*
*
*
Qistina Aulia, seorang mahasiswi tingkat empat jurusan akuntansi di sebuah universitas swasta. Bukan dari keluarga kaya namun dia memiliki tekad yang kuat untuk menyelesaikan pendidikannya.
"Kemana aja kamu Qis?" Zifa sahabat Qistina, menyambut kedatangannya dengan pertanyaan dan tatapan heran. "Pertandingannya sudah mau selesai kamu baru datang!"
"Sorry!" seru Qistina, "Aku baru dapat izin dari Bos. Soalnya kafe hari ini lagi ramai banget."
Zifa menyipitkan mata, "Loh, bukannya shift kamu cuma sampai jam dua belas? Sekarang sudah jam tiga Qis."
"Karna rame pengunjung, " Qistina menaik turunkan pudaknya, "jadi bos minta aku bantu-bantu."
"Gila bos kamu, namanya ngambil tenaga orang seenaknya dong." Zifa melotot setengah sebal.
"Udah nggak apa-apa" Qistina masih tetap tenang, "Yang penting, aku masih di bolehin kerja. Lumayan aku jadi punya tambahan uang."
"Iya, tapi tuh lihat!" Zifa menunjuk dengan dagunya ke arah lapangan, "Pangeran kamu dari tadi cemberut, nyariin kamu terus."
Hari ini adalah pertandingan futsal yang di tunggu-tunggu oleh penghuni kampus. Seorang kapten futsal andalan yang terkenal tampan dan berasal dari keluarga kaya sejak tahun lalu sudah menjadi tempat Qistina melabuhkan cintanya.
Calvin Rahardian, siapa yang tak kenal dengan sosok tinggi beralis tebal dengan hidung mancung itu. Hampir semua penghuni kampus mengenalnya sebagai raja lapangan. Semua orang juga tahu tentang hubungannya dengan Qistina yang memang berwajah cantik.
Hubungan yang berjalan satu tahun itu nampak baik-baik saja, meski perbedaan latar belakang jelas kentara.Calvin si anak orang kaya sedang Qistina mahasiswi yang mengandalkan beasiswa, pontang panting kerja sambilan demi memenuhi kebutuhan.
Namun begitu, tak jarang pula keduanya bertengkar karna waktu Qistina yang lebih sering di habiskan untuk bekerja. Calvin sering merasa tak memiliki kesempatan untuk berduaan dengannya. Seperti saat ini, saat pertandingan futsal yang seharusnya Calvin mendapat dukungan langsung dari Qistina tapi dia malah tidak ada. Terlambat, karna bos tempatnya bekerja memberi kerja tambahan.
"Udah selesai tuh pertandingannya, cepet kamu samperin" Zifa sedikit mendorong punggung Qistina, "Minta maaf, ntar ngambek lagi tuh cowok."
Qistina mengangguk, "Iya, aku samperin dia dulu."
"Gih sana!"
Qistina turun mendatangi Calvin yang masih di pinggiran lapangan. Semua mata menatap ke arah mereka. Apalagi saat Calvin mengacak lembut puncak kepala Qistina jelas membuat pemandangan yang membuat iri dengan keromantisan mereka.
"Abis ini ada acara sama anak-anak?" tanya Qistina sambil menyodorkan botol air mineral untuk Calvin.
"Nggak ada, aku mau sama kamu aja." Calvin menerima botol minuman yang di berikan Qistina lalu menenggaknya setengah, "Temani aku santai ya, mau kan Qis?"
Qistina mengangguk, tentu dia mau. Menghabiskan waktu bersama kekasih yang selama ini di cintainya tentu akan menjadi moment yang ia tunggu-tunggu.
Calvin tersenyum, lantas bertanya, "Tadi kenapa kamu datangnya telat?"
Qistina diam sebentar, mencoba mencari kata yang tepat untuk beralasan, "Maaf Calvin, tadi bos minta aku kerja tambahan. Karna pengunjung kafe lagi ramai banget. Jadi aku baru bisa sampai ke sini saat pertandingan kamu selesai."
Mendengar itu Calvin berdecak kesal, "Itu lagi, nggak ada alasan lain? Sebenarnya upah kamu kerja itu berapa? Sampai kamu harus bekerja seperti ini. Tapi perasaan kamu masih gini-gini aja. Nggak kaya-kaya juga."
