Indonesia
NovelToon NovelToon

Papa Untuk Si Kembar

Bab 1 - Papa Dimana, Bunda?

“Bunda, kenapa Lily tidak punya Papa?" 

Gerakan tangan Luna terhenti. Ujung jarinya masih menyentuh rambut Lily. 

Luna tidak langsung menjawab. Dadanya naik turun perlahan.

Tatapan Luna beralih pada Lily yang berbaring di sampingnya. Anak perempuan berusia enam tahun itu menatap Luna dengan tatapan sendu. Cahaya lampu tidur yang redup tidak dapat menyembunyikan matanya berkaca-kaca.

El yang berbaring di samping Lily ikut menoleh. “Lily, kenapa Lily tanya seperti itu pada Bunda?”

Lily menoleh pada El. “Lily hanya ingin tahu, El.”

Lily kembali menatap Luna. “Papa Lily dimana, Bunda?" 

Luna terdiam cukup lama untuk memikirkan jawaban yang tepat. Perlahan, tangannya kembali bergerak mengusap lembut rambut Lily.

“Papa Lily… harus pergi dulu.”

“Pergi ke mana, Bunda?" 

“Ke tempat yang jauh sekali dari sini." 

“Kenapa? Apa Papa tidak sayang Lily?" 

Luna menggigit bibir, menahan gejolak di dalam dadanya. Dia menghela napas pelan, lalu tersenyum pada Lily.

“Papa Lily sayang sama Lily, sama El juga." 

Senyum Luna menghilang dengan cepat.

El sedikit menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Luna.

“Kalau Papa sayang Lily, kenapa Papa tidak pulang?" tanya Lily lagi

“Karena Papa belum bisa pulang. Papa belum bisa jaga El dan Lily,” jawab Luna dengan suara bergetar pelan.

Lily menghembuskan napas pelan. “Terus kapan Papa bisa pulang, Bunda?”

Luna menarik Lily ke dalam pelukannya. Satu tangannya mengusap lembut wajah El di belakang Lily. El menatap wajah Luna.

“Bunda belum tahu, sayang.”

Dada Luna terasa sesak dan tenggorokannya terasa tercekat. Tanpa diinginkan, satu bulir air mata Luna menetes. Dan El… melihatnya dengan jelas.

...***...

Setelah beberapa saat menemani El dan Lily, mereka akhirnya tertidur lelap.

Luna bangun dari tempat tidur. Dia menaikkan selimut menutupi tubuh El dan Lily hingga bahu, lalu mengecup kening mereka satu persatu. 

Luna mengusap wajah El dengan lembut, lalu beralih mengusap wajah Lily. Sentuhannya bertahan lebih lama. Wajah Luna berubah sendu ketika mengingat pertanyaan Lily.

Ini bukan pertama kalinya Lily menanyakan hal itu. Hampir setiap Luna menemani mereka tidur, Luna harus mencari alasan tentang keberadaan ayah mereka.

Bibirnya tersenyum getir. “Maafin Bunda, sayang. Bunda nggak bisa kasih papa buat Lily. Maafin, Bunda.”

Luna mengecup kening Lily lagi, kali ini lebih lama. Air matanya kembali menetes dan jatuh di kening Lily.

Luna menegakkan kepala. Dia mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Lalu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Baru setelah itu, Luna keluar dari kamar itu dengan punggung tegak seakan tidak terjadi apa-apa. 

Luna menutup pintu kamar anaknya perlahan.

“Luna." 

Luna menoleh. 

Dewi, ibu Luna sudah berdiri di belakangnya. Perempuan paruh baya itu sudah memakai piyama bersiap tidur. Keriput halus terlihat di wajahnya.

“Ibu, Ibu belum tidur?" tanya Luna.

“Ini Ibu baru mau tidur, nak. Anak-anak sudah tidur?" 

Luna mengangguk, tersenyum.

“Sudah lama sekali kamu tidak menemani mereka tidur. Setiap hari mereka menanyakan kamu.”

Luna tersenyum getir.

