Assalamualaikum... bertemu lagi dengan author amatir...hehehe
Sebelum baca cerita ini alangkah baiknya baca cerita sebelumnya agar tidak gagal faham ya.
1. Ustaz Yusuf I Love you
2. Rukayyah sang singa betina.
Klik profil author....
Terimakasih....
Selamat membaca....
Kalau suka bisa di lanjut,kalau tidak suka tinggal skip, ...
Sehat selalu para pembaca.....
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Plakkkk!
Bunyi tamparan itu begitu keras, memutus kesunyian di ruang kerja yang beraroma kayu jati dan cerutu tersebut. Napas Kakek Suhadi memburu, tangannya yang sudah mulai keriput gemetar hebat, bukan karena usia, tapi karena amarah yang meluap hingga ke ubun-ubun.
Afkar tersungkur sedikit ke samping, sudut bibirnya pecah dan mulai mengeluarkan darah. Ia hanya tertunduk, tak berani menatap mata elang ayahnya yang biasanya penuh wibawa, namun kini berkilat penuh kekecewaan.
"Sembilan belas tahun, Afkar..." suara Kakek Suhadi parau, bergetar menahan tangis. "Sembilan belas tahun kamu menyimpan bangkai ini di bawah hidungku!" ucap kakek Suhadi dengan nafas memburu...ia tidak menyangka akan di bohongi putranya selama bertahun-tahun.
Sudah beberapa hari, kakek Suhadi bermimpi bertemu dengan gadis cantik yang masih belia, tersenyum memanggilnya kakek, bukan hanya sekali dua kali, melainkan sangat sering, sehingga kakek Suhadi menyuruh detektif yang sangat berkompeten untuk menyelidiki, setelah beberapa hari, sebuah fakta terungkap, saat putranya afkar dan Monica bertengkar hebat, sebuah kebenaran yang tertutup rapat selama sembilan belas tahun akhirnya terungkap.
"Ayah, maafkan aku... aku hanya tidak ingin mengacaukan semuanya saat itu," rintih Afkar pelan, masih tanpa keberanian untuk mendongak.
"Mengacaukan apa? Reputasimu? Atau kenyamananmu sebagai suami Monica?!"
Brakkkkk .....
Kakek Suhadi menggebrak meja kerja, membuat vas bunga di sudutnya bergetar. "Kamu menikahi gadis desa, seorang guru, dengan identitas palsu. Kamu mengaku karyawan biasa demi mendapatkan cintanya, lalu kamu buang dia seperti sampah saat istrimu mengancammu?" kakek Suhadi tidak menyangka dengan pemikiran putranya....putra satu-satunya yang ia banggakan ternyata seorang pengecut.hanya demi reputasi rela membuat seorang gadis menderita.
Afkar memberanikan diri menatap ayahnya. "Aku mencintai Maryam, Yah! Tapi Monica... dia mengancam akan menghancurkan Maryam jika aku tidak meninggalkannya...bahkan Monica mengancam akan membeberkan pada dunia tentang prilaku aku itu. Walaupun poligami tetap diperbolehkan,tapi keluarga kita menjujung tinggi tentang kesetiaan, satu pria satu wanita....Aku hanya ingin melindunginya." jawab Afkar dengan tubuh bergetar.
"Melindunginya?" Kakek Suhadi tertawa getir, tawa yang terdengar menyakitkan. "Kamu membiarkan dia pulang ke desa dalam keadaan hamil, menanggung malu sendirian, hingga dia meregang nyawa saat melahirkan putri kalian! ITU YANG KAMU SEBUT MELINDUNGI?" teriak kakek Suhadi menggema.
Ruangan itu mendadak hening. Afkar tersedak oleh kata-katanya sendiri.
"Anak itu..." lanjut Kakek Suhadi dengan suara yang tiba-tiba merendah namun tajam. "Namanya Najwa. Dia tumbuh besar di pesantren tanpa pernah tahu siapa ayahnya. Dia dibesarkan oleh Kyai Rahman, sementara ayahnya yang asli hidup mewah di kota ini, berpura-pura menjadi suami teladan bagi Monica dan anak-anaknya." ucap kakek Suhadi tertawa sinis.