Latar belakang yang berbeda, seorang Calvin yang serba mudah sering kali menimbulkan perselisihan di antara keduanya. Calvin yang seorang anak pengusaha tambang, memiliki segalanya. Berpenampilan dengan barang branded sudah menjadi kebiasaannya. Kemana-mana di temani dengan mobil mewah atau motor sport seharga milyaran rupiah. Sangat jauh berbeda dengan Qistina yang berpenampilan asal bersih,rapi dan wangi. Merk bukanlah prioritas utama untuknya, asal masih terjangkau dengan isi dompet baru ia membelinya. Kemana-mana pun hanya di temani dengan motor bebek milik Ayahnya yang kadang sudah harus keluar masuk bengkel.
Namun meski begitu, harga diri Qistina sangat tinggi. Dia tidak mau menerima begitu saja pemberian Calvin. Baginya sebelum ada pernikahan, dirinya tidak boleh menerima apa saja pemberian laki-laki walaupun itu seorang Calvin yang sudah berstatus pacar. Qistina selalu menolak dengan tegas meski dengan cara yang halus.Hal ini sering membuat Calvin kesal. Ia kesal dengan pendirian Qistina yang seperti itu.
Calvin mengacak rambutnya sendiri. Mencoba menetralkan kekesalannya, "Ya sudah, aku maafin. Tapi kali ini kamu nurut aku kemanapun aku ajak. Dan jangan menolak."
"Memangnya mau kemana?"
"Sudah ikut saja."
Qistina tidak bisa menolak, ia mengikuti begitu saja langkah kaki Calvin membawanya.
***
Calvin berdiri di depan bar. Siku kirinya bertumpu santai di meja marmer hitam, sementara tangannya masih menggenggam jemari Qistina.
Ini pertama kalinya untuk Qistina, masuk ke bar sebagai pengunjung. Biasanya dia masuk ke tempat itu sebagai pelayan. Qistina pernah bekerja di Bar sebelum mendapat pekerjaan di kafe yang sekarang tempatnya bekerja. Dan Qistina cukup tahu harga setiap menu dan minuman yang ada disana. Setara dengan gajihnya satu Minggu bekerja.
"Calvin, ngapain kita kesini?" Qistina yang merasa tidak cukup memiliki uang, ragu-ragu untuk tetap berada di tempat seperti itu.
"Aku ingin menikmati di mana tempatku seharusnya. Itu saja." Calvin menjawab tanpa menoleh pada Qistina.
Qistina tahu, tempat ini bukanlah tempat yang sulit untuk seorang Calvin. Tapi, harga diri Qistina yang selalu split bill selama ini di manapun mereka makan merasa keberatan. 'Aku mana punya uang sebanyak itu untuk membayar, mana harus nebus motor ke bengkel lagi. Duh gimana ini?'
Mereka duduk di sofa pengunjung. Qistina juga tahu bahwa di tempat ini tidak semua orang duduk dan mabuk. Banyak orang-orang yang datang hanya ingin bersantai melepas lelah bersama teman, atau sekedar menikmati es lemon tea. 'Tapi Calvin, mana mungkin dia hanya akan memesan es lemon tea.'
Seorang pelayan mendekat. Kemeja hitamnya rapi, senyum profesional terpasang.
“Untuk Anda?”
Calvin tak langsung menjawab. Ia melirik rak botol di belakang bar, matanya berhenti sebentar, lalu kembali lurus ke depan.
"Rosemary Gin" katanya singkat. "Double."
Pelayan mengangguk.
Qistina yang masih sedikit kaku, bahunya tegang, matanya bergerak gelisah mengikuti lampu-lampu bar.
"Dan untuk dia," lanjut Calvin pelan, "...Raspberry Mint Cocktail"
Qistina menoleh cepat. "Aku—"
"Kali ini aku yang bayar, kamu ngga usah khawatir."
Pelayan kembali mengangguk, kemudian berlalu.
Calvin menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, terlihat lebih santai, ia mulai membuka pembicaraan "Qis, mau sampai kapan kamu begini terus?"
"Maksud kamu apa?"
