"Gimana? Gimana? Udah lama banget kita ga hiking nih, ada rencana ga? Udah 3 bulan loh, rindu banget gue." tanya seorang perempuan cantik, tapi terlihat tomboy. Memiliki nama bertolak belakang dengan kepribadiannya, yaitu ANGGUN.
"Hayu aja gua mah, tugas skripsi juga udah beres. Tinggal nunggu jadwal sidang, lu gimana?" jawab seorang pria, yang bernama Doni
"Gue ijin dulu ma nyobes deh, kemaren gue pergi dari rumah kagak ijin. Sampe 5 hari, doi marah-marah. Padahal gue cuma ke rumah si mbah, kagak kemana-mana." jawab pria lain, yang bernama Bara
"Becanda lu mah, ya iya nya nyokap lu nyari lah. Di kira anak ilang, 5 hari kagak ada kabar. Sampe telepon gue hampir saban hari, saban jam. Sinting lu.." balas Anggun kesal, yang rumah nya berhadapan dengan Bara
"Ya gue pan pengen ngadem gitu, lagian gue anak laki. Masih aja di cariin, ga bakal ada yang minta nyulik gue." Anggun berdecak, mendengar ucapan Bara
"Ke gunung, yang ada di daerah kampung halaman lu aja Bar." celetuk Haris
"Gunung Sumbing maksud lu?" tanya Bara, Haris mengangguk
"Bukannya gunung itu juga, termasuk gunung tertinggi di Jawa Tengah pan." Bara mengangguk
"Hayu kalo gitu, nyobes bisa kasih ijin kali." balasnya
Akhirnya keempat orang itu sepakat, akan pergi ke gunung Sumbing. Setelah 3 bulan tidak mendaki, padahal biasanya sebulan sekali. Mereka akan ada agenda, untuk mendaki gunung. Sama-sama menyukai alam, jadi mereka pun berkenalan di saat mendaki gunung lain. Dan pertemanan itu, berlangsung hingga sekarang.
.
.
"Lu, besok jadi daki gunung ?" tanya salah satu teman asrama nya, seraya duduk di ranjang orang yang sedang sibuk packing.
"Jadi, kenapa? Lu mau ikut?" temannya menggelengkan kepala, malas kali rasanya
"Ga deh, takut udah nya sakit badan. Gue kan belum pernah, pasti bakalan banyak ngeluh." jawab teman sekamarnya
"Lemah lu, ntar lu ikut latihan fisik ma gue. Yang gampang aja, jalan pelan, jalan cepet, lanjut lari. Ga usah sprint juga, lari santai aja. Biar badan lu biasa, jadi kalo ntar gue ada agenda naik gunung lagi. Lu bisa ikut, lu bakal ngerasain hebatnya sensasi waktu kita udah nyampe puncak." temannya mengangguk setuju
"Boleh deh, ntar kita bikin agenda olahraga aja. Biar gue juga ga ngerem mulu di kamar, suka males kalo ga ada temen tiap mau joging." ucapnya
"OK"
.
.
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, hari ini mereka akan berangkat ke Jawa Tengah. Tepatnya dimana, hanya Bara yang tau. Rencana mereka sebelum lanjut mendaki, yaitu bertandang ke rumah mbah nya Bara. Mereka akan mulai naik gunung, setelah istirahat mereka cukup.
Mereka berangkat menggunakan motor, tentunya motor masing-masing. Tiba di kediaman neneknya Bara, pagi hari pukul 08.00.
"Opo kowe podo yakin, arep munggah gunung Sumbing? / kalian serius mau mendaki gunung ke gunung sumbing?" tanya si mbah, seraya memindahkan gelas. Dari nampan ke meja, dimana ada keempat cucu dan teman-temannya di ruangan tersebut.
"Inggih mbah" jawab Bara, si mbah pun duduk di samping Bara
"Nek podo yakin, si mbah mung pesen. Ojo podo sembrono, kudu duwe totokromo, sebab moro panggonane, wong kudu jogo tingkah laku. Opo maneh gunung iku wingit. / Kalo pada yakin, si mbah cuma pesen. Jangan pada sembrono, harus punya tata krama, sebab ada penunggunya, kalian harus jaga tingkah laku. Apa lagi gunung itu kan angker.." nasihat si mbah, yang meminta cucu dan teman-temannya untuk berhati-hati dan menjaga tata krama
Ketiga teman Bara saling tatap, entah kenapa tiba-tiba muncul perasaan tak enak. Padahal mereka sudah biasa naik gunung, menerima nasihat seperti ini pun. Bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi pesan dari neneknya Bara. Terasa berbeda, terasa menyiratkan akan sesuatu hal.