Dewi mendekat, mengusap lengan putri semata wayangnya dengan lembut. “Kamu tidak perlu bekerja terlalu keras, Luna. Kamu lihat hidup kita sekarang.”

Luna mengedarkan pandangannya menatap seisi rumah yang dia beli dari hasil keringatnya sendiri. Rumah dua lantai itu tidak terlalu besar tapi sudah menjadi milik Luna sendiri. 

Berbeda dengan hidupnya 7 tahun lalu, mengontrak di sebuah rumah satu petak. Itu pun sering ditagih pemiliknya karena telat bayar. 

“Hidup kita sudah lebih dari cukup, Luna." 

Luna mengangguk, menatap Dewi lembut. “Luna tahu, Bu. Tapi ini belum cukup." 

Luna menatap pintu kamar El dan Lily yang sudah tertutup rapat. Tatapannya tidak fokus tertuju pada pintu itu, mengawang jauh entah kemana. Luna menghela napas pelan.

“Luna harus memastikan El dan Lily memiliki hidup yang layak dan berkecukupan. Mereka sudah tidak punya ayah, Luna tidak mau mereka direndahkan dan dibedakan hanya karena miskin.”

Rahang Luna mengeras. 

Dewi menatap Luna sendu. “Maafkan ayah dan ibumu ya, Nak." 

Luna menoleh pada Dewi lagi. “Tidak, Ibu. Ibu tidak perlu minta maaf. Itu bukan salah ibu, bukan juga salah almarhum ayah. Kalian sudah memberikan yang terbaik untuk Luna, meskipun Luna telah mengecewakan kalian." 

Luna menatap Dewi lebih lama. “Ibu dan ayah tetap mau menerima Luna, melindungi Luna, bahkan menerima anak-anak Luna. Meskipun kalian harus menderita karena Luna.”

Tatapan Luna berubah sendu. Setiap cacian, hujatan, dan penghinaan yang Luna dengar 7 tahun lalu kembali terdengar di telinganya. Baik cacian untuknya, maupun kedua orang tuanya.

Dewi mengusap lengan Luna lembut. “Kamu anak ayah dan ibu. Bagaimana kami bisa meninggalkanmu? El dan Lily juga cucu Ibu, Ibu menyayangi mereka, terlepas dari bagaimana mereka bisa ada di dunia ini.”

Luna menatap Dewi lekat, lalu mengangguk. 

“Iya, Ibu. Bagaimanapun mereka anak Luna. Mereka malaikat kecil Luna. Jadi Luna akan memberikan yang terbaik untuk mereka. El, Lily, dan Ibu, Luna akan pastikan kita tidak akan kekurangan lagi dan tidak ada yang boleh merendahkan kita lagi.”

Dewi mengangguk. “Ibu percaya itu. Terima kasih, Nak.”

Luna mengangguk. “Iya, Ibu.”

Dewi terdiam sejenak. Tangannya masih berada di lengan Luna, tapi genggamannya sedikit menguat, menimbang sesuatu di dalam pikirannya.

“Luna,” panggil Dewi.

“Iya, Ibu.”

“Ibu cuma mau tanya, tidak memaksa.”

Luna masih diam, menunggu ucapan Dewi.

“Apa kamu tidak ada rencana untuk menikah?" tanya Dewi hati-hati.

Luna tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu tidak mengejutkan tapi tetap saja seperti membuat dadanya tertekan pelan.

Dewi menghela napas pelan. “Seharian ini Lily menangis. Dia terus bertanya apakah dia tidak punya Papa. Ibu pikir mereka membutuhkan sosok ayah, Luna.”

Luna masih diam. Tapi kini tatapannya menjadi tidak fokus.

“Kamu… kamu juga membutuhkan suami. Kamu sudah cukup lama menanggung semuanya sendirian. Ibu cuma takut kamu terlalu menutup diri.”

Luna perlahan menoleh pada Dewi. Tatapannya lembut. “Ibu, Luna belum berpikir sampai sana. Fokus Luna sekarang hanya anak-anak. Luna mau memastikan hidup mereka berjalan dengan baik. Dan Lily…”

Luna menghela napas pelan. “Lily pasti akan mengerti." 