"Aku tidak tahu kalau Maryam hamil, Yah... Aku benar-benar tidak tahu," tangis Afkar pecah, bahunya berguncang. Ia menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangannya,ia tidak menyangka kalau Maryam sudah meninggal dan memiliki seorang putri, betapa jahatnya ia... karena rasa takut nya sehingga ia tidak pernah mencari tahu tentang istri keduanya itu yang ia kita , hidup dalam keadaan baik-baik saja, apalagi saat itu ia memberikan cek sebanyak lima milyar yang tanpa Afkar ketahui, cek itu di ambil paksa oleh Monica, sehingga Maryam kembali ke desanya tidak membawa apa-apa. Selain benih yang Afkar tinggalkan.
"Tentu saja kamu tidak tahu, karena kamu terlalu sibuk menjadi 'laki-laki normal' untuk Monica!" sindir Kakek Suhadi telak. "Kamu pengecut, Afkar. Kamu punya dua putra dari Monica yang kamu manjakan setiap hari, bahkan kau mengangkat seorang putri yang kau temukan di depan pintu rumah yang sifatnya benar-benar semena-mena.
sementara ada seorang anak perempuan di sebuah pesantren yang bahkan tidak tahu dia punya hak atas nama besar keluarga ini."
Kakek Suhadi berjalan menuju jendela besar, membelakangi putranya.
"Dengarkan aku baik-baik," ucap Kakek Suhadi dingin. "Darah Maryam dan penderitaan Najwa adalah hutang nyawamu. Jika dalam waktu satu minggu kamu tidak membawa cucuku ke hadapanku, jangan pernah menganggap diri sebagai putraku lagi. Dan jangan harap satu sen pun dari harta Suhadi akan jatuh ke tangan laki-laki yang meninggalkan darah dagingnya sendiri demi rasa takut pada istri."
Afkar tertegun, wajahnya pucat pasi. "Tapi Monica... dia tidak akan membiarkan ini, Yah."
Kakek Suhadi berbalik, menatap Afkar dengan sorot mata penuh hinaan. "Lalu pilihlah. Tetap menjadi budak ketakutanmu pada Monica, atau menjadi seorang ayah yang punya harga diri. KELUAR!" teriak kakek Suhadi yang sudah muak melihat wajah pengecut putranya.
***
Sedangkan di pesantren , Najwa gadis cantik yang baru lulus sekolah menengah atas kini sedang bermain dengan baby Fatih, anak pertama Zora dan Yusuf....
" Najwa... Kita jalan-jalan sore yuk" ajak Zora lembut.
" iya kak" sahut Najwa ,Najwa mengambil kunci mobil milik Zora yang berada di atas meja dekat lemari TV, sudah setiap hari setelah Najwa baru lulus,ia tinggal di rumah kyai Rahman yang berada di dekat rumah Zora, alhasil, setiap hari aktifitas Najwa membantu Zora merawat Fatih... sampai peresmian universitas milik Zora di buka dan rencananya... Najwa merupakan angkatan pertama yang akan kuliah di sana.
Zora menggendong Fatih sedangkan Najwa yang mengemudikan mobilnya.
Zora lah yang mengajari Najwa mengendarai mobil sport miliknya, sampai Najwa benar-benar mahir dan memiliki SIM sendiri.
Hampir setiap hari mereka bertiga berkeliling desa untuk mencari jajanan sore.
Najwa merupakan sosok yang ceria, santun , serta ramah pada semua orang. Otaknya yang jenius serta dari keluarga pemilik pondok pesantren tidak membuatnya besar kepala, Najwa tetap rendah hati dan berbaur dengan santriwati lainnya....semua orang menyukainya karena sifatnya yang baik dan ramah.
