Indonesia
NovelToon NovelToon

JALAN MENUJU KEABADIAN

CH.1

Matahari sore menggantung rendah di ufuk barat, memandikan Desa Qinghe dengan cahaya oranye kemerahan. Di hamparan sawah yang luas, punggung-punggung yang membungkuk mulai tegak satu per satu, menandakan berakhirnya hari kerja yang panjang.

Shen Yu, seorang pemuda berusia lima belas tahun, menyeka keringat yang bercampur lumpur di dahinya. Tubuhnya kurus, kulitnya agak pucat untuk ukuran anak petani, namun matanya memiliki kedalaman yang tidak dimiliki pemuda seusianya di desa itu.

"Yu'er, berhenti melamun," suara berat itu memecah konsentrasi Shen Yu.

Shen Liang, ayahnya, sedang memanggul cangkul di bahu. Wajah pria itu keras, dipahat oleh angin dan terik matahari selama puluhan tahun. "Lihat tanah di bawah kakimu. Itulah yang memberimu makan, bukan awan di langit itu."

Shen Yu segera menunduk, mencabut rumpun rumput liar terakhir dengan tangan kosong. "Maaf, Ayah. Aku hanya... melihat burung elang itu terbang."

Shen Liang mendengus pelan, meski tidak kasar. "Elang punya sayap, kita punya kaki. Jangan mencampuradukkan keduanya. Ayo pulang, ibumu pasti sudah memasak."

Mereka berjalan pulang menyusuri pematang sawah. Desa Qinghe adalah tempat yang damai, terlalu damai hingga terasa seperti penjara bagi jiwa yang gelisah. Rumah-rumah kayu sederhana berderet, dengan asap dapur mengepul ke udara.

Di dalam rumah mereka yang sederhana, penerangan hanya berasal dari satu lampu minyak yang sumbunya mulai memendek.

Liu Ying, ibunya, menyambut mereka dengan senyum hangat dan mangkuk berisi bubur nasi serta sayuran asin. Sederhana, tapi hangat.

"Kau membaca buku tua itu lagi semalam suntuk, Yu'er?" tanya ibunya lembut sambil menuangkan air.

Shen Yu mengangguk pelan, matanya berbinar sekilas. "Buku itu menceritakan tentang Sekte Pedang Awan di utara. Katanya, tetua mereka bisa membelah sungai dengan satu jari."

Trak!

Shen Liang meletakkan sumpitnya dengan keras ke meja. Suasana makan malam yang hangat seketika berubah dingin.

"Sudah kukatakan," suara Shen Liang rendah namun penuh penekanan. "Berhenti mengisi kepalamu dengan omong kosong para Dewa itu."

"Tapi Ayah, itu bukan omong kosong. Dunia luar itu luas..." Shen Yu mencoba membela diri, keberanian yang jarang ia tunjukkan.

"Kultivator itu nyata. Jika aku bisa menjadi salah satu dari mereka, aku bisa mengubah nasib keluarga kita. Ayah tidak perlu membungkuk di sawah sampai tua, dan Ibu tidak perlu menjahit sampai matanya kabur."

"Cukup!" bentak Shen Liang. Ia menatap putranya, bukan dengan kemarahan, tapi dengan ketakutan yang tersembunyi.

"Dunia Kultivator itu kejam, Shen Yu. Mereka membunuh semudah kita mencabut rumput. Di mata mereka, kita ini hanyalah semut. Kau ingin masuk ke sana? Itu sama saja dengan mencari mati." Shen Liang menghela napas panjang, bahunya merosot. "Jadilah petani. Menikahlah dengan gadis desa sebelah. Hidup tenang. Itulah kebahagiaan sejati."

Shen Yu terdiam. Ia melihat tangan ibunya yang kasar karena pekerjaan rumah, dan wajah ayahnya yang penuh kerutan. Ia tahu ayahnya menyayanginya, ingin melindunginya. Tapi perlindungan itu terasa seperti rantai.

Malam itu, Shen Yu tidak bisa tidur.

Ia keluar rumah diam-diam, duduk di atas batu besar di tepi desa yang menghadap ke hutan perbatasan. Di tangannya, ia memegang buku tua yang sudah robek sampulnya.

Langit malam ini sangat cerah. Bintang-bintang bertaburan seperti pasir berlian.