"Jujur Qis, aku sudah nggak tahan lagi ngikutin gaya hidup kamu. Kamu selalu minta makan di pinggir jalan karna harganya lebih murah, jalan-jalan cuma ke pantai, menginap di penginapan murah. Aku nggak bisa lagi nurutin kemauan kamu."
Qistina mengernyitkan dahinya, "Kenapa tiba-tiba kamu ngomong gini?"
"Karna aku sudah muak Qis, aku muak lihat kamu kerja setiap hari sampe nggak bisa menikmati waktu. Padahal kita pacaran, tapi aku yang selalu sendirian nungguin sampe kamu punya waktu buat aku."
Qistina menoleh, sedikit terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Calvin. Ini pertama kalinya ia mengeluhkan pekerjaan nya, "Tapi aku butuh pekerjaan Vin."
Calvin tersenyum sinis, "Aku bisa biayain kamu. Kalau perlu kuliah kamu aku yang bayar. Tapi apa? Kamu selalu menolak kan. Kamu terlalu mementingkan harga diri kamu. Padahal kamu malah terlihat menyedihkan."
Qistina terhenyak, kata menyedihkan dari Calvin tadi terasa seperti 'Menyakitkan!'.
Ia tertunduk, jemarinya mengepal di atas paha. 'Enak saja, dia nyebut aku menyedihkan. Memangnya dia tahu apa?'
"Dari awal masuk bar ini kamu seperti takut bukan karna kamu takut mabuk kan? Tapi karna kamu takut nggak sanggup bayar. Iya kan?"
"Qis, aku mau kasih kamu penawaran. Aku nggak bisa terus-terusan begini. Apa kata orang-orang kalau aku harus nurunin standar aku demi ngikutin gaya hidup kamu yang menyedihkan itu. Kecuali kalau kamu mau nurut, ikut gaya hidup aku. Aku nggak keberatan keluar banyak uang buat kamu."
Qistina sudah menahannya sejak tadi. Sejak pertama Calvin meyebut kehidupannya menyedihkan, namun tidak untuk kali keduanya. Kepalan tangan nya semakin kuat tergenggam. Harga dirinya seolah sedang di hina habis-habisan oleh orang yang selama ini ia cintai.
"Oke kalau kamu mau tetap dengan prinsip kamu. Teruslah berpendirian, tapi aku tidak bisa lagi. Aku mau kita putus."
Kata putus dari Calvin membuat kemarahan Qistina berada di puncaknya. 'Nggak, bisa... Aku nggak bisa di rendahkan begini. Dia sebut hidup aku menyedihkan, akan aku buktikan kalau hidupku baik-baik saja. Tanpa ada dia.'
Qistina menegakkan punggungnya, dengan percaya diri ia menjawab...
"Oke, kita putus!"
"Sudah aku duga, sebenarnya kamu cuma pentingkan diri kamu sendiri. Fine! Kita benar-benar putus. Tapi untuk terakhir kali, aku akan bayar minuman untuk kamu. Setidaknya, aku pernah beliin kamu minuman mahal yang nggak pernah bisa kamu bayar sendiri. Aku permisi, selamat tinggal Qistina."
Calvin berdiri,berlalu meninggalkan Qistina sendiri.
Kepalan tangan Qistina yang sejak tadi menunggu untuk di layangkan, akhirnya mendarat juga di meja.
"Brak!!"
Di tengah suasana hati yang terbakar oleh amarah Qistina tidak bisa berfikir lagi. Ia langsung saja meminum minuman yang di pesan oleh Calvin.
"Brengsek!"
"Menyedihkan katanya? Dia tahu apa soal hidup ku!"
Gluk
Lagi, Qistina meneguk minuman yang terasa asing untuknya itu.
"Dia pikir ini kemauan ku hidup seperti ini? Aku juga mau hidup kaya raya, banyak harta, bisa beli apa saja. Bukan seperti ini, mau beli lipstik saja harus mikir besok bisa makan apa nggak."
Minuman di gelasnya sudah tandas. Tapi Qistina masih belum berhenti juga. Ia lanjutkan meneguk minuman di gelas milik Calvin yang belum sempat di minumnya.