"Mbah wonten cerito sik serem mboten? Kalih gunung niku? / mbah, ada cerita seram ga? terutama di gunung ini?" tanya Bara, ketiga temannya paham bahasa Jawa. Hanya tidak bisa, saat harus berbincang.
"Jenenge wae gunung, yo mesti ono ceritone. Angger kowe podo iso jogo awakmu, nurutke aturan. Insya Allah ojo kuatir, kedadian sing ora di pengini, ora bakal teko nang awakmu. / Namanya juga gunung, ya pastinya ada cerita. Tapi kembali lagi kalian harus bisa jaga diri, nuruti aturan. Insya Allah jangan kawatir, kejadian yang ga di inginkan, ga akan terjadi pada kalian." jawab si mbah, bara dan ketiga temannya mengangguk.
"Pesen si mbah, mikul duwur mendhem jero. Kalau yang sering kalian dengar, Di Mana Bumi Dipijak, di Situ Langit Dijunjung." ucap si mbah lagi
"INGGIH MBAH" jawab keempatnya
.
.
Di jam 10 pagi, sampailah mereka di basecamp. Sesampainya di sana, Bara segera mengurus izin. Setelah selesai mengurus izin, mereka mulai mendaki sekitar pukul 11.00. Berhubung di daerah itu ada ojek sampai pos 1, mereka memilih untuk naik ojek saja biar lebih menghemat tenaga.
Bedanya ojek di sini dengan di tempat lain adalah, bila biasanya penumpang akan duduk di belakang. Namun di sini, mereka akan duduk di depan. Jadi para pengunjung, bisa merasakan sensasi yang berbeda. Apalagi bila tukang ojek itu, jalannya dengan kecepatan cepat.
Kurang lebih pukul setengah 12 siang, mereka pun tiba di pos 1. Di situ mereka berhenti sejenak, karena merasakan ketegangan yang belum pernah mereka rasakan. Tapi tak lama mereka tertawa, ketika melihat ekspresi Doni dan Haris. Yang masih terlihat ketakutan, juga gemetar pada tubuh mereka.
Setelah di rasa sudah siap mendaki, mereka mulai berjalan menuju pos 2. Dengan posisi Bara, berjalan paling depan. Di susul Haris, Anggun dan Doni paling belakang. Perjalanan menuju pos 2, masih belum ada kejanggalan apapun. Dan di sepanjang jalan, mereka cuma ngobrol dan sesekali tertawa karena candaan mereka.
Setelah cukup lama berjalan, sekitar pukul 2 siang sampailah mereka di pos 2. Di sini mereka memutuskan berhenti lebih lama, untuk masak-masak makanan ringan sambil ngopi. Sambil duduk santai, mereka membahas akan bermalam dimana. Bara mengajak teman-temannya, untuk berkemah di pos 3.
Setelah dirasa cukup istirah, mereka berkemas dan melanjutkan perjalanan menuju pos 3.
Di tengah perjalanan menuju pos 3, tepatnya di area engkol-engkolan. Sekitar 10 meter di depan, Bara yang berjalan paling depan. Melihat ada seorang perempuan, yang sedang duduk di pinggir jalur. Dia memakai celana hitam, juga kaos putih berlengan panjang. Rambutnya cukup panjang, perempuan itu sengaja menggerainya. Di samping gadis itu ada tas carrier, jadi Bara berpikir bila perempuan itu juga seorang pendaki.
Melihat itu Bara berbalik, lalu berbicara pada teman-temannya.
"Woy, di depan kayanya ada pendaki cewek" ucapnya, membuat Doni memiringkan tubuh dan melihatnya.
"Iya tuh, kayaknya sendirian." Anggun dan Haris, ikut melihat ke depan
"Samperin jangan?"
...****************...
Bismillah.... Alhamdulillah, Zandra lanjut nih ke season 8. Ga kerasa ya,meski sempet down hari ini, tapi.. it's ok.
Semoga di kisah sekarang, ga ada yang bikin ulah. Dan bisa diterima dengan baik sama kalian semuaaaaaa😘😘😘😘
Oya, kisah ini... Kisah nyata, yang aku dapetin di gulu-gulu. Dan seperti biasa, selalu aku kasih sentuhan ala aku. Terima kasih buat akang narasumber🙏
Terima kasih atas dukungan kalian semua🥰
...HAPPY READING ALL...
