Indonesia
NovelToon NovelToon

TAK ADA JALAN KEMBALI

01. Mimpi yang Terbeli

.

Matahari pagi menerobos celah tirai, menyinari wajah Riko Permana yang terlelap. Jam dinding di kamarnya berdetak pelan, menandakan waktu yang semakin mendekati saat yang paling dinanti-nantikan. Riko menggeliat, menarik selimut lebih erat, enggan meninggalkan kehangatan ranjangnya. Namun, bayangan seragam polisi yang rapi tergantung di balik pintu, seolah memanggilnya untuk segera bangkit.

Hari ini adalah hari pengumuman akhir seleksi Akademi Kepolisian. Hari yang akan menentukan sejak kecil, mimpi yang telah ia pupuk dengan kerja keras dan dedikasi, akan menjadi kenyataan. Riko bangkit dengan semangat membara, melupakan kantuk yang masih tersisa.

Rumah kontrakan sederhana yang ia tinggali bersama ibunya terasa sepi. Ibunya, seorang pedagang sayur di pasar, pasti sudah berangkat sejak subuh. Riko tersenyum, membayangkan wajah bangga ibunya jika ia lolos seleksi. Ia berjanji dalam hati, jika ia berhasil menjadi polisi, ia akan membelikan ibunya mesin jahit baru dan rumah yang lebih layak. Karena Riko tahu ibunya pintar menjahit, jadi ibunya bisa menerima jahitan di rumah. Agar tak perlu berangkat ke pasar di pagi buta dan pulang dikala terik matahari.

Riko bergegas mandi dan mengenakan pakaian terbaiknya. Meskipun hanya kemeja flanel sederhana dan celana jeans, ia berusaha tampak rapi dan percaya diri. Di depan cermin, ia menatap wajahnya yang penuh harapan. "Hari ini adalah hari kita, Riko," bisiknya pada diri sendiri.

Dengan sepeda motor bututnya, Riko membelah jalanan kota yang mulai ramai. Ia menuju ke kompleks Akademi Kepolisian, tempat di mana mimpi-mimpinya diuji dan ditempa. Jantungnya berdebar semakin kencang seiring semakin dekatnya ia dengan gerbang akademi.

Suasana di kompleks akademi sudah sangat ramai. Para peserta seleksi, lengkap dengan keluarga dan kerabat, berkumpul dengan wajah tegang dan cemas. Riko mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, dan bergabung dengan kerumunan.

Pengumuman akan dilakukan di lapangan utama. Riko berdiri di barisan depan, matanya tertuju pada panggung yang telah disiapkan. Di atas panggung, para perwira tinggi akademi tampak gagah dan berwibawa.

Acara dimulai dengan sambutan dari kepala akademi. Kemudian, satu per satu nama peserta yang lolos seleksi dibacakan. Riko mendengarkan dengan saksama, jantungnya semakin berdebar setiap kali nama yang dibacakan bukan namanya.

Waktu terasa berjalan sangat lambat. Beberapa peserta terlihat bersorak gembira saat namanya dipanggil, sementara yang lain tampak lesu dan kecewa. Riko mencoba untuk tetap optimis, meskipun ia mulai merasa khawatir.

Akhirnya, tinggal beberapa nama lagi yang belum dibacakan. Riko memejamkan mata, berdoa dalam hati. "Ya Tuhan, jika memang ini yang terbaik untukku, kabulkanlah doaku," bisiknya.

Saat matanya terbuka, ia melihat seorang perwira mendekati mikrofon. Perwira itu tersenyum dan berkata, "Dan untuk nama terakhir yang lolos seleksi Akademi Kepolisian tahun ini adalah..."

Riko menahan napas, seluruh tubuhnya menegang.

"...Riko Permana!"

Riko terdiam sejenak, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Kemudian, ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa membanjiri seluruh tubuhnya. Ia berhasil! Ia lolos seleksi Akademi Kepolisian!

Riko melompat kegirangan, memeluk orang-orang di sekitarnya. Air mata haru mengalir di pipinya. Mimpinya telah menjadi kenyataan. Ia akan menjadi seorang polisi!

