Indonesia
NovelToon NovelToon

Hantu Air

Bab 1.Tanjung sembilan

"Maya sudah ketemu apa belum ini?" tanya Bu Wagio.

"Belum, ini masih terus di cari dan kalau tidak ketemu hari ini maka pencarian akan di hentikan." jawab Pak Solikin.

"Ya Allah lah piye belum ketemu kok sudah mau di hentikan!" Bu Wagio jadi panik dan takut juga.

"Apa yang membawa para anak anak ini masuk dalam air, padahal mereka sedang tidak berenang." heran para warga.

"Ini memang aneh karena mereka semua sebelum nya terlihat biasa dan main jauh dari air, tapi mendadak saja malah hilang." sahut yang lain juga.

"Aku rasa ada buaya yang sedang muncul dan dia kelaparan." jawab Solikin pula.

"Masa iya sih? padahal sungai kita tidak ada buaya kok selama ini." Amir terlihat ragu karena dia juga penduduk lama di desa ini.

"Kemaren Bu Ria di temukan dalam keadaan utuh, tubuh dia sama sekali tidak ada gigitan sehingga tidak mungkin kalau di makan buaya." Bu Wagio menyangkal ucapan Solikin.

Terdiam mereka semua karena Maya bukan korban pertama sungai ini, sungai yang sejak dahulu sudah ada dan selama ini juga banyak orang yang berenang di sana, bukan hanya anak anak tapi juga para orang tua karena memang kalau air kering maka mereka mandi di sungai saja bersama dengan teman juga.

Selama itu juga mereka tidak pernah melihat ada sosok buaya di sungai ini, namun sekarang warga jadi resah karena sungai itu mulai meminta nyawa manusia. yang tenggelam bukan hanya satu atau dua saja, tapi sudah lima orang dan mereka sudah di temukan di Tanjung sembilan yang sangat angker karena banyak pohon berakar panjang.

Bisa di katakan selama lima mayat itu hilang maka mereka ketemu nya di sana semua, baik dalam keadaan seperti tersangkut atau bahkan seperti kena jerat dengan akar halus yang seperti rambut itu dan yang jelas memang ada di sekitar Tanjung sembilan sehingga mereka mulai merasa ngeri.

Mungkin bila hanya satu atau dua yang di temukan di Tanjung itu maka mereka masih bisa berpikiran biasa saja, tapi ini sudah semua sehingga sudah pasti mereka sekarang mulai kepikiran bahwa Tanjung sembilan menyimpan sebuah misteri yang tidak bisa mereka ketahui dengan mudah sehingga para manusia yang tenggelam maka mereka semua ditemukan di Tanjung tersebut.

"Apa ada hantu air ya?" bisik Bu Ita kepada Kopsah.

"Ah sampean ini selalu saja soal hantu, tidak mungkin lah." Kopsah langsung menyangkal.

"Lah terus apa menurut mu kalau begitu? mereka utuh seolah tidak ada gigitan di tubuh sehingga sudah pasti bukan karena di terkam buaya." Bu Ita rasa curiga tentang sesuatu.

"Bu, jangan bergaul terus dengan Purnama sehingga pikiranmu hanya tentang hantu saja." bisik Kopsah.

"Bisa saja kok, kemarin tentang danau selendang merah itu dan tidak ada yang percaya tapi kemudian terbukti bahwa memang ada sesuatu tentang danau tersebut." jelas Bu Ita.

"Ya aku bukan tidak percaya dengan Purnama, tapi tidak semua hal harus bersangkutan dengan hantu." Kopsah tetap keras kepala.

Bu Ita membuang wajah dengan sangat kesal karena tidak percaya bahwa yang dia katakan mungkin saja benar, sebab bisa saja itu terjadi karena sudah ada lima korban yang mengalami nasib sama dan mereka juga di temukan di tempat yang sama.

Tapi kalau memang belum ada bukti maka terasa begitu susah untuk menjelaskan kepada mereka semua, malah nanti yang ada mereka akan mengatakan bahwa Bu Ita terlalu larut dalam hal yang berbau dengan setan sehingga dia selalu memikirkan saja soal hantu yang ada di desa ini.

"Maya sempat bilang sama aku kalau dia agak takut mau mandi belakangan ini, sebab dia merasa ada yang aneh dengan jamban di depan rumah." Sinta membuka suara karena dia memang teman Maya.

"Aneh bagaimana, Sin?" Bu Ita langsung cepat bertanya.

"Aku juga tidak tahu pasti itu aneh bagaimana tapi yang jelas Maya hanya mengatakan bahwa di dalam air seperti ada yang bergerak." jelas Sinta.