"Kalau saja ada pekerjaan yang cepat bikin aku kaya, aku pasti mau melakukannya. Tapi kerja apa ya?.
Apa aku jual ginjal aja?, atau jadi simpenan pejabat?, atau kurir narkoba?... Ah tidak, tidak boleh kerja kriminal. Tidak baik. Nanti di jemput pak polisi."
Qistina sepertinya sudah berada di ambang kesadaran. Dia mabuk, kata orang-orang gejalanya seperti itu. Ngomong nggak jelas.
"Ah ...aku tahu!"
"Nikah sama duda kaya raya saja, jenius sekali Qistina.
Tapi, nyari duda kaya raya di mana ya?"
Qistina benar-benar mabuk, ini pertama kali dalam hidupnya. Itu pun secara tidak sengaja.
Tiba-tiba seorang pria tampan sudah duduk di depannya.
“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,juga bisa membahagiakanmu, aku kaya raya dan bukan duda. Kamu mau nggak?"
Qistina mendongak, menatap dengan tanda tanya.
"Memangnya kamu siapa? Kamu pakai jam tangan sama seperti Calvin, beneran kaya ya kamu?"
"Nikah dulu, nanti aku akan kasih tahu aku siapa."
"Jadi kamu mau nikahin aku? Ya udah ayo nikah, kalau kamu kaya aku pasti mau."
Dua orang yang sama-sama dalam pengaruh alkohol membuat kesepakatan bersama.
*
*
*
~ Siapakah pria itu?
~ Lalu bagaimana kelanjutan kisah mereka?
~Akankah kesepakatan mereka terjadi?
~Ikutin terus cerita ini ... jangan lupa like ,koment, subcribe dan rating bintang 5 ya
~Salam hangat dari Penulis 🤍
Albie Putra Dewangga, yang akrab di sapa dengan sebutan Albie. Ia dikenal sebagai dokter bedah trauma di salah satu pusat rumah sakit kota. Dokter bedah yang menangani cedera berat akibat kecelakaan atau kekerasan, seperti perdarahan masif dan kerusakan organ vital. Ia terbiasa bekerja cepat di IGD dan ruang operasi darurat, memimpin penanganan awal hingga operasi penyelamatan nyawa, serta berkoordinasi dengan berbagai departemen saat kondisi pasien kritis.
Albie memiliki tubuh tinggi dengan bahu tegap. Wajahnya tegas, hidung lurus, dan mata gelap yang selalu tampak fokus. Rambut hitamnya jarang ditata berlebihan, cukup terlihat rapi. Albie bukan tipe pria yang berusaha terlihat tampan–ketenangan dingin dan aura percaya dirinya justru membuat orang sulit mengalihkan pandangan.
Sebagai leader tim, Albie selalu menjadi pemimpin operasi darurat, di tuntut untuk mengambil keputusan cepat, dan semua anggota tim mengikuti ritme kerjanya yang tak kenal lambat.
Kehidupan yang Albie jalani bisa di katakan terlalu mudah. Sejak sekolah, kuliah, sampai karir ia dapatkan tanpa ada kendala kesulitan yang berarti. Di usianya yang sekarang 32 tahun, usia yang matang Albie sudah mendapatkan segalanya. Hanya satu saja yang sedang ia perjuangkan yaitu, menikah.
Bagi Albie menikah adalah suatu keharusan. Di tengah prinsip rekan sejawatnya yang memandang bahwa pernikahan bukanlah suatu prioritas. Sebagian kasus, pernikahan hanya akan mendatangkan masalah. Merenggut kebebasan dan menghambat pekerjaan. Tapi tidak dengan Albie. Ia bertekad untuk mempunyai kehidupan yang normal, sesuai dengan norma dan agama yang di anutnya.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk melamar Alya. Wanita yang selama 3 tahun menjalin hubungan asmara denganya.Alya adalah seorang model, akhir-akhir ini namanya banyak di lirik oleh brand-brand nasional dan internasional karna bakatnya di depan kamera semakin populer.
***
"Kamu serius? Ayolah, tidak harus menikah untuk punya pasangan Albie. Dunia ini luas jika harus terikat dengan satu orang wanita saja."