Di tengah euforia kebahagiaan, Riko melihat seorang wanita cantik berlari ke arahnya. Laras, kekasihnya, tampak sangat senang dan bangga. Laras memeluk Riko erat-erat, mencium pipinya berkali-kali.

"Aku bangga padamu, Riko! Aku tahu kamu pasti bisa!" seru Laras dengan mata berbinar.

Riko membalas pelukan Laras, merasakan kebahagiaan yang sempurna. Ia mencintai Laras lebih dari apapun di dunia ini. Ia yakin, Laras akan selalu mendukungnya dalam meraih mimpi-mimpinya.

Namun, kebahagiaan Riko tidak berlangsung lama. Saat mereka sedang berpelukan, Laras berbisik di telinganya, "Riko, ada yang ingin aku bicarakan padamu."

Riko melepaskan pelukannya dan menatap wajah Laras dengan bingung. "Ada apa, Sayang?" tanyanya.

Laras tampak ragu dan cemas. Ia menarik Riko menjauh dari orang-orang, seolah tak ingin ada yang mendengar apa yang ingin ia katakan pada Riko. Setelah mereka berada di tempat yang cukup sepi, Laras menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, "Ini tentang kakakku, Bagas."

Jantung Riko berdebar kencang. Ia merasa seperti akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Bagas tidak lolos seleksi," ucap Laras dengan suara lirih.

Riko terdiam. Ia tahu bahwa Bagas juga sangat ingin menjadi polisi. Berulang kali Laras menceritakan mimpi kakaknya itu padanya.

"Aku tahu ini sulit untukmu, Riko," lanjut Laras, "Tapi aku mohon padamu, mengalahlah untuk Mas Bagas."

Riko terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Mengalah? Apa maksudmu, Laras?" tanyanya dengan nada tinggi.

"Aku tahu kamu sangat mencintai mimpimu, Riko," jawab Laras, "Tapi Bagas lebih membutuhkan ini. Ia adalah satu-satunya harapan keluarga kami."

"Tapi ini juga mimpiku, Laras! Aku sudah berjuang sangat keras untuk ini!" Riko menggelengkan kepala berkali-kali. Dadanya terasa sesak mendengar permintaan kekasihnya.

"Aku tahu, Riko," jawab Laras, air mata mulai mengalir di pipinya, "Tapi aku mohon padamu, lakukan ini untukku. Bukankah kamu mencintaiku?"

Riko terdiam. Ia mencintai Laras lebih dari apapun. Ia rela melakukan apapun untuk membuatnya bahagia.

"Selama ini aku tak pernah meminta apapun padamu, Riko. Ini pertama kalinya aku memohon. Bagaimana bisa kamu tega menolak permintaanku?" Laras terus saja menggenggam tangan Riko. Suaranya yang perlahan serak membuat dada Riko semakin sakit.

Riko berada dalam dilema. Pilihan yang sama beratnya. Mengorbankan mimpinya sendiri demi Laras, atau tetap mengejar mimpi dan membuat Laras kecewa?

Pertanyaan itu menggantung di benaknya. Kebahagiaan yang tadinya memenuhi hatinya kini berubah menjadi gundah gulana. Mimpinya, seragam polisi yang tadi tampak begitu dekat, kini terasa begitu jauh.

*

*

*

Hai, gaessss. Jumpa lagi dengan karya terbaru dari Mama Mia.

Tapi mohon maaf, ya, jika cerita ini mungkin tidak sesuai dengan kehidupan nyata. Soalnya Mak Othor gak paham dunia akademi kepolisian.

Jadi, anggap aja udah bener.

Gitu deh. Ya, ya ,ya...😁😁😁

02. Cinta Buta

.

"Lakukan ini untukku, Riko. Aku mohon." Laras menatap Riko dengan air mata berlinang. Wajahnya yang cantik tampak memelas. "Setelah ini aku berjanji tak akan minta apapun lagi padamu."

Riko semakin bimbang. Jantungnya berdebar tak karuan, antara cinta dan mimpi, mana yang harus ia pilih?

"Tapi, Laras, kamu tahu sendiri betapa aku ingin menjadi polisi. Ini bukan sekadar cita-cita, ini sudah jadi bagian dari diriku, bagian dari jiwaku. Cita-citaku sekaligus cita-cita mendiang ayahku. Harapan besar ibuku," jawab Riko dengan suara bergetar, nyaris tak terdengar. Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya, seolah ia menelan serpihan kaca.