"Apakah benar aku hanya ditakdirkan menjadi semut?" bisiknya pada angin malam.

Tiba-tiba, langit di atas hutan bergemuruh tanpa awan.

Shen Yu mendongak. Ia melihat seberkas cahaya merah darah melesat di langit malam, membelah kegelapan dengan suara desingan yang menyakitkan telinga. Cahaya itu tidak stabil, berkedip-kedip, sebelum akhirnya menukik tajam ke arah hutan, hanya beberapa kilometer dari tempat Shen Yu duduk.

BOOOOM!

Tanah bergetar. Burung-burung malam beterbangan panik. Sebuah ledakan sunyi terjadi di kedalaman hutan, diikuti kepulan asap yang samar.

Jantung Shen Yu berpacu kencang. Ia belum pernah melihat hal seperti itu seumur hidupnya. Ketakutan menyuruhnya lari kembali ke selimut hangatnya. Tapi rasa ingin tahunya rasa haus akan dunia yang tidak ia ketahui menarik kakinya melangkah maju.

"Itu... bukan bintang jatuh biasa," gumamnya.

Ia menelan ludah, menatap kegelapan hutan yang kini terasa mencekam.

...TINGKATAN KULTIVASI...

...1.Pemurnian Qi (Qi Condensation)...

...2.Pembentukan Pondasi (Foundation Establishment)...

...3.Inti Emas (Golden Core)...

...4.Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul)...

...5.Transformasi Dewa (Soul Transformation)...

...6.Ascendant...

...7.Nirvana...

...8.Raja Dewa (God King)...

...9.Kaisar Dewa (God Emperor)...

CH.2

Shen Yu tidak berlari ke dalam hutan malam itu. Kakinya gemetar, bukan hanya karena dinginnya angin malam, tetapi karena realitas yang membentur kesadarannya. Hutan di malam hari adalah wilayah kematian bagi manusia fana; serigala, ular berbisa, atau bahkan bandit bisa saja bersembunyi di sana. Jika dia mati konyol dimakan binatang buas, mimpinya menjadi Kultivator akan berakhir menjadi tumpukan tulang belulang.

Ia kembali ke kamarnya, berbaring di atas dipan jerami yang keras. Matanya menatap langit-langit kayu yang gelap, telinganya menangkap suara dengkuran halus ayahnya dari kamar sebelah.

"Aku harus sabar," bisiknya pada diri sendiri, mencengkeram selimut erat-erat. "Kultivasi membutuhkan ketenangan hati, begitu kata buku itu."

Ia tidak tidur sedetik pun.

Saat ayam jantan pertama berkokok, ketika langit timur baru saja berubah dari hitam menjadi abu-abu pucat, Shen Yu bangkit. Ia bergerak tanpa suara seperti kucing, mengambil keranjang anyaman bambu dan sebuah parang kecil berkarat di dapur.

Jika ayahnya bertanya, ia punya alasan sempurna: persediaan kayu bakar menipis, dan kayu terbaik didapat saat embun pagi masih turun.

Shen Yu melangkah keluar. Udara pagi Desa Qinghe menusuk tulang, kabut tebal menyelimuti jalan setapak, membuat dunia terlihat samar dan misterius.

Ia berjalan cepat menuju perbatasan hutan. Semakin dekat ia ke lokasi jatuhnya cahaya semalam, semakin aneh suasana di sekitarnya. Hutan yang biasanya riuh oleh suara serangga pagi kini sunyi senyap. Terlalu sunyi. Burung-burung seolah enggan berkicau, seakan alam sedang menahan napas karena takut.

Sekitar dua kilometer masuk ke dalam hutan, hidung Shen Yu menangkap bau tajam. Bukan bau kayu busuk atau tanah basah, melainkan bau ozon seperti udara sesaat setelah petir menyambar bercampur dengan bau amis logam yang samar.

Ia mempererat genggamannya pada gagang parang. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga terdengar di telinganya sendiri.

Ia menyibakkan semak belukar yang hangus. Daun-daun di sini tidak hijau, melainkan layu dan menghitam, seolah kehidupan telah dihisap paksa dari mereka.

Di sana, di sebuah bukaan kecil di antara pepohonan tua, tanah telah terbongkar hebat membentuk kawah dangkal. Asap tipis masih mengepul dari pusat kawah.

Dan di tengah kekacauan itu, bersandar pada sebuah batu besar yang retak, duduklah seseorang.