Kalimat itu terlontar dari sorang dokter anastesi bernama Naufal Adhitama, setelah mereka selesai menjalankan operasi pasien kecelakaan.
Naufal adalah sahabat sekaligus rekan satu tim Albie.
Mereka sudah mengenal satu sama lain sejak di bangku SMA. Di tambah sekarang bekerja di rumah sakit yang sama, hubungan diantaranya semakin akrab.
Meski akrab, Albie dan Naufal memiliki prinsip berbeda. Jika Albie tidak suka bergonta-ganti pasangan, Naufal malah kebalikannya. Ia tidak pernah serius menganggap suatu hubungan dengan wanita.
"Aku serius, dan yakin sama keputusan ku." jawab Abie sambil memijit pelan pelipisnya.
"Tapi sebagai temen, aku sudah peringatkan kamu ya. Kalau sampai kamu menyesal jangan salahkan aku kalau nanti aku akan jadi orang pertama yang menertawakanmu."
"Sudahlah Naufal, tidak usah meragukan kemampuanku. Aku bertindak tidak hanya berdasarkan insting saja. Aku sudah yakin dengan apa yang aku punya, dan aku tahu kualitas diriku."
"Well, kalau begitu aku nggak bisa bilang apa-apa lagi. Seorang Albie Putra, tidak ada yang bisa merubah keputusannya. Oke, aku bantuin cari tempat yang bagus buat kamu melamar Alya. Gimana?"
"Itu lebih membantu, dari pada kamu harus bicara omong kosong seperti tadi."
"Tapi ini bukan berati aku setuju dengan pernikahan ya. Aku hanya melakukan tugas seorang sahabat, tidak lebih."
"Terserah kamu saja." Albie melambaikan tangan, sambil berjalan menjauh.
***
Denting piano mengalun lembut di restoran hotel mewah yang di siapkan oleh Naufal. Albie sudah duduk dengan setelan jas rapi menanti kedatangan Alya. Wajahnya sedikit tegang, karna ini adalah moment spesial yang menjadi cita-cita untuknya. Menikahi Alya–hidup bahagia membangun keluarga.
"Sayang, kamu sudah lama menunggu?"
Albie mendongak, di hadapannya kini sudah berdiri seorang wanita cantik berdandan tidak mencolok namun terkesan mahal– Alya.
"Tidak juga, tidak masalah jika terlambat sedikit saja."
Albie mencoba tersenyum, bagi seorang yang terbiasa bekerja dalam perhitungan waktu sebenarnya dia tidak terlalu suka menunggu.
Alya menghempaskan tubuhnya di kursi berhadapan dengan Albie. "Aku minta maaf, aku selalu telat setiap kita janjian makan malam."
"Nggak apa-apa, kamu juga pasti sibukkan?"
"Iya Mas, jadwal aku sekarang sedang padat-padatnya. Semoga Mas bisa ngertiin."
"Aku akan berusaha ngertiin kamu kok, kamu tenang saja."
"Syukurlah, Mas. Aku berterimakasih kamu ngertiin aku."
"Malam ini aku ingin memberitahumu sesuatu Alya, sesuatu yang tidak hanya butuh satu malam untuk menimbang. Aku sudah memikirkannya bahkan berhari-hari sebelum malam ini. Tapi keputusan ku sudah sangat bulat."
"Mas, kamu mau bilang apa? Kenapa kedengarannya serius sekali?"
"Alya, tiga tahun terakhir ini aku belajar banyak tentang cinta lewat kamu. Terima kasih karena selalu bertahan di sisiku, bahkan saat aku terlalu dingin, keras kepala, dan sering menuntut tanpa sadar." ujar Albie tenang.
"Aku tahu mencintaiku bukan hal yang mudah, tapi kamu tetap memberi dengan ketulusan yang tak pernah setengah-setengah. Sekarang, izinkan aku membalas semuanya." lanjutnya.
"Dengan waktu, dengan kesungguhan, dengan seluruh hidup yang aku miliki. Beri aku kesempatan menjadikan kamu alasanku untuk berhenti ragu, untuk melangkah tanpa batas, sebagai pria yang siap bertanggung jawab dan membahagiakanmu, hari ini dan selamanya." Albie menatap serius, Alya.