"Aku tahu, Sayang. Aku tahu," Laras meraih tangan Riko, menggenggamnya erat, seolah takut Riko akan menghilang.

"Tapi aku kasihan sama Mas Bagas," lanjutnya. "Dia sudah gagal berkali-kali. Ini mungkin kesempatan terakhirnya. Jika dia tidak lolos sekarang, dia akan kehilangan segalanya. Apa kamu tega membiarkan itu terjadi? Sedangkan kamu, ini adalah untuk pertama kalinya kamu ikut tes. Kamu masih bisa memiliki kesempatan lain kali untuk ikut tes berikutnya."

Riko terdiam. Ia memang pernah mendengar dari cerita Laras, kedua orang tuanya menginginkan Bagas menjadi seorang perwira polisi, namun selalu gagal dalam setiap tes seleksi. Dan itu berakibat Bagas selalu dimarahi oleh kedua orang tuanya.

"Aku tidak mengerti, Laras. Kenapa harus aku yang mengalah? Kenapa Bagas tidak mencari pekerjaan lain yang lebih cocok untuknya? Mungkin saja kakakmu memang tidak cocok untuk terjun ke Akademi kepolisian?" tanya Riko dengan nada frustrasi, suaranya meninggi tanpa sadar. Beberapa orang di sekitar mereka menoleh, tetapi Riko tidak peduli. Ia terlalu emosi untuk memperhatikan sekelilingnya.

Laras menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, Riko. Papa dan mamaku akan semakin murka jika sampai Mas Bagas tidak lolos. Dan kamu tahu sendiri bagaimana papaku jika sedang marah..."

Riko meraup wajahnya dengan dua tangan. Ia tahu bahwa ayah Laras adalah seorang pejabat tinggi yang berpengaruh. Mungkin kegagalan anaknya akan dianggap sebagai aib. Tapi, apa ia harus dia yang mengalah?

"Aku juga punya mimpi. Aku juga ingin membahagiakan orang tuaku. Kenapa kamu hanya berpikir tentang kakakmu tapi tidak berpikir tentang aku?"

"Bukan begitu, Riko," jawab Laras dengan suara lirih, hampir berbisik. "Aku hanya ingin membantu Mas Bagas. Aku tidak ingin melihatnya mendapatkan hukuman yang berat dari papaku.”

"Lalu bagaimana denganku, Laras? Apakah kamu tidak peduli dengan perasaanku? Apakah kamu tidak peduli dengan mimpiku? Apakah aku tidak penting bagimu?" tanya Riko dengan nada marah dan sedih bercampur jadi satu. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Laras kembali menangis. "Tentu saja aku peduli padamu, Riko! Kamu adalah orang yang paling aku cintai di dunia ini! Bukankah sebentar lagi kita akan menikah? Anggap saja itu sebagai mahar yang aku minta darimu," ucap Laras penuh dengan permohonan. Gadis itu bahkan menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menatap Riko dengan mata berkaca-kaca.

Riko menghela napas panjang. Ia merasa terjebak dalam situasi yang sangat sulit. Ia mencintai Laras, ia ingin membahagiakannya, tetapi ia juga tidak bisa mengkhianati mimpinya sendiri.

"Aku butuh waktu untuk berpikir, Laras," ucap Riko akhirnya, suaranya pelan dan lesu. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan, tetapi ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikirannya.

Laras mengangguk, air mata terus mengalir di pipinya. "Baiklah, Riko. Aku akan memberikanmu waktu. Aku akan menunggumu. Tapi aku mohon, pikirkan baik-baik. Pikirkan tentang hidup kita berdua. Jika kamu menjadi seorang polisi, mungkin kamu akan ditempatkan di tempat yang jauh dan kita tidak akan bisa bersama lagi. Sedangkan aku sangat mencintaimu, Aku tidak ingin kita berjauhan."

Laras memeluk Riko sekali lagi, erat dan lama, seolah ia ingin menyerap seluruh kebahagiaan Riko sebelum melepaskannya. “Aku pergi dulu ya? Aku harus menghibur Mas Bagas sebelum ia berhadapan dengan papaku," ucapnya kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Riko seorang diri.