Itu adalah seorang pria berjubah biru langit kini robek dan bernoda darah merah kehitaman. Rambut panjangnya berantakan, dan sebuah pedang perak tergeletak patah menjadi dua di sampingnya.

Shen Yu terdiam, kakinya membeku. Ini adalah pertama kalinya ia melihat seorang Kultivator dengan mata kepalanya sendiri. Sosok yang dalam dongeng digambarkan agung bak dewa, kini tampak lebih rapuh daripada pengemis di pasar desa.

Pria itu terbatuk, memuntahkan darah segar. Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya terkulai lemas. Matanya yang tajam tiba-tiba terbuka, langsung menatap ke arah semak tempat Shen Yu bersembunyi.

Tatapan itu bagaikan pedang. Shen Yu merasa seolah-olah jiwanya sedang ditelanjangi.

"Siapa di sana?" suara pria itu lemah, namun membawa tekanan yang membuat lutut Shen Yu goyah. "Keluar!"

Shen Yu tahu ia tidak bisa lari. Dengan tangan gemetar, ia melangkah keluar dari persembunyian, mengangkat keranjang bambunya tinggi-tinggi sebagai tanda ia bukan ancaman.

"A-aku hanya pencari kayu bakar, Tuan Abadi," suara Shen Yu serak. "Aku... aku melihat cahaya semalam."

Mata kultivator itu menyipit, memindai Shen Yu dari atas ke bawah. Menyadari itu hanya seorang bocah fana tanpa energi Qi sedikitpun, kewaspadaannya sedikit menurun, digantikan oleh rasa sakit yang luar biasa.

"Air..." desis pria itu.

Tanpa berpikir dua kali, Shen Yu menurunkan keranjangnya. Ia mengambil tabung bambu berisi air minum yang ia bawa dari rumah, lalu berlutut di samping pria itu dengan hati-hati. Ia membantu meminumkan air itu ke bibir sang kultivator yang pecah-pecah.

Pria itu minum dengan rakus, lalu mengatur napasnya yang berat. Ia mengeluarkan sebutir pil kecil berwarna hijau dari balik jubahnya dan menelannya, namun wajahnya tetap pucat pasi. Luka di dadanya terlalu parah; ada energi gelap yang merayap di sekitar lukanya, mencegah penyembuhan.

"Terima kasih, Nak," ucap pria itu pelan. Ia menatap Shen Yu lagi, kali ini dengan rasa ingin tahu yang aneh. "Kau tidak takut padaku? Orang biasa biasanya lari ketakutan melihat darah dan aura pembunuh."

"Aku takut," jawab Shen Yu jujur, menatap langsung ke mata pria itu. "Tapi aku lebih takut hidup tanpa mengetahui apa yang ada di balik langit."

Kultivator itu tertegun sejenak. Ia tertawa kecil, tawa yang berakhir dengan batuk darah lagi. "Menarik. Seorang bocah petani dengan ambisi sebesar gunung."

Pria itu merogoh saku jubahnya dengan tangan gemetar, mengeluarkan sebuah benda. Itu adalah kepingan giok berwarna hijau lumut, berbentuk bundar namun retak di bagian tengahnya, seolah pernah dipukul benda keras. Giok itu tampak tua dan tidak berharga.

"Dengarkan aku," bisik kultivator itu, suaranya makin memudar. "Musuhku... mereka mungkin masih mencari. Aku tidak bisa bertahan lama di sini."

Ia menjejalkan giok retak itu ke tangan Shen Yu yang kasar.

"Anak kecil… kau punya mata yang ingin menentang langit. Giok ini... simpanlah. Jangan tunjukkan pada siapa pun, bahkan orang tuamu. Jika kau punya takdir, benda ini akan membimbingmu."

"Tuan, apa ini?" tanya Shen Yu bingung, merasakan dingin yang aneh dari giok itu meresap ke telapak tangannya.

"Pergilah! Sekarang!" Pria itu tiba-tiba mendorong Shen Yu dengan sisa tenaganya. Wajahnya menegang, merasakan sesuatu mendekat dari kejauhan. "Lupakan kau pernah melihatku. Lari!"

Shen Yu tersentak mundur. Naluri bertahan hidupnya menjerit. Ia memasukkan giok itu ke dalam balik bajunya, menyambar keranjang dan parangnya, lalu berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan hutan itu.