JANGAN LUPA BUAT JADIIN FAVORITE KALIAN YA....
Dan jangan lupa juga like, komentar, gift sama vote nya Buat penyemangat si aku gituuu😁
"Samperin jangan?" tanya Haris, Anggun mengangguk.
Mereka berempat berjalan menuju ke arah perempuan itu, karena kebetulan memang arah jalur mereka memang melewatinya. Begitu mereka berada di depan perempuan itu, keempatnya berhenti.
"Boleh ikut duduk mbak?" tanya Bara
"Boleh" jawab perempuan itu singkat
Karena cukup lelah, Bara dan ketiga temannya memilih untuk duduk sebentar. Anggun memulai percakapan, dengan bertanya.
"Sendirian mbak, atau ada temannya?"
"Eh enggak, aku ndaki sendiri" jawabnya ramah
"Mau balik apa mau naik?" tanya Bara
"Baru mau naik" mendengar jawaban itu, keempatnya saling tatap. Mereka seolah berbicara, perempuan tapi berani naik sendirian.
Anggun berinisiatif mengajak perempuan itu, untuk bergabung dengan mereka. Karena mereka juga kan hendak naik, dengan tujuan agar perjalanan makin rame. Perempuan itu tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan ajakan Anggun. Dari situ, mereka pun berkenalan dengan bersalaman. Dengan menyebutkan nama masing-masing, perempuan itu menyebutkan namanya adalah Sustrini.
"Mbaknya tinggal dimana?" tanya Doni
"Aku tinggal ga jauh dari sini, masih sekitaran gunung." jawabnya, namun dia tak menyebutkan alamat pastinya. Keempat orang itu mengangguk, pantas saja berani mendaki sendirian, pikir mereka.
Namun saat tadi Anggun bersalaman dengan Sustrini, entah kenapa dia merasa gugup. Seperti ada yang aneh, tapi dia tak tau apa. Setelah sesi perkenalan, mereka melanjutkan perjalanan mereka. Dengan perempuan yang bernama Sustrini, berjalan paling belakang.
Di perjalanan, Anggun sesekali melihat ke belakang. Tak lama, ia pun meminta tukar tempat dengan Haris. Sekarang dia berada di belakang Bara, pelan-pelan Anggun berbisik.
"Bar, mbak Sus aneh ya?" Bara mengerutkan dahi
"Aneh kenapa?" tanya nya pelan, namun masih lanjut berjalan
"Waktu tadi salaman, tangan mbak Sus dingin banget, terus lembab juga." jelas Anggun
"Masa sih? Perasaan biasa aja, tadi gue salaman ga ngerasa kaya gitu." jawab Bara
Anggun terus meyakinkan Bara, tentang apa yang ia rasakan. Tapi Bara tidak terlalu menanggapi, hingga akhirnya Anggun memilih diam. Sepanjang perjalanan, masih aman tentram dan damai. Tak ada yang aneh, ataupun janggal.
Setelah melewati medan yang cukup menanjak, sampailah mereka di pos bayangan yang di sebut Seduplak Roto. Di situ, mereka memilih duduk beristirahat dan minum.
Saat tengah istirahat, Anggun mendudukkan dirinya tepat di sebelah Sustrini. Dia sempat melihat pada Sustrini, Anggun mengerutkan dahinya. Gadis itu tidak terlihat kelelahan, bahkan tak terlihat adanya keringat. Padahal perjalanan tadi cukup jauh, tambah lagi medan yang di tempuh harus menanjak.
Melihat ini, Anggun merasa semakin aneh.
'Padahal tadi medannya nanjak, tapi mbak Sus ga keliatan cape sama sekali. Buset dah, gue aja ngos-ngosan gini. Persiapan dakinya kek mana ya?? Bisa sesantai itu..' ucap Anggun dalam hati, seraya sesekali melirik Sustrini. Yang sejak duduk tadi, menundukkan kepalanya.
Anggun menoleh dan melihat Sustrini, saking fokus memperhatikan gadis di sebelahnya. Tiba-tiba Sustrini menegakkan kepala, ia melirik ke arah Anggun. Seraya tersenyum sinis, lebih ke menyeringai. Anggun langsung mengalihkan pandangannya, ia memilih untuk pindah tempat duduk. Sekarang Anggun berada di sebelah Doni, yang jaraknya cukup jauh dengan Sustrini.