"Mas, jangan bilang kalau kamu mau melamar aku."
Albie tersenyum tipis, lalu merogoh saku jas. mengeluarkan kotak kecil berwarna merah. Ia membuka kotak kecil itu. Sebuah cincin berlian berkilau muncul di atasnya.
"Will you marry me, Alya"
Alya membeku, tidak menyangka jika Albie merencanakan ini untuknya. Bahkan ia bingung harus bereaksi apa.
Albie sendiri juga bingung dengan reaksi Alya, ada apa?. Bukankah jika di ukur dari segi hubungan yang sudah berjalan tiga tahun sudah sepantasnya Albie menyatakan keseriusan. Atau Alya belum siap menerima keseriusan. Oh...yang benar saja!
Usia Albie bukan saatnya lagi untuk menjalin hubungan hanya untuk permainan. Terlebih ini soal prinsip Albie yang tidak mau mempermainkan hubungan.
"Mas, ini...terlalu cepat. Aku baru saja menerima tawaran agensi untuk ke Itali. Ini karir ku Mas, aku nggak bisa sia-siakan kesempatan yang sudah aku tunggu-tunggu."
Tangan yang tadi penuh semangat menjulur memegang kotak cincin perlahan turun. Albie, merasakan kekecewaan yang teramat sangat.
Ia bahkan tak percaya dengan apa yang di dengarnya, terasa sangat tiba-tiba.
"Bahkan aku sudah berniat menghubungi rumah sakit milik adik Papa untuk merekrutmu di sana. Jadi kita tidak perlu berjauhan. Kita sama-sama di Itali. Karna Mas kan tahu aku nggak pernah bisa kalau kita berjauhan."
Albie menghela nafas dalam-dalam, "Alya, aku sudah berkorban menolak tawaran rumah sakit di Jepang demi tetap bersama kamu di sini. Tapi, sekarang kamu malah ingin ninggalin aku ke Itali."
"Mas, kita hanya perlu bersabar sampai kontrak aku habis. Cuma butuh satu tahun saja, setelah itu kita akan bahas lagi soal pernikahan kita."
Albie merasa keberadaannya tidak lebih penting dari apapun. Lalu ia harus bagaimana? Menunggu lagi? Bukankah ini keterlaluan?
"Alya, ini bukan soal aku bisa dengan mudah masuk di rumah sakit milik adik Papamu... Tapi ini soal pengabdianku. Dulu aku memilih untuk mengabdi di negri sendiri demi kamu, yang kamu bilang tidak pernah bisa menjalin hubungan jarak jauh. Tapi nyatanya kamu sendiri yang mempersulit hubungan ini."
"Mas, aku nggak mempersulit. Tapi kamu kan tahu kalau pekerjaan aku terikat oleh kontrak. Lagi pula ini juga cita-cita ku. Sudah sangat lama aku menantikan ini."
Albie tersenyum tipis –senyum yang di paksakan. Akhirnya dia tahu apa yang sebenarnya menjadi sumber permasalahan. Semua tentang ambisi seorang wanita yang tak ada tandingannya. Albie berfikir, jika ini soal ambisi maka lawan saja dengan ego setinggi mungkin.
"Aku nggak bisa ikut kamu ke Itali, kalau kamu mau pergi silahkan saja. Aku nggak akan menghalangi. Sudah cukup buat aku mengerti bahwa hubungan ini akan berakhir dengan jalan kita sendiri-sendiri."
"Mas, maksudku bukan begitu. Aku cuma minta kamu ngertiin aku sedikit saja. Aku ingin mengejar mimpiku, dan aku tidak bisa berjauhan denganmu. Aku sudah temukan solusinya, semua akan baik-baik saja Mas."
"Maaf, aku nggak bisa!"
Albie berdiri, kemudian berlalu begitu saja. Melupakan rencana yang sudah ia atur matang-matang. Kalau saja ia tahu bagaimana akhirnya, tentu dia tidak akan mau untuk memulainya–untuk apa?
*
*
*
~Jangan lupa like koment ya, biar aku semangat buat update cerita selanjutnya
~ Salam hangat dari Penulis🤍
*
*
Albie sudah tidak ambil pusing, tentang rencananya menikahi Alya yang ternyata kandas. Bukankah hidup harus terus berjalan?