"Kan memang ini kematian aneh karena sudah ada lima korban dan mereka semua di temukan pada Tanjung sembilan." kekeh Bh Ita.

"Sudah lah, tidak usah berdebat tentang hal itu dulu karena yang penting sekarang adalah menemukan jasad Maya." Pak RT menghentikan perdebatan di antara mereka.

"Tidak semua tentang setan!" Kopsah melirik sinis.

"Bocah sialan ini, awas saja nanti bila terbukti benar bahwa ada sesuatu yang menarik para korban itu." Bu Ita kesal bukan main.

"Sudah lah, Bu! mungkin kali ini Kopsah benar." Kinan juga setuju dengan Kopsah.

Bu Ita menarik nafas berat karena sekarang tidak ada yang percaya dengan ucapan dia dan menganggap ini semua hanya kecelakaan biasa, tapi Bu Ita juga tidak berani terlalu bersikeras karena dia juga belum yakin dan tidak mengetahui secara pasti tentang Tanjung sembilan itu sehingga dia tidak bisa untuk tetap kekeh.

Bila nanti ternyata sampai salah maka yang ada akan timbul rasa malu besar di dalam hati wanita ini, jadi biarlah semua berjalan seiring waktu dan bila nanti terbukti benar maka Bu Ita akan membuka suara lagi karena sejak awal dia sudah merasa bahwa ada yang tidak beres tentang para mayat itu.

"Ya Allah semoga Maya cepat di temukan." harap Ria dengan hati pilu karena dia sangat kehilangan sang adik.

"Kalian tidak ada masalah kan sebelum nya?" Bu Wagio datang mendekat.

"Mau masalah apa dengan dia, Bu? yang ada kami terus berpikir bareng." jawab Ria.

"Yang sabar dulu ya, semoga Maya cepat ketemu." Sinta juga merasa sedih.

"Kalau dia tidak juga di temukan bagaimana?sedangkan Timsar sudah harus berhenti hari ini." Ria rasa ingin menangis.

Sinta menarik nafas berat karena dia tahu apa yang tengah di rasakan oleh Ria, soal pasrah Maya yang meninggal dunia maka sudah pasti karena sudah tiga hari ini Maya tak kunjung di temukan karena tenggelam di sungai tempat mereka tinggal, yang di harapkan tentu saja hanya jenazah saja.

"Bagaimana dengan tanjung sembilan, apa sudah di cari di sana?" tanya Pak RT yang terus bergerak.

"Sejak kemarin air di sana belum surut, Pak RT." jawab Solikin.

"Aduh, apa tidak bisa pakai penyelam saja ya?" Pak RT juga panik.

Sebab mereka sudah menemukan mayat beberapa kali di sana sehingga kali ini merasa mungkin saja mayat Maya ada di sana, mana mereka juga sudah berusaha keras namun belum berhasil menemukan keberadaan mayat Maya sehingga perasaan Ria sudah hancur tidak karuan.

Hallo ketemu lagi sama Mak NJ di karya baru ini, semoga kalian tidak bosan ya untuk mendukung othor terus, terima kasih pokok nya untuk pembaca othor yang setia.

Bab 2. mencari mayat

Setelah melalui perundingan yang di rancang cukup matang maka mereka memilih untuk memakai para penyelam saja mendatangi Tanjung sembilan, sebab ini juga hari terakhir para tim SAR mencari keberadaan Maya dan bila tidak ketemu hari ini maka tidak akan pernah dicari lagi dan kemungkinan besar jenazah Maya akan habis di makan oleh para ikan.

Orang tua Maya bisa dikatakan adalah orang yang berpunya sehingga mereka tidak keberatan untuk membayar para penyelam yang mencari keberadaan Maya di Tanjung sembilan itu, sebab bila menunggu air surut juga tidak mungkin karena sejak beberapa hari yang lalu Tanjung sembilan tidak menampakkan pesisir sehingga tidak mungkin bisa Mereka melihat jenazah Maya di sana.

Mau tidak mau maka mereka harus memakai penyelam untuk mencari keberadaan Maya di Tanjung sembilan itu karena kecurigaan para warga sudah mengarah pada Tanjung sembilan, sebab selama ini bila ada orang yang hilang maka mereka di temukan di sana dan dalam keadaan sudah mengembung.

Akibat banyak penemuan mayat di tempat itu maka Tanjung sembilan menjadi tempat yang sangat angker dan banyak orang yang tidak berani untuk mendatangi tempat tersebut, ini saja para penyelam harus dibayar mahal karena mereka tahu menyelam di Tanjung sembilan adalah taruhan nyawa bila nasib sedang tidak baik-baik saja.

