Lorong hotel bintang lima yang mewah itu terasa mencekam. Jantung Kamila berdegup kencang, bukan karena lelah, melainkan karena hancur. Bayangan suaminya, Danu, keluar dari kamar nomor 502 bersama dengan Maya, tetangga yang selama ini ia anggap teman baik kini terus berputar di kepalanya.
"Kamila, berhenti! Jangan lari!" teriakan Danu menggema di koridor.
Dalam kondisi hamil delapan bulan, Kamila tidak punya pilihan selain menghindar. Ia tidak sanggup berdebat, apalagi melihat wajah pengkhianat itu. Dengan sisa tenaga, ia membuka pintu besi tangga darurat. Napasnya tersengal, tangannya mencengkeram erat pegangan tangga sambil melindungi perutnya yang besar.
Lantai lima... lantai empat... lantai tiga...
"Kamila, aku bilang berhenti! Kita perlu bicara!" Suara langkah kaki Danu semakin mendekat. Pria itu tampak murka karena rahasia busuknya terbongkar.
Tepat saat menginjak anak tangga di lantai dua, kaki Kamila yang gemetar kehilangan tumpuan.
"Astagfirullah...!"
Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Kamila terguling, menghantam anak tangga yang keras satu per satu hingga mencapai bordes lantai dasar. Keheningan seketika pecah oleh suara benturan tubuh yang jatuh. Di atas sana, di antara lantai dua dan satu, Danu terpaku. Amarahnya seketika luruh, berganti dengan rasa ngeri yang luar biasa.
Di bawah sana, Kamila tergeletak tak berdaya. Gamis putihnya perlahan mulai ternoda. Cairan merah pekat keluar dari arah jalan lahir, mengalir membasahi lantai semen yang dingin.
Danu berlari menuruni tangga dengan panik.
"Kamila! Kamila, bangun!"
Suara Kamila nyaris hilang, hanya rintihan kecil yang terdengar.
"S... sakit, Mas... Anak... anak kita..."
Danu melihat genangan darah yang semakin lebar, tangannya gemetar hebat.
"Ya Tuhan... Darah... Banyak sekali darahnya. Kamila, bertahanlah! Aku mohon, jangan tutup matamu!"
Kamila menatap Danu dengan tatapan nanar dan penuh luka.
"Kenapa... kenapa tega, Mas? Kenapa harus Maya..."
"Maafkan aku, Sayang. Maaf... Jangan bicara dulu. Kita ke rumah sakit sekarang! Bertahanlah demi bayi kita!"ucap Danu sambil mengangkat tubuh Kamila yang terasa berat dan lemas
Danu mengemudi seperti orang kesetanan, satu tangannya memegang kemudi, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Kamila yang mulai mendingin.
"Tolong jangan tinggalkan aku, Mila! Aku salah, aku bajingan, tapi tolong tetaplah hidup!"
Napasnya Kamila mulai pendek-pendek, pandangannya mulai mengabur.
"Sakit sekali, Mas... Perutku... Aku sudah tidak kuat..."
"Tinggal sedikit lagi! Lihat aku, Mila! Jangan menyerah! Pikirkan anak kita, dia sebentar lagi akan lahir!"
Kamila berbisik lirih sebelum tak sadarkan diri.
"Kalau aku pergi... sampaikan maafku... pada dia..."
"Mila? Mila! Bangun! Jangan pingsan sekarang! Kamila!!!"
Sesampainya di depan IGD, Danu berteriak histeris memanggil perawat. Ia sadar, pengkhianatan nya hari ini mungkin akan dibayar dengan harga yang paling mahal dalam hidupnya yakni nyawa istri dan juga anaknya.
.
.
Lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam. Danu, yang sejak tadi duduk dengan kepala tertunduk di kursi tunggu, segera berdiri saat seorang dokter keluar dengan raut wajah yang sangat berat. Kabar yang dibawa dokter itu bagaikan petir di siang bolong. Karena benturan keras dan pendarahan hebat (abruptio placentae), bayi dalam kandungan Kamila tidak dapat diselamatkan. Lebih dari itu, untuk menghentikan infeksi yang mulai menyebar dan menyelamatkan nyawa Kamila, tim medis terpaksa melakukan pengangkatan rahim (histerektomi).