“Lalu bagaimana dengan Alif?" 

Luna terdiam. Nama itu selalu datang dengan perlahan, tapi terasa begitu berat.

“Dia sudah menunggu kamu cukup lama, Nak. Alif laki-laki yang baik, sabar, penyayang, dan bertanggung jawab. Dia bahkan sudah merawat El dan Lily dengan sangat baik. Dia seperti menjadi sosok ayah untuk mereka. Alif selalu ada untuk El dan Lily, Dia juga selalu ada untuk kamu, bahkan ketika kamu merasa tidak perlu ditemani siapapun. Apa kamu tidak ingin membuka hati kamu untuk dia?” 

Luna terdiam cukup lama. Tatapannya kembali tidak fokus. Dia menghela napas pelan. “Luna… Luna tidak pantas untuk Alif, Ibu.”

...----------------...

Bab 2 - Aluna Prameswari

Lift berhenti di lantai dua puluh tiga.

Pintu terbuka bersamaan dengan langkah Luna yang sudah siap bahkan sebelum lift itu berhenti. Langkahnya tenang dan stabil. Tidak tergesa tapi jelas. Sepatunya berdetak pelan dengan lantai marmer. Punggungnya tegak sempurna. Sorot mata tenang dan dingin tertuju lurus ke depan, tanpa menoleh ke kanan kiri.

Aluna Prameswari, begitu nama yang tertera di ID card miliknya. Tablet sudah di tangannya sejak tadi. Grafik dan angka bergerak cepat di layar. Perempuan berusia 27 tahun itu bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan internasional. 

“Selamat pagi, Bu Luna,” sapa seorang rekan kerja yang berpapasan dengannya.

Luna melirik sekilas tanpa memperlambat langkahnya. “Pagi.”

Lorong menuju ruang rapat cukup ramai pagi itu. Beberapa rekan kerja lain berjalan searah dan berlawanan arah dengan Luna.

Di depan jendela, dua orang rekan kerja terlihat sedang mengobrol. Tatapan mereka beralih ketika melihat Luna datang dari kejauhan.

“Itu Bu Luna, manajer keuangan termuda itu ya?” tanya seorang laki-laki pada temannya, perempuan.

Perempuan itu menoleh pada Luna. “Iya. Auranya beda banget ya,” gumam perempuan itu hampir kagum.

Laki-laki di sebelahnya mengangguk. “Mana cantik banget.”

“Iya, cantik.”

“Pasti udah punya suami,” ucap laki-laki itu.

Perempuan di sampingnya menggeleng. “Belum." 

“Oh belum." Senyum tipis tanpa sadar tersungging di wajah laki-laki itu.

“Tapi udah punya anak. Dua. Udah agak gede kok." 

Laki-laki itu menoleh. “Janda?" 

Perempuan itu menggeleng lagi. “Bukan. Dia belum pernah menikah. Ya… gitu deh." 

“Oh.” Laki-laki itu bergumam pelan.

Luna semakin mendekat ke arah mereka.

Perempuan itu tersenyum dan mengangguk singkat. “Pagi, Bu Luna.”

“Pagi,” jawab Luna singkat. 

Dia melangkah melewati dua orang itu. Percakapan mereka tentu saja didengar oleh Luna. Tapi dia tidak bereaksi apapun. Itu fakta. Lagipula Luna sudah terbiasa mendengar hal-hal seperti itu, bahkan lebih parah.

Luna berhenti di depan ruang rapat. Dia menarik napas dalam, kebiasaannya sebelum melakukan sesuatu yang besar. Luna mendorong pintu itu perlahan.

Ruang rapat itu sudah terisi setengah. Beberapa kepala menoleh ketika Luna masuk.

Luna duduk di kursinya. 

Tidak lama kemudian, rapat itu berlangsung.

Luna membuka file di tablet miliknya. File yang sama sekali sudah tidak asing baginya.