***
Langkah kaki Afkar terasa berat saat meninggalkan ruang kerja ayahnya. Tamparan Kakek Suhadi bukan hanya memecahkan bibirnya, tapi juga meruntuhkan topeng yang telah ia bangun selama hampir dua dekade. Di koridor rumah mewah yang dingin itu, bayangan Maryam, wanita lembut yang ia khianati, muncul kembali, menghantui setiap jengkal ingatannya. Dan yang membuat dirinya merasa sangat bersalah, ternyata Maryam sudah tidak ada di dunia ini setelah melahirkan buah hatinya.
Sesampainya di rumah pribadinya, Afkar disambut oleh Monica, wanita yang selama ini ia takuti. Monica berdiri di puncak tangga dengan balutan gaun sutra, matanya tajam menyelidik luka di bibir Afkar.
Monica tersenyum sinis sambil menuruni tangga "Luka yang menarik, Sayang. Apa Kakek tua itu akhirnya tahu kalau kau punya 'cacat' di masa lalu yang selama ini aku tutup-tutupi?" tanya Monica tersenyum remeh...
" Maryam sudah meninggal" balas Afkar dengan sendu....
Monica tersenyum puas" bagus kalau begitu....tanpa berbuat apa-apa, dia sudah tidak ada" .
Afkar menatap Monica dengan tatapan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. " Namun ternyata Aku memiliki seorang putri dari Maryam..., Ayah memintaku membawanya ke sini dalam satu minggu."
Langkah Monica terhenti, wajahnya yang tadi tersenyum kini langsung mengeras seketika "Jangan harap! Kau gila? Jika anak haram itu datang ke sini, bagaimana dengan posisi putra-putraku?, bagaimana dengan putri angkat kita...? Bagaimana dengan reputasiku di kalangan sosialita? Aku sudah membayarmu dengan kesetiaanku setelah aku tahu kau bermain gila dengan guru desa itu!" balas Monica berapi-api, rasa sakit yang sudah ia kubur oleh pengkhianatan suaminya kini terbuka kembali, bahkan ternyata pernikahan kedua Suaminya menghasilkan seorang anak...dan itu membuat luka lamanya semakin menganga lebar.
"Dia bukan anak haram! Kami menikah secara siri yang sah di mata Tuhan! Dan kau... kau yang mengancam akan membunuhnya jika aku tidak pergi. Karena ketakutanku padamu, aku kehilangan Maryam selamanya. Dan Aku tidak akan kehilangan Najwa untuk kedua kalinya." sahut Afkar langsung memasuki kamarnya...
Brakkkkk...
Afkar membanting pintu nya dengan keras membuat Monica terperanjat,ia tidak menyangka, suami pionnya kini bisa berubah menjadi tegas seperti itu.
Tanpa memedulikan teriakan histeris Monica, Afkar mengambil kunci mobilnya yang sudah ia letakkan di dalam kamar,...ia memacu mobilnya menuju pesantren di pinggiran kota, tempat yang ditunjukkan oleh detektif pribadi ayahnya....
Perjalanan yang seharusnya memakan waktu lima sampai enam jam ,kini hanya di tempuh oleh Afkar hanya dalam waktu tiga jam....ia bertekad,kali ini ia tidak akan kalah oleh istrinya.. Monica, Najwa....nama itu kini memenuhi pikirannya, gadis belia yang hadir oleh rasa cinta nya kepada Maryam....wanita di dunia ini yang paling ia cintai dalam diam. Ia harus membawa buah cinta nya itu ke dalam dekapannya.... satu-satunya harta yang paling berharga yang di miliki olehnya dan Maryam.
Setelah sampai di area pesantren.... hatinya mulai gelisah, antara takut dan bahagia melebur menjadi satu, bahagia akan bertemu putrinya,dan takut kalau ternyata putrinya akan menolak....
Di sana, suasana sangat kontras dengan hiruk-pikuk kota. Suara lantunan Al-Qur'an menggema syahdu...
Afkar menghentikan mobilnya di depan rumah kyai Rahman, sesuai alamat yang di berikan oleh kakeknya.
Ia turun dan mengetuk pintu tiga kali...
" Assalamualaikum..." ucap Afkar sopan..., sambil menunggu pintu di buka, ia mengedarkan pandangannya di halaman rumah kyai Rahman yang sangat luas....
Deg.....