Dunia Danu serasa runtuh. Ia kehilangan calon penerusnya, dan istrinya kini tak lagi bisa memberikan keturunan. Di tengah kehancuran itu, Maya datang dengan langkah tergesa, berpura-pura cemas namun dengan kilat mata yang sulit diartikan.
"Mas Danu! Bagaimana keadaan Mila? Bagaimana bayinya?"
Suaranya Danu terdengar serak, matanya memerah "Habis, May... Semuanya habis. Anakku meninggal... dan dokter harus mengangkat rahim Kamila. Dia tidak akan pernah bisa hamil lagi."
Maya terdiam sejenak. Namun, di dalam hatinya, sebuah sorak sorai kemenangan membuncah. Baginya, ini adalah jalan tol untuk memiliki Danu sepenuhnya tanpa hambatan seorang anak atau masa depan Kamila sebagai seorang ibu.
Maya mendekat dan memegang lengan Danu dengan lembut.
"Ya ampun, Mas... Aku turut berduka. Tapi... coba pikirkan lagi. Mas Danu, apakah kau masih mau hidup dengan wanita yang sudah cacat? Kamila tidak akan bisa memiliki seorang anak lagi selamanya."
Danu terdiam, mulai terpengaruh oleh kata-kata Maya.
"Tapi dia istriku, May..."
"Ingat, Mas. Bukankah Tante Inggit sangat mendambakan seorang cucu? Ibumu tidak akan pernah menerima kenyataan bahwa menantunya sudah tidak sempurna. Sebaiknya kau segera ceraikan Kamila! Aku bisa memberikan kamu banyak anak, Mas. Aku masih muda, aku sehat. Ceraikan dia sekarang sebelum dia menjadi beban hidupmu selamanya!"
Danu menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Bayangan Kamila yang dulu cantik kini berganti dengan sosok wanita yang ia anggap "rusak". Rasa bosan yang selama ini ia pendam karena melihat perubahan fisik Kamila saat hamil kini memuncak menjadi rasa jijik dan penyesalan.
Danu menghela napasnya panjang, wajahnya mengeras.
"Kamu betul, Maya...Untuk apa aku mempertahankan wanita cacat dan tidak sempurna itu? Dia hanya akan mengingatkanku pada kegagalan ini, Aku lebih baik menceraikannya dan menikah denganmu!"
Maya tersenyum penuh kemenangan, memeluk lengan Danu erat.
"Terima kasih, Mas. Akhirnya aku bisa memilikimu seutuhnya. Kita akan bangun keluarga baru yang jauh lebih bahagia tanpa dia."
Di dalam ruang pemulihan, Kamila perlahan membuka matanya. Ia belum tahu bahwa saat ia berjuang antara hidup dan mati, suaminya telah membuangnya seperti barang yang tidak lagi berharga. Sementara itu, di luar sana, Danu dan Maya sudah mulai merancang masa depan di atas penderitaan wanita yang telah mempertaruhkan nyawa demi cinta yang dikhianati.
Sangat menyedihkan melihat bagaimana Danu begitu mudah terpengaruh oleh Maya.
.
.
Aroma antiseptik yang tajam menyambut kesadaran Kamila. Kelopak matanya terasa berat, namun rasa nyeri yang hebat di bagian perut memaksanya untuk terjaga. Ingatan terakhirnya adalah dinginnya lantai tangga darurat dan rasa sakit yang luar biasa.
Dengan tangan yang gemetar dan masih terpasang jarum infus, Kamila secara naluriah meraba perutnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat merasakan perut yang biasanya besar dan penuh kehidupan itu kini telah rata dan terbalut kain kasa.
"Anakku...di mana anakku?" bisiknya parau, air mata mulai mengalir di sudut matanya.
Pintu kamar rawat inap pasien terbuka dengan suara derit yang dingin. Kamila menoleh, berharap melihat wajah khawatir suaminya yang akan memeluk dan menenangkannya. Namun, pemandangan di depannya jauh lebih menyakitkan daripada luka operasinya. Danu masuk, namun tidak sendirian. Di sampingnya, Maya berdiri dengan angkuh, tangannya menggelayut manja di lengan Danu, seolah tanpa rasa bersalah. Maya tersenyum puas melihat kondisi Kamila yang seperti itu, dan ia juga sudah tidak sabar mendengar Danu mengucapkan kata cerai untuk Kamila.
Bersambung...