Meskipun tidak dengan Alya, masa iya di dunia yang luas ini tidak satupun wanita yang menjadi jodohnya. Niat Albie baik, ingin hidup normal, ingin setia pada pasangan dengan status pernikahan. Mana mungkin niat setulus itu tidak di berikan jalan.
Otak Albie berfikir begitu, namun hatinya tetaplah lelah. Perjalanan tiga tahun menjalin hubungan bukan perkara mudah. Ada banyak harapan-harapan yang terbentuk seiring berjalannya waktu. Lalu apa iya akan semudah itu untuk melupakan?.
Langkah kaki Albie meninggalkan Alya di restoran membawanya menuju mobil di parkiran. Ia menyetir dengan penuh kepercayaan diri, bahwa dirinya sekarang bukan pria cengeng yang gampang menangis karna patah hati. Namun ternyata salah, hatinya tidak sekuat itu. Tetap saja rasanya menusuk ke relung paling dalam. 'Brengsek!'
Albie mencoba mencari ketenangan. Berdasarkan dari pengalaman Naufal, bilang dia merasa fresh jika pulang dari Bar. Setidaknya Albie punya referensi untuk menghilangkan penat.
Benar saja, Pria yang tak pernah sekalipun menyentuh Alkohol karna menurutnya itu hanya akan mempengaruhi kesehatan juga membuat orang memiliki penurunan dalam berfikir, kini sudah ada di dalam Bar dengan dua botol sekaligus di hadapan. Patah hati apa sebegitunya merubah seseorang?
Dalam keadaan kacau itu ia masih sanggup berfikir jika dirinya dalam pengaruh alkohol nanti setidaknya ada seseorang yang berpikiran sehat untuk membawanya pulang.
Albie menelpon Naufal untuk menyusul. Tapi, apa ini solusi yang tepat? Entahlah, yang jelas Albie berfikir untuk menghadirkan teman itu suatu pemikiran yang sudah cukup baik.
Sambil menunggu kedatangan Naufal, Albie tanpa sadar menuangkan sloki demi sloki Alkohol untuk ia teguk bersama kepahitan yang baru saja di alaminya. Rasanya aneh–juga pahit, tapi Albie tidak bisa berhenti. Ada sensasi berbeda saat cairan itu memasuki rongga dada lalu turun di lambung yang selama ini terjaga. Ia merasakan kehangatan. Pertama kali, di hidup seorang Albie bertindak tanpa pertimbangan.
Di tengah sensasi itu, yang menurutnya kesedihan hanya miliknya ia malah mendengar jerit tangis tertahan dari seorang gadis yang tak jauh dari tempat duduknya.
"Dia pikir ini kemauan ku hidup seperti ini? Aku juga mau hidup kaya raya, banyak harta, bisa beli apa saja. Bukan seperti ini, mau beli lipstik saja harus mikir besok bisa makan apa nggak."
Albie memperhatikan gadis itu, sesaat ia mengerti kepahitan yang di alaminya, 'Kasihan juga hidupnya, aku kira aku saja yang menyedihkan.'
Albie menuangkan lagi minuman itu ke sloki lalu meminumnya. Suara gadis itu kembali terdengar.
"Kalau saja ada pekerjaan yang cepat bikin aku kaya, aku pasti mau melakukannya. Tapi kerja apa ya?.
Apa aku jual ginjal aja?, atau jadi simpenan pejabat?, atau kurir narkoba?... Ah tidak, tidak boleh kerja kriminal. Tidak baik. Nanti di jemput pak polisi."
Albie menoleh lagi, ia justru merasa prihatin pada apa yang di alami gadis itu. Hidup memang semaunya mempermainkan tanpa ada rasa kasihan.Hidup juga sering kali tak memberi timbal balik yang setara. Kita sudah menekan ego, menyingkirkan keinginan sendiri, bahkan rela kehilangan demi orang lain. Namun hasilnya tetap saja kosong. Jika akhirnya kita tak mendapatkan apa pun, untuk apa semua pengorbanan itu?
"Ah ...aku tahu!"
"Nikah sama duda kaya raya saja, jenius sekali Qistina.