" Maryam...." gumamnya pelan.
Hatinya berdenyut nyeri melihat gadis yang mirip sekali dengan mendiang istrinya yang sangat cantik....Di sebuah pendopo kecil, ia melihat seorang gadis remaja mengenakan gamis sederhana berwarna abu-abu. Ia sedang menyimak setoran hafalan santri-santri kecil. Wajahnya... adalah duplikat sempurna dari Maryam, namun dengan sorot mata yang jauh lebih kuat dan tenang. Itulah Najwa.
Kyai Rahman mendekati Afkar yang berdiri mematung melihat Najwa dari kejauhan..."Waalaikumussalam....Akhirnya kau datang juga, Afkar. Aku sudah lama menunggu saat di mana hatimu cukup berani untuk menjemput apa yang kau buang." ucap kyai Rahman menyindir Afkar, sampai Maryam meninggal, Maryam tidak memberitahukan siapa suaminya itu,namun baru beberapa hari belakangan,ada orang suruhan dari kota mencari keberadaan Maryam dan mengatakan kalau Maryam adalah menantu tuannya ,namun sayangnya Maryam sudah meninggal delapan belas tahun yang lalu dan meninggalkan seorang putri yang kini sudah belia.
"Kyai... apakah dia... apakah dia membenciku?" tanya Afkar dengan suara tercekat.
"Najwa tidak mengenal benci. Dia hanya mengenal rindu yang tidak punya alamat. Mari masuk dulu....kita bicarakan di dalam" ajak kyai Rahman sopan.
setelah berbincang cukup lama, Najwa masuk, karena uminya memanggil dirinya, karena ada seseorang yang ingin menemui dirinya.
" Assalamualaikum....?" ucap Najwa lembut, suaranya terdengar sangat merdu,dan menenangkan .
" Waalaikumussalam" jawab kyai Rahman dan Afkar bersaman.
Najwa mengangguk hormat pada Afkar, sedangkan sedari tadi tatapan dalam Afkar tidak lepas dari putrinya.
" Maaf, Abah, kata umi, Abah memanggil Najwa, " ucap Najwa dengan sopan.
" ada yang ingin bertemu dengan mu nak.... beliau, Tuan Afkar ingin menemuimu" balas kyai Rahman menoleh ke arah Afkar yang saat ini sedang menahan air matanya agar tidak meluncur keluar.
.
Afkar Jatuh berlutut di atas karpet usang ruang tamu kyai Rahman, tepat di depan kaki Najwa "Najwa... maafkan aku... Maafkan laki-laki pengecut yang baru datang setelah sekian lama ini"
Najwa tertegun, bibirnya bergetar, namun ia tetap tenang, Najwa memundurkan langkahnya"Siapa... siapa Anda, Tuan?" tanya Najwa dengan sopan.
"Aku... aku orang yang seharusnya menjagamu. Aku Ayahmu, Najwa. Aku adalah Afkar , suami ibumu yang membiarkan ibumu pergi menjauh dari ku,tanpa ada keinginan untuk menyusul ibumu.... Hiks hiks hiks" jawab Afkar terisak, air mata yang sedari tadi ia tahan... kini lolos sudah.
Najwa terdiam. Buku di tangannya terjatuh ke lantai ubin. Ia menatap Afkar dengan pandangan yang sulit diartikan, ada rasa sakit, ada kerinduan, namun ada juga kemuliaan seorang hafidzah yang tak tergoyahkan oleh drama dunia.
"Berdirilah.....Bunda Maryam selalu bilang bahwa Ayah adalah seorang pengelana yang sedang mencari jalan pulang. Ternyata jalan pulangnya menuju pesantren ini sangat panjang ya, Ayah?" jawab Najwa dengan tenang, lagi-lagi ketenangan itu membuat hatinya teramat sangat sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum.
Mendengar kata "Ayah" untuk pertama kalinya, Afkar meraung dalam tangisnya, membenamkan wajah di telapak tangannya. Ia menyadari bahwa harta Suhadi yang diperjuangkannya tidak ada artinya dibandingkan dengan ketenangan yang terpancar dari wajah putrinya yang selama ini ia telantarkan.