Sebenarnya Anggun ingin mengatakan, apa yang baru saja ia rasakan pada ketiga temannya. Tapi ia merasa tak enak pada Sustrini, akhirnya ia pun memilih memendamnya dulu. Sampai nanti ada waktu yang tepat, untuk membicarakannya.
Istirahat pun selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Sebelum memulai perjalanan, Bara mendekati Sustrini.
"Mbak jalan di tengah barisan aja" pinta Bara
"Nggak apa-apa mas, aku di belakang aja." jawabnya
Bara mengiyakan, ia tak ingin membuat Sustrini merasa tak nyaman bila ia paksa.
Selama perjalanan, Anggun masih memikirkan Sustrini. Tapi semakin dia memikirkannya, tubuhnya malah merasa merinding. Karena ia mengingat, bagaimana saat Sustrini tadi tersenyum sinis. Sedangkan yang sedang di pikirkan Anggun, selama di perjalanan ini. Ia diam, tak mengeluarkan suara sama sekali.
Di tengah perjalanan menuju pos 3, Anggun yang waktu itu berjalan di depan Haris. Tiba-tiba mencium bau aneh menurutnya, baunya ini wangi kembang melati. Tetapi bau itu, hanya selintas. Saat mencium bau itu, anehnya Anggun. Dengan spontan ia menoleh ke belakang, pandangan nya tertuju pada Sustrini. Yang bahkan, jaraknya berada jauh di belakang sana.
Entah pemikiran dari mana, Anggun merasa bila bau tadi berasal dari Sustrini. Anggun menggelengkan kepalanya, menepis pikiran konyol itu.
"Lu kenapa? Pusing?" tanya Haris, karena melihat Anggun menggelengkan kepala
"Hah? Nggak kok, nggak apa-apa" jawab Anggun
"Yakin? Kalo lu ngerasa ga enak badan, kita bisa rehat dulu." ucap Haris lagi
"Nggak, gue ga papa. Serius" Anggun meyakinkan temannya itu, Haris pun mengangguk.
Tapi tak lama, Anggun bertanya pada Haris.
"Ris, lu tadi sempet kaya nyium bau wangi ga?" tanya Anggun pelan
"Iya sebentar, tapi sekarang udah ga." jawab Haris
"Mmm... Ris.. Gue kok ngerasa ada yang aneh ya, ma cewek itu." ucap Anggun, seraya melihat ke belakang
"Aneh kenapa?" tanya Haris bingung
"Lu ga ngerasa aneh? Dari tadi dia diem mulu, terus terkesan jaga jarak ma kita. Itu... jauh banget jaraknya, meski kita masih bisa liat keberadaan dia." jawab Anggun, Haris menoleh ke belakang. Mereka berdua melihat Sustrini yang berjalan santai, namun kepalanya menunduk ke bawah.
"Iya juga ya, kok aneh gitu." ucap Haris
"Tuhkan... terus tadi waktu kita istirahat, dia tuh senyum sinis ma gue. Senyumannya itu, kaya seringaian." balas Anggun
"Dahl ah, ga usah di pikirin. Mungkin emang udah gitu sifatnya, positif thinking aja." Haris mencoba untuk mengajak Anggun, berpikiran baik. Anggun menghembuskan nafas panjang, ia pun kembali fokus ke depan.
Singkat cerita, mereka sudah tiba di pos 3. Sekitar pukul setengah 6 sore, di pos itu suasananya sangatlah sepi. Hanya ada satu rombongan pendaki lain, itupun jarak nya cukup jauh dengan mereka.
Setelah berdiam diri sebentar, mereka pun gegas mendirikan 2 tenda. Anggun sendirian, sedang yang satu tenda untuk bertiga. Biasanya memang seperti itu, sedangkan Sustrini juga. Dia mendirikan tenda sendiri, tetap berjarak dengan Bara dkk.
Mereka lanjut memasak, di depan tenda. Ketika mereka sedang memasak, Sustrini berada di dalam tenda miliknya. Melihat hal itu, Bara berinisiatif untuk mengajak Sustrini. Untuk bergabung, dengan yang lainnya. Tapi Sustrini bilang, bila nanti ia akan menyusul. Bara pun pergi, meninggalkan Sustrini.
Ketika mereka tengah sibuk memasak, tiba-tiba Anggun mencium bau wangi lagi seperti tadi. Karena mencium bau yang sama, Anggun spontan berbicara...
"Guys... ini bau apa ya? Kok wangi.." mendengar ucapan Anggun, Bara dan yang lainnya. Langsung fokus, pada indra penciuman mereka. Setelah beberapa saat, apa yang di ucapkan Anggun ternyata benar. Kini yang mencium bau itu bukan hanya Anggun, tapi ketiga temannya juga.