Ria harus berusaha keras untuk mencari para penyelam yang mau dan menawarkan harga yang cukup lumayan untuk satu orang saja dan kemungkinan sampai membutuhkan lima orang agar segera di temukan keberadaan Maya, kalau nanti pada akhirnya ketemu dan hanya sebuah mayat saja namun tetap Ria harus menemukan mayat sang adik.

Mereka hanya tinggal berdua saja karena orang tua sudah meninggal dan sekarang malah Maya menghilang karena kemungkinan besar tercebur ketika sedang main di pinggir sungai, jadi semua para warga bisa membayangkan bagaimana sedih dan juga hancurnya perasaan Ria karena harus kehilangan keluarga yang selama ini dia punya di kampung ini.

"Gimana, apa sudah cukup orang nya?" Pak RT bertanya kepada Amir yang sibuk mencari orang.

"Cuma ketemu tiga saja dan sebagian sudah menolak karena mereka tidak berani bila harus masuk dalam Tanjung sembilan." Amir menjawab dengan raut wajah bingung.

"Ya Allah mereka semua pasti takut karena Tanjung sembilan memang sangat angker." Pak RT paham dengan perasaan semua orang.

"Saya akan bayar satu orang satu juta, tapi tolong lah bantu saya." Ria menangis pilu.

"Masalah nya bukan hanya di uang itu saja tapi kami juga harus menghadapi resiko bila nanti menyelam di dasar sungai itu." jawab Tamrin.

"Aku akan membantu." Nolan maju karena dia juga kasihan melihat tetangga yang sibuk karena mencari keberadaan sang adik.

"Alhamdulilah ada tambahan tenaga dan semoga Maya memang bisa segera di temukan." harap Pak RT dengan perasaan begitu senang.

"Oh cah ganteng ini pinter menang, semoga bisa ketemu sama Maya." Bu Ita menepuk pundak Nolan.

Nolan hanya tersenyum sekilas karena dia agak malu juga bila di puji secara langsung seperti itu di hadapan orang banyak, adik dari wanita yang sangat kondang di desa ini akhirnya mau turun tangan membantu para warga yang sedang kesusahan karena mayat dari seorang gadis belum juga ditemukan sampai saat ini.

"Hati hati ya Bang Nolan." Sinta menatap Nolan dengan pandangan penuh cinta.

"Ya." Nolan hanya mengangguk sekilas karena dia tidak ingin memberi perhatian kepada para gadis.

"Sebelum nya aku ucapkan terima kasih karena Mas Nolan mau membantu saya untuk mencari Maya, tolong temukan Maya di sana ya." Ria mengusap air mata yang meluncur di pipi.

Nolan hanya mengangguk dan kemudian dia bersama dengan para penyelam lain segera naik speed boat untuk menuju Tanjung sembilan, nanti setelah tiba di sana maka mereka akan langsung terjun ke dalam sungai itu dan mencari keberadaan Maya di dalam sungai itu dan tentu saja harus bertaruh dengan nyawa juga.

...****************...

"Purnama!"

"Apa?" Purnama yang sedang panen jagung jadi menoleh karena di panggil oleh seseorang.

"Kau tau tidak, Nolan membantu para warga yang sedang kesulitan." Samuel datang menyampaikan kabar tersebut.

"Sungguh? wah baguslah bila sekarang dia sudah mau agak terbuka kepada seluruh warga." Purnama juga ikut senang dengan perubahan sang adik.

Mereka sekeluarga bukan manusia biasa dan Nolan adalah anggota baru sehingga dia masih agak kaku bila bertemu dengan para manusia di desa ini, kalau Purnama sudah terbiasa karena memang sejak dulu dia berbaur dengan para manusia walau sempat ada niat untuk memakan para warga itu saat gejolak nafsu naik ke atas kepala.

"Maya anak yang hilang itu kan belum di temukan sampai sekarang dan mereka semua memutuskan untuk menyelam di Tanjung sembilan." Samuel kembali menjelaskan.

"Oh bagus lah kalau dia sudah mau membantu orang, dari pada terus aja sibuk lari ke sana kemari karena di kejar janda." Purnama juga ikut senang.

"Memang nya sampai sekarang mayat Maya belum ketemu juga?" Arya menoleh kepada Samuel.

Samuel menggeleng karena dia memang mengikuti sejak awal kasus yang terjadi di desa ini tentang hilang nya gadis bernama Maya, sebab sudah menjadi perbincangan hangat bagi seluruh warga desa Karena sekarang sudah mulai banyak orang yang menghilang begitu saja ketika ada di pinggir sungai.