" hiks hiks hiks... Najwa... maafkan ayah nak.... maafkan ayah karena baru mengetahui keberadaanmu" tangis Afkar semakin pecah...
" bolehkah ayah memeluk mu nak" ucap Afkar dalam tangisnya.
Najwa mengangguk...
Greppp.....
" putriku.....hiks hiks hiks.... maafkan ayah nak.... maafkan Ayah mu yang pendosa ini.... maafkan Ayah yang pecundang ini " sesal Afkar...ia benar-benar menyesal, kali ini ia berjanji tidak akan pernah kalah lagi oleh istrinya,ia akan mempertahankan putrinya...ia akan menggantikan waktu yang terbuang bersama sang putri, putri yang lahir dari wanita yang paling ia cintai.
Najwa melihat ke arah kyai Rahman, dan kyai Rahman tersenyum mengangguk.... akhirnya Najwa membalas pelukan sang Ayah.
" hiks hiks hiks, aku pantas kau BENCI,tapi tolong jangan menjauh, Ayah ingin selalu berada di dekat mu,... Ayah ingin menebus kesalahan Ayah".
Najwa mengurai pelukannya...." Ayah adalah Ayahku, tanpa Ayah, tidak akan ada Najwa di dunia ini... Dan satu lagi....Najwa tidak berhak membenci Ayah" ucap Najwa dengan lembut,dan lagi-lagi ucapan putrinya itu menghantam hatinya yang berdenyut semakin nyeri,
" ikutlah Ayahmu nak.... Bagaimanapun juga, beliau adalah ayah kandung mu,dan ada kakekmu juga yang menunggu kehadiran mu" ucap kyai Rahman dengan bijak....ia sudah tahu perangai keponakannya itu, tegas, tidak mudah di tindas, otaknya yang jenius seperti Rukayyah bisa di jadikan tameng untuk menjaga dirinya sendiri, itulah mengapa,kyai Rahman dan sang istri merelakan Najwa untuk menikmati kehidupan yang barunya ... kehidupan yang mereka yakini penuh dengan tantangan,tapi mereka percaya pada Najwa.
Afkar menoleh ke arah putrinya... ia menunggu jawaban dari sang Putri, dirinya sangat berharap kalau putrinya itu akan ikut bersamanya ke kota. dan meneruskan pendidikannya di sana,.
Najwa berpikir sesaat, ternyata ucapan Kakak sepupunya Rukayyah ternyata benar... beberapa bulan yang lalu setelah dirinya menemui Kakak sepupunya saat acara aqiqah putranya... kakaknya itu mengatakan akan ada kehidupan baru yang penuh tantangan yang akan ia hadapi... Najwa merupakan gadis yang memiliki otak jenius... tidak ada yang tahu bahwa selama ini, Rukayyah telah mengajari beberapa hal pada Najwa tentang dunia cyber... dan dengan mudah Najwa mengikutinya... namun sampai saat ini, Najwa baru bermain-main saja dengan dunia itu.
" iya Abah ... Najwa akan ikut Ayah, " jawab Najwa membuat bibir Afkar tersenyum...
" tapi berikan Najwa waktu untuk menemui teman-teman Najwa dan saudara Najwa lain nya untuk berpamitan" ucap Najwa menoleh ke arah Ayahnya.
" iya...nak, Ayah akan menunggu selama kau mau" balas Afkar dengan senang hati.
Tentang Najwa....
Pondok pesantren khusus santriwati Al-Hidayah , yang di pimpin oleh kyai Rahman kini semakin berkembang pesat, bangunan-bangunan baru yang berdiri kokoh menjadikan pesantren itu terlihat lebih modern, meski masih menjujung tinggi kesederhanaan.
Keseharian Najwa dimulai dengan langkah ringan menuju masjid asrama putri. Sebagai santri terbaik dan senior, ia tidak hanya santriwati, tapi juga mentor bagi adik-adik kelasnya.
