Indonesia
NovelToon NovelToon

Status Janda, Rekening Miliaran

Pengaruh Orang Terdekat

Adrian Wijaya adalah seorang pria tampan berusia sekitar 32 tahun, dengan latar belakang sarjana ekonomi dan pekerjaan sebagai ASN di kota Bandung.

Adrian menikah dengan seorang wanita cantik bernama Hanin Kirana. Hanin berusia 30 tahun, pendidikan terakhir D3 akademi sekretaris, pekerjaan ibu rumah tangga,

Hanin dan Adrian sudah menjalani kehidupan rumah tangga selama 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Mereka berdua cukup sabar menjalani keseharian dengan bekerja dan berdoa.

Mereka berdua tinggal di sebuah rumah sederhana, tidak mewah hanya rumah mungil standar yang cukup asri.

Adrian sangat menyayangi Hanin, walau pun terkadang ibunya kerap kali mencampuri permasalahan keluarganya.

POV ADRIAN

Aku adalah anak satu-satunya laki-laki, kakakku dan adikku semuanya perempuan dan mereka juga sudah menikah.

Suatu hari sepulang kerja aku sengaja mampir ke" rumah orang tuaku, untuk menengok ayah yang sedang sakit, ternyata kakak dan adikku juga berada di sana..

"Adrian, sini kumpul nih ada martabak kesukaan kamu, "ujar ibuku. "iya bu, aku ke kamar ayah dulu sebentar.." ujarku. Aku melihat ayah di kamarnya sedang berbaring, beliau menderita stroke ringan tapi sudah agak membaik.

"Ayah, gimana sekarang kondisinya, apa yang dirasa?" tanyaku pada ayah.

"Alhamdulillah Adrian, agak mendingan jadi badan ayah terasa agak enteng" ujar pak Wijaya. "Mm, gitu ya sudah ayah yang sabar.. jangan banyak pikiran, aku mau ketemu ibu dulu" ujarku. Ayah hanya tersenyum.

Aku kemudian berjalan ke ruang tengah dan bergabung dengan ibu dan saudaraku,

"Adrian, kamu ini sudah menikah 5 tahun.. tapi istri kamu belum hamil juga, ini kenapa nak?, harusnya sebagai laki-laki kamu punya target, mau seperti ini terus?" ujar ibuku.

"Padahal Hanin itu nggak kerja kan?, kerjanya di rumah aja, banyak santainya kok nggak hamil-hamil?" ujar Astrid kakakku.

"Mungkin kami belum di percaya aja di kasih keturunan, kami cuma bisa bersabar, berdoa" ujarku santai.

"Kamu jadi suami baik banget ya Drian, kamu itu anak laki-laki satu-satunya ibu, adik kamu saja sudah punya anak usia 3 tahun, kalau Hanin hamil sejak awal mungkin anak kamu usianya sudah 4 tahun.. ngerti?" ujar ibuku.

"Adrian, coba lihat istri kamu, nggak kerja, nggak kasih keturunan tapi terus dapat gaji utuh dari kamu, itu namanya istri nggak berguna, paham?" ujar kakakku sedikit emosi.

Aku hanya terdiam, mencoba mencerna setiap omongan, kritik dari ibu dan kakakku..

"Coba kamu pikir baik-baik Adrian, apa kamu nggak rugi kamu keep istri seperti itu, kalau aku jadi laki-laki sih ogah, mending cari perempuan lain" ujar mbak Astrid kakakku.

Aku pun memikirkan omongan kakakku yang ada benarnya, juga omongan ibu yang terkesan sama dengan mbak Astrid.

"Adrian, seorang perempuan menikah 4 tahun lebih dan dia belum hamil.. itu sama saja dia cacat alias mandul, mending pisah aja deh!" ujar mbak Astrid, ibuku pun mengangguk.

Aku termenung mendengar itu semua.

"Adrian, aku punya teman perempuan.. dia itu ASN, dia kerja, pas nikah eh langsung hamil, padahal dia capek kerja, itu baru namanya perempuan sempurna, ngerti kamu?" ujar mbak Astrid lagi.