Riko berdiri terpaku di tempatnya, menatap kepergian Laras dengan hati yang hancur. Apakah dirinya egois jika ingin mempertahankan cita-citanya?

Riko berjalan gontai menuju taman di dekat akademi. Ia duduk di bangku taman di bawah pohon rindang dan menatap langit. Panas terik menyengat, namun ia merasa dunia gelap. Ia merasa sangat kesepian dan tak berdaya. Seolah seluruh dunia telah berkonspirasi untuk menghancurkan mimpinya.

Ia mengingat kembali masa kecilnya, tentang mendiang ayahnya yang juga seorang polisi. Dan itulah yang memicu semangat nya. Ia ingin menjadi seperti ayahnya. Karena itu ia selalu berlatih keras dan belajar dengan giat untuk mencapai mimpinya.

Namun, sekarang, mimpinya itu terancam hancur karena permintaan Laras. Ia merasa sangat frustasi. Jalan mana yang harus ia pili? Mempertahankan mimpinya ataukah mempertahankan Laras? Wanita yang sangat dicintainya.

Tiba-tiba, Riko teringat pada ibunya yang selalu tersenyum dan memberikan kata-kata penuh semangat, serta doa-doa yang tak henti ibunya panjatkan. Ibunya selalu menjadi sumber kekuatan dan inspirasinya. Ibunya selalu mendukungnya dalam meraih mimpi-mimpinya.

Riko memutuskan untuk menelepon ibunya. Ia ingin meminta saran dan pendapat dari orang yang paling ia percayai di dunia ini. Ia ingin mendengar suara ibunya, yang selalu bisa menenangkannya.

Ia meraih ponselnya dan mencari nomor ibunya. Setelah beberapa dering, ibunya mengangkat telepon.

"Halo, Ibu," sapa Riko dengan suara lirih, berusaha menahan air matanya.

"Riko, anakku! Bagaimana pengumumannya? Kamu lolos, kan?" tanya ibunya dengan nada antusias, suaranya penuh dengan harapan.

“Ibu sudah menunggu kabar baik darimu sejak tadi pagi. Maaf ya Ibu tadi tidak bisa mengantarmu, dan menunggumu menanti pengumuman. Itu karena Ibu harus mengantarkan pesanan pada juragan di pasar."

Riko terdiam sejenak, tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan ibunya. Ia tidak ingin mengecewakan ibunya. Ia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan ibunya. Tapi…

"Maafkan Riko, Bu. Riko belum lolos," jawab Riko akhirnya, berbohong.

"Tidak apa-apa nak. Tidak apa-apa. Kamu masih mempunyai kesempatan untuk mencoba lain kali,” hibur ibunya.

Riko merasakan air mata kembali mengalir di pipinya. Ia merasa sangat bersalah karena telah berbohong pada ibunya.

"Ada apa, Riko? Kenapa kamu diam saja? Kenapa suara kamu terdengar sedih?" tanya ibunya dengan nada khawatir, merasakan ada sesuatu yang tidak beres. "Jangan khawatir, Nak. Ibu tidak kecewa padamu. Kamu sudah melangkah sampai sejauh ini dan Ibu sangat bangga.”

"Maafkan aku, Ibu."

03: Keputusan Pahit.

.

Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kamar Riko , namun kali ini sinarnya tak mampu membangkitkan semangatnya. Semalam suntuk ia bergulat dengan pikiran, antara mimpi dan pengorbanan, antara Laras dan dirinya sendiri. Kepalanya terasa berat, matanya perih karena kurang tidur.

Hari ini, hari penentuan itu tiba. Hari di mana ia harus mengambil keputusan yang akan mengubah jalan hidupnya. Hari di mana ia harus memilih antara menjadi seorang polisi, atau mengalah demi cinta Laras.

Riko keluar dari kamar. Ibunya sudah tidak berada di rumah. Pasti ibunya sudah pergi ke pasar. Ada nasi goreng dengan telur mata sapi di meja makan. Riko memakannya dengan tanpa gairah. Nasi goreng tak ubahnya pasir yang menyangkut di tenggorokan.