Najwa membangunkan santriwati kecil dengan tepukan lembut di bahu "Ayo, Dek, bangun. Sebentar lagi waktu Tahajud habis. Allah sedang menunggu curhatan kita di sepertiga malam terakhir, lho."
Senyum Najwa selalu menular. Berbeda dengan ibunya, Bunda Maryam, yang cenderung pasif dan tertutup, Najwa adalah perpaduan antara kelembutan hati dan ketegasan mental. Jika Maryam adalah bunga yang rapuh, maka Najwa adalah bambu runcing; ia bisa melengkung ditiup angin kencang, tapi akarnya sangat kuat dan ia tak pernah patah.
Kyai Rahman dan istrinya, memang mendidik Najwa dengan disiplin baja. Mereka tahu darah siapa yang mengalir di tubuh Najwa, dan mereka tidak ingin Najwa menjadi "korban" kedua dari dunia luar yang kejam.
Pagi hari setelah sarapan sederhana dengan tempe dan sayur lodeh, Najwa biasanya duduk di teras kediaman Kyai Rahman untuk menyimak hafalan atau sekadar berdiskusi.
Kyai Rahman menyesap tehnya, menatap Najwa dengan bangga "Najwa, kau tahu kenapa paman mendidikmu lebih keras daripada yang lain? Abah ingin kau seperti Rukayyah. Lembut saat bicara, namun memiliki pedang di dalam pikiranmu."
Najwa terkekeh sambil merapikan kitabnya. "Abah tenang saja. Najwa ingat pesan Abah: 'Hati boleh selembut sutra, tapi logika harus setajam baja'. Najwa tidak akan membiarkan siapa pun memanipulasi kebaikan hati Najwa hanya untuk kepentingan mereka."
sang bibi menimpali sambil tersenyum. "Ibumu, Maryam, adalah wanita yang sangat suci, Najwa. Saking sucinya, dia tidak bisa melihat warna hitam di dunia ini. Dia menganggap semua orang itu putih. Itulah yang membuatnya terluka. Jangan biarkan orang lain menganggap kebaikanmu sebagai kelemahan."
"Najwa mengerti, Umi. Najwa akan menyayangi semua orang, tapi Najwa akan tetap memegang kunci gerbang hati Najwa sendiri. Kebaikan tanpa kecerdasan adalah mangsa bagi orang jahat, bukan?" sahut Najwa tersenyum menimpali Bibi nya.
Di pesantren,...Najwa dikenal sebagai "Matahari Pagi". Ia ceria, suka bercanda, dan sangat cekatan. Saat jam istirahat, ia sering terlihat di dapur membantu memasak dalam porsi besar, atau di kebun bunga asrama.
"Najwa, nilaimu sempurna, hafalanmu lancar. Apa rahasianya?" tanya teman seangkatannya.
Najwa menjawab sambil memetik sayuran dengan lincah "Rahasianya? Jangan jadikan Al-Qur'an sebagai beban, tapi jadikan dia teman ngobrol. Dan satu lagi, jangan mau kalah dengan rasa malas! Kalau malas datang, bayangkan kita sedang bertarung dengan musuh yang tidak terlihat."
Canda tawa itu selalu mengisi hari-harinya. Namun, di balik keceriaannya, Najwa memiliki kedisiplinan yang luar biasa. Ia mengatur waktunya dalam hitungan menit.
Setiap kali teringat ibunya, Najwa selalu menyelipkan doa panjang. Ia tahu ibunya meninggal dalam kesunyian karena cinta yang salah alamat. Namun, Najwa tidak tumbuh dengan rasa benci. Ia tumbuh dengan rasa ingin tahu yang terukur.
Najwa berbisik pada dirinya sendiri saat melihat foto usang ibunya "Bunda, terima kasih sudah melahirkanku. Aku tidak akan membiarkan air matamu sia-sia. Aku akan menjadi wanita yang kau impikan, pintar, mandiri, dan tidak akan ada yang bisa meremehkanku."