Aku pun semakin pusing mendengar omongan dan sikap ibuku dan mbak Astrid, aku seperti menghadapi dilema .. mereka ingin aku berpisah, tapi aku masih sangat mencintai Hanin istriku, dan Hanin pun juga mencintaiku.

"Adrian, dengar ibu ya nak.. kamu itu kepala keluarga, kamu harus tegas, jangan hanya diam, apa timbal balik Hanin dengan kamu?, memanjakan istri nggak salah tapi lihat .. apa dia bisa memberikan anak?" ujar ibuku, lalu diangguki oleh mbak Astrid dan adikku.

Setelah puas mendengar semua ocehan, nasihat keluargaku aku pun berpamitan pulang, dan langsung menuju ke rumah.

***

Tiba di rumah, tampak Hanin sedang bersantai dengan ponselnya. Adrian pun masuk begitu saja ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam, melihat itu Hanin bergegas mengikuti suaminya ke kamar, "Mas .. capek?" tanya Hanin.

"Ya, iyalah capek.. namanya cari duit itu capek, emangnya kamu setiap hari duduk manis uang datang, langsung ada" ujar Adrian kesal, sambil menatap sinis pada istrinya.

"Mas, aku kan dirumah juga beres-beres, ya masak, aku juga ngatur keuangan" ujar Hanin pelan.

"Ahh, udahlah kamu jadi istri emang nggak becus, percuma aja pendidikan sekretaris tapi nggak menghasilkan uang, jangankan menghasilkan uang.. hamil pun nggak" ujar Adrian dengan emosinya.

"Astagfirullah hal adziim.." gumam Hanin, yang baru kali ini melihat suaminya marah dan menyinggung tentang masalah hamil dan uang gaji.

Hanin pun malas berdebat, ia lalu ke dapur membuatkan teh manis untuk Adrian.

"Mas, minum dulu tehnya" ujar Hanin dengan lembut. "Ah, udahlah kamu itu jangan sok perhatian sok baik" ujar Adrian. Hanin terkejut dengan sikap Adrian yang tidak biasa.

"Maksudnya apa sih mas, aku hanya nawarin teh manis kayak biasanya, tapi kamu ...." ujar Hanin tidak meneruskan kata-katanya.

"Sudahlah Nin, mulai sekarang kamu nggak akan lagi dapat sepeserpun gaji aku, karena aku nggak dapat timbal balik apapun dari kamu" ujar Adrian agak keras.

Hanin pun tertunduk, dia merasa suaminya ada yang mempengaruhinya. Hanin juga menyadari bahwa selama ini ia tidak menghasilkan uang dan juga belum memberi Adrian keturunan.. tapi seingatnya baru 3 hari lalu mereka berdiskusi dan saling menguatkan, untuk saling bertawakal, tapi kini malah sebaliknya.. perkataan Adrian benar-benar sangat menyakitkan.

"Aku tahu siapa sebenarnya yang mempengaruhi pikiran Adrian, ibunya dan mbak Astrid yang selalu menyindirku dengan kata-kata yang pedas seolah-olah ini kesalahanku, aku dibilang mandul padahal dokter bilang aku sehat.. aku normal, tapi anehnya mas Adrian tidak mau periksa ke dokter, serba salah jadinya" gumam Hanin dalam hati.

Hanin kemudian mendiamkan Adrian yang uring-uringan, sambil men-scroll layar ponselnya mencari bisnis yang bermodal usaha kecil.

Tanpa Hanin sadari, mbak Astrid muncul tiba-tiba menyelonong begitu saja ke dalam rumah Adrian, "Mm, enak ya jadi istri .. main Hp teruuuus" ujar mbak Astrid sambil memanggil Adrian.

"Adrian, adrian .. ini Hp kamu ketinggalan di rumah ibu" ujar mba Astrid berteriak. Tidak lama Adrian pun keluar dari kamarnya.

"Eh, mbak Astrid.. makasih ya," ujar Adrian sambil tersenyum.

"Ya, sama-sama Adrian.. lain kali kamu itu yang teliti sama barang sendiri, kamu juga nggak teliti pilih-pilih istri, tuh lihat sendiri enak-enakan main Hp, sementara suaminya pulang kerja malah nggak di urus, istri macam apa itu?" ujar mbak Astrid dengan nada yang ketus sambil menatap Hanin yang hanya terdiam.