“Proyeksi kerugian kalau kita tunda ekspansi?” tanya Luna langsung.

Seorang staf menelan ludah. “Sekitar dua belas persen, Bu. Tapi risikonya—”

“Bisa ditekan dengan skema pembiayaan yang sudah saya kirim kemarin sore,” potong Luna. Suaranya datar.

Beberapa orang saling pandang.

“Atasan regional meminta kita lebih hati-hati. Mereka khawatir pasar belum stabil.”

Luna mengangkat wajahnya. Tatapannya membuat ruangan hening.

“Pasar tidak pernah stabil. Yang stabil itu keputusan. Masuk sekarang atau kita kehilangan kesempatan emas untuk enam bulan ke depan.”

Staf itu akhirnya mengangguk. “Baik. Kami ikuti rekomendasi anda." 

Rapat kembali berlangsung. Luna tidak banyak bicara, dia hanya berbicara ketika penting dan tidak bertele-tele.

“Bu Luna, nanti sore pihak bank meminta untuk mengadakan rapat dadakan. Ibu bisa hadir?" tanya seorang staf.

“Tidak. Kirimkan notulen dan angka finalnya saja.” 

“Tapi, Bu—

“Kamu bisa handle rapat itu sendiri. Jadwal saya sudah penuh,” jawab Luna tenang.

Staf itu mengangguk. “Baik, Bu." 

...***...

Sore datang tanpa terasa. Jam kerja sudah usai. Luna juga sudah menyelesaikan pekerjaannya hari itu. Tidak ada lembur.

Dia keluar dari gedung perusahaan, mengambil mobilnya di basement, lalu pergi. 

Luna tidak langsung pulang. Dia mampir ke cafe tidak jauh dari gedung perusahaan. 

Luna tidak datang untuk bersantai, dia harus mengurus satu masalah di sana. Selain bekerja sebagai manajer keuangan, Luna memiliki satu bisnis cafe yang baru berdiri dua tahun terakhir. Itu bukan cafe premium, hanya cafe biasa yang berdiri di letak strategis sehingga pelanggannya cukup ramai.

Cafe itu dibangun tidak hanya dari tabungannya, setengah dananya didapatkan dari pinjaman modal kerja bank, sehingga Luna harus membayar cicilan cafe setiap bulannya.

Luna sampai di depan cafe yang berada di tepi jalan. Dia melangkah masuk. 

Kasir dan waiters yang sedang mengelap meja mengangguk hormat ketika Luna datang. 

Luna mengedarkan pandangan. Cafe itu tidak terlalu ramai, tapi hidup. Beberapa orang duduk di meja depan jendela besar sambil membuka laptop, beberapa duduk di sofa, beberapa lagi duduk di meja kayu di luar ruangan. 

AC menyala. Lampu tidak ada yang mati. Musik mengalun pelan.

Luna mendekat ke meja kasir. 

“Selamat sore, Bu Luna,” sapa kasir perempuan itu.

Luna mengangguk. “Sore. Kamu panggil Dimas.”

Kasir itu mengangguk, lalu pergi ke belakang memanggil supervisor operasional cafe. 

Sambil menunggu, Luna menatap ke arah dapur. Matanya dengan cepat mengecek bahan-bahan dan area cuci. Tidak ada cucian kotor ataupun sampah berantakan. Luna mengangguk kecil.

“Sore, Bu Luna." 

Luna menoleh. Dimas datang dengan membawa map tipis. Lengan kemejanya digulung hingga siku.

Dimas menyerahkan map itu pada Luna. Luna membuka halaman pertama.

“Penjualan stabil. Weekend kemarin naik, tapi weekday tetap sama.”

Luna membaca cepat, jarinya menahan satu halaman.

“Supplier susu naik harga. Mereka meminta penyesuaian mulai minggu depan.”

Luna berhenti sebentar. Alisnya sedikit berkerut, menghitung.

“Kontrak kita masih tiga bulan. Tolak kenaikan,” ucap Luna datar.

Dimas mencatat.