Suara Kamila bergetar, menatap Danu, ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini di hadapannya.
"Mas... anak kita mana? Kenapa perutku... kenapa rata? Mas, jawab aku!"
Danu menatap Kamila dengan dingin, tanpa ada rasa kasihan sedikit pun.
"Anak itu sudah tidak ada, Mila. Dia mati karena kesalahanmu sendiri yang sok heroik lari-larian di tangga."
Akhirnya Kamila terisak histeris. "Apa? Meniggal? Ya Robb... Maafkan Ibu, Nak... Tapi Mas, ini semua karena kamu selingkuh! Dan kenapa wanita ini ada di sini?!"
Maya melangkah maju sambil tersenyum sinis.
"Tenanglah, Mila, jangan teriak-teriak, ini rumah sakit. Lagipula, bukan cuma anakmu yang hilang. Rahimmu juga sudah diangkat. Kamu sekarang sudah... apa ya istilahnya? Tidak berguna lagi sebagai wanita."
Kamila tercengang, napasnya tersengal. "Apa maksudmu, Maya? Mas... apa benar yang dia katakan?"
Danu melepaskan tangan Kamila yang mencoba meraihnya.
"Benar, kamu sudah tidak bisa punya anak lagi, dan aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku bersama dengan wanita cacat yang tidak bisa memberikan keturunan. Ibu juga tidak akan setuju mempunyai menantu sepertimu."
"Mas... aku begini karena menyelamatkan diri darimu! Aku istrimu, Mas...kau tega melakukan semua ini padaku, kesalahan apa yang sudah aku perbuat padamu, sehingga kamu tega melakukan semua ini?!"
Danu mengeluarkan selembar kertas dari saku jaketnya dan meletakkannya di atas meja pasien tanpa memperdulikan perkataan serta rasa sakit yang telah Kamila alami saat ini.
"Itu dulu, Mila, tapi sekarang, aku sudah memutuskan, Ini surat pernyataan cerai, Aku ingin kamu menandatanganinya segera setelah kamu bisa memegang pena. Aku dan Maya akan segera menikah dan kamu harus menerima semua kenyataan ini."
Maya mengusap bahu Danu dengan lembut. "Betul, Mila, Mas Danu butuh wanita yang sempurna untuk mendampinginya, bukan wanita malang yang bahkan tidak bisa menjaga rahimnya sendiri."
Kamila menatap mereka berdua dengan tatapan kosong, ia hancur berkeping-keping.
"Kalian... kalian bukan manusia. Di saat aku kehilangan anakku, di saat aku kehilangan masa depanku... kalian tega melakukan ini?"
"Sudahlah, jangan mendramatisir. Aku sudah mengurus biaya administrasinya sampai tiga hari ke depan, setelah itu, kamu bisa hubungi keluargamu untuk menjemput. Ayo, Maya, kita pergi. Hawanya sudah tidak enak di sini."
Danu dan Maya berbalik pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Kamila yang meraung dalam diam di atas tempat tidur rumah sakit. Kamila memeluk perutnya yang kosong, merasakan hampa yang luar biasa. Ia tidak hanya kehilangan buah hatinya, tapi juga harga dirinya sebagai seorang istri diinjak-injak oleh pria yang paling ia cintai. Di tengah kesunyian kamar itu, dendam dan luka mulai menyatu dalam darahnya yang masih lemah.
Sungguh kejam perlakuan Danu dan Maya terhadap Kamila yang sedang dalam kondisi paling rapuh.
.
.
Luka di hati Kamila mungkin tidak akan pernah benar-benar menutup, namun di antara isak tangis yang mulai mereda, ada sebuah kekuatan baru yang muncul dari dasar kehancurannya. Ia menyeka air matanya dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Ia tidak akan mati di sini. Ia akan bertahan, bukan untuk Danu, melainkan untuk dirinya sendiri dan memori tentang putranya.
Tiga hari kemudian, Kamila berdiri di depan cermin rumah sakit. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan ketegasan yang dingin. Saat perawat membantunya berjalan keluar, Kamila menoleh ke arah meja pasien tempat surat cerai itu berada. Dengan tangan gemetar namun mantap, ia menandatanganinya.
"Aku melepaskan kamu, Danu. Bukan karena aku kalah, tapi karena kamu tidak pantas memiliki wanita sepertiku," bisiknya lirih.