Adrian pun hanya terdiam, ucapan mbak Astrid benar-benar berhasil membuatnya semakin menilai bahwa Hanin bersalah.

Hanin pun tidak menyangka ocehan mbak Astrid dengan nada sinis juga mulai melukai perasaannya sebagai seorang istri Adrian, pria yang sangat ia kenal betul sikap dan karakternya, tapi kini seolah Adrian berubah seratus delapan puluh derajat.

Hanin diam-diam berdoa dalam hatinya, "hasbunallah wa nikmal wakil nikmal maula wa nikman nassir" .. ia mengembalikan masalah ini hanya kepada sang Pencipta.

 

Adrian Menggugat Cerai

Tak lama setelah itu, Astrid keluar dari rumah Adrian tanpa berpamitan padahal Hanin berada di dekatnya.. sedangkan Adrian mengikuti Astrid dari belakang,

"Mbak, hati-hati di jalan" ujar Adrian. "iya Adrian, urus itu istri kamu" ujar Astrid sinis, sambil menghidupkan motor maticnya, lalu pergi.

Adrian pun kembali masuk ke dalam rumah, tanpa menghiraukan Hanin sama sekali yang diam mematung memperhatikan suaminya.

"Mas tadi ke rumah ibu?" tanya Hanin. "iya, kenapa? nggak boleh?" ujar Adrian ketus, "aku hanya bertanya aja mas.." ujar Hanin yang lama-lama tidak tahan dengan sikap Adrian.

"Kamu nanya seolah-olah mengintervensi aku aja" ujar Adrian. "Terserahlah .. "ujar Hanin.

"Kamu ya, .. mulai berani sama aku, kamu tahu kalau kamu itu perempuan cacat, hah? ngaca dong, ngaca..!!" ujar Adrian semakin menjadi.

"Aku nggak cacat mas, sudah jelas hasil laboratorium rumah sakit kandunganku normal, tapi terserahlah kalau mas mau bilang apa, nanti siapa yang cacat di antara kita" ujar Hanin.

"Kamu mulai berani ya Nin sekarang, dasar perempuan nggak tahu di untung.. " ujar Adrian. Hanin pun memasang headset di telinganya supaya suara Adrian tidak terdengar.

"Hanin .. Haniiiin.. ,kamu mulai kurang ajar ya, kamu nggak mau dengar suamimu lagi?" ujar Adrian, Hanin pun melepas headsetnya.

"Mas mau ngomong apa lagi?" tanya Hanin dengan suara santai.

"AKU CERAIKAN KAMU.. besok pagi aku akan berikan berkas perceraian ke pengadilan agama, paham?" ujar Adrian setengah berteriak.

Hanin pun terdiam.

Hanin lelah, capek .. dan nggak ingin berdebat lagi dengan suaminya, ada rasa sedih di hati Hanin, masalah keturunan mereka sudah bicarakan baik-baik beberapa hari lalu dan mereka sepakat bersabar.. tapi faktanya berbeda sekarang, Adrian malah menggugatnya bercerai.

"Aku pasrah ya Allah, ya rabb berikanlah aku kekuatan, beri aku jalan keluar, sesungguhnya ENGKAU lebih tahu isi hatiku.. "gumam Hanin dalam hati.

Adrian lalu mendekat,

"Kamu siapkan bercerai.. aku nggak akan kasih bekal sedikitpun untuk kamu supaya kamu tahu kamu mikir cari uang itu susah dan capek!!" ujar Adrian.

"Nggak apa apa, aku terima talak kamu itu mas dengan ikhlas" ujar Hanin sambil membereskan sedikit pakaiannya ke dalam tas travelnya.

"Silahkan kamu pergi dari sini, dan bawa motor butut kamu itu, pergi sana!!" ujar Adrian mengusir Hanin sore itu.

"Baik mas, aku pergi sekarang.. Mas perlu tahu, Allah Maha tahu, Maha melihat siapa yang benar siapa yang salah" ujar Hanin sambil menjinjing travel bagnya dan pergi dengan motor matic tuanya perlahan meninggalkan rumah Adrian.