“Cari alternatif supplier. Bandingkan harga dan kualitas. Dua hari lagi saya mau lihat.”

“Baik, Bu.”

“Bagaimana laporan keuangan bulanan?" tanya Luna.

“Sudah saya siapkan di ruangan Ibu." 

Luna mengangguk. “Oke. Ikut saya ke belakang." 

Dimas mengangguk. Dia mengikuti langkah Luna menuju ke satu ruangan kecil di belakang. Ruang kerja Luna, tapi jarang Luna gunakan. Ruangan itu tidak besar hanya berisi meja kerja sederhana serta rak dan laci berisi file-file penting cafe.

Di ruangan itu Luna membahas hal-hal lebih detail tentang kondisi cafe dan keuangannya dengan Dimas.

Setelah cukup berdiskusi, Luna melangkah keluar dari ruangannya. Begitu juga dengan Dimas.

Luna kembali ke area cafe. Beberapa pengunjung sudah beranjak pergi. Karyawan mulai membereskan meja.

Ketika berjalan keluar, tatapan Luna tanpa sengaja berhenti di satu meja dekat jendela. Langkah Luna terhenti. 

Dia meja itu ada satu vas bunga berisi bunga lily putih.

Tatapan Luna tertahan pada bunga itu lebih lama dari yang seharusnya. Wajahnya datar, tapi rahangnya sedikit mengeras. Setelah beberapa saat, Luna menoleh pada seorang karyawan yang sedang membersihkan meja di dekat Luna.

“Dito," panggil Luna.

Dito mendekat. “Iya, Ibu." 

“Mulai besok, bunga di meja diganti. Pakai daisy atau krisan saja yang tahan lama.”

Dito mengangguk. “Baik, Ibu.”

“Lily cepat layu dan banyak perawatan. Kita butuh yang praktis," lanjut Luna dengan suara profesional.

Luna kembali melanjutkan langkahnya keluar cafe. Baru ketika pintu cafe tertutup, wajahnya sedikit melunak. Dia berhenti sejenak di depan, menatap jalanan yang mulai padat. 

Tanpa menoleh ke belakang lagi, Luna berjalan menuju mobilnya, membiarkan bunga lily itu tetap berada di dalam cafe untuk terakhir kalinya.

...----------------...

Bab 3 - Seperti Keluarga

Jam kerja sudah usai. Semua pekerjaan Luna sudah selesai. Dia segera membereskan barang-barangnya, lalu keluar dari gedung perusahaan. 

Di depan pintu keluar, langkah Luna terhenti. 

Seorang laki-laki berdiri beberapa meter di depannya. Posturnya tegap dengan kemeja putih panjang yang digulung hingga siku, menampilkan otot-otot lengannya. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya terlihat lelah tapi senyum hangat tercipta di wajahnya.

“Alif," panggil Luna.

Alif tersenyum semakin lebar.

Luna segera mendekatinya. Dia berhenti satu langkah di depan Alif. Ada binar kecil di matanya.

“Alif, kamu kok ada di sini? Bukannya kamu masih di luar negeri?" 

“Kejutan,"  ucap Alif ceria. 

Luna mengerutkan kening.

Alif terkekeh pelan. “Urusanku selesai lebih cepat, jadi aku bisa pulang cepat." 

Luna memicing. “Kamu pasti memaksakan jadwal ya?" 

“Sedikit." 

Luna menghela napas pelan.

Alif memiringkan kepala, menatap Luna lebih lekat. “Aku nggak suka lama-lama disana. Sepi." 

“Kan ada sekretaris kamu." 

Alif tertawa pelan. “Beda dong. Sekretaris itu urusan kerja. Sepi itu urusan lain." 

Alif Jonathan Wijaya. Dia adalah seorang CEO di perusahaan keluarga yang bergerak di bidang fintech. 

Luna mengenalnya sudah cukup lama, sudah lima tahun. Mereka pertama kali bertemu di salah satu seminar bisnis ketika Luna baru saja kembali kuliah setelah melahirkan El dan Lily. Setelah itu, mereka menjadi sering bertemu, bahkan Alif sering kali datang ke rumahnya untuk bermain dengan El dan Lily yang saat itu masih balita sampai sekarang.