Tapi, nyari duda kaya raya di mana ya?"
Kalimat dari gadis yang menyebut dirinya Qistina itu, membuat seorang Albie tertarik untuk memberinya jawaban. Dia merasa bertemu dengan orang yang memiliki tujuan yang sama. Yaitu sama-sama ingin menikah.
Tanpa basa-basi, Albie mendatangi di mana gadis itu duduk tertunduk.
“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,juga bisa membahagiakanmu, aku kaya raya dan bukan duda. Kamu mau nggak?"
Gadis itu mendongak, menatap dengan tanda tanya.
"Memangnya kamu siapa? Kamu pakai jam tangan sama seperti Calvin, beneran kaya ya kamu?"
"Nikah dulu, nanti aku akan kasih tahu aku siapa."
"Jadi kamu mau nikahin aku? Ya udah ayo nikah, kalau kamu kaya aku pasti mau."
"Aku ini kaya dan tampan. Aku juga seorang Dokter, kalau ada yang buat kamu sedih, aku akan memutus urat sarafnya seperti ini..." Albie mengangkat jari telunjuknya, lalu menempelkan di dahi gadis itu. Ia menggerakkan telunjuk itu turun dari dahi ke hidung lalu ke bibir dan berhenti di situ. Lalu keduanya tertawa.
Gadis tadi adalah Qistina, yang juga sedang dalam keadaan mabuk. Hatinya juga patah, bahkan menyakiti harga dirinya dengan amat sangat.
Qistina mengambil jari telunjuk Albie yang tadi menempel di bibirnya dengan kedua tangan. "Aku pinjam, boleh? Aku mau putus urat leher Calvin. Karna dia sudah ngomong sembarangan. Eh... Tidak jadi ah, nanti aku di jemput Pak polisi kan aku anak baik, nggak boleh jahat. Ya kan?"
Naufal yang baru saja datang menyaksikan itu semua. "Albie, kenapa anak ini?"
Albie melihat ke arah Naufal, lalu tersenyum lebar.
Tapi lagi-lagi ia bertanya pada Qistina. "Gimana? Jadi kita Nikah? Kamu mau kan, sama cowok kaya seperti aku?"
Belum sempat Qistina menjawab, tapi Albie sudah menjatuhkan kepalanya di meja.
"Brugh!"
Dia pingsan di susul dengan Qistina yang terkulai di sofa.
Naufal Adhitama, Sorang dokter anastesi. Hampir di setiap operasi yang di lakukan Albie selalu ada dia yang mendampingi. Ia tahu betul siapa Albie sebenarnya. Kepribadian Albie yang menurut Naufal terlalu kuno untuk ukuran zaman sekarang.
Berbeda dengan Albie yang berprinsip menikah itu suatu keharusan, bagi Naufal hidup bersama dengan wanita tidak butuh ikatan. Cukup dengan atas asas suka sama suka. Tidak perlu perjanjian dengan Tuhan atau di depan orang tua.
Tapi melihat kejadian barusan, Naufal merasa pasti ada yang tidak beres di antara keduanya. 'Bukannya Albie ingin melamar Alya?'
"Cewek ini, cantik sih. Apa seorang Albie sudah ingin menggeser jalurnya?"
"Apa dia sedang bosan berada di lintasan yang lurus-lurus saja?"
"Hahaha...Albie, sudah saatnya kamu mencoba sedikit kenikmatan dunia. Sepertinya hari ini adalah hari yang paling bersejarah untuk seorang anak baik-baik sepertimu ya."
"Sekali-sekali, jadilah cowok brengsek yang berkarisma. Biar hidupmu tidak terlalu membosankan."
"Hanya perlu sedikit kegilaan untuk menikmati masa muda."
Senyum knowing terukir di sudut bibirnya.
"Baiklah Albie Putra Dewangga, Aku akan membantumu untuk keluar dari jalur yang lurus-lurus saja itu. Biar ada sedikit warna di hidupmu. Aku yakin suatu saat kamu akan berterimakasih atas hal ini padaku."
*
*
*
~Apa yang akan di lakukan Naufal?
~ simak terus ceritanya, jangan lupa like,koment dan Subscribe ya!
~Salam hangat dari Penulis🤍
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!