Ia tidak membawa apa pun dari rumah Danu. Dengan taksi, Kamila pergi menuju satu-satunya tempat yang tersisa baginya yakni rumah peninggalan almarhum ayahnya. Rumah yang menjadi saksi bisu kebahagiaan masa kecilnya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Gerbang tua itu berderit saat Kamila mendorongnya. Di teras rumah, tampak Bu Elma dan Mita, mereka sedang bersantai sambil menikmati teh. Ekspresi mereka seketika berubah saat melihat Kamila turun dari taksi dengan tubuh yang masih tampak lemas.
"Kamila? Kenapa kamu ke sini? Mana Danu?" tanya Bu Elma tanpa basa-basi, suaranya terdengar ketus.
Kamila menarik napas panjang, mencoba menstabilkan emosinya. "Mas Danu menceraikan ku, Bu. Anakku... anakku sudah tidak ada. Aku keguguran karena kecerobohan Danu dan selingkuhannya."
Mita tertawa sinis, ia meletakkan cangkir tehnya dengan kasar. "Diceraikan? Jadi kamu sekarang janda tidak punya anak dan tidak punya tempat tinggal? Duh, Mila, kamu ini selalu saja membawa drama. Kamu pikir rumah ini panti asuhan?"
"Mita, jaga bicaramu!" Kamila mencoba membela diri. "Ini rumah Ayahku. Aku punya hak untuk tinggal di sini."
Bu Elma berdiri, melipat tangannya di atas dada. Matanya menatap Kamila dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
"Hanya karena ini rumah ayahmu, bukan berarti kamu bisa datang dan pergi sesukamu. Kamu itu sudah menikah, seharusnya kamu bisa mengurus suamimu dengan benar. Sekarang kamu kembali ke sini dengan kondisi 'cacat' dan tidak punya apa-apa? Kamu hanya akan jadi beban pengeluaran di rumah ini."
"Beban?" Kamila menatap ibu tirinya dengan tidak percaya. "Ayah memberikan rumah ini untuk kita tinggali bersama. Aku baru saja kehilangan anakku, Bu! Setidaknya, tunjukkan sedikit rasa empati."
"Empati tidak bisa membeli beras, Mila," sahut Mita ketus. "Ibu benar. Kalau kamu mau tinggal di sini, jangan harap kami akan melayani kamu seperti putri raja. Kamu harus cari cara untuk membiayai hidupmu sendiri. Kami tidak mau rugi."
Kamila terdiam. Ia melihat betapa dinginnya dunia saat ia berada di titik terendah. Ibu tiri dan saudara tirinya tidak lebih baik dari Danu dan Maya. Namun, alih-alih menangis histeris seperti di rumah sakit, Kamila hanya tersenyum tipis, senyum yang mengandung kepahitan sekaligus tekad.
"Baiklah, Aku tidak akan merepotkan kalian. Aku hanya butuh kamar lamaku," ucap Kamila dengan nada datar.
Ia berjalan melewati mereka, menyeret tas kecilnya menuju kamar di lantai dua yang berada di pojok rumah. Saat ia menutup pintu, ia menyandarkan tubuhnya ke kayu yang dingin. Ia membelai perutnya yang kini rata, membayangkan kehadiran kecil yang telah hilang.
"Nak, maafkan Ibu yang belum bisa memberikan keadilan untukmu sekarang. Tapi Ibu berjanji, setiap air mata yang jatuh, setiap hinaan yang mereka berikan, akan menjadi pondasi bagi Ibu untuk bangkit. Mereka pikir aku hancur, tapi mereka tidak tahu bahwa dari reruntuhan ini, aku akan membangun sesuatu yang tak bisa mereka robohkan lagi."
Di kamar yang berdebu itu, Kamila tidak lagi meratapi nasib, Ia mulai menyusun rencana. Ikhlas bukan berarti melupakan, tapi menerima kenyataan untuk bisa melangkah lebih jauh.
Bersambung...
Kamila memandangi layar ponselnya yang retak. Jari-jarinya gemetar saat menggulir situs lowongan pekerjaan. Minimal pengalaman 2 tahun, bersedia bekerja di bawah tekanan, sanggup lembur. Ia menghela napas berat, luka operasi di perutnya masih sering berdenyut nyeri jika ia bergerak terlalu mendadak. Jangankan lembur, berjalan ke dapur saja tenaganya sudah terkuras habis.