Dalam perjalanan, Hanin saat ini hanya mempunyai tabungan 2 juta saja,.. dia bingung harus kemana, akhirnya di jalan dia melihat deretan kos-kosan dekat dengan salah satu kampus terkenal di Bandung, Hanin kemudian berhenti dan menanyakan pemilik kos tersebut,

"Teteh, punten pemilik kosnya di mana ya?" tanya Hanin. "Ooh, pemilik kos mah di luar Bandung mbak, mbak mau nge-kos?" ujar seorang penghuni kosan.

"Ya, apa ada kamar yang kosong?" tanya Hanin. "Ada mbak, di sebelah saya kamarnya kosong" ujar penghuni kos tadi, Hanin mengangguk.

"Berapa kos di sini?" tanya Hanin.

"Beda-beda sih mbak, kalau kamar saya sebulan 350 ribu, tapi kamar kosong tadi agak besar mungkin 400 ribuan, "ujar penghuni kos tadi yang diketahui bernama Amel itu.

Akhirnya Hanin dan Amel saling berkenalan.

"Bayarnya ke siapa nanti?" tanya Hanin. "Ada penjaga kosnya kok.. yuk kita kesana" ujar Amel mengajak Hanin menemui penjaga kos.

Kang Bagas sang penjaga kos menghampiri Hanin, "Neng mau nge-kos?" tanya kang Bagas. "iya kang, katanya ada yang kosong ya?" ujar Hanin. "Muhun, ada neng.. ini di sebelah, mangga neng" ujar kang Bagas.

"Bayarnya ke siapa kang, punten?" tanya Hanin. "Biasanya langsung transfer ke pemiliknya neng, " ujar kang Bagas, sambil menghubungi pemiliknya memberitahukan ada penghuni baru.

"Neng, ini nomor rekeningnya.. harga kamarnya perbulan 400 ribu persis sebelah neng Amel," ujar kang Bagas.

"Baik kang, saya transfer sekarang ya.. "ujar Hanin mengeluarkan ponselnya. "Sudah masuk ya kang uangnya" ujar Hanin yang hanya punya dana 475 ribu di M-bankingnya.

"Siap neng, "ujar kang Bagas, sambil membuka kamar kos yang di sewa Hanin bersebelahan dengan kamar Amel.

"Neng, listrik bayar sendiri karena meterannya juga masing-masing, kalau air mah bebas" ujar kang Bagas menjelaskan.

Hanin pun bersyukur, Allah memberinya tempat untuk tidur malam ini, dan Hanin memutar otak supaya bisa mempunyai usaha kecil-kecilan.

"Bismillah .. aku bisa mandiri ya Allah" gumam Hanin dalam hati.

Hanin kemudian membereskan pakaiannya, dan menyusunnya rapi di lemari yang ada di kamar kosnya.

Hanin lalu merebahkan dirinya sesaat, .. teringat masa-masa indah bersama suaminya, Adrian. Masa awal pernikahan, yang menjadi harapan masa depannya.. tapi harapan itu pupus.

"Ya rabb, bantu aku menerima takdirMu ini dengan ikhlas, aku kecewa .. dan bila itu adalah jalanMu menuju kebaikanku maka mudahkan lah aku untuk melewatinya, Aamiin" gumam Hanin dalam hatinya berdoa.

Tak terasa adzan isya berkumandang, Hanin segera menghamparkan sajadahnya.. dan mulai sholat isya. Hanin menumpahkan seluruh rasa, dan menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT, ada air mata membasahi sedikit pipinya.

Setelah sholat isya, Hanin lalu membuka medsos medsos si orange dan Hanin berhasil menemukan sebuah peluang bisnis kosmetik Korea yang sedang 'IN' dan hanya denga 300 ribu sudah bisa menjadi agen.

Hanin pun tertarik dengan peluang itu, ia bertekad bahwa usaha ini harus maju di tangannya.

Hanin lalu mencoba menghubungi nomor kontak telepon yang tertera di akun tersebut. "Besok saya ke tempat mbaknya ya, shareloc aja ya" ujar Hanin yang langsung disetujui pemilik akun tersebut.

Tarkan diri

Keesokan paginya, tepat jam 7 pagi .. Hanin yang telah yatim piatu ini bersiap untuk pergi ke distributor kosmetik sesuai arahan.