Ia telah membuat ibunya kecewa. Walaupun ibunya tak berkata sepatah katapun, namun, justru itu yang membuatnya sakit. Senyum ibunya, ketulusan wanita tua itu telah ia balas dengan pengkhianatan.

Dengan langkah gontai, Riko bersiap-siap untuk mengikuti tes praktik terakhir di Akademi Kepolisian. Ia mengenakan seragam yang seharusnya membuatnya bangga, namun kali ini terasa hambar dan kosong. Setiap jahitan seragam itu seolah mengingatkannya pada mimpi yang mungkin akan segera ia tinggalkan.

Sesampainya di sana, ia melihat Laras sudah menunggunya di depan gerbang. Laras tampak cemas dan khawatir. Matanya sembab karena menangis.

"Riko bagaimana? Apa kamu sudah memutuskan?" tanya Laras dengan nada penuh harap, menggenggam erat tangannya.

Riko menatap Laras dengan tatapan yang lembut namun tegas. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Aku sudah memutuskan, Laras."

Laras menahan napas, menunggu jawaban Riko dengan jantung berdebar.

“Aku akan melakukan ini untukmu." Riko mencoba tersenyum.

"Terima kasih, Sayang. Aku jadi makin cinta sama kamu!” Serta Merta Laras memeluk Riko.

Riko membalas pelukan Laras sambil tersenyum. Ia yakin, bersama Laras, hidupnya akan bahagia karena mereka saling mencintai.

.

Di tempat latihan, para peserta seleksi sudah berkumpul. Suasana tegang dan penuh persaingan terasa begitu kuat. Riko mencoba mengabaikannya, namun pikirannya terus berkecamuk. Seakan ada batangan Laras berdiri di kejauhan, menatapnya dengan tatapan penuh harap. Hatinya mencelos.

Tes praktik dimulai. Para peserta diuji dalam berbagai kemampuan, mulai dari menembak, bela diri, hingga simulasi penangkapan penjahat. Riko , yang selama ini selalu unggul dalam setiap tes, kali ini merasa sangat kesulitan. Pikirannya tidak fokus, gerakannya kaku, dan semangatnya hilang entah ke mana.

Saat tiba gilirannya untuk melakukan simulasi menembak, Riko menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan diri, namun pikirannya terus membayangkan wajah Laras dan permohonannya. Ia memegang pistol dengan tangan gemetar.

"Fokus, Riko ! Fokus!" bisiknya pada diri sendiri.

Ia membidik target dengan ragu-ragu. Dalam kondisi normal, ia akan dengan mudah mengenai sasaran. Namun kali ini, ia sengaja mengarahkan pistolnya sedikit melenceng.

Dor!

Suara tembakan memecah keheningan.

Riko menatap target dengan tatapan kosong. Ia tahu, tembakannya meleset. Ia sengaja melakukannya. Ia ingin mengabulkan keinginan Laras meskipun dadanya terasa sakit.

"Berikutnya!" suara instruktur membuyarkan lamunan Riko Ia dengan lesu melangkah mundur, menyerahkan gilirannya pada peserta lain.

Tes praktik terus berlanjut. Riko dengan sengaja melakukan kesalahan demi kesalahan. Ia gagal dalam simulasi bela diri, ia melakukan kesalahan dalam simulasi penangkapan penjahat. Ia sengaja membuat nilainya menjadi buruk.

Di akhir tes praktik, Riko merasa sangat lelah dan hancur. Ia telah mengorbankan mimpinya, mengalah demi cinta.

Saat ia berjalan menuju ruang ganti, seseorang memanggil namanya. Riko menoleh dan melihat Profesor Rahmat, dosen yang paling ia hormati, berjalan menghampirinya.

"Riko , bisa bicara sebentar?" tanya Profesor Rahmat dengan nada serius.

Riko mengangguk dan mengikuti Profesor Rahmat menuju tempat yang lebih sepi.

"Saya melihat apa yang kamu lakukan tadi," ucap Profesor Rahmat dengan tatapan kecewa. "Kamu sengaja melakukan kesalahan, kan?"

Riko terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Profesor Rahmat. Ia merasa malu dan bersalah.