...****************...
...HAPPY READING ALL...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
Keempatnya celingukan, melihat ke sekitar. Setelah di fokuskan, mereka merasa bila bau itu berasal dari tenda Sustrini. Mereka saling tatap, namun mereka berhenti membahas masalah bau ini. Karena mereka berpikir, mungkin di dalam sana Sustrini memakai parfum.
Tetapi Anggun memilih untuk mengatakan, tentang bau wangi yang sama pada teman-temannya. Namun baru saja ia hendak bicara, Sustrini keluar dari tenda dan ikut bergabung. Dan anehnya, bau itu hilang bersamaan dengan Sustrini duduk bersama mereka.
Lagi... Sustrini hanya duduk menunduk, tanpa mengucapkan apapun. Keempatnya memilih untuk diam, karena takut membuat Sustrini merasa tak nyaman.
Ketika masakan sudah matang, mereka pun duduk untuk makan bersama. Tak lupa juga, Bara mengajak Sustrini untuk makan bareng. Tapi Sustrini menolak, dengan dalih ia tidak lapar. Bara dan yang lain menganggap, bila Sustrini sudah makan saat di tenda tadi.
Saat makan berlangsung, Anggun merasakan bulu kuduk nya berdiri tiba-tiba. Terlebih saat ia melirik ke arah Sustrini, yang sedang duduk diam sambil terus menunduk melihat ke bawah.
'Apa ini ya? Perasaan gue ga enak mulu dari tadi' gumamnya dalam hati
Setelah selesai makan, mereka lanjut buat kopi. Dan duduk santai, sambil berbincang. Selama perbincangan itu, mereka sesekali mengajak Sustrini ngobrol. Tapi dia tak berbicara sama sekali, hanya merespon dengan senyuman.
Di sela-sela obrolan, Sustrini tiba-tiba pamit pada Bara dkk. Untuk masuk ke dalam tenda lebih dulu, dengan alasan sudah mengantuk. Keempatnya mengangguk serentak, seraya menatap Sustrini masuk ke dalam tenda.
Setelah Sustrini masuk, Anggun memulai pembicaraan kembali.
"Lu pada, ngerasa ada yang aneh ga sih ma itu cewek"
"Kenapa? Maksud lo aneh gimana?" tanya Bara balik
"Sejak dia gabung ma kita, dia ga kedengeran ngomong sama sekali. Tadi waktu kita ajak ngobrol juga, dia cuma respon senyum ma ngangguk atau geleng kepala." jawab Anggun, ketiga pria itu saling tatap.
"Iya juga ya, gue baru sadar." ucap Bara
"Terus ma bau wangi tadi, sebenernya waktu di jalan tadi. Gue juga nyium bau yang sama, Haris juga." lanjut Anggun
Bara meminta Anggun, untuk berhenti bicara yang tidak-tidak. Dan memintanya untuk berpikir positif, mungkin saja itu memang sifatnya. Pendiam, tidal banyak bicara. Bara pun mengingatkan nasihat dari si mbah, untuk menjaga tata krama dan sikap. Anggun mengangguk setuju, ia langsung diam.
Anggun yang tidur sendiri, ia memilih untuk mengisi pikirannya. Dengan hal-hal baik, dan positif. Anggun terus berusaha, membuang pikiran negatif nya pada Sustrini. Tapi tetap tidak bisa, semakin ia berusaha. Untuk tidak memikirkan hal itu, namun pikirannya malah terus berpikir tentang Sustrini.
Sebelum tidur, Anggun berdoa semoga tak terjadi hal yang buruk padanya, juga teman-temannya.
.
Saat sudah mulai terbuai mimpi, tiba-tiba Anggun merasa ingin buang air kecil. Dia pun keluar, mencari tempat untuk buang air kecil.
Begitu Anggun sudah di luar tenda, ia melihat Sustrini. Perempuan itu sedang duduk, dengan posisi dagunya berada di atas kedua lututnya. Tangan kanannya terlihat tengah memegang ranting, sambil mencorat coret tanah. Melihat hal itu, Anggun memutuskan untuk menghampiri dan bertanya.
"Mbak ko belum tidur?" Sustrini menengadahkan kepalanya, ia menatap Anggun dengan senyum sinis nya.
GLEK
Meski ada perasaan takut, tidak pantas rasanya untuk langsung pergi bukan?