Ketika akhirnya Afkar datang menjemput, Najwa sebenarnya sudah siap secara mental. Pelajaran dari Kyai Rahman tentang "Singa di Padang Pasir" telah mendarah daging. Ia tahu, rumah besar ayahnya bukanlah istana, melainkan medan dakwah dan medan perang mental yang sesungguhnya. Sebelum Ayahnya datang, sebenarnya Najwa sudah tahu, karena kyai Rahman sudah memberitahukan sebelum nya,...
***
Sedangkan dikediaman Afkar... Monica duduk di ruang keluarga pribadinya yang eksklusif, menyesap teh herbal dengan elegan sementara otaknya berputar merancang skenario paling mematikan. Di depannya, Raisa, putri angkat kesayangannya yang baru saja lulus SMA, sedang memoles kukunya dengan warna merah darah yang mencolok.
Monica tersenyum miring, matanya berkilat licik "Raisa, dengarkan Mama. Gadis pesantren itu akan datang hari ini. Jangan tunjukkan wajah aslimu. Kita akan menyambutnya seolah dia adalah putri raja yang hilang." ucap Monica dengan sinis.
Raisa mendengus, melempar botol cat kuku ke meja "Kenapa kita harus pura-pura baik, Ma? Aku benci melihat wajah desa itu di rumah ini. Papa bahkan sudah menyiapkan kamar yang lebih besar dariku untuknya!" sahut Raisa dengan wajah di tekuk.
Monica mendekat, mencengkeram dagu Raisa dengan lembut namun tegas "Gunakan otakmu, Sayang. Jika kita menyerangnya sekarang, Papa-mu akan membela anak itu habis-habisan, dan Kakek Suhadi akan mencoret kita dari warisan. Biarkan dia masuk. Kita jadikan dia 'boneka' di rumah ini. Di depan Papamu, kita adalah ibu dan saudari yang manis. Tapi di belakangnya? Dia akan menjadi budak pribadimu." kata Monica tersenyum licik.
Raisa mulai ikut tersenyum licik, membayangkan bagaimana ia akan menyiksa gadis yang ia anggap kolot itu.
Tak lama kemudian, dua putra kandung Monica masuk ke ruangan. Alendra, si sulung yang dingin dan penuh perhitungan, serta Adriansyah, si bungsu yang temperamental dan sombong. Keduanya baru saja pulang dari kampus elit mereka.
Alendra meletakkan tasnya, duduk dengan gaya angkuh "Jadi, rencana Mama tetap berjalan? Raisa akan kuliah di kampus yang sama denganku dan Adrian?" tanya Adrian melirik lembut adik kesayangannya.... Raisa.
"Benar. Dan aku ingin Najwa juga masuk ke sana. Biarkan dia kuliah di jurusan yang paling sulit, agar dia terlihat bodoh dibandingkan kalian. Alendra, Adrian... tugas kalian adalah memastikan tidak ada satu pun orang di kampus yang tahu dia adalah bagian dari keluarga Suhadi. Perlakukan dia seperti pelayan beasiswa yang numpang hidup." kata Monica berkilat marah.
Adriansyah tertawa meremehkan "Tenang saja, Ma. Aku akan pastikan teman-temanku tahu kalau dia itu cuma 'anak pungut' yang dibawa Papa dari kampung. Aku akan buat dia memohon-mohon untuk pulang ke pesantrennya dalam satu bulan."balas Ardiansyah yang membuat semuanya tertawa
"Dan di rumah, dia yang akan mencuci semua bajuku dan membereskan kamarku. Aku akan bilang pada Papa kalau Najwa 'ingin belajar mandiri' sebagai bentuk pengabdian." sahut Raisa ikut tertawa.
Monica menatap ketiga anaknya dengan bangga "Bagus. Ingat, dia adalah anak dari wanita yang hampir merusak posisiku. Penderitaan Najwa adalah pembalasan dendamku pada ibunya, si Maryam itu. Kita akan menghancurkan mentalnya secara perlahan, sampai dia sendiri yang memohon untuk pergi dari dunia ini." selama ini Monica mendidik anak-anaknya agar patuh kepadanya, dengan cara memberikan apapun yang anaknya minta, bahkan pada Raisa yang anak angkat saja , ia begitu memanjakannya...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!