungai malam itu."
Tangan kurus yang hanya terdiri dari kulit dan tulang itu terjulur keluar dari balik jeruji bayangan, menyentuh wajah Elena dengan gemetar. Sentuhan itu nyata. Dingin, namun penuh kasih yang belum padam. Marcella Moretti masih hidup, disembunyikan di bawah kaki keluarga Valenti seperti sebuah rahasia yang membusuk.
"Matteo... dia menjagaku tetap hidup," isak Marcella, air matanya jatuh di atas jemari Elena. "Bukan karena belas kasihan, Elena. Tapi karena aku adalah satu-satunya yang tahu di mana ayahmu menyimpan Gema Verona."
"Gema Verona?" Elena mengulang istilah itu dengan dahi berkerut. "Maksud Ibu, dokumen yang selama ini mereka bicarakan?"
Marcella mengangguk lemah, kepalanya terkulai ke bahu yang kurus. "Itu bukan sekadar dokumen. Itu adalah daftar hitam. Nama-nama semua orang suci di Verona yang tangannya berlumuran darah. Keluarga Valenti hanyalah salah satunya. Jika dunia tahu apa yang ada di dalamnya, seluruh tatanan kota ini akan runtuh dalam semalam."
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga yang baru saja Elena turuni. Bunyi sepatu bot yang menghantam lantai batu terdengar sangat dominan dan tanpa keraguan.
"Kau seharusnya tetap berada di kamarmu, Elena."
Suara bariton itu menggema, memantul di dinding-dinding bawah tanah yang sempit. Matteo Valenti berdiri di ambang pintu sel, bayangannya memanjang hingga menyentuh ujung gaun Elena. Pria itu memegang sebuah obor kecil yang cahayanya membuat siluet wajahnya tampak seperti iblis yang keluar dari perut bumi.
Elena berdiri dengan cepat, menempatkan dirinya di depan jeruji, melindungi ibunya dari pandangan pria itu. "Kau monster, Matteo! Kau menyembunyikannya di sini selama sepuluh tahun? Kau membiarkan aku mengira aku sebatang kara di dunia ini!"
Matteo melangkah masuk ke dalam ruangan, tidak memedulikan kemarahan Elena. Sang penguasa Verona itu menatap Marcella dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan benci, tapi sesuatu yang lebih dalam dan gelap.
"Jika aku tidak membawanya ke sini malam itu, ibumu akan dieksekusi oleh ibuku sendiri di tengah alun-alun," sahut Matteo tenang. Ia mematikan obornya, menyisakan kegelapan yang kembali mencekam, hanya menyisakan sorot matanya yang tajam. "Di bawah sini, dia aman. Di luar sana, dia hanyalah target yang menunggu peluru."
"Aman?" Elena tertawa sinis, sebuah tawa yang dipenuhi rasa sakit. "Kau menyebut penjara bawah tanah ini aman?"
"Verona tidak pernah aman bagi seorang Moretti," Matteo melangkah mendekat hingga dada bidangnya nyaris menyentuh kening Elena. "Sekarang kau sudah tahu rahasia terbesarku. Kau tidak punya pilihan lain selain bekerja sama denganku. Jika kau mencoba membawa ibumu keluar tanpa rencanaku, kalian berdua tidak akan sampai ke gerbang depan Palazzo dalam keadaan bernapas."
Pria itu kemudian mengulurkan tangan, bukan untuk menyerang, melainkan untuk mengusap air mata di pipi Elena dengan ibu jarinya yang kasar. "Kebenaran memiliki harga yang mahal, Elena. Dan malam ini, kau baru saja membayar uang mukanya."
Di kejauhan, lonceng kota Verona kembali berdentang, suaranya terdengar sayup-sayup sampai ke bawah tanah, seolah-olah sedang meratapi takdir baru yang baru saja terikat di antara sang pemburu dan mangsanya.
Dinginnya lantai batu seolah merambat masuk ke dalam tulang-tulang Elena, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan yang dirasakan saat menatap sosok wanita di hadapannya. Marcella Moretti, wanita yang dulu memenuhi masa kecil Elena dengan dongeng tentang kejayaan Italia dan aroma bunga melati, kini hanyalah bayang-bayang dari dirinya yang dulu.
Jari-jari Marcella yang kasar mengusap punggung tangan Elena. "Dunia luar... apakah langit masih berwarna oranye saat senja di atas Arena?" suara itu terdengar seperti gesekan kertas tua.
Elena mengangguk pelan, tenggorokannya tercekat. "Masih, Ibu. Semuanya masih sama, namun terasa hampa tanpa kehadiranmu."
Di ambang pintu, Matteo tetap berdiri mematung. Pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda ketidaksabaran, namun kehadirannya memberikan tekanan yang tak kasat mata di ruangan sempit itu. Cahaya dari lampu minyak yang dibawa oleh salah satu penjaga di kejauhan menciptakan bayangan Matteo yang raksasa, seolah-olah ia adalah sipir penjara sekaligus pelindung bagi dua wanita Moretti tersebut.