"Enggak mbak, saya ga ngantuk" jawab Sustrini, dengan nada yang datar
"O..ohh.. kalo gitu saya tinggal ya mbak, mari." dengan jalan pelan, tapi juga cepat. Anggun melangkahkan kakinya, ke belakang tenda. Untuk melaksanakan niatnya buang air kecil, yang tadi sempat tertunda karena melihat Sustrini. Ketika dia tengah berjongkok, buang air kecil. Samar-samar ia mendengar ada suara nyanyian, suara wanita dan juga sangat merdu.
'Tak lelo... lelo... lelo ledung, cap mene ojo pijer nangis.
Anakku sing ayu rupane, yen nangis ndak ilang ayune....
Mendengar itu, tubuh Anggun mendadak meremang. Rasa takut langsung di rasakannya, gegas ia menyudahi buang air kecilnya dan hendak bergegas masuk ke dalam tenda.
Tapi saat ia sudah ada di depan tendanya, suara yang tadi ia dengar. Ternyata yang menyanyi merdu itu, adalah Sustrini. Posisi dia menyanyi, masih sama dengan saat Anggun lihat sebelum dia pergi buang air kecil. Masih dengan posisi duduk, menumpangkan dagunya di kedua lutut. Tangannya pun masih memegang ranting, mencorat coret tanah.
Tapi....
DEG
Yang berbeda dari Sustrini saat ini adalah, pakaian yang ia pakai berbeda. Dia bukan menggunakan pakaian mendaki, seperti yang dia lihat hari ini. Tapi... tapi... pakaiannya saat ini, kain berwarna putih lusuh dan sangat kotor. Bahkan... bahkan rambutnya juga tergerai sangat panjang, dan... dan berantakan.
Melihat hal itu, Anggun benar-benar sangat takut. Dengan tubuh bergetar, pelan-pelan ia berjalan masuk kedalam tenda. Sambil sesekali, matanya melirik ke arah Sustrini. Dan ketika dia melirik, untuk ke sekian kalinya. Tiba-tiba...
JREEENG
Sustrini menegakkan kepalanya, dia menoleh ke arah Anggun. Menatap tajam, sambil tersenyum menyeringai.
DEG
Dengan sisa kekuatan yang ada, Anggun segera masuk ke dalam tenda. Ia segera menutup tendanya rapat-rapat, ini merupakan hal pertama kali. Dimana Anggun benar-benar merasa sangat ketakutan, selama ia mendaki gunung.
Suara nyanyian itu, terus terdengar di telinga Anggun. Hingga tak terasa, pada akhirnya Anggun pun tertidur lelap. Tak lama setelah ia tertidur, terdengar suara Bara membangunkannya untuk segera keluar.
"Nggun... bangun woooyy, udah mau adzan subuh. Buruan siap-siapa shalat" ucap Bara di luar tenda
"IYAAAAA" Anggun menggeliatkan tubuhnya, lalu ia pun duduk. Saat bangun, ia teringat dengan kejadian semalam. Ia yakin, bila kejadian semalam hanyalah sebuah mimpi. Sehingga Anggun memutuskan, untuk tidak menceritakan mimpinya dan langsung keluar tenda. Di luar, ketiga temannya sudah bersiap hendak melaksanakan shalat.
Singkat cerita, mereka sudah melaksanakan kewajibannya. Ketiga pria langsung berkumpul dan berbincang, Anggun pun bergabung. Ternyata yang sedang mereka bicarakan adalah, tentang Sustrini yang sudah tidak ada. Begitu pun dengan tendanya, yang sudah tak terlihat. Yang mengejutkan Anggun ialah, cerita Haris.
"Semalem gue pengen buang air kecil, lu pada tau kagak apa yang gue liat. Gue liat Sustrini duduk di depan tendanya, tapi dalam wujud yang berbeda. Dia juga nembang lagu jawa, apa itu ya... yang talelo lelo itu loh... yang biasanya di pake buat pok-pok bayi tidur." ucapnya, Anggun benar-benar tersentak.
Karena apa yang di ceritakan Haris, sama persis dengan apa yang di alami di mimpinya. Akhirnya Anggun pun menceritakan, apa yang ia alami. Mendengar cerita dari dua temannya, Bara dan Doni hampir tidak percaya. Akhirnya Bara meminta pada Anggun dan Haris, untuk melupakan kejadian ini. Dan menganggap, bila Sustrini sudah ke atas lebih dulu.
Sesaat, Anggun pun merasa lega.
...****************...
...HAPPY READING ALL...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!