"Semua orang curiga kalau Maya sebenarnya saat ini ada di Tanjung sembilan itu." cerita Samuel.

"Tanjung sembilan itu kan agak berbelok dan kemungkinan memang para mayat bisa sangkut di sana karena terbawa arus." Purnama masih berpikir selayaknya manusia.

"Kau tidak ada curiga kalau itu semua ulah dari seorang iblis?" Samuel menatap Purnama yang tetap asyik panen jagung.

"Enggak lah, tidak semua itu berhubungan dengan iblis jadi kau jangan terlalu larut dalam pikiran seperti itu lah." sahut Purnama lagi.

"Iya, kan bisa saja Maya kepleset ketika sedang ada di pinggir sungai dan kemungkinan dia tidak bisa berenang." Arya juga sepemikiran dengan Purnama.

"Oke lah kalau memang begitu, cuma aku takut saja bahwa di dalam air itu ada sesuatu yang menarik para manusia." ucap Samuel.

"Heh sudah lima orang yang tenggelam dan sebagian mereka memang di temukan di Tanjung sembilan itu, jadi wajar saja sih kalau agak curiga." Jalak juga muncul.

Purnama dan Arya hanya diam tidak memberikan reaksi atas ucapan dari siluman ular ungu ini karena mereka merasa itu masih adalah hal yang wajar, terutama Tanjung sembilan karena memang Tanjung itu berbelok sangat tajam sehingga kemungkinan besar para jenazah bisa saja tersangkut di sana karena juga banyak akar.

Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.

Bab 3. Mendapatkan Mayat

Baru saja masuk kedalam air tapi Nolan sudah merasakan sesuatu yang tidak beres di Tanjung sembilan ini namun dia tidak mengatakan kepada yang lain karena mereka semua sudah fokus untuk menyelam, sebenarnya Nolan tidak membutuhkan oksigen atau peralatan menyelam ini karena dia memiliki kekuatan tersendiri agar tetap bisa bernafas di dalam air.

Namun Nolan tidak ingin pamer kepada semua warga sehingga dia tetap memakai walaupun barang itu sama sekali tidak ada fungsi di tubuh dia, para penyelam lain tentu saja mereka hanya bisa merasakan kengerian yang cukup besar di Tanjung sembilan ini karena memang tempat itu terasa sangat angker dan juga menyeramkan.

Tapi mereka sama sekali tidak tahu iblis jenis apa dan juga apa mungkin bahwa penunggu Tanjung sembilan ini yang sudah memakan banyak korban sehingga mereka semua di temukan pada Tanjung sembilan, tidak tahu dengan Maya karena sampai sekarang masih belum bisa untuk ditemukan keberadaan gadis itu setelah lama menghilang.

Entah nanti akan berhasil ditemukan di tempat ini atau bahkan bisa juga sudah hanyut ke sungai yang lebih jauh karena memang arus begitu deras, bila nasib memang baik maka pasti akan tersangkut di Tanjung sembilan ini karena memang Tanjung tersebut menjadi tempat persimpangan para balok atau bahkan bangkai yang sedang hanyut di sungai tersebut.

"Kau merasakan aura di sini?" Nolan bertanya kepada Andini yang ikut serta.

"Benar, tapi aku tidak bisa merasakan bahwa dia terlibat." jawab arwah wanita yang mati beranak ini.

"Sama, aku hanya bisa merasakan kalau tanjung ini ada penghuni nya." ujar Nolan.

"Jangan langsung menuduh, belum tentu dia menjadi pelaku kan." ucap Andini.

"Benar juga karena Maya tenggelam di dekat rumah, jadi belum tentu penghuni ini yang membuat masalah." angguk Nolan setuju dengan ucapan Andini.

"Banyak sekali akar di sini sehingga pantas saja banyak yang tersangkut, walau tidak ada iblis maka aku tetap yakin kalau banyak yang tersangkut di sini." ujar Andini.

Nolan tidak menjawab karena sekarang dia sedang fokus untuk menatap sekitar Tanjung karena mayat gadis itu belum juga bisa ketemu, bila dilihat dari luar hanya pohon biasa yang tumbuh di sekitaran pinggir sungai itu tapi ketika sudah masuk ke dalam maka mereka bisa menemukan akar yang sangat banyak.

Ini bila tidak berhati-hati maka mereka saja bisa tersangkut dengan akar tersebut karena yang melambai di dalam sungai memiliki serat begitu halus seperti rambut, mata Nolan bergerak liar karena dia ingin memastikan apa penghuni Tanjung ini akan datang untuk ikut campur Karena sekarang para manusia mengganggu tempat tersebut untuk mencari keberadaan Maya.