Alif menemaninya di saat hidupnya berat. Menjadi ibu baru tanpa suami, berkuliah, dan bekerja sampingan untuk membayar biaya kuliah karena beasiswanya dicabut.

Alif selalu menemaninya.

Luna menatap Alif dengan lembut. “Kamu kapan sampai?”

“Baru aja.”

“Baru? Terus langsung ke sini?” tanya Luna terkejut.

Alif mengangguk tanpa ragu.

“Alif, kamu seharusnya pulang dulu. Istirahat di rumah.”

Alif tersenyum tipis. Matanya menatap dalam ke arah Luna. “Aku tahu. Tapi aku tidak bisa istirahat jika belum bertemu denganmu dan anak-anak.”

Pandangan mata Luna turun ke bawah. "Alif, aku–

“Sssttt. Aku tahu. Aku tidak masalah Luna. Kamu tidak perlu memaksakan apapun, aku akan tunggu sampai kamu siap.”

Luna menunduk sebentar, lalu kembali menegakkan kepala, menatap Alif.

“Makasih, Alif.”

Alif mengangguk. “Kalau begitu, lebih baik kita pulang ke rumahmu. Aku juga ingin bertemu dengan El dan Lily. Aku rindu sekali dengan mereka.”

“Tapi, aku bawa mobil.”

“Mobil kamu ditinggal saja disini. Kita pulang sama-sama. Besok pagi, aku antar kamu ke kantor.”

“Aku jadi merepotkan kamu.”

Alif tersenyum lembut. “Enggak, Luna. Aku dengan senang hati melakukannya.”

...***...

El dan Lily duduk bersebelahan di ruang keluarga. Buku-buku dan alat tulis tersebar di lantai. Di meja belajar lipat, satu buku terbuka. Isinya soal-soal matematika penjumlahan yang sedang dikerjakan. El susah selesai sejak setengah jam yang lalu. Dia kini menunggu Lily menyelesaikan tugasnya. 

Wajah El cemberut, sedikit merah menahan kesal karena sejak tadi Lily tidak paham-paham dengan soal itu. Padahal El sudah menjelaskan berkali-kali hingga bosan.

“Lily, ini gampang banget, kamu cuma tinggal jumlahin aja. 6 ditambah 5 kayak yang diajarin ibu guru,” ujar El sambil menunjuk angka di bukunya.

Lily mengerutkan kening.“Lily nggak ngerti, El." 

El menghela napas panjang. “Come on, Lily! It’s just simple addition!” ucapnya dengan nada setengah kesal.

Lily cemberut. “Kamu ngomong apa sih? Lily nggak ngerti." 

El mengangkat bahu dan setengah bergumam, “Damn it! Aku udah capek banget ngajarin kamu. Penjumlahan nggak bisa, bahasa inggris nggak paham. Padahal Bunda udah ajarin setiap di rumah.”

Lily semakin kesal. Tangannya terlipat di depan dada. “Kamu itu sombong banget! Aku bukan kamu, El!”

El mendelik. “I’m not trying to be mean! Tapi kamu harus ngerti juga, aku udah jelasin berkali-kali, Lily.”

“Ya udah! Aku nyerah! Nggak mau belajar lagi!” seru Lily sambil membanting pensilnya ke meja.

“Ada apa ini ribut-ribut?" 

Suara bass hangat itu terdengar di telinga El dan Lily membuat mereka sontak mengalihkan pandangan.

Alif berdiri bersisian dengan Luna di ambang pintu. Bibirnya mengulas senyum lebar.

“Om Alif!" 

El dan Lily langsung berdiri dan berlari ke arahnya. Lily sempat tersandung meja dan jatuh, tapi segera berlari lagi menghampiri Alif.

Alif menekuk kaki, menyejajarkan tinggi mereka. 

El dan Lily langsung menghamburkan tubuh mereka ke pelukan Alif. 