Tiba di tempat distributor, Hanin pun segera mendaftarkan dirinya ikut bergabung bersama brand kosmetik Korea tersebut.

Setelah membayar persyaratannya, Hanin juga mendapat beberapa sampel produk jenis perawatan wajah dan tubuh.. setelah itu ia pun bergegas kembali ke kosannya.

Tiba di kosan, Hanin mencoba memposting, mempromosikan produk yang dijualnya di status aplikasi hijaunya.. dan juga ia tampak membuat foto-foto produk menggunakan aplikasi foto agar terlihat lebih menarik.

Setelah selesai Hanin dan beberapa hasil fotonya ia upload ke dalam aplikasi si hitam, si merah dan aplikasi si biru, Hanin juga menawarkan produknya ke sesama penghuni kosan.

Hanin sama sekali tidak merasa gengsi, malu dengan bisnis yang dilakukannya sekarang ini, karena dari sinilah titik awal dia bangkit, walaupun harus menyandang status janda

 "Amel, amel .. kamu ada di dalam?" ujar Hanin depan kamar Amel, "ada mbak.. bentar" ujar Amel lalu membuka pintu dan mempersilahkan Hanin masuk. Hanin pun masuk,

"Mel, ini aku jualan serum wajah Korea ini bisa buat wajah kamu glowing abadi, bagus loh!" ujar Hanin menawarkan produknya.

"Hehe, iya mba ini wajahku ada bintik hitamnya tapi boleh nggak aku bayar 2x maklumlah anak kos" ujar Amel tertarik dengan produknya sambil memperhatikan.

"Spesial buat kamu boleh bayar 2x, ini harganya 60 ribuan Mel" ujar Hanin. "iya mbak Hanin, aku beli 1 bayarnya 30 ribu dulu ya" ujar Amel, Hanin pun mengangguk.

"Nanti kalau sudah pakai, kamu rasakan hasilnya terus kasih testimoni ya.. nih sok pakai aja" ujar Hanin sambil tersenyum.

Hanin kemudian juga menawarkan jualannya ke beberapa kamar penghuni kos lainnya, "alhamdulillah 4 serum laku, terima kasih ya rabb" gumam Hanin dalam hatinya bersyukur.

****

Melihat Mantan Suami

2 Minggu Kemudian ..

Adrian mengirim pesan singkat kepada Hanin bahwa ia harus menghadiri sidang cerai atas gugatan Adrian.

"Datang juga percuma, toh aku cerai cerai juga, biar saja aku hidup sendiri dulu.. aku akan menata hidupku sendiri dulu, memperbaiki keadaanku dulu" gumam Hanin dalam hati.

Pesan Adrian sengaja hanya dibaca olehnya, dan tidak memberikan respon. Hanin tahu ibu mertua dan kakaknya mbak Astrid akan membullynya.

Adrian tampak menghubungi Hanin karena pesannya tidak dibalas, Hanin pun enggan untuk menjawab panggilan telpon suaminya.

Tanpa terasa, usaha Hanin memasarkan produk kosmetik serumnya mengalami banyak kemajuan, saat ini Hanin tidak hanya mempromosikan produknya lewat medsos saja.. tapi juga melalui platform e-commerce si hitam, si orange, si biru dan aplikasi si hijau.

Hanin betul-betul berjuang sendirian, dari belanja produk hingga packing dia kerjakan sendiri demi bisa untuk makan atau membayar sewa kos.

"Mbak Hanin, aku mau menikah.. aku perlu serum untuk kulit tubuh, ada nggak ya?" ujar salah satu penghuni kos.

"Oh ada, yang ini teh.. ini harganya 90 ribu, putih abadi di jamin, testimoninya juga udah banyak kok" ujar Hanin sambil mengerjakan packing barang pesanannya yang lumayan banyak.

"Oke mbak Hanin, saya ambil 1, juga cream siang 1, cream malamnya juga 1, jadi total berapa ya mbak?" ujar penghuni kos itu yang bernama Rini.

"Semuanya jadi 188 ribu ya teh Rini, ini saya tambahin bonus juga kuas dan masker khusus pengantinnya" ujar Hanin sambil tersenyum manis.