"Sabar, Nak... Ibu akan cari jalan," bisiknya pada kekosongan di rahimnya. Kamila selalu beranggapan bahwa bayinya masih berada di dalam perutnya.
Tiba-tiba, suara benturan keras dari lantai bawah mengejutkan Kamila.
BRAK!
Suara kayu yang dihantam benda keras bergema hingga ke kamarnya. Jantung Kamila berdegup kencang. Ia bisa mendengar pekikan tertahan dari Mita dan suara gemetar Bu Elma. Dengan langkah tertatih dan tangan yang memegangi perut, Kamila keluar dari kamar dan mengintip dari balik raling tangga.
Di ruang tamu, suasana tampak mencekam. Dua pria berbadan besar, berkulit gelap dengan otot-otot yang menonjol di balik kaos ketatnya, berdiri menjulang seperti raksasa. Salah satunya berambut gondrong dengan bekas luka di pelipis, menatap tajam ke arah Bu Elma dan Mita yang meringkuk di sudut sofa, keduanya sangat ketakutan.
"Mana uangnya?!" bentak pria gondrong itu. Suaranya berat dan serak, membuat gelas-gelas di meja bergetar.
Mita memeluk lengan ibunya dengan sangat erat, wajahnya pucat pasi, sekujur tubuhnya menggigil hebat. "Mam... apakah ini yang dimaksud oleh Pak Darma? Kalau telat seminggu, mereka tidak akan segan bertindak kasar?" bisik Mita dengan suara yang hampir hilang.
Bu Elma tidak bisa menjawab, giginya bergemeletuk karena takut. "Bisa jadi Mita... Mamah sangat takut sekali!"
"Aku juga sama, Mam! Bagaimana ini? Kita harus membayar semua hutang-hutang kita pada Tuan Chen, si pria tua bangka itu!" rengek Mia setengah berbisik, namun matanya terus tertuju pada pria itu yang mulai menendang meja kopi.
Kamila menuruni anak tangga satu per satu dengan perlahan. Kehadirannya tertangkap oleh mata tajam si pria gondrong.
"Oh, ada penghuni lain rupanya," seringai pria itu, memamerkan deretan giginya yang tidak rata.
Kamila berdiri di anak tangga terakhir, wajahnya pucat namun matanya tetap tenang. Ia menatap ibu dan juga kakak tirinya yang tadi begitu sombong padanya, kini tampak seperti tikus yang terpojok.
"Ada apa ini?" tanya Kamila dingin.
"Mila! Masuk ke kamarmu! Ini bukan urusanmu!" bentak Bu Elma, meski suaranya masih bergetar.
"Bukan urusanku? Ini rumah ayahku, jika ada orang asing yang merusak pintu rumah ini, itu menjadi urusanku," sahut Kamila, Ia kemudian beralih ke pria besar itu.
"Berapa hutang yang mereka miliki?" tanyanya seolah tahu masalah apa yang telah terjadi terhadap Ibu dan juga kakak tirinya, karena Kamila begitu hafal akan tabiat mereka.
Pria berambut gondrong itu tertawa meremehkan. "Lima ratus juta, dan Itu termasuk bunga karena dua wanita ini sangat hobi berjudi dan belanja barang bermerek pakai uang Tuan Chen. Jika tidak dibayar hari ini, Tuan Chen minta 'jaminan' lain. Mungkin rumah ini, atau salah satu dari kalian."
Kamila tertegun. Lima ratus juta? Ia menatap Bu Elma dengan pandangan tidak percaya.
"Ibu telah menjaminkan rumah ini?"
Bu Elma memalingkan wajah, tidak berani menatap mata Kamila. Sementara Mita mulai terisak. "Kami hanya butuh modal untuk bisnis, Mila! Tapi semuanya gagal!"
"Bisnis atau meja judi?" sindir Kamila tajam.
Pria itu mulai melangkah maju, mendekati Mita. "Cukup bicaranya. Karena kalian tidak punya uang, kalian ikut kami menemui Tuan Chen sekarang."
"Jangan! Tolong jangan bawa aku!" teriak Mita histeris sambil bersembunyi di belakang punggung ibunya.