Alif terkekeh pelan. Satu lengan Alif melingkar ringan di punggung El, satu lagi menahan tubuh Lily agar tidak jatuh. Gerakannya tenang, protektif, seolah memastikan keduanya aman di tempat yang sama.

“Lily kangen sekali dengan Om Alif!” seru Lily ceria. Wajahnya yang tadi mendung, kembali cerah ketika melihat Alif.

El mengangguk mengiyakan.

“Om juga kangen sekali dengan kalian,” jawab Alif.

Luna yang berdiri di sisi Alif hanya bisa tersenyum lembut. Hatinya menghangat melihat kedekatan El dan Lily dengan Alif. Tapi rasa hangat itu datang bersamaan dengan rasa nyeri lembut.

Alif perlahan melepas pelukan, tapi tetap merangkul El dan Lily. “Kalian sudah makan?" 

El dan Lily mengangguk semangat.

“Om lama sekali perginya,” keluh Lily.

“Maaf, Lily. Om ada kerjaan di luar negeri jadi harus pergi. Tapi sekarang… Om sudah pulang buat temenin Lily sama El.”

“Sekarang Om nggak akan pergi lagi, kan?" tanya El.

“Iya, pokoknya Om Alif nggak boleh pergi lama-lama lagi,” sahut Lily.

Luna ikut berjongkok di samping Alif. “Lily, nggak boleh gitu dong, Sayang. Om Alif kan kerja. Lily nggak boleh melarang Om Alif pergi-pergi.”

“Tapi Lily nggak suka ditinggal pergi.”

Alif tersenyum lembut. “Sekarang, Om nggak pergi. Kapan-kapan mungkin Om akan pergi lagi. Tapi Lily harus tahu, Om akan selalu pulang buat temuin Lily lagi.”

Alif menoel hidung Lily gemas. 

Lily mengulas senyum, lalu mengangguk semangat.

Alif tersenyum, lalu mengerutkan kening. “Om denger tadi El dan Lily berdebat, ada apa?”

“El marah-marah sama Lily, Om!” sahut Lily cepat.

El mengerutkan kening. “El nggak marah-marah. El ajarin Lily penjumlahan, tapi Lily nggak bisa-bisa.”

“El ngomongnya pake bahasa inggris. Lily nggak paham!” balas Lily lagi. 

Alif mengangguk pelan, mencoba memahami situasinya. “Oh, jadi El ngajarin pake bahasa Inggris, ya? Mungkin Lily butuh penjelasan yang lebih gampang.”

El menggeleng. “Tapi El udah coba jelasin pake bahasa Indonesia juga, Om.”

Lily mengerutkan dahi. “Tapi El sering buru-buru dan langsung ngomong pake bahasa Inggris. Lily bingung, jadi kesal.”

Alif tersenyum lembut, lalu berkata, “Kalau gitu, gimana kalau sekarang El ajarin Lily pelan-pelan, pakai bahasa yang mudah dimengerti? Om akan bantu. Kita belajar sama-sama. Okay?" 

El dan Lily mengangguk semangat. “Okay!" 

“Good job.”

Alif bangun perlahan. Tapi Lily langsung menyentuh kakinya sambil mendongak.

“Lily mau digendong Om Alif.”

“Lily, Lily udah besar loh. Lily berat, kasihan Om Alif,” tegur Luna lembut.

Alif tersenyum kecil. Dia langsung mengangkat tubuh Lily dan menggendongnya. “Selama Om masih kuat gendong Lily, Lily tetap anak kecil di mata Om. Jadi Lily boleh minta gendong Om kapanpun Lily mau.”

Lily tersenyum.

Alif menunduk, menoleh pada El. “El mau digendong juga?”

El menggeleng. Tapi dia langsung memeluk lengan Alif yang berada di sisi tubuhnya. 

Alif terkekeh pelan. “Ayo kita belajar!” 

Sementara satu tangan El lagi yang bebas kini menggenggam tangan Luna. “Bunda ikut juga ya,” ucap El.

...----------------...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!