"Wah, makasih banyak mbak Hanin.. saya kasih tahu teman-teman saya nanti beli serum dan produk lainnya di mbak Hanin aja" ujar Rini dengan semangat.

"Mm, makasih ya Rin sudah belanja di toko saya" ujar Hanin. Rini pun pulang, lalu mengaplikasikan kosmetik yang dibelinya.

Hari demi hari Hanin terus berjuang sendirian, Hanin berani mengencangkan ikat pinggang demi tercapai keinginannya untuk bisa menjadi pebisnis kosmetik yang sukses.

Tanpa terasa, target Hanin pun tercapai.. Hanin selesai menjadi agen hanya dalam waktu 3 minggu saja, dan posisinya sekarang adalah sebagai distributor yang membawahi beberapa agen yang aktif berjualan seperti dirinya dulu.

Belum lagi ditambah Hanin menjual produk kosmetik Koreanya di bawah harga pasar di beberapa e-commerce yang menjadikan konsumen Hanin bertambah banyak mengikutinya dan sekaligus menjadi pelanggan baru.

"Kang Bagas, kamar sebelahkan kosong bisa nggak saya sewa untuk gudang barang-barang saya?" tanya Hanin pada penjaga kos.

"Ya, boleh mbak Hanin.. nanti bayarnya biasa, transfer langsung ke owner aja, ini sewanya lebih murah 350 ribu" ujar kang Bagas, Hanin pun mengangguk lalu mentransfer sejumlah dana ke pemilik kosan.

"Sudah masuk ya kang dananya, "ujar Hanin sambil memperlihatkan resi pembayaran via M-bankingnya kepada kang Bagas.

Kang Bagas lalu memberikan kunci kamar yang akan dijadikan gudang pada Hanin. Hanin kemudian terlihat memindahkan barang-barangnya yang bertumpuk dibantu oleh kang Bagas yang selalu siap..

"Mbak Hanin sukses euy usahanya, "ujar kang Bagas. "iya alhamdulillah kang.."ujar Hanin sambil menata barang jualannya.

2 bulan pun berlalu, dan 2 bulan juga Hanin berpisah dengan Adrian.. kini Hanin telah resmi menyandang status 'janda' setelah kemarin beberapa minggu sebelumnya ia menerima akte cerai dari Adrian yang dikirimkan ke kosnya.

"Alhamdulillah ya Allah, atas keadaan ini, aku terima keadaan ini dengan ikhlas.. hanya Engkau yang tidak pernah meninggalkanku" gumam Hanin dalam hatinya.

Hanin saat ini sedang mencetak resi pesanan dari 4 e-Commerce yang telah bekerja sama dengannya, pesanan dari 1 e-Commerce bukan hanya 1-2 lagi melainkan berjumlah ratusan order yang menumpuk yang membuat Hanin kewalahan menghadapinya.. untung ada kang Bagas yang selalu membantunya.

"Mbak Hanin harus segera cari orang lagi untuk bantu packing, ini lihat segini banyaknya 2000 pieces lebih cuma kita berdua yang mengerjakan mbak, itu juga kadang saya harus tinggal tinggal sebentar menjaga kosan ini" ujar kang Bagas.

"Hmm, iya kang bener.. kalau ada tolong carikan ya kang, perempuan yang bisa kerja cepat dan disiplin" ujar Hanin.

"Siap mbak, nanti saya carikan" ujar kang Bagas sambil terus packing beberapa produk.

Tak butuh waktu lama, kang Bagas berhasil mendapatkan pegawai perempuan yang kumayan berpengalaman dalam hal packing produk, dan setelah deal masalah gaji dengan Hanin, perempuan bernama Winda itu langsung bekerja, Hanin juga senang melihat Winda yang kerjanya cepat dan efisien.

Seperti hari minggu ini, Hanin sibuk mengadakan promosi online di e-Commerce si orange, karena dengan 'live' banyak ribuan penonton memberikan apresiasi yang berujung menjadi pesanan barang, Hanin juga melakukan 'live' di salah satu platform terkenal si hitam.. yang penontonnya hampir puluhan ribu dan mereka langsung check-out untuk pemesanan barang.