Kedua pria itu mencengkeram lengan Bu Elma dan Mita dengan kasar, menyeret mereka menuju mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Kamila, meski tubuhnya masih sangat lemah dan nyeri di perutnya semakin menjadi-jadi, ia tetap berusaha menahan pintu.
"Tunggu! Jangan bawa mereka dengan cara seperti ini!" seru Kamila dengan suara parau. "Kita bisa bicarakan semua ini baik-baik, jangan gunakan kekerasan!"
Bu Elma menoleh, menatap Kamila dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kebencian dan kelicikan yang mengerikan. Ia menyentakkan tangannya dari pegangan pria gondrong itu sejenak, lalu berkacak pinggang di depan Kamila.
"Berhenti berlagak jadi pahlawan, Kamila! Kau pikir kau itu siapa, hah?" bentak Bu Elma, wajahnya yang tadi pucat kini memerah karena amarah yang dipaksakan. "Jangan jadi pahlawan kesiangan! Kami tidak butuh belas kasihanmu. Masuk ke dalam dan urusi saja luka operasimu yang bau amis itu!"
"Tapi, Bu... mereka berbahaya..."
"Diam!" potong Mita sambil mengusap air matanya, kini ia ikut menyeringai tipis melihat penderitaan Kamila. "Simpan bicaramu untuk nanti. Kamu tahu apa yang kami lakukan? Kau tetaplah di sini, siapkan dirimu baik-baik."
Si pria gondrong mendengus tidak sabar. "Sudahlah cukup sandiwaranya! Cepat Jalan!"
Suasana di dalam mobil terasa mencekam. Namun, di kursi belakang, Bu Elma tampak mulai tenang. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Mita, membisikkan rencana busuknya dengan nada yang sangat rendah agar tidak terdengar oleh kedua pria di depannya
"Mita, dengarkan Mamah," bisik Bu Elma, matanya berkilat licik. "Tuan Chen itu memang tua bangka dan bau tanah, tapi gosip yang pernah mamah dengar bahwa dia, si pria tua bangka itu adalah pria yang gila wanita. Daripada kita kehilangan rumah atau kau yang harus melayaninya, kita jadikan si Kamila sebagai alat penebus hutang. Aku yakin dia tidak akan menolak tawaran ini. Kamila memang sudah 'cacat' karena operasinya, tapi wajahnya masih menjual."
Mita tertegun sejenak, lalu senyum jahat perlahan terukir di bibirnya. "Ide bagus, Mah. Dengan begitu, kita bebas dari hutang dan tidak perlu lagi melihat wajah sok sucinya Kamila di rumah itu."
"Tepat sekali," sahut Bu Elma. Ia kemudian sedikit meninggikan suaranya, bicara pada pria gondrong yang mengemudi.
"Heh, kau! Bilang pada bosmu, aku membawa penawaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar uang receh lima ratus juta. Aku akan bernegosiasi langsung dengan Tuan Chen, tidak perlu lagi melalui perantara kacangan seperti Darma!"
Pria gondrong itu melirik melalui spion tengah, matanya menyipit kesal.
"Sudahlah, jangan kebanyakan bacot! Sebaiknya kau siapkan mentalmu menghadapi Tuan Chen. Kalau negosiasi mu gagal, siap-siap saja nyawa kalian melayang."
Mendengar kata 'nyawa melayang', Elma dan Mita serentak menelan ludah. Ketakutan itu masih ada, namun ambisi untuk menumbalkan Kamila jauh lebih besar.
Sesampainya di gerbang rumah mewah milik Tuan Chen yang bergaya klasik namun sedikit seram. Bu Elma merapikan rambutnya yang berantakan. Ia bergumam pelan, hampir seperti sebuah mantra kematian bagi putri tirinya.
"Kamila... Oh, Kamila," gumam Bu Elma sambil tertawa kecil yang terdengar sangat menyeramkan. "Bersiaplah menjadi pengantin pria tua bangka itu. Wanita yang sudah cacat dan tidak berguna sepertimu memang sangat pantas bersanding dengan mayat hidup seperti Tuan Chen. Ini adalah bayaran karena kau sudah berani kembali dan menumpang di rumah ayahmu yang seharusnya sudah mutlak menjadi milikku."
Mereka pun turun dari mobil, melangkah masuk ke dalam 'sarang singa' dengan rencana paling keji yang pernah ada di benak seorang ibu tiri.
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!