"Kau menyebutnya perlindungan, Matteo," Elena akhirnya bersuara, memecah keheningan dengan nada yang penuh dengan racun. "Tetapi menyembunyikan seseorang di tempat di mana sinar matahari tak pernah menyentuh kulitnya adalah sebuah penyiksaan. Berapa lama kau berencana menyimpan rahasia ini? Sampai ibuku benar-benar lupa bagaimana cara bicara?"
Matteo melangkah maju, masuk ke dalam lingkaran cahaya redup. "Ibumu tetap hidup karena aku memilih untuk tidak melaporkan keberadaannya pada dewan tetua Valenti. Jika ibuku tahu Marcella masih bernapas, Palazzo ini akan menjadi tempat eksekusi dalam hitungan detik. Kau tidak tahu betapa sulitnya menjaga rahasia ini di bawah hidung seorang Isabella Valenti."
Marcella menarik napas panjang, matanya yang cekung menatap Matteo dengan pengertian yang aneh—sesuatu yang membuat Elena merasa dikhianati. "Dia benar, Elena. Matteo memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh ayahmu: waktu. Meskipun waktu di sini terasa seperti keabadian yang membosankan."
"Waktu untuk apa?" tanya Elena tajam.
"Waktu untuk menunggu kembalinya pewaris yang sah," sahut Matteo, suaranya kini terdengar lebih berwibawa. "Hanya keturunan Moretti yang memiliki kode akses ke Gema Verona. Dokumen itu tersimpan dalam sebuah brankas kuno yang terkubur di bawah fondasi perpustakaan kota. Bukan kunci logam yang dibutuhkan, melainkan pemindaian pola retina dan darah dari garis keturunan murni Moretti."
Elena terpaku. Jadi, itulah alasan mengapa ia dibiarkan hidup. Bukan karena sisa-sisa cinta masa kecil, bukan karena rasa iba, melainkan karena dirinya adalah kunci fisik untuk membuka kotak pandora yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan Verona.
"Kau membawaku kembali hanya untuk menjadi alat pembuka brankas?" Elena berdiri, menatap Matteo dengan kebencian yang berkobar. "Semua sandiwara ini, penangkapan di jembatan, penahanan di sayap utara... itu semua hanya agar kau bisa mendapatkan daftar hitam itu?"
Matteo tidak membantah. Pria itu justru mendekat, memperpendek jarak hingga Elena bisa merasakan embusan napasnya yang hangat di kening. "Aku membutuhkan daftar itu untuk membersihkan namaku sendiri, Elena. Ayahku... dia tidak mati karena kecelakaan. Dia dibunuh oleh orang-orang yang namanya tercatat dalam Gema Verona. Kita memiliki musuh yang sama, meskipun kau terlalu buta oleh dendam untuk melihatnya."
Suasana di dalam sel itu menjadi sunyi senyap. Hanya terdengar suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit, menciptakan irama yang monoton. Elena menoleh kembali ke arah ibunya. Marcella tampak sangat lelah, kepalanya bersandar pada dinding batu yang dingin.
"Bantu dia, Elena," bisik Marcella lirih. "Bukan untuk Matteo, tapi untuk mengakhiri siklus darah ini. Jika daftar itu jatuh ke tangan yang salah, Verona akan terbakar dalam api perang saudara yang tidak akan pernah padam."
Elena memejamkan mata. Ia merasa terjebak di antara dua tebing yang sangat tinggi. Di satu sisi ada ibunya yang menderita, dan di sisi lain ada pria yang ia benci namun kini menjadi satu-satunya sekutu yang ia miliki.
"Apa rencanamu?" tanya Elena akhirnya, suaranya terdengar menyerah namun tetap tegas.
Matteo memberikan kode kepada penjaga di luar untuk membawa nampan makanan yang lebih layak daripada biasanya. "Malam ini, kau akan kembali ke kamarmu. Besok, saat perayaan Sagra di San Zeno, perhatian seluruh kota akan teralihkan. Saat itulah kita akan masuk ke perpustakaan pusat."
Pria itu kemudian berbalik untuk pergi, namun langkahnya terhenti di ambang pintu. Tanpa menoleh, ia berkata, "Jangan mencoba melakukan hal bodoh, Elena. Penjaga di pintu masuk lorong ini telah diganti dengan orang-orang pilihanku. Tapi jika ibuku mencium bau pengkhianatan, aku tidak bisa menjamin keselamatan siapa pun."
Setelah Matteo pergi, Elena kembali memeluk ibunya. Pelukan itu terasa rapuh, seolah Marcella bisa hancur kapan saja. Di dalam kegelapan sel itu, Elena bersumpah. Ia tidak peduli pada Gema Verona atau kekuasaan Matteo. Ia hanya ingin membawa ibunya pergi dari tempat terkutuk ini, meskipun ia harus membakar seluruh Palazzo Valenti untuk melakukannya.
Di langit Verona, bintang-bintang tersembunyi di balik awan tebal, seolah-olah semesta sedang menahan napas menantikan fajar yang akan membawa pengkhianatan baru.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!