Ia tidak menoleh ke belakang. Namun, baru seratus langkah ia berlari, sebuah ledakan energi yang jauh lebih besar dari sebelumnya mengguncang hutan di belakangnya, disertai teriakan terakhir yang memilukan.

Shen Yu terus berlari, air mata ketakutan dan kegembiraan bercampur di wajahnya. Ia menyentuh dadanya, merasakan giok dingin itu menempel di kulitnya.

CH.3

Shen Yu tidak ingat bagaimana kakinya membawanya pulang. Yang ia ingat hanyalah rasa panas yang menjalar dari dadanya, tempat Giok Retak itu bersentuhan dengan kulit, menyebar ke seluruh tubuhnya seperti api liar.

Begitu ia terhuyung masuk ke halaman rumahnya yang sepi, ia langsung merosot di samping tumpukan kayu bakar. Napasnya memburu, uap panas mengepul samar dari pori-porinya.

"Yu'er?" Suara ibunya terdengar panik dari arah dapur.

Shen Yu ingin menjawab, tapi tenggorokannya tercekat. Rasa sakit yang luar biasa menghantam Dantian nya (pusat energi di bawah pusar). Rasanya seolah ada pisau tumpul yang mengorek isi perutnya.

"Ibu..." bisiknya lirih sebelum pandangannya menjadi gelap.

Saat kesadaran Shen Yu kembali, ia tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu. Ia terbaring di dipan kamarnya. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat yang berbau busuk dan anyir kotoran hitam lengket keluar dari pori-porinya, menodai seprai kasar miliknya.

Ini bukan demam biasa. Dalam ketidaksadarannya, Shen Yu merasa tulang-tulangnya seperti dipatahkan dan disusun ulang. Aliran hangat yang asing Qi memaksa masuk ke dalam meridiannya yang sempit dan tersumbat, membersihkan kotoran fana yang menumpuk selama lima belas tahun.

"Panasnya tidak turun-turun!" suara Shen Liang terdengar cemas di ruangan itu.

"Tabib desa bilang ini hanya demam angin, tapi lihat keringat hitam ini... ini tidak wajar."

"Jangan bicara keras-keras," isak Liu Ying. "Anak kita sedang berjuang."

Shen Yu ingin membuka mata, tapi kelopak matanya terasa seberat gunung. Tiba-tiba, rasa sakit di tubuhnya mereda, digantikan oleh sensasi pendengaran yang menakutkan.

Ia bisa mendengar suara jangkrik di luar rumah dengan sangat jelas, seolah-olah serangga itu berada di telinganya. Ia bisa mendengar detak jantung ibunya yang cepat. Inderanya telah dipertajam secara paksa oleh energi sisa dari Giok Retak tersebut.

Namun, ketajaman indera itu membawa berita buruk.

Dari kejauhan, di langit di atas desa, terdengar suara desingan tajam.

Wuuung!

Itu bukan suara angin. Itu suara benda membelah udara dengan kecepatan tinggi. Lalu, sebuah tekanan tak kasat mata (Tekanan Spiritual) turun menimpa Desa Qinghe.

Ayam berhenti berkokok. Anjing-anjing desa melolong ketakutan lalu terdiam meringkuk. Udara menjadi berat, seolah gravitasi meningkat dua kali lipat.

"Siapa?!" Shen Liang tersentak, naluri bahayanya bangkit. Ia menyambar parang di sudut ruangan.

Di luar, suara yang diperkuat oleh Qi menggema ke seluruh penjuru desa, terdengar angkuh dan dingin, seolah dewa berbicara kepada serangga.

"Penduduk desa fana. Keluar dan bersujud!"

Shen Yu memaksa matanya terbuka. Jantungnya berdegup kencang. Mereka datang. Musuh kultivator itu.

Shen Liang menatap putranya yang masih terbaring lemah. "Yu'er, tetap di sini. Jangan bersuara sedikitpun. Ibumu akan menjagamu."

Ayahnya keluar dengan wajah pucat namun rahang mengeras.

Melalui celah jendela kayu yang sedikit terbuka, dari posisi terbaringnya, Shen Yu bisa melihat sepotong langit. Di sana, melayang sepuluh meter di atas tanah, berdiri dua sosok di atas pedang terbang yang berkilauan.