"Kenapa, Riko? Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Profesor Rahmat dengan nada yang lebih lembut. "Kamu adalah salah satu peserta terbaik di akademi ini. Kamu memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi seorang polisi yang hebat. Kenapa kamu menyia-nyiakannya?"

Riko menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap wajah Profesor Rahmat.

"Maafkan saya, Pak," ucap Riko dengan suara lirih. "Saya punya alasan pribadi."

"Alasan pribadi apa? Apakah alasan itu lebih penting daripada mimpimu? Apakah alasan itu lebih penting daripada pengabdianmu kepada negara?" tanya Profesor Rahmat. Tidak membentak, tapi suaranya yang berat seakan memukul keras jantung Riko.

Riko terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Profesor Rahmat. Profesor Rahmat benar. Ia telah mengkhianati mimpinya dan mengecewakan orang-orang yang percaya padanya.

"Saya sangat kecewa padamu, Riko ," ucap Profesor Rahmat dengan nada yang sangat kecewa. "Saya pikir kamu adalah orang yang kuat dan berani. Tapi ternyata, kamu hanya seorang pengecut yang mudah menyerah pada keadaan."

Kata-kata Profesor Rahmat menohok hati Riko. Ia merasa sangat terpukul dan terluka. Ia benar-benar telah mengecewakan orang yang paling ia hormati.

"Saya tahu, Pak. Saya memang pengecut," ucap Riko dengan suara bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tapi saya tidak punya pilihan lain. Saya harus melakukan ini."

Profesor Rahmat menghela napas panjang. Ia menatap Riko dengan tatapan yang sulit diartikan. "Suatu hari nanti, kamu akan menyesali keputusanmu ini."

"Saya tahu, Pak," jawab Riko "Tapi saya harus melakukannya."

"Apakah kamu benar-benar mencintai wanita itu?" tanya Profesor Rahmat tiba-tiba.

Riko mengangkat wajahnya. Apakah profesor tahu bahwa dia mundur demi Laras? Riko menelan ludahnya dengan susah payah. "Ya, Pak. Saya sangat mencintainya," jawab Riko akhirnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Profesor Rahmat mengangguk-angguk kecil. "Ternyata, cinta benar-benar bisa membuat orang menjadi buta dan bodoh," ucap Profesor Rahmat dengan nada sinis. "Seharusnya kamu sadar, cinta sejati tidak akan meminta kamu untuk mengorbankan dirimu sendiri. Cinta sejati akan mendukungmu untuk meraih mimpi-mimpimu."

Riko terdiam. Kata-kata Profesor Rahmat kembali menghantuinya. Apakah Laras benar-benar mencintainya? Atau hanya memanfaatkannya?

"Pikirkan baik-baik, Riko ," ucap Profesor Rahmat. "Apakah wanita itu sepadan dengan semua pengorbananmu? Apakah dia akan tetap mencintaimu jika kamu menjadi seorang pecundang?”

Profesor Rahmat menepuk pundak Riko dengan lembut. "Saya harap kamu tidak menyesali keputusanmu ini. Saya harap kamu bisa menemukan kebahagiaan yang sejati. Tapi ingatlah, Riko , pintu akademi ini selalu terbuka untukmu. Jika kamu berubah pikiran, datanglah kembali. Kami akan selalu menerima kamu dengan tangan terbuka." Profesor Rahmat berbalik dan berjalan meninggalkan Riko.

Riko berdiri terpaku di tempatnya, menatap kepergian Profesor Rahmat dengan perasaan sedih dan kehilangan. Ia telah kehilangan segalanya.

Ia berjalan menuju gerbang akademi dengan langkah lesu. Di sana, Laras sudah menunggunya dengan wajah yang penuh harap.

"Bagaimana, Riko?" tanya Laras dengan nada yang antusias.

"Seperti janjiku. Aku gagal!”

"Maafkan aku,” ucap Laras memberikan pelukan. "Tapi aku janji kita akan segera menikah. Apa kamu tidak bahagia menikah denganku?”

Riko mengusap wajah Laras yang mulai basah. “Tentu saja aku bahagia." Riko tersenyum, meyakinkan diri sekali lagi. Keputusannya sudah benar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!