"Win, pesanan overload ya, banyak sekali.. kalau barang sih alhamdulillah aman tapi pegawai kurang, kamu ada kenalan perempuan yang mau kerja?" tanya Hanin.

"Oh, ada mbak.. banyak, perlu berapa orang?" tanya Winda. "Mungkin antara 5-7 orang Win" ujar Hanin memperkirakan.

Sekarang ini sudah 4 kamar kos yang di sewa Hanin, hanya untuk menyimpan produk kosmetikanya yang berasal dari Korea, dan sebuah ruangan kecil dijadikannya kantor untuk administrasi, pembayaran produk serta sedikit space untuk shooting saat Hanin membuat 'live' untuk promosi produknya.

Sebuah pencapaian luar biasa dari Hanin yang bekerja keras selama ini, dalam waktu kurang dari 3 bulan usahanya memperlihatkan progress yang bagus.

Hampir setiap hari Hanin melakukan promosi produknya, dan Hanin juga menyertakan beberapa gift sebagai apresiasi kepada konsumennya, Hanin juga terlihat mengundang beberapa 'endors' dari youtuber atau medsos lainnya sehingga produk Hanin kini semakin dikenal masyarakat Indonesia.

Pundi-pundi uang Hanin pun bertambah, penghasilan Hanin sangat fantastis dan di luar dugaan mampu mengalahkan penghasilan seorang ASN seperti suaminya dulu.

"Mm, motorku sudah butut sekali, aku mau ganti motor dulu.. dan aku juga ada rencana beli 1 ruko supaya lebih fokus" gumam Hanin dalam hati.

Meskipun pencapaian sukses Hanin dalam usaha cukup terbilang cepat, Hanin tetap figur yang low profile.. rendah hati dan tidak sombong sama sekali dan selalu sederhana.

Suatu sore di hari minggu,

"Mel, kita jalan yuk.. sekali kali lah kita refreshing," ujar Hanin mengajak Amel yang sekarang menjadi asistennya juga. "ayo mbak, sebentar aku siap-siap dulu" ujar Amel.

Setelah berdandan rapi mereka pun pergi dengan motor matic yang baru dibeli Hanin beberapa hari lalu, "Mbak Hanin traktir aku ya.. aku lagi bokek nih, hehe" ujar Amel. "ayo lah kita makan sepuasnya, kamu makan yang banyak ya.." ujar Hanin sambil tersenyum.

Hanin sudah menganggap Amel sebagai saudara, karena Hanin hanya sebatang kara, mereka tampak masuk ke sebuah resto mewah.. "ayo Mel, pilih menu yang kamu suka, makan yang banyak jadi malam-malam kamu nggak cari makanan lagi" ujar Hanin.

Mereka pun mulai memesan berbagai menu makanan, Amel bersyukur memiliki sahabat dan saudara seperti Hanin.

Tak disangka oleh Hanin sebelumnya, ia melihat Adrian mantan suaminya bergandengan dengan seorang perempuan cantik dan tidak hanya Adrian, tapi juga bersama mantan mertuanya serta Astrid mantan iparnya.

Hanin hanya tertunduk, ada sedikit perasaan sakit hati melihat pemandangan yang tidak direncanakan itu sebelumnya.. tapi dengan cepat ia bisa menyembunyikan perasaan itu.

"Kenapa mbak?" tanya Amel sambil memperhatikan sikap Hanin. "Ah, nggak apa apa Mel," ujar Hanin. Amel hanya melihat mata Hanin yang mengembun tipis.

"Sepertinya mbak Hanin melihat sesuatu yang menyakitkan perasaannya" gumam Amel dalam hati.

Hanin lalu mengajak Amel meneruskan makannya karena menu yang dipesan sudah siap mereka nikmati, Hanin pun merubah posisi duduknya agar tidak bertemu pandang dengan mantan suaminya itu.

"Mbak, kalau makanan segini banyak nggak habis biar aku bungkus aja ya bawa pulang, mubazir soalnya" ujar Amel. "iya Mel, bungkus aja.. sayang kalau ngga habis, dan masih banyak juga" ujar Hanin dengan tenang.

Amel masih merasakan ada sesuatu yang tidak biasa dari sikap Hanin, yang selalu menatap seseorang di sudut meja lain.

****

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!