Satu pria berjubah merah darah dengan lambang tengkorak di dada, dan satu wanita dengan tatapan dingin. Aura mereka mencekik, membuat para petani di luar jatuh berlutut gemetar.

"Kami dari Sekte Darah Besi," ujar pria berjubah merah itu sambil memainkan bola api kecil di tangannya. "Kami melacak seekor tikus yang terluka parah jatuh di sekitar sini semalam. Serahkan dia, atau desa ini akan kubakar menjadi abu."

Kepala Desa tua maju dengan tubuh gemetar, bersujud sampai dahinya menyentuh tanah. "Tuan Abadi... ampun! Kami... kami tidak melihat siapa pun. Hanya ada suara guntur semalam..."

"Guntur?" Wanita di atas pedang mendengus meremehkan. "Indera Spiritualku tidak mendeteksi aura kultivator di sini. Mungkin dia sudah mati di hutan dan dimakan binatang buas."

"Periksa setiap rumah," perintah pria itu. "Jika ada yang menyembunyikan mayat atau barang milik tikus itu, bunuh satu keluarga."

Jantung Shen Yu seakan berhenti. Giok itu!

Benda itu ia sembunyikan di dalam bantal jerami tempat kepalanya bersandar sekarang. Jika mereka memeriksa ke dalam...

Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya masih lumpuh akibat proses pembersihan tulang. Sial! Sial! Aku akan mencelakakan Ayah dan Ibu!

Pintu rumah warga mulai ditendang terbuka satu per satu. Teriakan ketakutan terdengar. Langkah kaki berat mendekati rumah Shen Yu.

Pintu depan rumahnya terbuka kasar.

"Hanya ada petani tua dan istrinya," suara dingin seorang murid sekte terdengar di ruang depan.

"Periksa kamar itu!"

Shen Liang berdiri di depan pintu kamar Shen Yu, merentangkan tangannya. "Tuan! Tolong! Di dalam hanya anak saya yang sedang sakit keras. Penyakitnya menular! Lihat keringat hitamnya!"

Murid sekte itu berhenti sejenak, lalu melongok ke dalam kamar. Ia melihat Shen Yu yang terbaring dengan wajah pucat pasi, tubuh kurus kering, dan seprai yang penuh noda hitam menjijikkan berbau anyir.

"Menjijikkan," gumam murid itu sambil menutup hidung. Ia memindai Shen Yu sekilas dengan Indra spiritualnya.

Shen Yu menahan napas. Jangan bereaksi. Jangan bereaksi.

Anehnya, Giok di bawah bantalnya yang tadinya panas, kini menjadi dingin sedingin es, seolah benda itu tahu ia sedang diburu. Giok itu menyembunyikan aura keberadaannya sendiri, dan bahkan menekan fluktuasi Qi di tubuh Shen Yu sehingga ia terlihat benar-benar seperti manusia biasa yang sakit parah.

"Hanya sampah fana yang sekarat," lapor murid itu kepada seniornya di luar. "Tidak ada jejak energi spiritual."

Di langit, pria berjubah merah itu mendecih kesal. "Buang-buang waktu. Tikus itu pasti sudah lari jauh menggunakan teknik terlarang."

Ia menatap desa itu dengan tatapan membunuh, lalu mengibaskan lengan bajunya. Sebuah gelombang angin kencang menghantam atap-atap rumah, menerbangkan genteng jerami sebagai peringatan.

"Ingat! Jika kalian menemukan mayat atau barang mencurigakan, lapor ke Cabang Kota Batu. Sembunyikan, dan kami akan kembali untuk membantai kalian semua!"

Dua sinar pedang melesat ke langit, meninggalkan jejak pelangi mematikan, lalu menghilang di balik awan.

Keheningan kembali menyelimuti Desa Qinghe. Namun kali ini, keheningan itu dipenuhi isak tangis ketakutan.

Di dalam kamar, Shen Yu akhirnya bisa menghembuskan napas. Air mata frustrasi mengalir di sudut matanya. Ia mengepalkan tangannya yang lemah.

Hari ini, ia melihat wajah asli dunia. Tanpa kekuatan, nyawa keluarganya tidak lebih berharga dari rumput di pinggir jalan.

Aku harus kuat, sumpahnya dalam hati, merasakan denyut nadi baru yang lebih kuat di pergelangan tangannya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak kepalaku seperti ini lagi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!