Tapi ternyata tidak ada tanda dari penghuni itu sehingga Nolan agak ragu juga apakah penghuni tersebut yang sudah membunuh banyak manusia belakangan ini, sebab sampai sekarang tidak ada tanda dari penghuni itu sehingga Nolan berpikir bahwa mungkin saja ini semua memang murni dari kesalahan manusia.

"Bergerak kesana karena aku tadi melihat ada tangan." Andini menyuruh Nolan.

"Padahal kan kau juga bisa bergerak untuk mencari tahu." Nolan kesal sendiri.

"Berapa kali harus aku bilang kalau aku ini adalah arwah, tidak ada yang bisa melihat aku di sini kecuali mata mu itu!" sengit Andini kesal bukan.

"Ih begitu saja kau sudah emosi dan marah, gitu Hendra kok sangat mencintai wanita seperti kau ini." Nolan merutuk kesal.

"Kau juga kalau punya istri maka pasti akan mencintai istri dengan sepenuh hati, sebab bila tidak maka bisa saja kau sudah selingkuh dengan orang lain." geram Andini pada Nolan.

"Benar apa kata mu, ini mayat anak itu." Nolan berteriak ketika berhasil menemukan Maya yang tersangkut pada akar seperti rambut.

"Cepat ambil dan bawa ke permukaan agar semua warga mengetahui kalau Maya sudah berhasil di temukan." Andini sudah tidak sabar.

"Wah ini mayat dia sudah tidak utuh karena mungkin saja di makan oleh para ikan yang ada di sini." ucap Nolan sambil memperhatikan mayat Maya.

"Tiga hari dia di dalam air sehingga wajar saja kalau membengkak seperti ini, pasti ikan atau bahkan bisa saja buaya akan memakan bangkai." sahut Andini.

Nolan segera mengambil mayat-mayat yang tersangkut pada akar itu dan dia muncul ke permukaan sambil membawa mayat si gadis agar semua warga yang ada di speed boat segera menolong Maya, benar dugaan para warga kalau gadis itu ada di sekitar Tanjung sembilan karena memang selama ini banyak yang tersangkut di sana saat ada orang yang tercebur di sungai ini.

"Alhamdulilah Mas Nolan berhasil menemukan mayat Maya!" Pak RT sangat girang dan segera membantu.

"Ya Allah bau nya." Tamrin menutup hidung karena tidak sanggup mencium bau tersebut.

"Tiga hari di dalam air sehingga wajar saja sudah membusuk seperti ini." ucap Nolan sambil memperhatikan tubuh Maya yang menggelembung.

"Ya Allah semoga di jauhkan balak seperti ini, kasihan sekali kamu." Pak RT mengambil jarik dan menutup tubuh Maya.

"Kasihan sekali dia, pasti menjelang sakaratul maut begitu menyakitkan karena tidak bisa bernapas di dalam air." Tamrin antara takut dan juga merasa iba.

"Tolong beritahu yang lain agar segera muncul ke permukaan dan kita akan segera pulang membawa mayat Maya." Pak RT meminta tolong kepada Nolan.

Nolan masuk kembali ke dalam air dan dia mencari keberadaan para penyelam lain untuk diajak naik ke permukaan, sebab mayat gadis itu sudah ketemu sehingga mereka bisa segera pulang saja ke rumah karena menyelam terlalu lama juga menimbulkan resiko yang cukup besar.

Namun setelah memberitahu mereka semua malah mata Nolan menemukan sesuatu yang berkilau di balik akar pohon itu, makan olahan segera mengambil batu tersebut karena dia juga penasaran dengan batu yang memancarkan cahaya putih seolah memang dia begitu istimewa di bandingkan dengan batu lain yang ada di sana.

"Ayo naik, Lan." Pak RT mengulurkan tangan.

"Saya bisa sendiri kok, Pak." Nolan memang sangat mandiri.

"Mari kita pulang sekarang ya, biar bisa mengurus mayat Maya." sopir speed boat segera menghidupkan kendaraan untuk kembali ke kampung.

"Ya Allah bau sekali sudah ya, ini tidak perlu di mandikan lagi kan ya?" penyelam tadi bertanya kepada Pak RT.

Pak RT menggeleng karena memang mayat yang meninggal karena tenggelam maka mereka tidak perlu untuk di mandikan lagi, sebab keadaan mereka sudah begitu remuk dan juga hancur sehingga bila tersentuh dengan tidak hati-hati maka bisa saja semakin hancur sehingga lebih baik untuk tidak di mandikan saja.

Selamat pagi sayaaaaaaaang, jangan lupa like dan komen nya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!